Tittle : Nothing Like Us

Story by : Kumarikuma

Rate : T+/M

Pair : SasuSaku, lilbit SaiIno

.

.

From : Uchiha Sasuke-kun

Sakura nee-san, jam berapa kau akan datang hari ini?

Masih pagi, namun Uchiha Sasuke telah mengiriminya pesan dan membuatnya terkejut luar biasa. Sakura bahkan baru saja bangun dan masih terbungkus selimut tebal di atas ranjangnya. Apakah Uchiha Sasuke selalu bangun sepagi ini? Jika iya, dia sepertinya kalah rajin dari pemuda yang bahkan belum genap berusia tujuh belas tahun itu.

"Ya Tuhan, bagaimana bisa dia seluar biasa ini," desahnya.

Ide jahil tiba-tiba saja merasuki otaknya, mengerjai Sasuke dengan berpura-pura kesal sepertinya seru untuk dilakukan, maka tanpa membaca ulang teks pesan yang baru saja diketiknya, Sakura langsung menyentuh tanda kirim.

To : Uchiha Sasuke-kun

Bocah kurang ajar

Tidak sopan

Katakan selamat pagi terlebih dahulu kepadaku sebelum bertanya!

Sakura terkekeh-kekeh gila sambil memandangi layar handphone-nya. Ia menduga-duga reaksi seperti apa yang akan dikeluarkan oleh pemuda Uchiha itu. Saat handphone di genggamannya akhirnya bergetar, Sakura segera berguling dan duduk bersila di atas kasur. Ia tidak menyangka pesannya akan dibalas secepat ini.

From : Uchiha Sasuke-kun

Selamat pagi, Sakura nee-san

Maaf atas ketidak sopananku

Sakura memekik saat membaca pesan balasan dari Sasuke, lalu tertawa. Membayangkan bagaimana Sasuke akan membuat mimik wajah bersalah sambil mengatakan permintaan maaf seperti yang tertera pada pesan sungguh terasa menggemaskan baginya.

Tawa Sakura berangsur-angsur reda. Ia mengangkat handponenya kembali dan mengetikan balasan untuk Sasuke di seberang sana.

To : Uchiha Sasuke-kun

Jadwalku penuh sekali hari ini, mungkin aku akan mengunjungimu sebelum kelas pagiku

Lalu, beberapa detik kemudian,

From : Uchiha Sasuke-kun

Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Sebenarnya tidak apa-apa jika nee-san tidak bisa datang. Aku bisa menjaga diriku

Senyum pagi pertama yang terpulas di wajah cantik si gadis merah muda luntur seketika. Setelah membaca pesan balasan dari Sasuke, ada perasaan tidak senang yang terasa menggerogoti hatinya.

To : Uchiha Sasuke-kun

Aku akan datang

Tunggu saja

.

.

Akhir dari pertemuan pertama mereka adalah mereka saling bertukar nomor handphone dan id line. Uchiha Sasuke adalah yang berinisiatif terlebih dahulu meminta kontak si merah muda dengan alasan agar gadis itu mudah menghubunginya saat gadis itu berkunjung ke rumahnya, karena katanya bel rumahnya sering sekali macet, ia tidak mau Sakura menunggu terlalu lama diluar gerbang. Berarti kemaren adalah hari keberuntungan Sakura karena bel kediaman Uchiha berfungsi dengan semestinya. Lalu dengan baik hati, gadis itu memberikannya. Setelah itu, Sasuke mengantarkannya sampai gerbang saat Sakura berpamitan untuk pulang. Mereka saling mengucapkan terimakasih diiringi lambaian pelan dari sosok Sakura yang menjauhi kediaman Uchiha, karena keduanya tau mereka akan bertemu lagi ke esokan harinya, maka tidak ada ucapan selamat tinggal.

Hari ini, Sakura menyempatkan diri untuk berkunjung ke kediaman Uchiha lagi, namun tidak banyak yang bisa ia lakukan di sana karena waktunya sangat mepet. Saat Sakura memencet bel rumahnya, Sasuke tidak kunjung membukakan gerbang. Sampai ia mengulanginya enam kali, pemuda itu tidak juga membukakan gerbang. Sakura berdecak. Ekspresi wajahnya menunjukannya dengan jelas bahwa ia jengkel. Saat ia hampir saja ingin menendang gerbang di depannya dengan bar-bar, gerbang itu bergerak dengan tiba-tiba.

"Sakura nee-san?" Sasuke muncul dengan raut wajah bingung. Wajahnya sudah terlihat lebih segar, rambutnya sedikit basah dan ia beraroma harum, sepertinya Uchiha satu ini baru saja selesai mandi.

Sakura masih menekuk wajahnya. "Apa sih yang kau lakukan di dalam sana sampai lama sekali membukakan gerbang? Aku sudah enam kali memencet-mencet bel rumahmu seperti bocah norak yang baru pertama kali menggunakan bel rumah."

"Tapi aku tidak mendengar apapun."

Sakura terdiam. Ia memperhatikan bocah dihadapannya lekat-lekat. Ia lalu mengingat lagi apa yang dikatakan bocah itu di hari sebelumnya, lalu mendesah pelan. Mungkin benar, kalau bel rumah ini macet. Sakura jadi merasa tidak enak karena segala ucapannya barusan.

Sasuke masih menatapnya dengan pandangan tidak enak hati. "Aku minta maaf, tapi aku memang-"

"Sudahlah," potong Sakura. Ia tidak mau memperpanjang apa yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.

Gadis itu lalu menyerahkan tempat makan berukuran besar ke hadapan Sasuke. "Aku tidak punya banyak waktu, terima ini. Jangan lupa makan, jangan lupa minum obat. Masukan makanan ini ke dalam kulkas setelah kau sarapan dan kau bisa menghangatkannya dengan microwave untuk makan siang dan malammu," lanjutnya panjang lebar.

Sasuke menerima tempat makan itu dengan kedua tangannya yang putih pucat. "Apa ini?"

"Soup ayam."

"Ah, terimakasih banyak," ujar Sasuke sambil menundukan tubuhnya, memberikan gesture berterimakasih.

Sakura menganggukan kepalanya sebagai respon. Ia lalu menyelipkan rambut-rambut yang mengganggu pipinya ke belakang telinganya dan berujar, "Aku akan menghubungimu nanti untuk memastikan kau benar-benar meminum obatmu."

Sasuke menganggukan kepalanya menurut.

"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa," ujar Sakura.

"Secepat ini?" Sasuke bertanya.

Sakura termangu, di telinganya ucapan Sasuke seolah-olah menyiratkan bahwa pemuda itu tidak ingin Sakura pergi. Sakura berdehem, berusaha mengusir prasangka-prasangka tidak beralasan dari dalam kepalanya, atau ia akan besar kepala dan kepalanya meledak, yeah... hiperbolis sekali. Ia lalu melempar senyum sepintas dan menatap pemuda tinggi di hadapannya dengan jahil. "Cup cup… Sasu-baby merasa kesepian karena tidak ada Itachi onii-chan ya? Butuh ditemani di sini lebih lama lagi hm? Sini sini, biarkan nee-san memelukmu dengan erat..."

Sasuke dengan refleks memundurkan satu langkahnya ke belakang, lalu berdecih, matanya menyipit dan terlihat luar biasa sebal dengan ejekan Sakura. "Umurmu saja yang menua, namun mentalmu bocah," komentarnya pedas.

Sakura hanya bisa tertawa di tempatnya. Masih pagi dan ia bisa menggoda Uchiha Sasuke sebanyak dua kali, entah mengapa rasanya menyenangkan sekali. Padahal, Sasuke yang digodanya melemparkan tatapan sebal dan terganggu, namun bagi Sakura, Sasuke malah terlihat lucu. Yah, mungkin karena selera humor Sakura yang sangat receh, atau Sakura yang kurang tidur beberapa hari ini, atau Sakura yang mulai sinting karena mata kuliah yang diambilnya.

Sakura maju satu langkah ke hadapan Sasuke untuk mengembalikan jarak di antara mereka seperti semula dan Sasuke terus mengawasinya dengan waspada. Tangan kanannya yang bebas terulur ke arah kepala Sasuke. Ia bahkan harus berjinjit agar telapak tangannya mampu meraih kepala pemuda tinggi itu. Mengerti apa yang akan dilakukan yang lebih tua, Sasuke akhirnya mengalah dengan egonya. Pemuda yang kata Sakura bocah itu sedikit menekuk lututnya dan menundukan wajahnya. Saat telapak tangan Sakura yang dingin berhasil mengusak surai kelam Sasuke, ion-ion shampo yang berperan layaknya parfum menyegarkan pecah dan menyebar, beberapa berlomba-lomba masuk ke dalam indra penciumannya.

Sakura menyadari sesuatu lagi dari diri pemuda ini. Sasuke, walaupun masih muda dan wajahnya masih tersisa cetakan kekanakan, namun bagaimana cara bocah ini berpakaian, memilih aroma parfum, juga shampo sangat kontras sekali, begitu dewasa, begitu jantan. Sakura sekelebat dapat melihat sosok Uchiha yang berwibawa di dalam dirinya.

"Sakura nee-san, apakah masih lama? Aku mulai pegal."

Ucapan Sasuke akhirnya membuat Sakura tersadar, dengan menahan malu, ia segera menarik tangannya kembali.

"A-ah… Sampai jumpa, Sasuke."

"Hn."

"Jangan lupa cuci tangan dan kaki, lalu gosok gigi sebelum tidur."

Dan yang Sakura dapat adalah gerbang yang tertutup tepat di hadapannya.

.

.

Pada akhirnya, ia tetap datang terlambat ke kampus dan harus rela dihadiahi pelototan sadis Ino saat ia berjalan dari depan kelas sampai ke samping gadis pirang itu.

"Ino-chan! tolong absenkan aku untuk mata kuliah kita yang pertama pagi ini, please… Aku masih menunggu kereta di stasiun dekat rumah Itcahi-san." Ino berucap dengan mendayu-dayu menggunakan kalimat yang sama persisi dengan teks pesan yang Sakura kirimkan kepadanya setengah jam lalu.

Sialan, Sakura tidak suka dengan jenis intonasi yang keluar dari kedua belah bibir merah Ino. Ia yakin, setelah ini pasti sahabatnya akan bertanya macam-macam dan menginterogasi Sakura seakan-akan ia adalah maling ayam.

"Jadi, alasan keterlambatanmu adalah…?"

Sakura menatap sahabatnya tepat di mata, lalu berucap, "Aku mengantarkan makanan untuk Sasuke. Hanya itu."

"Wah… baik hati sekali kakak cantik mau mengantarkan makanan kepada adik Satsuke, padahal ia tahu ia memiliki jadwal kuliah pagi ini." Ino mengatakannya dengan nada halus, bahkan sampai tersenyum. Namun, Sakura tahu perkataannya adalah 100% sindiran.

"Namanya Sasuke, Ino. Bukan Satsuke."

Ino mendengus. "Peduli setan!."

Dan Sakura menghela nafasnya panjang.

"Kau jahat sekali, Sakura-chan…" Ino mulai menggoyang-goyangkan lengan Sakura sambil merengek seperti bayi. "Meninggalkanku sendiri di sini tanpa buku anatomi atau contekan apapun dan menghadapi Sasori-sensei yang kelewat tampan mempesona seperti manikin berjalan, namun bermulut busuk sebusuk kotoran anjingnya Kiba. Ya Tuhan, andaikan kau bisa melihat bagaimana bibirnya bergerak dengan seksi saat ia menanyaiku tentang kelenjar Pituitari yang begini dan begitu dalam sesi tanya-jawab lisan 30 menitnya setiap dua minggu sekali! Aku hanya bisa merinding disko di tempat dudukku, sambil cengar-cengir idiot supaya ia bermurah hati memberikanku nilai B."

Nah, apa tadi yang baru saja ia pikirkan. Sakura migran seketika.

"Hei Nona Haruno! Dengarkan aku baik-baik!"

"Aku mendengarkanmu, tuan puteri."

"Penghianat Sakura! Kau menghianati ikatan persahabatan kita selama enam tahun ini yang begitu suci! Kau tega meninggalkanku terjebak bersama Sasori-sensei, sementara kau-… kau pasti main rumah-rumahan dengan adiknya Itachi!" Gendang telinga Sakura mulai berdengung karena Ino mulai menyalak.

"Oke… oke… tolong tahan ucapanmu sebentar." Sakura tahu ia harus mengalah. Ia tahu betul, ia yang bersalah di sini dan ia harus segera menyelamatkan gendang telinganya dari suara nyaring Ino. "Ini salahku. Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku Ino?"

Ino terdiam sejenak, lalu mendengus keras. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya dan menoleh ke arah samping. "Kau pikir, kau bisa menyuapku?"

Sakura memutar otaknya. "Bagaimana dengan tiket nonton film gratis di malam minggu-"

"Aku akan wisata kuliner dengan Sai malam minggu ini."

Sakura mendesah panjang. "Fine! Bagaimana dengan tiket nonton film gratis hari minggu bersama sahabatmu ini?"

"Dan paket deluxe popcord, cola dan ekstra hotdog?"

"Ya ya ya." Sial, Ino benar-benar pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ya Tuhan, andaikan saja ini bukan salahnya…

"Yah, mau bagaimana lagi, karena aku adalah orang yang baik hati dan sangat pemaaf, jadi Big Deal!"

"Ha. ha. ha… Tentu saja Big Deal, kau kan mahluk jahanam yang senang sekali menguras dompet mahasiswa miskin sepertiku," gerutu Sakura.

Ino terkekeh singkat. Gadis itu lalu merapihkan kertas-kertas yang berserakan di atas meja dan memasukannya ke dalam tas. Mereka harus berpindah kelas, karena kelas mereka selanjutnya terletak di lantai empat, satu lantai di atas lantai ini. Sedangkan, Sakura menunggui sahabatnya dengan bertopang dagu di atas meja. Ia mengamati langit yang cerah dari kaca jendela besar sambil bertanya-tanya, apakah Sasuke sudah sarapan dan meminum obatnya? Bagaimana rasa sup ayam yang dibuatnya dari pagi-pagi buta? Apakah rasanya enak? Apakah pemuda itu menyukainya?

"Ayo jidat lebar, jangan melamun."

Sakura menoleh ke arah Ino yang telah bangkit dari duduknya. Ia lalu ikut bangkit dan mengikuti sahabatnya keluar dari kelas anatomi mereka.

"Jadi, siapa itu adik Itachi yang sanggup membuat mahasiswa teladan di semester empat sepertimu rela bolos di kelas paginya."

Sakura menoleh saat mendengar bagaimana Ino melontarkan perkataannya. Adrenalinya seketika terpacu dengan cepat, membuat jantungnya memompa darah lebih cepat dan meninggalkan letupan-letupan menyenangkan di dadanya. Ia mulai membayangkan bagaimana Uchiha Sasuke di pertemuan pertama mereka, lalu di pertemuan kedua mereka, namun setelahnya ia berdehem. Ia harus terlihat acuh agar Ino tidak bertanya macam-macam.

Sayangnya Ino mengenal betul siapa sahabatnya ini. Saat melihat mata Sakura yang berbinar dan bibirnya tertarik ke atas, walaupun sebentar. Ino tau, bahwa ada sesuatu di dalam diri adik Itachi yang membuat sahabatnya ini tertarik. "Apakah dia tepat seperti bayanganku? Si wajah seksi yang mengundangmu untuk bermain-main dengan barang di dalam celananya? Atau kau memang sudah bermain-main dengan barang di dalam celananya?"

Sakura terkekeh singkat. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berucap, "Kau tidak boleh mengatakan hal seperti itu terhadap anak yang masih di bawah umur, Ino. Itu pelecehan seksual, bodoh."

"Terserah... ceritakan saja tentang adiknya Itachi, pink."

"Sasuke itu, dia tinggi, sedikit kurus dan kulitnya pucat sekali. Bocah itu memiliki wajah tampan yang menggemaskan."

Ino berhenti melangkah. Butuh lebih dari satu detik sampai Ino dapat menyerap informasi yang ia dapatkan dari Sakura dan menerjemahkannya di otak dan saat akhirnya si otak selesai menerjemahkannya, si otak bisa mengirimkan sebuah respon, yah walaupun hanya berupa, "Hah?"

Sakura berhenti dan menoleh ke belakang. Melihat sahabatnya yang mematung dengan tampang bodoh. "Hah?" beonya mengikuti Ino.

"Ba-bangsat… kau mendeskripsikan laki-laki yang hampir genap tujuh belas tahun dengan sebutan bocah? Dan mengatakan bahwa dia… menggemaskan?" ujarnya ngeri.

"Ya, kenyataanya seperti itu," balas Sakura.

Seakan baru saja dikembalikan ruhnya dari Sang Pemberi Kehidupan, Ino kini merespon dengan cepat. "Kau yakin tidak salah mendefinisikannya? Maksudku, bocah menggemaskan itu kedengarannya lebih cocok jika disandingkan dengan anak laki-laki berpopok tebal dengan gigi ompong yang menangis karena lolipopnya jatuh ke tanah. Bukannya, laki-laki hampir legal dari keluarga Uchiha," cicitnya di akhir kalimat.

Sakura terkekeh geli. "Dia memang menggemaskan, kok. Buktikan saja nanti saat kau bertemu langsung dengannya."

.

.

Jika seseorang bertanya kepadanya, apa yang memotivasinya untuk kekeuh menjadi seorang dokter spesialis anak, maka Sakura dengan senang hati akan menjawabnya dengan sebuah kisah panjang di masa lalu-

"Dulu saat aku berumur delapan tahun, aku terkena campak. Ayah membawaku dari desa ke kota agar aku mendapat perawatan di rumah sakit yang lebih besar, karena desa tempatku tinggal adalah desa terpencil dengan perawatan medis yang minim. Saat itulah, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan dokter spesialis anak."

"Dokter itu memakai sepatu hitam yang sangat berkilat, jas putih yang sangat bersih, stetoskop yang menggantung di lehernya dan berkaca mata. Ia datang untuk memeriksaku, lalu memberiku sebuah kue kering yang manis sambil tersenyum dan mengusap punggungku karena aku tidak rewel. Menurutku itu keren sekali. Bagiku dokter adalah pahlawan yang tidak kalah keren dari power rangers. Sejak saat itu, aku mulai membayangkan diriku jika aku menjadi seorang dokter saat besar nanti."

-dan Sakura akan menutup kisahnya dengan senyum lebar secerah matahari pagi.

Bagi Sakura, mimpi bukan hanya sekedar mimpi. Mimpi adalah realita yang harus terwujud di masa depan. Mimpi tidak akan tercapai hanya dengan berpangku tangan. Ada harga yang harus dibayar agar mimpi dapat tercapai dan itu tidak murah.

Niat, doa dan kerja keras.

Maka, saat minggu ke lima di semester empat ini Sakura menemukan jadwalnya super padat, ia tidak bisa mengeluh. Walaupun ia hanya mendapatkan jatah tidur 22 jam dalam enam hari, ia juga tidak bisa mengeluh. Baginya ini adalah salah satu harga yang pantas dibayar untuk menyandang gelar sebagai dokter.

Sakura dengan mata 5 wattnya berjalan sambil mengangkat sebuah box bervolume 50cm dikali 40cm dikali 40cm yang berisi beberapa stetoskop yang akan digunakan untuk kegiatan klubnya esok hari. Besok, pukul 10 pagi, klubnya akan mengadakan event pengobatan gratis untuk masyarakat di sekitar Universitas Osaka, sebuah event yang rutin mereka lakukan setiap setengah tahun sekali.

Sakura meletkan box itu behati-hati di atas sebuah meja, bersama dengan box-box yang lainnya. Sebenarnya tugasnya sudah setesai sejak satu jam yang lala, namun melihat senior-seniornya yang masih mengerjakan tugas mereka masing-masing, Sakura jadi tidak enak hati untuk pulang. Maka, dengan tenaganya yang masih tersisa, ia menawarkan bantuan kepada senior-seniornya.

Sakura membalikkan tubuhnya, "Tugasku sudah selesai, apa ada yang membutuhkan bantuanku lagi?" tanyanya.

"Tidak, Sakura-san. Pulanglah dan beristirahat, kau kelihatan lelah sekali," salah satu seniornya yang berada di semester delapan menyahut.

Sakura menganggukan kepalanya menurut. "Baiklah senpai, terimakasih banyak atas kerja kerasnya, sampai jumpa besok," ujarnya sambil membungkuk.

"Terimakasih banyak atas kerja kerasnya. Sampai jumpa besok," balas delapan mahasiswa yang tersisa dengan kompak.

Sakura berjalan ke sudut ruangan, membenahi tasnya, memakai jaket tebal dan kupluk hijau toskanya, tidak lupa ia melilitkan syal merah muda di lehernya demi menjaganya agar tetap hangat. Setelah ia yakin tidak ada barangnya yang tertinggal, Sakura melangkahkan kakinya sambil sekali-sekali membungkuk saat melewati rekan-rekannya yang masih tersisa.

Malam hari yang dingin di Osaka. Sakura bahkan masih harus memeluk dirinya sendiri walaupun ia sudah memakai sweeter berlapis jaket tebal di tubuhnya. Uap mengepul dari hidungnya. Langkahnya sengaja ia percepat. Bayangannya tentang menyeduh segelas cokelat panas dan berlindung di dalam selimut terbalnya membuatnya tidak sabar. Namun, di depan gerbang utama Universitasnya, seseorang telah menunggunya bersama sebuah mobil silver yang ia kenal betul siapa pemiliknya.

"Gaara-kun…"

"Hai." Gaara menyapanya, dengan senyum perih di bibirnya yang pucat.

Sakura mendekati pria itu berlahan. Menerka-nerka sudah berapa lama kekasihnya berdiri di sana sampai menyebabkan bibirnya pucat dan pecah-pecah.

"Hai." Gaara menyapanya sekali lagi.

Sakura membuka mulutnya, namun suaranya tercekat. Matanya berkaca-kaca dan tangannya mulai gemetar.

"Mau pulang bersamaku? Rasanya sudah lama sekali sejak aku mengantarmu pulang terakhir kali, kan?"

Suara itu masih sama, wajah itu masih sama, tubuh itu masih sama, Gaara masih sama. Namun, ia tidak lagi merasakan rindu saat Gaara mendekatinya, ia tidak merasakan sayang saat Gaara mendekapnya erat. Mereka adalah sepasang kekasih, namun ia tidak bisa merasakan apa yang seharusnya sepasang kekasih rasakan. Saat Gaara memborbardir dirinya dengan kata-kata rindu, Sakura tidak bisa membalasnya. Saat bibir Gaara mengecup pipinya yang membeku, ia hanya mematung. Otaknya lumpuh, sampai untuk menolak keinginan Gaara saja ia tidak mampu. Maka, saat Gaara menggiringnya untuk masuk ke dalam mobil, Sakura menurutinya tanpa penolakan.

Karena hatinya terlalu lemah, saat matanya menangkap mata Gaara yang berkaca-kaca saat pria itu mengucapkan cinta dan maaf kepadanya.

.

.

TBC

Yes! kalian benar, aku post ulang dua chapter terakhir karena kali ini tidak ada lagi sensor-sensoran pffff

Komen kalian adalah hadiah terindah untuk ff ini, sayang-sayangku