Tittle : Nothing Like Us
Story by : Kumarikuma
Rate : T+/M
Pair : SasuSaku, lilbit SaiIno
.
.
Harum dari tembakau yang terbakar menyebar luas melalui asap yang mengepul dari mulutnya. Pria itu, Sai namanya, menyenderkan tubuhnya pada sebuah sofa singel bersama sang kekasih yang duduk manis di pangkuannya.
Berlatarkan sinar dari TV LED yang menyala di dinding dan lampu kamar yang mati, suasana diantara sepasang kekasih itu begitu intens tanpa cela. Intens dalam arti keduanya tenggelam dalam keseriusan akan sebuah film besutan M. Night Shyamalan.
"Sai," panggil Ino manja.
"Hm?" Sai membenarkan posisi duduk si gadis di atas pahanya.
Ino mendongakan kepalanya. Jari jemarinya bergerak-gerak lincah membuat jalan setapak dari pusar menuju dada kekasihnya. Berniat menggoda. "Tidak jadi," balasnya main-main.
Sai menyesap lagi rokok yang terpiting diantara jemarinya, menghisapnya dalam, lalu menghembuskannya berlahan. Mata dan telinganya masih fokus dengan apa yang sedang ditontonnya, namun hatinya menolak untuk mengabaikan sang kekasihnya yang sialnya begitu dicintainya. "Ada yang mengganjal otakmu, hm? Princess?"
"Yeah…" Ino menjawab dengan mata yang mengarah lurus pada film psikologi yang mengkisahkan seorang laki-laki dengan 24 kepribadian. Split.
"Aku pikir…-"
Sai menajamkan pendengarannya saat Ino bersuara.
"-pria yang berkepribadian banyak itu-… terlihat seksi sekali," lirih Ino.
Sai menaikan sebelah alisnya. "Jadi kau lebih tertarik menonton tokoh prianya atau filmnya?"
"Ugh-… filmnya."
Demi sempaknya Superman yang berwarna merah, sejujurnya Ino tidak tertarik dengan film-film bertema psikologi berat yang mengharuskan otaknya untuk berpikir. Seleranya dalam menonton film adalah sebelas dua belas dengan selera Sakura, seperti Doraemon, Frozen atau film-film animasi Disney lainnya.
Sayangnya, ini adalah film pilihan Sai, maka Ino akan mengalah.
"Tapi, tokoh prianya memang kelihatan seksi," celetuk Ino. Dalam hati memang memiliki niat terselubung untuk menggoda kekasihnya.
Sai menaikan sebelah alisnya, lalu menyeringai. Ia mengeratkan lengan kirinya yang mengelilingi pinggang kurva sang kekasih sampai ia bisa merasakan dua gunung kembar yang menempel kenyal di bawah dadanya yang telanjang.
Sialan! Rasanya empuk sekali!
Oh, ini adalah isi hati Sai yang paling jujur. Yeah, bajingan memang.
"Hei, mau bermain kinky denganku?" Sai bertanya.
Ino melirik kekasihnya sekilas. "Bermain yang seperti apa?" tanyanya tertarik.
Sai menyeringai. Ia mendekatkan bibirnya sampai menyentuh daun telinga Ino. Sedikit jilatan dengan cumbuan sensual, lalu berbisik. "Mungkin-… sesuatu seperti aku yang berubah kepribadian saat sedang menyetubuhimu di sofa, hm? Dari vanilla sex menjadi rough sex atau sebaliknya. Atau aku bisa mulai berperan menjadi polisi lalu tiba-tiba berubah menjadi suster rumah sakit yang lemah lembut?"
Binar imajiner di kedua bola mata Ino luntur. Mulai mual mendengar gurauan kekasihnya. Membayangkan mereka bercinta dengan Sai yang berkepribadian seperti suster…
Menjijikan!
"Bangsat sialan! Kau pikir aku sudi mengangkang untukmu saat kau berubah menjadi wanita."
"Kedengarannya bagus kan?"
"Bagus your ass!" Ino ngeri sendiri membayangkannya.
Tawa Sai pecah sampai urat-urat halus timbul di lehernya yang kokoh.
Ino tau kekasihnya sedikit sinting, namun ia baru tau kalau kadar sinting kekasihnya telah melewati batas.
"Kita bisa mencobanya kapan-kapan, sayang,"
Ino menatap kekasihnya dengan pandangan jijik. "Coba saja lakukan dan kelaminmu akan terpajang di amazon ke esokan harinya."
"Seperti kau bisa hidup tanpa kelaminku saja," gumam Sai sambil sekali lagi menyesap rokoknya yang hampir habis.
Ino memutar bola matanya 360 derajat searah jarum jam, lalu kembali menyenderkan kepalanya pada dada bidang sang kekasih. "Ya Tuhan… untung saja kau tampan, jadi aku cinta."
Masih di tengah-tengah tawanya, Sai menjawab, "untung saja bokongmu seksi, jadi aku juga cinta."
Lalu, mereka berdua terkekeh karena kebohongan dari pasangan masing-masing.
Film yang mereka tenton terus berlanjut, menampilkan adegan-adegan membingungkan menurut Sai dan membosankan menurut Ino. Sampai film itu berakhir, Sai masih bertahan dengan ekspresi seriusnya dan itu membuat Ino jengah.
"Ya, Sai." Ino memanggil kekasihnya sekali lagi. Kali ini dengan suara yang serius, mencoba untuk mengalihkan perhatian kekasihnya.
Sai menunduk. "Apa lagi? Mau mempraktekan rencana yang tadi? Ber-kinky ria bersamaku?"
Ino langsung mencubit putting kekasihnya. "Dalam mimpi basahmu, bejat!"
"Di dalam mimpi basahku, kita bahkan melakukan sesuatu yang lebih kotor dari ini," dan mulut kurang ajar Sai mengucapkannya dengan lancer.
"Sialan," sunggut Ino. "Aku serius!" Sekarang ia mulai memekik karena kekasihnya hanya tertawa ria saja.
"Baiklah… baiklah… princess," balas Sai.
Ino menatap kekasihnya sambil mencebik. Ia lalu menghela nafas dan semakin menelusupkan kepalanya di antara perpotongan leher Sai yang kokoh. Membuatnya mendapatkan sebuah kecupan manis di dahi. "Tidak bisa kah kau meminta teman yakuzamu untuk mengancam Gaara?"
Sai menghela nafasnya. Ini sudah dua kali dalam satu minggu Ino mengungkit-ungkin topik yang sama, merengek-rengek seperti bocah agar ia mau membantu sahabatnya. Menggemaskan sih, tapi juga menyebalkan.
Sai menumpukan dagunya di atas rambut pirang Ino yang membelai lembut kulit dagunya. "Jangan mencampuri urusan orang lain, sayang. Kau harus tau dimana batasanmu untuk bertindak," peringatnya, tentu saja dengan nada halus dan pelan agar kekasihnya tidak tersinggung.
"Tapi, Sakura adalah sahabatku."
"Saudara kembar saja yang katanya satu jiwa berbeda tubuh dapat bertengkar kalau salah satu dari keduanya terlalu ikut campur urusan pribadi. Nah, bagaimana dengan kau dan Sakura, yang hanya sebatas sahabat? Kau memang tidak keberatan membantu sahabatmu, namun bagaimana dengan sahabarmu sendiri? Apa ia tidak keberatan hidupnya direcoki olehmu?" tanya Sai.
Ino terdiam. Memikirkan ucapan Sai dengan serius. Sai memang benar, namun ia juga merasa dirinya tidak salah. "Aku hanya kasihan padanya, Sai," gumamnya. "Sakura itu hanya pintar menghadapi anak-anak yang sakit, tapi ia tolol sekali dalam menghadapi percintaan. Ia sudah jatuh dan aku tidak ingin ia jatuh terlalu dalam."
Sai mendesah, lalu berkata, "Sakura sepertinya tidak keberatan jatuh terlalu dalam untuk pria Sabaku itu. Mungkin saja kan dia masokis. Jika, kenyataannya seperti itu bagaimana?"
Mendengarnya, dahi Ino mengkerut tajam. "Sakura tidak masokis. Ya Tuhan! Ia hanya tidak memiliki keberanian untuk menolak. Hatinya terlalu baik untuk menyakiti orang lain dengan penolakan," ujarnya yakin.
"Yah… bagus lah jika dia punya hati sebersih malaikat."
Ino semakin mengkerutkan dahinya. "Bagus apanya?! Dari dulu aku selalu melindunginya saat ia mulai dimanfaatkan orang lain. Aku muak melihatnya terlalu baik."
Sebagai seorang sahabat, Ino memiliki dilematisnya tersendiri dalam menghadapi masalah sahabatnya. Di satu sisi ia ingin menegur sahabatnya yang menurutnya tolol itu dan tentu saja ini demi kebaikannya. Namun di sisi yang lain, ia juga takut menyakiti hati sahabatnya jika ia menegurnya, apalagi kalau tegurannya sampai membuat mereka bertengkar dan membuat keadaan semakin memburuk.
"Jadi, maumu apa sekarang? Membuat Gaara menjauhi Sakura dengan campur tanganku?" tanya Sai.
Ino menganggukan kepalanya. Karena satu-satunya yang dapat ia andalkan agar Sakura dan Gaara berpisah saat ini hanyalah Sai. Jika Sai dan teman Yakuzanya bersedia untuk mengancam Gaara, ia yakin pria itu akan menghilang dari hidup Sakura.
Sai menyesap rokoknya sekali lagi, kali ini lebih lama, lalu ia menaruh putung rokok yang habis itu ke asbak. Ia menghembuskan asap rokok yang keluar dari mulutnya sambil mendesah panjang. "Princess, dengarkan aku baik-baik. Jika Gaara menjauhi Sakura, lalu bagaimana dengan perasaan Sakura? Seperti bagaimana perasaanmu, jika aku tiba-tiba menjauhimu?"
Ino mencerna perkataan Sai dengan seksama, lalu menggeleng mantap. "Tidak! Kita berbeda, Sai. Seratus persen berbeda dari mereka. Perasaan Sakura tidak sama dengan perasaanku. Gadis itu hanya-… bodoh, tolol, dungu ah apapun itu! dalam mengartikan rasa kasihannya."
"Siapa yang tahu, kan? Buktinya dia baik-baik saja setelah diperkosa. Dia tidak melaporkan si Sabaku itu ke polisi dan tetap hidup dengan status sebagai kekasihnya," balas Sai.
Ino memukul dada kekasihnya gemas. "Kan sudah aku bilang, kalau dia itu terlalu baik! Ah bukan, dia terlalu tolol!"
"Atau terlalu masokis?" tanggap Sai.
Ino memukul dada kekaishnya sekali lagi. "Kenapa sih, kau yakin sekali kalau Sakura masokis?"
Sai megedikan bahunya. "Yah… dia sendiri suka dilukai. Kalau bukan masokis apa lagi namanya?"
"Dia tidak suka dilukai, Ya Tuhan!"
"Oh, berarti dia submissive."
"Sai!"
Sai terkekeh pelan. "Oke-oke, terserahmu saja lah," katanya mengalah.
Kekesalan Ino yang membumbung tinggi di ubun-ubun mereda setelah ucapan kekasihnya. Ia lalu meraih kepala Sai dan mempersempit jarak diantara mereka, Satu kecupan singkat ia berikan kepada bibir tipis di atasnya. "Jadi?" tanyanya.
"Jadi, apanya, princess?" tanya Sai.
Ino berdecak. "Jadi membantuku atau tidak, anjing keparat?!"
Sai terkekeh lagi. Ia lalu menggigit bibir bawah Ino gemas. "Berhentilah bicara kotor atau aku akan menyumpal mulutmu selamanya dengan kelaminku, sialan!"
Ino memutar kedua bola matanya malas. "Kau sendiri sering bicara kotor kepadaku, bedebah."
Sai menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menggigit lagi bibir bawah Ino dan kali ini dilanjutkan dengan sebuah ciuman yang panjang dan menuntut.
"Hah… kenapa sih aku bisa cinta padamu?" gerutu Sai saat Ino menjauhkan bibirnya.
"Takdir," ujar Ino tidak peduli. "Sai, jadi bagaimana?" tanya Ino sekali lagi. Mabuk karena ciuman yang diberikan kekasihnya tentu saja tidak akan membuatnya melupakan topik pembicaraan awal mereka.
Sai menghela nafas panjang. Sialan, kekasihnya benar-benar serius saat ini. "Akan aku pertimbangkan lagi," balasnya malas-malasan. Melibatkan Yakuza bukanlah hal yang mudah, ada harga yang harus dibayar untuk itu.
Ino tersenyum, manis sekali. "Terimakasih, sayang," ujar Ino. Dan Sai hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai balasan.
Meman susah ya kalau sudah cinta. Kekasih minta apa, pasti diusahakan untuk disanggupkan.
Cinta itu memang sialan!
"Hah… kadang-kadang aku cemburu pada Sakura. Dia selalu mendapatkan perhatianmu, namun aku tidak. Sebenarnya kekasihmu itu siapa sih?" cibir Sai.
Ino mengecup bibir kekasihnya gemas. "Tentu saja kau. Euh… cemberutmu membuatku mual," katanya bercanda.
"Ah… mungkin kau hamil," celetuk Sai bodoh.
Ino menggeleng-gelengkan kepalanya. "Konyol, tidak mungkin!"
"Orang hamil biasanya mual-mual," balas Sai.
"Imajinasimu, sir…," gemas Ino.
"Mungkin saja kan?" Sai masih belum mau kalah. "Aku mengeluarkannya di dalammu berkali-kali, ingat?"
Ino memukul dada kekasihnya entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Wajahnya memerah sempurna. "Jika aku hamil, ayah akan menghajarmu sampai mati, lalu memutilasimu dan membuang mayatmu di tempat yang berbeda-beda," ujarnya.
Sai menaikan sebelah alisnya. "Memangnya salah ya, jika aku menghamilimu?" tanyanya tidak terima.
"Bajingan tolol, pikir saja sendiri. Salah tidak jika seorang kakak menghamili adiknya sendiri?" sunggut Ino.
Sai menatap kekasihnya, lalu tersenyum. "Bagiku sih tidak, kita kan bukan sedarah."
Ino menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang susah membicarakan topik seperti ini dengan orang yang terlalu open mind seperti kekasihnya. "Tapi tetap saja itu tiak bermoral, sayangku yang tampan. Orang tua mana yang tidak marah jika anak pungutnya yang kabur lima tahun lalu, tiba-tiba datang dan memberitahunya bahwa ia telah menghamili satu-satunya anak perempuan kesayangannya."
Mendengar perkataan Ino, tawa Sai pecah. "Ahaha hiperbolis… aku tidak kabur, princess. Buktinya ayah masih bisa mengawasiku sampai sekarang. Lagipula, ayah sudah merestui kita. Dia tidak akan berani membunuhku dengan taruhan kau akan ikut menyusulku segera ke neraka jika aku mati."
Ino memperhatikan tawa kekasihnya. Dalam hati berandai-andai jika ia memiliki pemikiran seperti kekasihnya, mungkin hidupnya akan sedikit lebih mudah. Maksudnya adalah ia tidak perlu memikirkan apa yang dunia katakan terhadap segala perbuatannya, ia tidak perlu takut untuk dihakimi, tuli dan buta terhadap celaan orang lain. "Tetap saja-… mencintai seseorang yang pernah menjadi saudara itu terdengar incest… kan?" ujarnya lirih.
Menyadari mood kekasihnya yang mulai mendung, Sai menghentikan tawanya. "Kata siapa?" tanyanya pelan.
"Kataku,' jawab Ino.
Sai menatap kekasihnya dalam-dalam, menyampaikan betapa ia sangat mencintai gadis di pangkuannya ini secara non verbal. "Dasar kolot. Segera upgrate pemikiran purbamu itu, manusia purba. Orang tuamu saja sudah upgrate dengan versi terbaru," ujarnya setengah bercanda.
Ino balas menatap kekasihnya, lalu tersenyum karena melihat kekasihnya itu tersenyum. "Terimakasih atas saranmu, bajingan," gumam Ino pada akhirnya.
"Sama-sama, jalang," balas Sai, kali ini benar-benar penuh dengan gurauan.
.
.
Hari yang mendung saat sepasang kekasih itu berjalan bergandengan tangan sepanjang terotoar hanya demi segeras ice cream toping terbaru yang diidam-idamkan Ino sejak kemaren. Sai dengan nada melunak sudah memperingati Ino jika makan makanan dingin di hawa yang dingin bukanlah ide yang bagus, namun siapakah Sai, jika sudah berhadapan dengan perempuan kepala batu seperti Ino.
Sesampainya mereka berdua di kedai ice cream tersebut, siapa yang akan menduga kalau mereka akan melihat Sakura yang duduk di pojokan dengan mangkuk ice cream yang telah habis. Gadis bermantel coklat muda itu entah melamunkan apa sampai tidak menyadari Ino dan Sai yang mendekat ke arahnya.
"Pink?" Ino menyapa.
Sakura tergagap. Ia yang awalnya menumpu kepalanya pada jendela kini duduk dengan tegap. "I-Ino, Sai," sapanya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Tidak menjaga adiknya Itachi?" tanya Ino. Gadis itu mengambil posisi duduk di hadapan Sakura dan meletakan semangkuk besar ice cream di tengah-tengah meja.
Sakura memperhatikan porsi ice cream yang siap dikonsumsi Ino, lalu meringis. Semangkuk kecil ice cream yang ia habiskan tadi saja sudah hampir membuat lidahnya beku, apa lagi yang ini. "Kau akan sakit jika makan makanan dingin sebanyak itu di hawa sedingin ini," peringatnya perhatian.
Ino mengedikan bahunya tidak peduli. "Jika aku sakit, biarkan saja si bangsat di sampingku yang mengurusiku nanti."
Sai mengambil posisi duduk di sebelah kekasihnya hanya bisa menghela nafas panjang. Ia lalu bersuara, "Adiknya Itachi?"
Ino menganggukan kepalanya. "Ah, aku lupa bercerita kepadamu, sayang. Sudah sejak empat hari yang lalu Sakura menjadi baby sitter di rumah Itachi."
"Oh." Sai tidak ingin tau lebih jauh lagi. Pembicaraan tentang baby sitter bukanlah topik yang menarik untuknya.
"Kau tidak menemui bocah menggemaskan itu hari ini?" Ino bertanya, sebelum sesuap ice cream masuk ke dalam mulutnya.
"Aku sedang tidak mood bertemu dengannya," jawab Sakura.
Ino menatap sahabatnya sambil berdecak. "Kau bertengkar ya dengan bocah itu?" tebaknya.
Sakura menatap sahabatnya bingung. "Siapa? Sasuke?" tanyanya memastikan dan Ino mengangguk. "Tidak, untuk apa bertengkar dengan bocah itu," ujarnya kemudian.
"Lalu?"
"Aku bertemu Gaara dua hari yang lalu."
Ino yang sudah menyentuh sendoknya, segera mengepalkan kedua tangannya dan memukulkannya ke atas meja. Kaget sekaligus kesal karena informasi yang baru saja didapatnya. "Shit! Apa yang dia lakukan kepadamu?!"
Sakura menghela nafas gusar. Melirik ke sekelilingnya karena takut suara Ino mengganggu kenyamanan pengunjung lain dan untungnya kedai ini sedang sepi pengunjung. "Tenanglah Ino. Dia hanya meminta maaf," ujarnya pelan.
"Dan kau memaafkannya? Lagi?!" pekik Ino.
"Yah… lagi…," jawab Sakura.
"Lalu, dia menciummu. memelukmu, berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi dan memintamu memberinya satu kali kesempatan lagi, benar?!"
"Benar…." Sakura menjawab setiap pertanyaannya dengan jujur.
"Tolol! Tolol! Tolol!" serapah Ino.
Sai yang melihat kelakuan kekasihnya hanya bisa maklum. Kalau Ino sudah kesal, ia sendiri juga malas menghadapinya, bisa-bisa ia malah yang menjadi korban kekesalannya. Jadi, lebih baik ia diam saja saat ini.
"Aku harap dia mampus dan membusuk di neraka," umpat Ino.
"Ino!" Sakura menatap sahabatnya tidak percaya.
"Dia menyakitimu, Sakura. Hubungan kalian tidak normal," ujar Ino frustasi.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak sanggup meninggalkannya. Dia akan terluka. Dia akan hancur."
Ino menatap sahabatnya kesal, ia lalu menyikut kekasihnya yang sedari tadi diam mendengarkan. "Sai! Katakan sesuatu kepadanya!"
Sai menghela nafas. Ujung-ujungnya, pasti ia akan dilibatkan juga.
Sai menatap gadis di hadapan Ino. Menimbang-nimbang kalimat dengan kosa kata seperti apa yang harus ia ucapkan, karena Sakura bukanlah gadis dengan tipe mulut bar-bar seperti kekasihnya, atau gadis genit sepeti jalang di persimpangan jalan, maka Sai akan melunak. Jika dengan Sakura, ia selalu mencoba menjadi kakak yang gentle dan sopan. Ia lalu berkata, "jika bersamanya, kau juga akan terluka." Lalu ia melanjutkan, "kau berhak egois untuk kebahagiaanmu sendiri, Sakura."
Kalimat itu dihadiahi anggukan Ino.
Sai masih menatap gadis merah muda itu, lalu kembali melanjutkan kalimatnya, "sebelumnya dia memperkosamu karena cemburu, mungkin selanjutnya dia akan membunuhmu karena cemburu juga."
"Aku setuju! Kau akan mampus jika terus bersamanya." ujar Ino.
Sai terkekeh karena mendengar suara kekasihnya yang menggebu-gebu, lalu tanpa aba-aba ia mencuri sebuah ciuman di pipi Ino. Tentu saja yang bersangkutan tidak akan merasa keberatan.
Sakura menatap sepasang kekasih itu bergantian. Ia lalu menghela nafas panjang dengan tatapan menerawang. "Gaara-kun tidak seperti itu," ujarnya. Masih mencoba untuk mempercayai sang kekasih yang telah melukainya berulang kali. Mencoba mempercayai bahwa segala hal yang dilakukan kekasihnya adalah bentuk kekhilafan karena pria itu terlalu mencintainya. Setidaknya, biarkan gadis merah muda itu percaya, karena hubungan yang mereka jalin selama empat tahun hanya akan sia-sia, kalau sampai mereka kandas di tengah jalan. Menurutnya, benang yang telah putus selalu bisa disambung kembali dengan simpul. Ia dan Gaara, hanya kurang beruntung karena belum bisa menemukan simpul yang tepat untuk mengembalikan hubungan mereka seperti semula.
Namun, Sai berlahan-lahan melunturkan kepercayaan itu dengan opininya sebagai seorang pria. "Pria yang menampar, memukuli, melakukan tindak kriminal kepada wanita yang katanya adalah wanita yang dicintainya, cintanya itu bullshit. Perasaannya padamu itu nafsu bukan cinta," ujarnya, mencoba menasehati.
"Gaara-kun tidak seperti itu." Sakura masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Gaara memang seperti itu. Kau saja yang sengaja menutup matamu. Di dunia ini, kau tidak bisa terus menjadi gadis idio- naif, Sakura!" Ino yang sedari tadi mendengarkan akhirnya membuka suaranya kembali karena kesal. Ia menatap sahabatnya tajam dan Sakura membalas sama tajamnya.
Pertengkaran di antara wanita, sudah biasa, namun mematikan. Sai harus segera memperbaiki suasana ini, sebelum keduanya saling mencaci. "Ah, mau membuktikannya? Bagaimana sebenarnya ikatan yang ada di antara kalian?" celetuknya.
"Sai!" Sai menoleh dengan senyumnya yang merekah ke arah sang kekasih yang memperingati. Gadis itu menatapnya seakan-akan ia adalah manusia sinting dengan pemikiran yang sinting. Dan tebakan gadis itu memang benar. Di dalam otaknya yang sinting, ia telah merencanakan sebuah sandiwara yang juga sinting. Namun jangan salah, manusia-manusia sinting seperti dirinyalah yang biasanya menciptakan sesuatu yang genius. Lihat saja Hideaki Anno dengan karya legendarisnya yang berjudul Shin Seiki Evangelion.
"Cara ini lebih baik, princess. Dari pada meminta gerombolah Yakuza untuk mengancamnya," kata Sai.
Ino menatap kekasihnya lama, sebelum akhirnya mengangguk pasrah. Sedangkan Sakura masih menatap kekasih sahabatnya itu dengan tanda tanya besar di atas kepalanya.
"Jika kau mau melihat bagaimana kesungguhan hatinya, maka kau harus ikuti aturan mainku, ya Sakura?"
Gadis itu, Sakura, diantara kegamangan hatinya karena masalah percintaan, hanya bisa terdiam atas lemparan rencana yang diberikan Sai untuknya.
Manusia diciptakan untuk memilih, bahkan takdirpun masih bisa diubah jika manusia itu mau memilih. Sakura tidak tau, haruskah ia memilih untuk menerima tawaran Sai atau menolak. Jika ada pilihan dimana tidak mengharuskan untuk ia maupun Gaara terluka, maka ia akan memilih pilihan tersebut. Namun tidak mungkin kan ada pilihan yang seperti itu, karena setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.
"Sakura, kau diciptakan untuk menjadi manusia, bukan malaikat. Jadi, bertingkahlah sebagaimana manusia bertingkah. Sakitlah jika ada yang menyakitimu, jangan terus menahannya, karena kau hanya manusia. Sebagai manusia, kewajibanmu adalah menjadi egois dan bahagia."
Ucapannya bukan omong kosong. Sebagai manusia yang kehidupannya pernah direnggut, Sai mengerti betul jika keegoisan diperlukan untuk menggapai kebahagiaan. Bukan langkah yang baik untuk dilakukan, namun sudah biasa dilakukan oleh orang-orang yang mendambakan kebahagiaan.
"Aku harap kau mengerti. Sebagai seorang sahabat, kami hanya ingin membantumu." Sai mengakhiri segala untaian kalimatnya yang mengena telak di hati Sakura.
Tapi, Sakura tetaplah Sakura. Gadis merah muda dengan segala pendiriannya yang sekokoh batu, setinggi pilar yang panjangnya menembus langit ke tujuh. Bahasa mudahnya adalah ia terlalu keras kepala, sebelas dua belas dengan sahabat pirangnya. Maka, saat mereka menawarkan pertolongan, ia akan menolak, karena ia tidak ingin merepotkan mereka berdua dan karena ia merasa ia masih mampu bertahan untuk Gaara. "Maafkan aku. Sungguh aku sangat berterimakasih karena kalian sangat memperhatikanku. Namun, ini tentangku dan Gaara. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
"Kau akan bertahan untuknya?" tanya Sai serius.
"Ya," jawab Sakura mantap.
"Lalu, bagaimana jika dia yang tidak lagi ingin bertahan untukmu?"
Sakura tersenyum. "Tidak mungkin kan? Gaara-kun sangat mencintaiku."
Di bawah meja berbahan kaca tebal, kedua telapak tangan Ino saling bertautan erat. Mata gadis itu sudah memerah, merasa luar biasa marah dengan perkataan tolol Sakura, namun ia menahan segalanya saat telapak tangan milik sang kekasih menyentuhnya dengan lembut, memberinya sedikit kesabaran.
"Jika kau begitu yakin, aku harap keyakinanmu adalah benar." Sai mengakhiri percakapan mereka dengan sebuah senyum palsu, di mana jauh di dalam hatinya, ia merasa prihatin dengan kondisi yang menimpa si gadis merah muda.
.
.
TBC
SaiIno yang penuh dengan pip pip pippppppp (sensor). Gak! Gak! SaiIno gak akan mencuri tempat sebagai pairing utama. Tapi sumpah, aku jatuh cinta sama Sai di sini 0/0
Dan… emang gak ada Sasusaku di sini. Sengaja. Aku berharap chapter ini akan mempermudah kalian buat mengerti karakter Sakura dan mendalaminya. Rasanya pacaran empat tahun, suka duka lewatin bareng-bareng, bagusnya dan jeleknya udah sama-sama tau. Hubungan mereka yang udah lama bikin Sakura maklum kenapa Gaara bisa seposesif ini dan dia rasa dia gak akan keberatan dengan Gaara yang seperti ini. Aku mencoba menyampaikan semua itu lewat chapter ini. Semoga tersampaikan dengan baik.
Terus Sasuke gimana? Sasuke ada kok di chapter depan alias chap depan milik dia.
Terimakasih atas segala bentuk dukungan dan saran yang diberikan. Apalah dayaku tanpa kalian, sayang-sayangku…
Seperti biasa,
Komen kalian adalah hadiah terindah untuk FF ini karena baca komen-komen kalian adalah spiritku untuk melanjutkan ff ini.
Ps: aku juga nulis karya baru di wattpad judulnya "Newton 3", kalau berminat silahkan berkunjung yaa
