Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Sasuke mendesah lega saat rapat selesai. Kali ini rapat bukan lagi hal biasa baginya, ada Fugaku di dalamnya. Pria itu selalu menyulitkannya, memojokkannya, dan seolah tak berhenti mencari kesalahannya. Jika memang dia tak suka melihat Sasuke menjadi CEO di sini, kanapa tidak bilang saja. Nyatanya pria itu tak bisa melakukan apapun karna Sasuke adalah Satu-satunya penerus sah Uchiha. Ya... Saat ini hanya itu alasan pasti Sasuke bisa tetap nyaman duduk ditempatnya.

"Tuan, anda memiliki janji temu dengan Shimura-sama jam dua siang ini." Ucapan Shino -kepala sekretarisnya- mengembalikan Sasuke ke dunia nyata. Sasuke melirik jam dipergelangan tangannya. Masih ada waktu satu setengah jam sampai janji temunya.

"Kirimkan saja lokasinya padaku nanti. Aku akan makan siang diluar." Sasuke beranjak meninggalkan ruangannya.

"Baik Tuan." Shino menunduk hormat saat Sasuke melewatinya.

Saat ini Sasuke sangat membutuhkan Sakuranya. Hanya gadis itu yang bisa memperbaiki perasaannya. Ah bagaimana mungkin Sasuke bisa jauh dari gadis ini jika sedikit masalah membuatnya berlari ke pelukan Sakura. Sasuke sudah terlalu bergantung pada Sakuranya.

"Sasuke-kun?" Jelas Sakura cukup terkejut melihat Sasuke berada didepan rumahnya.

"Aku akan makan siang disini." Ucap Sasuke. Lembut namun jelas tak ingin mendapat pertanyaan apapun. Pria itu masuk melewati tubuh mungil gadisnya, membiarkan Sakura menutup pintu dan menyusulnya.

Sasuke bersyukur Sakura sudah sangat mengenalnya. Tak ada pertanyaan atau sejenisnya dari gadis itu. Sakura hanya tersenyum lembut seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja padanya. Selalu, Sakura selalu mampu membuat Sasuke jatuh cinta lagi dan lagi.

"Ah aku merindukanmu." Sasuke menarik Sakura ke pangkuannya saat gadis itu selesai membereskan bekas makan siang mereka.

"Kita baru bertemu kemarin Sasuke-kun..." Kikik Sakura. Gadis itu menggeliat kegelian saat Sasuke menyusuri leher hingga ke wajahnya dengan bibir pria itu. "Sasuke-kun... hentikan..." Rengek Sakura membuat Sasuke makin senang menggodanya.

"Kenapa? Ini menyenangkan." Bisik Sasuke menggoda. Pria itu terkekeh geli dan mengendurkan pelukannya saat irama nafas Sakura mulai memburu. Jika tak berhenti sekarang, mungkin akan mustahil bagi Sasuke untuk berhenti.

"Jangan menggodaku Sasuke-kun." Lagi-lagi Sasuke terkekeh melihat Sakura yang cemberut dengan wajah merah padam. Sepertinya dia memang agak keterlaluan kali ini.

Sejenak mereka terdiam. Sasuke menyandarkan kepalanya ke bahu Sakura. Jemarinya terkadang bergerak membuat pola abstrak dipunggung gadis itu. Terkadang meremas kecil pinggang sosok kesayangannya itu. Sementara matanya terpejam menikmati belaian Sakura dikepalanya. Sasuke tersenyum puas, inilah kenyamanan yang dia butuhkan.

Mengenai rencana makan malam yang dirancang keluarganya, Sasuke hanya akan melakukannya. Bukan tidak mungkin jika tema makan malam keluarga itu adalah hal yang sangat malas dihadapinya. Perjodohan misalnya. Meski begitu, itu bukan alasan untuk membuat Sasuke panik kan? Hanya saja dia cukup terganggu dengan pergerakan terburu-buru ayahnya.

"Naruto berencana melamar Hinata." Sasuke merasakan gerakan tangan Sakura yang membelai kepalanya terhenti selama beberapa detik. Perlahan pria itu sedikit menjauh dari gadisnya. Menatap tepat ke manik emerald kesayangannya. "Cepat atau lambat, kita akan menyusulnya. Aku janji." Sasuke membelai lembut wajah pias gadisnya.

"Aku tahu. Aku tak akan pernah berhenti berharap." Mereka berdua saling tersenyum menguatkan. Meyakinkan jika harapan mereka tak akan sia-sia.

Jam dua siang Sasuke menemui Shimura, ah lebih mudah jika dia panggil Sai saja. Entah kenapa pria eboni itu memilih restoran keluarga. Sepertinya ada yang tak beres dengan kepalanya. Sasuke memasuki ruangan atas nama sahabatnya itu dan cukup terkejut melihat ada Naruto bahkan Shikamaru diruangan itu.

"Aku tak ingat ada jadwal reuni." Ucap Sasuke sembari duduk disamping Naruto.

"Jangan dipikirkan. Ini ide dadakan Sai. Kau tahu, kita sudah lama tak mengobrol." Sahut Naruto. Seperti biasa, pria itu menjadi saru-satunya yang berisik dan kelewat antusias.

"Seingatku kita baru bertemu kemarin."

"Maksudku kita berempat, Sasuke. Kita sangat jarang memiliki waktu berkumpul lagi." Geram Naruto yang hanya ditanggapi dengan tawa kecil tiga lainnya.

Sasuke tersenyum mendengar celoteh Naruto tentang rencana romantis saat melamar Hinata besok. Yah pria pirang itu memang yang paling beruntung diantara mereka. Dia dan Hinata berasal dari kalangan yang sama. Tentu saja itu memudahkan proses meminta restu orang tua. Sedangkan Sai, orang tuanya sangat tak menyukai profesi Ino yang seorang model pakaian dalam. Sasuke dan Shikamaru? Masalah mereka kurang lebih sama.

"Bagaimana dengan pekerjaan kalian?" Tanya Shikamaru.

"Yang penting tanda tangan saja. Toh kita sudah berteman sejak bayi." Celetuk Naruto yang langsung dihadiahi jitakan oleh Shikamaru.

"Jangan campuradukkan teman dan bisnis." Tandas Shikamaru yang membuat Sasuke dan Sai terkekeh sedangkan Naruto mendengus.

Pukul tujuh malam Sasuke sudah duduk bersama ayah ibunya disebuah restoran keluarga yang lain. Mereka sedang menunggu seseorang, atau beberapa orang. Dugaan Sasuke ini tak akan jauh-jauh dari acara perjodohan. Terlalu klise. Tipikal keluarga konglomerat. Dan tak lama kemudian dugaan Sasuke menguat melihat sosok familiar. Keluarga Akasuna.

"Maaf, kami terlambat." Ucap kepala keluarga Akasuna.

"Tentu tidak. Kami baru saja datang." Sasuke menatap datar keluarga Akasuna. Faktanya hampir setengah jam mereka menunggu.

"Selamat malam ji-san." Dan Sasuke kenal gadis ini. Akasuna Karin.

Sesuai dugaan, pembicaraan ini membahas tentang hal paling malas Sasuke bahas. Perjodohan. Enam tahun tak bertemu dengan Karin tidak membuat rasa enggan Sasuke menghilang. Justru kini semakin bertambah intensitasnya. Pria raven itu tak habis pikir mengapa Karin begitu ngotot menginginkannya.

Sasuke memasang wajah datar mendengar segala basa-basi para orang tua. Mereka pikir semua orang akan bahagia karna dijodohkan? Sayangnya Sasuke tidak termasuk di dalam kelompok bahagia itu. Dia sangat ingin menertawakan cara klasik ayahnya untuk mengikatnya. Dan Sasuke semakin tak berselera saat Fugaku menyuruhnya berjalan-jalan ditaman restoran bersama Karin agar lebih akrab. Ah Naruto harus lihat wajah manis ayahnya saat memerintahkan itu padanya.

"Sasuke-kun, lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Ucap Karin dengan senyum manis yang tak berpengaruh untuk Sasuke.

"Selalu baik. Setidaknya sampai bertemu denganmu." Sasuke tersenyum malas tanpa peduli bagaimana wajah Karin berubah pias karna ucapannya.

"Sasuke-kun, sungguh ini bukan mauku. Aku sungguh tak tahu apa-apa tentang perjodohan ini." Sasuke menatap datar Karin. Entahlah, rasanya Sasuke tidak yakin untuk mempercayai ucapan Karin. Tapi dia juga tidak yakin Karin masih menginginkannya.

"Begitu. Baiklah, ku rasa kau mengerti jika ini hal yang mustahil untukku." Lagi, wajah Karin memucat penuh kekecewaan dan Sasuke masih tidak peduli.

.

.

"Acara pertunanganmu akan diadakan sebulan lagi." Sasuke menghentikan gerakan mulutnya yang mengunyah makanan saat mendengar ucapan Fugaku. Hanya beberapa detik, karna selanjutnya pria itu bersikap seolah tak peduli. Ini sarapan bersama kali pertama mereka sejak kedatangan orangtuanya dari luar negeri. Dan ayahnya mengakhiri sarapannya dengan informasi yang sama sekali tak membuat Sasuke terkejut namun menjengkelkan.

"Sasuke-kun, kau mendengarkan tou-sanmu?" Tegur Mikoto yang melihat putranya acuh tak acuh.

"Aku mendengarnya kaa-san." Sahut Sasuke kalem sembari mengelap mulutnya. Mikoto menghela nafas jengkel melihat reaksi Sasuke itu. Harusnya tak ada yang salah dengan jawaban Sasuke, hanya saja entah bagaimana ucapan pria raven itu terdengar seperti ejekan.

"Sasuke-kun..." Mikoto mengurungkan niatnya bicara saat Fugaku meliriknya tajam.

"Dia akan melakukan tugasnya." Tandas Fugaku yang membuat Sasuke dan Mikoto bungkam.

"Aku selesai. Permisi." Sasuke beranjak meninggalkan meja makan.

Keputusan Fugaku nyaris mustahil untuk diubah, Sasuke tahu itu. Dan dia tak akan memaksa ayahnya mengubah keputusan itu. Dia tak akan berbuat sesuatu dengan sembrono. Sasuke terkekeh kecil membayangkan pertunangannya yang akan diadakan lebih cepat dari pernikahan Naruto. Setidaknya pria pirang itu tak melalui hal merepotkan seperti tunangan.

Jam makan siang harus membuat Sasuke berdecak sebal. Sai menggeretnya agar menemaninya makan siang dengan Ino. Ya Sasuke tahu, dia digunakan sebagai kamuflase. Asal tahu saja, keluarga Shimura jauh lebih menyebalkan dari Uchiha dan Nara. Mereka selalu memiliki mata-mata yang akan melaporkan gerak-gerik para penerusnya. Ya, Sai putra kedua keluarga Shimura. Dia memiliki kakak laki-laki.

"Sai-kun." Ino langsung mengalungkan tangannya pada leher Sai begitu mereka memasuki ruangan atas nama Sasuke. Yah, salah satu kerugian Sasuke berikutnya. "Aku kangen." Rengek gadis pirang itu manja. Sasuke hanya mendengus jengkel melihat interaksi berlebihan yang memanfaatkannya itu. Dan semakin jengkel saat menyadari diruangan itu tidak hanya ada Ino, tapi juga gadis berambut merah calon tunangannya.

"Aku tak tahu." Sai mengangkat tangannya saat Sasuke melirik tajam pria eboni itu.

"Dia pemilik perusaan tempatku terikat kontrak. Jangan protes." Sasuke memutar bola matanya jengah. Orang yang baru saja dibantunya bertemu kekasihnya justru menyudutkannya. Dunia sudah gila.

"Terserah." Sasuke menarik kursi dan duduk didepan Karin. Membiarkan duo sejoli dibelakangnya berciuman sebelum menyusulnya duduk. Sasuke sengaja langsung memanggil pelayan dan memesan makanan. Lebih baik fokus pada makanan daripada melihat Ino dan Sai bermesraan atau Karin yang sepertinya enggan menyapanya. Sasuke tak peduli. Dia ingin segera pergi dari tempat ini.

"Ah ku dengar bulan depan kau akan bertunangan. Siapa calonnya? Apa sudah move on dari si brengsek ini?" Ucap Ino seraya menunjuk Sasuke dengan garpunya. Sasuke menghela nafas jengkel sementara Sai hanya mengangkat bahunya acuh. Ino memang selalu seenaknya, siapa peduli.

"Iya. Tapi ini hanya perjodohan..."

"Baguslah. Sasuke sudah sold out sampe ke akar-akarnya. Lupakan saja." celetuk Ino memotong ucapan Karin. Gadis berambut merah itu melirik Sasuke ragu-ragu. Sedangkan yang di lirik sama sekali tak terlihat peduli dengan pembahasan mereka. Lagi-lagi Karin harus mendesah kecewa karna Sasuke.

Selanjutnya Sasuke benar-benar tak mengeluarkan suaranya selain mengucapkan 'hn' malas andalannya. Yang asik berceloteh adalah Ino, Sai menanggapinya dengan kalem sementara Karin menanggapi sekadarnya. Fokus Karin justru pada Sasuke yang sibuk pada makanan dan smartphonenya sedari tadi. Suasana aneh yang membuat ingin cepat-cepat angkat kaki.

"Apa tidak apa-apa kau mengacuhkan Karin?" Tanya Sai diperjalanan kembali ke kantor. Ino pergi bersama Karin, jadi tak perlu diantar.

"Memangnya kenapa?" Sahut Sasuke cuek. Pria itu fokus pada jalanan yang padat.

"Dia calon tunanganmu kan?"

"Lalu?" Sai menghela nafas mendengar pertanyaan balik dari Sasuke.

"Entahlah. Ku pikir itu tak akan berdampak bagus pada hubunganmu dan Sakura. Jadi, apa rencananya? Bertunangan? Atau memberontak?" Sasuke tak langsung menjawab pertanyaan Sai. Entah apa yang ada dikepala raven pria itu. Hanya senyuman kecilnya yang mampu ditangkap manik Sai.

"Kami akan baik-baik saja Sai." Ucapan yakin Sasuke membuat Sai mengernyit. Dia memikirkan beberapa hal yang mungkin akan dilakukan Sasuke. Baik-baik saja sepertinya terlalu percaya diri untuk menghadapi situasinya sekarang. Meski banyak keraguan, nyatanya Sai tak lagi mengatakan apapun. Mereka selalu memiliki cara menghadapi keluarga masing-masing.

Sepulang kerja Sasuke menyempatkan diri ke toko cake. Membeli yang rasa stroberi, favorit gadisnya. Sasuke kadang mengkhawatirkan asupan gula berlebih pada gadisnya. Entahlah, Sakura dan manis sepertinya sulit dipisahkan. Sasuke tersenyum tipis mengingat bukan hanya manis makanan yang seolah melekat pada gadis itu.

Sasuke mengernyit melihat mobil yang familiar berada didepan rumah Sakura. Itu mobil ayahnya. Apa yang dilakukan pria tua itu disini? Panik langsung menyerang Sasuke. Dengan terburu-buru dia keluar dari mobil dan mengetuk pintu rumah gadisnya.

"Sakura. Buka pintunya." Sasuke menggedor pintu dengan tak sabar. Butuh lima menit dia berteriak-teriak hingga pintu terbuka. Rahang Sasuke mengeras melihat Fugakulah yang membuka pintu. Apapun yang dilakukan pria ini pada Sakuranya, Sasuke tak akan bisa memaafkannya.

"Kau terlihat panik." Ucap Fugaku sembari membenarkan kerah jasnya. Gigi Sasuke bergemeletuk melihat dibelakang pria itu Sakura berdiri dengan gelisah. Bahkan mata gadis itu memerah.

"Tentu saja. Anda sudah memasuki teritorialku." Ucap Sasuke dingin. Tangannya mengepal, menahan diri agar tak meninju wajah ayahnya. Bagaimanapun pria di depannya ini adalah ayahnya. Dan orang yang sangat dihormatnya itu menyakiti gadisnya. Hidupnya.

"Teritorimu masih di dalam teritorialku, Uchiha Sasuke." Ucap Fugaku penuh penekanan. Pria itu melenggang melewati Sasuke dan pergi. Sasuke menggeram jengkel. Bagaimanapun ucapan ayahnya benar. Hidupnya masih berada di dalam bayangan pria itu.

Sasuke menatap Sakura yang memainkan jarinya dengan gelisah. Jelas terlihat gadis itu habis menangis, perasaan Sasuke bagai tersayat melihat betapa menyedihkan kondisi Sakuranya. Perlahan Sasuke melangkah masuk, mengulurkan tangannya menyentuh wajah Sakura. Menghapus jejak-jejak air mata gadis itu.

"Sasuke..." Lirih Sakura dan menghambur memeluk prianya.

"Ssshh... Jangan menangis, ku mohon." Bisik Sasuke memeluk erat Sakura. Tangannya tak berhenti membelai punggung gadisnya. Berkali-kali Sasuke mengecup puncak kepala Sakura, berusaha menenangkan isakan yang menyakiti hatinya. Sasuke merasa gagal dan hancur mendengar isakan Sakura. Janjinya menjaga Sakura seolah angin yang sulit digenggam. Bagaimana caranya agar gadis berharganya ini tak terluka...

Sakura sama sekali tak menjelaskan apa yang dikatakan Fugaku padanya. Gadis itu hanya tersenyum sendu dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Hanya saja Sakura bilang dia sudah tahu jika Sasuke akan bertunangan dengan Karin. Sasuke mengerang frustasi melihat tingkah Sakuranya. Ini benar-benar membuatnya khawatir jika gadis itu membuat keputusan bodoh dengan meninggalkannya.

"Sakura. Berjanjilah, jangan pernah meninggalkanku. Apapun yang terjadi." Rengek Sasuke yang membuat Sakura tergelak sebelum akhirnya berubah menjadi senyum lembut. Senyum yang membuat Sasuke semakin khawatir.

" Aku tak akan pernah meninggalkanmu."

"Janji?" Tuntut Sasuke.

"Aku janji."

"Kau harus menepati janjimu. Kau tahu itukan?" Lagi-lagi Sakura terkekeh yang membuat keyakinan Sasuke memudar. Pikiran buruk tentang Sakura yang meninggalkannya terus berputar dikepalanya.

" Kau tak percaya padaku Sasuke-kun?" Sakura menangkup wajah Sasuke dengan kedua tangannya. Menatap ke dalam manik sehitam arang favoritnya.

"Aku percaya. Hanya saja, tou-san akan melakukan apapun untuk memenuhi ambisinya. Bagaimana jika kau memutuskan meninggalkanku agar tak terluka?" Sasuke tahu betapa bodohnya dia mengatakan ini. Betapa egoisnya dia memaksa Sakura tetap bersamanya meski kemungkinan akan terluka. Tapi cintanya memang egois dan posesif. Dia tak akan pernah bisa, sanggup dan rela melepaskan Sakuranya.

" Bagaimana denganmu Sasuke-kun? Kau bisa merelakan aku terluka?" Pertanyaan Sakura bagai buah simalakama bagi Sasuke. Seperti yang Sasuke bilang. Cintanya itu egois, harus memiliki dan posesif. Tapi di satu sisi dia juga tak suka melihat gadisnya terluka dan menangis.

Sasuke memberengut tak tahu harus menjawab apa. Perlahan pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Sakura. Menyandarkan kepalanya di dada gadisnya. Sungguh dia tak tahu harus menjawab apa.

"Aku tak suka melihatmu terluka. Tapi aku juga tak mau ditinggalkan olehmu. Aku mencintaimu." Gumam Sasuke Lirih semakin mengeratkan pelukannya.

.

.

.

TBC...

.

.

.

Terima kasih buat apresiasinya! Dalam bentuk apapun.

Uhm rasanya pengen bisa bikin karakter kayak Inuyasha. Imutnya ngegemesin! Tapi entah kapan ehe he he

Keyikarus

30 November 2017