.

.

.

Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Sepulang dari rumah Sakura, Sasuke mendatangi ruang kerja ayahnya di rumah. Banyak yang harus ditanyakannya pada pria tua yang menganggap anak sebagai pewujud mimpinya. Sasuke memiliki mimpi sendiri, dan di mimpinya selalu ada Sakura. Tak pernah terpikir olehnya mewujudkan mimpi ayahnya, karna jelas tak ada Sakura didalamnya. Sebut Sasuke anak durhaka, dan Sasuke tak peduli. Jika bisa dia ingin terlahir di keluarga yang mendukung mimpinya.

Sasuke mengetuk pintu tiga kali dan langsung masuk tanpa menunggu persetujuan ayahnya. Fugaku mendongak menatap Sasuke lalu meletakkan penanya. Pria itu menyandarkan punggungnya dan menatap angkuh pada putranya. Inilah Fugaku, pria yang tak pernah berhenti berseteru dengan putra bungsunya sejak dulu. Pria dengan perintah absolut tanpa ada siapapun yang bisa membantahnya. Setidaknya saat ini Sasuke sedang melakukan itu. Membantah.

"Apa yang tou-san katakan pada Sakura?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi. Fugaku menaikan alisnya, gestur yang entah bagaimana menurun pada Sasuke. Dan Sasuke jadi membenci gestur itu. Fugaku menghela nafas dan melanjutkan kembali pekerjaannya.

"Jadi dia tak mengadu padamu? Gadis pintar." Ucap Fugaku acuh tak acuh. Sasuke mengeratkan rahangnya menahan buncahan kemarahannya. Rasa penasaran semakin menjalari setiap pori-pori tubuhnya. Sasuke khawatir, sangat khawatir pada gadisnya. Sasuke lebih suka gadis itu mengadu padanya daripada memendam sendiri tentang apapun yang mungkin akan menyakitinya. Dan jika itu menyangkut Fugaku, hampir pasti hal itu akan menyakiti Sakuranya.

"Tou-san, ku harap kau lebih baik dari ini."

"Apa standar penilaianmu?" Fugaku kembali menatap tepat pada manik hitam Sasuke. Sementara itu Sasuke tersenyum tenang dan penuh keyakinan dihadapan ayahnya.

"Tou-san menanyakan sesuatu yang sudah pasti." Sahut Sasuke kalem. Sasuke membungkuk hormat dan meninggalkan ruang ayahnya. Entah apa yang dipikirkan ayahnya sekarang. Sasuke sebenarnya tak peduli pada hal itu, jika Sakura menginginkan dirinya mengkhianati Uchiha maka gadis itu hanya perlu mengatakannya dan Sasuke akan dengan senang hati melakukannya. Sayangnya Sasuke tahu itu bukan yang diinginkan gadisnya. Sakuranya terlalu baik hati untuk membuatnya mengkhianati keluarganya.

"Ini masih sangat tidak nyaman." Lirih Sasuke. Jika enam tahun lalu dia menganggap Fugaku adalah momok menakutkan yang tak bisa dilawan. Maka saat ini dia hanya menganggap pria itu hanya ayahnya. Ayah yang hanya dikenalnya sebagai diktator.

.

.

.

Sasuke mendongak saat seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Tanpa menunggu persetujuannya orang itu langsung masuk dan mendudukkan dirinya di sofa. Shikamaru. Penampilannya acak-acakan. Yah biasanya juga acak-acakan, hanya hari ini jauh lebih acak-acakan. Helaan nafas beberapa kali terdengar dari pria itu.

"Sesuatu terjadi?" Sasuke menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Shikamaru. Duduk dihadapan pria itu membuat Sasuke bisa melihat dengan jelas jika Shikamaru sedang stres. Seorang jenius bisa stres. Mungkin jenius butuh didukung sifat kalem agar tak stres.

"Aku memaksa Temari menemui orang tuaku. Ini sangat merepotkan. Wanita itu tak mau memaksa orang tuaku menerimanya. Temari bilang, dia tak ingin dirinya dan anaknya diperlakukan tidak adil jika orang tuaku menerimanya secara terpaksa. Aku tak mengerti. Bukankah yang penting kami bisa menikah, dan setelah itu kami tetap tinggal di apartemenku. Aku tak mengajaknya tinggal di rumah keluargaku. Aku hanya ingin menikahinya." Cerocos Shikamaru mengeluarkan segala yang mengganjal dihatinya. Pria berambut nanas itu lagi-lagi menghela nafas dan mendesah lelah.

"Temari terlalu mengkhawatirkan banyak hal. Meski kami sudah hidup bersama, nyatanya kekhawatirannya itu selalu tentang dia dan Shikadai. Apa dia tak pernah khawatir jika aku akan meninggalkannya? Ini sudah ajakan menikah yang ke tiga. Dia gila. Apa dia pikir aku mau bertahan di kondisi ini selamanya?" Shikamaru meremas rambutnya kasar. Pria itu berdiri mondar mandir lalu duduk lagi. Sepertinya dia benar-benar stres.

Sasuke menepuk bahu pria itu berusaha memberi dukungan. Masalah ini entah kenapa selalu menjadi rumit jika menyangkut keluarga mereka. Sasuke tak mengerti kenapa harus ada patokan bagaimana kriteria pasangan. Jika sudah begitu, apalah guna perasaannya.

"Apa kau sedikitnya berpikir akan meninggalkan Temari dan Shikadai?" Tanya Sasuke hati-hati. Dulu, Shikamaru adalah pribadi yang paling percaya diri dibanding yang lainnya. Tak pernah ada masalah yang membuatnya seterpuruk ini. Dunia memang selalu memiliki cara untuk menyiksa penghuninya.

"Tentu saja tidak. Dia dan Shikadai terlalu berharga untukku. Mungkin aku bisa menjadi masokis karna mereka." Ucap Shikamaru lirih yang justru membuat Sasuke terkekeh. Shikamaru menatap sahabatnya itu tak suka.

"Kau tahu. Tuan Fugaku yang terhormat menemui Sakura. Dan aku nyaris terkena serangan jantung." Kekeh Sasuke yang membuat dahi Shikamaru mengrenyit.

"Dan kau masih sesenang ini?"

"Ku pikir kejeniusanmu menurun karna terlalu sering ditindas Temari." Ejek Sasuke lengkap dengan seringai menyebalkan andalannya.

"Sialan kau!" Shikamaru meninju bahu sahabatnya. Benar, mungkin ini akan menjadi acara stresnya yang terakhir. Ah bukankah seharusnya memang begitu?

Sasuke menatap punggung Shikamaru yang meninggalkan ruang kerjanya. Pria itu bilang sudah merindukan putranya. Apapun yang terjadi, nyatanya Shikamaru terlihat bahagia memiliki Shikadai. Dan tentu saja Temari.

Saat jam pulang kantor, Sasuke mengarahkan mobilnya ke rumah gadisnya.

"Sasuke-kun?" Sasuke mengurungkan niatnya mengetuk pintu rumah Sakura dan menoleh. Ada Sakura dibelakangnya dengan kedua tangan menenteng belanjaan. Dengan senyum manis Sasuke mengambil alih belanjaan dari tangan Sakura.

"Kenapa tak bilang padaku? Aku bisa mengantarmu belanja." Ucap pria raven itu. Sakura tersenyum sembari membuka pintu.

"Mini market hanya di ujung jalan Sasuke-kun..."

"Tapi..."

"Mau makan malam apa?" Potong Sakura. Senyum Sasuke makin lebar melihat Sakura yang baik-baik saja. Sasuke harap Sakuranya sungguh baik-baik saja.

"Apa saja, asalkan ada tomatnya." Dan lagi-lagi Sakura tersenyum geli mendengar ucapan Sasuke.

Setelah berkutat pada makan malam, mereka duduk di depan tv. Menonton acara kartun yang sudah di ulang pemutarannya beberapa kali. Sasuke menarik tubuh gadisnya ke pelukannya. Dengan antusias pria itu mengendus tengkuk Sakura hingga gadis itu terkikik geli. Kecupan Sasuke mengakhiri aksi jahilnya.

"Apa yang kau lakukan hari ini?" Tanya Sasuke. Dia senang mendengarkan cerita Sakura tentang apa saja yang di lakukan gadisnya.

"Uhmmm... banyak." Sakura mengetuk-ngetuk dagunya seolah berfikir. Sebelah tangannya melingkari leher Sasuke. "Aku sudah pernah bilang tentang Mitsuki?"

"Ya, sepertinya aku ingat."

"Hari ini dia mengadu padaku. Dia bilang, dia bingung Orochimaru-san itu ibunya atau ayahnya..." Sasuke tersenyum lembut melihat tawa geli Sakura. "... Dan Mitsuki selalu mengeluh jika Orochimaru-san menjawab jika hal itu tak penting. Mitsuki sungguh menggemaskan. Kau harus bertemu dengannya Sasuke-kun..."

"Aa tentu saja." Beberapa kali Sasuke mendengar Sakura membicarakan bocah itu. Mitsuki adalah putra Orochimaru, Salah satu reseller produk daur ulang Sakura.

Sasuke mengernyit saat tiba-tiba tawa Sakura mereda. Bahkan raut wajah wanita itu menyendu. Sakura menyandarkan tubuhnya pada Sasuke, membuat pria itu bertanya-tanya penyebab perubahan perasaan Sakura ini.

"Temari bertengkar lagi dengan Shikamaru. Apa mereka akan baik-baik saja? Aku sangat mengkhawatirkan Shikadai. Hari ini Temari menangis Sasuke-kun..." Sasuke menghela nafas dan mengusap sayang punggung Sakura.

"Mereka akan baik-baik saja, sayang."

"Shikamaru datang padamu Sasuke-kun?" Sakura mendongak menatap wajah prianya.

"Hn."

"Apa yang dikatakannya?" Tak biasanya Sakura menjadi pribadi yang ingin tahu urusan orang lain. Apa karna ini menyangkut Temari? Sebenarnya Sasuke bingung bagaimana harus menceritakan hal itu. Yang dia ingat hanya intinya saja.

"Dia akan menikahi Temari bagaimanapun caranya." Desahan terdengar dari bibir gadisnya. Tubuh gadis itu kembali rileks dipelukannya.

"Untunglah itu Shikamaru." Sasuke mengangkat alisnya bingung dengan arti ucapan gadisnya. "... Maksudku jika bukan Shikamaru, mungkin tak akan sabar menghadapi kekeraskepalaan Temari."

"Kau benar. Shikamaru pasti Sam keras kepalanya dengan Temari. Jangan khawatir." Sasuke mengusap surai gadisnya.

Sebenarnya Sasuke sangat gatal ingin bertanya lagi dan lagi tentang apa yang dibicarakan ayahnya pada Sakura hingga gadis dipelukannya ini mengaku. Tapi disisi lain, dia tak sampai hati membuat gadisnya jadi kepikiran dan stres. Menghela nafas, Sasuke hanya bisa menikmati waktunya bersama Sakura saat ini.

Sasuke pulang dari rumah Sakura setelah makan malam.

Sesampainya di rumah, dia harus menghela nafas melihat gadis berambut merah itu duduk manis diruang keluarga dengan ibu dan ayahnya.

Ini aneh, ayahnya yang sangat gila kerja bisa menyempatkan duduk santai untuk mengobrol.

"Sasu... kau sudah pulang." Mikoto menghampiri putranya.

"Maaf melewatkan makan malam bersama kaa-san." Sasuke tersenyum kecil.

"Tidak masalah. Kemarilah, Karin datang untuk menemuiku." Enam tahun berlalu. Mikoto menjadi semakin lembut dan pemaksa. Sasuke hanya bisa mendesah diam-diam saat ibunya itu menariknya bergabung dengan Karin dan Fugaku. "Beri salam, Sasu..."

Melirik Mikoto sejenak, Sasuke membuka mulutnya. "Selamat malam, Tou-san. Senang bertemu denganmu, nona Akasuna."

Sementara Fugaku hanya bergumam menanggapi salam Sasuke, Karin membalas dengan ucapan salam juga senyum manis. Terkekeh kecil, Mikoto memukul lengan Sasuke pelan. "Huss apa yang kau lakukan. Kenapa tidak memanggilnya Karin saja..."

"Aku akan melakukannya." Sahut Sasuke Kalem.

"Baiklah, kami akan meninggalkan kalian. Bicaralah dengan tenang." Mikoto dengan semangat menarik Fugaku meninggalkan ruangan itu.

Sekilas, Sasuke sempat menangkap sorot mata acuh tak acuh namun penuh intimidasi pria itu.

"Sasuke-kun..." Karin bersuara saat Mikoto dan Fugaku tak terlihat lagi.

Namun, bukannya menanggapi gadis cantik itu, Sasuke justru beranjak menuju kamarnya.

"Tunggu, Sasuke-kun!" Karin bergegas meraih lengan Sasuke yang akan meninggalkannya.

Menghela nafas, Sasuke dengan malas menatap wajah Karin. "Berhentilah menyia-nyiakan waktumu, Karin."

Mendengar nada acuh Sasuke, pegangan Karin pada lengan pria itu lepas. Ada bias luka di bola matanya. Kepercayaan dan keanggunannya saat berbicara dengan Mikoto dan Fugaku tadi seolah lenyap tergilas ketidakpedulian Sasuke. Mengerjap beberapa kali, gadis itu akhirnya memaksa tersenyum kecil.

"Jangan salah paham. Aku hanya ingin kau tahu jika Sasori menginginkan Haruno." Lirih Karin meremas jemarinya dengan gugup.

"Jangan memancing kemarahan ku, Karin." Desis Sasuke tajam. Dia tak suka nama gadisnya keluar dari mulut Karin. Terlebih saat Karin mengatakan jika saudaranya menginginkan Sakura. Itu adalah kegilaan yang tak boleh terjadi.

Melihat kemarahan yang mulai muncul di mata Sasuke, Karin cepat-cepat menggeleng.

"Tidak, sungguh. Sasori menyukai Haruno, lebih tepatnya menyukainya lagi. Dia tidak akan..." Ucapan Karin terhenti karena cengkeraman Sasuke di lengan gadis itu.

"Dengar, kami baik-baik saja selama ini. Jangan pernah mencoba bermain-main denganku. Atau aku akan memastikan kau dan saudaramu hidup penuh penyesalan."

Karin menarik nafas, meringis menahan Sakit di lengannya. "Sungguh, Sasori baru melihat Haruno lagi dua minggu lalu. Dia tahu kita dijodohkan dan berpikir jika tak masalah baginya untuk bersama Haruno."

Sasuke menggeretakkan giginya lalu menghempaskan lengan Karin. Dengan wajah mengeras dia meninggalkan gadis itu dan masuk ke kamarnya.

Di dalam kamarnya, Sasuke menghela nafas demi meredam kemarahan yang muncul. Dia memang selalu menjadi orang bersumbu pendek jika berhubungan dengan Sakura. Pikirannya melayang mengingat ucapan Karin. Perjodohannya sama sekali bukan jalan bagi Sasori untuk mendekati gadisnya!

Semakin dipikirkan semakin membuat perasaannya gelisah. Sasuke bergegas masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri dan memutuskan kembali mengunjungi gadisnya. Dia tak bisa membayangkan jika Sakura memutuskan bersama Sasori. Enam tahun mereka baik-baik saja dan Sasuke ingin selamanya mereka baik-baik saja.

Sesampainya dirumah Sakura, Sasuke mulai ragu. Lampu kamar gadis itu sudah padam. Bagaimana Sasuke bisa tega mengganggu tidurnya?

Sasuke menyandarkan tubuhnya pada badan mobil. Bersidekap demi menghalau udara dingin. Matanya fokus pada jendela kamar gadisnya.

Setelah dipikir lagi, tindakannya ini sungguh konyol. Hanya karna ucapan yang belum tentu terjadi dari Karin, Sasuke jadi seperti kehilangan akal. Pria itu mendengus mengejek dirinya sendiri.

"Sihir Sakura mengerikan." Kekeh Sasuke.

Dengan gaya malasnya, Sasuke akhirnya masuk ke dalam mobil. Namun dia tak beranjak meninggalkan rumah Sakura. Dia hanya malas pulang dan tak memiliki tujuan.

Meraih ponselnya, Sasuke menghubungi salah satu sahabatnya.

"Hm?" Suara Shikamaru terdengar serak dan malas.

"Tidak bersama Temari?" Sasuke menyamankan punggungnya disandaran kursi, melirik jendela kamar Sakura. Tersenyum tipis mengharapkan gadisnya itu mendapatkan tidur yang nyenyak.

"Apa maksudmu? Aku baru tidur lima menit karna Shikadai terus menangis." Keluh Shikamaru.

Sasuke tersenyum. Dia pikir hidup Shikamaru selalu diluar jalur sejak bersama Temari. Terlebih sekarang ada Shikadai. Itu terdengar seru.

"Menurutmu aku harus membangunkan Sakura atau tidak?"

"Kenapa menanyakan itu padaku! Terserah padamu membangunkan gadismu atau tidak. Aku butuh tidur!" Sasuke nyengir senang mendengar nada jengkel Shikamaru.

"Tapi aku butuh..."

"Telepon Sai atau Naruto!" Potong Shikamaru lalu memutuskan sambungan.

Sasuke mengangkat sudut bibirnya. Dengan senang dia menghubungi nomor Shikamaru lagi. Tidak diangkat. Lagi. Masih tidak diangkat. Lagi...

"SASUKE! TUNGGU SAMPAI AKU MEMBUNUHMU BESOK!" Teriak Shikamaru lalu memutuskan sambungan lagi.

Sasuke tertawa senang. Saat dia menghubungi nomor Shikamaru lagi, tidak tersambung. Sepertinya pria itu mematikan ponselnya.

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Sasuke memutuskan turun dari mobil dan memencet bel rumah Sakura. Sepertinya dia harus mempertimbangkan meminta kunci serep pada gadisnya. Enam tahun mempertahankan hubungan yang sehat bukan hal mudah bagi Sasuke. Bukankah seharusnya Sakura sudah bisa mempercayainya?

Butuh beberapa menit sampai gadis dengan gaun tidur berwarna putih membuka pintu. Tangan mungilnya bergerak pelan mengucek mata. Terlihat sangat imut. Sasuke benar-benar terpesona. Bahkan saat menguap, Sakura terlihat sangat menggemaskan di mata Sasuke. Dan jantung Sasuke rasanya berdetak terlalu kencang saat mata satu Sakura menatapnya malas.

"Sasuke-kun... kenapa ke sini malam-malam?" Tanya Sakura dengan suara serak.

Sasuke berdehem menormalkan dirinya.

"Mau numpang tidur, boleh?" Tepat setelah mengucapkan pertanyaan itu, Sasuke mengutuk dirinya dalam hati. Bisakah dia menjadi sedikit waras?

Sakura terpaku menatap pria didepannya sejenak, sebelum dengan malas melangkah masuk. Membiarkan pintu terbuka.

Melihat ini tentu saja Sasuke senang. Bukankah itu berarti jika Sakura mengijinkannya? Terlebih itu berarti Sakura mempercayainya.

Sasuke mengunci pintu dan berjalan mengekori gadisnya masuk ke dalam kamar. Dia tersenyum gemas melihat Sakura langsung menjatuhkan dirinya ke atas ranjang dan tertidur.

Pria itu mendekati Sakura. Menarik selimut hingga ke leher gadisnya.

"Maaf mengganggu tidurmu." Lirih Sasuke mengecup pipi Sakura.

Merasakan sentuhan, Sakura langsung membenamkan wajahnya ke bantal. Membuat pemandangan imut menggemaskan bagi Sasuke.

Menarik nafas demi menahan diri tidak mengganggu tidur Sakura, Sasuke memutuskan keluar kamar. Duduk di ruang tengah, menonton tv hingga tertidur.

.

.

.

.

Tbc~~~~

.

.

.

.

.

.

Keyikarus

14 Desember 2017

.

.

.

Up selanjutnya 18 Desember 2017