Disclaimer © Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
.
.
"Shino, apa jadwalku selanjutnya?" Tanya Sasuke sembari berjalan ke ruangannya. Baru saja dia menyelesaikan meeting proyek pembangunan pabrik di Kota S.
"Anda akan makan siang dengan perwakilan Akasuna Corp. Di jam dua Anda akan bertemu tuan Morino, lalu meeting audit bulanan. Setelah itu..."
"Tunda makan siang dengan Akasuna Corp. Urutkan ulang pertemuan dari yang paling tidak memakan waktu." Perintah Sasuke.
"Baik tuan."
Sasuke masih sempat melihat Shino membungkukkan tubuhnya sebelum pintu ruangannya tertutup.
Menyamankan duduknya, Sasuke mengusap sayang wajah Sakura yang menjadi wallpaper komputernya.
Pagi ini dia merasakan tubuhnya kaku karna tertidur di sofa, tapi rasa itu langsung hilang saat melihat gadisnya menyiapkan air mandi dan sarapan untuknya. Bahkan Sasuke masih mendapatkan ciuman selamat jalan. Bukankah ini hari yang menyenangkan?
Mengalihkan pikirannya dari Sakura, Sasuke mengambil ponselnya dan menghubungi Sora.
"Selamat siang tuan..."
"Bagaimana persiapannya?" Sasuke memotong ucapan orang kepercayaannya. Berbeda dengan Shino yang bekerja dibawah pengawasan Uchiha, Sora benar-benar karyawannya.
Sora mengurus usaha pribadi Sasuke, tentu saja usaha yang sama sekali tidak berkaitan dengan Uchiha Corp. Tiga tahun lalu Sasuke mendirikan restauran keluarga miliknya sendiri. Meski tidak sekelas dengan Uchiha, tapi itu cukup menjadi permulaan dan persiapan bagi Sasuke untuk memiliki kekuatannya sendiri.
Dan sekarang Sora sedang mengurus persiapan resortnya yang dijadwalkan diresmikan dua bulan lagi. Usaha kedua Sasuke diluar Uchiha Corp. Dan tentu saja kali ini sesuai kualifikasi standard Uchiha.
"Semua berjalan sesuai jadwal, tuan. Jika boleh mengingatkan, besok malam adalah pesta ulang tahun Putra supplier restoran."
"Aku mengerti." Sasuke memutuskan sambungan saat pintu ruangannya diketuk.
"Tuan, Tuan Morino sudah menunggu Anda." Ucap Shino setelah membungkukkan tubuhnya.
Sasuke mengangguk kecil dan mengikuti langkah Shino yang mengantarkannya ke ruangan dimana Morino menunggu.
.
.
.
Sasuke menghela nafas saat jarum jam menunjuk ke angka delapan sementara dia masih dalam perjalanan pulang. Itupun setelah dia memutuskan membawa pulang beberapa pekerjaannya.
Seharian ini dia sama sekali belum mendengar suara gadisnya dan Sasuke mulai merindu. Memutar stir ke arah rumah Sakura, Sasuke tertegun saat melihat sebuah mobil berselisih dengannya.
Pikiran Sasuke melayang pada ucapan Karin kemarin. Sebenarnya Sasuke tak mau memikirkannya, namun melihat sebuah mobil dengan Sasori didalamnya dan berasal dari arah rumah Sakura tentu saja membuatnya sakit kepala tiba-tiba.
Terlebih saat Sasuke melihat Sakura berdiri di pintu pagar. Kecemasan membuat perasaan Sasuke semakin gelisah. Meski begitu, dia dengan hati-hati memasukkan mobilnya ke halaman rumah Sakura saat gadis itu membukakan pintu pagar untuknya.
"Sasuke-kun, okaeri..." Sambut Sakura dengan senyum manisnya.
Melihat itu, bagaimana mungkin Sasuke tega menghancurkannya. Dengan lembut dia memeluk gadisnya.
"Tadaima."
Sakura masih tersenyum manis padanya. Sakura masih meraih tangannya dan membawanya masuk ke rumah. Sakura masih menyiapkan makan untuknya. Tak ada yang berbeda. Lalu kenapa perasaan Sasuke terus gelisah?
"Mau menginap lagi?" Tanya Sakura sementara tangan gadis itu sibuk mencuci piring.
"Kau keberatan?" Sasuke langsung menyesali ucapan bermada ketusnya. Penuh kecurigaan dan menjengkelkan hingga bahkan Sakura menghentikan gerakannya meniriskan piring.
Gadis itu berbalik menatap Sasuke dengan mata beningnya. Sasuke kelabakan. Dia sama sekali tak ingin merusak suasana baik diantara mereka. Sungguh. Ucapannya tadi... hanya kesalahan.
"Sasuke-kun..."
"Maaf Sakura. Aku tak bermaksud kasar." Ucap Sasuke memelas memotong kata-kata gadisnya.
Sakura menatapnya beberapa saat sebelum menghela nafas. Lalu gadis itu berbalik meneruskan pekerjaannya.
Rasa gelisah itu semakin menjadi. Bukan saja karna ucapan Karin, tapi juga karna takut jika tanpa sengaja Sasuke mengatakan hal buruk yang membuat Sakura tersinggung.
Saat Sakura pergi mandi, Sasuke duduk diam didepan TV. Perlahan pria itu mengusap wajahnya. Sasuke pikir jika sikapnya terus tak jelas seperti ini. Hubungannya dengan Sakura bisa terancam. Dan Sasuke sama sekali tak ingin dia dan Sakura bertengkar hanya karna masalah yang tak jelas.
"Sasuke-kun..." Sakura yang mengeringkan rambutnya dengan handuk duduk disebelah Sasuke. Wangi bunga menyebar memanjakan indera penciuman Sasuke.
"Kulitmu enak disentuh." Gumam Sasuke dengan cengiran nakal sementara tangannya mengusap pipi gadisnya.
Sakura terkekeh.
"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu hm?" Sakura memasang wajah penasaran yang menggemaskan.
"Apa?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya pura-pura tak paham maksud gadisnya.
"Jangan main-main Sasuke-kun!"
Sasuke tertawa senang memeluk gadisnya yang cemberut.
"Jangan dipikirkan, aku hanya sedang gelisah." Sasuke mengangkat tubuh Sakura, memposisikan gadis itu duduk didepannya. Dengan lembut dia membantu mengeringkan rambut Sakura.
"Aku mengerti." Gumaman lembut gadis itu membuat Sasuke merasa bersalah. Diam-diam dia berjanji akan lebih mengontrol emosinya dengan lebih baik.
"Dimana hairdryer mu? Kau bisa sakit kepala kalau rambutmu tidak benar-benar kering." Gumam Sasuke khawatir.
"Benarkah?" Tanya Sakura dengan nada jenaka.
Sasuke terkekeh senang melihat keimutan gadisnya. Dengan gemas dia mencubit hidung Sakura.
"Aku benar-benar mengkhawatirkanmu." Rajuk Sasuke.
Sakura tertawa senang. Gadis itu melepaskan diri dari Sasuke dan berjalan menyusuri lorong rumahnya diikuti Sasuke.
Beberapa tahun lalu dia melakukan sedikit renovasi pada bagian loteng untuk menyusun produk daur ulangnya sebelum dikirim ke reseller atau costumer. Tentu saja dengan sedikit campur tangan Sasuke.
Menaiki tangga, Sakura sedikit menoleh pada Sasuke dibelakangnya. "Sudah lama kau tidak mengecek hasil kerjaku, Sasuke-kun."
"Kau bukan karyawan ku." Tersenyum, Sasuke mengacak puncak kepala gadisnya.
"Tapi kau banyak membantuku. Setidaknya kau harus memeriksa apakah aku mengecewakanmu atau tidak."
"Kau tak pernah mengecewakanmu." Yakin Sasuke yang menciptakan gelak menyenangkan dari Sakura.
"Kau terlalu memanjakanku, Sasuke-kun..."
"Itu tugasku sebagai suami mu." Sahut Sasuke lembut. Tentu saja Tawa Sakura semakin keras mendengar nada percaya diri prianya.
Sampai di loteng, Sasuke melihat jajaran lemari yang bisa memuat ribuan karya Sakura. Gadis itu dengan antusias menunjukkan karya terbarunya. Sebuah bingkai foto yang terbuat dari susunan kelopak bunga. Sakura menyusun kelopak bunga dari plastik itu membentuk ukiran cantik layaknya bingkai dari kayu.
Sebenarnya Sasuke tidak begitu tertarik dengan bingkai, vas, bunga atau apapun karya Sakura. Dia hanya suka saat mata gadis itu bersinar setiap menunggu pujian darinya. Tentu saja Sasuke akan memberikan pujian semudah menyanyikan lagu. Sasuke selalu mengagumi Sakuranya.
"Minggu depan aku akan pergi ke rumah singgah blok S. Jika kau ada waktu, kita bisa pergi bersama." Ucap Sakura sembari merapikan lemari-lemarinya.
"Aku tak bisa berjanji sebelum melihat jadwalku. Maaf." Sesal Sasuke.
Sakura memang rutin mengunjungi rumah singgah setiap dua minggu sekali. Yang dimaksud rumah singgah adalah lingkungan pemukiman kumuh. Disana Sakura memberikan pelajaran tentang mendaur ulang sampah menjadi barang bernilai jual. Sehingga para pemulung lebih bisa memanfaatkan barang yang didapat dengan lebih maksimal. Tentu saja Sakura juga membantu penjualan produk daur ulang mereka, terkadang sesekali memperbaiki produk-produk yang kurang menarik.
Selain itu, Sakura juga aktif menyumbangkan buku-buku pelajaran. Baik dari tingkat terendah hingga perguruan. Seolah melengkapi hal itu, baik Gaara, Kankuro dan Temari menjadi guru les gratisan disana.
Sakura juga tak segan-segan merogoh koceknya saat ada anak yang ingin menciptakan penemuan baru dengan bimbingan Gaara yang seorang ahli mekanik. Karna menurut Sakura, maju tidak selalu diawali dari bangku sekolah melainkan dengan kemauan. Bersyukurlah orang-orang yang dipedulikan Sakura dan para saudaranya tahu arti kata berterima kasih dengan cara melakukan sesuatu dengan bersungguh-sungguh. Meskipun butuh waktu beberapa tahun bagi Sakura untuk meyakinkan mereka jika manusia perlu menciptakan peluang mereka sendiri.
"Itu bukan masalah, jangan dipikirkan." Ucap Sakura menenangkan.
Hari berikutnya Sasuke menghadiri pesta suppliernya. Sebenarnya dia ingin membawa Sakura, sayangnya gadis itu sudah membuat janji dengan reseller nya. Meski Sasuke sangat ingin membawa Sakura, tapi dia tak akan tega membuat Sakura berada diposisi sulit. Sekecil apapun.
Pesta berlangsung meriah. Beberapa orang yang dikenalnya hadir. Salah satunya adalah orang yang paling malas ditemuinya. Akasuna Karin.
Niat Sasuke, setelah mengucapkan selamat dan sedikit berbasa-basi dia akan pulang. Tapi sepertinya hal itu akan tertunda saat gadis yang sangat ingin dihindarinya itu datang.
"Kau juga datang Sasuke-kun?" Sapa Karin ramah. Meski begitu panggilan Karin entah kenapa membuat telinganya gatal.
"Tentu saja." Sahut Sasuke acuh tak acuh.
"Bisakah kau tak memusuhiku? Aku merasa aku tak layak dimusuhi olehmu?" Keluh Karin dengan wajah memelas.
Sasuke sangat ingin memutar bola matanya. Apapun ucapan Karin tak akan berpengaruh pada sudut pandangnya. Karna setiap melihat Karin, yang Sasuke ingat adalah segala sesuatu enam tahun lalu. Sebut Sasuke pendendam.
"Maafkan aku jika aku membuatmu merasakan itu." Sasuke membungkukkan sedikit tubuhnya dan pergi.
"Sasuke-kun! Sasuke-kun! Kau jahat! Kau membela Haruno?! Iya?! Dia bahkan saat ini bertemu dengan Sasori. Dia sama sekali tak mengingatmu!" Jeritan jengkel Karin membuat Sasuke mengepalkan tangannya.
Mengendalikan ekspresi marahnya, Sasuke berbalik menatap gadis itu. Sekarang semua pandangan tertuju pada mereka berdua karna teriakan Karin.
"Maafkan aku. Kau tak layak mempermalukan dirimu hanya karna aku, nona Akasuna." Sekali lagi Sasuke membungkuk pada Karin, lalu pada tuan rumah sebagai gestur permintaan maaf dan melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.
Sasuke mencengkeram kemudinya. Lagi, ucapan Karin mempengaruhinya. Segala kegelisahan dan ketakutannya ditinggalkan Sakura meluap.
"Tenanglah." Gumam Sasuke menarik nafas panjang. Meyakinkan dirinya jika dia dan gadisnya akan baik-baik saja. Dia mempercayai Sakura seperti Sakura mempercayainya. Berkali-kali menggumamkan itu dalam hatinya, Sasuke sedikit merasakan tenang.
Setelah sekali lagi menghela nafas, dia menjalankan mobilnya menuju rumah kekasih pujaannya. Jika dipikir-pikir dia sudah berhari-hari menginap dirumah Sakura. Padahal sebelumnya hanya sekali dalam beberapa bulan. Itu karna Sasuke menghormati privasi gadisnya. Jika boleh berpikir sedikit aneh, Sasuke justru ingin berterima kasih pada Karin. Karna semua ocehan Karin membuatnya gelisah dan berakhir selalu menginap dirumah gadisnya. Dia pikir itu hal bagus.
Sasuke melirik jam ditangannya, hampir jam sepuluh malam ketika dia lagi-lagi berpapasan dengan mobil Sasori yang datang dari arah rumah Sakura. Sasuke langsung migrain. Dia ingin mengamuk dan memaksa pria itu mengatakan alasannya selalu berpapasan dengannya didekat rumah Sakura.
Dan sakit kepalanya bertambah saat melihat Sakura lagi-lagi baru akan masuk ke rumah. Apa yang dilakukan gadis itu hingga baru masuk saat larut malam?
Sasuke merasakan kepalanya terbakar melihat Sakura berbalik dan membukakan pintu pagar untuk mobilnya.
"Sasuke-kun..." Sambut Sakura dengan senyum manis.
"Apa yang kau lakukan diluar rumah malam-malam? Jangan katakan jika kau baru saja pulang dari bertemu dengan reseller. Ini terlalu malam. Sakura, kau tak menyembunyikan apapun dariku kan?" Sasuke mencengkeram lengan Sakura. Kepalanya sakit dengan berbagai spekulasi tentang apa yang dilakukan gadisnya tanpa sepengetahuannya.
Mata gadisnya yang bingung justru membuat Sasuke semakin cemas dan gelisah. Dia takut jika benar Sakuranya bertemu Sasori. Itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan.
"Apa kau bertemu Sasori? Dua kali aku melihatnya dari arah sini. Apa kau bertemu dengannya? Atau kau diantar pulang olehnya? JAWAB SAKURA!" Teriak Sasuke tak sabar.
Melihat prianya berteriak, tubuh Sakura tersentak. Gadis itu menegang. Wajahnya pucat pasi sementara bibirnya bergetar.
"Ya. Aku bertemu dengannya. Tapi..."
"Kau bertemu dengannya?" Sasuke dengan lemah dan tak percaya memotong ucapan lirih Sakura.
Dia putus asa dan terluka. Dia pikir Karin berbohong. Dia sungguh mempercayai gadisnya. Sasuke merasa dikhianati.
Sementara Sakura didepannya menatap Sasuke pias. Gadis itu mengulurkan tangannya ingin menyentuh Sasuke. Sayangnya dengan lembut Prianya menolak disentuh.
"Kenapa kau bertemu dengannya Sakura? Apa kau sudah bosan padaku? Tak menyukaiku lagi? Lalu apa maksudmu masih selalu tersenyum padaku?! Aku mencintaimu hingga putus asa. Kenapa kau tak bisa melakukan itu juga?!" Raung Sasuke frustasi.
Mendengar semua ucapan Sasuke membuat Sakura terdiam. Wajah pucat gadis itu berubah sebelum es. Tatapan matanya menyiratkan kemarahan meski tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.
Melihat gadisnya seperti itu, Sasuke ikut membeku. Sungguh dia tak berniat melukai Sakura. Hanya saja... perasaannya kacau. Ketakutan akan kehilangan Sakura menghantuinya.
"Baby..." Panggilan lirih Sasuke diabaikan Sakura. Gadis itu masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan apapun.
Sasuke terluka lagi, untuk dirinya juga untuk gadisnya. Mengusap wajahnya kasar, Sasuke kembali ke mobil. Memukul setir dengan jengkel sebelum akhirnya menyandarkan kepalanya.
Ini salah. Hanya saja Sasuke tidak tahu harus memperbaiki dari mana.
Pria itu menatap pintu rumah Sakura, gadisnya yang sepertinya sedang marah. Mungkin bukan sepertinya tapi memang marah. Wajah beku Sakura terbayang di kepala Sasuke. Dia belum pernah melihat gadisnya memasang ekspresi seperti itu. Tentu saja hal itu membuat perasaan Sasuke semakin gelisah. Dia sudah menyakiti Sakuranya.
Berkedip beberapa kali, Sasuke mengalihkan pandangannya pada jalanan didepannya. Saat ini dia belum mampu menemui Sakura. Sasuke tak yakin bisa membujuk dan meminta maaf pada gadisnya dengan benar. Bahkan perasaannya sendiri pun belum membaik.
Setelah menghela nafas, Sasuke memutuskan pergi dari situ.
Butuh waktu bagi Sasuke untuk akhirnya berhenti didepan rumah Sai. Dia menghindari apartemen Shikamaru karna ada Temari di sana. Berputar beberapa kali Sasuke baru memutuskan pergi ke rumah Sai. Ah, apa Sasuke belum bilang jika Sai masih tinggal dengan keluarganya?
"Sasuke, lama kau tidak main ke sini." Shimura Shin menyambut Sasuke dengan senyum hangat. Pria yang selalu memasang wajah ramah ini kakak Sai. Dia lebih tua empat tahun dari Sasuke dan Sai.
"Sibuk." Sahut Sasuke singkat masih mempertahankan pose cemberutnya. Pembawaan Shin yang kalem dan santai selalu membuat Sasuke merasa jika mereka seumuran.
"Aku akan percaya jika wajahmu tidak tertekuk. Mau aku siapkan kamar atau dikamar Sai seperti saat kalian kecil dulu?" Sasuke mengeluh. Benar, dia datang ke sini ditengah malam.
"Sepertinya aku tak akan bisa tidur." Gumam Sasuke melangkahkan kakinya ke lapangan basket yang ada dihalaman belakang rumah Shimura.
Mengamati Sasuke beberapa detik, Shin menghela nafas lalu mengikutinya.
Sementara Sasuke sibuk mendribble bola, Shin duduk santai dikursi yang berada dipinggir lapangan. Tentu saja dia sudah membawa Bourbon untuknya dan sebotol air mineral untuk Sasuke. Pria yang lebih dewasa itu hanya diam menikmati minumannya sembari memperhatikan Sasuke yang terus bergerak.
Drank. Sasuke melakukan lemparan tiga dari garis tiga poin dengan lesu. Pikirannya sama sekali tak bisa jernih. Lelah. Bahkan sekarang tubuhnya ikut lelah. Dengan malas Sasuke terlentang ditengah lapangan. Mata hitamnya mengawasi langit kelabu. Memikirkan apa yang sedang dilakukan gadisnya saat ini.
Jika boleh jujur, Sasuke menyesal. Selama ini hubungan mereka bisa dibilang tanpa hambatan. Orang tuanya yang ke luar negeri, tidak ada gangguan dari pihak manapun dan keharmonisan setiap bertemu.
Lalu sekarang, saat ada banyak kekhawatiran dipikiran Sasuke, sedikit provokasi bisa langsung membuatnya muntah darah. Menyebabkan dia dan Sakura harus bertengkar untuk pertama kalinya.
"Ingin bercerita?" Sasuke melirik Shin yang menyodorkan air mineral padanya.
Sasuke meraih air mineral sembari menggeleng kecil.
"Thanks. Aku akan menumpang mandi di kamar Sai." Sasuke melambaikan tangannya dan pergi ke kamar Sai. Dia sama sekali tak punya keinginan mengumbar masalah pribadinya pada siapapun.
Sasuke menatap Sai yang bergulung di selimutnya seperti kepompong. Hanya sebentar sebelum dia mencari handuk bersih dan mandi.
Mungkin suara air atau memang dasarnya terbangun, Sai sudah duduk di kasur saat Sasuke keluar dari kamar mandi.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sai dengan suara serak. Bahkan matanya masih setengah terbuka.
"Tak ada."
"Ayolah, aku bahkan baru tidur dua jam. Jangan membuat kepalaku semakin sakit." Erang Sai tak terima.
Sasuke dengan acuh memakai piyama Sai. Lalu dengan seenaknya dia menyusup ke dalam selimut Sai.
"Kalau begitu ayo tidur lagi." Sekali lagi erangan Sai terdengar saat Sasuke menariknya hingga kepalanya melesak ke bantal.
"Rambutmu belum kering. Kau bisa sakit kepala. Bantalku basah..." Suara Sai semakin hilang. Pria itu kembali terlelap tanpa butuh usaha.
Sasuke mengalihkan pandangannya dari Sai dan berusaha tertidur.
.
.
.
.
.
.
.
Keyikarus
18 Desember 2017
.
.
Up selanjutnya 22 Desember 2017
