Disclaimer © Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
Pagi hari yang sama menyebalkannya dengan kediaman Uchiha. Jika bisa, Sasuke ingin menghindari acara sarapan dengan keluarga Shimura ini.
"Ku dengar kau memiliki restoran sendiri?" Danzo, kepala keluarga Shimura membuka percakapan.
"Ya." Sasuke tersenyum manis selagi matanya melirik Sai. Dia berharap pria itu mencari alasan dan membawanya meninggalkan meja makan ini. Basa-basi ini membuat perutnya mulas.
"Semangat anak muda memang mengagumkan. Lain kali bekerjasama lah dengan Sai agar bisnismu sesuai dengan standar." Danzo mengusap mulutnya menyudahi acara sarapannya. Matanya yang tajam menatap Sasuke yang tidak memiliki selera makan sejak awal.
"Bukankah itu ide bagus? Ku pikir putraku sudah terlalu banyak bermain hingga tak bisa membedakan kualitas barang." Danzo melirik Sai yang wajahnya mengeras.
"Ya ji-san. Kami bisa mempertimbangkan itu." Sahut Sasuke kalem dengan senyum manisnya. Tentu saja dia menyembunyikan helaan nafas beratnya.
"Nikmati waktu kalian." Danzo beranjak meninggalkan meja makan. Menyisakan tiga pria yang entah bagaimana secara serempak menghela nafas.
"Jangan khawatir Sai, lakukan apapun yang kau suka. Sisanya aku yang akan melakukannya." Shin mengacak pelan rambut Sai lalu ikut beranjak.
"Nikmati waktu kalian." Shin tersenyum yang hanya diangguki Sasuke.
Setelah hanya tinggal mereka berdua, Sasuke meletakkan sendoknya. Benar-benar tak memiliki selera makan. Dia menatap wajah Sai yang justru kali ini terlihat lebih tegang dan memerah.
"Ku pikir aku ingin memiliki kakak seperti Shin." Canda Sasuke.
Sebenarnya dia tahu jika Sai sama sekali tak menyukai ucapannya. Sai selalu menganggap Shin sok dewasa. Pria eboni itu paling tidak suka saat Shin melakukan semua tuntutan Danzo dan membiarkan Sai melakukan apapun yang disukainya. Kakak yang baik. Hanya saja melukai harga diri seorang Shimura Sai.
"Harusnya kau katakan itu enam tahun lalu dan kita bisa melakukan pertukaran." Gerutu Sai.
"Hei bung, bukankah itu sudah keterlaluan?" Sasuke menyusul Sai yang berjalan ke depan. Siap berangkat kerja.
Sai berhenti dan menatap Sasuke cemberut. Sasuke harus tahu jika pria ini akan kehilangan senyum konyolnya jika membahas Shin.
"Lebih baik katakan kenapa tiba-tiba menginap di rumahku?"
"Aku akan menceritakannya nanti. Thanks untuk tumpangannya." Sasuke mendorong Sai masuk ke mobil pria itu saat si supir membukakan pintunya.
"Selalu." Sai melambaikan tangannya sesaat sebelum mobilnya melaju pergi.
Sasuke tersenyum kecil dan masuk ke mobilnya sendiri. Dia juga harus bekerja.
.
.
.
.
Sasuke melonggarkan dasinya. Merilekskan sedikit tubuhnya yang kaku setelah menghadiri dua rapat. Bersyukurlah Fugaku sejak kemarin sedang melakukan inspeksi ke anak cabang di luar kota sehingga tidak ada kesulitan berarti.
Baru saja Sasuke menyentuh ponselnya ingin menghubungi Sakura, terdengar suara pintu diketuk. Pria itu menghela nafas sedih. Dia benar-benar merindukan gadisnya. Terutama setelah kesalahan yang dilakukannya tadi malam. Namun Sasuke pikir, akan menjadi semakin sulit jika dia bicara melalui ponsel.
"Masuk." Ucap Sasuke setelah memutuskan akan menemui Sakura selepas jam kantor.
"Tuan, tuan Akasuna datang ingin menemui Anda." Ucap Shino.
Sasuke mengangguk. Dia tak mungkin menolak lagi kedatangan Akasuna setelah kemarin.
"Aku akan makan siang bersamanya. Tunda jadwalku hingga pukul dua." Sasuke merapikan pakaiannya dan berjalan melewati Shino yang menundukkan tubuhnya dengan hormat.
Saat Sasuke sampai di ruang tunggu, dia terkejut melihat sosok yang duduk disana. Akasuna, namun bukan kepala keluarga Akasuna. Melainkan Akasuna Sasori.
"Sasuke." Begitu melihatnya, Sasori langsung berdiri dengan senyum manis. Tentu saja bertolak belakang dengan wajah Sasuke acuh tak acuh.
"Jika aku tahu itu kau, aku tak akan menyia-nyiakan waktuku." Dengus Sasuke tanpa menyembunyikan ketidaksukaannya.
Sasori terkekeh dan tanpa diduga melangkah maju memeluk Sasuke. Tentu saja pria Uchiha itu dengan cepat menepis niat Sasori.
"Hei, kau terlalu kasar." Protes Sasori. "Tapi tak apa, aku memaafkanmu. Ayo makan siang." Sasuke hanya bisa menghela nafas jengkel saat Sasori merangkul bahunya. Dia tak bisa bersikap lebih kasar pada Sasori didepan semua orang. Sangat tidak elegan.
Sasuke pikir Sasori akan mengajaknya ke luar kantor, tapi nyatanya pria itu hanya membawa mereka ke kafetaria kantor. Tentu saja ke bagian khusus petinggi perusahaan.
"Kenapa kau diam saja? Padahal aku menunggumu bicara." Keluh Sasori saat sudah selesai menghabiskan makanannya. Meski nada bicaranya mengeluh, nyatanya ekspresinya sama sekali tidak sesuai.
"Aku lebih ingin mencekikmu hingga tewas daripada bicara." Gerutu Sasuke. Dia juga menyudahi acara makannya dan sekarang menatap tak suka pada Sasori.
Yang ditatap tertawa kering sebelum melambaikan tangannya main-main.
"Memangnya apa salahku?"
Sasuke berdecak. Pria ini sengaja memprovokasinya dengan pura-pura tidak tahu. Jika Sasuke bisa bersikap dingin pada Karin, sayangnya itu tak bisa dilakukan pada Sasori. Karna pria ini kemungkinan akan menjadi sumber masalahnya dengan Sakura.
"Berhentilah berpura-pura. Katakan apa yang ingin kau katakan. Jujur aku sudah menahan mual sedari tadi karna melihat wajahmu."
"Kau menyakitiku." Sasori mencebikkan bibirnya sebal. Tapi melihat tatapan tajam Sasuke, dia tak berani bermain-main lagi. "Aku menemui gadismu."
Sasori mengangkat bahunya acuh melihat mata Sasuke yang seperti ingin mencabiknya.
"Sejujurnya aku tidak memiliki kesan apapun pada gadismu selain dia memiliki trauma aneh. Jadi jangan khawatir aku akan merebutnya. Ah apa kau tak percaya diri untuk bersaing denganku?" Sasori tersenyum jahil menikmati tatapan membunuh Sasuke.
"Aku akan mencincangmu bahkan sebelum kau bisa menyentuhnya." Desis Sasuke. Dia tahu jika ini bukan ancaman kosong. Sasuke bisa saja mengabaikan apapun demi gadisnya. Hanya saja dia masih mempertimbangkan penilaian pujaannya itu.
"Aku tahu. Aku tahu." Sasori mengangkat tangannya menyerah meski wajahnya masih menampakkan raut jenaka. Sepertinya dia senang mempermainkan Sasuke. "Aku hanya tak bisa mengabaikan permintaan Karin. Dia ingin aku mengganggu hubungan kalian dan... kau tahu, membuat kemungkinan kau bertunangan dengannya."
Sasuke mendesah sedih. Bukan karna ulah Karin, melainkan karna ulahnya tadi malam yang menyinggung Sakura. Jika bisa, dia ingin memutar waktu dan bertanya dengan baik-baik. Atau bahkan tidak perlu bertanya sekali. Kecemburuannya memang melampaui batas wajar.
"Melihat wajahmu sepertinya kau sudah bermasalah dengan gadismu? Hei kenapa semudah ini membuat kalian tak akur?"
"Diamlah." Desis Sasuke jengkel mendengar nada mengejek Sasori.
"Sejujurnya aku sama sekali tak menyetujui rencana Karin bertunangan denganmu. Lihat, kau bahkan tak sedikitpun memperhatikannya." Kali ini Sasorilah yang mendesah malas.
"Jika kau punya mata bagus seperti itu, bukankah seharusnya kau mengatakan hal itu pada saudarimu?" Sasuke tak menyangka jika dia akan bisa bicara tanpa pukulan dengan Sasori. Mungkin pria ini tak seburuk kesan pertamanya di mata Sasuke.
"Kau tahu sekeras kepala apa Karin. Lagi pula dia melihat peluang yang bagus mengingat enam tahun tak memberi kemajuan apapun pada hubunganmu dengan gadismu."
Sasuke terdiam dengan ekspresi lelah.
"Tak ada yang terjadi antara aku dan gadismu. Dia bahkan berdiri di jarak aman saat bicara denganku. Yang perlu kau khawatirkan adalah ayahmu dan Karin. Siapa yang tahu apa yang bisa mereka lakukan." Sasori beranjak. Menepuk ringan bahu Sasuke sebelum berlalu.
.
.
.
.
Kali ini Sasuke memilih mengumpulkan pekerjaannya dan membawanya pulang. Dia sudah tak sabar ingin bertemu gadisnya dan meminta maaf. Sayangnya niatnya itu harus kandas saat menemukan Sakura tak ada di rumah.
Setelah memutar-mutar kunci mobil Semarang beberapa menit, Sasuke memutuskan menghubungi Shikamaru.
"Apa?" Sahutan diseberang sana terdengar acuh tak acuh. Sepertinya Shikamaru seang sibuk.
"Kau masih bekerja?"
"Kau sudah pulang?" Tanya Shikamaru balik. Sebelum akhirnya pria itu mengoceh tentang keinginannya merayakan Natal dan tahun baru bersama Temari dan Shikadai sehingga harus menyiapkan pekerjaannya sedini mungkin agar rencananya berhasil.
Sasuke terdiam mendengar celotehan Shikamaru. Dia baru ingat jika Natal hanya tinggal seminggu lagi. Lalu tahun baru. Sasuke tak ingin tahun ini mereka tidak melewatinya dengan harmonis seperti tahun-tahun sebelumnya.
Setelah memastikan jika Shikamaru belum pulang dan tak tahu apakah Sakura bersama Temari atau tidak, dia memutuskan sambungan.
Sebelum Sasuke memikirkaj sesuatu untuk dilakukan, ponselnya bergetar. Kali ini Menma lah yang menghubunginya. Dengan tenang Sasuke menjawab panggilan orang kepercayaannya itu.
"Tuan, Anda belum memeriksa email dari saya? Beberapa hari tidak mendapatkan respon Anda membuat saya khawatir." Suara Menma tidak cepat atau lambat. Pria itu memang selalu tersruktur.
"Katakan saja." Perasaan Sasuke mulai gelisah. Dia merutuki dirinya sendiri yang lupa memeriksa email dari Menma. Masalahnya dia selalu memisahkan email dari Menma dengan email untuk urusan perusahan.
"Sepertinya tuan Fugaku melakukan sesuatu yang membuat Sabaku Gaara dan Sabaku Kankuro kehilangan pekerjaan mereka. Juga sedikit membuat masalah dengan usaha keluarga Sabaku. Bahkan dengan keluarga tunangan Sabaku Gaara." Sampai sini, kepala Sasuke langsung terkena migrain. Ayahnya benar-benar menggunakan cara ala drama.
"Bagaimana dengan Temari?" Meski Sasuke yakin jika ayahnya tak akan begitu tak berpikir dengan mengganggu Temari, tetap saja dia bertanya.
"Seharusnya nona Temari yang lebih tahu tentang ini."
"Baiklah. Temukan Sakura dan hubungi aku." Perintah Sasuke. Melihat sikap ayahnya, dia merasa semakin bersalah pada gadisnya. Dia juga mencemaskan keadaan Sakura.
"Baik tuan."
Setelah sambungan terputus, Sasuke segera masuk ke mobil dan memacunya menuju apartemen Shikamaru. Kegelisahannya membuat perjalannya lebih cepat sepuluh menit.
Sasuke menerobos masuk saat Temari yang menggendong Shikadai membuka pintu. Wajahnya yang serius membuat Temari menghela nafas. Wanita itu meletakkan Shikadai ke box bayi di kamarnya sebelum kembali menemui Sasuke di ruang tamu.
"Apa masalahmu?" Temari meraih sebotol air dingin dan gelas. Meletakkannya didepan Sasuke, lalu dia duduk diseberang pria itu.
"Terjadi sesuatu pada keluargamu?" Tanya Sasuke dengan nada suara cemas yang berusaha disembunyikan.
Temari menatap Sasuke beberapa saat sebelum menghela nafas. Wanita itu dengan malas menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
"Kasus klasik. Ayahmu membuat pilihan untuk Sakura, menjauhimu atau melihat keluarganya berantakan. Tentu saja ancaman itu sangat mudah direalisasikan oleh ayahmu. Keluargaku hanya pengusaha kelas tiga, ingat?"
Dibandingkan Temari, justru wajah Sasuke yang terlihat tegang dan terganggu. Pria itu mengepalkan tangannya, menahan Geraman. Dia tak mengerti kenapa ayahnya harus menggunakan cara kuno seperti itu.
"Dan Sakura..." Desis Sasuke dengan nada terluka.
"Seperti yang kau pikirkan. Jangankan meninggalkanmu, dia bahkan tidak mengatakan kesulitan kami padamu. Kau tahu, dia bersujud pada keluargaku. Memohon agar kami memaafkan keegoisannya. Aku tak bisa membaca pikiran orang lain, tapi sejujurnya aku tak keberatan dengan keegoisan Sakura. Ada banyak cara memulihkan kerusakan dalam bisnis. Yang mengkhawatirkan justru tunangan Gaara, gadis itu tak tahu apa-apa dan keluarganya terkena imbas dari hubungan kalian. Hal wajar jika dia membenci Sakura." Temari mengatakan itu dengan ringan. Seolah mereka hanya membicarakan cuaca.
Sementara itu dihadapannya, Sasuke merasa hatinya remuk. Dia selalu merawat Sakura sebagai sesuatu yang berharga. Membayangkan gadisnya menangis dan berlutut tentu saja membuat hati Sasuke hancur. Terlebih dia bahkan meragukan perasaan gadisnya. Berkata kasar pada gadisnya. Apa sebenarnya yang ada dikepalanya kemarin?!
"Meski aku tak tahu apa yang terjadi padamu dan Sakura, tapi melihat wajahmu dan wajah Sakura kemarin, aku jadi membencimu. Sakura bukan orang yang mudah diatasi Sasuke. Dia tak akan mengatakan masalahnya jika kau berteriak didepannya. Semakin kau berkeras, semakin dia bungkam. Seharusnya kau yang paling tahu tentang ini." Meski nada bicara Temari terkesan malas dan acuh tak acuh, nyatanya mata wanita itu menatap tajam seolah akan ingin menyayat Sasuke. Bersyukurlah Sasuke temperamen wanita itu sudah sedikit berubah, jika tidak, mungkin saat ini dia sudah dicuci bersih sampai ke tulang.
"Aku tahu." Sasuke menyahut dengan getir. Padahal dia yang dengan angkuh bilang tidak ingin menyakiti Sakura. Padahal dia yang dengan egois meminta agar Sakura tak meninggalkannya apapun keadaannya. Namun disaat gadis itu kesulitan, jangankan melindungi, Sasuke justru ambil andil menyakiti gadisnya.
"Bagaimana denganmu?" Gumam Sasuke. Dia sudah tak memiliki gairah untuk bicara. Namun masih menunggu kabar dari Menma.
"Aku? Kenapa?"
Sasuke menatap jengah Temari. Dia diam-diam mempertanyakan apa yang disukai Shikamaru dari wanita ini.
Saat mereka berdua masih adu tatap, terdengar suara tangisan bayi dari salah satu kamar. Temari melirik Sasuke sebelum beranjak.
"Pergilah, kau mengganggu Shikadai." Temari melambaikan tangannya sebelum menghilang ke dalam kamar.
Sasuke memutar bola matanya malas. Bisa-bisanya Temari menyalahkan dia. Padahal bayi menangis adalah hal wajar.
Tak ingin mengganggu ibu muda itu lebih lama, Sasuke beranjak pergi. Tepat saat dia keluar dari lift, ponselnya bergetar. Menma menghubunginya.
"Tuan, nona Sakura pergi ke rumah Sepupunya. Dia menaiki pesawat jam sepuluh tadi pagi."
Sasuke menghela nafas sebelum memutuskan sambungan. Dia dengan cepat memesan tiket untuk menyusul gadisnya. Setidaknya, Sasuke pikir menyusul Sakura adalah hal terbaik yang bisa dipikirkannya. Sasuke tak akan tahan membiarkan kesalahpahamannya dengan Sakura berlarut-larut.
Sampai di kota tempat keluarga Sabaku tinggal, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Sasuke berdiri menunggu Menma yang akan menjemputnya. Pengawalnya itu terbang ke kota ini lebih dulu dari dirinya. Tentu saja dia sudah mempersiapkan segala keperluan Sasuke.
"Aku tak menyangka akan melihatmu di sini, Uchiha Sasuke."
Sasuke menoleh saat mendengar seseorang berbicara padanya. Dia mengangkat sebelah alisnya menatap wanita berpakaian modis disampingnya.
"Koyuki, jika kau lupa." Gadis itu mengingatkan dengan senyum cerah.
"Ah benar. Maaf." Sasuke menyunggingkan senyum bisnisnya.
Koyuki adalah salah satu teman kuliahnya dulu. Dia gadis yang memiliki ambisi tinggi, namun kemampuannya sesuai untuk mewujudkan ambisinya. Seorang pebisnis muda yang cukup sukses meski latar belakangnya biasa.
"Aku mendengar rumor. Benarkah kau mendirikan restoran tanpa payung Uchiha?" Mata Koyuki berkedip. Terlihat binar antusias saat dia bicara dengan Sasuke.
"Rumor itu benar." Sahutan singkat Sasuke tak menyurutkan antusias Koyuki.
"Rumor juga mengatakan kau tak begitu akur dengan ayahmu?"
Sasuke tak menjawab, dia justru menatap Koyuki terganggu. Jelas wanita yang sekarang terkekeh itu membuatnya merasa tak nyaman karna membicarakan masalah pribadinya. Lagi pula Sasuke bukan orang bodoh. Informasi itu membuktikan jika Koyuki benar-benar memperhatikannya. Sasuke menghela nafas, berharap tak akan ada gangguan tambahan pada hubungannya dengan Sakura.
"Jangan menatapku begitu. Aku hanya menawarkan jalan keluar. Jika ayahmu menendangmu dari Uchiha Corp, kau bisa menghubungiku. Koneksiku cukup untuk membuatmu tetap hidup nyaman."
Sasuke tertawa kering. Dia akan lebih rela mencari cara lain yang lebih aman untuk penilaian Sakura.
"Terima kasih atas tawarannya." Sasuke menyunggingkan sedikit senyuman bersamaan dengan mobil yang disupiri Menma berhenti dihadapannya.
Sebelum Sasuke masuk ke mobil, Koyuki meraih tangannya. Sasuke mengerutkan keningnya menatap tangannya yang dicengkeram Koyuki.
"Aku serius. Kau bisa menghubungiku." Wanita itu menyelipkan kartu namanya ke saku jas Sasuke.
Sasuke menatap Koyuki sesaat sebelum masuk ke mobil. Dia meraih kartu di sakunya, menatap sejenak sebelum meremas dan membuangnya keluar jendela. Membiarkan benda itu hilang terbawa angin dan terlindas ban-ban kendaraan yang melintas.
"Dia memiliki bakat yang bagus. Dalam beberapa tahun mampu mengembangkan usahanya dan naik menjadi pengusaha kelas tiga."
"Begitu? Yang perlu dipertanyakan, dari mana modal awalnya. Dia berasal dari keluarga biasa." Sahut Sasuke acuh tak acuh. Meski dia tidak mengikuti satupun perkembangan Koyuki, dia bisa menebak dengan kejam.
"Anda benar."
Menma melajukan mobilnya memasuki kawasan perumahan. Perlahan melambat saat melewati sebuah taman. Sasuke mengedarkan pandangannya. Matanya menyendu saat melihat sosok gadisnya berdiri disana.
Sasuke turun dari mobil. Berjalan mendekat ke arah Sakura. Namun langkahnya terhenti saat dia menyadari jika gadisnya tidak sendiri. Ada seorang gadis berambut cokelat dihadapannya. Dan sedang menangis.
Sakura perlahan berjongkok didepan gadis yang duduk di kursi taman. Berusaha meraih tangan gadis itu meski akhirnya ditepis dengan kasar.
Sasuke merasa dadanya sesak melihat pemandangan itu. Dia ingin mengubur gadis yang memperlakukan Sakura dengan kasar itu hidup-hidup. Namun Sasuke merasa dialah yang paling bersalah di sini.
Disana, dia melihat Sakura tersenyum sedih. Berkata lirih menenangkan gadis berambut cokelat itu, tidak, itu lebih tepat dibilang membujuk. Sasuke bisa memperkirakan seberapa besar kemarahan gadis berambut coklat saat memilih mengabaikan Sakura dan pergi. Sebelum Sasuke berpikir apapun, Sakura terlihat meraih tangan gadis itu. Sayangnya balasan yang Sakura dapat adalah tamparan sebelum gadis itu benar-benar pergi.
Mata Sasuke memanas melihat tubuh gadisnya mematung disana. Perlahan Sasuke mendekati gadisnya. Nafasnya tercekat. Tangannya yang gemetar terulur ingin meraih Sakura.
Namun, sebelum tangannya mencapai Sakura, gadis itu sudah menoleh. Menatapnya dengan mata basah yang sarat akan luka. Tatapannya tak lagi menggemaskan. Itu hanya tatapan dingin penuh luka.
Sasuke merasa tubuhnya ditimpa beban berat yang menyakitkan. Dia menyesali kecerobohannya yang membuat Sakura menatapnya seperti ini. Dia merindukan Sakura yang selalu tersenyum manis dan menatapnya manja. Tatapan dingin Sakura terasa membunuhnya.
"Sakura..." Bisik Sasuke terluka. Sungguh dia tak rela mendapatkan tatapan itu dari Sakura.
Sakura menatap Sasuke. Perlahan air mata gadis itu luruh, menambah beban dan luka hati Sasuke. Sasuke baru saja membuka mulutnya ingin bicara, namun gadisnya berpaling dan melangkah pergi.
Saat ini Sasuke baru tahu rasanya ingin mati. Benar-benar hancur dan ingin mati.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keyikarus
22 Desember 2017
.
.
.
.
.
.
Up selanjutnya
26 Desember 2017
