Disclaimer Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
"Baby, tolong maafkan aku." Sasuke meraih tangan gadisnya. Dia tak mau melakukan kesalahan lagi dengan membiarkan Sakura pergi.
Sasuke cemas saat Sakura hanya diam tanpa mau berbalik menatapnya. Perlahan bahu gadisnya mulai bergetar. Tubuh Sasuke meremang mendengar isak tangisnya yang selirih angin. Lagi, hatinya terasa dicabik.
"Sakura, ku mohon jangan menangis." Sasuke meraih bahu Sakura. Memeluk gadis itu dengan gerakan selembut kapas. Kelewat hati-hati. Seolah Sakura adalah benda yang rapuh dan bisa hancur meski dengan sedikit tekanan.
Helaan nafas lega tanpa sadar lolor dari bibir Sasuke saat Sakura tak menolak dirinya. Dengan sayang, Sasuke mengeratkan pelukannya namun memastikan gerakannya tak menyakiti gadis itu.
"Maafkan aku." Bisik Sasuke ditelinga Sakura. Suaranya lebih terdengar memohon dan memelas.
"Aku mencintaimu, Sasuke-kun..." Bisik Sakura dengan suara seraknya.
"Aku tahu." Sasuke pun berbisik. Lebih tepatnya dia tak mampu mengeluarkan suara lebih dari ini karna dadanya bergemuruh.
"Aku mencintaimu hingga batas putus asa. Aku mencintaimu hingga tak ada yang ku pedulikan selain maumu. Bahkan keluargaku." Serak Sakura.
"Aku tahu. Aku tahu. Maafkan aku. Baby maafkan aku." Sasuke menangkup wajah gadisnya. Berusaha menatap mata sembab yang meremukkan hatinya itu.
Sasuke baru sadar jika tangannya gemetar hebat. Sebesar inilah ketakutannya menghadapi Sakura. Menghadapi rasa bersalahnya. Jika Sasuke bisa memutar waktu, maka dia akan memilih diam. Membutakan mata, menulikan telinga untuk selain Sakura.
"Sasuke-kun, bisakah aku membencimu?" Bisik Sakura menatap Sasuke memelas. Mata itu menyiratkan kecewa dan rasa sakit.
"Tidak. Tidak. Kau tak boleh melakukannya. Aku salah. Maafkan aku. Tapi kau tak boleh meninggalkanku. Ingat janjimu?" Racau Sasuke cemas.
Bola mata Sakura bergerak-gerak seolah mencari sesuatu di mata Sasuke. Perlahan gadis itu terkekeh, lengannya terulur memeluk prianya.
"Sasuke-kun." Desah gadis itu. Dia menyurukkan kepalanya ke ceruk leher Sasuke. Menyamankan dirinya.
Sasuke? Tentu saja dia mengeratkan pelukannya pada Sakura. Mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali penuh syukur. Sasuke tahu dari gesturnya, Sakura sudah memaafkannya. Bahkan tak ada satu hal pun lagi yang akan membuatnya berpikir jika Sakura akan meninggalkannya.
Seperti dia yang mencintai gadisnya, Sakurapun mencintainya. Sasuke bisa bernafas lega.
Selanjutnya, mereka memilih menghabiskan waktu sedikit lebih lama duduk di kursi taman. Saling bersandar satu sama lain. Menyamankan diri dengan keberadaan yang lain. Tak ada kata. Hanya senyuman dan tatapan mata ke arah langit gelap. Hingga Sasuke mengalihkan tatapannya pada wajah gadisnya.
"Baby, kapan aku bisa berterima kasih pada keluargamu?" Bisik Sasuke saat dalam perjalanan mengantar Sakura pulang ke rumah Sabaku.
Sakura tertawa kecil mendengar ucapan prianya. Dengan senyum jenaka dia menatap Sasuke.
"Jika kau punya waktu. Ah dan sepertinya kau butuh bingkisan." Ucap Sakura dengan nada bercanda. Kali ini ganti Sasuke yang tertawa.
"Tentu saja." Tawa Sasuke berubah menjadi senyuman. Rengkuhannya pada tubuh mungil Sakura mengerat lalu perlahan wajahnya melembutkan namun serius. "Sayang, apa yang bisa ku lakukan untukmu?"
"Hm?" Sakura justru mengernyitkan dahi bingung mendengar nada memelas Sasuke.
"Kau tahu, Temari sudah mengatakan semuanya. Semua yang dilakukan ayahku pada kalian..." Suara Sasuke makin lirih.
Sakura menghela nafas lalu tersenyum lembut. Tangan mungilnya terulur membelai wajah Sasuke.
"Tak ada. Ini masalah keluargaku."
"Tentu saja ada!" Protes Sasuke. Namun dia hanya ditanggapi dengan seringai menggoda gadisnya. Seolah mengatakan 'kau kan bukan keluarga'.
"Sakura..." Erang Sasuke tak terima yang justru menguarkan tawa merdu kekasihnya. Melihat itu tentu saja dia tak bisa lebih jengkel lagi. Sasuke menghela nafas saat mobil yang disupiri Menma berhenti didepan pagar rumah Sabaku. "Baby, aku sangat mencintaimu. Ancaman kuno tuan Fugaku itu tak akan berhasil memisahkan kita. Benarkan?!" Sasuke memeluk Sakura lagi. Membelai lembut surai merah muda gadis itu.
Sakura mengangguk sembari bergumam mengiyakan. "Aku harus masuk." Sakura mengecup pipi Sasuke sebelum keluar mobil. Sasuke dengan wajah tak rela mengekor dibelakangnya. Berharap bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Sakura.
Sayangnya itu sulit terjadi saat Kankuro muncul menyambut sakura. Tanpa repot-repot memberi salam atau apapun dia membanting pintu pagar didepan wajah Sasuke. Dengan pasrah Sasuke memilih memesan tiket kembali ke kotanya.
Kali ini apapun yang dilakukan Sabaku padanya, dia akan menerima dengan lapang dada. A ah. Bukankah Sasuke berubah menjadi pemaaf dalam semalam? Itu kemajuan yang bagus.
Sasuke hanya sempat tertidur setengah jam di pesawat. Sisanya benar-benar terjaga. Tapi itu sama sekali tak mengganggu moodnya. Dia tiba di kantor seperti biasa dan melakukan pekerjaannya dengan lebih baik dari beberapa hari sebelumnya. Untuk Menma, Sasuke membuatnya mengawasi gadisnya dan melaporkan apapun yang dilakukan kesayangannya itu.
Saat makan siang, Shino mengatakan jika dia ada janji dengan nona Akasuna. Tentu saja itu maksudnya Karin.
Meski dia tak merasa melakukan itu, Sasuke tidak bereaksi. Dia tahu jika yang melakukan adalah ayahnya. Tentu saja dia mengiyakan untuk menemui gadis yang lebih keras kepala daripada Sakura.
"Kau datang?" Karin tersenyum lebar saat melihat Sasuke masuk ke restoran tempatnya menunggu.
"Hn." Dengan acuh pria itu melambaikan tangan pada pelayan untuk memesan sesuatu. Dia lapar. Dan seketika dia menyesal tidak memilih Sarapan bersama gadisnya. Padahal mereka sudah susah payah bertemu.
"Sasuke-kun, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat, dan kau memiliki kantung mata. Apa kau tidak tidur dengan baik?" Sasuke menaikkan alisnya mendengar pertanyaan bernada khawatir dari Karin. Sungguh dia tak tahu perasaan gadis didepannya sebenarnya terbuat dari apa. Kenapa bisa berubah dalam waktu singkat. Sasuke belum lupa bagaimana Karin marah padanya pada malam pesta. Sebenarnya itu cukup menjengkelkan mengingat Sasuke harus mengirimkan paket sebagai permintaan maaf pada supplier itu.
"Aku baik-baik saja, kau bisa berhenti khawatir." Gumam Sasuke acuh. Mengabaikan ekspresi tertekan Karin.
"Kita akan pergi memilih cincin pertunangan setelah makan siang. Ku rasa Paman sudah mengatakan itu."
Sasuke mengangguk. Ya, ayahnya memerintahkan ini itu yang sama sekali bukan urusan pekerjaan melalui pesan suara. Sungguh menjengkelkan.
"Aku senang kau tidak mempersulit hal ini." Sasuke merasa kasihan melihat Karin memaksakan senyum manisnya.
"Karin." Sasuke menyudahi makannya dan menatap gadis itu dengan ekspresi serius. "Aku yakin sebenarnya kau tahu ini tak akan berhasil. Berhentilah merendahkan dirimu sendiri. Kau lebih berharga dari yang kau kira."
Sasuke hanya diam. Dia tahu diseberangnya Karin sedang gemetar. Entah itu menahan marah atau tangis. Dia merasa tidak ada yang bisa dilakukannya setelah ini jika Karin masih bertahan dengan kekeraskepalaannya.
"Kau tahu betapa aku mencintaimu Sasuke-kun?" Dengan mata berkilau karna genangan air mata, Karin menatap Sasuke. Tatapan sarat akan luka dan keputusasaan. Sesungguhnya gadis itu sangat memelas, memohon pengertian pria didepannya. "Bahkan sampai tingkat dimana aku rela melakukan hal-hal tak masuk akal. Aku mencintaimu hingga seolah kehilangan tujuan hidupku saat berhenti. Bagaimana mungkin kau bisa tak melihatku?"
Kali ini Karin menutup matanya, berusaha menahan air matanya agar tak jatuh. Tapi siapapun akan tahu jika hal itu mustahil. Deru nafasnya mengiringi saat bulir air mata jatuh satu persatu.
Sasuke meraih tisu dimeja dan menyodorkan pada gadis itu. Dia tak bisa memberikan sapu tangannya. Karna itu hak mutlak milik Sakura.
Keheningan menyelimuti Sasuke dan Karin. Namun itu sama sekali tak membuat Sasuke ingin membuka mulutnya.
Sedangkan Karin mati-matian menahan tangisnya. Kesabarannya dan segala yang dilakukannya sama sekali tak berarti di mata Sasuke. Karin sadar jika peruntungannya tak sebagus Sasuke. Kali ini dia hanya akan membiarkan waktu yang menjawab, apakah Sasuke akan menjadi miliknya atau Sakura. Karin tidak masalah meski seumur hidup Sasuke hanya mencintai Sakura, yang terpenting Sasuke selalu bersamanya.
"Bahkan jika itu bukan aku, kau dan Sakura tak akan berhasil. Kalian terlalu berbeda." Gumam Karin sebelum pergi meninggalkan Sasuke.
"Jika Sakura tak bisa naik, maka aku yang akan turun." Sasuke tersenyum tenang. Dia memiliki keyakinan untuk melakukan itu.
Meski Karin telah pergi, Sasuke tetap pergi ke toko perhiasan. Dia memesan cincin untuknya dan Sakura. Tentu saja bentuknya sederhana dengan ukiran nama pasangan di bagian dalam. Sasuke tersenyum senang, setidaknya karna ide Fugaku mencari cincin, dia jadi punya kejutan untuk Sakura.
Seperti yang diharapkan dari Fugaku, tak butuh waktu lama untuknya tahu tentang Sasuke yang tak jadi pergi memilih cincin pertunangan bersama Karin. Mikoto menghubungi Sasuke agar makan malam di rumah.
"Berhentilah membuat hal-hal menjadi sulit, Sasuke." Ucap Fugaku dengan nada sedingin es saat selesai makan malam.
"Tentu saja. Sebaliknya, berhentilah melakukan hal-hal sulit, tou-san. Itu akan membuatmu lelah." Dengus Sasuke dengan nada malas. Namun setiap orang yang mendengarnya akan tahu jika Sasuke menentang ayahnya. "Seberapapun tou-san menyulitkan keluarga Sabaku, Sakura tak akan meninggalkanku."
Sasuke berucap dengan kepercayaan diri tinggi. Sedangkan Fugaku untuk beberapa saat tertegun sebelum bersikap seperti biasa.
"Kau terlalu yakin."
"Tou-san, keyakinanku ini bakat bawaan." Sasuke mengangkat bahunya acuh.
Melihat sikap Sasuke, Fugaku menahan diri agar tidak menggeretakkan giginya. Putranya ini benar-benar tak bisa dibandingkan dengan Itachi yang lebih penurut. "Kau sama sekali tak memiliki pilihan, pertunangannya tetap akan berlangsung dua Minggu lagi."
"Tou-san..." Fugaku mengangkat tangannya memotong ucapan Sasuke.
"Kau tahu, semenjak Itachi meninggal, maka segala beban beralih padamu." Tutup Fugaku. Pria paruh baya itu melangkah pergi ke ruang kerjanya.
Kali ini giliran Sasuke yang menggeram jengkel. Sasuke menarik nafas demi meredakan gemuruh di hatinya.
"Sasu... cobalah lebih menuruti tou-sanmu." Mikoto dengan lembut berucap.
Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu masuk kamar putranya dengan khawatir. Tentu saja dia melihat perdebatan suami dan putranya. Mau tidak mau perasaan Mikoto menjadi sedih.
"Aku menurutinya dengan tidak membuatnya membatalkan pesta pertunangan." Sasuke menggosok rambutnya yang basah.
Melihat itu, Mikoto meraih handuk di tangan Sasuke. Mengarahkan putranya untuk duduk agar dia bisa mengeringkan rambut putranya.
"Apa yang kau rencanakan Sasu..."
"Kenapa Kaa-san bicara seperti itu?" Sasuke menatap pantulan ibunya di cermin. Tatapan matanya begitu sendu, membuat perasaan Sasuke tak nyaman.
"Kau bukan seorang penurut yang memikirkan reputasi tou-sanmu. Melihatmu tidak begitu memberontak membuatku khawatir."
Sasuke meluruskan garis bibirnya, dia tak terkejut melihat ibunya sangat mengerti dirinya. Tapi bukan berarti dia akan mengatakan isi kepalanya.
"Kaa-san, apa kaa-san juga sangat mengenal Itachi?" Sasuke mengalihkan topik.
Gerakan tangan Mikoto melambat. Tampak jika wanita itu memikirkan sesuatu dari pertanyaan Sasuke. Setelah beberapa saat terdiam, Mikoto tersenyum lembut. "Tentu saja. Itachi dan kau adalah putraku. Bagaimana mungkin aku tak mengenal kalian."
"Menurut kaa-san, apa mungkin jika Itachi melakukan hal buruk? Seperti membunuh misalnya." Sebenarnya Sasuke sama sekali tak mau membuka luka lama. Hanya saja dia selalu penasaran apakah orang tuanya mengetahui kelakuan buruk Itachi pada Tayuya sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Sasuke tak menduga pertanyaannya akan membuat wajah Mikoto pucat pasi. Bahkan tangan wanita itu bergetar hebat yang berusaha disembunyikannya di dalam handuk. Tanpa konfirmasi ibunya,Sasuke sudah menebak kemungkinannya.
Tak tega melihat kondisi ibunya, Sasuke berbalik dan meraih tangan wanita itu. Mengecupnya lembut, berusaha menyalurkan ketenangan.
"Lupakan pertanyaanku kaa-san, maafkan aku." Gumam Sasuke lembut.
"Jangan bicara seperti itu lagi Sasu, nii-sanmu adalah anak yang baik. Dia hanya sedikit nakal." Gumam Mikoto dengan nada bergetar.
Sasuke mengangguk. Sekali lagi dia mencium tangan ibunya sebelum wanita itu mengucapkan selamat malam padanya dan pergi.
"Aku juga mungkin akan sedikit nakal kaa-san." Gumam Sasuke sebelum merebahkan dirinya dan tidur.
Pagi harinya Sasuke terbangun oleh pesan yang masuk ke ponselnya. Dengan mata masih terpejam, pria itu meraba-raba nakas untuk menemukan ponselnya.
Memaksakan matanya terbuka, Sasuke membaca pesan masuk. Seketika itu senyumnya mengembang. Bukan pesan yang istimewa, namun pengirimnya lebih dari sekedar istimewa. Ya, itu pesan ucapan 'selamat pagi' dari Sakura.
Pagi itu Sasuke menghabiskan waktu dengan berbalas pesan dengan gadisnya. Wajahnya melembut membayangkan Sakura yang bersiap kembali ke rumahnya sendiri.
Sakura bilang dia sudah mendapatkan maaf dari Matsuri meski belum mendapatkan sikap ramahnya. Lagi pula usaha keluarga Sabaku tidak begitu terguncang mengingat ada Shikamaru yang tak akan rela melihat Temari bersedih.
Untuk Gaara dan Kankuro, mereka akhirnya memutuskan mendirikan usaha sendiri. Modalnya tentu saja gabungan dari tabungan dua pria itu ditambah Sakura dan Temari.
Lalu untuk kesulitan yang dialami keluarga Matsuri, Sasuke sudah memerintahkan Sora untuk membantunya diam-diam. Setidaknya dia harus ikut andil dalam memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh ayahnya.
Sasuke juga memerintahkan Menma bersama beberapa orang mengawasi gerakan ayahnya. Menma harus mengeluh untuk ini. Bosnya terlalu memberinya banyak pekerjaan.
Sasuke mendesah, sepertinya ketegangan antara dia dan ayahnya semakin menjadi.
Disisi lain, Sasuke menerima laporan kemajuan persiapan pesta pertunangannya. Tidak begitu mengejutkan saat melihat daftar tamu undangannya. Tidak ada pengusaha kelas tiga yang diundang.
Sasuke mengamati desain undangan berwarna perak dan emas ditangannya. Terukir namanya dan nama Karin diatasnya dengan manis. Sungguh sangat disayangkan.
Ditengah kesibukan, Sasuke menyempatkan mengunjungi rumah keluarga Sabaku. Tentu saja tanpa sepengetahuan Sakura dan Temari. Setidaknya belum.
Sasuke berdiri berhadap-hadapan dengan Gaara dipintu pagar. Dia pikir akan lebih baik jika bertemu dengan kepala keluarga Sabaku saja daripada salah satu sepupu pria Sakura.
"Kau tidak mau menawariku masuk?" Tanya Sasuke menekan kejengkelannya.
"Sebenarnya tidak. Sayangnya itu akan membuat Sakura marah padaku." Gaara mengangkat bahunya acuh namun menyingkir, memberikan jalan.
"Terima kasih." Ucap Sasuke sarkastik.
Gaara membimbingnya masuk ke ruang tamu. Sasuke mengamati rumah yang terlihat sama sepinya dengan rumahnya. Namun ada sedikit perbedaan, suasana di rumah ini sedikit hangat.
"Hanya ada aku sendiri di rumah. Yang lain sedang mengunjungi Temari." Gaara mempersilahkan Sasuke duduk dengan gestur tangannya. Pria itu pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Bagaimanapun tidak sukanya dia pada Sasuke, dia tidak bisa memperlakukan. Orang yang disukai Sakura dengan sembarangan.
Sedangkan Sasuke, setelah mendengar penjelasan Gaara, dia tak bisa menahan diri untuk tidak mengerang jengkel. Untuk apa dia jauh-jauh ke kota ini jika bisa ke tempat Temari. Itu akan lebih menghemat waktu dan tenaga!
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" Gaara kembali dari dapur dan meletakkan dua kaleng cola di meja. Itu pilihan minuman yang aneh bagi Sasuke.
Sasuke menghela nafas, lalu meletakkan undangan didepan Gaara. Membiarkan pria yang memasang wajah bingung itu meraih undangan indah didepannya. Hanya butuh satu detik untuk Gaara mengubah wajahnya menjadi bengis setelah membaca nama yang tercantum. Matanya berkilat berbahaya memandang Sasuke.
"Kau ingin aku membunuhmu?!" Desis Gaara tajam. Dia benar-benar ingin mencekik Sasuke sampai mati. Bagaimana bisa pria itu meletakkan undangan terkutuk didepannya dengan ringan. Sementara Sakura mencintainya sampai rela mengorbankan apapun.
"Sebenarnya tidak. Dengar, aku memang akan bertunangan tapi dengan Sakura." Sasuke menjelaskan dengan tenang dan penuh keyakinan.
Gaara tentu saja menatap pria itu sangsi. "Kau pikir aku buta huruf?" Ejeknya. Dia tanpa menyisakan sedikit kesopanan meremas kertas undangan di tangannya.
"Maksudku pesta memang disiapkan untukku dan Karin, tapi tak ada salahnya mengubah gadisnya menjadi Sakura. Kau tahu, jika aku membatalkan pestanya, itu akan menjadi hal yang mubazir."
Gaara berdecak jengkel mendengar nada jenaka Sasuke. Seolah pria itu sedang merencanakan kenakalan ala remaja. Gaara jadi mempertanyakan, sebenarnya bagaimana pola pikir si jenius Uchiha.
"Ku rasa itu bukan hal yang cukup bagus. Kau akan mempermalukan Akasuna dan Uchiha secara bersamaan. Mungkin kau bisa menghadapinya, bagaimana dengan Sakura? Dia akan dianggap sebagai perebut kekasih orang." Dengus Gaara tak suka.
"Aku tahu, karna itulah akan ada beberapa improvisasi dariku nanti. Seperti kalian yang menyayangi Sakura, akupun tak akan membiarkan gadis itu terluka."
Gaara tertawa mengejek mendengar ucapan Sasuke. "Jika kau lupa, beberapa hari lalu kau membuat Sakura menangis."
Sasuke mengerang. Dia memang tahu jika Sakura selalu terbuka pada keluarganya. Tapi jika bisa, Sasuke harap Sakura tak akan terbuka tentang hal-hal yang memojokkannya.
"Aku akan sangat berterima kasih jika kau tak membahas itu lagi." Sinis Sasuke.
"Tentu, jika aku sedang senang." Sahut Gaara acuh tak acuh yang membuat Sasuke semakin jengkel.
"Aku sangat berharap kalian akan datang pada pesta pertunangan itu. Dan Gaara..." Sasuke berdiri dengan wajah serius namun terkesan lembut. Membuat Gaara mengerutkan keningnya bingung. Sebenarnya lebih cenderung jijik.
Sasuke membungkuk sembilan puluh derajat dihadapan Gaara. "Terimakasih untuk segala kemudahan yang kalian berikan padaku dan Sakura. Terima kasih untuk tidak membenciku dan Sakura. Dan terima kasih telah merawat Sakura dengan baik."
"Berhentilah bersikap menjijikkan. Sakura adalah keluarga kami, tentu saja kami akan merawatnya dengan baik." Gaara makin mengerutkan keningnya tidak nyaman dengan tingkah Sasuke. Dia terbiasa untuk bersikap sinis pada pria itu. Dan saat Sasuke bersungguh-sungguh berterima kasih, tentu saja membuat Gaara sangat canggung. Tapi dia tak akan mengakuinya.
Sedangkan Sasuke, tentu saja dia mati-matian menahan diri agar tidak mengumpati Gaara dengan semua bahasa kotor yang ada. Tidak bisakah pria itu menjadi sedikit baik saat ini?
Malas berbasa-basi lagi, Sasuke mengucapkan selamat tinggal dan pulang. Bersama Gaara lebih lama akan membuatnya matang karna suhu panas.
Karna besok adalah hari libur, Sasuke menyelesaikan pekerjaannya selama perjalanan kembali ke kotanya. Dia berencana akan menghabiskan seharian besok dengan berkencan. Sasuke mulai bersemangat.
.
.
.
.
.
.
Maaf untuk keterlambatan. Bukan karna belum siap dan ingkar janji. Tapi karna error browser akunya. Makanya ini coba publish lewat app.
.
.
Keyikarus
26 Desember 2017
.
.
.
up selanjutnya
30 Desember 2017
