Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Sasuke mengetuk-ngetuk sepatunya di lantai dengan gelisah. Sementara tangannya memegang ponsel, matanya tak lepas dari televisi yang memberitakan tentang dirinya dan calon pengantin misteriusnya. Mereka terlalu melebih-lebihkan. Meski bukan hal mengagetkan mengingat Sasuke sama sekali tak mencetak fotonya di undangan itu.

Sekarang Sasuke justru makin gelisah. Dia tak bisa memilih cara terbaik untuk membicarakan hal ini pada Sakura. Pria itu tentu saja jadi banyak berfikir setelah Temari menghubunginya beberapa menit lalu. Mengatakan dirinya mengerikan. Ya ya Sasuke tahu dirinya sedikit ceroboh.

Disaat dia menimbang akan menghubungi Sakura atau langsung menemui gadis itu, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Melihat pengirimnya, Sasuke jadi was-was. Dia khawatir isi pesan itu sebuah makian atau umpatan atau protesan atau... sejenisnya.

Sasuke menatap lama ponselnya sebelum menarik nafas dan mengetuk notifikasi untuk membuka pesannya.

Temui aku besok pagi.

Sasuke dikecewakan dengan cepat. Hany itu pesannya. Tidak ada makian atau lainnya. Dia menghela nafas lega. Hanya sebentar sebelum dia gelisah lagi. Bahkan lebih parah karna membayangkan apa yang terjadi besok pagi. Hasilnya, Sasuke hanya mampu memejamkan matanya beberapa menit sebelum terbangun di pagi hari.

Setelah mandi, dia turun untuk sarapan bersama ayah dan ibunya.

Fugaku hanya melirik Sasuke sekilas lalu memulai sarapannya. Dia tak akan repot-repot mengatakan sesuatu setelah kemarin. Meski ekspresinya dingin, jelas pria paruh baya itu sangat terganggu melihat Sasuke tidak bersiap untuk bekerja pagi ini.

Sasuke sendiri sudah menyerahkan pekerjaannya pada sekretarisnya. Dia kan meluangkan sedikit lebih banyak waktunya untuk Sakura menjelang pernikahannya. Itu hal wajar kan.

"Kemana kau akan pergi hari ini Sasu?" Tanya Mikoto lembut. Tangannya bergerak mengambilkan lauk untuk Sasuke.

"Ke rumah Sakura. Terima kasih." Gumam Sasuke.

"Kau tidak bekerja? Ah tentu saja. Sasuke kau akan menikah dalam beberapa hari. Putraku sudah dewasa." Sasuke mendongak menatap senyum lembut ibunya. Tentu saja dia membalas senyum itu. "Kau masih bisa memikirkannya, Sayang. Jika... jika kau memiliki keraguan, kau bisa membatalkannya. Jangan pikirkan kami. Pernikahanmu adalah hal penting yang harusnya menjadi hal terbaik. Sayang..."

"Kaa-san." Potong Sasuke. Selera makannya turun ke titik nol mendengar kata-kata ibunya. "Aku akan mempertanggungjawabkan pilihanku. Dan aku yakin aku tidak akan menyesalinya. Jadi, daripada kaa-san berharap aku berubah pikiran. Lebih baik kaa-san belajar menerima Sakura. Belajar menyayanginya seperti kaa-san menyayangimu."

Brak. Fugaku meninggalkan meja makan setelah menggebrak kuat. Mikoto menghela nafas sementara tidak ada yang berubah pada wajah Sasuke.

"Sasu..."

"Kaa-san, aku akan selalu mementingkan Sakura di atas yang lainnya. Jika kaa-san ingin kita selalu bersama dan hidup bahagia, belajarlah untuk menerima dan menyayangi Sakura." Sasuke menyudahi sarapannya. Dia beranjak mencium pipi ibunya lalu pergi.

Setidaknya dia sudah memberikan jalan yang bisa dilalui mereka bersama. Jika ibunya memilih jalan lain, itu adalah pilihannya. Dan Sasuke memiliki pilihan sendiri.

Setengah jam kemudian, Sasuke sudah berada didepan rumah Sakura. Setelah menenangkan rasa gelisahnya, dia turun dari mobil. Sebelum Sasuke membuka pintu pagar, sosok Sakura terlihat keluar dari rumah.

Jantung Sasuke berdegup gugup saat Sakura menghampirinya. Dia tiba-tiba kesulitan memilih kata apa yang harus diucapkannya.

"Sakura..."

"Sasuke-kun, tidak keberatan mengantarku ke suatu tempat?" Potong Sakura.

Sasuke mengangguk lalu membukakan pintu mobil untuk Sakura. Diam-diam dia mendesah lega, namun juga tertekan mengingat apa yang ingin diucapkannya masih harus tertunda.

"Kemana kau akan pergi?" Tanya Sasuke.

"Menurutmu kemana?" Sahut Sakura acuh tak acuh. Bahkan mata gadis itu hanya tertuju pada ponsel, membuat Sasuke semakin tak enak hati.

"Kau selalu memiliki banyak tujuan. Aku tak bisa memastikannya." Desah Sasuke menyerah. Dia membelokkan mobil sesuai arah tangan Sakura yang menunjukkan jalan. Ini juga membuat Sasuke tertekan. Gadisnya bahkan tak repot-repot mengeluarkan suaranya.

"Uhm Sakura, apa kau marah padaku." Tanya Sasuke ragu-ragu. Dia mengernyitkan dahinya saat menerka tujuan mereka.

Sakura menoleh padanya, lalu tersenyum "bagaimana mungkin aku marah pada pacarku yang melakukan lamaran dengan cara paling spektakuler?"

Dan bagaimana mungkin Sasuke tersanjung atas pujian untuk hal yang tak dilakukannya. Sakura sedang menyindirnya! Bahkan senyum gadis itu terasa janggal.

"Sakura, maafku. Sebenarnya aku akan mengatakannya saat kita berkencan kemarin. Tapi aku lupa..." lesu Sasuke diakhir kalimat. Dia tak bisa menatap memelas pada Sakura karna sedang menyetir.

"Kenapa kau berkata hal seperti itu? Aku mengatakan yang sesungguhnya. Ku anggap semua berita itu adalah lamaranmu. Dalam bentuk yang tak biasa dan... cukup kurang ajar." Sakura menggoyangkan kepalanya seolah bicara yang sesungguhnya. Sasuke jadi ragu. Bagus jika Sakura benar-benar menganggapnya seperti itu. Tapi jika itu hanya sarkasme, Sasuke dalam masalah serius.

Sasuke menghentikan mobilnya sesuai instruksi Sakura. Hanya saja dia merasa aneh saat menyadari tempat tujuan mereka adalah pemakaman. Mereka menghabiskan lebih dari satu jam perjalanan untuk pergi ke pemakaman. Seharusnya ini penting bagi Sakura.

"Kemarilah Sasuke-kun, aku akan mengenalkan pada seseorang." Sakura menggenggam tangannya, membawanya masuk ke area pemakaman.

"Seharusnya aku melakukan ini sejak lama. Tapi sejujurnya aku sendiri bahkan tak yakin akan berakhir denganmu, jadi tak pernah membawamu ke sini." Mendengar celoteh Sakura, Sasuke memiliki dugaan makam siapa yang akan mereka kunjungi. Dia sedikit kecewa mengetahui Sakura Bahkan tak yakin mereka akan sampai pada tahap pernikahan. Tapi Sasuke mengerti. Keluarganya terlalu mementingkan status yang membuat Sakura pesimis. Disaat seperti ini Sasuke bersyukur Sakura tak meninggalkannya meski memiliki rasa pesimis itu.

Dan Sasuke benar saat melihat nama yang tertera di batu nisan. Haruno Tayuya. Dia hampir melupakan nama ini.

Sakura berjongkok disamping makam. Dengan hati-hati dia mengeluarkan sesuatu yang dibawanya dalam paper bag. Itu sebuah bunga dengan pot mini. Bunga imitasi karya Sakura.

Gadis itu mengambil pot bunga yang ada disitu dan memasukkannya ke dalam paperbag lalu menggantinya dengan bunga yang dia bawa.

Melihat bunga yang dimasukkan dalam paperbag, Sasuke pikir Sakura setidaknya ketempat ini seminggu sekali untuk menukarnya. Jika tidak, pasti kerusakan bunga daur ulang itu lebih parah.

"Aku memang memiliki pemikiran agak aneh. Jadi jangan terlalu memikirkan ini." Ucap Sakura merujuk pada bunga yang dibawanya.

"Hn." Sasuke mengangguk.

"Nee-san, lihat, aku membawa seseorang yang... aku sukai. Dia melakukan hal yang cukup mengejutkan. Kau tahu, dia memutuskan akan menikahi ku tanpa lamaran terlebih dulu. Bukankah dia kurang ajar?"

Mendengar itu, mau tak mau wajah Sasuke menjadi pias karna rasa bersalah. Tapi dia sangat menahan diri agar tak menyela ucapan Sakura pada kakaknya.

"Nee-san tahu, dia adalah adik dari pria itu. Pria yang membuat nee-san meninggalkanku sendirian didunia. Tapi nee-san, aku sangat mencintainya. Aku harap nee-san tidak keberatan. Aku merindukan nee-san." Sakura mengusap air disudut matanya.

Sasuke ikut berjongkok. Dengan lembut dia mencium pelipis gadisnya. Dia tak bisa bicara dengan makam, namun dia bisa berjanji pada Tayuya jika dia akan menjaga Sakura. Sampai mereka tak memiliki waktu untuk tetap hidup di dunia.

Melihat Sakura rutin mengunjungi dan kemungkinan bicara dengan Tayuya. Sasuke merasa dia bukanlah adik yang baik. Dalam enam tahun, Sasuke hanya mengunjungi makam kakaknya itu enam kali. Tepat saat ulang tahun pria yang sepuluh tahun lebih tua darinya itu. Di sana, Sasuke meletakkan setangkai bunga lalu hanya diam menatap makam. Berusaha membayangkan kenangannya dengan Itachi. Mencari hal baik yang mereka miliki. Namun gagal. Ternyata mereka memang bukan adik kakak pada umumnya. Mereka tidak pernah bermain bersama. Disaat Sasuke mulai bisa bermain, Itachi sudah sibuk dengan teman sekolahnya, dengan segala jenis lesnya, dengan segala tuntutan tuan besar Fugaku. Hingga akhirnya Sasuke hanya tau jika Itachi adalah kakaknya tanpa merasakan kehadiran seorang kakak.

Mereka melangkah santai meninggalkan makam dengan tangan yang saling bertautan.

"Aku serius saat mengatakan menganggap berita di tv sebagai lamaranmu." Ucap Sakura. Senyum manis terukir di bibirnya meski tak menoleh untuk menatap kekasihnya.

"Terima kasih." Sasuke ingin menangis melihat betapa Sakura selalu menoleransi kesalahannya. Sakura selalu melihat kesalahannya dengan sudut pandang berbeda. Dia bukan gadis yang merepotkan.

Sasuke tidak langsung mengantar Sakura pulang. Dia justru membawa gadis itu ke butik langganannya.

Sebenarnya Sasuke sudah memesan gaun pengantin yang dia pikir cocok untuk Sakura. Untuk ukuran, Sasuke memiliki gambaran dan niatnya akan membujuk Sakura untuk mencoba. Siapa yang tahu segalanya akan lebih mudah dari yang dipikirkan.

Sakura dengan sangat patuh mencoba gaun untuknya. Gadis itu bahkan tidak repot-repot melihat-lihat gaun lainnya. Dia benar-benar berpikiran terbuka. Sasuke senang.

Dei -perancangnya- bilang hanya butuh beberapa perbaikan untuk membuat gaun Sakura sempurna.

Dua hari menjelang hari pernikahan, Sasuke diundang ke apartemen Shikamaru. Entah kenapa firasatnya tidak enak. Tapi satu-satunya yang bisa dipikirkannya adalah Shikamaru membuat pesta bujangan untuknya.

Sasuke memencet bel. Tidak butuh dua kali pencet, seseorang membukakan pintu untuknya. Dia seorang pria paruh baya.

"Kau pasti Sasuke Uchiha?" Sasuke mengangguk mendengar pertanyaan itu. "Kami sudah menunggumu. Ayo masuk, makan malam segera dimulai." Pria itu dengan ramah membawa Sasuke menuju ruang makan.

Sudah ada Shikamaru, Gaara, dan Kankuro yang menunggu mereka. Pria paruh baya itu mempersilahkan Sasuke duduk. Sasuke melirik Shikamaru, yang dilirik hanya mengacuhkannya.

"Karna Sasuke sudah datang, kita bisa memulai makan malam. Apakah kau tidak masalah berbicara dimeja makan?" Kalimat terakhir ditujukan paa Sasuke.

"Aku tidak masalah." Sahut Sasuke kalem. Keluarganya hanya memiliki kesempatan bertemu dimeja makan, tentu saja Sasuke akan terbiasa bicara di meja makan.

"Bagus." Pria itu membuat gestur agar semuanya memulai makan mereka. "Namaku Sabaku Rasa, Paman dari Sakura. Aku tahu seharusnya aku mengundangmu ke rumah kami, tapi sayangnya itu akan sangat menyita waktumu."

"Tidak begitu. Aku tentu akan meluangkan waktu jika tuan Sabaku mengundangku." Sahut Sasuke. Dia tidak sadar jika tiga pria lainnya mencibir sikap sok menurutnya. Sedangkan Sabaku Rasa terkekeh pelan.

"Jangan sok jadi anak baik. Kau bahkan tidak menemui ayahku sebelum memutuskan menikahi Sakura." Cibir Gaara.

"Entahlah, aku merasa seperti adikku dirampok." Tambah Kakuro.

Sasuke merasa terpojok. Dia melirik Shimaru yang masih acuh tak acuh. Yeah pria itu tak akan bergerak jika tak ada hubungannya dengan Temari dan Shikadai. Ngomong-ngomong kemana ibu dan anak itu?

"Jangan begitu. Tugas kita hanya memastikan Sakura bahagia. Selebihnya jangan terlalu berharap." Sepertinya ucapan Sabaku Rasa mendamaikan. Namun kenyataannya pria itu justru semakin memojokkan Sasuke.

"Tidak seperti itu, hanya saja terlalu banyak hal untuk dilakukan..."

"Dan kau melupakan kami." Potong Kankuro. Sasuke tidak bisa tidak mendesah, dia sungguh tidak bermaksud seperti itu. Ini benar-benar banyak hal yang dilakukannya akhir-akhir ini. Pada Sakura saja Sasuke terlambat memberi tahu, apa lagi pada yang lainnya.

Lagi, Sasuke mendesah. Dia merasa sangat buruk. Dia pikir persiapannya sudah cukup baik, kenyataanya masih banyak detil yang terlupakan.

"Aku sungguh meminta maaf untuk kesalahanku. Dan aku mohon, kalian mengizinkanku untuk menikahi Sakura." Ucap Sasuke sungguh-sungguh.

Sabaku Rasa tertawa ringan. Dia mengulurkan tangannya menepuk bahu Sasuke. "Itu bagus. Setidaknya kau menikahi Sakura lebih dulu sebelum membuatnya melahirkan."

Ucapan Sabaku Rasa membuat Shikamaru tersedak makanannya. Sementara dua saudaranya mendengus menahan tawa mengejek. Sasuke sangat bersimpati melihat Shikamaru menepuk-nepuk dadanya dengan ekspresi tersiksa tapi tidak berani memberi bantuan apapun. Dia sedang dalam rangka menjilat keluarga Sakura!

Selesai makan malam, Sabaku Rasa dan dua anaknya memilih pergi ke rumah Sakura. Ternyata istrinya, Temari juga Shikadai ada di sana.

"Jadi, kapan kau akan menikahi Temari? Keluarganya tak akan selalu menyukaimu jika kau terus-terusan tanpa status." Gumam Sasuke.

Saat ini mereka berdiri di balkon. Menatap kelap-kelip lampu perkotaan dengan segelas anggur di tangan.

"Hhhhh! Kau membuatku terpojok." Keluh Shikamaru yang membuat Sasuke terkekeh.

"Kau juga sengaja mengundangku tanpa memberitahu jika mereka di sini." Tuduh Sasuke.

"Jangan menyalahkan ku. Aku dibawah tekanan." Shikamaru membela diri.

Akhirnya mereka berdua tertawa. Siapa yang menyangka jika mereka akan menjadi keluarga.

"Sebaiknya kau cepat menikahi Temari."

"Kenapa? Kau tak sabar ingin menjadi saudaraku?"

"Menjijikkan!" Sasuke meninju lengan Shikamaru sementara yang ditinju terkekeh.

Bel berbunyi menginterupsi obrolan mereka. Shikamaru tersenyum lebar dan bergegas membuka pintu.

Yang datang Sai dan Naruto. Lengkap dengan sekantong besar camilan dan sekrat minuman beralkohol. Sepertinya mereka benar-benar akan berpesta.

Mereka duduk berkumpul di ruang tengah. Bicara tak tentu arah sembari meneguk minuman. Apartemen yang tadinya tenang berubah menjadi berisik oleh suara musik dan tawa serta celoteh. Terutama suara Naruto.

"Kau brengsek! Aku yang mengabari kalian lebih dulu jika aku mau menikah, kenapa kau yang jadi menikah duluan!" Raung Naruto tak terima. Wajahnya merah padam karna mabuk. Tangannya sibuk menunjuk-nunjuk Sasuke dengan ganas.

"Pria bajingan ini membuatku dibenci mertuaku!" Kali ini Shikamaru yang mengumpat.

Sedangkan Sai dipojok ruangan sudah menurunkan risletinganya, menggenggam juniornya dan mendesah memanggil-manggil nama kekasihnya. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu betapa panasnya cara mereka berpacaran.

Sasuke sendiri menyandarkan kepalanya dimeja dan tidur nyenyak. Mengingat kemarin malam dia sama sekali tidak tidur, itu akan jadi hal wajar.

Jadi diruangan itu terisi suara kencang musik, dua orang yang tak berhenti mengumpat dan mengeluh sembari menghabiskan sekrat minuman, satu orang yang bermasturbasi dan seorang yang tidur nyenyak tak terganggu dengan segala kebisingan.

.

.

.

.

Keyikarus

3 Januari 2018

.

.

Up selanjutnya

7 Januari 2018