Chankai Stories

Chankai's Story

(Chanyeol X Jongin as Kai)

Author : Jihyunk16

Warning!

Boys Love! Crack pair! Typo

Don't Like Don't Read, thankyou!

.

.

.

Gue baru sadar bahwa fict ini terhapus. Sebenernya gue heran, kenapa ini past selalu kehapus. Apa ini tanda-tanda supaya gue berhenti? wkwk /ditoyor

.

.

.

Happy Reading!

.

.

"Chan,"

"Hah?"

"Kenapa sih kau biasa saja, waktu aku bilang si cerewet itu sudah punya pacar?"

Chanyeol terdiam sebentar, pisau buah yang tadinya ia gunakan memotong apel ia gunakan untuk menggaruk kepalanya, ewh. "Entahlah, kenapa kau mendadak menanyakan itu sih? Sudahlah, lebih baik kau pikirkan dulu suhu badanmu yang tak kunjung turun," saat ia akan memotong apel lagi jongin menggigit tangannya yang membuatnya menjerit layaknya gadis perawan. "Sialan, apa yang sebenarnya kau lakukan!!?"

"Tolong waraslah sedikit, bagaimana bisa kau menggunakan pisau yang sudah terkontaminasi oleh ketombemu?" ujarnya dengan malas, "Sana, ambil pisau buah yang baru, aku tak ingin mati karena ketombe busuk mu."

Dengan wajah masam Chanyeol bangun dari duduknya, "Si sialan ini berani-beraninya, asal kau tahu saja ya, hitam. Rambutku ini seratus persen bersih dari segala macam kuman dan sekawannya. Karena apa? Aku bahkan mencuci rambutku nyaris sepuluh kali dalam seminggu!!" Sungutnya sebal.

"Wah, hebat sekali rambutmu, karena setahuku tidak bagus mencuci rambut terlalu sering apalagi sepuluh kali dalam seminggu. Luar biasa," ejeknya.

"Pokoknya aku ngambek sekarang! Aku nggak mau bicara denganmu lagi!"

Jongin hanya memutar matanya saja mendengarkan perkataan Chanyeol itu, tolong jelaskan padanya kapan si tiang itu pernah bertingkah secara normal? Bahkan ibunya sendiri mengakui jika anaknya sepertinya mengalami putusnya saraf kejiwaan dikarenakan tingkahnya yang semakin menjadi.

Err, ada yang bisa mengingatkan Jongin bahwa dia bahkan tak lebih waras dari Park Chanyeol.

Tak berapa lama Chanyeol datang dengan pisau daging ditangannya, tidak begitu besar tapi nyaris membuat Jongin kehilangan napas untuk beberapa detik, "Tiang, aku tahu kau sudah sangat frustasi tapi tolong jangan bunuh diri di depan mataku dan terlebih lagi di dalam kamarku!" Omelnya.

Mendengar Jongin yang terus mengomel membuatnya geram, kenapa hari ini ia merasa selalu salah dimata si hitam, sih? Seperti lagu saja, serba salah! "Dengar, Jongin yang terhormat, tidak ada lagi pisau di dapurmu. Aku heran, dari sekian banyaknya koleksi pisau ibumu kenapa tinggal pisau ini saja yang tersedia? Jangan-jangan kau dan kakakmu itu hobi memakan pisau ya?" asalnya sambil memotong kembali apel yang sempat dianggurin tersebut. ngomong-ngomong, ternyata menggunakan pisau tersebut lebih cepat, hehe.

Setelah selesai memotong apel tersebut ia memberikan sepotong kecil pada Jongin yang langsung ditolak dengan tepisan pelan, yang membuat Chanyeol berdecih dan memilih memasukkan sepotong apel ke dalam mulutnya. Dasar, buah seenak ini tak mau, kampungan!, ejeknya dalam hati. Mana berani ia mengungkapkannya langsung, bisa besok ia tak melihat matahari terbit lagi.

Awalnya semua berjalan baik-baik saja, Chanyeol kini sibuk mengupas apel ketiganya mendadak berhenti ketika mendengar Jongin yang batuk keras berulang-ulang.

"Kenapa tiba-tiba batuk seperti ini?" tanya Chanyeol curiga.

Tangannya perlahan menyentuh kening dan leher Jongin, dan benar saja suhu tubuhnya sepertinya naik, "Jongin, maafkan aku telah menakutimu menggunakan pisau daging tapi tolong jangan mati disaat bersamaku, aku tak ingin digantung oleh ibumu."

Jongin yang mendengar itu hanya mendengus pelan sambil diiringi batuk kecil. "Lagian kau ini kenapa sih, sudah bagus rawat inap di rumah sakit malah minta pulang ke rumah. Seperti mempercepat tenda kuning di depan rumah saja," omelnya sambil berlalu ke dapur.

Kembalinya ke kamar, Chanyeol langsung mengompres dahi Jongin dengan handuk kecil sambil terus mengomel tentang segala hal yang terkadang di sela Jongin dengan tamparan lemah di bibir Chanyeol.

"Akan ku panggilkan Kris dulu, dia yang lebih tahu harus melakukan apa terhadap kau yang pembangkang ini."

.

.

.

.

.

"Coba katakan sesuatu," bujuk Kris pada Jongin.

Jongin mencoba bersuara namun hasilnya suaranya seperti gerbang yang tak diberi minyak bertahun-tahun, jelek sekali. Sementara Chanyeol tiduran disamping Jongin sambil memakan apel yang ia lupakan sejenak, sungguh perhatian sekali ya, Park Chanyeol ini.

"Coba makan ini," bujuk Chanyeol sambil memberikan potongan kecil apel ke arah bibir Jongin.

Kris yang gemas langsung menjambak rambut Chanyeol dengan kuat. "Arrgghh, Hyunggg!! Sakittt!!!! WOIII!!" teriak Chanyeol kesakitan, "Lagian itu semua salah Jongin, dia terus saja mengomel terus tanpa berhenti. Lihat sekarang, untuk bersuara saja ia tidak bisa," adunya kesal.

Sementara Jongin hanya dapat tertawa kecil, itu pun langsung terbatuk keras. Sepertinya ia memang harus bertaubat dan menjadi malaikat selama sakit. Padahal seru sekali jika ia dapat tertawa jahat, kapan lagi melihat Chanyeol di siksa Kris-nya tersayang.

"Untuk hari ini kondisikan kegilaanmu, aku tak ingin mati hari ini ditangan ibuku karena kondisi Jongin yang memburuk. Bersikap normal atau enyahlah kau ke rumahmu!!" setelah mengatakan itu Kris langsung pergi dari kamar Jongin sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Selepas Kris pergi, Chanyeol langsung memandangi Jongin yang kini mencoba untuk tidur. Demam membuatnya cepat lelah, ia jadi tak tega mengganggu anak ini lagi. Jadi, dengan perlahan ia membetulkan letak selimut Jongin dan pergi dengan damai dari kamar Jongin.

Sleep Well, Jongin.

.

.

.

.

.

Di malam harinya Chanyeol kembali datang dengan senyum yang begitu cerah, sampai-sampai Ibu Kim merasa matahari sembunyi di dalam rumahnya. Senyum yang sungguh bersinar.

"Bibi, dimana Jongin? Aku ingin menjenguknya," ujarnya semangat.

Dengan raut bingung, Ibu Kim hanya menunjuk ke lantai atas tempat dimana Jongin tidur.

Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Chanyeol langsung masuk ke dalam kamar tersebut dan membanting tubuhnya ke atas kasur Jongin. Untung saja bocah yang sedang tertidur tersebut tidak terlempar ke lantai.

Chanyeol menatap wajah Jongin yang masih terlihat pulas meski badai sekalipun datang. "Hey, babe, wake up!" bisik Chanyeol di telinga Jongin.

Suatu keajaiban melihat mata Jongin terbuka perlahan dengan sayunya. Ia menatap Chanyeol yang kini tersenyum lembut sambil membelai wajah mengantuknya. "Kau datang," bisiknya.

Badannya terasa sangat sakit, padahal Jongin yakin ia demam bukan habis tertabrak mobil, tapi rasanya tubuhnya seperti remuk.

"Kenapa?" tanya Chanyeol mendengar Jongin meringis sambil memegang punggungnya.

"Badanku sakit sekali."

Dengan perlahan, Chanyeol mengusap punggung tersebut sambil sesekali menepuknya pelan. Bukannya tenang, Jongin malah meringis karena demi apapun tenaga Chanyeol itu tidak main-main! Padahal sepertinya ia tidak melakukannya dengan kuat.

"Jangan dipukul!!" teriak Jongin.

Bukannya merasa bersalah, Chanyeol tertawa gila, membuat Jongin memukul lemah dada Chanyeol yang masih terbahak-bahak. Tolong katakan, dimana letak kelucuan dari kata-katanya?

"Oh sayang, kau ini kenapa semakin manis sih? Tadi siang kau kehilangan suaramu, sekarang kau menjerit seperti akan diperkosa," ujar Chanyeol di selingi tawa kecil.

Tubuh Chanyeol menyender ke kepala tempat tidur, tangan besarnya menarik tubuh Jongin untuk disandarkan ke perutnya. Ughh, too romantic!

Sementara Jongin tampak menikmati pelukan dari sang giant tersebut, bahkan tangannya mulai melingkari tubuh Chanyeol, dan kaki mereka saling tindih seolah mencari kehangatan.

"Yeol."

"Hmm?"

"Forgive me," gumamnya. Suara Jongin sedikit serak seperti ingin menangis membuat Chanyeol menatap ke arah Jongin yang kini menenggelamkan wajahnya ke perutnya.

"Menyerah, uh?"

Tangannya dengan lembut mengelus pelan rambut Jongin yang sedikit berantakan membuat Jongin mengangkat wajahnya. Dengan ragu, ia letakkan kepalanya di dada Chanyeol, merasakan detak jantung yang entah kenapa begitu menenangkannya.

"Suhu tubuhmu masih tinggi, lebih baik segera tidur. Aku tak mau lagi mendengar kau pingsan karena sakit mu, lebih baik langsung mati saja, jadi tak merepotkan banyak orang," ujarnya asal sambil memeluk kepala Jongin dengan erat yang membuat pemilik kepala meronta kehabisan napas.

"Fuck,Chanyeol! Kau nyaris membuat hidung ku menolak untuk bernapas lagi!" tangannya dengan cepat menarik rambut Chanyeol, benar-benar geram.

Chanyeol hanya dapat tertawa, meski rasanya kulit kepalanya rasanya akan lepas dari tempatnya. Tangannya mencoba menarik tubuh Jongin untuk lebih dekat lagi.

Tangan yang tadinya menjambak rambut Chanyeol kini berpindah memegang kedua pundak pria tersebut karena Chanyeol mencoba mengangkat dan mendudukannya di perutnya. "Apa-apaan ini," ujarnya jengkel.

"Kau tak suka?" Chanyeol menaik turunkan alisnya, menggoda Jongin yang kini seperti ingin menerkamnya.

"Tolonglah, sialan. Jangan membuatku bernafsu untuk menendangmu."

Mungkin ini hanya perasaan Jongin saja, jika wajah mereka kian mendekat.

"Jangan coba-coba untuk menciumku," ancamnya.

"Tidak mau?"

Si sialan ini makan apa sih sampai suaranya bisa seseksi ini?!

"Ti-tidak!"

"Yakin?" goda Chanyeol sambil mengelus pinggang Jongin. Dasar mesum!

"Park, please?"

"Baiklah, baiklah. Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu."

"Yeol," Jongin menarik kerah sweater Chanyeol seolah memintanya untuk memberinya perhatian

"Hmm?"

"Kau serius ingin pendekatan dengan Baekhyun si cerewet itu?"

"Menurutmu bagaimana? Aku serius tidak ingin melakukan pendekatan dengannya?"

Si gila iniii, pikirnya. Tanpa sadar bibirnya manyun karena tidak mendapatkan jawaban.

"Sudahlah, lebih kau tidur sekarang."

"Chanyeol!" bentaknya pelan, nadanya seperti merengek yang membuat Chanyeol terkekeh.

"Kan aku tanya, menurutmu bagaimana?" bisiknya sambil melumat daun telinga Jongin.

Shit, Jongin paling tidak bisa telinganya disentuh seperti ini.

"Tolong seriuslah sedikit," desahnya dengan memejamkan mata seolah menahan sesuatu.

Chanyeol melepas lumatannya dan kini hanya mengecupnya perlahan "Tidak, kalau itu yang mau kau dengar."

Jongin kemudian duduk di atas perut Chanyeol membuat pria tersebut mengerang, karena acara kecup mengecupnya terganggu. "Besok, jangan pergi sebelum aku bangun. Mari kita adakan rapat meja hijau!" ucapnya bersemangat.

"Stupid, besok aku sekolah," ujar Chanyeol, kini ia terlihat mencoba melepaskan baju Jongin yang langsung di tepis kasar oleh Jongin. Ia tidak hilang akal, menarik Jongin agar tidur di tubuhnya kembali dan mencoba membukanya.

"Pokoknya harus," desaknya keras kepala, tangannya memegang lengan Chanyeol yang terus berusaha keras.

"Pulang sekolah, tak ada bantahan! Sekarang ayo tidur, harus berapa ratus kali aku harus mengulang kata-kata ini? Lihat, matamu bahkan sudah memerah," akhirnya Chanyeol menyerah untuk membuka baju tersebut dan memilih untuk memeluk Jongin.

Jongin hanya berdecak kesal mendengarnya, kepalanya ia sandarkan ke pundak Chanyeol mencoba untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur.

Well, sleep well devils.

.

.

.

TBC

.

.

Chapt depan bakal dijelasin tentang mereka, huehehe. Sorry for wait too long!!