Title : [애별리(Love, Separate, Leave)] Chapter 3 – Arsip Registrasi
Genre : Saeguk, Shounen-ai
Rating : T
Length : Chaptered with 3.731 words
Author : leenahanwoo
Pairing: Kid x Law
Cast : Eustass Kid, Trafalgar Law and OC
Warning : SHO-AI Content ! Don't like don't read ! OOC-ness is everywhere !
Disclaimer : All One Piece casts are Eiichiro Oda-sama's. This story and OC are mine.
NOTE: TELAH HADIR CHAT GRUP ANIME + K-POP FANDOM. Bagi yang memiliki akun LINE, silakan add saya dengan ID leenahanwoo, dan nanti akan saya invite ke chat grup ini ^^ Mari kita lestarikan fandom Anime dan KPOP di bumi pertiwi Indonesia ‼!
Glossary
Manggeon: Ikat kepala yang digunakan di bawah topi untuk mencegah helaian rambut keluar dari ikatan rambut sangtu.
Chi: 1 chi = sekitar 3 cm
Jungin: Kalangan masyarakat kelas menengah. Mengacu pada orang-orang yang kehilangan status yangban, atau orang-orang kalangan bawah yang berhasil mendapatkan kedudukan lebih tinggi secara sosial maupun ekonomi, sehingga status mereka tak lagi dapat disamaratakan dengan sangmin, namun juga tak sama tinggi dengan kalangan yangban.
Sangmin: Kalangan masyarakat biasa pada dinasti Joseon. Terdiri dari para petani, pekerja perkebunan, pedagang, tukang ahli, dan beberapa pekerja lainnya. Di dalam masyarakat, mereka dianggap sebagai 'pekerja bersih', karena mereka tidak dimiliki oleh siapa pun (termasuk golongan merdeka).
Huijeongdang: Awalnya merupakan tempat tinggal pribadi raja, bangunan ini kemudian diubah menjadi tempat kerja pribadi.
Sanggung: Pelayan istana senior peringkat 5
Gisa Hwaguk: Peristiwa diturunkankan Ratu Inhyeon dan Faksi Barat dikarenakan Faksi Barat yang menentang keras pengangkatan Pangerang Hwiseo menjadi Putra Mahkota Joseon
Musuri: Budak wanita yang bekerja melakukan pekerjaan kasar, seperti menimba air sumur dan membagikan kayu bakar untuk kamar-kamar di dalam kediaman istana.
Jimil sanggung: Sanggung yang bertanggung jawab dalam melayani raja, ratu, ibu suri, dan selir kerajaan, serta hanya boleh menerima perintah dari orang yang mereka layani.
Nain: Pelayan istana
Daejeoejon:Kediaman Ratu Joseon
Aula Injeongjeon: Aula di Istana Changdeokgung, yang digunakan untuk urusan kenegaraan besar, termasuk penobatan raja baru dan menjamu utusan dari kerajaan tetangga.
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Sesuai janjinya pada Kepala Pengawal Seo, Kid memulangkan Law ke Biro Musik Kerajaan dengan ekstra hati-hati. Pengawal itu melalui jalan yang jarang dilewati budak dan pengawal kerajaan. Selasar yang menghubungkan Rumah Sakit Kerajaan dan Istana Dalam memiliki beberapa cabang, salah satunya menuju ke Dapur Kerajaan dan Biro Musik, yang sebagian besar areanya berada di luar dinding istana. Jalur ini amat jarang dilalui orang, sehingga menjadi jalan yang paling aman untuk dilewati tanpa menimbulkan kecurigaan. Dalam diam, dia berjalan menyusuri selasar yang lengang. Law, si budak bermata keperakan, mengikuti dari belakang tanpa menundukkan kepala sama sekali. Kepalanya tegak, dengan mata menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.
Law menatap pengawal kerajaan di hadapannya lekat-lekat. Ketika mereka keluar dari kantor Pengawal Kerajaan, tebakannya terbukti benar bahwa Kid memiliki iris mata yang berbeda dari orang kebanyakan. Warna matanya cokelat keemasan, menyerupai batu amber yang amat cantik. Law mengakui bahwa dia cukup terpesona melihat mata pengawal itu; sangat berbeda dengan matanya keperakannya yang kusam dan membosankan. Kulitnya juga putih sekali, boleh dikatakan sangat pucat. Tentu itu bukanlah warna kulit pada umumnya. Bahkan para bangsawan pun tak memiliki kulit sepucat itu. Dua hal itu saja sudah cukup membuat Law menyimpulkan bahwa Kid mirip seperti dirinya, yang memiliki darah campuran. Sayang sekali manggeon yang dia pakai cukup lebar, hingga Law tak bisa melihat warna rambutnya. Ibunya dahulu berkata bahwa Law jauh lebih beruntung karena hanya warna matanya saja yang berbeda. Banyak dari anak-anak yang lahir akibat kerusuhan kunjungan Kekaisaran Cina di tahun 1772 merupakan darah campuran, dengan rambut selain warna hitam, dan mata selain warna cokelat kehitaman. Dan keadaan mereka yang dikucilkan oleh semua orang jauh lebih buruk dari apa yang pernah dia terima. Apakah itu berarti … Kid juga merupakan korban dari kerusuhan itu?
Pikirannya terus berspekulasi, sementara mata Law mulai memperhatikan keseluruhan perawakan Kid. Sebagaimana pengawal kerajaan lainnya, dia berjalan dengan postur tubuh yang tegap, menggerakkan bahunya yang bidang dengan leluasa namun elegan. Dia juga sangat tinggi. Padahal Law termasuk budak yang paling tinggi di Biro Musik, dan pengawal itu masih lebih tinggi 5 chi darinya – dan tanpa sadar Law merengut sebal karena ada yang mampu menyaingi tinggi badannya. Sebilah pedang tersampir di pinggul kirinya, tampak gagah dengan gugunbok merah marun dan jeonrip berwarna senada. Lagi-lagi, Law merasa Kid memiliki aura yang berbeda dari pengawal kerajaan lain yang pernah dia lihat sebelumnya. Bukan berarti Law seringkali melirik-lirik pengawal lain. Kadang kala dia harus pergi keluar istana untuk melaksanakan tugas dari Pengawas Hwang, dan di saat itulah dia dapat melihat para pengawal kerajaan yang selalu berkeliling dan menjaga istana dengan ketat. Dan Kid, si pengawal kerajaan bermata amber, memiliki perbedaan yang terlalu kentara. Bukan hanya perbedaan ras, tapi ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tak dapat dia jelaskan karena hanya berdasarkan insting, bukan logika dan jawaban absolut.
Tiba-tiba saja Kid membalikkan badannya, membuat Law terkejut dan mengalihkan pandang. Apa dia tahu bahwa Law memerhatikannya sedari tadi?
"Hei, namamu Law, bukan?" Sebuah pertanyaan yang meluncur tanpa basa-basi.
"Y-ya." Membuat Law bingung untuk menjawabnya.
"Kau mau mengajariku bahasa Cina?"
"Mengajarimu?"
"Ya. Kalau saja kau melihatnya tadi, Kepala Pengawal Seo tampaknya sangat kagum dengan kemampuanmu yang bisa menangkap percakapan dalam bahasa Cina dan menerjemahkannya dengan fasih. Ayolah, ajari aku. Aku juga ingin pandai sepertimu dan membuat Kepala Pengawal kagum padaku." Kid berbicara dengan nada kekanakan, seolah-olah sedang berbicara dengan teman lama, padahal dua pertemuan mereka sebelumnya hanyalah kebetulan semata.
Law mengerutkan dahi. "Mempelajari bahasa lain itu sulit, dan butuh waktu yang lama. Aku juga tak tahu bagaimana aku harus mengajarimu. Lagipula, aku hanya seorang budak yang …"
"Jangan berkata karena kau seorang budak, lalu kau tidak berhak mengajariku." Dengan cepat dia memotong perkataan Law, membuat pemuda itu mengerucutkan bibir sebal. "Aku akan belajar padamu mulai dari sekarang."
"Kau selalu memutuskan seenaknya dan membuatku dalam masalah." Mata keperakan itu memutar bosan terhadap kelakukan pengawal kerajaan di hadapannya ini.
"Eh? Kapan aku berbuat seperti itu?"
"Tentu saja pada saat kau menyeretku ke kantor Pengawal Kerajaan," cecar Law. "Kau pikir bagaimana sekarang aku harus menghadapi Pengawas Hwang? Dia pasti akan memarahiku karena menghilang tiba-tiba."
Mendengar hal itu, Kid tertawa kecil. "Kau tenang saja. Aku yang akan menjelaskan pada pengawas kerdil itu."
Dan muka Law berubah lebih masam.
…
Wajah Pengawas Hwang tidak tampak menyiratkan kemarahan ketika Kid berbicara empat mata dengannya. Law memerhatikan mereka dari kejauhan, dari paviliun tempat para budak beristirahat. Mereka semua sedang membersihkan alat-alat musik yang baru saja dipakai pada pertunjukan yang ditampilkan di Mohwagwan, sementara Law membantu merapikan kertas-kertas berisi not lagu, dengan mata mengawasi ke arah Pengawas Hwang dan Kid yang masih berbicara dengan serius. Kentara sekali, pengawas bertubuh pendek itu tersenyum terus-menerus, seakan sedang mencari perhatian. Dan Law memiringkan kepala sambil mengernyitkan dahi, merasa heran dengan sikap si pengawas yang tampak seperti penjilat ulung. Setelah Kid meninggalkan area Biro Musik, wajah pengawas itu berubah garang ketika dia menoleh ke arah Law, dan membuat pemuda itu terbelalak. Aku pasti akan dimarahi, pikirnya.
"Law!" teriaknya gusar.
Menghela napas pasrah, Law beranjak turun dari paviliun dan bersiap menerima ocehan sang pengawas. Namun bukannya mendapat pukulan di kepala, Pengawas Hwang malah menarik tangannya, menjauh area paviliun agar pembicaraan mereka tidak didengar orang lain. Pemuda itu tak mampu membaca raut wajah si pengawas, yang menunjukkan ekspresi kaget, cemas, dan senang yang entah bagaimana terpancar dari matanya.
"N-naeuri, ada apa?"
"Kau … bagaimana kau bisa mengenal pengawal itu?"
Sebelum sampai di area Biro Musik, Kid mengatakan padanya untuk tidak berbicara apa pun soal dirinya yang pergi ke kantor Pengawal Kerajaan dan pembicaraan yang dia dengar di Mohwagwan. Jadi Law memberikan penjelasan sesuai dengan apa yang pengawal itu telah persiapkan sebelum mereka tiba di area Biro Musik.
"Saya tidak mengenalnya. Saya tersesat setelah mengantarkan Geum ke kamar Jin daegam. Ketika saya sudah berhasil menemukan tempat kita berkumpul sebelumnya, ternyata rombongan dari Biro Musik telah pulang. Pengawal kerajaan itu berbaik hati menolong dan mengantar saya pulang ke istana." Penjelasan penuh kebohongan mengalir lancar dari bibir Law, beserta dengusan dalam hati ketika harus berkata bahwa Kid 'berbaik hati menolong dirinya yang tersesat'.
"Kau yakin belum pernah mengenal pengawal itu sebelumnya?" tanyanya lagi.
Law menggelengkan kepala. Tentu Pengawas Hwang juga tidak perlu tahu bahwa Kid pernah memergokinya sedang bermain haegeum di pagi buta. "Naeuri, sebenarnya ada apa? Apakah ada yang salah?"
"Tentu saja ada, bocah." Dia menjitak kepala pemuda itu. "Kau pasti tidak tahu siapa dia. Ya, walaupun yang kudengar hanya desas-desus, tapi aku yakin sekali bahwa dia orangnya. Tidak salah lagi. Mataku tidak pernah salah menilai orang."
Pemuda bermata keperakan itu mengernyit dahi, bukan hanya karena sakit yang dia rasakan setelah mendapat jitakan di kepalanya, namun juga karena kebingungan bagaimana harus menanggapi. Terkadang dia tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh pengawas Hwang. Pria paruh baya bertubuh pendek itu memang termasuk para pengawas yang selalu ingin tahu kabar terkini di lingkungan istana, dan selalu memperoleh berita yang ingin dia dengar. Entah itu kabar baik, buruk, kabar burung atau hanya ucapan segelintir para pelayan yang senang bergunjing, dia pasti mengetahuinya. Law sebetulnya bukanlah orang yang suka mencampuri urusan orang lain, jadi dia tak banyak tahu mengenai desas-desus yang berembus di istana. Tapi jika menyangkut pengawal itu, dia pun jadi ingin tahu lebih banyak. Sedikit takut-takut dia bertanya, "Jadi, naeuri, siapa dia? Kukira dia hanya pengawal kerajaan biasa."
"Biasa? Tentu saja. Jika aku tak salah melihat tanda pengenalnya, dia hanya seorang pengawal kerajaan berpangkat rendah. Mungkin dia hanyalah seorang penjaga kantor Pengawal Kerajaan, atau mungkin juga penjaga gerbang. Tapi …," dia memberikan jeda pada perkataannya, lalu merendahkan lagi suaranya, seolah-olah apa yang akan dikatakannya adalah rahasia negara yang tak boleh dibocorkan pada sembarang orang, "… jika aku tidak salah menduga, aku rasa dia adalah salah satu pengawal pribadi Yang Mulia Raja."
Law membelalakkan mata kaget. "Tidak mungkin! Bukankah pengawal kerajaan yang mengawal Yang Mulia Raja tidak akan pernah meninggalkan raja dalam keadaan apa pun? Lagipula pengawal pribadi raja merupakan posisi yang cukup tinggi, dan kudengar mereka bahkan memakai gugunbok khusus."
Pengawas Hwang berdecak. "Yang kumaksud bukanlah pengawal pribadi yang selalu mengikuti raja ke mana pun dia pergi, tapi pengawal pribadi yang ditugaskan menjaga Yang Mulia Raja hanya jika sedang pergi dengan menyamar. Kau tahu bukan, bahwa Yang Mulia sering pergi dari istana dengan menyamar menjadi rakyat biasa?"
Law pernah mendengar cerita dari para budak senior mengenai hal ini, walaupun belum pernah terbukti kebenarannya. Menurut mereka, Raja Sukjong gemar sekali pergi ke luar istana dengan menyamar dan menyelinap di antara jungin dan sangmin untuk memantau keadaan rakyat secara langsung.
"Jadi para pengawal kerajaan pilihan Yang Mulia Raja itu benar-benar ada? Kukira hanya sekedar kabar burung."
"Tentu saja itu bukan kabar burung. Yang Mulia Raja memang sering pergi diam-diam keluar istana, dan pengawal kerajaan pilihan itu benar-benar ada. Salah seorang kerabatku yang anaknya adalah seorang penjaga gerbang istana membenarkan desas-desus ini. Dia juga mengatakan, pengawal kerajaan pilihan ini adalah pengawal kerajaan yang amat disukai oleh raja karena kekuatan dan ketangkasan mereka dalam bertarung melawan musuh."
"Dan Anda menduga bahwa pengawal itu adalah …."
Pengawas Hwang mengangguk dengan semangat. "Aku juga pernah mendengar, salah satu pengawal kerajaan yang paling disukai oleh Yang Mulia Raja saat ini ini adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan sangat tampan, berkulit pucat, dan kemampuan bertarungnya hebat sekali. Dan aku yakin betul kalau dia adalah pengawal tampan yang orang-orang katakan."
Law merenungkan perkataan Pengawas Hwang. Jika benar Kid adalah pengawal kerajaan seperti yang diduga oleh pengawas itu, tidak mustahil bahwa dia mengetahui berbagai rahasia negara, mengingat betapa dekatnya para pengawal kerajaan ini dengan Yang Mulia Raja Sukjong. Namun tetap saja, hal ini tak memberikan jawaban yang logis bagi tanda tanya besar di kepala pemuda itu. Apa yang membuat pengawal kerajaan itu berbeda?
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Huijeongdang berdiri megah di tengah bangunan lainnya di istana Changdeokgung. Dengan arsitektur megah dan pengawal kerajaan di setiap sudut menjadikannya tempat dengan penjagaan paling ketat di dalam lingkungan istana. Raja Sukjong senang menghabiskan waktu di tempat ini, melakukan pekerjaan rutinnya sebagai seorang Raja Joseon tanpa mendapat gangguan dari siapa pun yang tidak dia kehendaki. Kepala Pengawal Seo kadang merasa segan jika harus menemui sang raja di bilik kerja pribadinya, namun Raja Sukjong sendiri membantah dan mengatakan jika dia tak pernah keberatan didatangi oleh kepala pengawal kerajaan yang selalu dia kagumi kehebatannya. Sang kepala pengawal tak mampu menolak permintaan sang raja yang tulus.
Kepala Kasim Han segera masuk ke dalam bilik kerja sang raja ketika Kepala Pengawal Seo tiba di depan pintu Huijeongdang, melaporkan kedatangan yang tampaknya telah ditunggu sejak tadi. Menarik napas satu kali, kepala pengawal itu melangkah memasuki Huijeongdang setelah dipersilakan oleh sang kepala kasim. Benar saja, ketika ia memasuki bilik itu, Raja Sukjong telah bangkit dari meja kerja dan menyambutnya dengan hangat.
"Selamat datang, Kepala Pengawal Seo. Aku sudah menunggumu."
Menunduk satu kali, sang kepala pengawal memberikan tanda penghormatan kepada Raja Joseon ke-19 itu. "Ya, Yang Mulia Raja. Hamba ingin menyampaikan laporan atas tugas yang Anda berikan sebelum utusan Qing tiba di Doseong."
"Benarkah? Lalu bagaimana hasilnya? Apakah memang ada yang mencurigakan?"
Sang raja tampak selalu bersemangat ketika Kepala Pengawal Seo datang dan memberikannya laporan yang diinginkan. Namun kali ini situasinya berbeda. Apa yang akan dia laporkan menyangkut nama kakak kandung dari Ratu Joseon, sementara Yang Mulia Ratu Jang adalah orang yang amat dikasihi oleh Yang Mulia Raja. Apakah hal ini baik untuk dilaporkan sekarang, ataukah harus menunggu hingga mereka mendapatkan bukti yang akurat? Bagaimana jika mereka berhasil mendapat Arsip Registrasi itu sebelum satuan pengawal kerajaan memperoleh bukti yang lebih konkrit? Lebih cepat menyampaikan laporan ini tentu lebih baik, tapi … apakah sang raja dapat menerima semuanya? Kepala pengawal kerajaan itu merasakan dilema di sepanjang perjalanan menuju Huijeongdang, tak mampu memutuskan tindakan apa yang paling tepat.
"Yang Mulia, hamba ragu apakah sebaiknya saya menyampaikan laporan ini atau tidak." Kepala Pengawal Seo mengucapkan perlahan dengan kehati-hatian. "Laporan ini tidak memiliki bukti konkrit, hanya berdasarkan pengamatan di lapangan beserta pernyataan dari seorang saksi mata. Jika di kemudian waktu apa yang akan saya sampaikan ini ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, saya bersedia mempertanggungjawabkan semuanya."
Raja Sukjong menatap kepala pengawal kerajaan kepercayaannya dengan sebuah tanda tanya besar yang tampak jelas di wajahnya. "Ada apa, Kepala Pengawal? Katakan saja, aku akan mendengarkan."
Sang kepala pengawal menyerahkan salinan laporan yang dibuat oleh Wakil Kepala Nam sebelumnya kepada Raja Sukjong. Mau tak mau, semua ini harus sampai ke tangan sang raja pada akhirnya. Apa pun yang akan terjadi, terjadilah, pikirnya.
Raja Joseon ke-19 itu pun mulai membaca laporan yang diserahkan oleh Kepala Pengawal Seo. Sembari membaca, sang kepala pengawal menjelaskan detailnya di sana-sini, termasuk apa yang diceritakan oleh si budak Biro Musik yang dibawa oleh Kid ke kantor Pengawal Kerajaan. Ketika menceritakan bagian terakhir ini, dia berbicara dengan amat hati-hati, sambil mengawasi perubahan raut wajah sang junjungan. Dia dapat melihat bagaimana tangan sang raja yang berbalut kulit putih khas bangsawan mengepal kuat dan bergetar halus. Tarikan napasnya pun dalam, agar amarahnya tak meledak seketika. Entah mengapa, Kepala Pengawal Seo telah terbiasa melihat ekspresi serupa, sehingga merasa tak aneh lagi. Buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya, ucapnya maklum dalam hati.
"Apa benar yang kaulaporkan ini, Kepala Pengawal Seo?" Suara Raja Sukjong merendah. "Apa benar Jang Hee Jae …?"
"Ya, Yang Mulia. Budak itu mendengar sendiri pembicaraan Jang yeonggam dan Jin daegam mengenai pertukaran ini. Beliau akan menukarkan Arsip Registrasi sebagai ganti plakat pengakuan Putra Mahkota Joseon yang dikirimkan lebih cepat dari rencana Qing semula. Jika prediksi hamba benar, seharusnya mereka akan bergerak …"
"Kepala Kasim Han!" Teriakan sang raja memanggil kepala kasim memotong perkataan Kepala Pengawal Seo. Dan kepala pengawal itu langsung terdiam mendengar nada emosi dalam teriakan itu.
Dengan cepat, kepala kasim itu berlari masuk ke dalam bilik kerja sang raja, kemudian menunduk hormat. "Ya, Yang Mulia. Hamba siap menerima perintah."
"Segera bersiap. Kami akan pergi ke kediaman Choi sanggung."
Kepala Pengawal Seo mengernyitkan dahinya bingung ketika Kepala Kasim Han segera bersiap melaksanakan perintah Raja Sukjong. "Yang Mulia, mengapa …?"
"Karena Arsip Registrasi berada di tangan Choi sanggung," jawab Raja Sukjong singkat.
"Ya?" Mau tak mau, Kepala Pengawal Seo merasa keheranan dengan tindakan sang raja.
"Awalnya aku menyimpan sendiri Arsip Registrasi di bilik kerjaku, karena aku merasa tempat ini cukup aman dengan penjagaan penuh di setiap sudut Huijeongdang," jelas Raja Sukjong. "Kemudian aku berubah pikiran, dan meminta Choi sanggung untuk menyimpankannya untukku. Kau tahu, bukan, bahwa anak itu sangat pintar dan cerdik? Dia pasti menemukan tempat yang lebih aman untuk dokumen itu."
Seulas senyum terpatri di bibir sang raja. Jika sudah membicarakan sang seungeun sanggung, Raja Sukjong selalu terlihat riang dan berseri-seri. Kepala Pengawal Seo telah mengetahui perjalanan kisah kasih sang raja dan Choi sanggung yang rupawan. Kala itu, sang Raja Joseon ke-19 tak sengaja melihat seorang budak wanita sedang mendoakan kesehatan Ratu Inhyeon, yang diturunkan dari jabatannya dan dibuang keluar istana setelah Gisa Hwaguk terjadi di tahun 1689. Sejak saat itu, Raja Sukjong seringkali mendatangi sang gadis, yang ternyata hanyalah seorang musuri di kediaman Ratu Inhyeon dan menemukan fakta bahwa gadis itu adalah seorang yang bukan hanya baik hati, namun juga sangat pandai. Dan sang raja amat jatuh hati padanya.
"Jadi Anda memberikan Arsip Registrasi pada Choi sanggung, agar beliau menyimpannya di tempat yang aman?"
"Ya, walaupun sebenarnya itu jauh lebih berisiko, aku yakin seharusnya dokumen itu berada di tempat yang aman."
"Tetapi bagaimana jika ada mata-mata, Yang Mulia? Maksud hamba, bahkan sanggung yang menjadi pelayan Choi sanggung pun belum tentu bisa dipercaya."
Raja Sukjong menatap pengawal kerajaan kepercayaannya itu. "Kita lihat saja nanti."
…
Samar-samar, sosok Yeon sanggung berjalan cepat ke bagian belakang Huijeongdang, Sebagai jimil sanggung yang melayani sang raja, dia harus selalu menjaga perilaku dan tingkah lakunya. Dengan langkah setengah gemetar, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap tak ada seorang pun yang menyaksikan pertemuan rahasianya. Jika ada yang sampai memergokinya berbuat seperti ini, tentu dia akan dihukum berat. Tapi apa hendak dikata, jika sang ratu menghendakinya untuk memberikan informasi, bagaimana dia mampu menolaknya? Ketika dia tiba di tempat perjanjian, seorang nain dari kediaman Ratu Jang telah menunggunya.
"Bagaimana? Apa Anda mendapat informasi yang dibutuhkan Yang Mulia Ratu?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Ya," jawabnya cepat. "Sepertinya, Arsip Registrasi tidak disembunyikan di Huijeongdang, melainkan di kediaman Choi sanggung. Mohon sampaikan ini kepada Yang Mulia Ratu."
"Benarkah?" Nain itu tersenyum licik. "Saya mengerti. Akan saya sampaikan kepada Yang Mulia Ratu secepatnya." Kemudian gadis itu berlalu dari Huijeongdang, kembali ke Daejojeon.
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Law menepuk-nepuk bahunya yang pegal, sembari mengistirahatkan diri dan duduk santai di paviliun tempat para budak. Badannya mungkin akan remuk jika dipaksakan bekerja mulai dari pagi buta. Untung saja Pengawas Hwang berbaik hati memberikan waktu bagi para budak untuk beristirahat di pagi hari, dikarenakan hampir semua pemusik istana tidak akan berlatih pada hari ini. Oleh sebab itu, tugas para budak dipastikan akan berkurang setengahnya, sehingga mereka diizinkan untuk tidak bekerja sampai tengah hari menjelang. Pemuda itu menolehkan kepalanya, menatap para budak senior yang masih berleha-leha di paviliun sambil mengobrol. Tampaknya mereka sedang membicarakan acara yang berlangsung di istana di malam sebelumnya, dan Law tersenyum mendengar mereka terkagum-kagum dengan keseluruhan acara mewah itu, walaupun setelahnya mereka semua kelelahan karena terlalu keras bekerja.
Acara itu adalah perjamuan makan malam di Aula Injeongjeon, yang selalu diadakan setiap kali Kerajaan Joseon menyambut kedatangan utusan dari Qing. Semua anggota keluarga kerajaan, para pejabat dan bangsawan diundang dalam perjamuan ini, dan Aula Injeongjeon dijaga ketat oleh semua satuan militer selama acara berlangsung, termasuk Biro Investigasi Kerajaan dan Biro Kepolisian. Para sanggung dan nain berkumpul mengelilingi setiap sisi aula, berjaga-jaga jikalau para anggota keluarga kerajaan membutuhkan pertolongan mereka. Semua pemusik istana dan gisaeng melakukan pertunjukan hampir semalaman untuk menghibur para tamu, dan para budak harus bekerja dua hingga tiga kali lipat untuk membantu mempersiapkan semuanya. Karenanya, hampir semua orang yang terlibat langsung dalam acara tersebut tidak segera bekerja di pagi hari, dan keadaannya sangat tidak memungkinkan jika harus memaksakan diri.
Mata keperakan Law menoleh kembali ke luar paviliun, memandangi keadaan Biro Musik yang tampak lengang. Biasanya, sejak pagi sudah terdengar suara-suara penuh kesibukan; para pemusik yang lalu lalang, para pejabat biro yang mengecek gudang dan peralatan, pengawas yang sibuk memberi perintah, serta para budak yang bekerja mematuhi. Namun pagi ini begitu sunyi, begitu damai; seakan-akan memberitahu pemuda itu untuk kembali beristirahat dan memejamkan mata kembali. Tentu saja, itu tak pernah berhasil untuknya. Terakhir kali Law tertidur pulas ketika meletakkan kepala di pangkuan ibunya, dan itu sudah bertahun-tahun berlalu. Dia tak pernah lagi merasakan tidur nyenyak sejak dia kehilangan sang ibu, sang penunjang kehidupan. Dan tak pernah dia berharap akan mendapatkan kembali hal serupa. Tidak, itu mustahil.
Baru saja Law ingin menghela napas karena teringat kembali kenangan di tahun-tahun sebelum epidemi menyerang desa para budak, tiba-tiba suara langkah kaki Pengawas Hwang berderap mendekat ke arah paviliun. Langkahnya tergopoh-gopoh, ingin segera sampai, namun salahkan kakinya yang pendek sehingga tak mampu berlari cepat. Pemuda bermata keperakan itu ingin sekali tertawa, namun dia menahannya karena sosok Pengawas Hwang telah di depan mata.
"Law! Dasar bocah jangkung! Kemari kau!" Teriakannya memecah kesunyian pagi, membuat para budak lain mendesah sebal karena merasa terganggu.
Law menggelengkan kepala, lalu bangkit menghampiri sang pengawas. "Naeuri, tidak baik berteriak-teriak di pagi hari seperti ini. Anda menakuti para burung dan tupai yang sedang mencari makan," godanya.
"Persetan dengan burung dan tupai. Mereka bukan memberikan makanan untukku." Pengawas Hwang menggerutu, dan membuat Law mengikik geli. "Kau, bocah nakal pembuat onar, sebaiknya kau segera pergi ke pintu belakang Biro Musik."
"Eh?" Law mengernyitkan dahi. "Untuk apa saya ke sana?"
Pengawas Hwang memutar bola matanya sebal, lalu menarik tangan Law ke arah pintu yang dimaksud, tak mengindahkan erangan protes dari si budak. "Untuk apa katamu? Bagaimana aku tahu? Kau selalu membuat masalah, bukan? Jadi aku tidak heran jika ada saja pengawal kerajaan yang mencarimu. Mungkin mereka ingin menangkap dan menghukummu dengan berat, supaya dapat mengurangi beban di kepalaku yang makin lama makin berat karena ulahmu."
Pengawal kerajaan? Law semakin kebingungan, dan mengabaikan omelan dari Pengawas Hwang. Bukankah masalah Arsip Registrasi telah dia sampaikan dua hari yang lalu? Apa mereka membutuhkan keterangannya lagi? Ataukah ada masalah lain? Berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya, membuahkan spekulasi dan rasa was-was. Diliriknya Pengawas Hwang yang masih bersungut-sungut mengantarkannya ke pintu belakang area Biro Musik. Tampaknya sang pengawas tak menduga hal yang tidak-tidak, dan Law pun tak berharap pengawas itu mengetahui hal yang berbahaya seperti ini. Semoga dia berpikir aku hanya membuat masalah kecil, ujarnya dalam hati.
Di ujung pintu, seorang pengawal kerajaan dengan baeja hijau pastel telah menunggu kedatangannya. Law baru saja ingin menyapa dengan sebutan Wakil Kepala Nam, namun tentu Pengawas Hwang akan curiga bahwa mereka telah saling mengenal. Dengan bibir tertutup rapat berusaha menahan diri agar tak membocorkan rahasia, dia menghampiri sang wakil kepala pengawal kerajaan dan membungkuk hormat.
"Naeuri, apakah Anda mencari saya?" tanya Law sopan.
"Ya. Kita perlu bicara empat mata," jawabnya ringan, disertai sebuah sindiran halus agar Pengawas Hwang meninggalkan mereka.
Dengan sikap sopan namun setengah enggan, pengawas bertubuh pendek itu menunduk hormat kepada Wakil Kepala Nam dan memutar langkah untuk masuk kembali ke area Biro Musik. Law bisa melihat matanya memicing awas, namun tentu dia tak bisa tinggal demi kesopanan dan mematuhi perintah sang pejabat senior tingkat empat. Setelah sang pengawas berlalu dari hadapan keduanya, barulah Law bisa menunjukkan kekhawatirannya.
"Wakil Kepala, apakah ada masalah?"
"Iya," ujarnya sembari menuntun langkah menjauhi pintu belakang Biro Musik, menyusuri selasar yang Law lewati bersama Kid dua hari yang lalu. "Kepala Pengawal Seo ingin berbicara kepadamu."
"Ya? Mengapa?"
"Kau akan segera tahu." Setelahnya, wakil kepala pengawal itu tak lagi bicara. Namun Law bisa melihat ketegangan di raut wajahnya yang tampak letih. Pemuda itu ingat bahwa semua pengawal kerajaan bersiaga hingga fajar menjelang untuk menjaga acara perjamuan yang baru berakhir lewat tengah malam. Tentulah mereka semua merasa lelah, sementara mereka harus dihadapkan dengan masalah baru yang membuat mereka harus kembali terjaga. Dan Law merasa kasihan karenanya.
Lamat-lamat, mata keperakan pemuda itu melihat sosok Kepala Pengawal Seo berdiri tegak sembari menatap matahari pagi di ufuk timur. Semakin dekat, Law bisa melihat ekspresi ketegangan yang sama terpancar di wajah sang kepala pengawal, dengan raut yang jauh lebih lelah dari Wakil Kepala Nam. Tampaknya dia sama sekali tak tidur, melihat lingkaran hitam tercetak jelas di bawah matanya. Law menunduk hormat kepadanya ketika dia telah tiba di hadapan kepala pengawal itu.
"Akhirnya kau datang," ucapnya menyambut.
"Ya, yeonggam. Apakah ada yang bisa saya bantu? Apakah ada masalah …?"
"Ya, kita mendapat masalah besar, Law."
Law bisa merasakan kegetiran di dalam nada suaranya. Takut-takut dia kembali bertanya, "Masalah apa, yeonggam?"
Matanya menatap Law dengan ekspresi muram. Meninggalkan basa-basi, dia menjawab, "Arsip Registrasi telah dicuri tadi malam."
TBC
Author's Note
Huwaaaaa, fast update iniiiiiii. Mudah-mudahan masih ada yang berkenan membaca cerita membosankan ini XD
Tak bosan-bosan ku berterima kasih kepada semua orang yang telah membaca, meninggalkan review dan menyukai cerita ini. Ku tak tahu apa yang membuat kalian betah, tapi ku harap kalian akan bertahan hingga finish.
Anyway, last but not least, would you mind to leave any review?
Review Reply
Cho Eun Min: Kkkkkk. Kubingung bagaimana membalas review-mu nak. Tapi daku senang kau bahagia membaca ceritaku. Well … Kid menyamar? Biar kujawab di chapter selanjutnya, atau chapter kelima nanti *evil laugh* Dan ya, Law si budak cerdas. Selalu ku suka karakter seperti ini. Dan mudah-mudahan saeguk-ku selalu menginspirasimu, anakku.
Vira D Ace: Ini sudah dilanjut ^^ Akun Wattpad ku Leenahanwoo, bisa cek cerita ini di sana juga ^^
