Title : [애별리(Love, Separate, Leave)] Chapter 5 - Kid
Genre : Saeguk, Shounen-ai
Rating : T
Length : Chaptered with 4.341 words
Author : leenahanwoo
Pairing: Kid x Law
Cast : Eustass Kid, Trafalgar Law and OC
Warning : SHO-AI Content ! Don't like don't read ! OOC-ness is everywhere !
Disclaimer : All One Piece casts are Eiichiro Oda-sama's. This story and OC are mine.
NOTE: TELAH HADIR CHAT GRUP ANIME + K-POP FANDOM. Bagi yang memiliki akun LINE, silakan add saya dengan ID leenahanwoo, dan nanti akan saya invite ke chat grup ini ^^ Mari kita lestarikan fandom Anime dan KPOP di bumi pertiwi Indonesia ‼!
Glossary:
Sangtu: ikatan rambut khas pria di jaman Joseon.
Durumagi: mantel luar
Heukrip: Topi (gat) berwarna hitam yang biasa dipakai oleh kalangan atas
Pohon Bia : Pohon yang baik untuk meletakkan tempayan pasta kacang kedelai dan akan menghasilkan rasa pasta yang lebih enak.
-Untuk glossary lain, bisa dicek pada chapter sebelumnya-
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
'Apa aku akan tertangkap? Apa aku tidak akan bisa mencapai istana?'
Law merapalkan kata-kata itu dalam benaknya berulang-ulang, sebelum sebuah tangan yang kokoh menariknya ke salah satu lorong di antara dua buah toko yang cukup sempit. Tanpa banyak bicara, orang itu memeluknya erat dan melindungi pemuda itu dengan tubuhnya yang jauh lebih tinggi, sehingga para pengawal Qing tak bisa melihatnya. Terlalu terkejut, dia sampai tak menyadari siapa yang sudah menyelamatkannya. Yang dipikirkan hanya agar dia dapat meloloskan diri dari kejaran pengawal Qing, dengan bantuan orang ini.
Pemuda bermata keperakan itu dapat mendengar debaran jantung mereka yang sama-sama tak beraturan. Bertalu-talu penuh ketegangan, namun mampu membuatnya merasa lebih tenang. Barulah Law mengerjapkan mata beberapa kali, memproses situasi yang tengah dia alami. Di hadapannya, sesosok pria tinggi dengan durumagi berwarna keemasan sedang berdiri tegap tanpa melepaskan pelukan mereka. Bahannya terbuat dari sutra halus yang biasa dipakai oleh yangban dan jungin. Tangan kirinya menggenggam sebuah pedang kayu yang permukaannya telah dihaluskan. Sebuah heukrip menghiasi kepala orang itu, menaungi mereka dari teriknya mentari di sore hari. Di saat itulah Law mendongakkan kepala, mendapati seraut wajah dengan kulit putih pucat yang sedang mengamati keadaan sekitar. Matanya yang beriris amber itu tampak awas, memastikan bahwa pengawal Qing tak menyadari keberadaan mereka di dalam lorong yang sempit itu.
"... Kid?" Suara Law terdengar pelan dan parau, imbas dari kelelahan akibat berlari menghindari para pengawal Qing.
"Mereka sudah jauh." Apa yang diucapkan oleh orang itu sama sekali tak sesuai dengan yang diharapkan Law. "Dan sepertinya pasukan mata-mata berhasil mengelabui mereka. Kurasa kita sudah aman sekarang."
Perlahan Kid melepaskan pelukan itu. Kehangatan yang melingkupi keduanya berganti ruang dingin tak kasat mata, membuat Law sedikit hampa – entah mengapa.
"Kau. Apa yang kau lakukan? Mengapa kau malah membuat keributan di Mohwagwan?" cecar Kid tanpa basa-basi. "Andai Kepala Pengawal Seo tidak menyuruh kami mengawasi tempat itu, mungkin kau sudah tertangkap oleh mereka dan dibuang ke jurang sebagai hukuman."
Law merengut sebal. "Memangnya aku berharap membuat kekacauan di sana?"
Pengawal kerajaan itu berdecak. "Sekarang katakan padaku, apa yang kau dapatkan dari hasil pengamatanmu?"
Pemuda bermata keperakan itu mendekap kedua buku di dadanya lebih erat. Apa dia akan marah jika tahu apa yang sudah kulakukan? "Berjanjilah kau tidak akan meminta Seo yeonggam untuk menghukumku karena hal ini."
Kid mengernyitkan dahi. "Apa ini ada hubungannya dengan pengawal Qing yang mengejarmu?"
Law mengangguk ragu. Namun dia tetap harus menceritakan semua hal yang terjadi, dan tentu saja tentang dokumen di tangannya. Perlahan-lahan pemuda itu memperlihatkan buku di dalam dekapan, tanpa mengatakan apa-apa. Terlalu takut akan hukuman yang menanti, atau kemarahan dari pengawal di hadapannya ini.
Kid memandang bingung pada dokumen itu, namun dia tetap membaca huruf-huruf yang tertera pada sampulnya. Dan matanya melotot lebar saat mengetahui benda apa yang sedang digenggam oleh pemuda itu.
"Kau … bagaimana …?" Pengawal itu tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Jang yeonggam membawa ini ke Mohwagwan untuk diserahkan kepada Jin daegam. Tapi aku berhasil merebutnya." Law menjelaskan. "Aku menduga, semua rombongan utusan Qing terlibat dalam hal ini. Jika dugaanku benar, maka di sana adalah tempat yang paling aman untuk melakukan pertukaran ini. Dan karena itulah Jang yeonggam berani membawa Arsip Registrasi ke Mohwagwan."
"Jadi kau mengambil dokumen ini?"
"Jika aku mengulur waktu untuk pergi melapor kepada Kepala Pengawal Seo, tentu dokumen ini sudah diserahkan kepada Jin daegam. Dan kita akan kehilangan kesempatan untuk menangkap para pelakunya."
"Dan membahayakan dirimu?"
"Itu bukan masalah."
Kid terdiam mendengarkan semua yang Law katakan, sembari memutuskan apa yang harus dia lakukan. Law dapat melihat gurat tegang di wajahnya. Namun pengawal itu mengambil tindakan segera. Dengan cepat dia melepaskan durumagi yang membungkus tubuhnya, lalu dipakaikannya jubah itu ke badan Law. Kedua dokumen Arsip Registrasi disembunyikan di balik durumagi, dan Law harus mendekapnya dari luar jubah itu. Ternyata di balik durumagi miliknya, Kid hanya memakai hanbok sederhana berwarna merah muda, namun dia masih tetap terlihat tampan dan elegan.
"Mengapa kau memakaikan durumagi ini padaku?" tanya Law.
"Pakaian yang kau kenakan pasti mudah dikenali, karena itu adalah seragam budak istana," jelas Kid sembari membuka ikatan pada heukrip yang dia kenakan. "Pergi ke istana saat ini sangat berbahaya, dan para bawahan Jang Hee Jae pasti sudah bersiaga di sana untuk menangkapmu. Jadi aku akan membawamu ke tempat yang aman, sementara aku bisa melaporkan semua ini pada Kepala Pengawal Seo, dan beliau akan memberikan solusi atas masalah ini."
"Ya?" Law ingin memprotes lebih jauh, namun dia terdiam ketika melihat Kid yang membuka heukrip yang dia kenakan. Merah, warna merah menyala menghiasi kepala pengawal itu. Rambut merah yang indah, tampak halus dan rapi dalam ikatan sangtu. Law tidak pernah melihat warna rambut selain hitam seumur hidupnya, dan dia akui bahwa dia amat terpesona dengan rambut yang Kid miliki. Pemuda itu menelan ludah, tangannya mendadak gatal ingin menyentuh surai itu dan merasakan kelembutannya.
Namun semua lamunan itu buyar ketika Kid memakaikan heukrip itu ke atas kepala Law lalu mengikatnya erat. "Dengan begini, orang yang tak akan mencurigaimu," ujarnya. "Kita harus segera pergi dari tempat ini. Ayo."
Law tak sempat lagi menyuarakan protes ketika Kid keluar dari lorong sempit itu dan berjalan cepat sambil menggenggam tangannya erat. Baru saja pemuda itu dapat bernapas normal, tahu-tahu dia harus kembali berjalan secepat itu. Law bukan orang yang menyukai kegiatan fisik semacam ini, dan dia beruntung menjadi budak di Biro Musik yang tak membutuhkan tenaga ekstra untuk menjelajahi seluruh Doseong. Dia memiliki beberapa teman, para budak dari Dapur Istana, dan merasa ngeri mendengar mereka yang harus pergi keluar istana sepanjang waktu untuk membeli bahan makanan segar. Dia mungkin akan kurus kering jika bekerja di biro itu.
Berusaha mengalihkan perhatian dari kelelahan yang mulai melanda, Law memperhatikan jalanan yang mereka telusuri. Setelah melewati ujung pasar yang mulai sepi, pemuda itu dapat melihat rumah-rumah penduduk Joseon yang berdiri tegak dengan bentuk sederhana. Beberapa di antaranya memiliki halaman yang cukup luas dengan tanam-tanaman di satu sisi, sementara yang lain hanya berupa lahan kecil untuk melakukan kegiatan rumah tangga. Rumahnya dahulu tak jauh berbeda dengan rumah-rumah ini, hanya berada di daerah yang lebih kumuh dan tampak reyot di sana-sini. Namun dia selalu menyukai rumah itu; rumah yang penuh kehangatan dan kenangan bersama sang ibu.
Law bergidik ketika mereka berbelok ke arah rumah-rumah kosong tak berpenghuni. Ini adalah rumah-rumah yang ditinggalkan oleh pemiliknya, kebanyakan merupakan para pedagang yang usahanya mengalami kebangkrutan sehingga diusir oleh Biro Keuangan karena tak mampu membayar pajak. Law selalu berusaha untuk tidak melewati jalanan yang sedang mereka lalui, karena Pengawas Hwang mengatakan bahwa daerah kosong ini cukup dikenal sebagai sarang para penjahat kota.
"K-Kid, apa kita harus melewati area ini?" tanyanya takut-takut.
"Ini adalah jalan pintas agar kita bisa segera tiba di tempat yang kita tuju. Kau tenang saja, ada aku yang akan melindungimu," sahut Kid tanpa beban.
"Bukan itu maksud …"
Law berteriak kaget hingga tak mampu melanjutkan perkataannya saat sebuah anak panah meluncur tepat di hadapan mereka. Kid menghentikan langkah, dan dengan segera menyiagakan pedang kayu di tangan kirinya. Pemuda bermata perak itu merapat ke balik punggung sang pengawal kerajaan, meneguk ludah berat ketika beberapa orang berpakaian serba hitam mendekat ke arah mereka. Wajah mereka menunjukkan kekejaman, dan pedang tajam menghunus di tangan mereka masing-masing.
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" tanya Kid dengan nada tenang.
"Serahkan orang yang sedang bersamamu," ujar salah satu dari mereka, yang kelihatannya merupakan pemimpin dari kumpulan orang itu.
"Mengapa aku harus menyerahkannya? Kalian memiliki masalah dengan temanku?"
"Jangan banyak bicara, bocah. Dia itu bukan temanmu. Kami tahu bahwa dia adalah budak yang sedang kami cari. Kami melihat kau dan dia keluar dari daerah sekitar Mohwagwan. Jadi serahkan dia sebelum kami menghabisimu!" seru orang itu kesal.
"Atau kalian yang akan aku habisi lebih dahulu. Mau bertaruh? Pedang yang kalian pakai tidak akan bisa mengalahkan pedang kayu milikku." Sebuah seringai menghiasi wajah Kid.
Law hanya diam mendengar semuanya. Orang-orang ini pastilah bawahan Jang Hee Jae, dan mereka pastilah datang untuk membunuhnya! Pemuda itu gentar, namun genggaman tangan Kid menguat dan membuatnya tenang.
"Bersembunyilah di antara rumah-rumah kosong itu, aku akan mengurus mereka," bisik pengawal kerajaan itu.
"T-tapi …." Law tampak ragu meninggalkan Kid sendirian. Sebuah pedang kayu melawan 5 pedang besi dan 2 buah panah? Pengawal itu bisa saja terbunuh.
"Cepat!" seru Kid lagi.
Pemuda itu meringis, tapi dia harus menurut demi keselamatannya sendiri, dan juga Arsip Registrasi yang tersembunyi di balik durumagi keemasan yang dia pakai. Mata keperakannya bergerak cepat mencari tempat berlindung, namun semua rumah yang ada kelihatan menyeramkan dan berbahaya. Law tak berani memasuki rumah-rumah itu. Siapa yang tahu apa yang ada di balik dindingnya? Mungkin penjahat lain yang menunggu untuk membunuhnya? Dia menggeleng kuat-kuat. Tidak, dia harus menemukan tempat persembunyian lain. Sorot matanya pun tertuju pada beberapa perabot rumah bekas yang bertumpuk di luar salah satu rumah kosong. Tempat yang bagus dan tampak lebih aman. Dia pun bersembunyi di balik tumpukan itu, sekaligus bisa mengawasi pertarungan pengawal kerajaan itu melawan orang-orang suruhan Jang Hee Jae.
Kid, dengan sebuah pedang kayu di tangan, mampu memukul dua orang sekaligus. Walau postur badannya tinggi dan berisi, ternyata gerakannya amat gesit. Dengan satu kali lompatan, dia menendang orang ketiga hingga terpental dan menabrak salah satu bangunan rumah kosong. Kemudian pengawal itu memukul tangan orang keempat hingga tak mampu menggenggam pedang besinya. Law bisa mendengar suara tulang yang patah dari orang-orang itu, dan dia kembali meringis. Orang kelima dan keenam dengan cepat memasang anak panah pada busur mereka, mencoba melawan Kid dari jarak yang lebih jauh, namun pengawal kerajaan itu segera melihat apa yang mereka lakukan. Dengan gerakan sangat cepat, dia mengambil sebuah pedang yang terkapar di tanah dan melemparkannya dengan gerakan memutar ke arah kedua pemanah itu. Bukan bermaksud untuk melukai keduanya, tapi dua busur yang sedang mereka pegang terpotong menjadi dua bagian, membuat kedua orang itu menjerit ketakutan karena senjata mereka dirusak. Law pun rasanya ingin menjerit ketika melihat itu, namun suasana tegang yang tersaji di hadapannya membuat bibirnya kaku tak mampu bergerak. Orang pertama, kedua dan ketujuh mencoba menyerang Kid; pedang yang mereka genggam menghunus ke arah si pengawal sekaligus. Dan sekali lagi, dia mampu menghindari serangan itu, memukul kaki-kaki dan dada ketiga orang yang menyerangnya hingga terdengar bunyi patahan yang nyaring, dan melumpuhkan ketiganya. Law menelan ludah berat melihat hasil pertarungan itu; lima orang tergeletak tak berdaya di tanah yang keras, sementara dua orang pemanah yang tak dilukai Kid sudah melarikan diri sedari tadi. Kecuali mereka tak siap dihabisi oleh Jang Hee Jae, mungkin keduanya pergi melaporkan kegagalan tugas mereka.
"Ayo, kita lanjutkan perjalanan."
Dalam sekejap mata, Kid telah berdiri di samping Law yang masih termangu. Pemuda itu ingin mengucapkan sesuatu, tetapi lidahnya kelu, terlalu banyak kejutan dan ketakutan yang dia rasakan dalam satu hari ini. Untunglah, Kid mengerti dengan situasi yang tengah dihadapi Law. Dia kembali menggenggam tangan budak di hadapannya, menyalurkan rasa hangat dan keamanan, lalu menariknya keluar dari tempat persembunyian. Dalam diam, mereka kembali berjalan, meneruskan perjalanan yang tertunda.
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Raja Sukjong menatap datar pada meja bulat di ruangannya. Kursi-kursi kosong terhampar di hadapan sang raja; para utusan Qing baru saja meninggalkan Huijeongdang, menimbulkan sebuah kebingungan besar di kepalanya.
"Bukankah Anda yang sengaja ingin menipu kami, Yang Mulia? Membangun benteng baru di daerah perbatasan, apakah Anda berniat ingin memerangi Qing?"
"Dan Anda sendiri, berniat berlaku kurang ajar di tanah kerajaan tetangga, bukan begitu? Anda memata-matai pembangunan benteng yang kami bangun di tanah kami sendiri, seolah-olah kami sudah pasti akan menyerang Qing."
"Oh ya, tentu saja kami akan berpikir seperti itu. Jika tidak, mengapa Qing tak diperbolehkan untuk melihat kekuatan Joseon secara langsung pada jadwal inspeksi militer rutin?"
"Itu sama saja kalian melanggar kedaulatan negara kami, Jin daegam! Apakah Anda tidak mengerti?"
"Kami akan mengerti jika kita saling terbuka, Yang Mulia. Andalah yang tidak paham akan situasi yang kita hadapi."
Raja Joseon ke-19 itu menggelengkan kepala. Para utusan dari Qing memata-matai pembangunan benteng di Gunung Ganghwa hingga menimbulkan perdebatan panas, sementara di balik itu, mereka juga berencana 'mencuri' Arsip Registrasi. Tidakkah tindakan mereka yang patut dicurigai itu akan menimbulkan perang di antara kedua kerajaan? Namun dengan lancangnya mereka malah ingin menyalahkan Joseon. Begitu dalamnya sang raja memikirkan tindakan apa yang sebaiknya dia ambil ketika suara langkah kaki memasuki ruang utama Huijeongdang.
"Yang Mulia, Kepala Pengawal Seo ingin menemui Anda." Sahutan dari Kepala Kasim Han menyadarkan Raja Sukjong.
"Ya, biarkan dia masuk. Dan jangan perbolehkan siapa pun menemuiku atau Kepala Pengawal Kerajaan hingga jam makan malam. Aku ingin berdiskusi secara pribadi dengannya."
"Baik, Yang Mulia." Kepala Kasim Han menunduk hormat dan keluar untuk menemui kembali sang kepala pengawal di pintu masuk Huijeongdang.
….
Kid membawa Law ke sebuah daerah elit di mana para yangban dan jungin tinggal. Daerah tersebut amat dekat dari istana, tak sampai 10 menit berjalan kaki. Law jadi bertanya-tanya, ke mana Kid akan membawanya bersembunyi? Apakah di area mewah ini terdapat tempat atau gudang penyimpanan yang bisa dipakai sebagai tempat persembunyian? Ataukah Kid akan langsung membawa pemuda itu ke istana dan menyembunyikannya di suatu tempat yang aman? Dia tak bisa menebak isi pikiran pengawal kerajaan itu, hingga memaksa Law memanggil namanya. Dan Kid hanya merespon dengan sebuah gumam.
"Ke mana sebenarnya tujuan kita?"
"Kau akan segera tahu." Dan jawaban Kid yang tak memuaskan itu membuatnya berdecak sebal dengan muka keruh.
Akhirnya mereka berhenti di pintu belakang salah satu rumah mewah itu. Kid menoleh ke kanan dan ke kiri, mungkin memastikan tak ada yang mengikuti. Beberapa kali dia mengetuk pintu tersebut, sampai suara teriakan sayup terdengar dari dalam. Seorang laki-laki berpakaian kusam berumur 50 tahunan membuka pintu. Law menebak dia adalah pelayan yang telah melayani rumah ini selama puluhan tahun; pengabdian dan kesetiaan terpancar jelas di wajahnya.
"Tuan Muda!" sahutnya penuh nada terkejut. "Yeonggam …"
"Ya, aku tahu beliau masih di istana. Aku sedang dalam misi khusus, ahjussi," ujar Kid. "Apakah kamar lamaku masih bisa dipakai? Aku memerlukannya."
Laki-laki itu menatap Law dengan rasa ingin tahu yang besar, sementara Law hanya meliriknya sekilas, terlalu malu untuk menatap balik. Lagipula, apa yang berkecamuk di dalam pikiran pemuda itu jauh lebih penting. Jika orang ini memanggil Kid dengan sebutan Tuan Muda, apakah itu berarti ini adalah rumah tempat Kid tinggal? Dan siapakah yeonggam yang dimaksud?
"Baik, Tuan Muda. Mari ikut saya," ujarnya. Keingintahuan yang awalnya terpancar di mata laki-laki itu berganti menjadi gurat kekhawatiran.
Mereka berjalan memasuki rumah. Di bagian belakang terdapat ruang penyimpanan bahan makanan, yang di sampingnya terdapat tempayan-tempayan besar berisi pasta kacang kedelai, terletak di bawah pohon bia yang menjulang tinggi. Area tengah menjadi tempat berlangsungnya kegiatan rumah tangga; dapur, sumur dan tempat mencuci pakaian serta dua paviliun kecil tempat tinggal para pelayan rumah terletak di sini.
Menuju bagian depan rumah, mereka tak serta-merta berbelok ke bangunan paviliun besar tempat sang pemilik rumah bertempat tinggal, melainkan berbelok menuju sebuah paviliun kecil lain yang tampaknya digunakan sebagai perpustakaan dan ruang kerja. Si pelayan membukakan pintu, kemudian Kid dan Law memasuki ruang perpustakaan itu. Terdapat beberapa rak berisi buku-buku dan lemari-lemari berlaci memenuhi ruangan tersebut, beserta sebuah meja kerja yang berada di tengah-tengah. Mereka berjalan menuju ujung ruangan, yang berakhir pada sebuah rak setinggi langit-langit yang dipenuhi oleh buku dan dokumen-dokumen lama. Law mengernyit tak mengerti dan baru saja ingin bertanya kepada Kid ketika orang tua di hadapannya menggeser rak penuh buku itu dengan mudah. Betapa terkejutnya pemuda itu meyaksikan apa yang baru saja dia liat. Barulah dia menyadari bahwa buku-buku itu semuanya palsu, hanya merupakan kotak-kotak ringan yang dicat menyerupai buku dan dokumen, yang terpajang di atas rak yang ringan pula. Di balik rak itu terdapat sebuah pintu pendek; Law dan Kid harus menunduk ketika melewatinya. Ternyata di balik pintu itu adalah sebuah kamar rahasia!
"Semuanya masih sama, dan tidak ada yang diubah oleh yeonggam. Pakaian-pakaian Anda pun masih tersimpan rapi di dalam laci," ujarnya seraya menunjuk ke arah laci-laci.
"Aku mengerti. Terima kasih, ahjussi."
Segera setelah Kid mengucapkan terima kasih, orang tua itu meninggalkan ruangan. Sementara Law, masih tenggelam dalam keterkejutan, hanya berdiri di sudut ruangan tanpa bicara sepatah kata pun. Kid memandangi pemuda itu, lalu tersenyum sembari menarik tangan Law, menyuruhnya duduk di tengah-tengah ruangan.
"Ini adalah kamarku terdahulu, sebelum yeonggam memindahkanku ke paviliun utama. Jadi kau tenang saja. Tempat ini aman."
Law memang duduk sesuai yang diarahkan Kid, dan mereka duduk saling berhadapan. Namun mata keperakannya menatap Kid dalam-dalam dengan pikiran yang kacau. Terlalu banyak pertanyaan merasuk di dalam benak, terlalu banyak hal terjadi dalam satu hari ini, membuatnya bingung dan ketakutan. Dia membutuhkan penjelasan. Sejelas-jelasnya.
"Kid, tempat apa ini? Rumah siapa yang kita masuki? Mengapa aku disembunyikan di sini, di ruangan ini? Kau sebenarnya siapa? Mengapa orang tua itu memanggilmu …?"
Kid menggenggam tangan Law erat, menghentikan rentetan pertanyaan yang diucapkan pemuda bermata keperakan itu dengan keresahan tergambar jelas di wajahnya. "Tenanglah, aku akan menjelaskannya padamu. Kau tidak perlu panik."
Law mengangguk satu kali, walau hatinya masih membuncah. Dalam diam penuh kegelisahan, dia menunggu Kid menjawab pertanyaan yang ia ajukan.
"Ini adalah rumah milik Kepala Pengawal Seo," ujar Kid. "Dan ruangan ini adalah ruang rahasia milik Seo Jungho daegam, mendiang ayah dari Kepala Pengawal Seo."
"Mengapa kita bersembunyi di tempat ini?"
"Jika aku disuruh memilih di mana aku harus menyembunyikanmu dan benda berharga yang berada di balik durumagi itu, ya, tentu aku akan memilih rumah Seo yeonggam. Karena tempat ini adalah tempat yang paling aman di Doseong selain villa-villa pribadi milik Yang Mulia Raja. Pasukan mata-mata menjaga daerah di sekitar sini dengan ketat, dan pengawal pribadi milik Seo yeonggam juga mengelilingi area rumah."
Law terdiam memproses semua jawaban yang Kid berikan. Rumah ini adalah milik Kepala Pengawal Seo. Rumah pribadi sang kepala pengawal kerajaan. Tempat yang menjadi pilihan paling tepat untuk bersembunyi, karena dijaga ketat baik oleh pasukan mata-mata maupun pengawal pribadi. Dan Kid …
"Kau bilang ini adalah kamar lamamu, sementara kau juga mengatakan bahwa kamar ini adalah kamar rahasia milik mendiang ayah dari Kepala Pengawal Seo …," ucapan Law terhenti sejenak, "… Kid, sebenarnya apa hubunganmu dengannya?"
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Suara tamparan dan pukulan keras terdengar dari salah satu rumah di daerah elit para yangban, yang terletak di bagian paling ujung dari area tersebut, berdekatan dengan daerah rumah para jungin. Tampak beberapa orang tengah berkumpul di halaman depan rumah itu; lima di antaranya cedera dengan luka-luka di sekujur tubuh mereka. Dua orang lainnya sedang dihukum cambuk oleh orang yang mempekerjakan mereka, sembari berteriak-teriak di antara luapan emosi.
"Dasar bodoh, orang-orang tak tahu untung! Hanya untuk menangkap satu orang, HANYA satu dan kalian babak belur? Tch. Lalu untuk apa aku membayar mahal atas hasil pekerjaan tidak becus kalian?" teriaknya murka.
Orang yang berdiri di samping pria yang tengah berseru marah itu hanya bisa terdiam gelisah. Selama ini anak buah yang dia pimpin selalu bekerja dengan baik, dan hasil pekerjaan mereka selalu memuaskan. Salahkanlah orang yang harus mereka hadapi kali ini. Dia terlalu kuat, terlalu ahli. Mereka memprotes kepadanya, sebelum tuan yang mempekerjakan mereka mengetahui bahwa mereka telah gagal menangkap seorang budak saja.
"Jang yeonggam, tidakkah sebaiknya kita segera mencari cara menangkap budak itu?" ujarnya pelan.
Jang Hee Jae, orang itu, menoleh pada sang ajudan dan menatapnya sekilas. "Tentu saja, bodoh. Kau pikir aku tidak sedang memutar otak mencari jalan?" serunya sengit.
Ajudannya menunduk malu. Salah seorang anak buahnya yang bertugas mengikuti si budak menyampaikan bahwa orang yang menyelamatkan budak itu membawanya ke rumah Kepala Pengawal Seo. Hal mudah seperti ini menjadi begitu rumit jika sudah melibatkan sang kepala pengawal kerajaan. Rumah pribadi miliknya dikelilingi oleh pasukan mata-mata kerajaan, belum lagi ditambah pengawal pribadi yang bekerja untuknya dan menjaga di dalam areal rumah. Betul-betul pertahanan yang amat sulit untuk ditembus.
"Yeonggam, jika saja kita bisa memakai pengawal pribadi lain …," sahutnya lagi.
"Tidak," putus kakak dari Ratu Hee itu. "Kita tidak bisa melibatkan pejabat tinggi lain, dan mereka pasti tidak akan mau membahayakan posisi mereka jika ketahuan memberikan kita bantuan. Tch, pejabat brengsek. Hanya tahu diuntung saja."
"Lalu apa yang harus kami lakukan?"
Mata Jang Hee Jae menatap sang ajudan dengan sinar kelicikan, ditambah seringai jahat di bibirnya. "Hubungi Oh Yoon dari pasukan Biro Investigasi Kerajaan. Kita akan butuh bantuannya kali ini."
….
Law menatap kosong pada lantai di hadapannya, tanpa senyum terulas sedikit pun. Pikirannya tengah memproses semua jawaban yang Kid berikan atas pertanyaan yang dia lontarkan.
"Aku adalah anak yang diasuh oleh Seo Jungho daegam. Kala itu beliau menjabat sebagai Kepala Penasihat Istana, sementara Seo Yeonggi yeonggam masih berpangkat letnan di Biro Kepolisian. Seo yeonggam menceritakan bahwa Seo daegam menemukanku yang baru berusia satu hari, bersama ibuku yang tengah sekarat, yang kemudian memutuskan untuk merawatku selayaknya anak kandung sendiri. Aku memiliki darah dan ras yang berbeda dari semua orang, ibuku bukan berasal dari negeri ini. Oleh karena itu aku tidak diperbolehkan untuk keluar rumah untuk menghindari orang-orang yang mungkin akan mencelakaiku, dan para pengawal pribadi dipekerjakan untuk menjaga keamanan rumah ini. Daegam memberikan kamar rahasianya untuk kutempati, agar dapat bersembunyi dengan mudah bila terjadi hal-hal yang darurat."
"Tahun berapa kau lahir?"
"1676. Dan sayangnya Seo daegam meninggal di tahun 1681, lebih tepatnya dibunuh oleh Faksi Selatan, akibat dari perseteruan politik antar faksi di Majelis Dewan Kerajaan. Sayangnya Kepala Biro Kepolisian yang menjabat saat itu menutup kasus dengan menyatakan bahwa daegam dibunuh oleh kawanan perampok, dan Seo yeonggam tak mampu melawan kehendak pimpinan." Mata amber-nya meredup. "Seo yeonggam melanjutkan tugas untuk merawatku yang masih berusia 6 tahun, dan mempekerjakan guru pribadi untuk mengajariku literatur. Yeonggam juga mengajariku berkuda, memanah dan menggunakan pedang. Dia mengatakan bahwa keahlian ini pasti akan kubutuhkan suatu saat nanti."
Kid memang menjawab pertanyaannya dengan jujur, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Namun jawaban yang dia berikan juga menimbulkan pertanyaan baru di kepala pemuda itu.
Tahun 1676. Kid lebih muda tiga tahun dari Law. Berarti Kid bukanlah anak yang lahir dari kekacauan di Doseong pada tahun 1672. Seingat pemuda itu, semua orang yang bukan merupakan penduduk asli negeri ini telah diusir sejak kekacauan itu terjadi. Namun Kid menyatakan bahwa ibunya berasal dari ras lain. Apakah itu berarti … ada yang lolos dari pengusiran ketika itu?
Selain itu, mengapa Seo daegam mau merepotkan diri merawat, memberikan semua fasilitas terbaik dan keamanan kepada bayi dengan asal-usul yang tak jelas? Hanya sekadar kasihan? Jika iya, Kid bisa saja dirawat sebagai budak, menjadi pekerja kasar di rumahnya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dia semakin tak mengerti.
Suara pintu yang dibuka membuyarkan lamunan Law. Di depan pintu, Kid sudah berganti pakaian, menggunakan gugunbok khusus yang dipakai para pengawal kerajaan. Kid tampak menawan menggunakan gugunbok merah marun yang menjadi ciri khas pengawal kerajaan berpangkat rendah, dan Law selalu mengagumi pemuda yang lebih muda darinya itu.
"Aku akan kembali ke istana dan menemui Seo yeonggam. Tunggulah sebentar lagi, kami akan membawamu kembali dan menyelesaikan kasus ini."
Law mengangguk. Kid bersama sang kepala pengawal pasti tahu apa yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan, dan Law mempercayakan semuanya kepada kedua orang itu. Dia harus kembali ke istana dengan selamat dan memberikan kesaksian atas pengkhianatan yang terjadi di Mohwagwan. Yang lebih penting, Arsip Registrasi tidak jatuh ke tangan para pelaku kejahatan yang ingin membahayakan stabilitas dan keamanan kerajaan.
Kid mendekati sebuah laci yang terletak di sudut kanan, membuka dan mengeluarkan sebuah pakaian dari dalam laci tersebut. Sebuah hanbok yang indah berwarna biru muda tergenggam di tangannya. Kemudian dia kembali duduk di hadapan Law.
"Gantilah pakaianmu dengan hanbok ini. Rumah ini memang sangat aman, tetapi kita tidak bisa menebak tindakan licik apa lagi yang sedang direncanakan Jang Hee Jae. Paling tidak, mereka tidak akan mudah mengenalimu jika mengenakan pakaian lain." Kid berujar sembari menyerahkan pakaian itu kepada Law. "Aku harap pakaian ini pas dengan ukuranmu. Ini adalah pakaian milikku ketika berusia 11 atau 12 tahun, ketika aku diterima dalam pasukan tentara militer kerajaan."
Law menatap pakaian yang diberikan Kid dengan perasaan campur aduk. Dia adalah seorang budak, yang seumur hidup tak pernah merasakan kemewahan, tak berhak mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan berkualitas tinggi. Apalagi hanbok yang sekarang telah berpindah ke tangannya itu terbuat dari kain sutra yang amat halus, yang hanya bisa dibeli dan dipakai oleh golongan yangban. Senang, takut dan segan; itulah yang dirasakan si pemuda bermata keperakan.
"Apa … tidak sebaiknya aku memakai pakaian milik salah satu pelayan saja? Pakaianmu terlalu bagus, aku takut ini malah akan menarik perhatian," tolak Law takut-takut.
Kid menggeleng sambil tersenyum kecil. "Pelayan di rumah ini tidak ada yang setinggi kau. Pakaian mereka pasti terlalu pendek untukmu. Tidakkah itu yang akan lebih menarik perhatian?"
Betul. Sekali lagi Law menyalahkan tinggi badannya yang di atas rata-rata, sehingga dia selalu kesulitan mencari pakaian dengan ukuran yang lebih panjang. Sejauh yang dia perhatikan, hanya Kid yang bisa menyaingi tinggi badannya. Pemuda berambut merah itu bahkan mampu menyembunyikan dirinya dari kejaran pengawal Qing hanya dengan tinggi yang menjulang. Rona merah muda menjalar perlahan di pipi pemuda itu ketika mengingat pelukan mereka, yang dengan misterius memberikan kenyamanan untuknya. Ah, jangan lupakan genggaman tangan Kid selama perjalanan mereka menuju rumah Kepala Pengawal Seo. Tangan yang besar dan hangat, melingkupi jemarinya serta memberikan pelindungan. Law bisa merasakan panas di pipinya semakin menjadi.
"Jadi … aku harus memakai ini?" tanya Law sekali lagi, menepis perasaan-perasaan aneh itu.
"Demi keamanan, ya," jawab Kid tegas.
Setelah pelukan dan genggaman tangan yang hangat, sekarang Law harus memakai pakaian milik pemuda di
hadapannya ini? Oh, Tuhan! Law mendesah dalam hati.
…
Kid keluar dari rumah diikuti oleh pelayan setia keluarga Seo di belakangnya. Sepasang mata amber itu terlihat awas, melirik ke beberapa titik yang dijaga oleh pasukan mata-mata di bawah komandonya. Para pengawal pribadi di sekeliling rumah juga telah bersiap siaga menjaga keamanan rumah itu. Seharusnya semuanya akan aman terkendali, tapi siapa yang bisa menduga rencana apa yang ada di kepala Jang Hee Jae yang terkenal akan kelicikannya? Dia hanya bisa melakukan tindakan pencegahan dan memberikan perlindungan semampu yang dia bisa, sembari berharap bahwa tak akan terjadi sesuatu pada Law selama kepergiannya ke istana.
Pemuda berambut merah itu menghela napas pelan, kemudian berujar kepada si pelayan, "Ahjussi, aku akan ke istana untuk menemui yeonggam dan secepatnya kembali. Jika terjadi sesuatu, segera kirimkan kurir untuk menyampaikan pesan darurat kepadaku dan Seo yeonggam."
"Baik, Tuan Muda. Saya berjanji akan berusaha melindungi pemuda itu, dan dia akan baik-baik saja sampai Anda dan yeonggam kembali."
"Aku mengandalkanmu, ahjussi," ucap Kid terakhir kali, walau hatinya meragu.
Setelahnya, Kid melangkahkan kaki menuju istana. Tanpa menyadari bahwa sekelompok pasukan Biro Investigasi tengah bergerak menuju rumah tersebut dari arah yang berlawanan.
TBC
Author's Note:
Mohon maaf atas keterlambatan untuk posting chapter 5 ini *deep, deep bow*
Kembali ku mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah membaca, meninggalkan review dan menyukai cerita ini. Dukungan kalian menjadi powerboost bagiku untuk tetap menuliskan lanjutan dari cerita ini.
Dan, sebuah fanart telah dipersembahkan oleh Ramesari, sahabat, artist KidLaw, dan anggota SKKL yang pure dan innocent, untuk fic ini. Silakan cek harta karunku di Instagram, Facebook Page dan Tumblr blog Leenahanwoo, atau langsung cek di blog sang artist Ramesari di ramesari (titik) tumblr (titik) com
Anyway, last but not least, would you mind to leave any review?
Review Reply:
Reisan19: Ah. Mudah-mudahan aku tidak akan discontinue fic-ku lagi ^^ Aku ingin mempersembahkan yang terbaik untuk semua reader-ku, dan terima kasih telah mengikuti cerita ini ^^
Cho Eun Min: Ah, ternyata Daddy-mu ini tak mampu menyelesaikan dengan cepat, nak. Maafkanlah. Proyek dan pekerjaan menumpuk. Selamat menikmati chapter yang lezat ini ya ^^
Vira D Ace: Maaf karena aku tak mampu menyelesaikan chapter ini dengan cepat. Tapi selamat menikmati lanjutan ceritanya ^^
