Title : [애별리(Love, Separate, Leave)] Chapter 6 - Bahaya

Genre : Saeguk, Shounen-ai

Rating : T

Length : Chaptered with 4.565 words

Author : leenahanwoo

Pairing: Kid x Law

Cast : Eustass Kid, Trafalgar Law and OC. Cast lain akan muncul seiring berjalannya cerita.

Warning : SHO-AI Content ! Don't like don't read ! OOC-ness is everywhere !

Disclaimer : All One Piece casts are Eiichiro Oda-sama's. This story and OC are mine.


NOTE: TELAH HADIR CHAT GRUP ANIME + K-POP FANDOM. Bagi yang memiliki akun LINE, silakan add saya dengan ID leenahanwoo, dan nanti akan saya invite ke chat grup ini ^^ Mari kita lestarikan fandom Anime dan KPOP di bumi pertiwi Indonesia ‼!


Glossary:


Momahye: Sepatu yang alasnya ditutupi dengan bulu binatang, biasanya digunakan oleh para perampok untuk menghilangkan suara langkah kaki.

Yo: Kasur lipat seperti futon

Jipsin: Sandal yang terbuat dari jerami, dipakai oleh orang-orang biasa dan para pelayan untuk kegiatan sehari-hari.

Heukhye: Sepatu sehari-hari yang dipakai oleh kalangan menengah ke atas, pejabat dan pegawai pemerintah, dan juga para murid dan sarjana.

-Untuk glossary lain, bisa dicek pada chapter sebelumnya-


##++~ Love, Separate, Leave ~++##


Kid berjalan dengan langkah tegas menuju kantor Pengawal Kerajaan. Mata beriris amber miliknya memandang awas ke setiap arah, memastikan bahwa dia tidak diikuti. Dia bertemu dengan beberapa pengawal kerajaan lain sebelum tiba di kantor Kepala Pengawal, bertegur sapa seperlunya agar tak mengundang curiga. Merasa bahwa keadaan cukup aman, dia memasuki ruang kantor yang sepi.

"Oh, kau sudah kembali." Hanya ada sosok wakil kepala pengawal yang berada di dalam kantor tersebut dan menyambut kedatangannya. Sementara sang kepala pengawal tak terlihat di manapun.

"Ya, naeuri. Di mana Seo yeonggam?" tanya Kid.

"Dia sedang berada di Huijeongdang. Yang Mulia memanggilnya. Mereka mungkin sedang berdiskusi secara pribadi dan tidak boleh diganggu oleh siapa pun hingga jam santap malam berakhir."

"Apa?" Raut kecemasan tampak di wajah Kid. Dia harus segera memberitahukan perihal Law dan Arsip Registrasi kepada sang kepala pengawal, sebelum orang-orang Jang Hee Jae menemukan pemuda berambut kelam itu.

"Ada apa, Kid? Apa terjadi sesuatu di Mohwagwan?"

Pengawal itu meneguk ludah berat. Dia seharusnya menyampaikan ini langsung kepada Kepala Pengawal Seo, tetapi Wakil Kepala Nam juga berhak untuk tahu. Dia pasti bisa membantu Kid untuk menemui sang kepala pengawal dengan segera.

Sedetail mungkin Kid menceritakan apa yang terjadi selama dia dan pasukan mata-mata mengawasi Mohwagwan, mulai dari Law yang dikejar oleh pengawal Qing, hingga pada akhirnya dia yang memutuskan untuk menyembunyikan budak itu di kamar rahasia milik mendiang Seo daegam. Wakil Kepala Nam mendengarkan dengan ekspresi tak menentu; cemas, terkejut, dan marah melebur di raut wajah kerasnya.

"Jang yeonggam itu …!" geramnya. "Jadi dia mengirim para pembunuh bayaran untuk menangkap dan menghabisi Law?"

"Saya kira begitu, karena orang-orang itu memakai momahye. Untunglah saya bisa mengatasi mereka, tapi kita tidak tahu langkah apa lagi yang sedang direncanakan oleh Jang yeonggam selanjutnya," sahut Kid. "Naeuri, kita harus segera memberitahukan hal ini kepada Kepala Pengawal sebelum orang-orang Jang Hee Jae bergerak kembali."

"Aku mengerti." Wakil Kepala Nam segera bangkit dari kursi dan bergegas memakai jeonrip miliknya, bersiap keluar dari kantor. "Kita akan mencoba menemui Seo yeonggam di Huijeongdang. Berharaplah Yang Mulia dan yeonggam telah selesai berdiskusi."

"Baik, naeuri." Kid mengikuti langkah sang wakil kepala pengawal menuju Huijeongdang.

.

.

Law memandangi pantulan sebuah cermin kecil di sudut ruangan. Hanbok sutra berwarna biru muda yang seumur hidup belum pernah dia rasakan kehalusannya secara langsung, sekarang tengah membalut tubuhnya. Sekali lagi pemuda itu meraba pakaian yang sedang dia kenakan. Hanbok itu masih tampak bagus sekali, sekalipun Kid berkata bahwa itu baju lama miliknya. Dan hawa panas merayap kembali di wajah Law. Pakaian yang sedang dia kenakan adalah milik Kid, dan hal itu membuat pipinya merona. Sial, ada apa denganku? umpatnya dalam hati.

Menggelengkan kepala, Law kembali menepis perasaan aneh yang menggerogoti kalbu. Dia harus fokus. Betul. Dua buah buku Arsip Registrasi tergeletak di samping cermin, benda yang harus dia bawa kembali ke istana dengan selamat, serta membantu Pengawal Kerajaan untuk menangkap para pelaku yang berusaha merebut dokumen penting milik Joseon itu. Pemuda bermata keperakan itu menarik napas panjang. Ini adalah bentuk pengabdian kepada kerajaan, yang akan dia lakukan sekalipun nyawa menjadi taruhan.

Suara langkah kaki tergesa terdengar lamat-lamat dari luar kamar rahasia, membuat Law menajamkan telinga dan bersiaga. Kid telah berpesan bahwa hanya dia, Kepala Pengawal Seo dan pelayan setianya yang mengetahui tempat ini, jadi seharusnya hanya merekalah yang bisa menemuinya. Namun tetap saja dia tak boleh lengah. Pemuda itu hanya berharap bahwa itu adalah si pelayan, yang telah mendapat kabar dari istana.

"Law-ssi, Law-ssi." Sahutan sayup menyapa pendengaran Law, membuat pemuda itu menarik napas lega. Itu adalah suara si pelayan rumah.

"Ya, ahjussi," jawab Law ketika pintu kamar telah dibuka.

"Pasukan dari Biro Investigasi Kerajaan tiba-tiba saja mendatangi rumah ini. Mereka mencari Seo yeonggam, namun saya rasa mereka memiliki maksud lain yang tersembunyi."

"Apa?" Law merasakan sesuatu yang mencurigakan, dan perasaan itu kuat, tak mampu ia tepis.

"Sedapat mungkin kami akan menahan mereka. Pasukan mata-mata yang berjaga di luar rumah telah bergabung dengan para pengawal pribadi, dan akan melindungi rumah ini. Mohon Anda tenang dan bersabar."

"Aku mengerti. Ahjussi …," pemuda itu berhenti sejenak, dan barulah teringat apa yang ingin dia tanyakan sedari tadi, "… apakah sudah ada kabar dari Kid dan Seo yeonggam?"

Pelayan itu menggeleng. "Kami sudah mengirimkan kurir tercepat untuk memberitahukan perihal kedatangan pasukan Biro Investigasi ke rumah ini. Semoga saja kurir itu segera kembali membawa kabar baik."

Law mendesah tanda kekhawatiran. Dia terlindungi, ya, untuk sementara waktu. Namun dia tak bisa meremehkan kekuatan Biro Investigasi Kerajaan Joseon. Walaupun biro itu hanyalah sebuah instansi untuk menyelidiki masalah-masalah yang mengancam kedaulatan kerajaan, namun pemuda itu pernah mendengar bahwa pasukan Biro Investigasi juga dibekali keterampilan militer selayaknya pasukan Pengawal Kerajaan, Biro Kepolisian dan tentara kerajaan di bawah Lima Komando Militer dan Badan Kepengurusan Perang.

"Berapa banyak orang di dalam pasukan Biro Investigasi yang datang ke rumah ini, ahjussi?" tanya Law sekali lagi.

"Tidak termasuk Kepala Pengawas Ketiga dan Letnan Biro Investigasi, mungkin ada sekitar lima belas hingga dua puluh orang."

"Kepala Pengawas Ketiga?" Bahkan salah satu pimpinan tinggi Biro Investigasi? Kekuasaan Jang Hee Jae benar-benar di luar kewenangannya, padahal dia hanyalah Kepala Biro Perjamuan. Dan bahkan pejabat itu harus melibatkan Biro Investigasi Kerajaan hanya untuk mengatasi budak lemah seperti dirinya.

"Ya. Saya yakin pengawal di rumah ini bisa mengatasinya. Tapi kita tidak tahu apakah mereka akan berhasil mematahkan pertahanan rumah ini. Oleh karena itu, saya telah menunjuk seseorang untuk membantu Anda melarikan diri jika terjadi hal-hal yang darurat."

Pelayan itu memanggil seseorang yang tampaknya sedang berdiri menunggu di pintu masuk perpustakaan. Law mengernyit curiga, namun orang yang dipanggil kelihatannya adalah seorang budak pekerja di rumah itu, terlihat dari pakaian lusuh yang dipakainya. Kulit wajahnya pucat dengan bekas luka permanen di beberapa bagian termasuk tulang pipi dan dagu. Mata beriris hitam itu tampak sayu, namun memancarkan kelembutan yang Law sukai. Rambut berwarna biru mudanya dibiarkan memanjang dan tak terawat. Darah campuran lagi? Dia berdiri dengan wajah setengah menunduk sopan, namun tetap saja dia jauh lebih tinggi dari dirinya, bahkan tampaknya lebih tinggi pula dari Kid.

"Kau sudah mengerti apa tugasmu, bukan?" tanya si pelayan.

"Ya, ahjussi." Suaranya sedikit serak dan bernada rendah, namun lagi-lagi Law bisa merasakan kelembutan dari nada suara si budak berambut biru muda itu. "Bila keadaan tak terkendali, saya harus membawa Law-ssi pergi melalui jalan rahasia."

"Aku mempercayakan tugas ini padamu," ujarnya untuk yang terakhir kali. "Law-ssi, saya akan kembali ke rumah utama untuk mengecek keadaan. Mohon Anda menunggu di sini dengan sabar."

"Baik."

Setelah pelayan itu menutup pintu, Law mengajak si budak masuk ke dalam ruang rahasia, kembali duduk di depan cermin dan memasukkan Arsip Registrasi ke balik hanbok yang dia pakai. Apapun yang akan terjadi, dia harus menyelamatkan dokumen penting ini di atas nyawanya. Ketegangan tampak jelas di wajah pemuda itu, namun hati terasa sedikit lega karena dia tak lagi sendirian.

"Duduklah di sini bersamaku. Status kita sama-sama budak, kau tidak perlu bersikap segan kepadaku," ujar Law sembari memandang budak yang terus berdiri di sudut ruangan.

"Ya? Tapi … Anda adalah tamu Tuan Muda." Ragu-ragu dia membalas.

"Aku hanya seseorang yang sedang berusaha diselamatkan oleh Kid, bukan betul-betul seorang tamu." Pemuda berambut kelam itu tersenyum. "Duduklah di sini, aku ingin mengenalmu."

Rasa ingin tahu Law memenuhi pikiran. Dia tak pernah melihat orang lain dengan darah campuran selain Kid. Oleh karena itu, dia ingin mengenal budak di hadapannya, mengetahui sejarah dan kisah hidupnya. Toh mereka sama-sama budak, bukan? Seharusnya tak ada masalah.

"Siapa namamu, dan apa pekerjaanmu? tanya Law lagi.

Masih tampak dengan jelas keraguan terpancar di wajah budak milik keluarga Seo itu, namun dia tetap menjawab pertanyaan Law dengan suara setengah berbisik, "Nama saya Heat, dan saya adalah budak penjaga gudang makanan."

"Kau berdarah campuran juga? Berapa usiamu?"

"Maaf, tapi, Law-ssi, apakah tidak sebaiknya saya menunjukkan jalan rahasia yang akan kita gunakan untuk melarikan diri?" Keraguan itu makin jelas terlihat. Keengganan terselip dari nada suaranya, dan dia pun tak menjawab pertanyaan Law yang terakhir.

Law masih ingin bertanya lebih lanjut, namun dia tidak boleh bersikap egois di tengah keadaan genting seperti ini. Pasukan Biro Investigasi bisa saja berbuat nekat; membantai pasukan yang bertugas menjaga rumah ini, dan kemudian menemukan mereka kapan saja. "Baik, maafkan aku. Silakan kau tunjukkan jalannya."

Budak bernama Heat itu mengangguk, kemudian berjalan ke arah lemari pakaian. Ukuran lemari di kamar tersebut cukup besar, tertanam di dinding yang panjang. Dia membuka lemari, menyingkirkan tumpukan yo dan bantal di dalamnya, kemudian meraba papan lemari bagian belakang. Papan di dalam lemari itu ternyata berlapis ganda, dan bisa digeser setelah ditekan dengan kuat. Law hanya terdiam ketika Heat berhasil menekan dan mendorong papan berlapis itu. Di balik papan adalah area kecil di balik gudang penyimpanan makanan, dan sebuah pintu kecil tempat para budak keluar masuk terletak tak jauh dari pintu rahasia. Pemuda bersurai kelam itu terpana melihat betapa rumitnya rumah milik kediaman keluarga Seo tersebut.

"Jika terjadi hal-hal darurat, saya akan membawa Anda keluar dari rumah melalui pintu ini. Tapi saya tidak yakin ke mana seharusnya saya membawa …"

"Bawa aku ke istana," potong Law. "Apa itu memungkinkan?"

Dia sendiri tidak yakin apakah dia masuk ke dalam lingkungan istana atau tidak. Betul jika dia masih memiliki tanda perintah keluar masuk istana dari Biro Musik, namun yang dia pegang adalah tanda perintah untuk para budak. Dengan pakaian yang dia kenakan saat ini, apakah penjaga gerbang istana akan percaya bahwa pemuda itu adalah seorang budak yang bekerja di istana? Rasanya agak mustahil, tapi tak ada salahnya untuk mencoba.

"Saya tidak tahu apakah saya bisa membawa Anda ke istana. Saya sendiri tak memiliki papan izin keluar masuk istana." Heat menjawab seadanya

Law menggigit bibir. Apa yang harus dia lakukan? Andai saja Kid telah tiba di rumah ini …

Suara jeritan disertai hentakan pedang beradu menggema hingga ke tempat Law dan Heat berada, membuat kedua orang itu tersentak. Pasukan Biro Investigasi tentu mulai menyerang rumah ini, dan perut pemuda itu terasa teraduk oleh ketegangan.

"A-apa saya perlu mengecek keadaan di luar, Law-ssi?" tanya Heat dengan suara bergetar.

Dia harus bertindak cepat. Ya, dia harus memutuskan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. "Tutup pintu rahasia itu, Heat. Kita bersembunyi dahulu di dalam kamar. Jangan sampai ada yang menemukan tempat ini," perintah Law.

Dengan segera, budak berambut biru muda itu menutup pintu rahasia dan mereka kembali berada di dalam kamar, menyembunyikan diri lebih lama sembari mengamati perkembangan situasi. Suara pertarungan sayup-sayup terdengar, mulai dari denting pedang hingga tarikan panah dari busurnya. Para pengawal pribadi yang dipekerjakan oleh Kepala Pengawal Seo beserta pasukan mata-mata di bawah pimpinan Kid bertaruh nyawa demi melindungi rumah ini, agar Law dan kedua Arsip Registrasi tak kembali jatuh ke tangan orang-orang yang ingin menggunakannya untuk kepentingan pribadi dan golongan.

.

.

Kid telah beberapa kali menapakkan kaki ke area Huijeongdang, namun dia selalu terpesona dengan ketenangan yang terpancar dari tempat itu. Ketika Kid mulai bertugas di Satuan Pengawal Kerajaan dan ditempatkan sebagai kepala pasukan mata-mata, itulah saat di mana Raja Sukjong mulai mengenal dirinya. Sang raja gemar sekali pergi ke luar istana dalam penyamaran, dan Kepala Pengawal selalu menugaskan dirinya agar menjadi pengawal pribadi raja selama masa-masa itu. Raja Sukjong menyukai dirinya yang kuat, cepat tanggap dan mampu menjaga sang raja dengan baik; paling tidak, itulah yang dikatakan sang kepala pengawal kerajaan. Dia boleh berbangga hati karena dipercaya oleh Raja Joseon, dan bahkan diperbolehkan mengantar Raja Sukjong hingga ke Huijeongdang setelah selesai bepergian.

"Mohon maaf, Wakil Kepala Nam. Tetapi Yang Mulia telah bertitah untuk tidak mengizinkan siapa pun mengganggu diskusinya bersama Kepala Pengawal Seo," ujar Kepala Kasim Han.

"Tapi ini adalah hal yang darurat sekali. Bisakah Anda menyampaikan hal ini pada beliau?"

Sang kepala kasim tampak berpikir. "Akan saya coba sampaikan. Mohon menunggu."

Setelahnya, dia berbalik dan berjalan menuju pintu masuk Huijeongdang. Baru saja kepala kasim Joseon itu hendak membuka pintu, Raja Sukjong diikuti Kepala Pengawal Seo di belakangnya telah membuka pintu terlebih dahulu dan keluar dari ruang utama Huijeongdang. Dengan dahi mengernyit, sang raja bertanya, "Ada apa ini?"

Wakil Kepala Nam dan Kid segera membungkuk memberi hormat kepada Raja Sukjong. Dengan nada menyesal, wakil kepala pengawal kerajaan itu menjawab, "Mohon maaf jika kami telah mengganggu, namun ada masalah darurat yang harus segera kami dibicarakan dengan Kepala Pengawal Seo, Yang Mulia."

Raut wajah sang kepala pengawal kerajaan berubah khawatir. Setelah sang raja mengizinkan dirinya untuk undur diri, dia pun segera menghampiri Wakil Kepala Nam dan anak asuhnya, kemudian berjalan menjauhi pintu masuk Huijeongdang. "Ada masalah apa? Cepat katakan padaku!"

Wakil Kepala Nam menatap Kid, menyuruh pemuda itu untuk menjelaskan detail permasalahan yang tengah mereka hadapi. Namun sebelum Kid berbicara, sesosok pengawal kerajaan diikuti oleh seorang budak di belakangnya berlari ke arah Huijeongdang. Mereka mengenali budak itu sebagai salah satu pekerja dari rumah pribadi keluarga Seo.

"Apa yang terjadi?" tanya Kepala Pengawal Seo ketika pengawal kerajaan itu telah tiba di hadapan mereka.

"Budak ini membawa pesan darurat dari kediaman Anda, yeonggam."

Belum lagi sang kepala pengawal berkata apa-apa, Kid langsung memotong dan berseru dengan panik, "Apakah telah terjadi sesuatu di rumah?"

"Ya, Tuan Muda. Pasukan Biro Investigasi yang dikepalai oleh Kepala Pengawas Ketiga tiba-tiba saja mendatangi kediaman yeonggam. Saya diperintahkan oleh Im ahjussi untuk menyampaikan pesan darurat ini secepatnya."

"Apa?" Kid tidak menyangka jika Biro Investigasi Kerajaan juga akan terlibat dalam permasalahan ini. Betapa dia ingin menyumpahi keteledorannya dalam memperkirakan seberapa luas kekuasaan Jang Hee Jae. Tentu saja dia selalu bisa meminta bantuan dari biro itu, karena sebagian besar dari para pimpinan Biro Investigasi berasal dari Faksi Selatan. "Law. Bagaimana keadaannya?"

"Sebelum saya pergi, Im ahjussi sedang mencoba menahan pasukan itu agar tak memasuki areal rumah. Saya tidak tahu apakah mereka masih berusaha menerobos masuk atau tidak, tetapi para pengawal pribadi beserta pasukan mata-mata yang Anda pimpin telah bersiap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan. Heat sudah diperintahkan untuk mendampingi tamu Anda, dan membantunya melarikan diri melalui pintu rahasia jika keadaan benar-benar genting."

Kid sedikit lega mendengarnya, namun bukan berarti dia dapat tenang. Law dalam bahaya, dan dia harus segera menolong pemuda itu.

"Kid, jelaskan padaku apa yang sedang terjadi," titah Kepala Pengawal Seo.

Wakil Kepala Nam dengan tenang berkata, "Sebaiknya kita mendiskusikan ini sembari kembali ke kantor, yeonggam."

Ya, Kid pun berpikir demikian. Semakin cepat semakin baik, sehingga dia dapat mencari cara terbaik untuk menolong Law. Mungkin pula dia akan memerlukan beberapa orang prajurit dari Pengawal Kerajaan untuk membantunya.

'Bersabarlah, Law. Aku akan segera ke sana.'

.

.

Oh Yoon baru saja menjabat sebagai Kepala Pengawas Ketiga ketika Hee bin diangkat menjadi Ratu Joseon. Dia tahu betul, dengan tingginya jabatan yang dia pegang saat ini, ada peran Jang Hee Jae di baliknya. Tentu saja, akan ada timbal balik yang diinginkan oleh kakak kandung Ratu Jang yang licik itu. Tapi dia tidak pernah menyangka bahwa Jang Hee Jae memintanya untuk mengatasi tikus kecil yang bersembunyi di kediaman Kepala Pengawal Seo. Dia pun menggerutu, merasa geli sekaligus geram karena harus repot-repot menggunakan prajurit Biro Investigasi hanya untuk urusan sepele seperti ini.

"Naeuri, para pengawal pribadi Seo yeonggam berhasil ditaklukkan. Tetapi pasukan mata-mata Pengawal Kerajaan masih tetap bertahan," lapor Letnan Hong.

"Lanjutkan serangan. Kemampuan mereka belum sebanding dengan para prajurit Pengawal Kerajaan yang menjaga istana. Seharusnya prajurit kita mampu mengalahkan mereka," sahut Oh Yoon.

"Baik!"

Asumsi awal Yoon bahwa Jang Hee Jae hanya mempermainkan dirinya ternyata salah besar. Pengawal pribadi milik sang kepala pengawal cukup membuat pasukan yang dia bawa kewalahan, ditambah pula dengan pasukan mata-mata Pengawal Kerajaan yang turut menjaga rumah itu. Menangkap seorang budak tak akan semudah yang dia bayangkan, karena perlindungan ketat dari rumah Kepala Pengawal Seo tak bisa dianggap remeh. Pantas saja jika Jang Hee Jae sampai harus meminta bantuan darinya. Tapi Oh Yoon telah berjanji bahwa dia akan membawa tikus kecil itu di hadapan Jang Hee Jae. Ya, dia tidak boleh menyerah di titik ini.

.

.

Law kembali menatap Heat untuk yang kesekian kalinya. Dia bisa melihat bagaimana tangan kurusnya bergetar, tak pernah menghadapi situasi semacam ini. Law pun merasa takut sama seperti dirinya, tetapi dia harus bertahan, jika ingin menyelesaikan semuanya hingga akhir. Suara pertarungan masih belum berakhir, Law yakin pengawal pribadi milik Seo yeonggam ditambah pasukan mata-mata mampu menahan serangan prajurit Biro Investigasi. Yang dia ragukan, apakah Kepala Pengawal Seo telah mengetahui perihal Arsip Registrasi dan dirinya yang bersembunyi di kediaman keluarga Seo? Apakah Kid akan datang tepat waktu untuk menyelamatkannya lagi, seperti yang dia lakukan di Mohwagwan?

"Heat, ke arah mana jalur tercepat menuju istana dari pintu keluar masuk budak itu?" tanya Law, berusaha mengenyahkan ketegangan yang dia rasakan.

Heat memandang Law sejenak, mungkin berusaha mengingat-ingat. "Jika dari jalur belakang, istana terletak di arah utara, dan Anda dapat mencapainya kurang lebih sepuluh menit."

"Kau akan ikut denganku, bukan?"

Budak itu mengangguk. "Saya telah diperintahkan untuk menjaga Anda, dan saya akan ikut mendampingi ke mana pun Anda pergi."

Law tersenyum mendengarnya. Namun sedetik kemudian suara dobrakan pintu terdengar sangat jelas, membuat senyum pemuda itu luntur seketika. Dengan cepat Law dan Heat berdiri, mencoba mendengar apa yang sedang terjadi. Suara itu berasal dari pintu perpustakaan, dan tak lama suara hentakan kaki menyusuri lantai pun menyusul. Berarti pasukan Biro Investigasi berhasil mematahkan perlawanan semua pengawal dan prajurit yang bertugas melindungi rumah ini, raung Law dalam hati.

"L-Law-ssi …." Suara Heat bergetar. Tentu dia merasa ketakutan, namun dia tetap menahan diri.

Suara derap langkah lainnya kembali terdengar, disusul dengan suara buku dan benda-benda berjatuhan. Mereka pastilah sedang berusaha menggeledah ruang perpustakaan.

"Cepat atau lambat mereka pasti akan segera menemukan kita. Tempat ini sudah tidak aman. Kita harus segera pergi dari sini," perintah Law.

"Baik." Heat mengangguk setuju dan segera membuka kembali pintu rahasia. Dengan cepat keduanya keluar melalui pintu tersebut, dan menutup kembali pintu tersebut agar tak menimbulkan curiga. Setelahnya, mereka berlari ke arah pintu keluar masuk para budak.

"HEI, SIAPA DI SANA?"

Terdengar suara teriakan dari arah gudang makanan tepat ketika Law dan Heat telah berada di jalanan yang sepi. Keduanya tak berani menoleh dan berjalan sebagaimana pejalan kaki biasa agar tak menimbulkan curiga. Kepala Pengawas Ketiga beserta beberapa orang bawahannya telah menggeledah hingga ke arah gudang makanan.

"Mereka mungkin hanya pejalan kaki biasa, yeonggam. Lihat saja, dia memakai baju yangban. Mungkin anak salah satu pejabat," ujar Letnan dari Biro Investigasi Kerajaan.

"Anak pejabat berjalan tanpa tandu?" komentar Oh Yoon. Law bisa merasakan mata pejabat Biro Investigasi itu menyusuri tubuhnya lekat-lekat tanpa terlewati satu jengkal pun. "DAN ANAK PEJABAT MANA YANG MEMAKAI JIPSIN?"

Sial, sial, sial. Law menyadari kebodohannya dalam penyamaran ini. Tentu saja Kid hanya memberikan sebuah pakaian yangban. Paling tidak seharusnya dia memakai heukhye untuk bisa mengelabui pengamatan cermat para prajurit Biro Investigasi. Tanpa basa-basi Law dan Heat berlari menjauhi tempat itu. Dia dapat mendengar langkah-langkah berderap mengejar keduanya. Dia harus bisa mencapai istana sebelum mereka menangkapnya. Harus!

.

.

Setelah Kepala Pengawal Seo mendengar semua penjelasan Kid dan Wakil Kepala Nam, kepala pengawal kerajaan itu segera memerintahkan dua regu pasukan Pengawal Kerajaan untuk pergi ke kediamannya sebagai bala bantuan tambahan. Satu regu diketuai oleh Wakil Kepala Nam, sementara Kid memegang regu lainnya. Pasukan itu segera berangkat, bersama dengan Kepala Pengawal Kerajaan yang memimpin di depan.

Ketika tiba di rumah kediaman milik sang kepala pengawal, tak ada satu pun tak mampu berkata lebih banyak. Keadaan rumah yang kacau balau, ditambah para pengawal pribadi serta anggota pasukan mata-mata yang sekarat tampak tergolek di berbagai penjuru. Hal itu sudah cukup membuktikan bahwa telah terjadi pertarungan yang begitu sengit antara kedua kubu, namun pasukan Biro Investigasi berhasil menumbangkan pertahanan rumah. Tanpa basa-basi Kid berlari ke arah perpustakaan, hanya untuk menemukan tempat tersebut telah diubrak-abrik secara tidak manusiawi. Namun tampaknya mereka tidak berhasil menemukan pintu masuk ke ruang rahasia, karena lemari yang menutup pintu tersebut masih dalam keadaan cukup rapi; hanya beberapa benda saja yang terlihat berantakan di sekitarnya. Pemuda itu dengan cepat membuka pintunya, namun dia hanya mendapati ruangan kosong, serta baju budak milik Law yang diletakkan dengan rapi di samping cermin. Kid menggeram sambil mengepalkan tangan erat-erat. Law berhasil pergi melalui pintu darurat lain, namun hal itu berarti dia sedang berada dalam bahaya yang lebih besar.

"Kau menyembunyikan Law di sini?" tanya Kepala Pengawal Seo saat dia berhasil menyusul Kid ke dalam ruang perpustakaan.

"Ya, karena menurutku ruangan ini adalah tempat yang paling aman. Tapi pasukan Biro Investigasi berhasil menumbangkan penjagaan rumah yang ketat, dan tentulah mereka harus melarikan diri dari pasukan itu."

"Kita harus segera menemukan Law," putus sang kepala pengawal. "Dia pasti sedang berusaha mencapai ke istana. Aku dan Wakil Kepala Nam akan menyusuri jalan depan, sementara kau menyusuri jalan belakang."

Kid mengangguk. "Kita harus berhasil menemukannya, sekaligus meringkus para penjahat …."

Perkataan Kid terhenti ketika matanya memicing ke arah pakaian budak milik Law. Ada yang janggal pada pakaian itu, dan membuatnya melangkahkan kaki ke arah cermin. Dengan satu tangan, dia mengecek tumpukan helai pakaian di samping cermin, dan sebuah benda tak terduga membuatnya terkejut bukan main.

"Astaga!"

.

Law berusaha menetralkan napasnya yang tersengal. Heat terduduk di sebelahnya dengan keadaan tak jauh berbeda, bermandikan peluh sembari bersandar pada dinding pagar rumah kosong tempat mereka bersembunyi dari kejaran pasukan Biro Investigasi. Mereka terpaksa berbelok ke arah barat, menuju rumah-rumah kosong yang dilewati olehnya bersama Kid sebelum bersembunyi di kediaman keluarga Seo. Para pasukan biro tersebut memang tidak bisa dianggap remeh; mereka tak kalah tangkas dengan tentara resmi. Sangat sulit melarikan diri, namun Law harus berhasil mencapai istana bagaimanapun caranya.

"Heat, apa kau tak apa?" tanya Law sambil mengecek kaki Heat yang terluka. Beberapa orang dari pasukan yang mengejar mereka ternyata membawa busur dan panah, dan pergelangan kaki Heat terkena ujung panah yang ditembakkan ke arah keduanya. Lukanya tak begitu parah, karena hanya melukai kulit, tetapi darahnya tak kunjung berhenti.

"Jangan khawatirkan saya, Law-ssi. Saya tak apa."

"Maafkan aku. Kau terluka karena melindungi …"

"Itu sudah menjadi tugas saya," potong Heat, "jadi Anda tidak perlu merasa bersalah."

Law bersyukur karena dia tak sendirian. Ada seseorang yang menemani perjalanannya yang berbahaya, dan itu cukup membuat dirinya merasa lega. "Begitu semua ini selesai, aku sendiri yang akan mengobatimu. Kau tenang saja."

Heat tersenyum kecil setelah mendengar perkataan Law. Ya, pemuda itu berjanji akan mengobati budak di hadapannya ini dengan tangannya sendiri.

"ITU MEREKA!"

Teriakan itu mengejutkan Law dan Heat, yang tanpa basa-basi segera berdiri dari tempat persembunyian mereka. Tampaknya pasukan Biro Investigasi berhasil menemukan mereka kembali, dan keduanya segera pergi menjauhi tempat itu. Baru saja Law akan berlari, pasukan lain telah menghadang di depan. Kali ini bukan pasukan Biro Investigasi saja, melainkan segelintir pasukan pribadi. Sementara pasukan dengan gugunbok merah dan keemasan khas Biro Investigasi Kerajaan telah bersiaga di belakang, samping kiri dan kanan, menghalangi langkahnya di segala penjuru. Mereka terkepung.

"Sulit sekali menangkap tikus kecil sepertimu." Suara bernada rendah menyapa telinga pemuda itu dari belakang. Kepala Pengawas Oh berjalan pelan dengan pedang terhunus ke arah lehernya.

Law bisa mendengar suara seruan tertahan Heat yang berhasil dilumpuhkan oleh pasukan biro lainnya. Tampaknya mereka tak melukai budak itu lebih jauh, hanya menangkap dan menghentikan pergerakannya. Pemuda itu mengeratkan kepalan di tangannya. Tidak, ini belum berakhir.

"Tidak usah berbasa-basi, budak sialan." Kini suara Jang Hee Jae yang dia dengar. Pejabat itu berjalan dari arah depan, melewati para pengawal pribadi yang bekerja untuknya. "Berikan dokumen itu, dan kami mungkin akan melepaskanmu hidup-hidup."

"Mungkin?" Entah keberanian dari mana, Law berujar dengan sinis pada kakak kandung Ratu Jang itu. "Sekalipun saya menyerahkan Arsip Registrasi, Anda pasti akan membunuh saya pada akhirnya."

Mendengar perlawanan yang tak berarti, Jang Hee Jae pun tertawa keras. "Tak kukira kau bisa membaca pikiranku. Ya, aku pastikan aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, dan membuang jasadmu ke jurang hingga tak ada seorang pun yang dapat menemukannya."

Law menggigit bibir bagian dalam. Tidak, dia tak boleh takut. Semua sudah terjadi hingga sejauh ini. Dengan taruhan nyawanya sekalipun, dia tak akan pernah menyerahkan dokumen penting milik Joseon ke tangan orang-orang ini.

"Jangan mengulur-ulur waktu, Hee Jae-ah. Cepat ambil dokumennya, dan aku yang akan menghabisi mereka berdua," ujar Oh Yoon yang tak mampu bersabar. Firasatnya mengatakan mereka harus segera menyelesaikan semua ini, tetapi si dungu Jang Hee Jae terus saja membuang waktu dengan percuma.

"Tak sabaran, Yoon-ah? Baiklah, baiklah. Aku tahu kau hanya takut bahwa kepala pengawal istana sok jujur itu akan menemukan kita." Jang Hee Jae berdecak-decak. "Oi, kalian berdua," serunya geram pada dua pengawal di belakangnya, "geledah bocah brengsek ini. Apa harus aku yang mengotori tanganku untuk hal sepele macam ini?"

Secepat kilat, kedua orang yang diperintahkan olehnya menggeledah Law dengan kasar. Law berusaha melindungi diri sekuat tenaga, namun apalah daya seorang budak lemah yang tak pernah memperoleh keterampilan bertarung. Mereka berhasil menemukan Arsip Registrasi yang disembunyikan Law di balik hanbok yang dia pakai, dan mendorong paksa pemuda itu hingga jatuh berlutut di atas tanah. Sementara Oh Yoon tak sekalipun menjauhkan hunus pedangnya, menjaga agar Law tak berbuat nekat dan melawan.

Jang Hee Jae tersenyum penuh kemenangan saat pengawal pribadinya menyerahkan dokumen itu kepadanya. "Dasar budak bodoh. Andai saja kau tak banyak melawan dan menyerahkan ini kepadaku sejak awal, kau …." Matanya memicing pada dokumen yang dia pegang dengan keterkejutan yang tak mampu tertutupi. "BRENGSEK, DI MANA DOKUMEN YANG KEDUA?"

Semua orang terkejut bukan main mendengar teriakan geram itu.

"Hanya ada satu?" tanya Yoon, berusaha memastikan bahwa pendengarannya tak salah.

Kakak kandung Ratu Jang itu menghampiri Law tanpa basa-basi dan menarik hanbok pemuda itu dengan wajah memerah karena emosi. "Katakan mengapa kau hanya memegang satu dokumen? Jelas-jelas kau mengambil kedua Arsip Registrasi dari tanganku!"

Dengan ekspresi tak bersalah, Law berujar, "Benarkah? Tetapi Anda sudah melihat sendiri, aku hanya memiliki satu dokumen ini saja."

Pejabat itu kembali menggeram. "Katakan di mana dokumen kedua kau sembunyikan, selagi aku belum membunuhmu!"

"Jika memang demikian, Anda boleh membunuh saya sekarang, karena saya yakin sekali dokumen itu telah sampai ke tangan Yang Mulia Raja."

"Y-Yang Mulia? Kau …."

"Apakah Anda tidak berhasil menduga bahwa saat ini Arsip Registrasi kedua telah diterima oleh Yang Mulia Raja? Dan dokumen yang berada di tangan Anda adalah bukti terkuat atas pengkhianatan yang Anda lakukan."

Jang Hee Jae tak mampu lagi menahan emosinya saat mendengar gertakan dari Law. Dengan gelap mata dia meraih pedang di tangan Yoon dan berusaha menebas leher pemuda itu dengan amarah yang meluap. Mengikuti naluri, Law menutup mata, pasrah atas apapun yang akan terjadi pada dirinya.

"BERHENTI! KALIAN SEMUA TELAH TERKEPUNG!"

Ujung pedang itu berhasil melukai bahu Law, ketika gerakan Jang Hee Jae terhenti akibat teriakan menggelegar itu. Kesakitan seketika menyergap di area yang terkena goresan pedang, membuat si pemuda berambut kelam pun memegang bahunya dengan erat. Ketika darah mulai mengalir, sakit yang dia rasakan mulai menjalar ke area lain, membuat tubuhnya tak mampu bertopang dan terkapar ke tanah yang keras. Berusaha keras membuka mata, dia masih mampu melirik sebuah anak panah telah melukai tangan sang pejabat, serta keadaan di sekitarnya berubah kacau tak beraturan.

Dari kejauhan, Law dapat melihat gugunbok khas pengawal istana telah mengepung mereka semua. Bibirnya mengembangkan senyum ketika Kepala Pengawal Seo dan Wakil Kepala Nam berhasil menangkap tangan Jang Hee Jae, lengkap dengan barang bukti berupa Arsip Registrasi yang masih tergenggam di tangannya. Kepala Pengawas Oh Yoon dan Letnan Hong, beserta semua pasukan Biro Investigasi dan pengawal pribadi milik Jang Hee Jae juga berhasil diamankan oleh pengawal istana yang lain. Law bisa merasakan tubuh atasnya terangkat lembut, dan dalam pandangan yang mulai mengabur, dia dapat melihat Kid mendekapnya dengan ekspresi kepanikan tergambar jelas di wajah.

"… Kid …"

"Tenanglah, aku sedang berusaha menghentikan aliran darah di bahumu." Pemuda berambut merah itu menekan kuat bahu Law yang masih mengucurkan darah dengan menggunakan sapu tangan miliknya. Tampaknya itu cukup berhasil, walau tak sepenuhnya menghentikan kucuran darah tersebut. "Lihat apa yang terjadi padamu. Kau selalu saja bertindak ceroboh dan membuatku khawatir."

Law tersenyum kecil mendengar gerutuan terucap di bibir pemuda itu. Walau begitu, dia tahu bahwa Kid menghela napas lega. Sekali lagi Kid menyelamatkan hidupnya, dan entah bagaimana dia akan membalas budi. Yang jelas saat ini dia amat bersyukur karena Kid selalu datang di saat yang tepat. "Terima kasih," ucap Law tulus sebelum kesadarannya meredup.


TBC


Author's Note:


*sneaks from the backstage and whispers* Will everyone kill me after a very long wait for this chap?

ANYWAY

Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas betapa telatnya chapter kali ini selesai. I'm trapped into too many projects, that's why aku tak bisa menyempatkan diri untuk menulis ini lebih cepat *deep, deep bow*

Tapi beberapa project telah selesai (masih ada beberapa lainnya, but I still have plenty of time before the deadline), so I spare some time to write again. Dan mudah-mudahan kalian semua menikmati chapter ke-6 ini.

Sengaja cepat-cepat menyelesaikan agar aku bisa mengucapkan, "HAPPY EARLY BIRTHDAY, LAW" ‼ Yeap, tanggal 6 Oktober nanti Law akan kembali merayakan ulang tahunnya, and that means I need to offer good stuff for this super hot surgeon, so this chapter is 100% dedicated for you, Mr. Sexy-falgar Law.

Anyway, last but not least, would you mind to leave any review?


Review Reply:


Cho Eun Min: Errrrrr … okay? Aku bingung mau balas apa XD semua review penuh dengan teriakanmu sampe aku speechless … Tapi semua terselesaikan di chap ini kan? (iya … kan?) Dan terima kasih karena Dilla menikmati scene pertarungan abal itu XD

Vira D Ace: Terima kasih ^^ Ini sudah dilanjutkan ya. Selamat menikmati ^^

kuro: Aww, terima kasih ^^ Ini sudah dilanjutkan ya. Selamat menikmati ^^

Noona Jinjin: Ah, hmm, sebetulnya aku tak masalah bikin pair apapun selama aku berkecimpung di fandomnya. Tapi masalahnya aku tak pernah berkecimpung di grup berondong (Aku 90-liner, btw), jadi mungkin permintaannya agak sulit ^^ But jika permintaannya dari grup-grup lawas macem DBSK, TRAX, CNBLUE (oke, ini tidak lawas, but I love them), SHINee (ini setengah berondong, karena aku masih suka mereka), bisa diusahakan. Sementara untuk fandom anime, aku sementara hanya bisa menerima One Piece, apapun pair-nya aku bisa usahakan (maruk!). Anyway, terima kasih karena sudah menyukai ceritaku ^^