Title : [애별리(Love, Separate, Leave)] Chapter 7 - Tersembunyi
Genre : Saeguk, Shounen-ai
Rating : T
Length : Chaptered with 6.105 words
Author : leenahanwoo
Pairing: Kid x Law
Cast : Eustass Kid, Trafalgar Law, Heat and OC. Cast lain akan muncul seiring berjalannya cerita.
Warning : SHO-AI Content ! Don't like don't read ! OOC-ness is everywhere !
Disclaimer : All One Piece casts are Eiichiro Oda-sama's. This story and OC are mine.
NOTE: TELAH HADIR CHAT GRUP ANIME + K-POP FANDOM. Bagi yang memiliki akun LINE, silakan add saya dengan ID leenahanwoo, dan nanti akan saya invite ke chat grup ini ^^ Mari kita lestarikan fandom Anime dan KPOP di bumi pertiwi Indonesia ‼!
Glossary:
Hyungnim: panggilan untuk kakak laki-laki oleh adik laki-laki
Mamanim: panggilan kepada pelayan wanita senior di istana, juga kepada sanggung yang disukai raja.
Hanganim: panggilan kepada pelayan wanita berpangkat menengah hingga terbawah di istana.
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
"Bagaimana keadaannya?"
Kid sedang duduk di pelataran bangunan rumah utama kediaman keluarga Seo ketika Kepala Pengawal Kerajaan mendatanginya. Dia mengangkat kepala dan menatap sang ayah asuh yang baru saja kembali dari istana. Semua orang yang terlibat dalam tindakan pengkhianatan telah dipenjarakan di dalam sel milik Pengawal Kerajaan, dan Kepala Pengawal Seo pastilah telah melaporkan perihal kejadian ini kepada Yang Mulia Raja. Kid lebih memilih untuk mengurus Law dan Heat yang terluka, membawa mereka kembali ke rumah dan memanggil tabib. Lagi pula ketidakhadirannya di istana tidak akan mempengaruhi jalannya investigasi resmi. Dia hanya diperintahkan untuk menyelidiki, dan semua laporan penyelidikan telah diserahkan kepada Kepala Pengawal Kerajaan.
"Hyungnim telah mengobati Heat. Lukanya ringan, dan akan sembuh dengan cepat."
"Ah, kau memanggilnya?"
"Aku tidak mempercayai kemampuan tabib lain selain dia," aku Kid jujur.
"Dan Law?"
"Lukanya lebar, tetapi tidak dalam. Hyungnim berkata bahwa dia perlu menghindari kerja berat selama beberapa hari."
"Aku mengerti," ujar Seo yeonggam. "Aku telah bertemu dengan Pengawas Hwang dari Biro Musik, mengatakan padanya bahwa Law sedang dirawat di rumah kita. Tampaknya dia adalah orang yang bisa dipercaya, dan dia telah berjanji untuk menutup rapat perihal keterlibatan Law di dalam kasus ini."
"Dan Kepala Biro Musik?"
"Kurasa dia tidak perlu diberitahu. Kepala Biro Musik berasal dari Faksi Selatan, dan dia adalah adik kandung dari pimpinan faksi tersebut. Jika dia mengetahui soal Law, bukan tidak mungkin nyawanya akan kembali terancam karena Faksi Selatan akan berusaha keras agar dapat mengintervensi."
Kid membenarkan tindakan pencegahan yang dilakukan oleh sang kepala pengawal. Yang terpenting saat ini adalah melindungi Law sebagai salah satu saksi kunci dari perkara yang mereka tangani.
"Apa reaksi Yang Mulia ketika Jang Hee Jae ditangkap?" tanya Kid kembali. Dia mungkin tidak ingin ikut campur dalam urusan pribadi anggota kerajaan, namun tak dipungkiri bahwa rasa ingin tahu tetaplah ada.
"Yang Mulia sudah memperkirakan kita akan berhasil menangkap pelakunya. Namun beliau lebih mengkhawatirkan akan terjadinya ketimpangan dalam Majelis Dewan Kerajaan karena kejadian ini. Kau tahu betul, bukan, bahwa ini menyangkut kakak kandung dari Ratu Jang? Yang Mulia Ratu bisa melakukan apa saja demi menyelamatkan Jang Hee Jae, termasuk mengumpulkan kekuatan dari Faksi Selatan untuk mendukungnya."
"Dan Oh Yoon adalah keponakan kesayangan pimpinan Faksi Selatan. Jika mereka semua dinyatakan bersalah dan dihukum dengan berat, tentu Faksi Selatan tidak akan tinggal diam. Mereka bisa saja memboikot kegiatan kenegaraan sebagai bentuk protes terhadap keputusan Yang Mulia," ujar Kid melanjutkan.
"Sementara Faksi Barat tidak memiliki kekuatan lagi sejak lengsernya Ratu Inhyeon. Mereka tidak akan mampu melindungi Majelis Dewan Kerajaan jika Faksi Selatan betul akan melaksanakan rencana itu." Seo yeonggam mendesah frustrasi. "Aku yakin Ratu Jang akan membela kakaknya mati-matian, dan membuat Yang Mulia ragu untuk memutuskan hukuman yang setimpal atas pengkhianatan yang mereka lakukan."
"Apakah itu berarti mereka bisa saja lolos dari tuduhan?"
Sang kepala pengawal menggeleng. "Mereka pasti akan dihukum. Hanya saja, jika hukuman yang mereka terima terlalu ringan, tentulah ini tidak akan menjadi pelajaran bagi pejabat lain yang berniat berbuat hal serupa. Rakyat pun akan meragukan stabilitas kekuasaan rajanya."
Kid terdiam mendengarkan, meresapi setiap kata. Saat ini Raja Sukjong pastilah sedang berada di dalam dilema. Sebagai seorang abdi kerajaan dan rakyat dari Joseon, dia tentu ingin keadilan ditegakkan. Namun dia pun harus memahami situasi yang akan dihadapi sang raja jika terburu-buru mengambil keputusan. Pemuda itu hanya berharap bahwa Raja Sukjong akan memutuskan akhir dari perkara ini dengan seadil-adilnya.
"Apa kau sudah makan dan beristirahat? Kau tampak letih sekali." Seo yeonggam bertanya sambil mengamati raut wajah Kid yang tampak kusam.
"Im ahjussi sudah menyiapkan santap malam seadanya, tetapi aku belum lapar."
Kepala Pengawal Seo tersenyum. Dia tahu bahwa Kid tidak ingin meninggalkan Law sendirian, dan tidak akan beristirahat sebelum dia memastikan bahwa pemuda itu baik-baik saja. "Wakil Kepala Nam telah memerintahkan setengah dari pengawal pribadinya untuk menggantikan tugas para penjaga yang terluka, begitu pula beberapa budak untuk membantu membereskan dan mengurus rumah. Dan aku juga telah memerintahkan beberapa pengawal istana yang tidak memiliki jadwal bergilir pada hari ini untuk ikut berjaga. Kau tidak perlu cemas, Law terlindungi dan akan dirawat dengan baik."
"Aku tahu. Terima kasih."
Sang kepala pengawal menepuk pundak Kid untuk menenangkan pemuda itu, sebelum masuk ke dalam bangunan rumah utama. Kid belum ingin beranjak dari posisinya semula; dia duduk tepat di depan kamar tempat Law berada. Ya, dia tidak menggunakan kamar rahasia itu lagi untuk Law beristirahat dan memulihkan diri, bahkan juga tak memakai kamar tamu yang terletak di sayap lain dari bangunan utama, melainkan membiarkan Law menggunakan kamar pribadinya. Seperti yang diduga oleh Seo yeonggam, pemuda beriris amber itu hanya ingin memastikan bahwa Law benar-benar terlindungi dengan baik.
.
.
Ketika Law membuka mata, pertama kali yang dia rasakan adalah rasa nyeri yang menyebar di badan bagian atas. Awalnya dia tidak mengerti mengapa sakit menyerang hingga tubuh terasa kaku, namun dalam sekejap dia kembali teringat pada kejadian sebelum dia kehilangan kesadaran. Benar, Jang Hee Jae berhasil melukai bahunya, walau Kid segera datang dan membantu memberikan pertolongan pertama. Dengan tenaga yang tak seberapa, pemuda itu mencoba menggapai bahu yang terluka. Bagian itu telah dibalut kain yang cukup tebal, serta bau obat-obatan herbal menguar dari sana. Lukanya telah diobati.
Mata keperakan Law mengedarkan pandang, berusaha mencari tahu di mana dia berada saat ini. Ruangan itu tampak asing, dengan wangi maskulin yang asing pula. Dia pun melihat sekeliling, berusaha menebak-nebak, namun tak ada satu pun benda di ruangan tersebut yang dia kenali. Di dalam kamar terdapat sebuah lemari dinding yang cukup besar, tiga buah rak pendek berlaci, sebuah meja tulis yang lebar, serta meja sudut tempat cermin diletakkan. Semua perabot terbuat dari kayu-kayu berukir kualitas tinggi, dan pemuda itu hanya bisa meyakinkan diri bahwa pastilah dia tidak sedang berada di paviliun para budak di istana. Lalu di manakah dia sebenarnya?
"Kau sudah sadar?" Suara lembut terdengar dari arah pintu. Law berusaha menoleh, namun sakit kembali menyergap dan dahinya mengernyit karena perih. Orang itu dengan cepat menghampiri dan duduk di sebelahnya. Rambut merah menyala yang pertama kali menyapa pandangan, membuat Law tersenyum lega.
"Kid." Law mencoba untuk duduk, tetapi pemuda bersurai merah itu menghentikan pergerakannya.
"Jangan memaksakan diri, kau belum betul-betul sembuh."
Law memandang Kid yang juga menatapnya dengan ekspresi kekhawatiran yang jelas. Entah mengapa, rasa cemas yang ditunjukkan Kid membuat hatinya kembali menghangat. "Apa yang terjadi?"
"Jang Hee Jae melukaimu. Tapi untunglah luka itu tidak dalam. Aku segera memanggil tabib dan sekarang kau sudah diobati."
"Bagaimana dengan Heat?" Law teringat bahwa budak bersurai rambut biru muda itu juga terluka.
"Dia juga sudah diobati, kau tenang saja."
Law menghela napas lega. Dia memang telah berjanji untuk mengobati Heat dengan tangannya sendiri, tetapi keadaannya saat ini tidak memungkinkan untuk banyak bergerak. Untunglah sudah ada tabib yang lebih dahulu menangani luka di kaki budak itu. Dan pemuda itu pun teringat bahwa Kid belum memberitahunya mengenai hal yang lebih penting. "Apa yang terjadi pada Jang yeonggam?
"Dia sekarang berada dalam penjara milik Pengawal Kerajaan. Begitu juga dengan Kepala Pengawas Oh dan pasukan Biro Investigasi lainnya. Mereka akan segera diinterogasi."
Law mengangguk. Berarti perkara tersebut telah resmi memasuki ranah hukum. Mereka pasti akan dihukum, hanya tinggal menunggu waktu.
"Law …." Kid ingin bertanya, namun terdengar keraguan dari nada suaranya.
"Ya?" Apa yang ingin Kid ketahui? Law pun ingin tahu apa yang dipikirkan pemuda itu.
"Mengapa kau meninggalkan satu Arsip Registrasi di kamar rahasia?"
Benar bahwa Law meninggalkan satu buah Arsip Registrasi di kamar rahasia di paviliun perpustakaan. Benda itulah yang ditemukan Kid di tumpukan baju seragam budak milik Law, beserta surat-surat tanpa nama yang Law temukan di kamar Jin daegam.
Law memandang Kid, lalu berucap, "Aku yakin betul kau sudah mengetahui apa alasanku meninggalkan dokumen-dokumen tersebut."
"Aku hanya menebak-nebak." Dia mengangkat bahu. "Apa kau ingin aku memberikan dokumen itu kepada Kepala Pengawal Seo?"
"Mungkin saja. Namun sesungguhnya aku hanya ingin mengulur waktu." Law mengingat-ingat alasan yang sebenarnya. "Aku berpikir jika saja aku dan Heat tertangkap, satu dokumen Arsip Registrasi akan cukup untuk membuat Jang yeonggam marah besar dan takkan membunuh kami saat itu juga. Bila dia berniat kembali mengubrak-abrik kediaman Seo yeonggam untuk mencari dokumen kedua dari Arsip Registrasi, tentulah tidak akan memungkinkan jika kau dan Kepala Pengawal Seo telah kembali ke rumah, serta membuatnya berpikir bagaimana cara agar dia dapat memperoleh dokumen tersebut. Jeda itu bisa kumanfaatkan untuk mencari cara meloloskan diri darinya."
Kid mendesah pasrah setelah mendengar penjelasan dari pemuda bersurai kelam itu. "Rencana yang brilian, namun sangat berisiko. Kalau saja kami tidak datang tepat waktu, kepalamu mungkin sudah tak lagi bersatu dengan badan."
"Tapi kau datang tepat waktu." Law berkelit. "Aku percaya kau pasti akan datang dan menyelamatkan Arsip Registrasi ini." Dan menyelamatkanku pula, tambah Law dalam hati.
"Percaya diri sekali." Kid bergerak mengambil nampan yang di atasnya terdapat cawan berisi air. Nampan itu diletakkan di atas salah satu rak berlaci, dan pemuda itu mengambilnya dengan mudah menggunakan tangannya yang panjang. "Apa kau haus? Hyungnim bilang, kau boleh minum sedikit bila sudah sadar."
Kid membantu Law untuk duduk, setengah mendekap dan meminumkan air dari dalam cawan. Law menerimanya dengan senang hati; dia memang merasakan bibirnya yang mengering ketika sadarkan diri. Rasanya begitu lega ketika air itu mengaliri kerongkongan.
"Kid, sebenarnya ini di mana?" tanya Law setelah menghabiskan air di dalam cawan yang dipegang oleh Kid.
"Ini kamar milikku, di bangunan utama kediaman keluarga Seo." Pemuda bersurai merah itu menjawab dengan santai tanpa melepaskan dekapannya. "Akses menuju kamar rahasia terlalu merepotkan jika digunakan untuk merawatmu yang sedang terluka, sementara aku tidak ingin kau ditempatkan kamar tamu yang terletak di sayap lain dari bangunan rumah utama. Aku sudah berjanji bahwa aku sendiri yang akan mengawasi dan melindungimu sepanjang waktu. Jadi di sinilah kau berada, di kamarku."
Kamar Kid? Setelah kamar rahasia milik mendiang Seo daegam, sekarang dia berada di kamar Kid yang dipakainya saat ini? Dan apa katanya barusan? Mengawasi dan melindunginya? Law bisa merasakan rona merah kembali menjalar, membuat pipinya memanas. Namun seketika logika menghantam pikiran pemuda beriris keperakan itu. Tentu saja Kid harus melindungi dirinya. Saat ini dia berstatus sebagai saksi dari perkara Arsip Registrasi yang ditangani oleh Pengawal Kerajaan. Keselamatannya haruslah diutamakan.
"Aku mengerti." Rasa kecewa itu menyelubungi kalbu, membuat Law melepaskan dekapan hangat yang Kid berikan dan kembali merebahkan diri di atas yo.
Kid tampaknya merasakan perubahan sikap Law yang tiba-tiba. Dia ingin menyela, namun suara pintu yang dibuka menghentikan niatnya. Di ujung pintu, Wakil Kepala Nam berdiri dan menatap Kid dengan raut wajah cemas.
"Kid, kita harus kembali ke istana. Segera." Sang wakil kepala pengawal menyahut.
"Apa terjadi sesuatu, Wakil Kepala?" tanya pemuda beriris amber itu.
"Ya. Kita diperintahkan untuk memindahkan tahanan ke Biro Investigasi dan menyiapkan alat-alat penyiksaan. Yang Mulia Raja sendiri yang akan menginterogasi para tersangka."
.
.
Raja Sukjong tak pernah menyangka bahwa kakak dari Ratu Jang yang begitu dia kasihi mampu berbuat sekeji itu. Berusaha menjual rahasia negara - sekalipun dia menggunakan itu untuk memuluskan jalannnya penyerahan plakat pengakuan Putra Mahkota, tetapi tentu saja hal itu sama sekali tidak dibenarkan -, dan bertindak serta memerintah para prajurit Biro Investigasi di luar kewenangan yang dia miliki; itu hanyalah segelintir hal yang dia ketahui dari apa yang dilaporkan oleh Kepala Pengawal Kerajaan kepadanya. Di balik itu? Dia tak mampu membayangkan apa-apa saja yang telah dilakukan Jang Hee Jae di luar kasus ini.
Dengan langkah cepat, sang raja berjalan menuju mahkamah Biro Investigasi. Dia telah memutuskan untuk menginterogasi sendiri para tersangka. Jang Hee Jae, Kepala Pengawas Oh Yoon, dan para pelaku lainnya. Dia mendengus jijik; bahkan Biro Investigasi yang harusnya bersikap netral atas perkara semacam ini, malah terlibat langsung dalam pengkhianatan yang didalangi oleh Jang Hee Jae.
Selain orang-orang yang saat ini telah dipindahkan ke mahkamah Biro Investigasi, Jin daegam dan para bawahannya telah ditahan di Mohwagwan dan tidak diperbolehkan meninggalkan tempat tersebut tanpa seizin Raja Sukjong. Duta besar Qing di tanah Joseon yang bertempat tinggal di Uiju pun telah dipanggil ke Doseong, dan mereka akan menyampaikan keputusan resmi dari sang kaisar atas kejahatan yang telah dilakukan oleh utusan yang dia kirimkan.
Tiba di tempat pengadilan, para tersangka telah duduk di kursi penyiksaan, diikat dengan tali yang kuat dan didampingi oleh dua orang tukang jagal di masing-masing kursi. Kepala Pengawal Kerajaan, Wakil Kepala Nam dan Kid, serta beberapa pengawal kerajaan lainnya telah berdiri tegap di sisi area penyiksaan, bersiaga dan menunggu perintah dari Yang Mulia Raja Sukjong. Sang raja pun berdiri di hadapan para tersangka dengan emosi tertahan. Orang-orang inilah yang akan menjatuhkan martabat Joseon, dan dia amat membenci orang-orang semacam mereka.
"Aku sedang tidak ingin berbasa-basi, jadi sebaiknya kalian tidak mempersulit proses interogasi ini demi kebaikan kalian sendiri," ujar Raja Sukjong dengan nada datar. Dua buah dokumen Arsip Registrasi yang berhasil didapatkan kembali oleh Kepala Pengawal Kerajaan dia genggam dengan erat di tangan kanan, kemudian dia angkat tinggi-tinggi untuk diperlihatkan kepada orang-orang di hadapannya. "Apa benar bahwa kalian berusaha menyerahkan dokumen ini kepada utusan Qing untuk ditukarkan dengan plakat pengakuan Putra Mahkota?"
Wajah Jang Hee Jae yang angkuh berubah pucat pasi ketika mengetahui bahwa sang raja sendirilah yang akan menginterogasi mereka. Buku di tangannya merupakan bukti kuat tak terbantahkan, namun pengakuan dari mereka serta para saksilah yang akan membuat mereka dinyatakan bersalah. Tidak, ini tak boleh dibiarkan. Dia tak akan pernah mengakui kejahatan ini hingga akhir. "Tidak, Yang Mulia. Ini semua adalah kebohongan yang diciptakan oleh mantan ratu Inhyeon beserta Faksi Barat. Kami telah dijebak!"
"Benar, Yang Mulia." Oh Yoon yang duduk di samping Jang Hee Jae pun ikut menyahut. "Kami dari Biro Investigasi hanya membantu Jang Yeonggam untuk membuktikan keterlibatan Faksi Barat dalam konspirasi ini. Kami tidak bersalah."
"Diam!" teriak Raja Sukjong. "Kalian jelas-jelas ditangkap tangan oleh Satuan Pengawal Kerajaan hendak merebut Arsip Registrasi dengan cara kotor, dan utusan dari Qing pun ikut terlibat di dalamnya. Sebaiknya kalian mengakui kejahatan yang kalian lakukan!"
Sahutan-sahutan 'kami tidak bersalah, Yang Mulia' dan 'semua ini adalah jebakan' terdengar dari para tersangka, membuat Raja Sukjong menggeram tertahan. Orang-orang ini begitu keras kepala, dan tidak akan mengaku hanya dengan gertakan dari sang raja. Dengan tegas, dia berseru kepada Kepala Pengawal Seo. "Lanjutkan proses interogasi dan siksa mereka hingga ada yang mengaku. Tidak perlu berbelas kasihan kepada pengkhianat!"
Sang kepala pengawal pun menjawab, "Baik, Yang Mulia." Dia pun menoleh ke arah para tukang jagal dan berteriak, "Mulai proses penyiksaan!"
Teriakan-teriakan ketika penyiksaan dilakukan menggema di seluruh penjuru area mahkamah Biro Investigasi. Kid, yang berdiri di sisi Wakil Kepala Nam, menatap mereka semua dengan pandangan datar; mereka pantas mendapat siksaan itu, begitulah pikirnya. Mereka berusaha menjual rahasia negara dan mencelakai Law dalam prosesnya. Tidak ada ampun bagi mereka yang terbukti mengkhianati kerajaan.
Raja Sukjong meninggalkan Biro Investigasi segera setelah proses penyiksaan dilaksanakan. Menurutnya, Kepala Pengawal Kerajaan sudah cukup untuk mewakili dirinya menginterogasi dan menyiksa para tersangka. Dia harus melakukan hal lain yang juga sama pentingnya; menyambut rombongan duta besar Qing dan bersama-sama melakukan interogasi di Mohwagwan.
##++~ Love, Separate, Leave ~++##
Tiga hari telah berlalu sejak Law beristirahat di kediaman keluarga Seo. Nyeri di bahunya sudah hilang sama sekali, dan dia merasa sudah sangat sehat dan mampu kembali bekerja. Namun Kepala Pengawal Seo belum memperbolehkan dirinya untuk kembali ke Biro Musik. Alasannya jelas; proses interogasi kasus Arsip Registrasi masih berjalan dan dia masih berstatus sebagai saksi kunci, sehingga tinggal di rumah ini merupakan pilihan terbaik untuk melindunginya. Law merasa bersyukur, tetapi tetap terasa ada yang janggal di balik perlindungan ini.
Pemuda itu hanyalah seorang budak yang bekerja di biro dengan tingkatan kepentingan paling rendah di Kerajaan Joseon. Betul bahwa dia adalah saksi sebuah kasus dan berada di kediaman Kepala Pengawal Seo demi keamanan, tapi dia mendapatkan fasilitas yang kalah baiknya dari penghuni di bangunan utama kediaman itu. Hanbok yang terbuat dari sutra halus, makanan-makanan lezat dan bergizi, bahkan Heat yang siap melayani sepanjang waktu (Kid sendiri yang meminta budak berambut biru muda untuk selalu mendampinginya). Law merasa ini sangat tidak benar, tidak sesuai pada posisi dan kedudukan, dan terasa sangat canggung. Namun pemuda beriris amber itu tetap bersikukuh agar dia tidak menolak semua yang telah disediakan.
"Law-ssi, mengapa Anda termenung?" Heat baru saja meletakkan nampan berisi makanan untuk santap siang di atas meja. Sehari setelah Law sadarkan diri, Heat sudah mulai melayani dirinya dan menyiapkan apa-apa yang dia butuhkan. Pemuda bermata keperakan itu masih mengkhawatirkan luka di kaki budak itu, tapi dia berkata bahwa luka itu telah sembuh dengan cepat dan dia sudah mampu bekerja seperti biasa.
"Heat, jangan memanggilku seperti itu. Kita sama-sama budak, walaupun untuk sementara aku harus tinggal di rumah ini."
"Tapi Tuan Muda … tidak berkata demikian." Ada jeda yang ganjil di antara kalimat yang diucapkan Heat. Tentu apa yang ingin dia sampaikan tidaklah sama dengan apa yang terlontar di bibirnya.
"Sebetulnya apa yang Kid katakan?"
"Tuan Muda mengatakan bahwa saya harus melayani Anda dengan sebaik-baiknya, dan menyiapkan segala yang Anda butuhkan." Keraguan tercetak jelas di wajah budak itu.
"Pakaian sutra? Makanan mewah? Tidak, Heat. Ini bukan hal-hal yang dibutuhkan oleh seorang budak sepertiku. Kau tahu betul itu." Law bisa merasakan bahwa Heat sedang menyembunyikan sesuatu, entah apa itu.
"Maaf, Law-ssi. Saya hanya menjalankan perintah dari Tuan Muda dan Seo yeonggam." Cepat-cepat dia berdiri dan pamit undur diri. "Silakan bersantap siang."
Law mendesah frustrasi setelah kepergian Heat dari kamar Kid yang dia huni. Dia telah menyampaikan protes pada Kid pada hari dia mulai diperlakukan istimewa; saat itu dia begitu terkejut dengan semua yang dia dapatkan. Namun Kid sama sekali tak memberikan tanggapan yang memuaskan. 'Yang terpenting kau aman di sini, jangan pikirkan hal lain,' begitulah kata pemuda bersurai merah itu.
Dengan malas, Law menatap makanan yang tersaji di atas meja. Pemuda itu terlalu terbiasa memakan makanan seadanya; nasi dari beras berkualitas terendah, sayur-mayur yang hampir layu, dan makanan lain yang entah bergizi atau tidak. Sementara yang dia lihat di atas nampan di hadapannya adalah nasi yang lembut serta lauk-pauk yang terdiri dari daging dan sayuran segar. Tidak, ini tidak benar. Tidak seharusnya dia menerima semua ini; kembali dia tekankan di dalam pikiran bahwa dia hanyalah seorang budak berdarah campuran yang kadang bahkan tak dianggap sebagai manusia. Dan budak tidak berhak memakan semua ini, memakai pakaian indah, dan mendapatkan perlindungan begitu besar. Tapi … apakah memang tidak memungkinkan baginya untuk kembali ke istana dan menjalani kehidupan seperti sebelumnya?
Merasa bosan merenung sementara rasa lapar tak kunjung datang, Law beranjak dan keluar dari kamar. Bangunan utama kediaman keluarga Seo tampak lengang; tak terlihat satu pun pelayan dan budak yang lalu lalang, tapi dia bisa melihat beberapa pengawal pribadi berjaga di jalan setapak yang menghubungkan bangunan utama dengan gerbang depan. Lamat-lamat suara pelayan dan budak yang sedang bekerja terdengar di bagian belakang rumah. Dia ingin sekali pergi ke sana dan berbincang, namun tentulah rasa canggung akan melingkupi; yang Law kenal hanyalah Im ahjussi dan Heat. Pemuda itu pun memakai heukhye - yang diberikan oleh Kid, walau sudah mati-matian dia tolak namun Kid bersikeras agar Law menerimanya - dan memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.
Paviliun ruang kerja dan perpustakaan telah dirapikan satu hari setelah penyerangan yang dilakukan oleh prajurit Biro Investigasi. Menurut yang dia dengar dari Heat, tak ada buku-buku dan dokumen yang mereka rusak, sehingga para pelayan dapat dengan cepat membereskan kekacauan kala itu. Law melihat-lihat buku yang dipajang dengan rapi di atas rak-rak kayu; ada begitu banyak buku yang disimpan di perpustakaan itu, dan begitu menggiurkan untuk dibaca. Pemuda itu berjanji akan membaca buku-buku tersebut jika dia masih diharuskan tinggal di rumah ini, paling tidak untuk mengusir kebosanan dan memuaskan rasa keingintahuannya akan dunia.
Entah dorongan dari mana, Law pergi memasuki kamar rahasia. Sepertinya para pasukan Biro Investigasi tidak sampai menemukan ruangan tersebut, dan keadaannya masih sama rapi seperti terakhir kali dia melihatnya. Tak menemukan satu hal pun yang menarik, dia pun membuka pintu rahasia seperti yang dilakukan Heat, keluar dan menutup kembali pintunya. Jalan setapak di balik pintu rahasia tampak sepi, dan pintu keluar masuk para budak tampak setengah terbuka. Law baru menyadari bahwa pintunya tidak dijaga oleh pasukan pengawal pribadi, dan hal itu menggerakkan pemuda itu untuk melangkah keluar melalui pintu tersebut.
Siang itu tampak cerah berawan, sehingga terasa sejuk ketika berjalan menyusuri jalanan di bawah sinar matahari yang lembut. Law berjalan ke arah timur, yang berujung pada sebuah pasar rakyat yang tidak begitu ramai. Seharusnya dia tidak meninggalkan rumah terlalu jauh, mengingat status saksi yang dia sandang saat ini. Namun pemuda itu sangat bosan terkurung di dalam kediaman keluarga Seo terus-menerus, apalagi dia tak diperbolehkan melakukan pekerjaan yang paling ringan sekalipun. Ada Heat yang akan mengerjakannya untukmu, begitulah kilah yang selalu diucapkan Kid. Dia pun memutar bola mata setiap kali mengingat perkataan pemuda beriris amber itu. Dia hanya akan pergi sebentar, melihat-lihat kemudian pulang, begitulah rencana Law.
Pasar rakyat yang dia kunjungi hanyalah sebuah pasar kecil yang menjual sayuran dan buah segar. Tidak banyak bahan makanan yang dijual di sana, namun ada beberapa toko lain yang menjual buku-buku, perhiasan dan bahan obat-obatan, serta beberapa buah kedai makanan. Yang mendatangi pasar pun kebanyakan adalah orang-orang yang berasal dari kalangan jungin dan sangmin yang tampaknya sedang menganggur. Sebagian dari mereka berkumpul di salah satu kedai yang menjual teh dan makanan ringan, berbincang dan bersenda gurau tanpa arti, sambil sesekali melirik-lirik dan menggoda para gisaeng yang berjalan menuju toko kosmetik. Dengan wajah sebal, Law melewati kedai tersebut dan lebih memilih untuk melihat-lihat kuas di sebuah toko yang menjual peralatan menulis. Kuas-kuas yang dijual di toko tersebut sangat bagus buatannya, tentulah harganya cukup mahal. Dia tak akan mampu membelinya.
Baru saja pemuda itu ingin melangkahkan kaki ke toko yang lain, keributan terdengar dari arah kedai yang dia lewati sebelumnya. Ternyata para pengangguran itu sedang menggoda seorang pelayan wanita yang kebetulan melewati kedai tersebut. Pelayan itu, walaupun memakai hanbok yang amat sederhana berwarna putih gading, tampak sangat cantik dengan tubuh yang semampai. Jelas saja para pria hidung belang yang berada di kedai itu tidak tahan untuk menggodanya. Mereka sengaja menghalangi jalannya si pelayan dari arah depan dan belakang, bahkan berusaha pula menyentuh tangannya.
"Hei, nona pelayan yang cantik. Ayo, temani kami minum teh di sini," ujar salah seorang jungin yang berwajah seperti keledai yang dungu.
"Benar, kami akan membelikanmu makanan dan minuman yang kau mau," sahut seorang sangmin dengan pakaian yang terlalu besar dari ukuran tubuhnya.
"Tolong biarkan aku lewat. Aku harus segera kembali." Pelayan itu mendekap erat barang-barang yang dia beli, tak berdaya melawan kumpulan pria yang berusaha berbuat tak senonoh padanya.
"Ah, mengapa begitu terburu-buru? Temani kami sebentar saja, aku yakin kau tidak akan menyesal," tambah pria lainnya, yang berdiri di hadapan si pelayan wanita.
Pelayan itu berusaha keras menolak ajakan para pria yang masih mengganggunya, namun apalah daya seorang pelayan wanita yang lemah. Pria-pria itu menariknya masuk ke dalam kedai; hal itu membuat Law mendengus kesal, bukan hanya karena kelakukan mereka yang bejat, tetapi juga kepada ketidakberdayaan para pedagang dan orang-orang di pasar itu untuk melawan kuasa para jungin yang bertindak semena-mena. Pelayan itu menjerit ketika salah seorang dari mereka menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat; bermaksud agar dia tak melarikan diri, tetapi hal itu malah menyakiti si pelayan. Barang-barang yang dia beli terjatuh dan berserakan di tanah, dan Law menggeram kesal karena barang tersebut terdapat bungkusan-bungkusan yang berisi obat-obatan herbal yang berharga. Pemuda itu dapat merasakan emosi menguasai pikirannya. Dengan langkah cepat dia menghampiri kedai tersebut dan berteriak marah.
"Berhenti kalian semua! Jangan ganggu pelayan itu!" Law ingin merutuki mulutnya ketika selesai mengucapkan kalimat itu, tetapi apa hendak dikata, semua telah terlontar. Lakoni saja sampai aku bisa menyelamatkanmu, batin Law.
Para jungin di kedai itu memicingkan mata heran dengan kedatangan Law yang tiba-tiba. "Siapa kau?" Salah seorang dari mereka pun bertanya.
Tentulah mereka tidak akan mengenal dirinya, pun dia juga tak mengenal orang-orang ini. Tetapi dia harus menyelamatkan si pelayan, apapun caranya. Dengan cepat Law memutar otak, dan matanya tertuju pada hanbok sutra yang dia kenakan. Benar, dia bisa berbohong dan mengaku sebagai seseorang yang berasal dari kalangan bangsawan.
"Aku adalah majikan dari pelayan ini," jawab Law bernada tegas. "Jadi lepaskan dia sebelum aku menendang kalian semua karena telah berbuat tidak senonoh padanya."
Perkataan Law betul-betul terdengar seperti bualan di telinga orang-orang itu. "Jangan bercanda. Kami bahkan tidak pernah melihatmu di daerah ini. Apa benar kau ini dari kalangan bangsawan?"
Law sedikit gentar, tetapi dia harus bertahan. "Aku tinggal di kediaman Keluarga Seo." Dalam hati pemuda itu memohon ampun yang sebesar-besarnya karena telah menggunakan nama sang kepala pengawal kerajaan untuk hal sepele seperti ini. "Jadi sebaiknya kalian lepaskan pelayanku dan aku akan membiarkan kalian bebas."
Reaksi dari para jungin dan sangmin pengangguran itu cukup di luar dugaan ketika nama Kepala Pengawal Kerajaan disebut. Salah seorang sangmin dengan cepat menghampiri jungin yang berada di hadapan Law, membisikkan sesuatu entah apa, tapi mampu membuat orang itu mendelik ke arah pemuda itu dengan tatapan tak percaya. Seketika dia berlutut dan berseru dengan nada bergetar, "Mohon maafkan kami, Tuan Muda. Kami tidak tahu bahwa pelayan ini adalah milik Anda."
Yang lain dengan cepat mengikuti tindakan orang itu dan ikut berlutut sambil memohon maaf. Law sangat terkejut melihat apa yang mereka lakukan; wajahnya menggambarkan kebingungan yang kentara, namun dengan cepat pemuda itu berpikir bahwa mungkin saja mereka mengira dia adalah sanak keluarga dari Kepala Pengawal Seo. Lagi pula, menyelamatkan pelayan wanita itu jauh lebih penting, jadi dia mengabaikan rasa bingung yang melanda untuk sementara, dan menyuruh si pelayan menjauh dari orang-orang di kedai itu. Si pelayan wanita tampaknya mengerti, dan dengan segera mengumpulkan kembali barang-barang yang dia beli sebelum berlari ke arah Law dan bersembunyi di balik tubuhnya yang tinggi.
"Kau tidak apa-apa?" bisiknya. Dan pelayan itu mengangguk.
Law pun menoleh kembali ke arah orang-orang itu lalu berkata, "Terima kasih, dan jangan pernah kalian melakukan hal tak senonoh seperti itu lagi, terutama kepada para pelayan dan para budak wanita. Mereka juga manusia." Dan mereka berdua berjalan menjauhi kedai tersebut, tak mempedulikan lagi orang-orang yang masih berlutut dan bersembah kepadanya.
Setelah dirasa cukup jauh dari area pasar, barulah Law berani membuka suara, menghilangkan hening yang melingkupi. "Siapa nama Anda? Di mana Anda tinggal?" tanyanya.
"Ya? Anda tidak perlu bersikap sopan kepada saya. Saya hanya seorang pelayan," ujarnya dengan nada sopan yang kental.
Law menggeleng. "Saya hanya seorang budak yang bekerja di Biro Musik. Nama saya Law. Dan Anda?"
"Eh?" Dia memandang pemuda berambut kelam itu dari atas hingga bawah. Raut tak percaya tergambar di wajahnya. "Jangan bercanda, naeuri. Tidak ada budak yang memakai hanbok dari sutra halus."
"Saya juga tidak mengerti mengapa saya diharuskan memakai pakaian ini." Law mendesah frustrasi. "Anggap saja saya sedang menyamar. Tetapi sesungguhnya saya hanyalah seorang budak, jadi Anda tidak perlu bersikap sopan pada saya."
Pelayan wanita itu mengangguk, walaupun dia masih tampak kebingungan. "Aku mengerti. Namaku Jong Geum."
"Nama yang indah," puji Law sungguh-sungguh, membuat si pelayan wanita tersipu malu. "Di mana Anda tinggal?"
"Di kaki bukit, di dekat tempat tinggal para pedagang kecil."
"Begitukah?" Walau daerah yang disebutkan oleh Jong Geum berada di pinggiran Doseong, pemuda itu cukup mengingat daerah tersebut karena letaknya yang berdekatan dengan tempat pembuatan alat-alat musik yang dijual ke istana. Kadang kala Law diperintahkan ke tempat itu untuk mengawasi pengiriman alat-alat musik, atau membawa alat musik yang perlu diperbaiki. "Saya mengenal daerah itu, jadi mari saya antar."
"Tidak perlu, aku sudah terbiasa berjalan melewati daerah ini …." Keheranan membuat Jong Geum terdiam, karena Law mengambil barang-barang belanjaan yang dia pegang dan membawanya.
"Saya akan mengantar dan membantu membawa semua ini," ujar pemuda bersurai kelam itu, "sekaligus memastikan Anda pulang tanpa gangguan dari siapa pun."
Lagi-lagi, si pelayan wanita tersipu karena sikap sopan yang Law tunjukkan. "Terima kasih."
Perjalanan menuju area itu tak lebih dari setengah jam. Sesungguhnya Law sedikit merasa bersalah karena meninggalkan kediaman keluarga Seo lebih lama dari yang dia rencanakan, namun batinnya mengatakan untuk tidak membiarkan Jong Geum pulang sendirian. Mudah-mudahan saja belum ada yang mengetahui akan kepergiannya.
Rumah yang mereka tuju adalah sebuah gubuk berukuran sedang yang halamannya dipenuhi oleh tanaman-tanaman segar. Sebuah pintu gerbang pendek menjadi benda pertama yang menyapa mereka, membuat Law kembali merutuki tinggi badannya. Dia harus betul-betul menunduk ketika melewati gerbang tersebut. Rumah itu tampak sepi, tetapi pemuda itu melihat sebuah heukhye berwarna hitam dan dua buah jipsin di pelatarannya. Berarti Jong Geum tinggal dengan beberapa orang lain? pikir Law.
"Mamanim, aku sudah kembali," sahut Jong Geum.
Mamanim? Law kembali berpikir. Mengapa …?
Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah. Dia menggunakan hanbok berwarna putih gading yang sama dengan yang digunakan Jong Geum. Wajahnya masih cantik, walaupun kerutan mulai tampak di sisi mata dan pipinya.
"Jong Geum-ah, dari mana saja kau? Kami sudah menunggumu sedari tadi," ujar wanita itu.
"Maafkan saya, mamanim. Ada beberapa orang yang mengganggu saya di pasar, tetapi pemuda ini menyelamatkan saya."
"Benarkah?" Wanita itu menghampiri Jong Geum, memeriksa gadis itu untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Ketika dirasa cukup, pandangannya pun beralih ke arah Law, dengan senyum terukir di wajah. Lalu dia berucap, "Terima kasih telah menyelamatkan Jong Geum, naeuri. Dan maaf telah merepotkan Anda dengan membawa barang yang dibeli Jong Geum."
Law menyerahkan barang berupa bungkusan-bungkusan obat kepada wanita itu seraya menjawab, "Itu bukan masalah, tapi mohon jangan memanggil saya seperti itu. Saya ini hanyalah …"
"Apakah obatnya sudah tiba?"
Perkataan Law terpotong karena sahutan yang terdengar dari arah salah satu pintu kamar di gubuk tersebut. Dari sana, keluarlah seorang pria berperawakan tinggi - sedikit lebih tinggi dari Kid, begitulah perkiraan Law -, dengan balutan hanbok berwarna biru dan baeja berwarna putih. Pemuda itu mengenal dengan baik jenis seragam yang dipakai orang itu; itu adalah hanbok tabib kerajaan. Namun bukan pakaianlah yang menarik perhatian Law. Surai pria itu dibiarkan terurai dengan gelombang yang indah, dimulai dari pangkal bahu. Warnanya pirang keemasan, dan memanjang hingga pinggang. Iris matanya berwarna merah pekat, tampak setengah terbuka namun memberikan kesan lembut dan nyaman. Orang ini pun berdarah campuran, batin Law.
Mengabaikan Law yang terpana, si wanita paruh baya mengecek bungkusan-bungkusan obat yang diserahkan oleh pemuda itu, lalu menjawab pertanyaan si pria. "Ya, Tabib. Jong Geum telah membawa obatnya dengan lengkap."
Anehnya, pria itu tak menanggapi kembali, melainkan memperhatikan Law dengan keheranan yang tampak jelas di wajahnya. Gumaman pelan meluncur dari bibirnya, "Bagaimana kau …?"
Sayangnya ucapan tersebut tak diteruskan oleh si empu, karena wanita paruh baya itu menghampirinya, berniat menyerahkan bungkusan-bungkusan obat.
"Tabib, ini obatnya."
"Baiklah, mohon tunggu sebentar." Demi kesopanan, pria itu segera menyahut dan mengambil bungkusan itu. Ketika dia baru melangkahkan kaki, yang tampaknya menuju ke arah dapur, dia berbalik dan kembali memandang Law dengan tatapan yang aneh. "Apa kau bisa membantuku merebus obat ini?"
"Ya?" Law tidak mengerti mengapa pria itu memintanya membantu untuk merebus obat itu. Bukankah dia adalah seorang tabib? Apakah dia tidak membawa seorang asisten?
"Tolong bantu aku menyiapkan air rebusan obat, karena obat ini harus diracik terlebih dahulu sebelum digunakan. Perawat yang biasa mendampingi pekerjaanku tidak bisa ikut ke tempat ini karena jadwal bergilirnya belum berakhir. Jadi … apa kau bisa membantuku?"
Dahulu Law sering membantu tabib kerajaan yang pernah menolongnya untuk menyiapkan air rebusan obat. Dia tahu itu hanyalah pekerjaan kecil, namun apa yang dia lakukan sangat menolong sang tabib untuk membuat obat lebih cepat. Dengan cepat pemuda itu mengangguk, menyanggupi permintaan dari tabib bersurai pirang nan indah.
.
.
Kid sangat ingin membiarkan kemarahannya meluap sesekali, tetapi bertindak berdasarkan emosi sesaat tidak akan menghasilkan apa-apa. Menarik napas dua kali, dia menoleh ke arah Heat yang masih menatap kosong ke arah kamar Kid yang tak berpenghuni. Hanya ada sebuah nampan berisi makanan yang masih penuh, dan pastilah makanan itu sudah tak lagi hangat.
"Mohon ampuni saya, Tuan Muda," sahut budak itu seraya menyembah ke kaki pemuda bersurai merah di hadapannya, namun Kid menghalangi niat tersebut. Dengan cepat dia menahan Heat untuk berlutut, dan menyuruhnya untuk bangkit kembali. "Saya ingat betul bahwa Tuan Muda Law masih berada di dalam kamar ini ketika saya menyerahkan makan siangnya. Saya mohon …"
"Aku mengerti, Heat." Kid masih berusaha mengontrol emosinya. Heat tidak tahu apa-apa, dia yakin itu. Pastilah Law pergi keluar setelah Heat meninggalkan kamar. "Aku tidak akan menghukummu, tenang saja."
"T-tapi …," dia masih saja gemetar melihat wajah Kid yang memerah karena amarah yang membuncah, "… seharusnya saya bisa lebih berhati-hati dan mengawasi Tuan Muda Law sepanjang waktu. Maafkan saya, Tuan Muda."
Kid menggeleng. "Tolong berjanjilah kau tidak akan memberitahukan ini kepada Seo yeonggam. Beliau sedang terbebani oleh berbagai macam hal, jadi kita tidak boleh menambah beban pikirannya. Kau mengerti?"
Budak berambut biru muda itu mengangguk cepat. "Lalu bagaimana dengan Tuan Muda?"
"Aku akan mencarinya sendiri," putus Kid. Ya, dia sendiri yang harus menemukan Law. Ini adalah ketelodorannya karena tidak menyuruh para pengawal pribadi untuk lebih ketat menjaga kamar yang Law tempati, jadi dialah yang harus bertanggung jawab penuh. "Sekarang kau bawa makanan di nampan itu, lalu letakkan di kamar tamu yang aku tempati. Bila yeonggam memeriksa kamar ini, paling tidak dia sudah yakin bahwa Law telah menyelesaikan santap siangnya."
"Baik, Tuan Muda." Dengan segera Heat melaksanakan perintah yang diucapkan Kid.
"Ah, satu hal lagi." Pemuda itu berkata kembali sebelum meninggalkan bangunan rumah utama. "Walau yeonggam berkata bahwa beliau tidak akan pulang sebelum makan malam tiba, tetapi kita tidak tahu dengan pasti. Jadi, bila yeonggam kembali sebelum aku berhasil menemukan Law, katakan padanya bahwa aku sedang mengajak Law berjalan-jalan ke pasar rakyat di ujung timur. Kau mengerti?"
Setelah Heat mengangguk menyanggupi, Kid melangkahkan kaki menelusuri seluruh area rumah. Tak ada tanda-tanda Law berada di sana, dan para pengawal pribadi berjaga dan bersiaga penuh di sekitar rumah, sehingga rasanya mustahil jika Law bisa pergi dari kediaman keluarga Seo tanpa dilihat oleh para penjaga …
"Tunggu. Kamar rahasia!" gumam Kid dengan wajah cerah. Dengan cepat dia menuju ke paviliun perpustakaan - yang juga tampak kosong -, dan memasuki kamar rahasia. Ruangan itu juga sama kosongnya, - sedikit mengecewakan - namun Kid segera memeriksa lemari dinding dan tumpukan yo di dalamnya. Dan benar saja, susunan yo yang rapi telah berubah. Berarti Law pergi melalui pintu ini, pikirnya.
Setelah keluar melalui pintu rahasia, pemuda beriris amber itu menyusuri jalan setapak dan berakhir pada pintu keluar masuk para budak yang minim penjagaan. Ya, tentu saja Law dapat pergi tanpa diketahui siapa pun, karena pintu itu kosong tanpa satu pun pengawal pribadi yang menjaganya. Melangkah keluar melalui pintu tersebut, dia pun menoleh ke arah kiri dan kanan jalanan di luar kediaman, dan hatinya tergerak menuju pasar rakyat di arah timur. Mungkinkah Law berada di sana? tanyanya pada diri sendiri.
.
.
Law menatap tabib berambut pirang yang sedang menyiapkan cawan berisi obat di atas meja dapur. Tak membutuhkan waktu lama untuk merebus obat yang dia racik, tak sampai dua puluh menit, obat itu telah siap untuk disajikan. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali dia melakukannya; menyiapkan air rebusan obat dan membantu merebus obat-obatan herbal hasil racikan tangan seorang tabib. Sedikit rasa rindu menyergap kalbu kepada tabib penolongnya dahulu, namun itu tak terasa buruk.
Pemuda itu masih saja terpesona dengan rambut pirang sang tabib yang bergelombang indah. Jarang sekali Law menemukan seseorang yang membirkan rambutnya terurai, bahkan seorang wanita sekalipun. Menurut buku-buku sejarah milik Geum yang pernah dia baca, di zaman ketika Tiga Kerajaan masih berdiri, gaya rambut seperti ini masihlah sangat lumrah. Namun saat ini, ikatan rambut sangtu menjadi simbol orang-orang berpendidikan, sehingga hampir semua pria mengenakannya. Kecualikan Law. Sejak awal dia memang tak menyukai gaya rambut sangtu; pemuda itu memotong pendek rambutnya hingga tak perlu diikat sama sekali.
"Terima kasih telah membantuku," sahut tabib itu dengan suara rendah yang terdengar lembut. "Kau memiliki keterampilan untuk pekerjaan seperti ini, dan aku senang mengetahuinya."
"Ya …." Law sedikit tersipu mendengar ucapan itu, dan terasa canggung sekali. Seumur hidup menjadi budak, jarang sekali dia mendengar pujian atas hasil pekerjaannya.
"Tabib, apakah obatnya sudah siap?" tanya Jong Geum dari arah pintu dapur. Pelayan wanita itu menatap penuh harap, tentulah dia ingin cepat-cepat menyerahkan obat tersebut kepada si pasien, yang hingga saat ini belum Law ketahui siapa orangnya.
"Ya, hanganim. Obatnya telah siap."
Tabib itu menyerahkan cawan obat di atas sebuah nampan kepada Jong Geum, dan pelayan itu membawanya ke dalam rumah dengan hati-hati. Sementara Law semakin berpikir-pikir setelah mendengar panggilan sang tabib kepada si pelayan wanita. Beberapa hal memenuhi pikirannya, termasuk rumah gubuk sederhana tempat dia berada saat ini beserta pemiliknya.
"Pekerjaan kita di sini sudah selesai. Mari kita kembali ke halaman rumah dan berbincang," ajak tabib bersurai pirang itu.
Law menghentikan rentetan pemikirannya, lalu mengangguk cepat untuk menanggapi ajakan itu. Sesungguhnya hal itu malah semakin menambah keheranan di wajahnya. Berbincang? Untuk apa? Tetapi Law pun ingin berbincang dengan tabib itu, mengenalnya, dan mencari jawaban atas daftar pertanyaan yang terlintas di dalam benak.
"Apa yang kau lakukan? Bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?" tanyanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran, tepat setelah mereka berdua berdiri di tengah-tengah halaman rumah yang sisi-sisinya dipenuhi oleh sayuran hijau segar.
"Ya?" Law agak terkejut mendengarnya. Sebuah pertanyaan tanpa basa-basi, dan terdengar sangat aneh jika diucapkan oleh orang asing yang tidak dia kenal sama sekali. Ditambah pula dengan rasa cemas yang ditunjukkan oleh sang tabib, membuat Law merasa sangat bersalah, entah mengapa. Baru saja dia ingin kembali menanggapi pertanyaan itu, namun seruan dari arah pintu gerbang menghentikan ucapannya.
"Hyungnim!"
TBC
Author's Note:
Oke, kurasa aku bakal dikutuk lagi setelah ini …
*dikutuk menjadi beruang*
Tunggu, aku kan beruang …
HOLA, semuanya. Fast update, karena aku tak bisa menyingkirkan isi chapter ini dari kepalaku, so I decide to quickly write everything down and shut my brain down afterwards.
Tak banyak yang ingin kuungkapkan, but again and again, aku mengucapkan terima kasih kepada semua reader, reviewer, favoriter(?)/voter, whatever you are called. Support kalian selalu mampu menyemangati hari-hariku yang gersang. I love you all!
And by this chapter, I would like to say that aku mulai membuka writing commission, silakan dicek di page FB, twitter atau Instagram Leenahanwoo (murah, bisa via pulsa). Bagi yang tertarik, langsung hubungi saja di kontak-kontak tertera.
Anyway, last but not least, would you mind to leave any review?
Review Reply:
Milkyta Lee: Permen loli Milkita, uenak e poool /slapped. Awww, pujianmu … duh, terima kasih saja rasanya tak cukup, do you know how much I'm grateful for that? But still, terima kasih telah menyempatkan diri membaca cerita aneh bin ajaib dari beruang ini *bow*
Cho Eun Min: Err, aku selalu speechless setiap kali dikau komen, nak. Bingung mau nanggapi yang mana dulu XD But poin-poin yang bisa kuambil. Satu, maaf karena moment kidlaw-nya tak sebanyak yang diharapkan. Biasa, demi keperluan cerita (dan karena aku author evil). Dua, jangan kutuk TBC, nak. TBC tidak bersalah. Beruang inilah yang membuat kau dan Rin fobia terhadap kata terkutuk itu. Jadi … salahkan saja rumput yang bergoyang dombret di luar sana. Oke? Dan selamat menikmati chapter 7 ini *smirk*
