Title : [애별리(Love, Separate, Leave)] Chapter 8 - Janji
Genre : Saeguk, Shounen-ai
Rating : T
Length : Chaptered with 5.927 words
Author : leenahanwoo
Pairing: Kid x Law
Cast : Eustass Kid, Trafalgar Law, Heat and OC. Cast lain akan muncul seiring berjalannya cerita.
Warning : SHO-AI Content ! Don't like don't read ! OOC-ness is everywhere !
Disclaimer : All One Piece casts are Eiichiro Oda-sama's. This story and OC are mine.


NOTE: TELAH HADIR CHAT GRUP ANIME + K-POP FANDOM. Bagi yang memiliki akun LINE, silakan add saya dengan ID leenahanwoo, dan nanti akan saya invite ke chat grup ini ^^ Mari kita lestarikan fandom Anime dan KPOP di bumi pertiwi Indonesia ‼!


Glossary:
Dangui : Jubah kebesaran yang dipakai oleh para wanita anggota keluarga kerajaan, serta para dayang istana senior di atas.
Jjeokjin meori : Rambut yang ditata di bagian tengkuk leher, dan diikat dalam bentuk sanggul. Binyeo (pasak sanggul) dipasang pada sanggul sebagai penghias dan pengencang ikat sanggul.
Yongjam : Pasak sanggul berukiran naga pada gaya rambut jjeokjin meori; khusus dipakai oleh Ratu Joseon.
-Untuk glossary lain, bisa dicek pada chapter sebelumnya-


##++~ Love, Separate, Leave ~++#


Pasar rakyat di ujung timur tampak sepi ketika Kid mendatangi area tersebut. Banyak pedagang yang telah menutup kedai-kedainya, namun beberapa kedai makanan masih tetap dibuka hingga malam menjelang, begitu pula dengan kedai yang menjual obat-obatan. Orang-orang berjalan lalu lalang, namun dia tak kunjung menemukan keberadaan Law. Ke mana sebetulnya pemuda itu? desah Kid dalam hati.

Jujur saja, ketika Kid mengetahui Law menghilang dari kediaman keluarga Seo, dia sangat marah. Bukan kepada pemuda tampan beriris keperakan itu, bukan kepada Heat yang dia perintahkan untuk mendampingi Law sepanjang waktu, bukan pula kepada para pengawal pribadi yang berjaga di sekitar rumah. Amarah itu meluap karena seharusnya dia bisa menjaga keselamatan Law dengan lebih baik. Salahkan dirinya yang terlalu lama mengurus dokumen-dokumen di Biro Pencatatan Kependudukan dan Budak, karena prosedur di biro itu terlalu bertele-tele dan membosankan. Andai saja dia tiba di rumah satu jam lebih awal, tentulah dia dapat mencegah Law untuk pergi sendirian.

Menggelengkan kepala, Kid melayangkan pandangan ke arah sebuah kedai yang masih dibuka; tampak seorang pelayan laki-laki sedang membersihkan meja yang telah kosong. Tidak ada salahnya mencoba bertanya, pikirnya. Dia pun melangkahkan kaki ke pintu masuk kedai, dan pelayan itu menoleh dengan segera, menatap penuh harap kepada tamu yang baru saja datang.

"Selamat datang di kedai kami, Tuan. Silakan duduk, kami masih memiliki meja kosong …"

"Maaf, aku hanya ingin bertanya," Kid memotong perkataan si pelayan, "apa kau melihat seorang pemuda berpakaian sutra halus melewati pasar ini?"

"Banyak sekali pemuda dengan pakaian seperti itu yang mampir ke kedai kami, Tuan," jawabnya dengan bibir tersenyum geli.

"Ah, kukira dia mungkin tidak mampir ke sini." Ya, karena Kid yakin betul Law tidak membawa uang sepeser pun. Tidak, Kepala Pengawal Seo pastilah belum berani memberikan barang-barang yang Law butuhkan kecuali pakaian yang pemuda itu kenakan, karena mereka belum mengatakan apa pun kepadanya. "Tapi dia adalah seorang pemuda berusia dua puluhan, berambut kelam, wajahnya tampan dan perawakannya tinggi … ah, sedikit lebih pendek dariku, tetapi lebih tinggi daripada orang kebanyakan. Apa kau pernah melihat seseorang seperti itu melewati area ini?"

"Oh!" Pelayan itu berseru. Tampaknya dia mengingat sesuatu. "Apakah dia anak bangsawan yang menyelamatkan pelayan wanita tadi?"

Kid mengerjapkan mata heran. Menyelamatkan pelayan wanita? Apa saja yang sesungguhnya sudah dilakukan Law?

"Apa kau melihatnya?"

"Ya, kukira yang Tuan tanyakan adalah pria yang menyelamatkan seorang pelayan wanita yang diganggu oleh para pemuda pengangguran dari kalangan jungin. Dia mengatakan bahwa wanita itu adalah pelayannya, tapi aku tidak percaya. Pelayan wanita itu sangat cantik, seperti para pelayan di istana. Rasanya tidak mungkin jika dipekerjakan oleh keluarga yangban sekalipun. Ah, kulihat mereka pergi ke arah desa para pedagang, pandai besi dan pertukangan lainnya di pinggiran Doseong. Anda tahu, itu adalah daerah yang terkenal sebagai tempat pembuatan benda-benda yang akan dikirim ke istana." Pelayan itu berbicara panjang lebar.

"Ya, aku tahu tempat itu." Tentu saja Kid sangat mengetahui tempat yang disebutkan si pelayan. Semua perlengkapan istana, mulai dari persenjataan, alat-alat memasak, peralatan rumah tangga dan bahkan instrumen musik berasal dari sana. "Kau yakin mereka pergi ke arah sana?"

"Tentu saja, Tuan. Aku melihat mereka pergi ke arah desa itu, karena saat itu aku sedang menganggur dan …"

Kid tak lagi mendengarkan hal-hal tak penting yang diucapkan oleh pelayan itu. Dengan cepat dia mengeluarkan beberapa keping uang dan mengucapkan terima kasih atas informasi yang disampaikan oleh si pelayan. Pikirannya telah berlanglang ke desa tersebut, ingin cepat-cepat menemukan Law dan membawanya pulang sebelum Kepala Pengawal Seo kembali dari istana.

Di perjalanan, sebuah ingatan kecil mengganggu pikiran Kid. Rasanya seperti sebuah janji yang belum mampu dia penuhi, dan membuatnya merasa berat untuk melangkah ke sana. Tentulah itu bukan janji yang dia buat ketika tabib yang mengobati Law meminta agar dirinya menjaga pemuda bermata keperakan itu dengan sebaik-baiknya; dia yakin betul. Tetapi Kid tak bisa mengingat janji apakah itu, atau mengapa dia merasa terbeban karenanya. Menghela napas satu kali, pemuda itu mencoba menyingkirkan perasaan bersalah yang menguar tiba-tiba. Ya, saat ini dia harus fokus untuk menemukan Law.

Desa itu tidak dihuni oleh banyak penduduk; hanya ada beberapa rumah milik para pedagang kecil-kecilan, dan beberapa gubuk milik rakyat biasa yang tersebar hingga kaki bukit. Pastilah itu adalah gubuk-gubuk milik pekerja di daerah pertukangan. Rasanya tidak mungkin Law mengantar pelayan wanita ke tempat-tempat pembuatan peralatan dan persenjataan; tebaknya, wanita itu mungkin adalah pelayan dari salah satu rumah yang ada di desa tersebut. Jadi Kid mempersempit area pencarian dengan hanya menyusuri rumah-rumah hingga gubuk-gubuk rakyat. Namun tak ada satu pun rumah yang memperlihatkan adanya keberadaan Law di dalamnya. Gubuk-gubuk yang berdiri di sepanjang jalan juga menunjukkan hal yang sama. Beberapa kali dia bertanya kepada penduduk yang melewati jalanan dengan pertanyaan yang sama seperti yang dia ajukan kepada pelayan di kedai itu, tetapi tak ada satu pun yang melihat pemuda itu. Kid hampir saja menyerah, namun terdapat sebuah gubuk di bagian paling ujung di kaki bukit yang belum dia datangi. Itu adalah gubuk terakhir yang belum dia periksa. Dalam hati dia berdoa semoga saja Law benar-benar ada di sana.

Ketika kakinya hampir sampai di pintu gerbang gubuk yang pendek, lamat-lamat Kid melihat rambut panjang berwarna keemasan yang amat dia kenali. Surai yang indah, yang selalu dia kagumi sejak masih kanak-kanak. Pria itu mengenakan seragam tabib berwarna biru, yang menandakan bahwa dia baru saja pulang dari istana ketika mendatangi gubuk ini. Kid ingin langsung menghampiri si pria, menanyakan apa yang sedang dia lakukan di desa tersebut sampai iris amber-nya menangkap sosok Law yang berada di sisi pria itu. Perutnya terasa bergejolak melihat keduanya sedang berbicara dengan serius. Sial sekali, mereka sudah saling bertemu, teriaknya dalam hati. Pastilah setelah ini dia akan dimarahi oleh sang tabib. Mendesah pasrah, Kid berseru memanggilnya.

"Hyungnim!"

Pria itu menoleh mendengar panggilan itu. Panggilan yang Kid berikan hanya untuknya. Senyum itu terkembang, melihat sosok seorang pemuda berambut merah berjalan memasuki pekarangan gubuk yang tak begitu luas. Sementara Law melihatnya dengan mata membulat penuh ketakutan, dan menyembunyikan diri di balik punggung si pria bersurai keemasan. Pastilah dia takut Kid akan memarahinya, walaupun pemuda itu sama sekali tidak berniat berbuat serupa.

"Kid." Dia menyahut singkat. Nada suaranya rendah, namun lembut di saat yang bersamaan. Nada suara yang selalu memberinya kenyamanan. "Aku baru saja ingin mencarimu dan menanyakan mengapa kau membiarkan pasienku berkeliaran hingga ke tempat ini."

Kid mendekatinya dengan takut-takut. Ya, seharusnya Kid-lah yang ketakutan sekarang, karena telah melanggar janji yang dia buat kepada tabib di hadapannya ini. Meneguk ludah berat, dia berkata, "Dia pergi dari rumah tanpa sepengetahuanku." Nada suaranya mengecil di akhir kalimat.

"Kau sudah berjanji padaku untuk menjaganya dengan baik hingga luka di bahunya benar-benar sembuh," ujarnya tajam.

Pemuda bersurai merah itu menunduk sambil meringis. Sikap yang tak pernah dia tunjukkan kepada siapa pun selain hyungnim-nya. "Maafkan aku."

Helaan napas pelan terdengar dari pria itu. "Aku sedikit kecewa, tetapi aku maklumi keteledoranmu. Aku yakin bahwa kau sudah melaksanakan semua yang aku perintahkan untuk tidak mengizinkan dia melakukan pekerjaan berat dan membiarkannya beristirahat penuh selama tiga hari ini."

Kid tersenyum mendengarnya. Berarti dia tidak akan dimarahi, bukan? "Jadi, apakah aku boleh …"

"Mama, mohon jangan keluar dahulu. Biar kami yang menemui Tabib Hawkins." Suara pintu terbuka dan menampilkan dua orang wanita dengan hanbok berwarna putih gading. Salah seorang di antaranya berwajah pucat khas orang yang sedang terkena demam.

"Tenanglah, Ahn sanggung. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih secara pribadi kepadanya."

Kid mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia tidak salah melihat, bukan? Jadi gubuk ini adalah …

"Ini adalah gubuk pengasingan Yang Mulia Ratu Inhyeon." Hawkins, sang tabib bersurai keemasan, berujar pelan dengan nada yang hati-hati, sembari memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan oleh Kid.

Pemuda berambut merah itu membulatkan mata, dan perutnya kembali bergejolak. Kali ini bukan disebabkan oleh rasa takut, melainkan karena dia barulah menyadari bahwa instingnya tak pernah salah. Inilah janji yang belum mampu dia tepati. Janji yang membebani pundaknya selama empat tahun ini.

Tapi tampaknya bukan hanya Kid yang terkejut bukan main. Law, yang berada di belakang sang tabib, pun merasakan yang sama. Pengawal kerajaan berambut merah itu dapat melihat ketegangan di sekujur tubuh si pemuda bermata keperakan, lebih kepada keseganan dan ketakutan bahwa dia merasa telah bertindak tidak sopan.

Mantan ratu Inhyeon adalah seorang wanita yang cantik dan anggun. Beliau berasal dari keluarga yangban, dibesarkan dan dididik untuk menjadi calon pendamping Raja Sukjong. Tak pernah ada cacat yang terlihat ketika dia masih menjadi ratu; sempurna, disegani para pejabat dan dicintai rakyat. Namun, sebuah konspirasi yang dilakukan oleh Selir Hui dan Faksi Selatan berhasil mencelakakan sang ratu; menjebaknya begitu dalam hingga tak mampu membela diri. Beliau dituduh meracuni Ibu Suri Myeongseong, dan bukti bungkusan obat berisi racun yang ditemukan oleh investigator dari Biro Investigasi di Daejojeon tak terbantahkan. Ibu Suri Kerajaan Joseon, yang kala itu sedang sakit keras, pun mengembuskan napas terakhirnya tepat sehari sebelum Ratu Inhyeon dijatuhi hukuman pengasingan. Dan hal itu mendorong Raja Sukjong untuk mempercepat pelaksanaan hukuman, sekaligus merombak Majelis Dewan Kerajaan dengan menyingkirkan para pejabat dari Faksi Barat yang diduga terlibat dalam konspirasi tersebut.

Satu tahun sebelum peristiwa itu terjadi, Kid berhasil diterima menjadi prajurit di bawah Biro Kepolisian Sayap Kanan, biro tempat Seo yeonggam - saat itu masih berstatus naeuri - bertugas sebagai wakil kepala. Pemuda itu begitu gembira karena telah resmi menjadi seorang prajurit, dan meminta Im ahjussi untuk mengantarkannya ke istana karena tak sabar memberitahukan kabar tersebut kepada sang ayah asuh pengganti, yang kala itu sedang menemui Raja Joseon. Namun tentulah, sebagai remaja tanggung penuh rasa ingin tahu akan tempat yang belum pernah dia datangi, kedatangannya ke istana malah membuat dirinya tersesat dan terpisah dari si pelayan setia. Di saat itulah kali pertama Kid bertemu dengan Ratu Inhyeon yang bersahaja.

"Siapa …?" Kid memandang wanita cantik di hadapannya dengan tatapan polos. Sesungguhnya dia ketakutan; berada di tempat yang asing, sendirian, dan terpisah dari sang pengasuh. Namun dia telah diterima sebagai prajurit di Biro Kepolisian, sesuai apa yang dia impikan. Sudah saatnya dia mulai menunjukkan sifat pemberani dan tangguh; tak boleh lagi bersikap kekanakan.

Wanita itu balik menatap Kid dengan pancaran mata yang lembut dan menenangkan. Dia tersenyum, begitu manis hingga mau tak mau anak itu ikut tersenyum kecil. Dangui yang dia pakai indah sekali; bermotif hiasan daun keemasan, lambang naga di bagian bahu, depan dan belakang serta surai bergaya jjeokjin meori yang dihiasi yongjam berwarna emas.

"Apa kau tersesat?" Wanita itu bertanya. Suaranya pelan dan bernada anggun, dan Kid merasa seperti sedang berbicara dengan seorang ibu.

Dengan sopan, Kid menjawab, "Ya, mama. Saya mencari Wakil Kepala Seo, tetapi sepertinya saya tersesat." Siapa pun wanita di hadapannya ini, apa pun jabatan yang dia miliki di istana, si anak lelaki bersurai merah haruslah memanggil para wanita milik raja dengan sebutan sesopan itu. Beruntunglah dia sempat mempelajari tata krama istana sedari kecil, hasil ajaran sang ayah asuh, walau belum sampai pada hal-hal yang detail.

Senyum itu terkembang makin lebar ketika dia menjawab, "Wakil Kepala Seo tentulah sedang berada di Huijeongdang. Bukan begitu, Ahn sanggung?" Wanita itu bertanya dengan mata melirik ke arah wanita lain yang berdiri di belakangnya, memakai pakaian sutra berwarna hijau tua, dengan raut wajah tenang.

"Ya, Yang Mulia. Saya dengar Yang Mulia Raja sedang berdiskusi secara pribadi bersama Kepala dan Wakil Kepala Biro Kepolisian," jawabnya. Kid sedikitnya merasa terkejut dengan panggilan tersebut. Berarti wanita yang ada di hadapannya ini adalah anggota keluarga kerajaan?

Wanita anggun itu kembali menatap Kid, lalu berkata, "Apa kau mau aku mengantarkanmu ke sana?"

Tanpa sadar, Kid mengangguk menyetujui. Rasanya sedikit tak sopan jika dia berjalan bersama wanita milik raja, terlebih lagi seorang anggota keluarga kerajaan, tetapi sebuah naluri yang kuat terpatri di hati untuk tidak menolak ajakan tersebut. Bagai naluri seorang anak untuk mematuhi perintah orang tuanya.

Di perjalanan menuju Huijeongdang, wanita cantik itu terus bertanya ini dan itu kepada Kid. Nama, kediaman tempat tinggalnya, apakah dia masih bersekolah, kegiatan apa yang sering dilakukan, buku-buku yang telah dia baca, bahkan makanan yang dia sukai. Anak lelaki itu menjawab dengan segan, namun tak sedikit pun terdengar nada penolakan. Sejujurnya dia suka berbincang dengannya, memberikan rasa nyaman dan tenang di tengah kesendirian.

"Kid!" Suara Wakil Kepala Seo menyapa telinga Kid sebelum mencapai area Huijeongdang. Anak itu tersenyum lebar ketika menoleh dan mendapati sang ayah asuh pengganti berdiri dengan wajah setengah pias. Dia pun berlari menghampiri dan memeluk Wakil Kepala Seo dengan erat, layaknya seorang anak yang begitu gembira karena kerinduan kepada orang tua telah terobati.

"Aku diterima sebagai prajurit Biro Kepolisian, naeuri!" seru Kid.

Mendengar perkataan itu, ujaran kemarahan yang sesungguhnya ingin diucapkan oleh Wakil Kepala Seo seketika terhenti. Tampak jelas di wajahnya bahwa dia bahagia dan berbangga hati, karena Kid berhasil lulus pada ujian masuk prajurit kerajaan. Dia tahu betul betapa Kid sangat antusias ketika mendengar perihal ujian masuk tersebut, serta bertekad untuk lulus dan menjadi seorang prajurit kerajaan, sesuai yang dia impikan sejak kecil.

"Sebetulnya aku ingin memarahimu karena datang ke istana tanpa sepengetahuanku, tetapi aku maklum karena kau selalu saja tak mau bersabar dan menungguku pulang."

Kid mengusap tengkuknya malu-malu. "Aku hanya ingin segera memberi tahu."

"Prajurit kerajaan?" Wanita itu mendekati keduanya. Tampak pancaran mata bangga ketika dia menatap Kid, yang membuat anak lelaki itu makin gugup. "Jadi kau berhasil lulus pada ujian yang diselenggarakan tahun ini?"

"Yang Mulia Ratu, mohon maafkan ketidaksopanan bocah ini. Dia sama sekali belum tahu tata krama istana dan telah berlaku tidak sopan pada Anda." Wakil Kepala Seo segera menunduk dalam-dalam, tak lupa mendorong punggung Kid untuk ikut menunduk. Yang Mulia Ratu? Mata anak lelaki itu membulat sempurna, terlalu terkejut setelah mendengar sosok asli dari wanita yang telah membantunya. Kid yakin dia akan dihukum seberat-beratnya karena telah bersikap kurang ajar kepada ratu kerajaan ini.

"Sama sekali tidak, Wakil Kepala Seo. Aku sendiri yang ingin mengantarkannya untuk menemuimu. Dan aku begitu bahagia bisa mengenalnya sedekat ini."

Wakil Kepala Seo memandang wanita itu, Yang Mulia Ratu Inhyeon, dengan tatapan sendu yang tak dimengerti oleh Kid. Dia ingin sekali bertanya, tetapi sang ratu terlebih dahulu menginterupsi.

"Kid, sekarang kau sudah bertemu dengan Wakil Kepala Seo. Ingatlah, kau harus selalu menuruti semua perkataannya, dan jangan pernah membantah. Jangan lagi membuatnya khawatir karena kau tersesat di lingkungan istana. Terlebih pula kau telah menjadi prajurit Biro Kepolisian. Buatlah kami bangga. Apa kau mengerti?" ujarnya dengan ketegasan di setiap patah kata yang terucap.

Kid mengangguk. "Y-ya, Yang Mulia. Mohon maafkan saya." Benar-benar seperti sedang dinasihati oleh seorang ibu, Kid merasakan hal itu. Namun melihat senyuman yang tak pernah luntur di wajah sang ratu, anak lelaki itu sama sekali tidak keberatan untuk dimarahi.

Sebelum Ratu Inhyeon meninggalkan keduanya, dia kembali berucap, "Kid, berjanjilah satu hal. Sering-seringlah berkunjung ke istana dan menemuiku. Aku akan senang jika kita bisa bertemu kembali dan menghabiskan waktu bersama."

Sebuah pertemuan tak terlupakan, dan menjadi awal hubungan bak ibu dan anak yang terjalin di antara keduanya. Kid benar-benar melakukan apa yang diminta oleh Ratu Inhyeon kepadanya; sesekali datang berkunjung ke Daejojeon bersama Seo yeonggam dan menghabiskan waktu dengan minum teh bersama. Selama satu tahun penuh, pemuda itu seakan mendapati kembali kehadiran ibu yang tak pernah dia tahu bagaimana rasanya. Dan dia amat menyukai kegiatan itu.

Namun semua berubah ketika konspirasi terjadi dan peristiwa Gisa Hwanguk berhasil menggulingkan Ratu Inhyeon dan Faksi Barat di Majelis Dewan Kerajaan. Kid menyaksikan bagaimana sang ratu - yang dia yakini sama sekali tak bersalah - menerima hukuman dari Raja Sukjong dengan pasrah, dan pergi ke pengasingan dengan wajah tegar penuh kepalsuan. Kid ingin sekali memberontak dan ikut membela, tapi Seo yeonggam menghentikan niatnya. Beliau mengatakan bahwa belum tiba saat bagi mereka membalikkan keadaan, dan meminta pemuda itu untuk bersabar. Raja Sukjong sendiri, sekalipun telah menjatuhi hukuman yang begitu berat atas peristiwa tersebut, tetap tak mempercayai bahwa Ratu Inhyeon tega melakukan tindakan sekeji itu. Dia pun meminta Kid dan Seo Yonggi untuk diam dan mengamati, sembari menunggu kesempatan untuk memulai penyelidikan ulang yang bersifat rahasia.

Selepas kepergian Ratu Inhyeon ke pengasingan, Kid berjanji untuk menyelidiki kasus ini secara menyeluruh jika dirinya telah mendapat kesempatan dan kekuatan untuk melaksanakan; bahwa konspirasi itu didalangi oleh Faksi Selatan dan Selir Hui, bahwa Ratu Inhyeon tak pernah melakukan kejahatan yang telah dituduhkan, serta mengembalikan sang ratu ke posisinya semula. Janji yang mengantarkan Raja Sukjong untuk menarik Wakil Kepala Biro Kepolisian Seo Yonggi beserta Kid ke dalam tubuh Pengawal Kerajaan sehingga dapat mempermudah jalan dalam melakukan penyelidikan. Janji untuk mengungkap semua kebenaran. Janji yang belum dia tepati hingga saat ini.

Rentetan pikiran itu terhenti ketika kedua pasang mata Kid dan mantan Ratu Inhyeon bertemu. Wanita itu memandang Kid dengan penuh haru dan suka cita, senyum yang begitu lebar dan menawan terkembang saat dia melangkahkan kaki untuk mendekati pemuda itu. Kid tak tahu harus berkata apa; bahagia, sedih, malu bercampur aduk di dalam hati.

"Akhirnya kau datang, Kid." Tangannya terulur dan mengusap pipi si pengawal kerajaan. "Kita bertemu kembali setelah sekian lama."

" … Yang Mulia Ratu …."

Mantan Ratu Inhyeon menggeleng. "Aku bukan lagi ratu yang berkuasa, anakku. Dan … kau tampak begitu tampan. Kau seorang pengawal kerajaan sekarang."

Mata itu tergenang likuid bening. Ekspresi yang sama ketika sang mantan ratu mengetahui bahwa Kid telah resmi menjadi prajurit dalam Biro Kepolisian. Sebuah tatapan bangga.

Pelukan antara keduanya tak dapat dihindari. Begitu erat, sarat akan kerinduan. Kid pun merasakan hal yang sama; mantan Ratu Inhyeon telah menjadi ibu tak tertulis baginya. Betapa pemuda itu merasa bodoh karena menutup mata akan keberadaan sang ratu di pengasingan. Bukan ingin menghindari, hanya merasa malu. Selama empat tahun ini dia merasa tak pantas untuk bertatap muka dengan wanita anggun itu, karena belumlah mampu untuk membebaskan Ratu Inhyeon dari hukuman.

"Anakku, betapa aku sangat merindukanmu." Gumam itu berulang, dengan tepukan halus penuh kasih menyapa punggung Kid yang lebar dan kokoh.

"Ya, Yang Mulia. Saya di sini," sahut Kid pelan. "Maafkan saya karena tak pernah datang berkunjung."

Mantan Ratu Inhyeon menggeleng kuat, seraya melepaskan pelukan. "Tidak, anakku. Aku paham betul situasi yang kau hadapi. Datang ke tempat ini dapat menimbulkan desas-desus tak menyenangkan, dan kau bisa saja dituduh sebagai pengkhianat. Kau sudah melakukan tindakan yang benar."

Kid menggigit bibir dalamnya. Dia tak peduli dianggap sebagai pengkhianat. Tetapi rasa segan yang mendalam telah menghalanginya untuk sekadar mencari tahu di mana sang ratu diasingkan. Dan membuatnya makin merasa bersalah.

"Terima kasih, kita masihlah dapat dipertemukan walau dalam keadaan seperti ini. Semoga kau selalu diberi kesehatan dan dilindungi oleh Yang Kuasa, anakku." Kata-kata yang sama, yang tak pernah terlewat untuk terucap dari bibir sang ratu. Doa yang selalu mengiringi langkah yang Kid tapaki.

Suratan takdir tak pernah berbelok. Mungkin pertemuan ini adalah sebuah tanda, bahwa sudah saatnya Kid menunjukkan taring. Bukti-bukti yang mengarah kepada ketidakbersalahan Ratu Inhyeon telah terkumpul, sedikit demi sedikit, tersimpan rapi di kamar pribadi milik Seo yeonggam. Mereka hanya tinggal menunggu saat yang tepat untuk menyerang balik. Ya, keberadaan Law akan memperlancar segalanya. Jika saja dia mau diajak bekerja sama. Jalan menuju ujung setapak masihlah terasa panjang, namun Kid yakin mereka mengarah ke jalur yang benar.


##++~ Love, Separate, Leave ~++#


"Kita berpisah di sini," ujar Hawkins ketika mereka bertiga tiba di salah satu persimpangan jalan. Kid memutuskan untuk pulang bersama Law dan sang tabib setelah reuni singkat penuh keharuan ke rumah pengasingan mantan Ratu Inhyeon. Kediaman tabib bersurai pirang itu berada di kawasan para jungin, sehingga mereka harus berpisah di tengah perjalanan.

"Tidak mau kuantar sampai ke rumah, hyungnim?" tanya Kid. Law yakin betul nada suara itu menggambarkan kekecewaan khas kanak-kanak yang harus berpisah dari teman-teman sepermainannya karena hari telah menjelang senja dan diharuskan pulang ke rumah masing-masing.

Hawkins menggeleng dengan ekor mata melirik ke arah Law. "Pasienku harus segera pulang dan beristirahat," sebuah tolakan halus terucap, "itu jika … yeonggam belum ingin menyampaikan surat-surat penting yang kau ambil tadi siang." Sebuah senyum menggoda tercetak di bibirnya.

Law mengernyit tak mengerti. Mereka sedang membicarakan dirinya, bukan? Surat penting apa? Sementara budak itu bisa melihat keterkejutan yang kentara di wajah Kid.

"Hyungnim tahu?" serunya.

Kekeh kecil meluncur begitu saja. Hawkins tampak begitu anggun ketika melakukannya. "Kau harus meminta para pengawal kerajaan untuk berhenti menggunjingkan dirimu. Tapi kuakui, gunjingan mereka menyenangkan."

Kid berdecak-decak mendengarnya. "Pria-pria yang senang bergunjing itu buruk sekali kelakuannya."

Sebelum meninggalkan mereka, sekali lagi Hawkins tersenyum kepada Law dan berkata, "Ingat, nanti malam, minta Heat untuk mengganti balutan lukamu dengan yang baru. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan, jadi kau tenang saja. Dan beristirahatlah lebih banyak. Kau sudah melakukan perjalanan yang panjang hari ini. Aku akan datang ke kediaman keluarga Seo dua hari lagi."

Law mengangguk paham. Hawkins, walau Law memperkirakan umurnya hanya berbeda dua-tiga tahun darinya, tampak begitu dewasa dan tenang. Sebagai seorang tabib istana, tentulah harus selalu menjaga sikap.

Sepeninggalan sang tabib, Law dan Kid meneruskan perjalanan menuju kediaman keluarga Seo. Banyak hal penuh tanda tanya berkecamuk di dalam pikiran pemuda berambut kelam itu. Ternyata Kid memang menyimpan banyak rahasia. Bukan hanya dia adalah anak asuh di keluarga Seo, tetapi juga pemuda itu memiliki hubungan yang begitu karib dengan Ratu Inhyeon yang digulingkan pada peristiwa Gisa Hwanguk. Pemuda itu begitu ingin tahu apa saja yang telah Kid lewati di tahun-tahun sebelum pertemuan mereka. Dan apa sesungguhnya ikatan yang terjalin antara Kid dan Tabib Hawkins? Persahabatan? Persaudaraan? Law bisa merasakan tatapan dan ekspresi Kid yang sama sekali berbeda dari apa yang biasa diperlihatkan padanya. Tapi apa? Apa yang berbeda? Mengapa dia merasa begitu tak nyaman ketika Kid memandang sang tabib istana dengan pancaran mata yang berbeda itu?

"Jika ada yang ingin kau tanyakan padaku, katakan saja," ucap Kid tiba-tiba, membuyarkan lamunan Law yang dalam. Dia ini cenayang atau apa? "Aku akan menjawab sebisanya."

Dia menatap Kid yang masih berjalan di depannya. Begitu banyak yang ingin dia tanyakan hingga tak tahu harus memulai dari mana. Tetapi semua itu tertelan di tenggorokan, ketika Law teringat hal yang lebih penting dari sekadar memuaskan rasa ingin tahu yang menggebu. "Maafkan aku," Law menyahut pelan, "karena telah meninggalkan rumah tanpa izin."

Ya, Law sangat yakin Kid akan memarahinya karena pergi dari kediaman keluarga Seo tanpa memberitahu siapa pun. Namun anehnya, hingga saat ini, si pemuda bersurai merah sama sekali tak menyebut-nyebut kesalahan besarnya itu, atau membentaknya penuh kekesalan.

"Aku mengerti," balas Kid. "Ketika aku kecil, aku juga sering pergi diam-diam tanpa sepengetahuan Seo daegam karena terlalu bosan tinggal sendirian di dalam rumah."

Law menganga tak percaya. Kid mengatakan hal itu dengan begitu santai, seolah-olah yang dia lakukan tidak berarti apa-apa. "Kau tidak … marah? Kesal? Ingin memukulku?"

"Seo yeonggam mungkin akan mencambuk kakimu dengan bilah bambu jika mengetahui hal ini, tetapi aku bukan dia." Kid menggeleng, lalu menghentikan langkahnya. Law yang berada di belakang pun ikut berhenti berjalan. "Aku mengerti kau pasti memiliki alasan sendiri. Hanya saja, jika lain kali kau ingin pergi sendirian, paling tidak beritahu Heat atau Im ahjussi."

Law menunduk penuh penyesalan. Pastilah Heat yang merasa sangat bersalah karena kepergiannya, merasa tak cakap dalam melakukan tugas untuk menemani Law setiap saat.

"Sejak aku menemukan kamarmu yang kosong," Kid berbalik menghadap Law ketika melanjutkan perkataan, "aku terus berpikir bahwa aku sudah lalai dalam menjagamu. Aku berjanji pada hyungnim untuk merawatmu dengan baik, sementara yeonggam memintaku untuk melindungimu. Saat itu aku berpikir bahwa aku telah gagal menepati janji-janji itu, dan itu membuatku takut, sangat takut."

Bukan hanya Heat? Law tak pernah menyangka Kid akan merasakan hal seperti itu. Kekhawatiran yang serupa ketika pemuda beriris amber itu menyelamatkan dirinya yang dilukai oleh Jang Hee Jae. Dia tahu bahwa dia melihat ekspresi yang sama, namun hatinya tetap meragu.

"Yang Mulia Ratu Inhyeon adalah orang kedua terdekatku di luar keluarga Seo. Beliau menganggapku seperti seorang anak yang tak pernah dia miliki. Ketika beliau dihukum atas kejahatan yang tak pernah dia lakukan pada peristiwa Gisa Hwanguk, aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menemukan dalang yang sesungguhnya. Janji itu … belum kutepati hingga saat ini."

Mata Kid menerawang jauh, dan Law bisa melihat pancaran ketakutan di sana. Begitu perihkah ketika sebuah janji diingkari?

"Dan aku tidak ingin hal yang sama terulang." Kedua orbs sewarna amber itu mengalihkan pandang, fokus menatap mata keperakan milik Law. Pandangan itu bertemu, menghisapnya terlalu dalam. "Terutama karena janji-janji itu melibatkan dirimu di dalamnya."

Melibatkan dirinya? Maksud Kid adalah janji un …

"Berjanjilah untuk tidak pergi ke mana pun tanpa sepengetahuanku. Beritahu aku apa pun yang ingin kaulakukan, dan jangan melakukannya sendiri jika itu bisa membuatku kehilangan jejakmu. Bantu aku untuk menepati janji yang telah kuikrarkan." Bisikan itu menggema tepat di telinganya, membuyarkan untaian pikiran yang terangkai. Matanya mengerjap, dan barulah dia menyadari keberadaan dua buah tangan kokoh yang melingkari bahu. Mendekap hingga Law bisa merasakan deru nafas di tengkuknya. Kid memeluknya begitu erat.

"K-Kid …." kisik Law tanpa mampu berbuat apa-apa. Perasaan itu kembali membuncah, menggelenyar hingga rasanya dia ingin menangis.

"Izinkan aku untuk melindungimu."


##++~ Love, Separate, Leave ~++#


"Jadi, mereka pergi bersama?" tanya Kepala Pengawal Seo sekali lagi, memastikan bahwa apa yang dia dengar adalah memang benar adanya.

Im ahjussi menjawab, "Ketika Tuan Muda kembali, dia memberikan surat-surat ini kepada saya agar dapat menyerahkannya kepada Anda, yeonggam. Dan kemudian, Tuan Muda Kid pergi bersama Tuan Muda Law ke pasar rakyat di ujung timur." Ya, saat Heat mendatanginya dengan tubuh bergetar karena pemuda bersurai kelam itu tak lagi berada di dalam kamar, dia benar-benar terkejut, tak tahu harus berkata apa. Untunglah sang tuan muda berpikir cepat; Kid segera menemuinya untuk menjelaskan situasi bahwa dia harus segera pergi mencari dan menemukan Law. Pemuda bersurai merah itu juga memintanya untuk memberikan jawaban itu jika Seo yeonggam menanyakan perihal keberadaan Law dan dirinya.

Seo Yonggi tersenyum. Dia tahu bahwa sang pelayan setia telah berbohong, terlihat jelas dari matanya yang terus melirik ke arah lain, dan jemari yang gemetar tak lazim. Dia tak tahu apa yang sebetulnya terjadi, tetapi dia yakin telah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui. Kemungkinan besar adalah Law yang pergi meninggalkan rumah dan Kid yang pergi mencari pemuda itu. Jika benar seperti itu, maka dia hanya akan berusaha memaklumi. Dahulu dia mendisiplinkan Kid yang berbuat nakal dengan cambukan di kaki, namun untuk kali ini dia akan berusaha memaafkan apa yang dilakukan Law. Pemuda itu mungkin akan jauh lebih marah kepadanya yang mengambil keputusan secara sepihak setelah mengetahui apa yang berada di dalam genggaman tangan. Namun dia berharap Law dapat mengerti; dia melakukan semua itu demi keselamatan Law sendiri. "Baiklah. Aku rasa kita tidak perlu menyiapkan …"

"Makanan untuk kami berdua? Sayang sekali kami memutuskan untuk bersantap malam di rumah saja, yeonggam."

Ucapan Seo Yonggi terpotong oleh kedatangan Kid, dan Law yang berdiri di sampingnya. Kedua tangan mereka bertautan, membuatnya heran namun sang kepala pengawal hanya tersenyum kecil, mencoba mengabaikan. "Aku kira kalian akan menghabiskan waktu di pasar ujung timur hingga larut malam."

"Dan membiarkan Anda tetap berdiam diri setelah menerima surat-surat yang telah susah payah kuurus di biro yang suka bertele-tele itu?" Kid berdecak-decak sebal.

Sang kepala pengawal tersenyum geli. Terkadang anak asuhnya masihlah bertingkah seperti para pemuda pada umumnya, senang saling bertukar canda. Namun dia tahu bahwa Kid telah berusaha menjaga sikap dan wibawa, karena jabatan yang dia pegang sudah tidak bisa dianggap remeh. "Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menyia-nyiakan usaha kerasmu sepanjang siang ini. Mari kita berbicara di dalam."

.

.

Law tiba di kediaman keluarga Seo tanpa banyak masalah. Kid membawanya masuk melalui pintu depan, dan para pengawal pribadi yang menjaga di sana membiarkan mereka masuk tanpa mempertanyakan apa-apa. Para penjaga bahkan memberi salam hormat - menyapa dan memanggilnya 'Tuan Muda', membuat dahi Law kembali mengernyit, ekspresi yang sama persis ketika Heat pertama kali memanggilnya dengan sebutan serupa. Dia hanya tamu di sana, lebih tepatnya saksi di bawah perlindungan Pengawal Kerajaan. Haruskah mereka memanggil seorang budak seperti dirinya dengan sebutan sesopan itu?

Kid tampaknya mengerti ketidaknyamanan yang dia rasakan. Dengan satu tangan yang bebas dia menggenggam tangan Law, mencoba menenangkan. Namun bukan memperoleh ketenangan, jantungnya malah makin berdebar-debar. Oh sial. Gelombang perasaan itu kembali, dan membuat pipinya memanas.

Mencapai bangunan rumah utama, Law dapat melihat Kepala Pengawal Seo berdiri di sana bersama Im ahjussi, dengan beberapa dokumen yang tergenggam di tangan. Percakapan singkat menjadi basa-basi semata, dan lagi-lagi Law tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Ingin bertanya pun rasanya segan. Hanya satu hal yang bisa dia simpulkan: Kid-lah yang membawakan dokumen-dokumen di tangan sang kepala pengawal. Selebihnya dia tak paham.

Ketika Kepala Pengawal Seo berkata agar mereka berbicara secara pribadi, Law pikir hanya Kid saja yang diharapkan untuk masuk. Namun kegelisahannya meningkat ketika pemuda bersurai merah itu menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah bersama-sama. Mengapa? Mengapa dia harus ikut masuk? Apakah dia akan dimarahi karena telah meninggalkan rumah tanpa izin? Hanya itu yang terpikirkan, dan keringat dingin mengalir di dahinya tanpa sadar. Mungkin karena teringat perkataan Kid tentang cambukan bilah bambu yang biasa diterapkan sang kepala pengawal untuk menghukum Kid semasa kanak-kanak. Jangan-jangan dia akan menerima hukuman yang sama.

Mereka masuk ke dalam ruangan tempat Kepala Pengawal Seo biasa menerima tamu. Ruangan itu tak begitu luas dan minim perabotan. Hanya ada sebuah meja, dan beberapa pajangan guci lokal berkualitas tinggi di setiap sudut. Selebihnya adalah area kosong, sehingga dapat pula dijadikan ruang berkumpul dan mengadakan rapat kecil-kecilan.

Kepala Pengawal Seo duduk di balik meja seraya meletakkan dokumen-dokumen di atas meja tersebut. Kid menyuruhnya duduk berhadapan dengan sang kepala pengawal - membuatnya hatinya semakin gelisah -, sementara si pemuda beriris amber itu duduk di bagian samping, dengan kata lain, mendampingi. Seakan-akan merasa sedang diadili, Law ingin bersujud memohon ampun tetapi tubuhnya terasa kaku.

"Sebelumnya aku minta maaf jika kau merasa tak nyaman dengan semua ini," Kepala Pengawal Seo memulai pembicaraan," namun aku harap kau mau memaklumi dan mengerti apa pun yang akan kusampaikan."

Meneguk ludah berat, Law mengangguk. "B-baik, yeonggam."

Dia menghela napas satu kali, lalu kembali berbicara. "Seperti yang telah kau ketahui, salah satu saksi kunci dari kasus Arsip Registrasi adalah kau. Hingga saat ini, kau masih belum diperbolehkan memberi keterangan tertulis, karena sejak kasus ini mencapai ke Majelis Dewan Kerajaan, terjadi masalah yang sangat rumit di istana."

Law mengernyit. Masalah apa?

"Dewan Kerajaan meminta agar merekalah yang menginterogasi kasus ini secara mendalam." Kid pun ikut berbicara.

Kepala Pengawal Seo memandang Law lekat-lekat. "Jika mereka mengintervensi, bukan hanya Yang Mulia Raja akan kehilangan kuasa penuh dalam mengadili perkara, tetapi kami, Pengawal Kerajaan, juga tak bisa menjamin keselamatan para saksi. Terutama dirimu, Law. Kemungkinan terburuk, kau bisa terbunuh. Terlebih lagi kau hanyalah seorang budak yang dipekerjakan di biro dengan tingkatan paling rendah di istana. Harus kuakui, posisimu saat ini sangat tidak menguntungkan."

"Jadi," suara Law bergetar ketika menanggapi, "mereka berusaha menghentikan kasus ini dengan mengambil alih perkara dan … menyiksa para saksi pada saat interogasi?"

"Tepat. Itulah tujuan mereka yang sebenarnya."

Law menutup mata sejenak. Betapa kejamnya para menteri di Majelis Dewan Kerajaan. Mereka berusaha menutupi kejahatan yang dilakukan para anggota Faksi Selatan dengan bertindak sejauh ini.

"Yang Mulia Raja berusaha mempertahankan kuasa Pengawal Kerajaan dalam mengusut kasus ini, tetapi anggota dewan bersikeras pada keinginan mereka. Bila tak dipenuhi, mereka mengancam akan memboikot seluruh rapat kenegaraan yang berhubungan dengan Majelis Dewan," jelas Kid.

"Hanya karena para saksi?" tanya Law.

"Terutama karena dirimu," sahut Kepala Pengawal Seo. Terdengar kekecewaan dari nada suaranya; kekecewaan atas kelakuan para menteri di dalam Majelis Dewan Kerajaan. "Faksi Selatan di dalam Majelis Dewan tentu menganggap kau adalah mangsa empuk, karena golongan dan kedudukanmu yang memudahkan mereka dalam menjalankan rencana yang telah mereka susun. Para anggota dewan akan memanfaatkan kelemahan yang kau miliki untuk menutup perkara ini tanpa sempat mengadili para tersangka."

Sejak awal Law tahu kesaksian darinya tak akan berarti apa-apa, malah hanya akan menambah kesulitan bagi Satuan Pengawal Kerajaan. Mengapa dari awal dia tak bersikap masa bodoh dan menutup mata, seperti yang selalu dikatakan oleh Pengawas Hwang untuk memilih hidup tenang tanpa terlibat masalah dalam istana? Semua sudah terjadi, pemuda itu tak lagi bisa menghindar. Sudah terlanjur basah, sekalian saja menceburkan diri ke dalam kubangan lumpur bernama politik. "Apa … tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk mencegah mereka melaksanakan rencana tersebut, yeonggam?" tanyanya.

Tampak keraguan di dalam pancaran mata Kepala Pengawal Seo. Kid pun terdiam, membuat Law semakin ketakutan. Apakah ini adalah akhir dari perjalanan mereka dalam mengungkap kebenaran?

"Ada," jawab sang kepala pengawal pada akhirnya. "Yang Mulia Raja sendiri sangat menyetujui ketika aku mengungkapkan solusi ini. Aku tidak tahu apakah kau akan bisa menerimanya atau tidak, namun ketahuilah, Law, bahwasanya kami melakukan semua ini murni karena kami ingin melindungimu. Bukan hanya sebagai seorang saksi di bawah perlindungan Pengawal Kerajaan, tetapi juga sebagai seorang manusia, sebagai rakyat Joseon di bawah pemerintahan Yang Mulia Raja Sukjong."

"Apakah pemecahan masalahnya amat berisiko?"

"Ya dan tidak. Tergantung dari sudut pandang mana kau melihatnya." Kid yang menjawab pertanyaan itu.

"Aku tahu kau bisa membaca ini dengan mudah, bahkan bahasa Cina pun telah kau kuasai. Di dalam dokumen ini, terpapar pemecahan yang kami ajukan pada Yang Mulia Raja." Kepala Pengawal Seo menyodorkan dokumen-dokumen di atas meja, meminta Law untuk membacanya. "Jika kau tidak menyetujui ini, aku bisa mengajukan pembatalan. Tetapi aku tak bisa menjamin keselamatanmu secara penuh jika kau menolaknya."

Dengan gugup Law mengambil dokumen yang disodorkan Kepala Pengawal Seo, membacanya baik-baik sesuai apa yang diperintahkan. Matanya membelalak sebab terlalu terkejut akan isi dari dokumen-dokumen tersebut. Dia menggosok mata beberapa kali, mencoba meyakinkan bahwa dia tak salah membaca deretan huruf hanja di atas lembaran kertas.

"… Ini … surat adopsi …?" Law menatap Kepala Pengawal Seo dengan pandangan tak percaya. "Saya?"

"Ya. Aku tidak memiliki anak laki-laki dari mendiang istriku, yang dapat meneruskan garis keturunan keluarga Seo. Kedua anak perempuan yang kumiliki pun telah menikah dan tinggal di keluarga suami mereka masing-masing. Secara hukum, aku berhak mengadopsi seorang anak laki-laki dari golongan mana pun yang aku sukai, untuk dijadikan penerus keluarga," jelas sang kepala pengawal. "Dan Yang Mulia Raja setuju agar aku mengadopsimu. Anak-anak dari kaum yangban mendapat perlakuan yang sangat baik ketika berhadapan para penginterogasi, mereka tidak akan berani memperlakukanmu dengan buruk, sebab kaum yangban memiliki hak istimewa di mata hukum, dan tentu saja pada ajaran konfusianisme. Paling tidak, hal ini dapat melindungimu dari kursi penyiksaan."

Diadopsi? Oleh Kepala Pengawal Seo? "Lalu bagaimana dengan Kid? Bukankah dia juga anak adopsi di keluarga ini?"

"Secara legal, Seo daegam-lah yang mengadopsiku. Walau beliau memiliki seorang putra untuk meneruskan nama keluarga, tetapi karena jabatan beliau yang sangat tinggi kala itu, Yang Mulia Raja memberikan pengecualian," jawab Kid. "Seo yeonggam memiliki hak untuk mengadopsimu, dan dia melakukannya. Semua semata-mata agar kau terlindungi."

"Apakah … apakah tidak ada cara yang lain lagi selain adopsi?"

Kid menggeleng. "Ini adalah pilihan yang teraman dan termudah. Kau mendapatkan hak yang sama dengan orang-orang dengan golongan yang sama."

"Selain itu," Kepala Pengawal Seo melanjutkan, "kau juga dapat bersekolah di sekolah milik pemerintahan, mengambil tes masuk prajurit, atau menjadi pekerja di biro pemerintahan. Jika status dan pekerjaanmu telah terjamin, maka kursi penyiksaan di area pengadilan tidak akan semudah itu menyentuhmu."

Ini tidak benar. Tidak, hatinya menolak untuk percaya. Mengapa harus melindunginya? Kid berkata bahwa dia akan melindungi Law, begitu pula dengan Kepala Pengawal Seo. Padahal dia hanyalah seorang budak, seseorang dari golongan cheonmin yang bahkan kadang tak dianggap sebagai manusia. Walau statusnya saat ini adalah seorang saksi kunci, namun nyawanya tak seberapa berharga untuk dipertahankan. Adopsi? Bagaimana seorang budak sepertinya dapat dengan mudah berpindah ke kelas tertinggi hanya dengan alasan pengadopsian? Kepala pemuda itu mendadak terasa sangat berat ketika memikirkan semua itu secara bersamaan, bahkan nyeri pada luka di bahu yang baru saja sembuh seakan kembali menyerang.

"Saya … bolehkah saya undur diri? Saya rasa saya perlu beristirahat," ucap Law sambil mengeratkan kepalan tangan. Ya, dia membutuhkan waktu untuk memproses semuanya. Dan pikirannya tak mau diajak bekerja sama untuk saat ini.

Kepala Pengawal Seo hanya mengangguk. Dia mengerti bahwa Law tidak dapat menerima ini dengan mudah.

"Aku akan mengantar …"

"Tidak!" potong Law cepat, hampir-hampir terdengar membentak. Dengan segera dia menyadari kesalahan yang dia perbuat, dan kembali berujar, "Maaf … maksud saya … saya tidak perlu ditemani. Saya bisa …"

Tanpa melanjutkan ucapannya, Law berdiri dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Kepala Pengawal Seo dan Kid yang memandangnya sendu dan penuh rasa bersalah.


TBC


Author's Note:


Not fast update karena beruang sedang menjadi kafilah ke negeri Jekardah XD XD

Again, a very long chap karena terlalu bertele-tele soal masa lalu dan sebagainya. Mohon pengertiannya, wahai para reader-ku. Hal ini penting karena menyangkut masa lalu Kid yang tersembunyi. Ada yang mau berspekulasi? *smirk*

Tak bosan-bosannya aku mengucapkan banyak terima kasih kepada dukungan, jejak review/favorite, dan jejak votement yang telah susah payah kalian tinggalkan demi keutuhan hati beruang yang rapuh ini *slapped*

Anyway, last but not least, would you mind to leave any review?


Review Reply:


Your Fan: Terima kasih atas dukungannya ^^

anastaciafebby: Ah, aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu telah sudi membaca cerita ini ^^ Dan terima kasih telah menikmati ceritanya. Aku merasa tersanjung, tulisanku masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi sekali lagi, terima kasih karena kamu menyukai cerita ini.

Cho Eun Min: … Nak, review-mu sudah bisa jadi 1 one shot *slapped* Anyway, sudah terjawab bukan, siapa si tabib cakep? Yeap, itu chara kaporit buat menjadi thrid wheel, huehuehuehue. Dan semua modus itu pantas Kid lakukan demi sang pemilik hati #eaaaaaa. Kali ini moment cuma dikit, tapi HARDCORE FLUFF. Aku harap kau menyukainya, anakku … dan … aku turut berduka cita atas TBC yang kau kuliti. RIP, TBC.