Title : [애별리(Love, Separate, Leave)] Chapter 9 - Pandangan

Genre : Saeguk, Shounen-ai

Rating : T

Length : Chaptered with 6.081 words

Author : leenahanwoo

Pairing: Kid x Law

Cast : Eustass Kid, Trafalgar Law, Heat and OC. Cast lain akan muncul seiring berjalannya cerita.

Warning : SHO-AI Content ! Don't like don't read ! OOC-ness is everywhere !

Disclaimer : All One Piece casts are Eiichiro Oda-sama's. This story and OC are mine.


NOTE: TELAH HADIR CHAT GRUP ANIME + K-POP FANDOM. Bagi yang memiliki akun LINE, silakan add saya dengan ID leenahanwoo, dan nanti akan saya invite ke chat grup ini ^^ Mari kita lestarikan fandom Anime dan KPOP di bumi pertiwi Indonesia ‼!


##++~ Love, Separate, Leave ~++#


Seorang pria bersurai keemasan berjalan menuju kediaman Kepala Pengawal Seo. Sudah jadwalnya untuk berkunjung ke sana, karena dia telah berjanji untuk datang dua hari setelah mengobati mantan ratu Inhyeon. Rumah sang kepala pengawal selalu dikelilingi pengawal pribadi, dijaga ketat seperti yang selalu dia ingat. Dia menyukai rumah ini, selalu memberikan ketenangan dan keamanan.

Tepat sebelum memasuki area rumah, Hawkins mengenang awal-awal kehidupannya hingga kali pertama bertemu dengan keluarga Seo. Pria itu bukan penghuni asli daratan Joseon. Berasal dari Pulau Jeju, dia lahir dari seorang ayah yang merupakan pedagang asing dan ibu yang berasal dari kelas jungin, empat tahun sebelum kekacauan Deosong di tahun 1672. Ketika pergolakan terjadi, para pedagang asing diusir dari tanah Joseon, dan hampir semua keluarga yang menikahkan putra dan putri mereka dengan pedagang asing dihabisi oleh prajurit pemerintah, entah atas alasan apa. Banyak yang menduga mereka dianggap berkhianat terhadap bangsa dengan menjalin hubungan kekerabatan dengan pedagang asing, padahal kesemuanya adalah penduduk taat hukum.

Di usianya yang memasuki tahun kelima, Hawkins telah menyaksikan bagaimana ayahnya diusir paksa tanpa dibiarkan menyampaikan selamat tinggal kepadanya dan sang ibu. Kakek dan nenek, serta ibunya dibantai dengan kejam. Keluarga kecilnya hancur, musnah dalam sekejap. Hanya dia yang berhasil diselamatkan oleh kepala pelayan keluarga dan diungsikan jauh hingga ke provinsi Uiju, provinsi terdekat di perbatasan Joseon dan Qing, agar mudah melarikan diri ke kerajaan tetangga jika terjadi hal-hal yang darurat.

Empat tahun lamanya Hawkins hidup di dalam persembunyian. Kepala pelayan keluarga benar-benar menjaganya dengan ketat, agar jangan sampai diketahui oleh pemerintah. Untunglah keluarga si kepala pelayan bahu-membahu mengurus dan membelikan buku-buku untuk pembelajaran, bahkan mencarikan sarjana yang mau berbaik hati menjadi guru pribadi untuk mengajarinya pendidikan yang layak. Mereka pun harus tinggal di sebuah gubuk tua, demi menghindari kecurigaan pemerintah provinsi; agar dianggap mereka hanyalah keluarga dari golongan cheonmin dari Pulau Jeju dan mencoba merantau ke daratan. Benar-benar hidup penuh kesusahan dan kesengsaraan, dan Hawkins bertahan dengan sabar.

Hingga di tahun 1676, undang-undang pelarangan pedagang asing untuk memasuki Joseon dicabut oleh Raja Sukjong, dengan alasan perekonomian kerajaan yang makin melemah setelah putusnya hubungan perdagangan dengan orang-orang luar. Di saat itulah para pedagang asing mulai berdatangan dan berdagang di tanah Joseon, bahkan banyak dari pedagang yang sempat terusir memutuskan untuk kembali dan menetap sebagai penduduk seperti semula. Terkecuali ayah Hawkins. Menurut kabar yang dia dengar dari pedagang yang kembali ke tanah Joseon, setelah pengusiran, ayahnya kembali ke daratan jauh dalam keadaan sakit-sakitan dan meninggal sebelum mencapai kampung halaman. Dengan kata lain, Hawkins benar-benar telah menjadi yatim piatu.

Di tengah keputusasaan, Seo daegam mendatanginya dalam misi kemanusiaan. Raja Sukjong memerintahkan untuk mengumpulkan anak-anak berdarah campuran yang menjadi korban pembantaian pasca terjadinya kekacauan Doseong, untuk didata dan diurus oleh Biro Sosial. Dia sangat iba melihat keadaannya yang yatim piatu dan hanya mampu diurus seadanya. Beruntunglah salah seorang tabib istana, yang juga merupakan sahabat baik Seo daegam, bersedia mengadopsi, dan Seo daegam membantu mengurus surat-surat pengadopsian atas dirinya. Dan sejak saat itu, Hawkins dapat menjalani kehidupan normal yang lebih layak.

Karena hubungan baik antara ayah angkatnya dan Seo daegam kala itu, membuat Hawkins ikut dekat dengan keluarga yangban yang telah mengabdi kepada istana selama tiga generasi berturut-turut itu. Dia sering berkunjung ke kediaman keluarga Seo, dan dari kunjungan-kunjungan itulah, dia mengetahui bahwa Seo daegam juga mengadopsi seorang bayi berdarah campuran yang disembunyikan di ruang rahasia miliknya. Entah mengapa dia menyembunyikan fakta itu, dan baru mengumumkannya secara luas setelah bayi itu berusia 3 tahun. Namun apa pun alasan di balik itu, Seo daegam pada akhirnya mengizinkan Hawkins untuk menjadi teman pertama dari si anak berambut merah menyala.

Itulah awal mula hubungan karib antara Hawkins dan keluarga Seo. Bukan hanya pria itu berutang budi pada Seo daegam, tetapi dia juga memperoleh teman sekaligus adik yang begitu dekat dengannya dan sangat dia sayangi. Kid pun memperlakukannya begitu istimewa sejak kecil. Mungkin karena si pemuda beriris amber menganggapnya sebagai sosok kakak yang penyayang, dan hanya Hawkins tempatnya bergantung di luar anggota keluarga Seo.

Melangkah memasuki gerbang dan berjalan menuju bangunan rumah utama, pria itu tersenyum ketika matanya yang beriris merah marun menangkap sosok Kid yang sedang duduk di pelataran rumah. Jarang sekali dia melihat pemuda itu pulang tepat waktu. Biasanya Kid akan pulang malam, bahkan sering pula tak pulang hingga pagi menjelang. Sejauh yang Hawkins ketahui, pemuda itu banyak menerima perintah dari Kepala Pengawal Seo atau kadang, Yang Mulia Raja sendiri. Memeriksa hal ini, mengawasi hal itu, mencari informasi yang bersifat sangat rahasia, dan lain-lain; dia memang adalah seorang kepala pasukan mata-mata yang amat berdedikasi pada kerajaan.

"Kid." Sahutan terucap dari bibirnya ketika mendekati sosok beriris amber itu.

Kepala Kid mendongak sedikit, dan senyum manis terkembang di wajah berkulit putih pucat miliknya. "Hyungnim, kau datang."

"Tentu saja." Hawkins duduk di samping Kid, lalu meletakkan kotak berisi jarum-jarum akupuntur di sisinya. "Sudah waktunya aku memeriksa pasien-pasienku di rumah ini."

Kid tertawa kecil. Betapa Hawkins menyukai suara si pemuda yang dalam dan khas, terutama ketika dia tertawa. "Aku harap kau tidak merasa keberatan karena pasienmu bertambah dua orang minggu ini."

Pria bersurai keemasan itu menggeleng. "Aku hanya berharap kau tidak akan menjadi pasienku yang keempat."

Lagi-lagi Kid tertawa. "Aku tidak ingin menjadi pasienmu lagi. Tidak dalam waktu dekat ini." Rupanya dia masih ingat bagaimana Hawkins yang tegas merawat Kid yang tak bisa berdiam diri dan beristirahat dengan tenang di kamarnya. Padahal dia hanya terserang flu biasa, tetapi pria bersurai keemasan itu mengurungnya di kamar selama berhari-hari, tak membiarkan dia melakukan pekerjaan apa pun. Istirahat total, begitulah alasan yang Hawkins berikan. Kid betul-betul tersiksa, hingga ketika sang tabib menyatakan bahwa dia telah sembuh sepenuhnya, pemuda itu rasanya ingin melompat-lompat kegirangan.

Mereka terdiam setelahnya. Hawkins mengamati raut wajah Kid yang letih. Kelelahan itu terasa berbeda, sebab ekspresinya yang tampak suram. "Ada apa?" sahut pria itu lembut sembari mengelus pundak Kid. "Kau bisa bercerita kepadaku."

Kid memaksakan senyum di wajahnya. Biasanya pemuda itu akan memberitahu Hawkins apa pun yang dia rasakan, tetapi entah mengapa kali ini dia dapat melihat keraguan di kedua iris berwarna amber itu.

"Aku merasa bersalah pada Law." Kata-kata itu terucap pada akhirnya.

"Mengapa?"

"Pengadopsian oleh Seo yeonggam dilakukan tanpa sepengetahuan Law sama sekali. Saat yeonggam memberi tahu Law, aku … bisa melihat sinar kekecewaan di matanya. Dan itu membuatku merasa sangat bersalah."

Ketika Hawkins pertama kali mendengar kabar soal Law yang diadopsi oleh Kepala Pengawal Seo, mulanya dia sedikit heran. Hanya untuk menyelamatkan kesaksian si pemuda pada kasus Arsip Registrasi, sang kepala pengawal sampai melakukan hal sejauh itu. Sesungguhnya itu sama sekali tidak salah, dan beliau memiliki hak penuh untuk mengadopsi Law, terlebih lagi Keluarga Seo tidak memiliki anak laki-laki dari garis yang diturunkan pada Kepala Pengawal Seo Yonggi. Tetapi tetap saja hal itu mengundang tanya dari berbagai pihak, termasuk dirinya.

Untunglah Kid segera menjelaskan kepada Hawkins bahwa pengadopsian Law ke dalam keluarga Keluarga Seo bukan hanya demi menyelamatkan kesaksiannya dari intervensi Majelis Dewan Kerajaan atas kasus tersebut, tetapi mereka juga ingin agar Law 'berada' di pihak mereka. Ketentuan dari Kerajaan Joseon agar status golongan yangban dapat tetap dipertahankan adalah satu orang dari generasi penerus diharuskan menjadi pegawai pemerintah atau bergabung ke dalam satuan tentara kerajaan. Jika saja Law dapat memenuhi ketentuan ini, bukan saja hal ini dapat melindungi dirinya sendiri pada saat pendalaman kasus Arsip Registrasi dilakukan, tetapi pemuda itu juga dapat menjadi sekutu Satuan Pengawal Kerajaan di mana pun dia ditempatkan di dalam istana.

Hawkins amat mengerti akan alasan yang dikemukakan oleh Kid. Sebuah ide yang brilian, tetapi hanya akan berhasil jika si pemuda berambut kelam dapat menerima hal tersebut dan mau bekerja sama. Sebaliknya, hal itu malah akan berubah menjadi rumit jika Law menolak. Usaha pengadopsian yang dilakukan Seo yeonggam akan berujung sia-sia, dan Kid … dia sudah memperkirakan bagaimana harapan si pemuda bersurai merah untuk menjadikan Law sekutu di pihak mereka akan kandas begitu saja, dan membuat Kid kecewa. Pria itu tahu betul, bahwa di balik semua rancangan rencana itu, Kid berharap banyak pada pemuda beriris keperakan itu. Keberadaan Law sebagai sekutu tentulah akan memberikan angin segar pada Kid; dia pastilah akan meminta pemuda itu untuk untuk membantunya menyusut kembali peristiwa Gisa Hwanguk, membuktikan ketidakbersalahan mantan ratu Inhyeon, dan mengembalikan sang ratu ke singgasananya.

"Dia hanya membutuhkan waktu, Kid." Hawkins mencoba menenangkan. "Jika aku menjadi dirinya, tentulah hal ini terlalu mengejutkan. Dalam satu hari, seorang budak kelas bawah berubah menjadi anak angkat seorang yangban. Siapa yang akan mempercayainya dengan mudah?"

"Aku tahu. Tetapi raut penolakan di wajahnya saat itu … membuatku makin bersalah. Seharusnya … ah, kadang aku menyesali pernah mengajukan ide itu kepada Seo yeonggam."

Mata Hawkins membulat mendengarnya. "Kid, apa semua ini rencanamu?"

Kid mengangguk sekali. "Ketika yeonggam mengatakan bahwa Majelis Dewan Kerajaan ingin mengintervensi kasus Arsip Registrasi, aku sangat ketakutan. Aku takut mereka akan menginterogasi Law, lalu menyiksanya sampai mati. Dalam keadaan panik aku mengeluarkan ide itu, langsung di hadapan Kepala Pengawal Seo dan Wakil Kepala Nam. Mereka mempertimbangkan baik dan buruknya, lalu setuju atas dasar keselamatan Law adalah yang utama. Bahkan Yang Mulia Raja juga menyambut baik rencana itu saat Seo yeonggam berdiskusi dengannya perihal kasus Arsip Registrasi. Dan seperti yang kau ketahui, hyungnim, bahwa aku menaruh harapan besar padanya." Pemuda itu menggeleng frustrasi lalu melanjutkan, "Tapi … melihat ekspresi kecewa itu …."

Hawkins kembali mengusap pundak Kid saat irisnya menangkap kesedihan yang pemuda itu rasakan. "Aku akan mencoba untuk berbicara padanya."

"Apa dia akan mendengarkan?" Terselip nada ragu pada kalimat tanya yang Kid ucapkan.

"Semoga saja."

Beranjak dari duduknya, Hawkins melanjutkan perjalanan ke kamar yang Law tempati. Kamar itu adalah kamar milik Kid, yang mulai dia pakai sejak diterima di satuan prajurit Biro Kepolisian. Mengingat masa-masa itu, pikirannya pun berlabuh pada kedekatan bak ibu dan anak antara Kid dan mantan ratu Inhyeon, tepat sebelum mencapai pintu kamar.

Jujur saja Hawkins mengetahui segala seluk beluk kehidupan Kid. Pemuda itu tak pernah menyembunyikan apa pun. Pertemuan-pertemuan Kid dengan sang ratu, dapat dipastikan dialah yang pertama kali mendapat ceritanya. Bagaimana Kid bahagia bisa mendapatkan sosok ibu yang tak pernah dia miliki melalui kasih sayang yang dicurahkan oleh Ratu Inhyeon, betapa pemuda itu mengagumi dan menyayangi sang ratu selayaknya seorang anak kepada ibunya, Hawkins tahu betul semua yang adiknya itu rasakan. Pun pria itu ikut merasakan kepedihan menyaksikan Kid terpuruk ketika mengetahui bahwa Ratu Inhyeon dihukum di pengasingan atas kejahatan yang tak pernah dia lakukan. Ketika si pemuda bersurai merah mengatakan bahwa dia akan menemukan kebenaran atas ketidakbersalahan sang ratu, Hawkins berjanji akan membantunya untuk mewujudkan keinginan itu. Dan kali ini, dia akan membuktikannya.

.

.

Sudah dua hari ini Law mengurung diri di dalam kamar. Sejak Kepala Pengawal Seo memberitahunya perihal apa yang terjadi pada kasus Arsip Registrasi, dan tentang pengadopsian atas dirinya, dia merasa terkejut dan bingung. Tak tahu apa yang harus dia pikirkan dan lakukan, akhirnya dia memutuskan untuk berdiam diri. Dia membutuhkan waktu untuk sendiri, memikirkan semua perubahan yang begitu mendadak dan tiba-tiba.

Selama dua hari ini, barulah dia menyadari alasan di balik sikap Heat yang begitu sopan, para pengawal pribadi yang menyapa hormat, dan Kid yang bersikeras agar Law menerima semua pakaian sutra, makanan lezat serta perlakuan istimewa lainnya. Tanpa sepengetahuan Law, Kepala Pengawal Seo telah menjadikannya bagian dari keluarga yangban itu. Seumur hidup menjadi bagian dari golongan budak, tentulah membuat pemuda berambut kelam itu begitu canggung, tak tahu bagaimana harus menyikapi para pelayan yang memperlakukannya sebagai tuan muda dari keluarga berkedudukan tinggi di pemerintahan.

"Law-ssi, apa Anda ingin mandi setelah bersantap malam?" tanya Heat yang datang mangkuk-mangkuk berisi makan malam yang baru saja Law santap.

Untunglah Heat mengerti dengan keresahan yang dia rasakan; begitu pula dengan Im-ahjussi dan pelayan-pelayan lain di rumah itu. Mereka tetap menyapanya dengan sebutan '-ssi', tanpa menggunakan panggilan 'tuan muda' seperti yang mereka lakukan saat memanggil Kid. Dan Law menghargai usaha mereka untuk menenangkan hatinya.

"Aku rasa tidak perlu. Mungkin besok pagi saja."

Heat mengangguk, lalu mengangkat nampan berisi mangkuk-mangkuk kotor, bersiap meninggalkan kamar. "Baik. Jika ada yang Anda butuhkan, Anda cukup memanggil saja. Saya akan berjaga di luar kamar seperti biasa."

Sesungguhnya Law tak sampai hati membiarkan Heat terus-menerus menjaganya dari luar bilik kamar yang dia tempati. Budak bersurai biru muda itu bisa saja jatuh sakit, jika dia memaksakan diri berjaga di udara terbuka setiap malam. Tetapi Heat meyakinkan untuk tidak merasa khawatir, berkata bahwa dia ingin membayar kesalahan karena telah lalai menjaga pemuda bermata keperakan itu hingga bisa keluar rumah tanpa pengawasan. Law tak bisa berkata apa-apa untuk menolak, sebab dia pun merasa sama bersalahnya.

Setelah Heat meninggalkan kamar, Law memandangi buku-buku yang dia ambil di perpustakaan pribadi keluarga Seo. Im-ahjussi memberi tahu bahwa dia diperbolehkan untuk membaca semua buku yang disimpan di perpustakaan tersebut jikalau dia merasa bosan. Tiga di antaranya adalah buku berisikan obat-obatan, dan yang tersisa adalah buku ajaran konfusianisme. Selama dua hari ini dia telah melahap habis semua buku yang sedang dia pandangi. Dalam hati dia memutuskan untuk kembali ke sana dan mencari buku lainnya untuk dibaca malam ini, tetapi sebuah sahutan dari arah pintu mengurungkan niatnya.

"Law, boleh aku masuk?"

Si pemuda bermata keperakan mengingat betul suara yang dalam nan lembut itu. Tabib bersurai keemasan yang telah menyembuhkan lukanya, Hawkins. Tanpa banyak menunggu, dia segera beranjak untuk membukakan pintu kamar dan menyambutnya.

"Ah, Anda datang," ucap Law sopan, lalu mempersilakannya memasuki kamar itu.

"Tentu saja, bukankah aku sudah berjanji?" Dengan sikap anggun, dia memasuki area kamar. Tangan kanannya memegang sebuah kotak berukir indah, yang diyakini Law sebagai tempat penyimpanan jarum-jarum akupuntur.

Benar. Sesuai janji, tabib itu datang dua hari setelah pertemuan mereka di rumah tempat mantan ratu Inhyeon diasingkan. Pemuda itu telah menunggunya sedari tadi. Dia ingin tahu bagaimana keadaan luka di bahunya; ingin memeriksa sendiri, tetapi merasa ragu apakah hasilnya akan tepat.

Mereka berdua duduk di tengah-tengah ruangan, saling berhadap-hadapan dan Law bisa melihat wajah sang tabib yang begitu halus dan berkulit putih. Walau ini adalah pertemuan kedua, tapi Law merasa sudah sangat dekat dengannya. Mungkin karena sikapnya yang lembut dan menenangkan, sehingga pemuda itu merasa begitu nyaman.

"Bagaimana keadaanmu? Apakah kau meminum obatnya secara teratur? Apa ada sakit di bagian lain?" tanyanya.

Law menggeleng pelan. "Nyeri di bahu saya masih sedikit terasa, walau sudah jauh lebih baik dari hari pertama. Saya juga meminum obat yang disiapkan sesuai dengan petunjuk yang Anda berikan untuk Heat. Apa Anda juga mengajarinya menyeduh daun obat?" Hanya keingintahuan yang tiba-tiba muncul. Law tidak menyangka bahwa Heat sendiri yang menyiapkan ramuan obat yang dia minum setiap malam, jadi pemuda itu berspekulasi mungkin saja Hawkins sudah pernah mengajarinya.

Tabib itu tertawa kecil mendengar pertanyaan itu, tetapi dia tetap menjawab tanpa berusaha menutup-nutupi. "Ya, aku pernah mengajarinya untuk menyiapkan ramuan obat saat Kid terserang flu. Mungkin sekitar dua tahun yang lalu? Saat itu, Im-ahjussi dan beberapa pelayan lain juga terkena serangan flu yang sama, sehingga mau tak mau Heat harus belajar menyiapkan obat untuk mereka semua."

"Kid? Terserang flu?" Dia tak mengira bahwa Kid yang selalu tampak sehat bugar pun bisa jatuh sakit pula. Rasa penasaran di hati Law kembali tergelitik ketika nama Kid disebut. Semarah apa pun dia pada pemuda bersurai merah itu karena telah menutupi kenyataan mengenai pengadopsian atas dirinya, tetap saja getaran itu kembali menyergap kalbu. Keingintahuan lain yang dia simpan rapat, yakni masa lalu Kid, masa-masa sebelum mereka saling mengenal.

Hawkins tersenyum, lalu mengangguk. "Dia adalah pasienku yang terburuk. Sejak beranjak remaja, dia memang tak pernah betah untuk berdiam diri di dalam kamar. Pada saat dia terserang flu, aku terpaksa mengurungnya bersama pelayan lain yang terkena sakit yang sama di dalam kamar tamu yang paling besar, dan tak memperbolehkannya untuk bekerja barang sedikit pun. Hingga hari ini, dia masih sedikit mendendam padaku karena hal tersebut."

Law membayangkan Kid yang ingin memberontak atas larangan Hawkins, tetapi tak cukup kuat karena sakit yang diderita kala itu. Lucu rasanya, membuat Law tanpa sadar tersenyum geli. Namun hal lain ikut terbersit di hatinya. Telah berapa lama Kid dan Hawkins saling mengenal? Seberapa dekatkah hubungan mereka? Semua itu menimbulkan keingintahuan baru untuk dia telusuri, berikut denyut tak menyenangkan saat mengingat bagaimana Kid memperlakukan Hawkins dengan cara dan tatapan yang berbeda.

"Baiklah, sudah cukup menggunjingkan masa lalu Kid yang suram bersamaku. Aku akan memeriksa lukamu terlebih dahulu, sebelum memutuskan apakah obatmu perlu dikurangi atau tidak."

Law mengangguk, berusaha melupakan rangkaian pikirannya untuk sementara, lalu mengulurkan tangan agar Hawkins dapat memeriksa dengan lebih mudah. Hawkins mendekat dan membuka bagian kanan hanbok sutra yang dipakai pemuda itu, kemudian membuka balutan luka yang baru saja diganti oleh Heat di pagi hari. Matanya memandang luka yang baru saja berproses untuk penyembuhan, dan dia mengangguk paham. Dengan cekatan pria itu menutup balutan luka tersebut, dan meminta Law memasang hanbok-nya kembali.

"Lukanya mengering dengan cepat. Aku akan meminta Heat untuk menyeduh obat satu kali sehari untukmu, hingga luka di bahumu betul-betul sembuh. Mungkin akan membutuhkan waktu satu minggu, jadi aku harap kau dapat bersabar," ujarnya.

"Benarkah?" Mata Law berbinar penuh syukur saat mendengar penjelasan Hawkins. Itu berarti dia tidak perlu merasakan balutan di bahunya lagi dalam waktu dekat.

Sang tabib mengangguk. Matanya masih menatap Law yang baru selesai memasang hanbok di tubuhnya. Pemuda itu dapat merasakan keraguan yang terpancar di wajah si pria bersurai keemasan; entah apa yang dia pikirkan, tetapi Law merasa gugup karenanya.

"Um, …."

"Aku lihat kau mulai membaca buku-buku di perpustakaan milik Seo yeonggam." Mata Hawkins beralih ke arah tumpukan buku yang rencananya akan dikembalikan Law malam ini.

"Ah, ya." Pemuda itu mengusap tengkuknya, mencoba menghilangkan kegugupan yang dia rasakan. "Saya merasa bosan karena tak diizinkan untuk melakukan apa-apa, dan Im-ahjussi berkata bahwa Kepala Pengawal Seo memperbolehkan saya membaca buku-buku miliknya di perpustakaan, jadi say—"

"Law," potong Hawkins, membuat pemuda itu terdiam, "apa kau masih belum dapat menerima semua ini? Pengadopsian, pelindungan, kekayaan?"

Law terdiam saat Hawkins melontarkan pertanyaan itu. Sejujurnya dia masih ragu, tak mampu memutuskan apakah dia akan menerima pengadopsian ini atau tidak. Pikirannya mengatakan bahwa ini tidaklah benar; mengangkat seseorang dari golongan cheonmin seperti dirinya menjadi anak angkat seorang yangban, rasanya sangat tidak masuk akal. Dia tahu bahwa perannya sangat penting saat ini, yakni menjadi saksi dari kasus pencurian Arsip Registrasi. Akan tetapi alasan itu pula yang membuat si pemuda beriris keperakan merasa sedikit terluka karenanya; bahwa orang-orang ini mati-matian melindunginya atas dasar hal tersebut.

"Jika kau berpikir bahwa Seo yeonggam dan Kid berusaha melindungi posisimu sebagai saksi kasus Arsip Registrasi, ya, itu betul." Hawkins menolehkan kepalanya kembali, dan menatap iris keperakan milik Law dengan intens. "Akan tetapi, pernahkah kau berpikir bahwa mereka berani melakukan sejauh ini juga berdasarkan atas asas kemanusiaan? Tidakkah kau pernah memikirkan bahwa mereka ingin melindungimu dari orang-orang yang bermaksud menggunakan kekuasaan dan posisi tinggi di pemerintahan untuk mencelakakan seorang cheonmin yang tak berharga di mata mereka?"

Law balas menatap iris kemerahan milik sang tabib. Benarkah itu? Benarkah bahwa dia dilindungi bukan hanya atas dasar kepentingan, tetapi mereka—orang-orang dari Satuan Pengawal Kerajaan—juga menghargai dirinya utuh sebagai yang seorang manusia, yang berhak untuk hidup?

"Jujur kukatakan, aku sempat berbicara kepada Kid sebelum menemuimu." Hawkins menghela napas, mengambil jeda sebelum melanjutkan apa yang ingin dia bicarakan. "Kau tahu apa yang mengejutkanku? Bahwa Kid-lah yang telah dengan impulsif mengeluarkan ide soal pengadopsian untuk melindungimu dari orang-orang di Majelis Dewan Kerajaan. Dan dia mengatakan bahwa dia merasa begitu bersalah dan menyesal karena telah membuatmu marah dan kecewa atas pengadopsian yang dilakukan Seo yeonggam. Jika memang dia hanya menganggapmu sebagai alat, saksi mata atas kasus Arsip Registrasi, maka dia sama sekali tak perlu menghiraukan perasaanmu. Bukan begitu?"

Bola mata beriris keperakan itu membulat saat mendengar kenyataan yang dipaparkan oleh Hawkins. Gelenyar aneh yang selalu bersarang di hati Law kala nama Kid terlisan kembali menguat, hingga perutnya teraduk.

"Aku …." Law ingin mengungkapkan apa yang dia rasakan, tapi tak sepatah kata pun terlontar. Hangat di dadanya membuat pemuda itu terlalu sesak.

"Aku harap setelah ini kau benar-benar dapat memikirkan mengenai pengadopsian ini. Kau memang memiliki hak untuk menolak, tapi lihatlah hal ini dari sisi yang lain, terutama bagaimana kenaikan posisimu di strata sosial masyarakat dapat memberikan banyak keuntungan dan perubahan bukan hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga bagi orang lain di sekitarmu."

Baru saja Law ingin menanyakan apakah yang dimaksudkan oleh Hawkins, pria itu telah mengeluarkan sebuah kertas dari balik hanbok berwarna biru yang dia pakai. Sang tabib menyerahkan kertas tersebut kepada pemuda itu, dan meminta agar dia membacanya. Raut wajah yang ditunjukkan Hawkins menyiratkan bahwa kertas itu merupakan jawaban dari pertanyaan yang ingin Law lontarkan. Dengan patuh, dia pun membacanya dengan teliti.

Sebuah pengumuman mengenai penerimaan anggota Biro Investigasi Kerajaan.

Law mengalihkan pandang dari kertas yang dia pegang ke arah Hawkins yang menatapnya dengan senyum. Dahinya mengernyit penuh tanya; sungguh dia tak mengerti apa tujuan Hawkins memberikan kertas pengumuman itu kepadanya.

"Jika kau memiliki waktu luang, cobalah membaca buku mengenai undang-undang negara, serta buku berisi hak dan kewajiban tiap golongan sosial. Aku yakin, itu akan sangat membantu." Hawkins beranjak dari posisi duduk, menggenggam kotak berukir indah miliknya dan bersiap meninggalkan ruangan. "Itu pun jika kau memutuskan untuk menerima semua ini."

"Aku … akan memikirkannya," ucap Law semampunya.

Sang tabib mengangguk puas. "Aku akan datang lagi untuk mengecek lukamu satu minggu lagi."

Pemuda itu mengantarkan Hawkins hingga ke pintu kamar. Tak ada kata terucap selain terima kasih dan pertukaran salam perpisahan. Kertas yang diberikan sang tabib bersurai keemasan tergenggam di tangan kanan pemuda itu dengan erat. Setelah memutuskan apa yang akan dilakukan untuk menghabiskan malam, Law pun berbalik dan mengambil buku-buku yang ingin dia kembalikan ke ruang perpustakaan.


##++~ Love, Separate, Leave ~++#


Tak pernah sekali pun terbayang di benak seorang Hwang Joosik untuk menginjakkan kaki ke rumah seorang berkedudukan tinggi di pemerintahan, rumah keluarga yangban. Dia hanyalah seorang sangmin yang berhasil memperoleh kedudukan lebih tinggi sejak berhasil lulus dari ujian masuk pegawai pemerintah. Dengan posisinya yang hanyalah seorang pengawas para budak di Biro Musik, tentu dia tak pernah memiliki kesempatan untuk dapat menjalin kedekatan dengan orang-orang yang memiliki posisi amat tinggi. Mendapatkan undangan dari Kepala Pengawal Kerajaan untuk bertandang ke rumahnya pun adalah hal yang tak pernah berani untuk dia impikan.

"S-saya diizinkan Kepala Pengawal Seo untuk datang mengunjungi Tuan Muda Law," jawabnya kaku saat para penjaga pintu gerbang menanyai kepentingannya untuk datang ke kediaman tersebut. Hanya dengan sebuah kalimat sakral, para penjaga yang merupakan bagian dari pengawal pribadi milik sang kepala pengawal memberikannya izin untuk memasuki area rumah. Di sana, dia bertemu dengan seorang pelayan, yang kemudian mengantarnya ke tempat Law berada.

Law. Budak Biro Musik yang paling sering menyebabkannya mendapat sakit kepala kini telah berganti status sosial; menjadi anak angkat Kepala Pengawal Seo Yonggi, menjadi seorang tuan muda di keluarga Seo sekaligus memperoleh status yangban. Hal itu hampir membuatnya mendapat serangan jantung saat mendengarnya dari sang kepala pengawal sendiri.

Semua berawal saat Law tiba-tiba kembali menghilang di Mohwagwan. Dia begitu marah karena budak bertubuh amat tinggi itu tak lagi berada di dalam rombongan para budak yang dia bawa. Padahal pemuda itu sudah berjanji bahwa dia akan berhati-hati dan tidak akan berbuat macam-macam. Akhirnya dia kembali ke istana dengan hati dongkol, dan berjanji akan menghukum Law seberat-beratnya bila pemuda itu kembali.

Nyatanya budak itu tak pernah kembali ke Biro Musik, ataupun ke biliknya di areal peristirahatan para budak yang disediakan oleh istana. Yang dia dapatkan hanyalah berita dari Wakil Kepala Pengawal Kerajaan, yang mengatakan bahwa dia tak perlu mengkhawatirkan Law sebab budak itu berada di bawah perlindungan Satuan Pengawal Kerajaan. Bukannya merasa lega, dia malah merasa makin jengkel; pikirnya, Law pastilah kembali membuat ulah hingga melibatkan dirinya ke dalam urusan satuan pengawal yang bertugas menjaga istana dan seluruh penghuninya.

Namun emosinya teredam saat kasus pencurian Arsip Registrasi mulai terkuak ke permukaan dan menjadi perbincangan hangat di lingkungan istana. Kabar bahwa ada seorang budak rendahan yang menjadi saksi kunci dari kasus tersebut membuatnya tercenung. Mungkinkah itu Law? Itukah sebabnya Wakil Kepala Nam mengatakan bahwa pemuda itu dilindungi oleh Pengawal Kerajaan? Dan desas-desus lain mengikuti—bahwa Dewan Majelis Kerajaan berusaha mengintervensi kasus Arsip Registrasi. Betapa jantungnya hampir melompat keluar, sebab dia tahu betul bahwa campur tangan Dewan Majelis berarti nyawa Law terancam melayang.

Untunglah, Kepala Pengawal Seo cepat mengambil tindakan dengan mengangkat budak itu menjadi anak angkatnya. Walau hal itu cukup mengejutkan banyak pihak—dia yakin Law pun pasti sama terkejutnya—, Hwang Joosik yakin bahwa langkah yang diambil oleh sang kepala pengawal sudah sangat tepat, mengingat betapa pentingnya posisi pemuda itu sebagai saksi kunci kasus Arsip Registrasi. Jika dia berada di posisi Kepala Pengawal Kerajaan, tentulah dia akan berbuat serupa.

Langkah sang pengawas para budak berakhir ketika pelayan itu membawanya ke bangunan utama rumah Keluarga Seo. Di salah satu bagian dari pelataran kamar, Hwang Joosik dapat melihat sosok Law yang dibalut hanbok sutra berwarna kuning lembut, duduk dengan sebuah buku terbuka di atas pangkuan. Dia tidak tersenyum, tapi tak pula terlihat suram. Raut wajahnya serius, dengan mata yang menelusuri rangkaian huruf yang tertata di atas kertas yang dia baca. Jika biasanya seorang Pengawas Hwang melihat Law sebagai budak Biro Musik yang acapkali dia pukul kepalanya karena membuat masalah, maka kali ini dia benar-benar dapat melihat Tuan Muda Law, tuan muda keluarga Seo yang tampan dengan berbalut pakaian mewah dan tampak menikmati hidup. Akan tetapi, … benarkah itu?

Mata Law beralih dari buku yang dia tekuni ke arah di mana Hwang Jooshik berdiri ketika pelayan itu mengumumkan kedatangannya. Senyum cerah dan lebar terkembang di bibirnya, dan dengan gerakan cepat dia menutup buku tersebut dan berdiri untuk menyambutnya.

"Naeuri!" serunya dengan penuh semangat.

Tubuhnya yang tinggi langsung meraup sang pengawas yang bertubuh pendek ke dalam pelukan erat penuh kerinduan. Hwang Joosik membalas pelukan itu dengan malu-malu, walau tak memungkiri bersitan rasa rindu yang juga dia rasakan di dalam hati,

"Apa kabar Anda? Bagaimana Anda tahu saya ada di sini? Apa Kepala Pengawal Seo yang memberi tahu Anda? Astaga, saya benar-benar merindukan Anda, juga teman-teman sesama budak di Biro Musik. Bagaimana kabar mereka semua?" Rentetan pertanyaan itu terucap dari bibir Law, membuat sang pengawas mendesah kebingungan, tak tahu harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu.

Seraya melepaskan pelukan keduanya, Hwang Joosik menahan tangannya yang gatal untuk memukul kepala Law, kebiasaan yang selalu dia lakukan jika pemuda—yang tak lagi seorang budak—itu membuatnya pusing karena tingkahnya. "Kau ini! Bukannya menyuruhku duduk terlebih dahulu, malah menyemburku dengan rangkaian pertanyaan yang mengalahkan panjangnya Sungai Han," ucapnya dengan nada kesal penuh canda.

Law meringis, kemudian berujar, "Maafkan saya. Apa Anda ingin duduk di ruang tamu? Atau kita bisa berbincang di kamarku. Aku akan meminta Heat menyiapkan teh dan penganan ringan untuk Anda." Pemuda itu menoleh ke arah bangunan di belakang bangunan utama. "Tunggu, di mana dia? Heat? Apa kau ada di sana?"

"Hei, aku datang ke sini bukan untuk merepotkanmu," tolak Hwang Joosik dengan halus.

"Tidak apa, Pengawas Hwang. Anda telah bersusah payah datang berkunjung, saya harus menjamu Anda dengan baik."

Pengawas Hwang. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali dia mendengar panggilan itu dari bibir Law. Akan tetapi … seharusnya pemuda ini tidak lagi memanggilnya seperti itu. Tidak lagi berkata sopan kepadanya, sebab kedudukan keduanya telah berbeda. Dialah yang seharusnya berkata sopan kepada Law, sebagai bentuk penghormatan kepada tuan muda Keluarga Seo.

Tak lama berselang, seorang budak dengan rambut panjang berwarna biru muda menghampiri Law. Inikah yang dipanggil pemuda itu sebagai Heat? Keluarga Seo ternyata juga memiliki budak berdarah campuran, ucapnya dalam hati. Dengan segera dia melaksanakan perintah sang tuan muda untuk menyiapkan teh dan beberapa penganan. Menilik dari tindak tanduknya, Hwang Joosik yakin bahwa budak itu adalah pelayan yang ditugaskan untuk melayani Law secara pribadi.

"Mari, kita berbincang di kamar saya, naeuri."

Law menunjuk sebuah pintu kamar yang terbuat dari kayu indah berkualitas tinggi. Mereka memasuki ruangan tersebut, yang boleh dikatakan sangat luas untuk ditempati seorang diri. Mau tak mau sang pengawas budak terkagum-kagum melihat keindahan yang tersaji; mulai dari perabotan hingga penataan ruangannya.

"Saya tidak menyangka Anda akan mengunjungi saya di sini," ucap Law setelah mereka berdua duduk di tengah-tengah ruangan. "Apakah Kepala Pengawal Seo yang memberitahukan keberadaan saya di rumah ini?"

Hwang Joosik mengangguk. "Kepala Pengawal memberikanku izin untuk menemuimu. Dia bilang, kau mungkin merasa kesepian, jadi dia menyuruhku untuk menemani anak manja macam kau."

"Saya bukan anak manja, naeuri," kilah pemuda itu dengan nada sebal, membuat sang pengawas terkekeh-kekeh.

"Ya, kau bukan anak manja. Tapi kau terus saja membuat masalah sampai-sampai aku terserang sakit kepala kronis karena ulahmu yang tidak pernah mau menuruti perintahku."

Tampak Law menunduk sambil meringis. Tentulah dia merasa sangat bersalah karena telah membuat sang pengawas khawatir setengah mati. "Maafkan saya."

Hwang Joosik menghela napas. Sesungguhnya dia tak berniat memarahi pemuda yang duduk di hadapannya ini. Tetapi apa hendak dikata, emosi itu tetap membekas di dalam hati.

Perbincangan keduanya sempat terhenti saat Heat meminta izin untuk memasuki ruangan dan membawakan teh dan penganan sesuai yang dipesankan Law. Teh yang disajikan harum sekali, dan penganannya juga sangat enak. Benar-benar tidak dapat dibandingkan dengan teh yang dijual di kedai-kedai kecil di area pasar.

"Naeuri …"

"Hentikan, Law." Hwang Joosik cepat-cepat memotong perkataan pemuda itu. Jika diteruskan, Law tidak akan berhenti memanggilnya dengan panggilan sopan, dan itu tidak dibenarkan dalam hierarki sosial. "Kedudukan kita sudah berbeda sekarang. Kau bukan lagi seorang budak rendah dari Biro Musik, dan aku, Hwang Joosik, bukan lagi pengawasmu, atasanmu. Sekarang kau adalah seorang tuan muda dari Keluarga Seo, tuan muda dari keluarga yangban. Akulah yang seharusnya memanggilmu dengan panggilan sopan sekarang, sebab kedudukanku jauh di bawah kau."

Law tertegun mendengar ucapan sang pengawas. Kentara sekali bahwa pemuda beriris keperakan ini belum dapat menerima pengadopsian yang dilakukan Kepala Pengawal Seo, belum dapat menerima kenyataan bahwa kedudukannya telah begitu tinggi sekarang. Waktu memanglah dibutuhkan untuk beradaptasi, tetapi Law … dia tidak tahu apakah pemuda ini sengaja menunda-nunda ataukah Law memang belum dapat menghilangkan kecanggungan sosialnya.

"Maaf, saya … memang belum dapat menghilangkan atribut kesopanan dengan mudah. Tetapi saya ingin berusaha menerima semua ini, walau tidak mudah," jelas Law dengan nada sendu.

Ya, sang pengawas tahu betul yang dirasakan oleh pemuda itu. Tidaklah mudah menerima perubahan yang begitu mendadak.

"Tahukah Anda betapa bingungnya saya saat mengetahui sebuah perubahan besar terjadi di sekeliling saya tanpa dapat saya sadari? Seumur hidup saya adalah seseorang yang berasal dari golongan cheonmin, budak yang tak berharga, yang bahkan tak pernah betul-betul dianggap sebagai manusia. Kami bekerja keras, kami memberikan tenaga kami tetapi tak pernah kami dihargai. Saya sudah terlalu biasa dengan perlakuan kasar dari orang-orang, dan terlalu biasa untuk selalu bersikap sopan kepada orang-orang yang memperlakukan kami secara tidak manusiawi."

Pilu terasa di dalam hati kala Hwang Joosik mendengar curahan hati Law.

"Bukanlah hal yang mudah bagi saya untuk menerima semua ini, naeuri."

"Aku tahu," sela sang pengawas. "Tapi Law, mulailah belajar menerima apa yang telah kau dapatkan saat ini. Kau pantas mendapatkannya. Aku bukan melihat bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah sebuah 'hadiah' dari kenekatanmu untuk mengungkap kasus Arsip Registrasi, bukan begitu. Tetapi ini murni pandanganku sebagai seseorang yang telah banyak memakan asam garam kehidupan. Orang-orang yang berada di dalam Satuan Pengawal Kerajaan, mereka ingin memberikan perlindungan seutuhnya untukmu; perlindungan sebagai saksi, dan juga sebagai seorang manusia. Itukah yang kau khawatirkan? Itukah yang membuatmu ragu? Percayalah, Law. Aku yakin betul pada apa yang dilihat oleh mata kepalaku. Mereka mempercayaimu, pun berharap banyak padamu. Oleh sebab itu mereka berani mengambil risiko sejauh ini. "

Hwang Joosik menarik kedua tangan Law, lalu menggenggamnya erat-erat.

"Jujur saja, saat Kepala Pengawal Seo memintaku untuk mengunjungimu, awalnya aku mengira dia hanya ingin agar aku dapat menemanimu di sini. Beliau mungkin merasa jika kau merasa kesepian. Tapi sekarang, aku jadi menyadari bahwa apa yang Kepala Pengawal Seo tunjukkan adalah sebuah kekhawatiran. Lebih tepat jika disebut kekhawatiran yang dirasakan seorang ayah terhadap anaknya. Seorang ayah yang khawatir dengan putranya yang sedang belajar menghadapi hidup. Dia sengaja menyuruhku datang ke tempat ini, agar aku dapat meyakinkanmu bahwa kau telah menjadi bagian dari keluarga Seo, telah dianggap berharga sebagai manusia, dan bahwa kau disayangi oleh orang-orang baik ini. Kalau kau menganggap bahwa aku berbohong, maka hal itu benar-benar akan menyakitiku. Sebab apa yang kuutarakan ini adalah hal yang benar, bukanlah hal yang dibuat-buat."

Sepasang mata keperakan itu memancarkan rasa haru yang menggebu-gebu. Tergenang likuid bening di kedua pelupuk mata itu, tetapi Law tidak berniat untuk menunjukkan tangisannya. Tidak di hadapan sang pengawas yang telah bertahun-tahun ini merawat dan menjaganya.

"Terima kasih, naeuri. Terima kasih banyak."

.

.

Law benar-benar menikmati saat-saat dia menghabiskan waktu bersama Hwang Joosik. Pembicaraannya bersama Hawkins mungkin memberikan sebuah pandangan baru baginya, tetapi perbincangannya bersama pengawas budak dari Biro Musik itu memberikan angin segar yang menyejukkan hati. Darinyalah, Law memgetahui banyak hal yang terjadi di istana, keadaan Biro Musik sepeninggalan dirinya, hingga kabar dari para budak rekan kerjanya di biro tersebut. Sedikit banyak dia berterima kasih kepada Kepala Pengawal Seo, yang telah berbaik hati meminta Pengawas Hwang untuk datang berkunjung ke rumah tersebut.

Banyak hal baru yang dia pelajari sang pengawas, mulai dari bagaimana berkata-kata sesuai dengan golongannya, juga bagaimana dia seharusnya mulai mengurangi kata-kata sopan yang hanya digunakan oleh para budak. Walau Hwang Joosik berasal dari golongan sangmin, tetapi dia telah cukup banyak mempelajari tata cara dan perilaku yang pantas ditunjukkan oleh para jungin dan yangban. Law mencoba mengingat semua itu, walau sulit tetapi dia tetap berusaha.

"Baiklah, Tuan Muda Law. Sudah hampir memasuki waktu makan malam, sebaiknya saya pulang sekarang."

Bibir Law mengerucut sebab sang pengawas berniat meninggalkan dirinya, padahal rasa rindu itu belum juga sepenuhnya terobati. "Tidak bisakah Anda pulang setelah makan malam bersama saya?"

"Law, bahasamu!" Hampir saja Hwang Joosik memukul kepala Law, tetapi dengan gesit dia menahannya. "Tidak, Tuan Muda. Saya harus kembali sekarang."

Law terkikik-kikik melihat raut kesal yang ditunjukkan sang pengawas. "Baiklah. Tetapi sebagai gantinya, biarkan aku mengantarmu pulang."

"Mana boleh Anda mengantar saya pulang!" seru Hwang Joosik sambil memegang kepalanya yang mendadak pening. Sifat keras kepala Law benar-benar tidak bisa hilang. "Tidak, saya akan pulang sendiri."

"Ayolah, naeuri! Izinkan aku pergi bersamamu," bujuk Law dengan pancaran mata penuh harap.

"Tidak boleh! Apa kata Kepala Pengawal Seo jika beliau tahu Tuan Muda Law pergi mengantar pegawai rendah seperti saya?"

Law menunduk. "Tapi, ada tempat yang ingin kukunjungi …."

Mata Hwang Joosik memicing curiga. "Tempat apa? Jangan bilang kau mau pergi ke gibang terkenal di pusat kota!"

"Tentu saja bukan!" seru Law terkesiap. "Aku … ayolah, biarkan aku pergi bersamamu. Ya?"

Sang pengawas budak hanya bisa mendesah, tak mampu menolak keinginan kuat dari tuan muda keluarga Seo itu. "Baiklah, tapi Anda harus meminta izin pada orang yang bertanggung jawab di rumah ini. Entah kepala pelayan atau kepala pengawal pribadi milik Kepala Pengawal Seo. Jangan sampai mereka mengira saya sengaja membawa Anda pergi."

Law mengangguk dengan semangat. "Aku akan meminta izin pada Im-ahjussi. Tenang saja."

Segera setelahnya, keduanya meninggalkan kamar tidur Law dan menemui kepala pelayan Keluarga Seo. Dia mengizinkan sang tuan muda pergi keluar rumah, dengan syarat bahwa Heat harus ikut serta, dan dua orang pengawal pribadi milik Seo yeonggam juga ikut mengawal mereka. Law menyetujui syarat tersebut, sebab dia tidak ingin membuat siapa pun kembali mengkhawatirkan dirinya, seperti yang dia lakukan terakhir kali.

Tak sampai memakan waktu lima belas menit, rombongan itu telah mencapai pusat kota, yang kebanyakan daerahnya menjadi area pasar dan tempat berdirinya kantor-kantor pemerintahan. Bagian pusat kota dibagi menjadi dua wilayah: wilayah kanan yang lebih dekat ke arah istana, dan wilayah kiri yang lebih dekat ke area pasar dan rumah-rumah penduduk yang sebagian besar merupakan pedagang dari golongan sangmin. Masing-masing wilayah memiliki kantor pemerintahan sendiri, yang terdiri dari kantor gubernur wilayah, kantor Biro Kepolisian, dan kantor pengadilan.

Mereka baru akan berbelok ke arah wilayah kiri ketika mata Law menatap sebuah bangunan yang cukup luas, dengan sebuah papan pengumuman yang besar terpampang di depannya. Walau hari telah beranjak senja, namun orang-orang terus saja keluar masuk bangunan tersebut. Ya, bangunan itu merupakan tempat yang begitu ingin dia datangi, atas dasar rasa keingintahuan yang menguat sejak pembicaraannya bersama Hawkins terakhir kali.

"Tuan Muda Law," panggil Hwang Joosik pada si pemuda yang sama sekali tak beranjak dari depan papan pengumuman yang terletak tepat di samping pintu gerbang bangunan itu.

"Ini adalah bangunan dinas tempat mengurus pendaftaran ujian masuk pegawai pemerintah, bukan?" tanyanya entah pada siapa.

Sang pengawas Biro Musik itu mengangguk. "Ya, ini adalah bangunan milik Badan Kepegawaian, lebih tepatnya tempat pendaftaran ujian masuk pegawai pemerintah dan tentara kerajaan."

Nuraninya bergetar saat membaca isi kertas yang tertempel di papan pengumuman itu. Isi yang sama dengan kertas yang diberikan oleh Hawkins tiga hari yang lalu. Pendaftaran ujian masuk anggota baru Biro Investigasi Kerajaan akan ditutup dalam satu bulan. Law hanya memiliki waktu satu bulan untuk mempersiapkan diri. Mampukah dia? Ujian apa saja yang akan dilaksanakan untuk penerimaan anggota Biro Investigasi Kerajaan? Dia tidak pernah tahu, dan hal itu membuat hatinya membuncah.

"Apa Anda …."

"Ayo, kita lanjutkan perjalanan." Belum sempat Hwang Joosik meneruskan pertanyaannya, Law telah terlebih dahulu memotong.

Dia telah melihat tempat pendaftarannya, juga melihat isi kertas yang ditempelkan di papan pengumuman tempat tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Setelah ini, dia hanya perlu untuk memikirkannya kembali. Memikirkan keputusannya matang-matang.


TBC


Author's Note:


A VERY LATE UPDATE, I'M SORRY MY DEAREST READER !

Jadi … ada banyak hal yang terjadi sehingga mengakibatkan beruang yang lamban ini semakin lamban, tetapi saya tetap berusaha update jadi … mohon pengertiannya? *deep, deep bow*

ANYWAY, jika chapter kemaren setengahnya fokus ke Kid, maka kali ini fokus kembali kepada Law. Jadi, ada yang berhasil berspekulasi? *evil laugh*

Dan tak bosan-bosannya aku mengucapkan banyak terima kasih kepada dukungan, jejak review/favorite, dan jejak votement yang telah susah payah kalian tinggalkan. Kalian semua sangat berharga untukku *peluk cium*

Last but not least, would you mind to leave any review?

Review Reply:

Cho Eun Min: ... dan lagi-lagi aku speechless. Entah apa yang harus kubalas atas review-mu nak. Yang jelas, no KidLaw moment di chapter ini, karena aku author jahat *evilish laugh*