Title : [애별리(Love, Separate, Leave)] Chapter 10-Tapak Langkah
Genre : Saeguk, Shounen-ai
Rating : T
Length : Chaptered with 6.066 words
Author : Leenahanwoo
Pairing: Kid x Law
Cast : Eustass Kid, Trafalgar Law, Heat and OC. Cast lain akan muncul seiring berjalannya cerita.
Warning : SHO-AI Content ! Don't like don't read ! OOC-ness is everywhere !
Disclaimer : All One Piece casts are Eiichiro Oda-sama's. This story and OC are mine.


NOTE: TELAH HADIR CHAT GRUP ANIME + K-POP FANDOM. Bagi yang memiliki akun LINE, silakan add saya dengan ID leenahanwoo, dan nanti akan saya invite ke chat grup ini ^^ Mari kita lestarikan fandom Anime dan KPOP di bumi pertiwi Indonesia ‼!


Glossary:
Orabeoni : Panggilan adik perempuan untuk kakak laki-laki
Chima : bawahan hanbok berupa rok yang lebar
Geumbak : pola-pola daun berwarna emas yang hanya terdapat pada dangui dan chima milik anggota kerajaan
-Untuk glossary lain, bisa dicek pada chapter sebelumnya-


##++~ Love, Separate, Leave ~++#


Law duduk di atas teras bangunan rumah utama dengan sebuah buku terbuka di pangkuan serta beberapa buku lain tergeletak di bagian samping. Kegugupan melingkupi ketika hari mulai beranjak senja. Dia telah memantapkan hati—yang harus dia lakukan adalah menemui Kepala Pengawal Seo dan memberitahukan apa yang menjadi keputusannya. Menurut Im-ahjussi, sang kepala pengawal seharusnya pulang di jam-jam seperti ini. Itu pun jika beliau tidak memiliki pekerjaan tambahan dari Yang Mulia Raja, tambahnya pula. Oleh sebab itu, pemuda itu memutuskan untuk menunggu dengan sabar, sembari menghafal isi buku-buku ajaran Konfusianisme.

Pikirannya berkelana pada saat dia mengantarkan Hwang Joosik pulang. Kala itu, Law benar-benar menikmati perjalanan tersebut, mulai dari keramaian pasar di waktu malam, serta area perumahan rakyat yang terasa begitu hidup. Walau dia sudah pernah mengunjungi pasar rakyat di ujung timur wilayah perumahan keluarga yangban, suasana pasar di wilayah tempat tinggal golongan sangmin memang jauh lebih menyenangkan dan ceria.

Sang pengawas para budak tinggal di sebuah kamar sewaan milik salah seorang pegawai yang bekerja di Badan Audit Kerajaan. Hwang Joosik terlalu menyukai pekerjaannya sehingga tak berniat untuk menikah, dan dia dapat menyewa kamar untuk seorang diri dengan leluasa. Di rumah yang menyewakan kamar-kamar itu juga terdapat dua orang penyewa yang lain; Pemusik Young dari Biro Musik, dan seorang lainnya dari Biro Kepolisian, yang belum pernah Law temui sekali pun.

Saat mereka tiba di rumah tersebut, dia mengatakan apa yang menjadi rencananya kepada sang pengawas, dan Hwang Joosik menyambut baik rencana tersebut. Walaupun dia cukup mengkhawatirkan ketahanan fisik si pemuda bersurai kelam, pengawas para budak itu yakin Law mampu untuk melewati semua ujian yang akan dihadapi. Hwang Joosik juga menyarankan agar pemuda itu segera menyampaikan rencananya kepada Kepala Pengawal Seo, agar beliau dapat memberikan izin—mungkin pula bantuan morel.

Baru saja Law menyelesaikan buku kedua yang dia baca dan meletakkannya di atas tumpukan buku lainnya, dia mendengar sahutan penuh hormat dari para pengawal pribadi yang berjaga di gerbang depan. Samar-samar dia dapat melihat siluet sang kepala pengawal memasuki halaman rumah, diikuti Kid yang berjalan di belakangnya. Debaran di dalam dada pemuda itu meningkat, dan kegugupan jelas terlihat di wajahnya. Namun dia tak bisa berhenti; Law harus segera menemui Kepala Pengawal Seo.

Dengan langkah pelan, dia berjalan mendekati kedua orang yang baru saja pulang ke kediaman itu. Tampaknya mereka masih saling berdiskusi mengenai pekerjaan, yang tentu saja tidak Law pahami. Sesungguhnya dia merasa segan untuk mengganggu pembicaraan yang sedang berlangsung, teta—

"Ada apa, Law?"

Pemuda itu menghentikan langkah kaki ketika Kepala Pengawal Seo menyapanya lebih dahulu. Tatapan mata sang kepala pengawal sama sekali tidak mengintimidasi, tetapi rasa gugup yang dia rasakan membuat kakinya seolah membeku di tempat.

"… S-saya …." Sial, lidahnya mendadak kelu!

"Ada yang ingin kau sampaikan?"

Hanya anggukan yang dapat dia berikan sebagai jawaban. Law dapat merasakan bahwa sepasang bola mata berwarna amber juga ikut menatapnya; sebuah tatapan penuh rasa ingin tahu. Dia mengerti bahwa Kid pastilah ingin mendengar apa yang hendak dia sampaikan. Namun, pemuda itu ingin berbicara empat mata dengan Kepala Pengawal Seo terlebih dahulu. Dia akan berbicara sendiri dengan Kid setelahnya. Paling tidak, itulah yang dia harapkan.

"Kid, bisakah kau mengecek laporan ini untukku?" Kepala Pengawal Seo menyerahkan beberapa dokumen yang berada di dalam genggaman tangannya kepada si pemuda bersurai kemerahan. "Nanti malam aku akan kembali ke istana dan menyampaikan rangkuman laporan tersebut kepada Yang Mulia."

Law dapat merasakan bagaimana kedua matanya membulat sempurna, takjub saat melihat apa yang dilakukan sang kepala pengawal, seakan mengetahui apa yang dia pikirkan. Iris keperakan miliknya kemudian melirik ke arah Kid, yang mengangguk patuh atas perintah yang diberikan kepadanya. Tanpa banyak bicara, dia mengambil dokumen-dokumen tersebut dan melangkah pergi menuju kamarnya yang berada di sayap belakang bangunan rumah utama. Rasa lega menyergap hati Law, walau sedikit merasa bersalah terhadap pemuda bersurai kemerahan itu karena berharap agar dapat berbicara dengan Kepala Pengawal Seo tanpa kehadirannya.

"Mari, kita bicara di ruang kerjaku," ucapnya setelah kepergian Kid dari area itu. Law mengikuti langkahnya menuju ruang kerja yang dimaksud, terletak tepat di samping kamar tidur milik sang kepala pengawal.

Ruang kerja milik Kepala Pengawal Seo tidak jauh berbeda dengan ruangan tempat menerima tamu di bagian tengah bangunan utama; hanya berukuran lebih kecil sebab memang diperuntukkan bagi keperluan yang khusus saja. Perabot yang terdapat di dalamnya hanyalah sebuah meja kayu berukuran sedang, serta tiga buah bantal untuk duduk. Tidak ada satu pun pajangan di sana, tetapi satu buah rak berlaci diletakkan di dekat meja kayu, dan dipergunakan untuk meletakkan beberapa buah buku. Sang kepala pengawal duduk di balik meja, dan Law duduk di hadapannya dengan sikap penuh hormat.

"Aku sesungguhnya ingin mendengar apa yang ingin kau sampaikan terlebih dahulu," sang kepala pengawal memulai pembicaraan, "tetapi aku rasa, apa yang hendak kusampaikan juga sama pentingnya. Jadi, bolehkah aku mengabarkan hal baik ini kepadamu?"

Law mengangguk menyetujui. Tentu dia pun ingin mendengar hal penting apa yang akan disampaikan oleh Kepala Pengawal Seo kepadanya. "Apa itu, yeonggam?"

"Majelis Dewan Kerajaan menarik tuntutan mereka untuk menginterogasimu. Pengawal Kerajaan berhasil menemukan bukti-bukti mengenai keterlibatan beberapa pejabat dari instansi pemerintah terkait kasus Arsip Registrasi. Sebelum transaksi pertukaran di Mohwagwan dilaksanakan, Jang Hee Jae sempat menemui utusan Qing di Uiju untuk membicarakan masalah plakat pengakuan Putra Mahkota. Di sana, mereka bersepakat untuk menukar plakat pengakuan dengan Arsip Registrasi, dan transaksi akan dilakukan di Mohwagwan. Pertemuan rahasia tersebut dibiayai oleh Pedagang Park Ju Myung, pedagang besar yang memiliki hubungan dekat dengan Faksi Selatan. Kepala dan Wakil Kepala Pengadilan Daerah yang merupakan anggota dari Faksi Selatan juga ikut terlibat, termasuk mengatur tempat pertemuan rahasia tersebut."

"Benarkah itu? Jadi mereka tidak akan menuntut interogasi atas diri saya?" Law menatap Kepala Pengawal Seo seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Benar sekali. Jika mereka tetap bersikeras dengan tuntutan yang mereka ajukan, kita bisa melawan dengan bukti-bukti yang baru saja ditemukan. Faksi Selatan di dalam Majelis Dewan Kerajaan tidak akan dapat berkutik karena semua keterlibatan mereka akan terbongkar."

"Dan bagaimana kelanjutan kasus Arsip Registrasi, yeonggam? Apakah Jang Hee Jae dan semua yang terlibat akan diadili dan dihukum?"

Kepala Pengawal Seo mengangguk dengan senyum terkembang di wajahnya. "Yang Mulia Raja telah memerintahkan untuk melanjutkan proses investigasi di bawah kuasa Satuan Pengawal Kerajaan, dan kami akan berusaha untuk menyelesaikan perkara ini tanpa campur tangan politik di dalamnya. Selain itu, duta besar dari Qing juga telah menyampaikan keputusan Kaisar untuk menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada Joseon dalam mengadili para utusan yang terlibat di dalam kasus Arsip Registrasi. Mereka juga meminta maaf sebesar-besarnya karena apa yang dilakukan oleh para utusan itu telah melukai kedaulatan Kerajaan Joseon. Kendatipun demikian, aku yakin Yang Mulia akan memutuskan perkara ini dengan seadil-adilnya."

Betapa Law merasa lega saat mendengar kabar tersebut, seolah baru saja terlepas dari rantai besar yang mencekik leher sepanjang waktu. Rasanya pemuda itu ingin segera berdoa pada Dewa karena telah memberikan kemudahan bagi jalan yang akan dia pilih.

"Jadi …," sang kepala pengawal menatap Law lekat-lekat, "… apa yang ingin kau sampaikan? Aku siap mendengarkan."

Inilah saatnya, pikir Law. Dia telah mengambil keputusan setelah mempertimbangkan berbagai hal dari setiap sisi. Pemuda itu hanya berharap bahwa apa pun langkah yang dia ambil setelah ini tidak akan menjadi senjata yang akan melukai diri sendiri ke depannya.

"Saya … sudah memutuskan untuk menerima pengadopsian yang Anda lakukan. Rasanya memang terlalu mengejutkan bagi saya untuk menerima kenyataan bahwa saya bukan lagi seorang budak dari golongan cheonmin, dan diharuskan mulai beradaptasi dengan status saya saat ini. Akan tetapi, saya memahami bahwa Anda hanya berusaha untuk melindungi saya, berusaha menyelamatkan saya dari hal yang dapat mengancam nyawa. Walau kini tindakan pengadopsian ini tidak akan banyak mempengaruhi jalannya investigasi sebab Majelis Dewan Kerajaan telah lepas tangan dari perkara ini, saya yakin akan ada balasan yang timbul dari kebaikan yang telah Anda lakukan, yeonggam."

Senyum itu tampak tulus, terukir indah di bibir pria yang kini telah menjadi ayah angkat Law.

"Kau tidak tahu betapa aku merasa bahagia atas keputusan yang kau ambil ini, Law," ujarnya disertai dengan tatapan bangga di sorot matanya yang tajam. "Terima kasih."

"Tidak, yeonggam. Seharusnya sayalah yang berterima kasih atas kebaikan hati Anda karena telah menerima saya menjadi bagian dari keluarga ini. Saya … saya amat berharap dapat membalas kebaikan Anda, bagaimanapun caranya."

Benar, pemuda beriris keperakan itu akan melakukan apa saja agar dapat menunjukkan rasa terima kasih yang mendalam terhadap sang kepala pengawal. Siapa yang akan menyangka bahwa pria ini akan menjadi orang yang berperan penting dalam menyelamatkannya, menarik Law dari golongan sosial terendah yang tak pernah dipandang selayaknya manusia dan memberikan kehidupan baru yang tak pernah dia khayalkan sebelumnya?

"Bila kau dapat hidup dengan layak dan menjaga nama baik Keluarga Seo, aku rasa itu sudah sangat cukup bagiku."

"Ya, yeonggam. Saya pasti akan melakukan semua itu."

Entah mengapa, Law merasa ragu melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan. Sejujurnya dia pun masih merasa ragu, tetapi ada setitik kecil keinginan di dalam hati untuk terus melangkah. Pemuda itu pun berharap bahwa rencananya tersebut tidak akan membebani siapa pun.

"Jika ada hal lain yang ingin kau beri tahukan kepadaku, kau bisa menceritakannya. Namun, jika kau merasa belum saatnya bagiku untuk mengetahuinya, aku pun tidak akan memaksa." Kepala Pengawal Seo pastilah telah melihat sinar keraguan dari tatapan Law. Tak dipungkiri dia pun pasti ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh pemuda itu, tetapi tidak ingin memaksanya untuk bercerita.

"Saya … ingin tahu apakah Anda mengetahui perihal ujian masuk Biro Investigasi Kerajaan."

Hening menyergap setelah Law mengucapkan kalimat tersebut. Kepala Pengawal Seo mungkin tengah menebak-nebak apa yang ada di dalam pikiran pemuda bersurai kelam itu.

"Ya, aku mengetahuinya," jawabnya penuh kehati-hatian, seolah tak ingin salah menguntai kata. "Mengapa kau menanyakan ujian masuk ketentaraan?"

Law menelan ludah gugup. "Saya … membaca pengumumannya ketika melewati Biro Kepegawaian kemarin, saat saya mengantarkan Pengawas Hwang pulang. Dan Hawkins-ssi juga menyampaikan hal yang sama kala di—"

"Apa kau ingin mengikuti ujian tersebut?" tebak Kepala Pengawal Seo seratus persen benar.

Kedua bola mata beriris keperakan itu kembali membulat. Apa semua anggota Keluarga Seo berbakat menjadi ahli nujum? Bagaimana mereka selalu dapat membaca isi pikirannya?

"S-saya masih ragu apakah saya bisa mengikuti ujian masuk ketentaraan atau tidak," aku Law. "Seumur hidup saya menjadi seorang budak dan tidak pernah berkesempatan untuk memperoleh pendidikan secara formal."

"Jika kau berpikir bahwa ujian masuk ketentaraan dan pegawai negeri sipil perlu menempuh pendidikan formal sebagai syarat pendaftaran, kau salah besar."

"Benarkah itu, yeonggam?"

Law cukup terkejut mendengar penuturan sang kepala pengawal. Dia memang tidak pernah mengetahui secara pasti perihal tata cara ujian masuk ketentaraan maupun pegawai negeri sipil. Pengawas Hwang memang mengatakan bahwa tidak pernah ada syarat yang mewajibkan untuk memiliki latar belakang pendidikan formal, tetapi pemuda itu masih meragu sebab syarat-syarat tersebut tidak pernah tertulis di dalam buku mana pun yang dia temukan di perpustakaan milik Keluarga Seo.

"Ya, itu betul. Kid tidak pernah bersekolah secara formal di sekolah milik pemerintah. Mempekerjakan sarjana-sarjana terbaik sebagai guru pribadi telah menjadi tradisi yang diturunkan sejak kakek buyutku menjadi pegawai negeri sipil. Begitu pula aku, ayahku dan kakekku; kami semua tidak menempuh pendidikan di sekolah pemerintah secara formal sebab pengajaran secara pribadi jauh lebih memudahkan dalam menyerap ilmu secara mendalam dibandingkan belajar di sekolah pemerintah yang mengajar puluhan anak dalam satu kelas," jelas sang kepala pengawal. "Sesungguhnya, yang menjadi syarat penting pada saat mendaftarkan diri adalah dapat menuliskan nama dan jabatan empat generasi sebelum kau. Dengan kata lain, calon pendaftar harus memiliki silsilah keluarga yang baik dan tercatat secara jelas di Dinas Kependudukan dan Budak."

Law mengangguk paham. Berarti masalah pendidikan bukanlah hal yang dapat merintangi pendaftaran bagi ujian masuk tersebut.

"Lalu, apakah ada syarat lainnya agar saya dapat mendaftar pada ujian masuk tersebut?" tanya pemuda itu lagi.

"Selain syarat mengenai silsilah keluarga, yang dapat mengikuti ujian masuk ketentaraan adalah pria yang sehat raga dan jiwanya, berusia minimal 13 tahun, serta bukan berasal dari golongan cheonmin dan budak. Walau tidak ada larangan bagi para sangmin untuk mendaftar, tetapi kebanyakan yang mengikuti ujian masuk berasal dari golongan jungin dan yangban. Tentu saja, hal ini karena hanya golongan jungin dan yangban yang mampu mengenyam pendidikan formal ataupun pengajaran pribadi, walau tidak menutup kemungkinan golongan sangmin pun dapat memperoleh pengetahuan serupa secara otodidak. Tetapi perlu kau ketahui bahwa memiliki pendidikan yang memadai bukanlah menjadi syarat untuk mendaftar, melainkan karena salah satu yang diujikan pada ujian masuk ketentaraan adalah pengetahuan yang luas mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kemiliteran," lanjutnya lagi, yang kembali dibalas dengan anggukan kepala dari pemuda beriris keperakan itu.

"Tetapi," kali ini sinar pada sorot mata sang ayah angkat berganti menjadi sinar kekhawatiran, "yang aku lebih cemaskan adalah apakah kau akan lulus pada ujian masuk ketentaraan untuk Biro Investigasi Kerajaan."

Sesungguhnya itulah hal kedua yang turut membebani pikiran Law. Dia tidak tahu apa saja yang akan diuji, dan kata 'kegagalan' terus membayang-bayangi pilihan pemuda itu.

"Apakah ujiannya berat, yeonggam?"

"Dibandingkan ujian masuk pegawai negeri sipil yang hanya terdiri dari ujian tertulis dan lisan, tahap pertama dan ketiga dari ujian masuk ketentaraan merupakan ujian praktek, yang mengandalkan kemampuan memanah dan berkuda. Begitu pula dengan sedikit seni bela diri. Walau tidak termasuk di dalam materi yang diujikan, tetapi keterampilan tersebut amat diperlukan ketika melakukan pertarungan tanpa senjata, sehingga akan menjadi nilai tambah pada saat ujian berlangsung. Sementara itu, tahap kedua terdiri dari ujian tertulis dan lisan. Dan seperti yang telah kukatakan sebelumnya, materi yang diujikan adalah pengetahuan umum di bidang literatur ketentaraan, yang tentu saja dapat kau pelajari hingga waktu pendaftaran ditutup."

Sial, sial sekali. Dia tak pernah mempelajari keterampilan memanah sebelumnya. Bagaimana pula dengan berkuda dan seni bela diri? Pastilah hal itu akan sangat sulit untuk dipelajari, terutama hanya dalam jangka waktu satu bulan. Dia cukup yakin dapat lulus di ujian tahap kedua; Law cukup mudah menyerap isi dari buku-buku yang dia baca, tetapi dia selalu meragukan ketahanan fisiknya sendiri. Apakah tubuhnya akan kuat ditempa dengan latihan fisik semacam itu? Kepala Pengawal Seo hanya tersenyum melihat raut wajah Law yang mendadak berubah keruh.

"Menurutku, kau cukup kuat untuk melatih semua kemampuan itu, walau hanya tersisa kurang dari satu bulan sebelum batas akhir pendaftaran ujian masuk. Kid bisa membantumu mempelajari semuanya. Sesungguhnya, dia adalah anak didikku yang terbaik."

"Apakah dia akan bersedia membantu?" Jujur saja, Law tidak ingin merepotkan. Dia tahu betul betapa berat pekerjaan Kid, dan seberapa sering dia mendengar dari para pelayan di kediaman Keluarga Seo bagaimana pemuda itu selalu pulang larut atau bahkan dini hari jika sedang diperintahkan untuk menjaga Yang Mulia Raja Sukjong.

"Dia pasti sangat bersedia untuk membantumu. Katakan pada Kid bahwa aku memintanya mengajari semua keterampilan yang kau butuhkan untuk mengikuti ujian masuk ketentaraan. Perihal ujian tertulis dan lisan pada tahap kedua, aku akan meminta guru pribadi keluarga ini untuk memberikan pelajaran untukmu. Sebaiknya kau juga mulai membaca Buku Seni Perang yang ditulis oleh Sun Tzu, begitu pula dengan buku Wu Zi, Metode Sima dan Enam Pengajaran Rahasia."

"Baik, yeonggam." Law pun mengangguk untuk ke sekian kalinya, kemudian meminta izin untuk undur diri dari ruang kerja sang kepala pengawal. Setibanya dia berada di luar ruangan, pikirannya kembali dilanda keraguan, berikut rasa cemas di dalam hati. Mungkin tidak terlihat buruk bagi Law bila diajari keahlian memanah dan berkuda oleh Kid, tetapi … apakah dia akan bisa melakukannya dengan baik? Cukupkah waktu yang kurang dari satu bulan ini menghasilkan kemampuan yang belum pernah dia pelajari seumur hidup?


##++~ Love, Separate, Leave ~++#


Sembari duduk di teras bangunan rumah utama di sayap belakang, Kid mendesah lelah saat merangkum laporan di hadapannya ke dalam buku catatan kecil yang dia genggam. Laporan-laporan tersebut hanyalah sebagian kecil dari laporan harian yang biasa diperiksa oleh Kepala Pengawal Seo, sebab laporan dari daerah-daerah provinsi belum juga tiba hingga waktunya mereka pulang ke kediaman keluarga. Pemuda itu mengingatkan diri sendiri untuk meminta laporan yang tersisa kepada Wakil Kepala Nam, sebelum ayah asuhnya kembali ke istana menjelang tengah malam nanti.

Di balik semua itu, pikirannya terus saja berkelana, membayangkan apa saja yang dibicarakan Law bersama Kepala Pengawal Seo di ruang kerjanya. Apakah mereka membicarakan mengenai pengadopsian yang dilakukan oleh sang ayah asuh? Ataukah Kepala Pengawal Seo juga memberitahukan perkembangan kasus Arsip Registrasi yang mana tanggung jawab pengusutan telah dikembalikan kepada Satuan Pengawal Kerajaan? Rasa ingin tahu itu begitu besar, sampai-sampai dada terasa sesak sebab tatapan Law kala mereka bertemu secara tidak langsung menyiratkan keinginan untuk hanya berbicara empat mata dengan sang kepala pengawal, tanpa kehadiran Kid. Meski begitu, dia tetap ingin menghargai keputusan Law untuk berbicara secara pribadi dengan ayah asuhnya itu.

Kuas kecil di dalam genggaman tangan bergerak-gerak saat dia kembali menggoreskan tinta ke atas kertas. Kuas itu telah dia miliki selama beberapa tahun, dan pertumbuhan badannya yang terlalu pesat membuat kuas tersebut tak lagi nyaman dipakai sebab terlalu kecil saat digenggam. Dia pun membuat catatan lain di dalam pikiran untuk mampir ke pasar rakyat di ujung timur dan membeli kuas baru yang lebih pas. Baru saja Kid akan mengusapkan kembali kuas itu di atas batu tinta miliknya ketika lamat-lamat dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Langkah yang penuh dengan keragu-raguan, alunan kaki menapak yang entah mengapa membuat hatinya berdebar lebih kencang.

Law di sana, berjalan menuju tempatnya berada, dengan sikap segan. Atau malu-malu? Kid tidak bisa memutuskan mana yang pemuda bersurai kelam itu hendak tunjukkan dengan langkah yang meragu, kepala tertunduk kemudian tegak dan tertunduk lagi, serta tangan yang mengepal gugup. Dia memilih untuk tidak menatap Law—bukan mengabaikan—dan fokus pada lembaran kertas pada catatan kecil miliknya; melanjutkan pekerjaan yang diperintahkan untuk dikerjakan, hingga pemuda itu memupus jarak sebanyak mungkin.

"… Kid?" Akhirnya suara langkah berganti dengan sahutan pelan.

Suara yang dia rindukan untuk didengar, mengalun dan menyapa telinganya yang gersang.

"Jika kau bersikap malu-malu seperti itu, aku akan meminta Im-ahjussi membelikanmu hanbok untuk perempuan mulai besok."

Rasa rindu menyeruak untuk menjaili pemuda itu, seperti yang dia lakukan di saat pertemuan mereka untuk yang pertama kali. Pertemuan yang menjadi awal segala peristiwa, kala dirinya seolah ditarik kuat oleh alunan haegeum di pagi buta. Sebagaimana dia terjebak dalam untaian nada yang tak sengaja dia dengar, seperti itu pula rasanya ketika jatuh ke dalam pesona seorang budak bersurai kelam dengan sorot mata beriris keperakan.

"Enak saja. Aku ini laki-laki," bentaknya marah.

Dan lihat bagaimana wajah itu memerah karena kejailan yang Kid lakukan. Pemuda bersurai merah itu pun tertawa kecil melihat betapa indah wajah Law yang sedang menunjukkan ekspresi marahnya.

"Aku jadi ingin membatalkan niatku untuk berbicara denganmu. Kau selalu saja membuatku sebal." Bibir tipis itu mencibir, menunjukkan kekesalannya.

"Benarkah?" Ekspresi di wajah Kid melembut. Tentu dia tidak ingin Law berlama-lama marah kepadanya. Selama enam hari lamanya mereka tidak saling bicara, dan itu sangat menyakitkan bagi pemuda itu. Terlebih lagi, amarah itu sedikit banyak disebabkan olehnya.

Law mengangguk. "Saat pertemuan pertama kita, aku menganggap kau adalah orang yang sangat kurang ajar. Di pertemuan kedua kau juga bertingkah menyebalkan dengan menyeretku tanpa kata-kata ke kantor Satuan Pengawal Kerajaan. Dan jangan lupakan sikap-sikapmu yang selalu membuatku bingung setengah mati."

Ternyata dia mengingat semua kejadian itu. Kid pun tidak pernah bisa melupakan pertemuan-pertemuannya dengan Law yang sangat menyenangkan dan menghibur. Dan saat pemuda beriris keperakan itu mengungkit semua itu, rasanya melegakan.

"Apakah itu berarti kau ingin aku meminta maaf padamu?" tanya Kid.

Kedua bola mata indah itu terlihat membulat, seakan tidak menyangka bahwa dia akan mengucapkan hal tersebut. "T-tentu saja tidak."

Tidak? Bukankah seharusnya Kid meminta maaf atas segala kesalahan yang dia lakukan? Tak tahukah Law jika dia merasa amat bersalah selama enam hari ini?

"Mengapa tidak?"

"Seharusnya aku yang meminta maaf." Kini wajah Law setengah tertunduk, sehingga kontak mata mereka terputus. Ada rasa kehilangan ketika Kid tak dapat menatap iris keperakan yang diam-diam begitu dia sukai. "Seharusnya aku tidak membentakmu saat kita berbicara dengan Seo yeonggam di ruang tamu kala itu. Seharusnya aku tidak berdiam diri dan membiarkan masalah pengadopsian itu berlarut-larut. Maaf karena … butuh waktu lama bagiku untuk menerima semua ini dan … menyadari bahwa semua yang kau dan Seo yeonggam lakukan murni karena kalian ingin menyelamatkan nyawaku, melindungiku dari ketidakadilan, menganggapku berharga sebagai manusia yang utuh."

Tanpa Law meminta maaf pun, Kid amat mengerti akan kebingungan yang dirasakan oleh pemuda itu. Seperti yang dikatakan Hawkins saat terakhir kali berkunjung ke kediaman Keluarga Seo, siapa yang bisa menerima perubahan dari loncatan status yang begitu tinggi secara mendadak tanpa merasa buncah karenanya? Perasaan lega pun menyeruak ke dalam hati saat Law menyampaikan bahwa pada akhirnya dia telah bersedia menerima pengadopsian yang dilakukan oleh Kepala Pengawal Seo.

"Tentu saja kau berharga, Law. Semua manusia pun begitu. Tidak peduli segolongan budak ataupun yangban, nyawa siapa pun layak untuk dipertahankan." Kid meletakkan kuas miliknya di pinggiran batu tinta, begitu pula dengan buku catatan kecil miliknya beserta dokumen berisi laporan harian yang sedang dia kerjakan untuk diletakkan di samping batu tersebut.

"Aku mengerti." Law mengangguk paham.

"Terutama kau."

Kid merentangkan tangan kanan, kemudian meraih sebelah tangan Law untuk dia genggam erat. Dia dapat merasakan getar ketika kedua tangan bertemu, disertai gelenyar hangat di dalam hati saat jemari mereka saling mengait. Perlahan kepala Law terangkat, disertai kernyitan penuh kebingungan.

"Terutama … apa?"

"Katakanlah aku memang telah bertindak impulsif ketika mencetuskan ide pengadopsian itu kepada Seo yeonggam, tapi apa kau tahu mengapa aku tak lagi berpikir panjang jika itu bersangkutan dengan dirimu?"

Amber kembali bertemu dengan perak. Dua iris berbeda warna, menyalurkan perasaan serupa.

"Mengapa?"

"Kau terlalu berharga untuk aku lepaskan begitu saja."

Kid dapat melihat bagaimana Law membuang muka seketika saking malunya. Tangan yang bebas dia angkat untuk menutupi wajahnya yang memerah sempurna.

"Berhenti menggodaku," sahutnya pura-pura marah. "Aku ini lelaki, bukan gadis remaja tanggung."

"Tapi kau tidak menolaknya, bukan?"

Law tak lagi membalas perkataan Kid sebab benar adanya. Namun tiba-tiba dia tersentak, seakan baru teringat sesuatu. "Ah, benar. Aku hampir saja melupakannya."

"Melupakan apa?" tanya Kid.

"Aku ingin meminta bantuanmu, dan yeonggam pun sudah menyetujui. Namun aku tidak tahu apakah kau akan bersedia atau tidak. Maksudku, Heat berkata bahwa kau selalu sibuk, kadang pulang larut atau bahkan tidak pulang sama sekali. Jadi, aku …."

"Baiklah, baiklah," potong Kid cepat-cepat. Dia tidak menyangka bahwa Law bisa bicara begitu panjang tanpa jeda bila dia sedang ingin, dan bila tidak dihentikan, entah kapan kalimat-kalimat penuh basa-basi itu akan berakhir. "Apa yang bisa kulakukan untukmu?"

"Ujian masuk Biro Investigasi Kerajaan akan dilaksanakan dalam waktu empat minggu."

Dia telah mengetahui mengenai ujian masuk ketentaraan itu. Sejak para prajurit serta dua pimpinan Biro Investigasi yang terlibat di dalam kasus Arsip Registrasi diberhentikan sementara demi pendalaman kasus tersebut, beberapa perombakan struktur jabatan telah dilakukan secara darurat, baik yang dinaikkan menjadi pimpinan maupun yang diturunkan menjadi prajurit. Menanggapi keadaan ini, Yang Mulia Raja Sukjong memerintahkan Biro Kepegawaian untuk segera membuka ujian masuk khusus untuk merekrut para investigator baru bagi Biro Investigasi Kerajaan, dikarenakan berkurangnya jumlah investigator di dalam tubuh biro itu.

"Ya, aku mengetahui perihal ujian masuk itu. Mengapa kau menanyakannya?"

"Aku ingin ikut mendaftarkan diri."

Sejenak hening melingkupi keduanya setelah ucapan Law berakhir. Dia tidak salah mendengar, bukan?

"Kau … ingin … apa?"

"Aku akan mendaftarkan diri pada ujian masuk Biro Investigasi Kerajaan yang akan dilaksanakan empat minggu lagi. Dan aku membutuhkanmu untuk mengajari semua keterampilan dan pengetahuan yang perlu aku kuasai untuk mengikuti ujian tersebut."

Kid memandang wajah Law yang tampak bersungguh-sungguh. Tak tahukah dia bahwa mengikuti ujian masuk ketentaraan jauh lebih berat daripada ujian masuk pegawai negeri sipil?

"Law, perlu kau ketahui bahwa ujian masuk ketentaraan memiliki dua tahap pengujian yang melibatkan ketahanan dan keterampilan fisik. Mengapa kau tidak menunggu dua tahun lagi sampai ujian masuk resmi bagi pegawai negeri sipil dibuka kembali? Atau pada ujian-ujian khusus lainnya? Kau tidak perlu memaksakan diri untuk cepat-cepat kembali bekerja dan mendapatkan jabatan di pemerintahan untuk menjaga status keluarga ini."

Pemuda bersurai kelam itu menggeleng pelan. "Aku akui bahwa ini terkesan sangat terburu-buru, tetapi aku tidak merasa terpaksa mengikuti ujian masuk itu dikarenakan tanggung jawab yang mulai aku emban sebagai anak angkat Seo yeonggam. Sejak memutuskan untuk menerima pengadopsian ini, aku terus memikirkan apa yang dapat aku lakukan untuk Keluarga Seo, dan pengumuman mengenai ujian masuk Biro Investigasi ini mengantarkan pada langkah pertama pilihanku. Benar apa yang kau katakan, ujian masuk ketentaraan memang lebih sulit bagiku yang tidak pernah melakukan latihan fisik dan tidak memiliki keterampilan apa pun. Seo yeonggam pun mengatakan hal serupa, bahwa dia mengkhawatirkan apakah aku akan berhasil lulus atau tidak. Namun, untuk mengikuti ujian masuk pegawai negeri sipil … aku tidak tahu mengapa hatiku tidak berkehendak untuk mencobanya. Mungkin pada dasarnya aku memang tidak tertarik dengan jabatan yang lebih tinggi? Tetapi, sungguh, aku benar-benar ingin mencoba mendaftar pada ujian masuk ini."

Kedua iris keperakan milik Law tidak berbohong sama sekali. Di sana, Kid menemukan keteguhan hati atas pilihan yang diambil oleh pemuda itu.

"Mengapa harus Biro Investigasi Kerajaan? Seperti yang aku katakan sebelumnya, ujian masuk resmi akan dilaksanakan dua tahun lagi. Kau bisa saja menunggu ujian masuk resmi untuk masuk ke Satuan Pengawal Kerajaan atau badan kemiliteran lainnya, sembari mengasah kemampuan fisikmu." Ada rasa ingin tahu yang besar atas apa yang mendasari Law untuk memilih jalur ketentaraan untuk kembali bekerja di istana, terlebih untuk mendaftar menjadi investigator di Biro Investigasi Kerajaan.

"Pengawas Hwang mengatakan kepadaku bahwa Biro Investigasi merupakan biro yang paling mudah dan sering diintervensi oleh faksi di Majelis Dewan Kerajaan. Aku pun telah menyaksikan sendiri bagaimana biro itu dapat dikendalikan oleh Jang yeonggam hanya karena beliau adalah kakak dari Yang Mulia Ratu, paman dari calon Putra Mahkota Kerajaan Joseon. Jelas hal itu merupakan tanda-tanda kemunduran bagi biro yang seharusnya bersikap paling netral, yang bertugas menginvestigasi masalah-masalah yang mengancam kedaulatan kerajaan."

Kid mengangguk paham, membenarkan setiap untaian kata yang Law sampaikan.

"Hawkins-ssi mengatakan kepadaku bahwa bila aku menerima pengadopsian ini, aku harus memandang keberuntungan ini sebagai sebuah kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bahwa aku harus memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi kebaikan terhadap sesama. Itulah yang akan kulakukan; aku ingin bergabung di dalam Biro Investigasi Kerajaan, mengembalikan prinsip dan sikap netral yang seharusnya dijunjung tinggi, dan menegakkan keadilan tanpa intervensi dari pihak mana pun. Sebagaimana apa yang telah aku saksikan dan pelajari dari Satuan Pengawal Kerajaan, aku pun ingin menyebarkan hal-hal baik di tubuh Biro Investigasi."

Keinginan sarat akan cita-cita dan hasrat kehidupan memancar begitu terang dari iris keperakan yang bersinar saat Law menjawab pertanyaan Kid. Seolah terbentang jalan luas menuju ujung penuh kedamaian, dia dapat merasakan bahwa inilah langkah yang telah ditakdirkan untuk dilalui sang pemuda bersurai kelam. Apalah kuasanya untuk menghalangi? Sudah sepantasnya dia memuluskan setapak yang menanti.

"Aku mengerti." Tautan kedua tangan mereka mengerat, menyalurkan energi untuk menguatkan. "Kita akan mulai berlatih dua hari lagi. Aku harap kau mempersiapkan diri dengan baik, Law. Walau aku tidak sekeras Seo yeonggam dalam melatih orang lain, bukan berarti kau bisa bersantai-santai. Waktu empat minggu akan bergulir tanpa terasa, jadi persiapkan fisik dan mentalmu."

"Dua hari lagi? Mengapa bukan besok saja?" Bukan senyum yang mengulas, melainkan kernyitan kebingunganlah yang menghiasi wajah Law.

"Sebab kau harus datang ke kantor Satuan Pengawal Kerajaan besok, untuk memberikan kesaksian secara resmi. Setelah kita mulai berlatih, hari-harimu pastilah akan padat terisi oleh jadwal latihan dan pembelajaran lainnya. Lebih cepat memberikan keterangan resmi dari para saksi akan lebih baik, agar penanganan kasus pun tidak tertunda."

"Berarti aku harus pergi ke istana? Bagaimana caranya aku dapat melewati penjagaan gerbang masuk?" Law kembali bertanya.

"Aku akan meminta Im-ahjussi untuk mendampingimu. Dia memiliki akses masuk berbatas waktu, yang biasa diberikan para pejabat pemerintah kepada kepala pelayan rumah tangga mereka untuk hal-hal yang darurat. Kau ingat dengan pelayan yang mengantarkan pesan darurat ke istana saat Biro Investigasi Kerajaan mengejarmu kala itu? Akses semacam itulah yang bisa kau gunakan untuk memasuki istana. Terlebih kau adalah salah satu saksi kunci di dalam kasus Arsip Registrasi; para pengawal kerajaan penjaga gerbang istana tentu akan memberikan kalian izin masuk dengan lebih mudah."

"Aku paham." Law mengangguk untuk ke sekian kalinya. "Terima kasih, Kid. Aku … entah bagaimana caranya aku bisa membalas semua kebaikan yang telah kau lakukan. Begitu pula dengan Seo yeonggam dan Satuan Pengawal Kerajaan. Rasanya ucapan terima kasih saja tak akan cukup untuk menunjukkan rasa syukurku."

Kid tersenyum mendengar apa yang Law ucapkan. Seharusnya dialah yang berucap terima kasih atas segala yang Law telah lakukan demi kasus Arsip Registrasi. Bagaimana pemuda itu menantang bahaya demi mendapatkan Arsip Registrasi, melindunginya dengan taruhan nyawa; semua murni untuk mempertahankankan kedaulatan Kerajaan Joseon dari tangan orang-orang yang berusaha merusaknya demi kepentingan pribadi dan golongan. Sejak awal Law memang memiliki hati besar dan kesetiaan kepada kerajaan yang telah menjadi rumahnya sejak lahir ke dunia.

"Jalani hidup seperti apa yang kau inginkan, jejakkan langkah sesuai dengan apa yang menjadi keputusanmu. Aku rasa semua itu adalah bentuk rasa syukur yang dapat kau tunjukkan atas semua yang telah kau peroleh, Law."

Bibir itu tersenyum disertai mata yang mengecil penuh cahaya kebahagiaan, menebar kehangatan hingga merasuk ke sudut kalbu. Dilatari langit sore berwarna jingga keemasan, Kid mematri kenangan kecil bersama Law di dalam ingatan.


##++~ Love, Separate, Leave ~++#


"Mama, mohon tenangkan diri Anda!" sahut Cho sanggung dengan nada sedih, mencoba menahan Yang Mulia Ratu Hui dari berbuat hal yang tidak sepantasnya. Dia dapat melihat jejak-jejak air mata di pipinya, menandakan dia tak mampu menghentikan tangis sejak semalam.

"Jangan memerintahku! Aku adalah Ratu Joseon, siapa yang berani melarangku berbuat apa yang aku kehendaki? Aku harus menemui orabeoni. Pastilah dia sangat menderita saat ini, sendirian dan kedinginan di penjara Pengawal Kerajaan terkutuk itu!" teriak sang ratu dengan air mata yang kembali mengalir dari pelupuk mata.

"Tapi Yang Mulia Raja telah memerintahkan untuk melarang siapa pun menemui yang tertuduh, mama."

Mata Ratu Hui membulat; sinar amarah memancar dari sorot mata tajam yang akan tampak indah tanpa likuid bening yang menggenangi. "Tertuduh, katamu? Siapa? Orabeoni? DIA TIDAK BERSALAH. DIA HANYA MELAKUKAN APA YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN SEORANG PAMAN UNTUK KEPONAKANNYA. MENGAPA DIA HARUS DIHUKUM SEPERTI INI?" Teriakan itu menggema memenuhi ruang-ruang Daejojeon, membuat para dayang istana lain ikut merasa sedih atas kepedihan yang dirasakan oleh junjungan mereka.

"Mama …." Cho sanggung tak sanggup melihat sang ratu menderita lebih lama. Dia tahu betul betapa sayangnya Ratu Hui pada sang kakak, sebab hanya Jang Hee Jae-lah yang dapat mengerti dirinya, mengerti akan keinginan dan hasrat yang dia pendam sejak lama.

"Aku akan tetap menemui orabeoni. Pengawal Kerajaan tidak berhak untuk melarang aku, sang Ratu Joseon."

Dia berjalan cepat keluar dari bilik utama bangunan itu, dan Cho sanggung hanya dapat mengikuti sang junjungan dengan pasrah. Beberapa nain lainnya ikut mendampingi, sebagaimana telah menjadi kewajiban bagi mereka untuk selalu mengikuti ke mana pun Ratu Hui pergi.

Perjalanan menuju Kantor Satuan Pengawal Kerajaan terasa begitu lekas berlalu sebab langkah-langkah kaki yang tergesa. Ratu Hui terus meremas chima-nya yang berwarna gelap bertabur geumbak yang indah, menandakan betapa hati merasa gelisah sebab ketakutan tak dapat menemui sang kakak terus menjalar. Napasnya tersengal akibat terlalu cepat melangkah, tetapi hal itu tak menjadi alasan untuk memperlambat pergerakan kaki yang memburu. Dapat memaksa Pengawal Kerajaan untuk mengizinkannya masuk ke area penjara jauh lebih penting.

Meski begitu, keraguan tetaplah menghinggapi, sebab Satuan Pengawal Kerajaan begitu setia kepada Raja Sukjong. Sejak Seo Yonggi—orang yang amat dipercaya oleh sang raja—diangkat sebagai Kepala Pengawal Kerajaan, kedudukan satuan tersebut begitu kokoh, sebab tak ada yang mampu mengintervensi. Segelintir orang memilih untuk bersikap netral dan hanya fokus untuk mengabdikan diri kepada Kerajaan Joseon, dan Seo Yonggi serta mendiang ayahnya adalah yang paling keras kepala menolak untuk berpihak kepada faksi mana pun yang mengisi Majelis Dewan Kerajaan. Benar-benar keadaan yang sangat tidak menguntungkan.

Ketika rombongan Ratu Hui mencapai kantor Satuan Pengawal Kerajaan, lapangan di depan kantor tampak lengang, walau prajurit dengan pangkat terendah mengelilingi area tersebut dengan penjagaan yang begitu ketat. Begitu pula area di sekitar bangunan kantornya; tampak beberapa prajurit yang dilengkapi dengan tombak menjadi penghalang yang menakutkan bagi sebagian besar orang. Akan tetapi, Ratu Hui tak merasa gentar menghadapi prajurit rendahan. Digertak sedikit saja, mereka pasti akan menyingkir. Begitu pikirnya.

Dengan langkah tegas, dia mendekati prajurit-prajurit yang menghalangi jalan menuju bangunan kantor tersebut. Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Para prajurit itu menghalangi jalan dengan menyilangkan tombak mereka tepat di jalan masuk. Ratu Hui tersentak kaget menerima perlakuan yang menurutnya begitu mencemooh kedudukannya yang amat tinggi di kerajaan. Dia adalah Ratu Joseon, yang seharusnya dihormati oleh semua orang tanpa kecuali. Betapa kurang ajarnya para prajurit rendahan ini!

"Dasar lancang!" bentak Cho sanggung kepada mereka. "Beraninya kalian menghalangi jalan Yang Mulia Ratu!"

"Maafkan atas tindakan kami, tetapi kami diperintahkan untuk tidak mengizinkan siapa pun masuk ke dalam, kecuali bagi yang berkepentingan." Salah satu dari prajurit itu memberi penjelasan.

"Begitukah?" Ratu Hui menatap sinis ke arah prajurit yang menghalangi langkahnya. "Dan kalian pikir aku tidak berkepentingan di sini? Kalian tidak tahu siapa aku? Aku adalah Yang Mulia Ratu Kerajaan Joseon! Aku bisa memenggal kepala kalian dalam satu jentikan jari, jadi biarkan aku masuk!"

"Maafkan kami, Yang Mulia Ratu. Anda tetap tidak diperbolehkan memasuki wilayah ini."

Akhirnya amarah itu tak lagi tertahankan. Dengan berang Ratu Hui berusaha menerobos masuk dengan mendorong kedua tombak yang memalangkan jalan masuk menuju bangunan kantor yang dia tuju. "Kalian tidak bisa menghalangiku untuk menemui orabeoni. MINGGIR KALIAN!"

"Sebaiknya Anda segera meninggalkan tempat ini, Yang Mulia Ratu." Sahutan itu menghentikan pergerakan Ratu Hui, hingga membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Seorang prajurit berpangkat rendah lainnya mendekat ke arah jalan masuk bangunan menuju kantor, menipiskan jarak di antara rombongan Ratu Joseon dan dirinya yang bertubuh amat tinggi. Sang junjungan menyipitkan mata curiga, sembari menebak-benak siapakah pemuda itu.

Ya, yang berdiri di hadapannya hanyalah seorang pemuda yang ditaksir usianya belumlah genap dua puluh tahun. Tubuhnya sangat tinggi, dengan kulit putih cenderung pucat, dengan iris mata berwarna amber yang menyorot tajam ….

"Kau!" Gigi-gigi sang ratu gemeretak saat mengingat siapakah pemuda berpakaian pengawal kerajaan berpangkat rendah itu.

"Ya, Yang Mulia. Saya bertugas menahan Anda di jalan masuk ini, sebab Anda memang tidak diizinkan memasuki wilayah kantor Satuan Pengawal Kerajaan apa pun alasannya. Yang Mulia Raja sendiri telah memberi perintah langsung untuk menjauhkan Anda dari tempat ini."

Tangan Ratu Hui terkepal erat-erat. Dahulu, ketika Raja Sukjong menceritakan perihal seorang prajurit muda dari Biro Kepolisian yang begitu dia sukai karena kekuatan dan ketangkasannya dalam bertarung, dia hanya mendengarkan dengan khidmat, dengan senyum yang terpasang di bibir sebab dia melihat sinar penuh kebanggaan terpancar dari wajah sang raja. Ratu Hui, yang kala itu masih berstatus sebagai seorang selir kerajaan, tak dapat memungkiri bahwa ada kecemburuan tebersit di dalam hati, bahwa ada orang lain yang dikagumi oleh sang raja walau dia hanyalah seorang prajurit baru berpangkat rendah.

Awalnya dia memutuskan untuk tidak memikirkan hal tersebut, berpikir bahwa kekaguman yang ditunjukkan oleh Raja Sukjong murni karena beliau menghargai kelebihan siapa pun tanpa kecuali. Namun, ketika dia mendengar bahwa prajurit baru yang bernama Kid itu adalah anak angkat mendiang Seo daegam, seketika amarahnya melonjak. Dia dan Faksi Selatan membenci orang-orang netral semacam Keluarga Seo, yang memilih untuk tidak berpihak dan hanya setia kepada sang raja. Ada rasa kesal sebab Raja Sukjong selalu dekat dan menaruh kepercayaan yang amat besar kepada keluarga yangban yang telah mengabdi di Kerajaan Joseon hingga empat generasi lamanya.

Api di dalam dada makin membara saat Ratu Inhyeon ikut memberikan perhatian istimewa kepada anak itu. Dia menyayanginya bak seorang anak kandung, namun Pangeran Hwiseo diperlakukan sebaliknya, bahkan kadang sama sekali tak dianggap keberadaannya. Terlebih lagi, dia menolak untuk mengadopsi pangeran yang merupakan putra kandung Raja Sukjong dan dirinya, sang calon putra mahkota kala itu. Bagaimana kebencian di dalam hati tak makin menjadi?

"Kau benar-benar lancang, bukan begitu?" Ratu Hui menarik bibir, meremehkan Kid yang bergeming di hadapannya. "Bagaimana bisa seorang pengawal kerajaan berpangkat rendah sepertimu mengumbar-umbar soal perintah Yang Mulia Raja? Dan lagi, apa kuasamu menghalangi jalanku, sang Ratu Joseon, untuk menemui seorang kakak yang dijebak oleh permainan busuk Satuan Pengawal Kerajaan?"

"Anda sepertinya lupa bahwa prajurit rendahan ini adalah bagian dari pengawal pribadi raja, yang melindungi sang junjungan di luar dinding istana, Yang Mulia Ratu. Saya mengetahui apa yang tidak Anda ketahui." Kid hanya tersenyum ketika menanggapi. "Dan lagi, jika Anda tidak percaya bahwa Yang Mulia Raja sendiri yang memerintahkan untuk tidak membiarkan Anda berkeliaran di tempat ini, silakan Anda bertanya sendiri kepada Yang Mulia. Atau Kepala Pengawal Seo, yang menerima perintah tersebut secara resmi."

Mata Ratu Hui membelalak lebar-lebar, menunjukkan kemarahan yang tak lagi mampu tertutupi oleh wajahnya yang rupawan. Pemuda ini benar-benar telah bertindak kurang ajar kepadanya!

"Ah, permainan busuk, kata Anda? Bahwa Kakak Anda tidak bersalah setelah mencuri dokumen Arsip Registrasi yang maha penting bagi kekuatan pertahanan kerajaan demi memperoleh plakat pengakuan putra mahkota? Sayang sekali, bukti-bukti yang memberatkan Jang yeonggam sudah terkumpul hampir seluruhnya. Bahkan Faksi Selatan dapat hancur seketika jika kami menyerahkan semua bukti tersebut ke tangan Yang Mulia Raja. Jadi sebaiknya Anda kembali ke Daejojeon, duduk dengan tenang sembari menunggu putusan dari Yang Mulia atas kasus Arsip Registrasi. Itu pun, jika Anda telah siap mendengar hukuman apa yang akan menimpa kakak Anda."

Sontak Ratu Hui mengangkat tangan, hendak menampar Kid atas sikap yang menurutnya sangat tidak tahu diri. "LANCANG SEKALI KAU!"


TBC


Author's Note:

2 months late … okay, everyone can slap me hard for ignoring this story.

HUWEEEE, bukan daku bermaksud seperti itu, hanya saja … hanya saja … hati ini tak mampu menolak godaan atas challenge yang bertebaran di bumi pertiwi Indonesia, jadi … /banyak alesan lu Thor

Just … enjoy this chapter 10, okay? And let me know what you think of this chapter by giving review at the end of the page ^^