Once Again
Rate: T
Genre: Little bit Humor, Romance, Friendship
Warning: Alternate universe, typo(s) or miss words, OOC, non baku, domestic!AU
.
Chapter 3 : Andai Jinyoung Tahu
Park Jihoon. Tujuh belas tahun. Salah satu the most wanted student karena wajah yang manis, mata bulat menggemaskan, serta tubuh mungil yang berisi. Menjadi incaran para murid tapi sayangnya harus menerima kenyataan dan berakhir dengan penolakan Jihoon yang sedikit sadis. Jihoon mengaku belum pernah jatuh cinta sama sekali, ia sendiri termasuk orang yang 'masa bodo' masalah percintaan. Katanya sih gak berfaedah, Jihoon masih percaya kalau jodoh pasti bakal datang sendiri. Makanya Jihoon itu bukan orang yang gercep soal cinta.
Prinsip Jihoon terpatahkan berkat kehadiran seseorang yang gak pernah ia duga. Menyebabkan cowok manis itu mulai 'dugeun dugeun' gak jelas. Selama enam belas tahun hidupnya, untuk pertama kali Jihoon jatuh cinta.
Love at first sight istilah kerennya.
Semua itu berkat Bae Jinyoung, si cowok judes dari kelas 11 IPA 1. Sahabatnya Guanlin, tetangga sebelah yang sudah ia anggap seperti adik sendiri. Ganteng tapi memiliki tatapan super tajam yang mematikan. Hampir beberapa murid mulai takut untuk dekat dengannya.
Tapi beda halnya dengan Jihoon. Ia mulai berusaha agar Jinyoung jatuh cinta padanya. Mungkin keliatan mustahil, tapi apa salahnya Jihoon berusaha? Menaklukan cowok sedingin es itu menjadi hal yang terberat untuknya. Bukan hanya tatapan tajam yang dilontarkan Jinyoung padanya, tetapi kalimat singkat namun menusuk.
"Minggir cebol."
Padahal Jihoon itu orangnya sensitif apalagi menyangkut soal tinggi atau berat badan. Tapi saat Jinyoung mengejeknya dengan nada datar, Jihoon sama sekali gak masalah. Ia malah bersemangat untuk mendapatkan hati seorang Bae 'Datar' Jinyoung.
Bantet itu panggilan kesayangan Baejin untuk gue—Park Jihoon, kelas 11 IPA 2.
Sebenarnya Jihoon udah lama naksir berat dengan Bae Jinyoung, tepatnya dua bulan setelah masa orientasi siswa berakhir. Pertemuan mereka terbilang klasik, dimana Jihoon yang ditugaskan membagikan buku paket sejarah bertabrakan dengan Jinyoung di lorong sekolah. Bedanya Jinyoung gak berinisiatif membantu Jihoon merapikan buku paket yang berserakan, langsung bangun dari posisinya dan meninggalkan cowok mungil itu setelah memberikan tatapan menusuk serta satu kalimat pedas.
"Jalan tuh pake mata."
Bukannya marah ataupun melempar Jinyoung dengan buku paket, Jihoon justru terpesona. Wajah ganteng seorang Bae Jinyoung berhasil menghipnotis Jihoon yang sedikit tsundere. Jantungnya berdegup kencang dan wajah Jihoon memanas. Bertemu dengan cowok ganteng sejenis Jinyoung itu sebuah berkah.
"Duh ganteng banget sih."
"Emang gue ganteng kok." Sebuah suara menyapa telinga Jihoon. Di sebelahnya ada Guanlin yang membereskan buku paket sejarah. "Naksir ama Jinyoung ya kak?"
Jihoon menggeleng cepat. Sedetik kemudian wajahnya bersemu merah seperti tomat busuk. Guanlin tertawa pelan dan membantu Jihoon berdiri. Ia menyerahkan buku paket itu pada Jihoon, Guanlin menampilkan cengiran kecil yang menurut Jihoon mirip orang gangguan mental.
"Mau gue bantu kak?" tawar Guanlin.
"Gak."
Cowok tinggi itu mengangkat alisnya. "Yakin? Ntar nyesel lo."
Jihoon menatap tetangganya dengan tatapan judes. "Sorry deh. Gue gak butuh bantuan lo. Emang lo kenal deket ama Jinyoung?"
"Gue kan sahabatnya."
Dua detik kemudian, buku paket di tangan Jihoon mulai jatuh berhamburan.
.
Jihoon memainkan pensil sembari fokus pada soal yang tertera dalam buku cetak super tebal. Sekali lagi ia menghela nafas panjang. Mengumpat pelan pada Pak Kyuhyun yang terlalu kejam, mendapat nilai tiga saat ulangan harian fisika itu agak nyebelin menurut Jihoon. Ia jelas gak tahu materi gelombang elektromagnetik beserta kawan-kawannya atau rumus ribet yang membuat otaknya meledak.
Terkutuklah Pak Kyuhyun dengan anjing kesayangannya bernama Choco. Jihoon menenggelamkan kepalanya di atas meja jika saja Hyeob menahan pergerakannya. Cowok bermata besar itu agak sebal dengan sifat Jihoon yang terkesan malas-malasan. Hyeob sempat mengira Jihoon sama sekali gak punya tujuan hidup.
"Remidial lo belum selesai. Kerjain dulu."
Jihoon mendengus pelan. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di balik buku cetak fisika, sama sekali gak mempedulikan omelan Hyeob.
"Cita-cita lo apa sih? Gimana bisa sukses kalo lo males-malesan kaya kerbaunya kakek gue."
"Nikahin Jinyoung." Jawab Jihoon malu-malu kucing, aslinya sih emang malu-maluin. "Terus ngubah marga gue jadi Bae Jihoon. Kan keren banget tuh, Hyeob."
Hyeob menggeleng pelan, kembali fokus pada novel Harry Potter yang baru dibaca setengah halaman. Semenjak Jihoon naksir berat sama Jinyoung, otak teman sekelasnya agak miring. Hyeob sendiri sampai takut.
"Mustahil Jinyoung mau ama lo." Ujar Hyeob tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kalo dia beneran suka ama gue gimana?" tanya Jihoon agak nyolot. Gak terima sama kata-katanya Hyeob barusan.
"Berarti Jinyoung kena pelet."
"Sialan lo." Jihoon mendengus pelan. "Gue gak mungkin pake cara kotor."
"Ya siapa tau lo nanti gituin si Jinyoung." Hyeob menggantung kalimatnya setelah membalik halaman novel. "Dapetin Jinyoung itu susah. Gak semudah ngebalikin telapak tangan doang."
"Lo malah bikin gue down."
"Makanya isi otak lo sesering mungkin." Hyeob menjitak pelan kepala Jihoon. "Rajin belajar biar Jinyoung suka ama lo. Masa runner up pacaran ama yang dongo sih? Kan receh."
"Please jangan bikin mood gue nurun terus."
Jihoon menggerutu kemudian bangun dari kursinya. Ia membutuhkan komik untuk menenangkan isi kepalanya yang hampir hangus, Hyeob mengangkat alisnya.
"Ngambil buku bentar." Jawab Jihoon seakan menebak isi kepala Hyeob.
Jihoon menghampiri salah satu rak buku fiksi dan meraih komik Ouran High School, ia mengumpat pelan karena susunan komik berada di rak atas. Jihoon itu pendek, jadi agak susah buat ngambil buku rak paling tinggi. Jihoon berjinjit untuk meraih komik tersebut, hampir saja ia terjungkal saat lengan kekar menahan pergerakkannya. Jihoon memejamkan kedua matanya. Tercium aroma citrus bercampur vanilla yang sedikit menenangkan.
"Ceroboh." Suara berat itu mengalun merdu di telinga Jihoon. Kedua mata bulat itu refleks terbuka, menampilkan sosok Jinyoung yang menatapnya datar.
'Gue mimpi ya?' batin Jihoon. Ia mencubit pipi gembulnya.
"Lo gak mimpi." Ujar Jinyoung dengan nada yang sama. Jihoon sontak terdiam. Mengamati wajah ganteng Jinyoung yang membuatnya kurang fokus. "Sampe kapan lo natap gue kaya gitu?"
Jihoon memperbaiki posisinya, ia menggaruk tengkuk dan memberikan cengiran kecil pada Jinyoung yang tengah mengambil komik Detective Kindaichi.
"Jinyoung?"
Cowok itu refleks menoleh.
"Ano..." Jihoon menggantung kalimatnya sebentar. "Bisa ambilin komik gak?"
Jinyoung sama sekali gak menjawab, memberikan tatapan tajam pada cowok bertubuh pendek itu. Ada satu hal yang Jihoon lupa dari Jinyoung, ia itu gak suka disuruh-suruh.
"Ngapain lo nyuruh gue?" Jinyoung bertanya balik. Mengabaikan permintaan bodoh Jihoon.
"Gue minta tolong."
"Mending lo belajar. Pantes kosong tuh otak gak dikasi ilmu."
Jinyoung meninggalkan Jihoon tanpa berniat mengambilkan komik. Sekali lagi, Jinyoung itu gak suka disuruh-suruh. Sementara Jihoon hanya menganga lebar, Jinyoung seperti ngasi kode ke dia buat rajin belajar. Kali ini ia setuju sama kata-kata Hyeob tadi. Jihoon hampir saja berjingkat senang.
"Berarti Jinyoung perhatiin gue dong selama ini?" Monolog Jihoon sambil memegang kedua pipinya yang memerah. "Astaga. Bentar lagi gue pacaran ama Jinyoung."
Jihoon dengan wajah sumringah kembali menghampiri Hyeob yang masih fokus sama novel, mengguncangkan lengan kiri teman sekelasnya dengan semangat. Siapa sih yang gak seneng ketemu calon pacar? Jihoon jadi salah tingkah gara-gara Jinyoung.
"Napa sih?" Respon Hyeob setelah melepas kedua tangan Jihoon.
"Jinyoung nyuruh gue belajar."
Sekali lagi, Hyeob menaikkan alisnya. "Terus?"
"Selama ini dia perhatiin gue!" Jerit Jihoon sedikit tertahan. Ia gak mungkin teriak bahagia di perpustakaan, apalagi petugas perpustakaan mulai mengawasi pergerakan Jihoon dari jarak jauh.
"Hah?" Hyeob hanya merespon pendek. Kali ini otaknya agak lambat untuk berpikir.
"Gue mau lanjut ngerjain remidi dulu deh." Kata Jihoon riang. "Oh ya, bantuin gue kalo ada soal yang susah."
Sementara Hyeob hanya menatap Jihoon gak percaya, mulutnya menganga lebar dengan mata bulatnya yang hampir keluar. Gak mungkin seorang Bae Jinyoung yang angkuh juga balik suka sama bocah sejenis Jihoon.
.
"Maaf kak, kita gak bisa pulang bareng."
Jihoon menghela nafas panjang. Guanlin itu terkadang sedikit pelupa, pemuda tinggi itu lupa memberitahu Jihoon jika hari ini ia mengikuti seminar kesehatan bareng Gunmin. Jihoon itu agak rewel, selalu nebeng bareng Guanlin ke sekolah. Katanya sih hemat bensin dan gak mau dianter sama Chanyeol.
"Masa gue naik angkot sih? Ogah ah!"
Jihoon masih trauma naik angkot, ia selalu jadi santapan om-om kurang belaian yang suka mainin pantatnya. Jihoon hampir saja menangis ketika salah satu penumpang melihat kejadian itu. Sampai sekarang, Jihoon masih takut naik angkot lagi.
"Gak kok." Guanlin berusaha menenangkan. "Gue udah minta Jinyoung yang nganterin lo pulang ke rumah."
Raut wajah Jihoon berubah drastis. "A-apa? Serius lo?"
Guanlin hanya mengangguk singkat.
"Tuh orangnya dah dateng. Gue duluan ya, udah ditunggu kak Gunmin."
"Lo udah ngasi tau Seonho kan?" Tanya Jihoon lagi. Biasanya Guanlin sering ngasi kabar ke Seonho.
Guanlin mengangguk lagi.
"Udah kak. Gue duluan."
Motor Guanlin melaju meninggalkan Jihoon di parkir sekolah bersama Jinyoung yang baru saja datang. Cowok datar itu menyalakan mesin motor dan menoleh sebentar pada Jihoon yang masih terpaku pada gerbang sekolah.
"Cepet naik."
Jihoon agak kaget.
"Naik." Kata Jinyoung pendek. Wajah cowok itu terlihat sebal.
Jihoon pun menuruti. Hatinya bersorak senang ketika Jinyoung mengantarnya pulang. Sepertinya ia harus mentraktir Guanlin hari ini. Kedua tangan gembulnya memeluk erat pinggang Jinyoung, Jihoon mulai merasa nyaman.
"Ngapain lo meluk gue? Lepasin."
Jihoon kaget lagi. Ia terpaksa melepas pelukannya dan memegang ransel besar Jinyoung.
"Abis gue kira lo mau ngebut." Jawab Jihoon super polos.
"Gue gak suka ngebut-ngebutan."
"Tapi motor lo kan ninja?"
Jinyoung mendengus sebal. Jihoon itu terkadang polos, hampir menjerumus ke bego menurutnya. Lebih miring dari Justin bahkan.
"Baru motor gue ninja, berarti gue suka ngebut-ngebutan gitu? Kocak amat pemikiran lo."
Jihoon gak menjawab. Jinyoung sudah menjalankan motornya meninggalkan gerbang sekolah.
"Rumah lo sebelahan ama Guanlin kan?" tanya Jinyoung yang masih fokus sama jalanan.
"Iya. Rumah yang ada kebun mawarnya."
Jinyoung gak menanggapi, ia sedikit menambahkan laju motornya. Sementara Jihoon memeluk ransel besar cowok itu. Jinyoung gak ngebut kok, hanya saja Jihoon yang suka menel ke Jinyoung. Pemilik motor itu keliatan cuek, Jihoon tersenyum kecil dan mempererat pelukannya.
Andai Jinyoung tahu perasaan Jihoon sebenarnya.
.
Sore harinya, Jihoon terpaksa menuruti permintaan mamanya untuk membeli keperluan bulanan yang mulai menipis. Ia bersama dengan Chanyeol yang baru saja pulang kuliah mampir sebentar ke supermarket yang lumayan jauh dari kawasan perumahannya. Jihoon melirik daftar belanjaan sesekali bergumam kecil. Chanyeol berada di rak sebelah mencari sayuran segar untuk makan malam nanti.
"Kornet." Gumam Jihoon kemudian menarik troli mejauhi rak detergen. Kedua mata bulatnya memperhatikan deretan barang.
Jihoon meraih kornet di rak paling bawah. Kembali melirik daftar belanja setelah membubuhkan tanda centang pada barang-barang yang sudah diambilnya.
"Selanjutnya pasta dan bi—"
"Makasih udah nganterin ya, Jin."
Jihoon sepertinya mengenal suara itu, mencoba untuk gak peduli dan perlahan mendorong troli belanja. Jantungnya berdegub kencang saat suara berat yang sangat dikenalinya itu mulai terdengar.
"Gak masalah kak."
Suara Bae Jinyoung.
Jihoon membulatkan matanya, menghentikan laju trolinya dan mengintip dua orang yang berada di balik rak makanan instan. Detak jantung Jihoon terasa berhenti, kedua mata bulatnya mulai memanas dan bibirnya gak berhenti bergetar.
"Ji-Jinyoung." Jihoon menahan nafas. Mencoba menahan air matanya.
Bodoh. Gue bukan siapa-siapanya Jinyoung—Park Jihoon yang tersakiti.
"Kak Sewoon..."
.
TBC
.
Alasan aku gak milih Guanlin sebagai pho WinkDeep karena dia berperan sebagai sahabat Jinyoung dan teman curhatnya Jihoon. Kenapa? Mungkin aku udah kenyang liat Guanlin jadi orang ketiga terus. So, disini Guanlin mendukung hubungan WinkDeep. Di awal chapter Guanlin peduli sama Seonho, bisa disimpulkan Guanlin juga suka sama Seonho. Untuk Daehwi, well aku kasian jadiin dia orang ketiga. Dia cuma jadi saingan sementara Jihoon karena nanti Daehwi bakal jatuh hati ke Samuel.
Kenapa aku milih Sewoon sebagai saingan Jihoon? Ini berawal pas aku nonton team Slate latihan, ada moment Jinyoung sama Sewoon yang bikin aku tertarik. Sebenarnya dari ngetik chapter 2, aku udah memutuskan kalo saingannya Jihoon itu antara Haechan atau Renjun. Tapi kayanya kejauhan deh dan Sewoon udah ngasi aku inspirasi. Hm.. agak aneh sedikit sih tapi cukup mainstream.
Jinyoung suka gak sama Sewoon? Belum tau karena disini Jinyoung tertutup banget. Nanti akan terungkap di chapter depan, lumayan jauh sih tapi tenang moment WinkDeep bakal ada kok.
Chapter depan bakal ada HakWoong dan JinSeob. Team HakWoong mana? Team JinSeob mana? Wkwk.. nantikan chapter berikutnya ya. Aku agak jarang update karena kegiatan ospek.
Ps: Disini Guanlin seumuran sama Samuel tapi dia masuk akselerasi. Dia satu angkatan sama WinkDeep tapi manggil Jihoon 'kakak'. Why? Tanya aja sama si Guan *evil laugh
Pss: Aku lagi suka sama HwangDeep. Kira-kira cocok gak Minhyun jadi kakaknya Jinyoung?
Thanks for review:
wahyumaya22, khongGuan (Guest), fangirl (Guest), furippuccino, ererigado, Babychickjojang, YGJIS00K, Sejeongver, Sky Scrapper's, ongnielclub, Rlyuklla, honeyowl, baejinbaejin, Alphadreiz
Dan yang udah favorite or follow. Thank you so much. Semoga suka sama chapter ini ya. Maaf kalau dari segi cerita agak sedikit gak sreg, sebagai permintaan maaf aku akan update next chapternya hari sabtu. Jangan lupa untuk review. Satu review sangat berharga buat aku.
