Once Again
Rate: T
Genre: Little bit Humor, Romance, Friendship
Warning: Alternate universe, typo(s) or miss words, OOC, non baku, domestic!AU
.
Chapter 4 : Si Kardus dan Si Jomblo
"Gue pacaran sama kak Eunki."
Woojin refleks menyemburkan minuman isotonik hasil colongan dari Jaechan, menatap Haknyeon dengan tatapan heran. Eunki itu mantannya Jungjung, ketua karate yang mulai dekat dengan Justin. Mungkin Jungjung gak betah dengan kelakuan Eunki yang hobi nyabe atau hang out sama gengnya di cafe dekat sekolah.
"Bukannya lo masih pacaran sama Yehyun?"
Haknyeon menggeleng santai. "Udah gue putusin."
"Ngapain lo putusin ogeb!" Woojin menoyor kepala sahabatnya. "Yehyun itu beneran suka sama lo."
"Tapi gue gak suka sama dia." Haknyeon mendengus kesal.
Woojin hanya menghela nafas panjang. Susah punya sahabat kardus sejenis Haknyeon, ia sering mendapat laporan dari barisan mantannya Haknyeon. Woojin memijit pelan pelipisnya.
"Ya tapi kan kasian si Yehyun."
"Lo aja yang pacaran sama Yehyun."
Woojin menggeleng. "Gue betah ngejomblo."
Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Haknyeon, Woojin itu gak suka mainin perasaan orang. Alasan dia jomblo sampai sekarang sih karena belum ketemu sama jodohnya. Woojin itu tipe jomblo berkelas. Berbeda dengan spesies jomblo di belahan dunia, Woojin itu santai dan gak mikirin status. Ia masih betah dengan status jomblo yang disandangnya sejak kecil. Prinsipnya hampir sama dengan prinsip Jihoon sebelum ketemu dengan Bae Jinyoung.
Jodoh itu pasti bakal dateng sendirinya kok—Park Woojin, si jomblo bahagia.
"Cari pacar sana. Kaya orang gak laku aja lo." Haknyeon tertawa kencang hingga membuat teman sekelas Woojin menatap tajam ke arah mereka.
Haknyeon itu beda kelas dengan Woojin. Setiap pelajaran kosong ataupun jam istirahat, ia gak pernah absen masuk ke kelas sahabatnya. Woojin gak masalah, setidaknya ada yang nemenin ngobrol bareng dengan topik yang sama. Woojin bangun dari tempat duduknya, menyambar topi sekolah dan mulai mengikuti teman sekelasnya yang udah keluar sejak tadi.
"Lo kemana?" tanya Haknyeon heran. Ia menyusul Woojin yang baru keluar dari kelasnya.
"Aula." Jawab Woojin singkat.
"Ngapain?"
"Ada acara pelantikan OSIS baru."
Sambil berjalan berdampingan di lorong, Haknyeon sibuk mengubek-ubek isi kantong celananya. Ia mulai mencari permen karet favoritnya. Woojin hanya diam sesekali tersenyum tipis pada beberapa kakak kelas yang menyapanya.
"Ketemu!"
Woojin melirik sebentar. Dengan ekspresi sumringah, Haknyeon membuka bungkus permen karet yang telah menjadi favoritnya sejak masih TK. Ini menjadi kebiasaan yang gak bisa Haknyeon tinggalkan, selain ngardus tentunya. Bagi Haknyeon, permen karet selalu menjadi teman sejati.
Oh damn..
Tepat setengah centimeter sebelum masuk ke mulut, permen karet favoritnya jatuh ke tanah. Segera Haknyeon membersihkan butiran debu yang menempel lalu memasukkan permen karet ke mulut sambil nyengir bodoh.
Belum lima menit—Joo Haknyeon, si kardus dari kelas IPS.
"Jorok."
Seorang cowok mungil bersurai hitam yang sejak tadi duduk di kursi kayu di samping lorong melinsankan satu kalimat pendek dengan nada datar. Persis dengan nada datar milik Bae Jinyoung.
"Eh ada dek imut." Jiwa kardus Haknyeon mulai menguar seketika, seolah berhasil menemukan target baru. "Baru lima menit kali dek."
"Ewh."
Haknyeon duduk di samping Euiwoong—cowok mungil dari kelas sepuluh. Sesekali merangkul bahu kecil yang langsung ditepis oleh Euiwoong. Ia tentu tahu kelakuan kardus Haknyeon yang begitu menyebalkan.
"Kok judes banget sih dek?" Haknyeon menggantung kalimatnya, meniup gelembung dan meletupkannya. "Kakak jadi makin naksir ama kamu."
Euiwoong kemudian berdiri dan meninggalkan Haknyeon dengan mood yang kurang bagus, paginya yang indah berhasil dihancurkan oleh tukang kardus dari kelas sebelas. Haknyeon mencebikkan bibirnya sementara Woojin hanya menggelengkan kepalanya.
"Sekali-kali tobat ngardus kek." Ujar Woojin malas.
Haknyeon nyengir lagi. "Gak bisa. Ngardus itu udah jadi rutinitas gue."
Woojin memutar bola matanya.
.
.
Aula sekolah belum pernah seramai pagi ini. Hari ini adalah perayaan menyambut susunan pengurus OSIS baru. Seluruh jajaran OSIS baru berdiri di sebelah kanan panggung, sementara pengurus OSIS lama yang rata-rata kelas dua belas berada di sebelah kiri panggung. Jonghyun yang mengenakan jaket OSIS kebanggaannya berdiri di tengah bersama Sunghyuk, ketua OSIS yang baru. Minhyun, mantan wakil ketua OSIS berdiri di samping Jonghyun sembari memberikan sambutan.
"Selama setahun masa jabatan, Jonghyun memimpin kita menjalankan banyak program kerja. Dalam setahun, semua daftar yang disusun di awal periode jabatannya berhasil terwujud. Kualitas Jonghyun sebagai ketua OSIS emang gak perlu diragukan lagi." Minhyun tersenyum pada sahabatnya sebentar. Ia merasa bangga dengan kepemimpinan Jonghyun. "Pemilihan ketua OSIS telah selesai. Suara terbanyak berhasil diraih oleh Seo Sunghyuk dari kelas 11 IPA 3."
Semua pengurus OSIS—dan para siswa yang ikut berada di aula untuk menonton—bertepuk tangan.
Di bagian belakang, terlihat Woojin dan Haknyeon baru saja datang. Cowok bergingsul itu memberi intruksi bergerak ke tempat duduk paling tengah, tepat di belakang geng Daehwi yang sibuk memuja beberapa anggota OSIS.
"Guanlin ganteng banget. Argghhhhh..." Gunhee menjerit heboh.
"Duh kak Jongyeon bikin aku khilaf." Dongmyeong menatap salah satu cowok yang berdiri paling pojok dengan tatapan memuja.
"Kak Jeno ganteng tapi dia kan pacaran sama kak Renjun. Gimana dong?" Dongbin cemberut sebentar.
"Kak Jinyoung gak jadi OSIS ya? Yah gak seru." Ujar Daehwi malas.
Gunhee hanya tertawa pelan. "Jinyoung kan anggota MPK curut."
Eunki tersenyum gak jelas. "Tapi si Yongbin lebih cakep. Haknyeon mah ka—"
"Muji kak Yongbin mulu sih." Haknyeon merangkul leher Eunki dari belakang, sebelah tangannya mengacak surai pirang pacarnya. "Aku juga gak kalah cakep lo."
Eunki sontak menghadap ke belakang, tersenyum genit pada pacar barunya.
"Yongbin emang ganteng kok." Eunki sengaja menggantung kalimatnya, masih malu-malu kucing sama Haknyeon. "Tapi kamu yang ngalihin perhatian aku."
"Kamu bisa aja deh kak."
Woojin mencibir pelan. Kedatangannya ke aula bukan untuk menonton drama picisan, apalagi tokoh utamanya si kardus dan si kakak kelas yang terkenal menel. Tatapannya bertemu dengan Hyungseob yang berada tepat di depannya. Mata bulat Hyungseob bertemu dengan mata sipit milik Woojin.
Hyungseob hanya tersenyum manis, kembali mengedarkan pandangannya pada panggung. Woojin hampir membalas senyum Hyungseob ketika Haknyeon mengejutkannya.
"Lo udah nemu inceran baru?" tanya Haknyeon. Woojin bahkan gak sadar jika Eunki pindah duduk di samping pacarnya.
Woojin menggeleng.
"Tapi lo tadi senyum-senyum gitu."
Terkutuklah Haknyeon dengan mulut besarnya yang bodoh—menurut Woojin.
Eunki beserta gengnya—kecuali Hyungseob yang masih terpaku dengan kegiatan OSIS—memberikan respon yang beragam. Woojin itu kan jomblo sejati, siapa sih yang gak heran kalau Woojin senyumin seseorang.
"Cie Woojin nemu yang baru." Gunhee mulai menggoda manja.
"Siapa sih yang beruntung? Gue iri deh." Dongbin lagi-lagi cemberut.
"Gue gak ada senyum kok. Si Haknyeon doang matanya bermasalah." Jelas Woojin menatap tajam sahabatnya yang tengah bermesraan dengan Eunki.
Sekarang Haknyeon balik cemberut. "Jahat banget sih lo, tega sumpah!"
"Gak usah sok drama deh lo. Berhenti ngemil micin, Nyeon."
Haknyeon kembali cemberut.
.
.
Woojin itu penggemar es buah, tiada hari tanpa menikmati es buah seger hasil racikan Namhyung—mahasiswa lulusan pertanian. Kios itu terletak agak jauh dari sekolah, tepatnya di samping kompleks perumahan Donghyun dan Daehwi. Woojin itu juga pelanggan tetap Namhyung, setiap sore selalu mampir ke kios beli es buah. Terkadang Haknyeon juga ikut mampir sesekali menggoda beberapa pelanggan yang 'bening'.
Woojin baru saja pulang sekolah, lengkap dengan seragam sekolah yang sedikit acak-acakan. Setelah memarkirkan motor di depan kios es buah, cowok bergingsul itu masuk dan menyapa riang Namhyung yang sibuk stalker di sosial media.
"Bang! Es buah jumbonya satu." Ujar Woojin memberikan cengiran kecil. "Kepoin siapa tuh bang? Pasti kak Dongsu dari kompleks sebelah."
"Kepo." Balas Namhyung sinis.
Mereka itu saling mengenal saat Woojin masih kelas empat. Ibunya mereka itu satu geng di arisan. Woojin sendiri menganggap Namhyung seperti kakak sendiri, mereka bahkan sering curhat bareng.
"Udah atuh stalker kak Dongsu. Gue haus nih." Kata Woojin dramatis, ia mengipasi lehernya dengan majalah Bobo milik Namhyung.
"Sabar dek. Kapan lagi bisa kepoin si Dongsu."
"Kasi gratis aja kalo gitu."
Namhyung melotot. Ponselnya hampir terjatuh.
"Ya gak bisa gitu! Gue belum dapet lowongan kerja!" Namhyung mulai gak terima.
Woojin mengerutkan kening sesekali menggaruk tengkuknya yang gatal. "Lo kan udah kerja. Ini kios punya lo kan bang?"
"Punya kakek gue lah!" Namhyung kemudian berdiri. Ia takut sumber uangnya hilang. "Masa selamanya gue jualan es buah, ntar gak bisa nafkahin si Dongsu gimana?"
"Yah bang." Woojin kini mengeluh. "Jualan aja napa. Gue bakal kangen ama es buah lo."
"Es buah buatan kakek gue jauh lebih enak. Lo musti cobain deh." Saran Namhyung semangat. "Lagian gue cuma bantuin kakek gue jualan. Mumpung belum dapet kerjaan."
Woojin gak menjawab. Ia mengeluarkan ponsel dan melanjutkan permainan get rich yang sempat terhenti. Cowok itu merutuk sebal karena kalah melawan Youngmin. Tanpa Woojin sadari, seorang cowok imut bermata bulat memasuki kios es buah.
"Bang Namhyung, es buahnya dua. Dibungkus ya."
Namhyung yang masih meracik pesanan Woojin sontak menoleh ke depan, ia mulai memamerkan cengiran kecil pada Hyungseob.
"Eh dek Seobie, ntar dulu ya. Abang masih buatin pesenannya si curut."
"Hah?"
Namhyung nyengir lagi. "Itu si Woojin."
"Napa bang?"
"Lho Woojin?"
Woojin refleks menoleh pada lawan bicaranya. Ahn Hyungseob, salah satu anggota geng Daehwi yang juga satu angkatan dengan Woojin. Cowok gingsul itu baru tahu kalau Hyungseob satu kelas dengan Haknyeon. Berbeda dengan sahabat kardusnya, Woojin gak pernah mengunjungi kelas Haknyeon sama sekali.
"Lo mesen es buah juga?"
"Seperti yang lo liat." Woojin berusaha cuek dan kembali fokus pada ponselnya.
"Senyum lo manis juga ya."
Woojin mengerutkan kening sebentar, ia masih ingat kejadian di aula dimana mereka saling melempar senyum. Cowok itu hanya mengangguk singkat.
"Thanks."
Hyungseob itu kan satu geng sama Daehwi, adik kelas paling cerewet dan salah satu cabe hits seantero sekolah. Pasti cowok manis itu satu sifat sama Daehwi. Menurut Woojin sih Hyungseob itu beda sama anggota gengnya yang lain.
"Gue kadang suka khilaf kalo liat lo."
Woojin berhenti menggerakkan jemarinya pada layar ponsel, berusaha mencerna kata-kata Hyungseob yang begitu ambigu di telinganya. Mungkin ia akan dijadikan sasaran baru oleh salah satu anggota geng tersebut. Woojin tentu gak mau. Ia lebih memilih melajang seumur hidup ketimbang pacaran dengan salah satu anggota cabe. Woojin merutuki kebodohannya.
"Abis lo ganteng sih. Gue kan jadi naksir." Lanjut Hyungseob kemudian tertawa kecil. "Tuh kan ambyar gue."
Hyungseob mendekati Woojin yang masih sibuk dengan ponselnya, ia bisa melihat jari Woojin yang sedikit bergetar. Jarak mereka sedikit intim hingga mata Woojin tak sengaja bertabrakan dengan tatapan Hyungseob yang memuja. Wajah mereka lumayan dekat, cowok berkulit tan menahan nafas sebentar.
"Lo bisa jauh dari gue?"
Hyungseob menggeleng polos. "Gak bisa." Ia mendekatkan wajahnya pada Woojin yang sedikit grogi. "Diliat dari dekat lo cakep ba—"
"Adik-adik tunda dulu kegiatannya." Kata Namhyung setelah meletakkan semangkuk es buah untuk Woojin dan pesanan Hyungseob. "Bosen gue jadi obat nyamuk terus."
Hyungseob nyengir kemudian memberikan satu lembar uang sepuluh ribu pada Namhyung. Persis seperti orang yang gak bersalah. Sementara Woojin menghela nafas lega, beruntung Namhyung menyelamatkannya dari godaan anggota cabe.
"Makasih ya bang." Hyungseob mengalihkan pandangannya pada Woojin. "Sampe ketemu di sekolah, gingsul ganteng."
"What the shit, gue kira lo gak terpengaruh ama godaan setan."
Woojin kali ini mendengus sebal. "Gue udah kebal bang."
"Tapi gue liat lo kaya rada takut gitu pas dideketin sama Hyungseob."
"Jangan diomongin lagi dah bang. Gue males." Final Woojin sebelum menyeruput es buahnya.
Namhyung hanya mengangkat bahu. Kembali dengan aktivitas 'stalking akun Dongsu' kemudian senyum gak jelas.
.
.
"Gue putus ama kak Eunki." Lapor Haknyeon sambil mencomot nastar nanas kesukaannya. Malam ini dia berkunjung sebentar ke rumah Woojin.
Sementara si pemilik rumah memutar bola matanya. "Tuh kan bener dugaan gue."
Haknyeon nyengir. "Gue ama kak Eunki juga gak serius amat kok." Ia mengunyah nastar sebentar sebelum melanjutkan ceritanya. "Tapi gue kali ini serius ama perasaan gue sama someone."
"Lo seriusan tobat ngardus?"
Haknyeon mengangguk pelan. "Kalo gue berhasil dapetin dia, gue janji bakal berhenti ngardus."
"Siapa inceran lo selanjutnya?"
"Euiwoong."
.
.
TBC
.
.
Aku update lebih cepat dari biasanya *evil laugh. Kemarin abis kena writer's block dan hampir nyerah buat lanjutin. Momen HakWoong dikit banget disini, tapi di chapter berikutnya dapat porsi banyak. Maaf atas keterlambatanku update chapter 3 karena ada kegiatan ospek. Untuk chapter 5 stay tune karena hampir semua karakter bakal ditampilin.
Yay... malam minggu versi Once Again *tepuk tangan ala Jisung.
Kira-kira Sanggyun cocok sama siapa ya? Aku mau nampilin JBJ di chapter 5, sempat bingung sama pasangan buat Sanggyun. Kan kasian kalau jomblo sendiri. Nanti Kenta bakal jadian sama Eunki.
Aku belum tau kapan update chapter 5 mengingat jadwal kuliah nanti bakalan padat plus homesick-ku bakal terus bertambah.
Btw..
Thanks for review:
Sky Onix, sungminseokibum, wahyumaya22, gitakanya, YGJIS00K, baejinbaejin, Young180100
Dan yang udah favorite dan follow fanfic ini, big thanks untuk kalian semua.
Jangan lupa review ya! Aku tunggu respon dari kalian semua. Satu review itu berharga banget buat aku. Semoga suka sama chapter ini dan maaf kalau ada scene yang kurang sreg.
