Once Again

Rate: T

Genre: Little bit Humor, Romance, Friendship

Warning: Alternate universe, typo(s) or miss words, OOC, non baku, domestic!AU

.

Chapter 5 : Saturday Night

Seongwoo menyandarkan tubuhnya pada sofa. Malam ini ia berkunjung ke rumah Daniel, rencananya menghabiskan waktu bersama ditemani sekotak nastar keju buatan calon mertua. Daniel masih di kamar mandi, meninggalkan Seongwoo yang masih sendirian di ruang tamu.

Semenjak kejadian 'adopsi kucing' itu, emosi Seongwoo mulai gak terkendali. Ia keliatan jarang tertawa atau jail pada teman-teman sekelasnya. Malah Seongwoo terlihat seperti cewek PMS, banyak orang yang menjadi bahan pelampiasannya termasuk si Dongbin yang terkenal menel tapi cengeng kalau dibentak sedikit.

Seongwoo terkadang sebal dengan kelakuan Daniel yang lebih memilih kucing 'pungutan' ketimbang pacarnya. Ia sudah berencana membuang tiga ekor kucing kesayangan Daniel namun hal tersebut berhasil digagalkan oleh pemuda bermarga Kang.

"Lho kamu mau apain kucingnya, yang?"

Seongwoo yang waktu itu masih 'lemot' buat berpikir hanya bisa menggaruk kepalanya yang gatal. Ia berpikir sebentar untuk mencari alasan yang logis.

"Mau kasi makan, Niel." Cengir Seongwoo. Dalam hati sih udah panas.

"Tapi kan aku udah kasi makan."

Lupakan kejadian beberapa hari lalu yang membuatnya kesal setengah mati.

Kini Seongwoo menyandarkan kepalanya pada kusen sofa, mencomot nastar yang tersisa seperempat sesekali melirik ke arah tangga. Siapa tau Daniel selesai dengan acara mandinya.

"Kakak siapa?" sebuah suara mengagetkan Seongwoo hingga salah satu nastar di mulutnya terjatuh.

Seorang anak berusia sekitar tiga belas tahun berdiri tepat di hadapannya, gak terlalu jauh dan gak terlalu dekat. Wajah manisnya terlihat bingung dengan kehadiran Seongwoo. Sementara itu, pemuda bermarga langka itu agak terpesona dengan anak kecil di depannya. Kalau bisa ia ingin mengangkat anak itu jadi adiknya.

"Kakak kok diem aja sih?" tanya anak itu sedikit nyolot. "Pasti kakak maling ya?"

Seongwoo menggeleng cepat. "Kakak gak maling."

"Terus kakak siapa?"

Seongwoo mengulurkan tangan sambil tersenyum manis. "Nama kakak Ong Seongwoo. Bukan Hong Seongwoo tapi Ong Seongwoo. Bukan Gong Seongwoo tapi Ong Seongwoo. Bukan Eun Seongwoo tapi Ong Seongwoo. Bukan Ong Seongwoon tapi Ong Seongwoo. Salken ya dek."

Anak kecil itu membalas uluran tangan Seongwoo namun wajahnya terlihat cengo.

"Hah? Nama kakak Kong Songwoon?"

Seongwoo menggeleng cepat, ia mau marah tapi gak bisa.

Untung manis ya. Sayang kalo dilempar ke gorong-gorong—Ong Seongwoo yang selalu tabah kapan pun dan dimana pun.

"Gak Kong Songwoon dek. Tapi Ong Seong-woo." Koreksi Seongwoo berusaha untuk sabar. Kali ini kesabarannya harus diuji selama puluhan kali.

Anak itu hanya mengangguk lucu. "Jadi nama kakak Ong Seongwoo?"

Seongwoo mengangguk lagi. "Nama adik siapa?"

"Woojin kak. Adik sepupunya kak Daniel."

"Eh namamu Woojin ya? Mirip ama adik kelas kakak yang jones itu."

Woojin tertawa pelan. "Ya sih. Tapi aku kan gak ngenes. Kak Daniel ngelarang aku buat pacaran. Katanya sih lanjutin sekolah dulu baru boleh pacaran."

Walaupun Daniel itu terkadang sedikit nyebelin dan gak peka, ia cocok jadi teman hidupnya. Seongwoo itu udah merasa nyaman sama Daniel, sayang banget bahkan. Ia rela gak mutusin hubungan walaupun Daniel lebih suka mengurus kucing-kucingnya ketimbang bermesraan ria dengan Seongwoo.

"Kakak pacarnya kak Daniel?" tanya Woojin lagi.

"Ya dek. Kak Daniel ada cerita tentang kakak?"

Woojin nyengir sebentar. "Cerita sih kak tapi gak lengkap. Kak Daniel cuma bilang kalo dia punya pacar manis banget kaya gula." Woojin kemudian duduk di dekat Seongwoo. "Kak Daniel gak bohong. Kak Seongwoo manis kaya gula."

Pipi Seongwoo merona hebat. Daniel juga ahli dalam hal gombal menggombal. Siapa sih yang gak ambyar kalau digodain sama Daniel? Seongwoo yang cerewet dan agak tsundere pun baper berat akibat kata-kata romantis Daniel yang manisnya gak ketulungan.

"Daniel mana?" tanya Seongwoo mengalihkan pembicaraan.

Wajah manis Woojin berganti menjadi ekspresi kusut. "Dia lagi ngelonin kucing di kamar kak. Katanya sih kucingnya rewel gegara kak Daniel keluar kamar."

Gak kalah dengan ekspresi Woojin, Seongwoo juga terlihat kusut seperti baju yang jarang disetrika. Acara malam minggunya terancam batal karena ulah kucing 'sialan' yang selalu mengganggu hubungannya dengan Daniel. Seongwoo ingin pulang. Ia ingin memutar lagu galau dan ditemani sekotak tisu pemberian Heeseok. Katanya sih cocok untuk menemani kegalauan Seongwoo yang terkadang kambuh.

Bolehkah Seongwoo membuang kucing kesayangan pacarnya?

Daniel adalah salah satu kelemahan Seongwoo. Jadi agak sulit baginya untuk membuang trio kucing nyebelin.

Woojin yang mengerti suasana hati Seongwoo berinisiatif untuk membuka ransel merahnya, mencari buku cerita pemberian Daniel dan memberikannya pada Seongwoo. Cowok itu terlihat bingung, namun Woojin kembali nyengir manis.

"Kakak bisa gak baca cerita kesukaan Woojin?" pinta Woojin.

Siapa sih yang gak nolak? Apalagi Woojin memberikan ekspresi lucu yang membuat Seongwoo luluh dalam beberapa detik. Seongwoo menganggukkan kepala dan anak iitu berseru senang. Ia duduk di pangkuan Seongwoo.

"Ayo kak, ceritain kisah Cinderella!" seru Woojin semangat.

"Gak bisa dik. Kak Seongwoo udah janji nemenin kakak." Suara berat Daniel mulai terdengar. Cowok tinggi besar itu melayangkan tatapan sebal pada adik sepupunya.

Woojin menggeleng gak terima. "Gak mau. Salah sendiri ngacangin kak Seongwoo."

Daniel menghela nafas panjang. "Kakak gak ngacangin dik. Cuma nemenin Rooney bentar."

Woojin kini menghadap pada Seongwoo yang masih cengo. Matanya terlihat berkaca-kaca.

"Kakak mau pilih yang mana?"

Seongwoo terlihat bingung. Ia ingin memilih Daniel mengingat Seongwoo sedikit kurbel, di sisi lain ia tersihir dengan sifat imut menggemaskan milik Woojin. Beberapa menit kemudian, senyuman jahat tercetak jelas di wajah Seongwoo.

"Kakak milih Woojin kok. Daniel kan sibuk mesraan sama kucing." Jawab Seongwoo manis tapi terdengar menusuk di telinga Daniel.

Woojin memekik riang. Pandangannya beralih pada Daniel kemudian memeletkan lidahnya. Sementara Seongwoo menatap jahat pacarnya.

.

.

"Keluar lo sekarang!" suara Hyunbin yang menggelegar terdengar di sudut ruang keluarga Kwon. Beruntung keluarganya lagi kundangan di kediamannya Pak Kibum.

"Lo jahat banget sih sama sahabat sendiri." Ujar Sanggyun gak terima. Memberikan tatapan sebal pada Hyunbin yang hidungnya masih kembang kempis.

Taehyun tertawa gak jelas seraya mencomot pringles rumput laut milik Taedong. "Si Hyunbin minta diterangkan atuh."

Yongguk juga ikut tertawa. Ia memperbaiki posisi tidurnya pada pangkuan seseorang yang masih mengelus rambut hitamnya.

Tunggu.

Yongguk tidur di pangkuan seseorang?

Donghan mendengus sebal, melempar bantal bermotif polkadot pink pada Hyunbin. Acara tidur manja di bahu seseorang mulai terganggu karena ulah si tiang rese—ini kata Donghan, si anak kelas 11 IPA 2 yang ganasnya minta ampun.

Tunggu lagi.

Donghan lagi senderan sama seseorang juga?

Jadi alasan Hyunbin marah itu adalah...

"Keluar lo pada! Bukannya lo hibur gue malah ajak pacar ke rumah gue!" teriakan Hyunbin kembali menggelegar.

Hyunbin mengajak keenam sahabatnya menghabiskan waktu bersama di rumahnya, kebetulan hanya dia dan Hyeob yang ada di rumah. Hyunbin juga ingin curhat masalah Minhyun dan cara mengatasi kegalauannya akibat patah hati ratusan kali. Mumpung sahabatnya juga gak ada acara. Mereka pun setuju dan bakal ke rumah Hyunbin sekitar jam tujuh malam.

Ternyata harapan Hyunbin melenceng dari sebelumnya.

Keenam sahabatnya ini udah taken, hanya Hyunbin yang masih jomblo dan berusaha mengubah status menjadi 'pacarnya Minhyun'. Saat itu cowok super tinggi itu baru selesai mandi, mood-nya kembali menurun drastis akibat ulah JBJ—nama geng Hyunbin bersama keenam sahabatnya.

Sejak kapan rumah Hyunbin beralih fungsi menjadi tempat bermesra-mesraan?

"Tuh kan kak. Gak enak sama kak Hyunbin nih." suara halus Sihyun mulai terdengar. Cowok manis itu sepertinya takut.

"Santai aja dik. Si Hyunbin gak bakal makan kita." Woo Jinyoung menyahut sambil mengalungkan lehernya pada Sanggyun.

Sungwoon mengangguk santai, jemari mungilnya menyuapi pacarnya yang hobi dimanjain. "Gue aja santai kok. Emang Hyunbin kaya gitu. Kelebihan micin otaknya."

"Keluar lo keluar!"

Kedua mata Hyunbin beralih pada Kenta yang masih berciuman panas dengan Eunki, mantan pacarnya Haknyeon yang ke-101. Cowok bergingsul itu ternyata udah taken, pacarnya si tukang menel yang hobi hang out manja bareng geng cabe. Ia mengira Kenta bakal setia dengan status 'jomblo' yang disandangnya selama satu setengah tahun.

"Rese lo gingsul boncel! Gue kira lo bakal setia kawan ama gue!"

Kenta terpaksa menghentikan ciumannya dengan Eunki. Tersenyum gak jelas seolah gak memiliki dosa besar pada pemilik rumah.

"Maafin gue, Bin. Abis body-nya Eunki gak bisa gue tolak." Jawaban unfaedah keluar dari mulut Kenta.

"Jadi kamu cuma suka sama body-ku aja?" tanya Eunki dengan nada sok sedih. Wajah sedihnya terlihat sedikit dibuat-buat. Sementara Kenta nyengir lagi, menarik wajah Eunki hingga berjarak sangat intim.

"Aku beneran kok suka sama kamu, beb. Suer. Hatiku cuma tersedia buat kamu doang."

Eunki tersenyum malu. Mengecup sebentar bibir Kenta. "Kamu bisa aja deh, yang."

"Jangan menelin cowok lagi."

"Kalo itu si—"

Jawaban Eunki terpotong saat Kenta meraup bibirnya dengan ganas, masa bodo dengan pemilik rumah yang sewaktu-waktu mengamuk atau Donghan yang merekam adegan panas mereka. Hyunbin merasa dikacangi oleh sahabatnya sendiri, wajahnya mulai memerah dan darahnya mendidih.

"Rumah gue bukan lapak maksiat!"

Kenta menghentikan ciumannya lagi. Kembali nyengir pada Hyunbin.

"Gue gak ada nyuruh lo pada ngajak pacar ke rumah gue!"

Taedong yang sedari tadi diam mulai angkat bicara. "Tapi kata Hyeob boleh."

Hyunbin teringat pada adik bungsunya. Berbeda sifat dengan Hyunbin, Hyeob itu agak baik dan suka menurut. Kata Hyeob sih anggap rumah mereka seperti rumah sendiri. Maka dari itu, Hyeob mengijinkan JBJ membawa pacar masing-masing ke rumah keluarga Kwon.

"Udahlah kak. Ijinin aja." Ujar Hyeob setelah merapikan sweaternya yang berantakan.

"Lo mau kemana?"

"Mau kencan bareng kak Jongyeon." Jawab Hyeob tanpa malu.

"Gak boleh!" sifat posesif Hyunbin mulai keluar.

Han Jongyeon. Mantan anggota OSIS sekaligus ketua dari klub karate. Wajahnya terkesan judes dengan tatapan intimidatif. Entah apa alasan Hyunbin menolak hubungan Hyeob dengan Jongyeon padahal kedua orangtua mereka udah setuju.

"Kasi aja Hyeob kencan, Bin." Kata Taedong. Agak iba sama Hyeob yang sialnya jadi adik dari Kwon Hyunbin.

"Sekali gak boleh tetap gak boleh!"

Hyeob tentu gak terima. Minggu lalu kencannya berhasil dihancurkan oleh Hyunbin. Akibatnya ia bertengkar hebat dengan Jongyeon hingga mengurung diri di dalam kamar.

"Berhenti jadi posesif gini dong kak! Gue capek tau gak!" Bentak Hyeob kesal. Kedua mata bulatnya mulai berkaca-kaca.

Hyunbin mengacak rambutnya. Malam minggu ini hancur karena ulah JBJ dan Hyeob yang berhasil membuat mood-nya menurun drastis. Hyunbin menyambar jaket yang berada di sofa dan berjalan keluar rumah.

"Lo mau kemana?" Tanya Taehyun pada Hyunbin.

"Rumah Minhyun." Jawab Hyunbin pendek.

Donghan langsung sigap memeluk Hyeob yang menangis. Sementara para tamu hanya menampakkan ekspresi cengo.

"Hyunbin napa sih?" Tanya Sungwoon heran.

Sanggyun mengangkat bahunya. "Hyunbin perlu nenangin diri."

"Kasian kak Hyunbin." Ujar Sihyun iba. "Pasti dia capek nerima penolakan dari kak Minhyun."

"Minhyun kejam banget sumpah." Woo Jinyoung ikut menimpali.

Yongguk menghela nafas. "Kaya lo gak tau Minhyun aja. Dia mah tsundere kelas berat. Susah buat dapetin hatinya."

.

.

"Lo udah minta ijin ama Guanlin?"

Seonho mengangguk.

Kini Samuel dan Seonho berada di taman kota, quality time kata mereka. Samuel masih fokus pada puluhan orang yang memadati taman kota, sementara Seonho merongoh sesuatu dari dalam tas selempangnya.

"Ho, menurut lo Daehwi suka gak ama gue?"

"Mungkin gak." Jawab Seonho seadanya. Menghisap rokok elektriknya kemudian menghembuskannya secara perlahan.

Samuel melirik sebentar pada Seonho. Ia agak kaget lalu menyambar rokok elektrik yang dipegang sahabatnya. Walaupun Samuel termasuk murid urak-urakan, ia gak pernah merokok ataupun sekedar clubbing. Cowok itu heran. Setaunya Seonho gak pernah mampir ke toko vapor.

"Darimana lo dapet beginian?" tanya Samuel curiga. Kedua matanya menatap tajam Seonho.

"Jisung yang ngasi. Awalnya coba-coba jadi ketagihan."

Samuel menepuk dahinya. Seonho itu suka mencoba sesuatu yang baru, ia langsung suka dan meneruskannya sampai sekarang. Contohnya rajin bolos atau suka datang terlambat, ruang bimbingan konseling menjadi tempat rutin bagi mereka berdua. Samuel merasa Seonho berubah drastis. Entah kenapa rasa penyesalan mulai menjalar dari lubuk hatinya.

Ia gak ingin dipites Guanlin gara-gara mengajarkan Seonho hal yang gak baik.

"Gak usah ikut-ikutan. Nanti kalo kak Guanlin tau gimana?"

Seonho nyengir. "Gue jelasin aja kalo niatnya pengen coba-coba tapi makin ketagihan."

Sekali lagi Samuel menepuk dahinya. Ia menaruh rokok elektrik itu ke dalam tas selempangnya. Rencananya ia akan mengembalikannya pada Park Jisung, salah satu anak dari kelas sebelah.

"Lo gak usah ikutan deh."

Seonho terpaksa menurut. Jujur saja, pemuda tinggi itu terlalu polos menyangkut hal-hal yang baru. Kedekatannya dengan Guanlin semakin berkurang, Seonho merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Selain mencoba hal yang baru, tujuan Seonho menjadi murid bandel karena ia ingin Guanlin terus memperhatikannya. Jabatan Guanlin sebagai koordinator sekbid dua masih disandangnya sampai sekarang.

"Lo ngapain ngajak gue kesini?" suara cempreng membuyarkan lamunan Seonho tentang Guanlin dan Samuel yang masih sibuk dengan ponselnya, memainkan game Mobile Legends yang mulai jadi trending topic.

"Tempatnya penuh semua. Lo gak boleh nolak, oke?"

"Tapi gue gak mau."

"Turuti perintah gue."

"Gak mau!"

Gunhee yang masih menarik tangan Daehwi kemudian tersenyum sangat manis pada Samuel dan Seonho. Sementara Daehwi memasang ekspresi kesal dan jijik pada Samuel yang kini menatapnya dengan penuh cinta. Cowok itu bahkan lupa melanjutkan game-nya yang sempat terhenti.

"Gue ama Daehwi boleh duduk disini kan?" tanya Gunhee sok manis.

"Boleh kak. Duduk aja." Samuel menjawab dengan semangat. Masa bodo dengan kekalahannya.

Gunhee mendekati Samuel sebentar kemudian berbisik di telingnya.

"Gue bantuin lo deketin Daehwi."

Seulas senyuman lebar terpatri di bibir Samuel. Pendekatannya dengan Daehwi semakin sukses ketika Gunhee menawarkan diri sebagai cupid cintanya. Menjinakkan seorang Lee Daehwi itu sangat susah, apalagi Daehwi itu cinta mati dengan Jinyoung. Sepertinya Samuel harus berterima kasih banyak pada Gunhee.

"Lo bisikin apa ke Samuel kak?" tanya Daehwi.

"Rahasia."

.

.

"Clubbing kuy!" ajak Haknyeon semangat, tepat setelah Woojin membuka pintu kamarnya. Hampir saja pemilik kamar terjungkal kaget dengan kehadiran Haknyeon yang membuatnya jantungan.

Haknyeon terlihat keren dengan kemeja kotak-kotak merah yang dibalut dengan jaket kulit hitam dan ripped jeans yang kontras dengan warna jaket. Woojin menganga lebar. Kemarin sahabatnya berjanji gak akan ngardus demi mendapatkan cinta seorang Lee Euiwoong. Benar juga kata barisan mantan Haknyeon, cowok itu cuma manis di mulut.

"Eh lo mau kemana?" tanya Haknyeon memandang Woojin dari atas ke bawah.

"Mau nonton kak Sangbin balapan." Jawab Woojin setelah memperbaiki letak kacamata hitamnya yang melorot.

"Mending lepas aja tuh kacamata. Gue liat kaya tukang pijit langganan bokap gue."

"Sialan lo." Woojin memukul kepala Haknyeon dengan sadis. Jelas ia gak terima penampilan swag-nya ini lebih mirip tukang pijit. "Lo aja yang gak swag."

"Apa? Suweg? Suweg ora jamu?"

"Budeg."

Woojin melangkah keluar kamar dan menutup pintunya, meninggalkan Haknyeon yang masiih mengerutkan kening.

"Lo katanya mau tobat?" tanya Woojin menyambar kunci motor yang ada di rak dekat televisi.

"Hehe.." Haknyeon nyengir gaje. "Ini yang terakhir kok, malming depan gue gak clubbing lagi."

"Lo cuma manis di mulut doang." Tanggap Woojin datar.

Suara bel rumah berbunyi, Woojin mengerutkan keningnya. Kedua orang tuanya sedang pergi berbulan madu selama seminggu. Jarang ada orang yang bertamu ke rumahnya semalam ini. Woojin segera membuka pintu depan.

Oh damn—Park Woojin, si jomblo kesayangan mama papa.

Hyungseob dan Euiwoong berdiri tepat di depan pintu rumah Woojin, Hyungseob menyambut si pemilik rumah dengan cengiran manis andalannya sementara Euiwoong hanya tersenyum tipis. Kedua cowok manis itu membawa paper bag yang berisi kue-kue kering buatan Tante Ahn dan juga Hyungseob.

Tunggu. Memangnya Hyungseob bisa memasak?

"Hai gingsul ganteng." Sapa Hyungseob tanpa malu-malu. "Mau kemana? Kok cakep gitu sih? Mau lamar gue di depan nyokap ya?"

Hyungseob itu hampir sama seperti anggota gengnya yang lain, gak tahu malu kapan pun dan dimana pun. Euiwoong menepuk keningnya, merutuki kelakuan Hyungseob yang membuatnya malu berat. Pemuda mungil itu menyesal mengantar tetangganya ke rumah Woojin dengan iming-iming film terbarunya Iqbaal.

"Siapa tuh, Jin?" tanya Haknyeon menyusul Woojin di teras rumah. Kedua matanya terfokus pada Euiwoong yang berdiri di samping Hyungseob. "Eh ada masa depan gue. Malem dek. Mau kakak temenin?"

"Gak."

Woojin berusaha menahan tawanya, namun ia masih ingat jika Hyungseob masih berada di depannya. Lengkap dengan senyuman yang sialnya manis. Woojin mengelus dadanya. Ia harus mempertahankan predikatnya sebagai jomblo berkelas. Jangan sampai ia jatuh hati pada anggota geng cabe.

"Kok bengong sih? Ntar kalo lo kesurupan gimana?"

Woojin menatap Hyungseob dengan sebal. "Lo mau apa kesini?"

Hyungseob menyerahkan paper bag itu pada Woojin. "Nih dari calon mertuanya lo. Gue juga ikutan bikin kue buat lo."

Woojin menerimanya dengan berat hati. Ia masih ingat ketika mamanya dekat dengan mama Hyungseob, sering arisan bareng ataupun kumpul gosip ala ibu-ibu kurang belaian. Sementara Haknyeon menyambar barang pemberian Hyungseob dan membuka tutup toples yang yang berisi kue kering.

"Buka mulutnya dek. Aaaa..." Haknyeon berusaha menyuapi Euiwoong dengan kue. Sementara cowok mungil itu mendengus sebal dan menepis tangan Haknyeon hingga sebutir kue terpental agak jauh.

"Gak usah sok manis kak. Jijik gue." Ujar Euiwoong pedas.

"Kakak cuma manjain kamu aja."

"Sorry gue gak suka dimanjain ama kardus murahan."

Jleb.

Hati Haknyeon terasa ditusuk oleh seribu jarum beracun.

Beralih pada Woojin dan Hyungseob yang saling menatap dengan ekspresi yang berbeda.

"Udah kan? Lo bisa pulang."

Hyungseob manyun sebentar. "Lo gak ngijinin gue singgah bentar?"

"Gak." Jawab Woojin pendek.

"Ya udah." Hyungseob mencuri ciuman di pipi Woojin kemudian tersenyum genit. "Gue pulang dulu. Mimpiin gue."

Hyungseob menarik tangan Euiwoong meninggalkan pekarangan rumah Woojin. Pemilik rumah menampakkan ekspresi cengo sambil memegang pipinya. Bekas ciuman Hyungseob masih terasa. Sementara Haknyeon mencomot kue kering buatan Hyungseob kemudian memakannya.

"Jin?"

Woojin gak menjawab. Ia hanya menoleh pada Haknyeon.

"Kok gue ngerasa ada cangkang telur masuk ke kerongkongan?"

Sepertinya Woojin akan membuang setoples kue buatan Hyungseob.

.

.

"Ada boneka alpaca!" seru Youngmin menarik tangan Donghyun menuju ke stand boneka. Kedua mata bulatnya berbinar-binar melihat sederet boneka alpaca kesukaannya.

"Kakak mau?"

Youngmin mengangguk semangat. "Mau lah. Yang gede juga boleh."

Donghyun hanya tertawa pelan, sebelah tangannya mengacak surai merah Youngmin yang dibuat sedikit ikal. Setelah mencoba arena Timezone dan membeli beberapa keperluan sekolah, Youngmin memutuskan untuk melihat boneka yang berhasil menyita perhatiannya. Donghyun gak menolak sama sekali. Memanjakan Youngmin adalah hal terfavorit untuknya.

"Kakak bisa pilih."

Youngmin mengerucutkan bibirnya sembari mengetukkan jari telunjuknya pada dagu. Beragam jenis boneka alpaca sedikit membingungkan Youngmin untuk memilih salah satu. Sementara Donghyun masih menunggu pilihan pacarnya sambil memotret diam-diam, terlihat real candid. Rencananya Donghyun akan upload hasil foto jepretannya ke instagram.

"Yang putih aja." Final Youngmin setelah mengambil boneka pilihannya. Memeluk erat boneka itu dengan ekspresi gemas.

Donghyun gak bisa menahan tawanya. Ia mencubit pelan pipi pacarnya setelah selesai membayar di kasir. Tujuan mereka selanjutnya adalah cafe milik Hanbin yang letaknya agak jauh dari pusat perbelanjaan. Youngmin merengek ingin makan hot chocolate buatan sepupu jauh Donghyun. Sekali lagi Donghyun gak akan menolak permintaan Youngmin.

"Aku seneng liat kakak bahagia." Ujar Donghyun setelah memasang seatbelt pada Youngmin.

Youngmin hanya tersenyum tipis. "Hyun?"

"Iya kak?"

"Makasih udah nemenin malming gue."

"Gak masalah." Donghyun kembali mengusap pelan rambut pacarnya. "Itu udah jadi rutinitas aku buat kakak seneng. Kebahagiaan kakak kebahagiaanku juga."

Siapa sih yang gak ambyar dengar kata-kata manis dari Kim Donghyun? Kali ini Youngmin membenarkan ucapan murid-murid tentang Donghyun, tipe cowok yang boyfriend-able dan suka memberi perhatian lebih. Youngmin selalu ambyar mendengar kalimat puitis Donghyun yang membuat perutnya dipenuhi sejuta kupu-kupu.

"Bisa gak sih berhenti bikin gue ambyar?"

Donghyun tertawa sebentar. "Gak bisa nih kak. Aku malah suka kalo kakak ambyar karena aku."

"Do-Donghyun.."

Wajah Donghyun berada cukup dekat dengan wajahnya, Youngmin bisa merasakan deru nafas pacarnya. Wajahnya kembali memanas. Aroma mint tercium jelas di hidungnya. Saat Youngmin memejamkan mata, bibir Donghyun menempel pada bibirnya. Hanya menempel namun cukup membuat jantung Youngmin berpacu dengan cepat. Donghyun mengarahkan kedua tangan pacarnya agar melingkar manis di lehernya. Kecupan itu berubah menjadi lumatan pelan. Youngmin berusaha untuk menyeimbangkan lumatan yang diberikan oleh Donghyun.

Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi Youngmin merasa setiap mereka berciuman seperti first kiss yang memabukkan.

Lumatan kecil itu berubah lagi menjadi ciuman panas. Youngmin mendesis pelan saat lidah pacarnya menjilat pelan bibirnya.

"Do-Donghyunhh..."

Terpaksa Donghyun menghentikan ciumannya. Ia harus menahan hormon agar tidak kelepasan. Desahan Youngmin menjadi salah satu favoritnya, mungkin disini bukan tempat yang tepat untuk melampiaskan nafsunya.

"Maaf kak, aku kelewatan." Sesal Donghyun.

Youngmin mengangguk pelan. "Gak apa."

Donghyun hanya tersenyum sekilas. Mencium pipi Youngmin kemudian menjalankan mobil menuju cafe milik sepupunya.

.

.

"Jinyoung deket sama kak Sewoon?" Tanya Guanlin lagi. Ia mulai gak percaya dengan certa Jihoon. Sementara pemuda mungil itu mengangguk pelan, menghapus airmatanya dengan tisu. Guanlin adalah satu-satunya tempat curhat untuk Jihoon.

"Awalnya gue gak percaya kalo mereka deket, Lin. Tapi mata gue gak bermasalah. Jinyoung emang deket ama kak Sewoon."

Jinyoung gak pernah cerita hal ini pada Guanlin meskipun mereka bersahabat dekat, Jinyoung itu terlalu tertutup sementara Guanlin tipe awkard mengenai semua hal. Guanlin gak menyangka ketika Jihoon menceritakan kedekatan Jinyoung dengan Sewoon.

"Lo masih bertahan untuk Jinyoung, kak?"

Jihoon mengangguk. Berusaha menahan air matanya agar gak jatuh lagi. "Gue udah gila ama Jinyoung. Gue terus berjuang agar dia ngerti perasaan gue yang sebenarnya."

"Andaikan Jinyoung tau perasaan lo sebenarnya." Guanlin menghela nafas pelan. Ia jadi teringat Seonho. Hubungan mereka semakin menjauh. "Jinyoung terlalu tertutup. Terlalu sulit buat buka hatinya dia."

"Gue gak mau nyerah." Jihoon menghela nafas.

Guanlin hanya terdiam sebentar. Ia sebenarnya bingung dengan kisah cinta Jihoon, sebenarnya Guanlin gak bisa memberikan saran yang berkaitan dengan cinta. Perasaannya dengan Seonho masih sulit untuk diatasi, apalagi Guanlin tipe orang yang kaku. Jihoon masih menahan diri untuk berhenti menangis.

"Guanlin?"

Si pemilik nama itu menoleh. Mendapati kakaknya yang berdiri di pintu kamar.

"Kenapa Jihoon nangis?"

Sementara itu, Jihoon hanya memaksakan diri untuk tertawa. "Gak ada kak. Gue lagi mainan bawang putih ama Guanlin."

Kakak cewek Guanlin itu mengangguk pelan.

"Dicari sama temen lo, Lin. Buruan samperin."

Guanlin berdiri diikuti oleh Jihoon.

"Gue ikut ya, Lin?"

"Boleh kak."

Mereka berdua segera keluar dari kamar menuju pintu depan.

Guanlin memasang wajah gak percaya sementara Jihoon berusaha menahan dadanya yang bergejolak. Jinyoung duduk di kursi teras rumah Guanlin bersama Sewoon.

"Eh Jinyoung. Kenapa?" Tanya Guanlin berusaha untuk jaga image.

Jinyoung menyodorkan buku paket matematika pada Guanlin. "Buku lo ketinggalan di rumah gue."

"Kenapa gak senin aja ngembaliin?"

Jinyoung memutar bola matanya. "Lo belajar pake apa? Senin ulangan matematika."

Guanlin hanya tertawa sebentar. Pandangannya beralih pada Sewoon yang menatap mereka dengan canggung.

"Kak Sewoon juga kesini?"

"Ya dek. Sambil nemenin Jinyoung."

'Nemenin Jinyoung ya?' batin Jihoon miris.

"Gue duluan, Lin. Udah malem." Ujar Jinyoung pendek.

Kedua mata Jinyoung bertemu dengan tatapan sendu milik Jihoon. Ia sedikit terkejut denga kehadiran Jihoon yang berada di rumah Guanlin. Jinyoung merasa ada sedikit gejolak di hatinya. Entah kenapa Jinyoung merasa risih dengan kedekatan Guanlin dengan Jihoon walaupun mereka menyatakan dirinya sebagai hubungan kakak adik.

"Oke. Hati-hati."

Jinyoung mengangguk pelan. Kontak matanya dengan Jihoon udah berakhir satu menit yang lalu, mata bulat itu seperti menghipnotis Jinyoung untuk jatuh cinta pada Jihoon. Jinyoung menghela nafas panjang. Ia bahkan gak merespon cerita Sewoon tentang lagu baru buatannya yang akan diupload besok siang.

"Lo gak apa?" tanya Sewoon khawatir.

Jinyoung kembali mengangguk singkat.

"Lo cemburu Guanlin deket ama Jihoon?" tanya Sewoon lagi. Kali ini ia agak hati-hati bertanya pada Jinyoung.

Jinyoung sama sekali gak merespon.

"Gue tau perasaan lo ke Jihoon kaya gimana."

"Kakak jangan ngomongin yang aneh-aneh deh." Sahut Jinyoung cepat. "Berhenti ngomongin Jihoon lagi."

Sewoon hanya diam menuruti. Ia melepaskan kontak matanya dengan Jinyoung, tatapan cowok itu terkesan tajam. Sewoon menyandarkan tubuh pada dashboard, memejamkan pelan kedua matanya.

Hatinya berdenyut sakit.

.

.

"Ada kiriman."

Minhyun mengerutkan kening saat salah satu pembantunya memberikan sesuatu. Saat ini, cowok manis itu masih sibuk dengan tugas ekonomi yang lumayan banyak. Sementara itu, salah satu pembantu rumah Minhyun menggeleng pelan.

"Oh.." Minhyun menatap sebentar bungkusan tersebut. "Makasih ya bik."

Pembantunya udah keluar dari kamarnya. Minhyun segera membuka kotak dari bungkusan tersebut. Ada berbagai macam makanan ringan favoritnya dan selembar sticky note yang tertempel rapi pada bungkusan cokelat berukuran besar.

.

Happy Saturday Night My Optimus

Gue tau lo lagi sibuk nugas satu bab. Ga usah maksain diri. Lo bisa lanjutin tugasnya besok. Ini gue bawain snack favorit lo. Gue harap lo makan snack ini.

-KHB

.

Dari kejauhan, seseorang menatap jendela kamar Minhyun yang berada di lantai paling atas. Minhyun sama sekali gak menyadari jika si pemberi kado tengah berdiri di depan gerbang rumahnya.

.

.

TBC

.

.

Finally.

Special chapter a.k.a chapter 5 udah kelar. Ini buah pemikiranku setelah beberapa jam menyusun cerita agar mau sesuai. Mungkin agak sedikit absurb, hm.. adegannya kebanyakan aku rombak. Seonho agak OOC dikit tapi kesan polosnya masih ada. Sekali-sekali bikin Seonho jadi bandel gini gak apa kan?

Chapter nanti siapa yang jadi tokoh utamanya? Idk *evil laugh

Thanks for review:

CrazyWooJinyoung, Guest (Guest), ravoletta, baejinbaejin, Young180100, Sky Onix, YGJIS00K, gitakanya, wahyumaya22

Dan yang udah favorite or follow. Thank you so much. Semoga suka sama chapter ini ya. Aku liat dari chapter awal sampe sekarang, reviewnya agak berkurang. Mungkin karena jalan cerita agak kurang sreg atau aku terlalu lama update. Maaf terlalu panjang, chapter depan mungkin sekitar kurang lebih 1.500 kata.

Jangan lupa review. Satu review sangat aku butuhkan. Semoga aku bisa update lebih cepat.

Mind to review?