Parkayoung present

Fall for Daddy

Chapter 2

.

.

Dua purnama yang lalu masih Baekhyun ingat betul bagaimana rasanya di campakkan. Hatinya bertekad jika sejak saat itu tidak akan pernah ia coba lagi bagaimana debar rasa jatuh cinta. Terlalu sakit ketika Minhyuk, mantan sialan itu, membuat satu kesimpulan yang berbalik dari fakta. Siapa yang mengingkar, siapa yang dituduh mengingkar. Lucu, memang. Tapi saat itu Baekhyun terima saja. Toh, dia tidak akan kehilangan napas meski Minhyuk membuat nama baiknya terkena kotoran babi. Setidaknya Baekhyun masih memiliki pendirian, yang mana senyum atas cemoohan beberapa teman tidak membuatnya memutus urat nadi atas rumor bodoh yang dibuat Minhyuk.

Ingat, itu hanya patah hati. Bukan patah hidup.

Lalu sekarang, Baekhyun seperti akan menjilat ludahnya sendiri. Berkhianat dengan keputusannya yang lalu hanya karena satu sosok yang kini sedang ia cengkeram lembut kerah kemejanya. Sungguh, menjadi bodoh untuk situasi ini benar-benar menguntungkan. Apalagi ketika Baekhyun mencoba menepis logika dengan cara menjadi agresif di permukaan bibir lelaki itu. Park Chanyeol.

"Ini ciuman pertamaku." Baekhyun memberi jarak setelah merasakan hangat bibir Chanyeol. "Kalau boleh aku tau, bagaimana cara berciuman yang kau lihat dalam film?"

Chanyeol terdiam, membolakan dua maniknya karena Baekhyun berada sangat dekat. Tidak pernah dia ketahui jika detak jantung manusia bisa segila ini jika beradu kasih dengan yang memikat hatinya.

"Mereka hanya saling mendekat, lalu memiringkan kepala, lalu.."

"Lalu?"

"Aku tidak tau apa istilahnya. Tapi yang jelas mereka saling menekan bibir hingga mata terpejam."

"Mau mencobanya bersamaku?" Sialnya disini Baekhyun kelepas agresif, dia menawarkan diri terlalu murah,atau hampir mendekati cuma-cuma hanya untuk mencicipi bagaimana rasanya kelanjutan debaran ini. "Kalau tidak mau juga tidak apa."

"Aku mau." Chanyeol menyela, menarik lagi pinggang Baekhyun yang sempat menjauh. Setelah berada sekian menit dengan Baekhyun yang beraroma manis, Chanyeol merasa kecanduan. "Tapi, kita tidak memiliki perasaan yang sama. Aku menyukaimu dan kau tidak."

"Siapa yang berkata seperti itu?"

"Aku bisa melihatnya. Meski eksistensiku sebagai manusia memang tidak selama kau, tapi aku banyak belajar bagaimana meneliti perubahan gerak-gerik manusia."

"Memang gerak-gerikku seperti apa?"

Kepalanya tertunduk, mendesah kecil sebelum akhirnya mengangkat kepala lagi bersama satu senyum kecil. "Kau.."

"Belajar lebih giat lagi. Ku rasa kau masih belum sepenuhnya bisa mengetahui manusia..." Baekhyun merapatkan tubuhnya, meletakkan kepala di atas pundak Chanyeol dan menyamankan semua di sana, "...terlebih memahamiku."

"M-maksudnya?"

"Haruskah aku menjawab, 'Ya, aku menyukaimu juga, Chanyeol' saat posisi ini membuatku terlihat seperti pelacur murahan? Tidak akan kubiarkan diriku melekat seperti ini jika tidak ada perasaan yang sama."

Semesta terkadang terlalu serius untuk berbuat kebaikan. Berbalas rasa seperti ini sudah melampaui batas ketika Chanyeol tidak pernah percaya diri untuk meletakkan ketulusannya pada wanita. Chanyeol tidak sebaik itu untuk menerima kebaikan semesta. Tapi, sudahlah, dia senang dengan ini semua hingga melupakan fakta jika Baekhyun terlalu mungil untuk ia rengkuh dengan kekuatan penuh.

"O-oh. Calm down, Chanyeol. Coba kendalikan dirimu sebelum aku tidak bisa bernapas."

"Aku tidak pernah menyesal menjadi manusia." Tubuhnya ia jauhkan untuk mengusak lembut pipi Baekhyun dengan ibu jarinya. "Ku kira puncak tertinggi kebahagiaan manusia adalah ketika memiliki banyak uang. Tapi sekarang aku sadar, ada hal tertinggi lainnya yang lebih bisa membahagiakan."

"Uang memiliki dua wajah seperti tangan manusia. Terkadang membantu tapi lebih banyak menjerumuskan. Tapi satu perasaan untuk saling memiliki..." lagi, Baekhyun menempelkan sisian kepalanya di dada Chanyeol dan merasa detak itu seperti lagu pengantar tidur. "...hanya punya satu wajah. Kebahagiaan."

Lembut belaian dibelakang kepalanya membuat Baekhyun berpesta kembang api di dalam dadanya. Letupan yang dia rasakan memberi satu percikan jika jatuh cinta kepada Chanyeol membuat permanen semua kebahagiaan yang ia miliki.

"Mau melanjutkan?"

Baekhyun mendongak, sedikit menukikkan alisnya. "Apa?"

"Yang kulihat di film. Sepertinya aku sudah menemukan gambaran yang pas untuk menirukan."

Lalu satu senyum merekah dan lekukan bulan sabit dari mata sipit Baekhyun membawa anggukan kecil. Kerah kemeja Chanyeol kembali di remas, mendekatkan napas dua orang jatuh cinta sampai pada akhirnya sentuhan hidung itu membawa mereka lebih jauh.

Lunak bibir Chanyeol yang lebih dulu bergerak, terasa canggung tapi teratasi dengan sempurna. Sedikit tarikan ia berikan di bibir bawah Baekhyun. Mengulum bibir manis itu perlahan dan menceritakan pada otaknya jika kontak fisik intim ini membuatnya serupa mozarela. Dia bahkan sudah lupa jika manusia butuh napas dan tidak seharusnya ia menutup celah pernapasan milik Baekhyun.

Agresif adalah yang paling pas untuk dilabelkan pada Chanyeol. Fakta jika dia tidak pernah memiliki cerita tentang sebuah ciuman seperti terhempas begitu saja kala Chanyeol tau tahap apa yang harus dilakukan setelah lumatan basah itu dilakukan.

Tubuh Baekhyun yang terlampau ringan bisa ia letakkan begitu saja di atas ranjang, menggunakan telapaknya sebagai bantalan sedang dirinya berada tepat di atas; menciptakan kesan romantis dan menambah daya sebanyak dua kali lipat. Tidak peduli bagaimana kini tangan Baekhyun mengacau bagian belakang kepalanya, menariknya cukup kuat kala Chanyeol menyesap bibir Baekhyun dengan cara ekstrim. Beruntung dia tak lagi memiliki taring. Andai saja ada, bisa dipastikan Chanyeol tidak akan berani sedalam ini.

"Jika dirasakan, ini bukan ciuman pertamamu." Baekhyun menggoda kala berhasil mendorong tubuh Chanyeol di atasnya. Dia kewalahan mengambil oksigen karena Chanyeol begitu liar dengan ciumannya.

"Ini yang pertama. Aku tidak bohong."

"Kalau begitu ini pasti karena kau terlalu banyak menonton film dengan konten dewasa."

"Aku melakukan semua hal yang dilakukan pria dewasa. Termasuk menonton itu." Senyumnya terlalu canggung hingga semburat merah di pipinya jelas terlihat. Ayolah, posisinya disini yang wanita adalah Baekhyun, tapi Chanyeol selalu mengambil alih semua semu merah itu seakan yang perawan disini adalah dirinya.

"Dan setelah menonton, apa yang kau rasakan?" telunjuk Baekhyun menyapu halus sisa saliva yang menempel di bibir Chanyeol ketika lelaki itu menumpu tubuhnya dengan siku di sisian tubuh Baekhyun yang terbaring.

"Manusia menyebutnya...terangsang? Benar, kan?" Anggukan kecil Baekhyun beralih menjadi kecupan-kecupan kecil yang sengaja ia curi sebelum akhirnya Chanyeol memberinya satu penekanan sedikit panjang pada bibir nakal Baekhyun. "Ada yang membakar tubuhku. Darahku bahkan terasa mendidih padahal suhu ruangan ku atur 26 derajat. Dan.."

"Dan?"

"Ini tentang bagian terpenting seorang pria."

"Apa?"

"Dijelaskan-pun sepertinya akan sulit kau mengerti. Karena kau tak memilikinya."

"Apa rasanya sakit? Semasa sekolah aku pernah mendengar dari teman lelaki di kelas jika itu akan terasa sangat menyiksa setelah melihat film porno."

"Lain kali telingamu tolong di kontrol untuk tidak mendengarkan hal-hal seperti itu." Rotasi mata Chanyeol menandakan dia kurang suka jika Baekhyun mendengarkan cerita tentang milik orang lain. Tapi itu semasa Baekhyun sekolah, sudah bertahun yang lalu saat Baekhyun belum mengenal siapa Chanyeol. Jadi, bisa dimaafkan. "Pernah tahu rasanya ditekan sampai kau kesulitan bernapas?"

"Seperti yang kau lakukan padaku tadi?"

"Ya, mirip seperti itu. Tapi yang ini rasanya lebih menyiksa. Aku bahkan tidak bisa tidur karena sangat sakit."

Chanyeol terdengar lucu menceritakan pengalamannya tentang sebuah ereksi. Mungkin semasa menjadi vampir dia tidak pernah tau apa itu terangsang hingga saat menjadi manusia terpaksa menyiksa diri karena tak ada pelampiasan. Jika Chanyeol manusia modern yang memiliki kodrat sebagai manusia sejak lahir, bisa dipastikan dia tau pelepasan terbaik adalah menuju kamar mandi dan menghabiskan stok sabun di sana. Tapi Chanyeol tidak memiliki pengetahuan seperti itu dan membuatnya harus rela merasa tidak nyaman sepanjang masa ereksinya.

"Lain kali jika kau mengalami hal itu lagi, katakan padaku. Aku akan membantumu."

"Membantu seperti apa?"

Alih-alih menjawab Baekhyun justru membawa dirinya dalam tubuh Chanyeol yang sudah terbaring di sampingnya. Penjelasannya masih menggantung dan dia mengabaikan Chanyeol yang menuntut.

"Nanti kau juga akan tahu. Sekarang mari kita tidur. Mendadak aku sangat mengantuk setelah kau cium secara brutal seperti tadi."

.

.

Matahari jingga di ufuk barat sudah ingin segera kembali ke tempatnya. Meminta bulan untuk menggantikan posisi penerang pada Bumi yang sedang menggelap sebagian. Tapi sebenarnya Chanyeol tak butuh itu ketika Baekhyun ada di sekitarnya. Entahlah, wanita itu memiliki definisi lain yang membuatnya tak pernah merasa kegelapan meski malam menyapa.

Baekhyun dan segala penggambarannya yang sederhana, benar-benar memikat Chanyeol sampai keubun-ubun. Untuk pejam saja terkadang ia kesulitan. Penyebabnya masihlah sama. Masih seseorang yang sedang mengaduk isi cangkir di meja seberang. Mungkin Chanyeol perlu membeli buku tentang jatuh cinta. Dia akan belajar, menafsirkan sendiri mengapa ruang-ruang dalam hatinya selalu berlebihan ketika Baekhyun terbayang atau nampak.

Jika terjadi sekali waktu, Chanyeol bisa paham. Tapi ketika ini berulang, intensitas luapan dalam hatinya selalu bertambah dan membuatnya tergugup sekali waktu. Gelas dalam genggamannya jadi tak terkontrol dan pecah begitu saja.

"Astaga! Ada apa, Chanyeol?" Baekhyun yang kala itu akan beranjak ke dapur, menaruh atensi pada serpihan kaca yang ada di sekitar kaki Chanyeol. "Jangan di sentuh, biar aku saja—AW!"

Lalu rembesan merah itu mengalir dari telunjuk Baekhyun. Reaksi Chanyeol cukup bagus dengan menarik bagian yang terluka dan mengulum langsung dengan bibirnya.

Rasanya manis. Berbeda dengan terakhir kali Chanyeol merasakan sebuah cairan merah di kota kecil sebelah selatan Italia. Instingnya bergerak cepat, sesapan yang ia lakukan membuatnya lupa diri karena kemanisan ini berbeda dari apa-apa yang pernah ia kecap.

Seketika Chanyeol lupa daratan. Pejaman matanya membawa larut rasa lapar yang dulu pernah ia tahan sedemikian lama. Dia seperti menemukan mangsa baru, sebuah makanan pokok yang akan mengenyangkan sisa darah vampir dalam dirinya. Tapi kembali ruang dalam hati menyadarkan sesuatu, bahwa Chanyeol harus menahan ego karena telunjuk merah manis ini milik Baekhyun.

"Maaf!" dia menarik diri begitu saja, kaku dalam gerak tubuhnya menandakan ketakutan kala kuluman yang ia lakukan membuat telunjuk Baekhyun sudah memucat. Sudah berapa banyak darah yang ia sesap?

"K-kau baik, Chanyeol?"

"Menjauh! Jangan dekat-dekat aku!"

Ketakutan jelas terlihat, apalagi langkah terburunya menuju ke ruangan pribadi menguatkan dugaan jika sesuatu pasti mengalami perubahan kala Chanyeol berusaha menghentikan darah dari telunjuk Baekhyun.

"Chanyeol! Buka pintunya! Ada apa denganmu?"

Baekhyun terus memukul pintu kayu itu, bagaimanapun juga dia memiliki kekhawatiran pada Chanyeol yang tiba-tiba berubah setelah berusaha menghentikan darah dari telunjuknya.

"Chanyeol! Katakan ada apa?"

Tapi Chanyeol tak merespon. Hening di dalam sana membuat Baekhyun mundur teratur dan dia pikir Chanyeol mungkin butuh waktu. Terlepas dari rasa penasaran akan perubahan yang Chanyeol tunjukan, Baekhyun memilih menunggu sampai Chanyeol kembali seperti sedia kala.

Kiranya semalaman sudah cukup, tapi faktanya sudah tiga hari lamanya Baekhyun di dera rasa tidak enak. Chanyeol terlihat menghindar. Di waktu-waktu tertentu tidak ada eksistensinya, padahal Baekhyun sudah menunggu dengan sabar. Masakannya sudah tersaji di meja, tapi Chanyeol tidak datang seperti biasanya.

Pintu jati tinggi yang menyembunyikan Chanyeol itu mungkin akan mengeluh kesakitan karena hampir setiap waktu Baekhyun menggedornya. Nama Chanyeol sudah terpanggil ribuan kali, tapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya Baekhyun menyerah, dia akan kembali dengan hati terluka karena pengabaian dadakan ini tak pernah diperjelas apa penyebabnya.

Semoga dia tidak merindukan Chanyeol.

.

.

Sudah pukul 10 malam. Chanyeol meletakkan punggungnya di sandaran kursi dan memejamkan matanya perlahan. Lelahnya masih terus berlanjut sampai pendiskusian dengan profesor untuk obat Sehun menemui kata akhir. Banyak sekali pertimbangan yang harus di pikirkan matang-matang. Sehun hampir menemui keberhasilan yang sempurna, Chanyeol tidak ingin gegabah sehingga penyempurnaan Sehun tidak menimbulkan resiko apa-apa.

Kapsul transparan biru itu ia lihat lagi. Tubuh Sehun terbujur kaku di dalamnya, dengan wajah dingin memucat, persis seperti kali pertama Chanyeol menemui Sehun sebagai sosok vampir. Anak ini, anak kesayangan Chanyeol, segalanya ia pertaruhkan untuk hidup Sehun sebagai manusia utuh.

"Tuan.." pintu itu di ketuk. Chanyeol menoleh sebentar, tapi tidak berniat membuka. "Tuan, Nona Baekhyun.."

Baekhyun?

"Ada apa dengan Baekhyun?" pintu itu disentak seketika, membuat maid yang berdiri di depan pintu terlonjak kecil. "Ini.."

Sebuah surat, dimana jajaran tulisan rapi itu Chanyeol baca secepat kilat dan dia tak memiliki banyak opsi. Langkah lebarnya ia bawa menuju mobil, menggunakan insting untuk melacak dimana keberadaan Baekhyun yang sudah berpamitan dalam surat itu.

Kebodohannya memang; mendiamkan Baekhyun sedemikian rumit tanpa ada penjelasan. Baekhyun bahkan sudah beberapa kali datang, menggedor pintunya dan meminta maaf jika ada sebuah salah yang telah ia perbuat.

Tidak, Baekhyun tidak salah apa-apa. Chanyeol-lah yang salah. Dia dan segala pikirannya yang terlalu sempit itu memperburuk keadaan. Dan beruntung, di perempatan depan sana, insting Chanyeol membawa sebuah kelegaan, menjadikan segala rasa bersalahnya sedikit meluntur karena sosok itu terjangkau matanya.

"Kenapa pergi?" adalah yang pertama Chanyeol tanyakan. Dan, ya, seharusnya seperti itu. Karena Chanyeol sendiri tak memiliki banyak stok ungkapan lainnya.

"Kenapa di sini?" ada kesakitan dan kekecewaan di mata sipit itu.

"Menjemputmu."

"Sudah selesai mengabaikanku?"

"Maaf.." tundukan kepala Chanyeol tak memiliki alasan lain selain penyesalan. "Aku yang salah. Tolong maafkan pria bodoh ini."

"Jika aku memang tidak dibutuhkan lagi, aku akan pergi. Cukup katakan yang sebenarnya, jangan lakukan pengabaian yang membuatku merasa sangat bersalah."

Mereka berdiri dalam ketimpangan tinggi badan, tapi hati selaras merasakan rasa bersalah pada masing-masing pihak. Beruntung tidak ada emosi di sana, karena mereka cukup pandai mengendalikan hati untuk tidak meluap.

"Chanyeol.." Baekhyun menangkup rahang Chanyeol, membuat tautan mata mereka beradu sayu dalam perasaan yang mendalam. "Katakan jika aku salah, katakan jika aku menyulitkanmu, katakan jika ada sesuatu dalam diriku yang membuatmu merugi. Aku tidak setega itu menyusahkanmu karena aku tulus untuk hatimu."

Tubuhnya dipeluk, ringkih yang tergambar Chanyeol rengkuh dalam-dalam dan ia sesap sedemikian tulus. "Maafkan aku. Maafkan semua yang membuatmu kecewa. Jangan pergi, kumohon."

"Tidak, sayang. Tidak akan ku lakukan jika kau bisa membenarkan apa yang telah salah ku lakukan."

"Aku tidak ingin menyakitimu, Baekhyun."

.

.

Chanyeol sengaja mengambil jalan pulang lebih jauh. Dia memutar di beberapa tikungan demi memperpanjang waktu bersama wanita ini. Wanita yang tengah menautkan jemarinya dan mendamaikan sisa malam menuju pagi.

"Sebenarnya aku masih memiliki sisa darah vampir dalam tubuhku." Chanyeol memulai, "Terkadang darah itu memberi reaksi yang membuatku sedikit lepas kendali. Meski sedikit, itu berbahaya."

Mobilnya berbelok di sebuah tikungan lain, masuk ke jalanan sepi.

"Darah vampir itu kuat dan terkadang membahayakan. Lepas kendali sudah pasti menjadi akibatnya, dan aku tidak ingin membuat diriku seperti itu. Tidak ada penyangkal yang bisa menyelesaikan semuanya, hanya diriku sendiri yang bisa mengontrolnya. Dan saat itu, saat dimana aku ingin menyesap darahmu, aku hampir kehilangan kendali."

Mobil berhenti, pada sebuah tepian yang remang. "Milikmu manis, Baek. Aku mengalami candu yang menggila di sesapan pertama. Aku hampir melukaimu dan menghabiskan semua darah yang kau miliki. Itu buruk karena aku hampir saja meladeni sisa darah vampir dalam tubuhku. Tapi tenang saja, aku sudah menemukan ramuan penyangkal. Darah vampir dalam tubuhku memang tidak akan bisa hilang sepenuhnya, tapi setidaknya aku memiliki penjinak agar tidak lepas kendali." Chanyeol kembali menunduk, "Untuk itu aku harus menjauhimu. Itu satu-satunya cara agar aku tidak melukaimu. Dan percayalah, sebenarnya aku sendiri tersiksa. Aku membutuhkanmu tapi juga harus menjauhkanmu dari bahaya yang ku bawa."

Lalu Baekhyun melepas tautan jari mereka, melepas safety-belt yang membelit tubuhnya dan membawa diri untuk duduk tepat di atas pangkuan Chanyeol. Sempitnya keadaan membuat Baekhyun mendesakkan diri semakin dekat pada Chanyeol hingga tidak ada jarak yang bisa memisahkan.

"Jadi seperti itu," Baekhyun menangkup rahang Chanyeol, membawanya kembali bertaut pandang secara sayu. "Mulai sekarang, katakan apapun yang harus ku ketahui. Apapun itu. Jangan seperti ini, jangan membuat jarak sehingga aku merasa terbuang."

"Aku tidak pernah membuangmu. Aku benar-benar menyayangimu."

"Iya aku tau,"

Baekhyun yang pertama kali mendekat, meletakkan bibirnya pada belahan tebal milik Chanyeol dan menyesap dalam lunak itu. Dia bergerak lembut, merasakan tiap inci kenikmatan yang memejamkan matanya dan menyenangkan hatinya. Dua lengan kurus itu melingkar di sekitar leher Chanyeol hingga benar-benar tidak ada jarak terpisah. Kepalanya sedikit memiliki kemiringan sekian derajat demi meraup penuh candu baru yang memabukkan.

Bibir Chanyeol cukup tebal dan manis, Baekhyun betah berada di sana dengan gigitan-gigitan kecil yang ia beri untuk memancing Chanyeol yang tak begitu tau harus bagaimana bereaksi. Semua beralasan dan Baekhyun bisa memahami. Dia cukup sabar untuk membimbing Chanyeol dengan gigitannya agar lelaki itu meniru apa yang sedang ia dapatkan.

Di sela Baekhyun meraup napas, Chanyeol mendorong kecil tubuh Baekhyun hingga sepenuhnya bersandar di kemudi mobil. Tangkupan bibirnya terlalu melebar, tapi Baekhyun suka bagaimana bibir Chanyeol yang canggung itu mengulum penuh bibirnya dengan gairah yang terpompa. Di dalam sana dua lidah saling bersilat, mendorong-dorong kecil lalu menyapu rongga mulut yang menggelikan.

Baekhyun menjadi yang pertama melepas saat oksigen sudah tak banyak tersedia. Tapi setelah itu dia menjadi yang paling agresif untuk menyusupkan diri di perpotongan leher Chanyeol dan menggigit kecil daerah itu.

"Ngghh.." Chanyeol mendesah kecil, merasa satu sengatan menyenangkan kala tangan Baekhyun menyusup di kemejanya dan menekan bagian tersensitif di dada. Reaksi ini sungguh wajar, mendesak Baekhyun untuk semakin menempel hingga di bawah sana ada yang terasa nyeri.

"Sudah bereaksi?" Baekhyun menarik diri, melihat ke bawah lalu kembali pada wajah Chanyeol yang mulai pucat. "Bagaimana rasanya?"

"Ehmhh.." tolong jangan meremas itu karena Chanyeol merasa ada sesuatu yang terkumpul di bawah sana dan ingin segera di ledakkan, "Rasa ini, persis seperti yang ku rasakan setelah menonton film itu."

Baekhyun tersenyum sepihak, kemudian merangkak menuju jok belakang dan menarik Chanyeol untuk berada di sana. Tidak bermaksud apa-apa, ini karena Baekhyun benar-benar menaruh hati pada lelaki dewasa ini dan apapun itu dia siap memberi sebuah kesenangan. Asal itu Park Chanyeol.

Mereka memang baru bertemu dalam waktu singkat, saling mengenal lebih jauh seharusnya menjadi proses saat ini, bukan saling membelit bibir dengan sebuah ciuman panas dan tangan yang saling menyusup di balik baju. Agresif seperti sudah mendarah-daging padahal ini waktu pertama mereka saling menyentuh. Tidak ada yang mau mundur, keduanya sama-sama memajukan diri untuk lebih dalam terlibat dalam sebuah sentuhan klasik yang disebut bersetubuh.

Sikap jantan seorang pria membawa Chanyeol larut dalam sebuah kedominanan. Dia memenjara Baekhyun rapat-rapat dengan kedua lengan setelah wanita itu ia bawa untuk tergeletak seadanya di jok.

Ciuman di dahi menjadi pemula sebelum akhirnya ia terlalu bringas untuk menarik lepas baju Baekhyun. Dia melihat sepasang surga, menggantung indah dengan kekenyalan yang bersiap merobek rasionalitas dalam dirinya.

"Kenapa? Milikku kecil, ya?" Baekhyun bertanya ketika Chanyeol tak memiliki pergerakan selanjutnya. Lelaki itu hanya diam, memandangi keindahan di depan matanya bersama dua daun telinga yang memanas.

Sejujurnya Chanyeol terlalu larut; menikmati kinerja otaknya sebagai manusia berjenis kelamin laki-laki ketika di hadapannya ada kemolekan yang menyesakkan selangkangan.

"A-aku tidak bermaksud menjadi murah, tapi asal itu kau, aku bisa memberikannya." Baekhyun kemudian menegakkan dirinya, membalik posisi dengan Chanyeol ia duduki dan gantungan daging sintal itu terlihat lebih menyenangkan.

"Boleh aku menyentuhnya?"

Mengangguk, "Ya, boleh, Chanyeol."

Tangkupan itu pas, masuk ke dalam dua tangan Chanyeol tanpa ada bagian yang meluber apalagi kosong. Chanyeol baru menyentuhnya, tapi Baekhyun sudah menggeliat tidak beraturan dan membuat sesuatu di bawah sana saling bergesekan. Meski masing-masing masih terbungkus celana dalam, rasanya terlalu menegangkan saat tekanan-tekanan hasil dari pergerakan Baekhyun semakin meliar.

Baekhyun menuntun Chanyeol untuk meremas. Di balik dua cup kain berenda itu sebenarnya ada sesuatu yang lebih surga, tapi Baekhyun tidak ingin bertindak agresif terlalu jauh dan membiarkan Chanyeol mengembangkan bakatnya sendiri. Maka dari itu dia hanya bisa menikmati seadanya, meski sebenarnya jiwa normal wanita dewasa bernafsu menginginkan sebuah ketelanjangan yang membawa lenguhan.

Baekhyun lalu jatuh, menyanggah diri pada pintu mobil dan membiarkan payudaranya tepat menghadap mulut Chanyeol dengan pinggul yang terus bergerak maju mendesak sebuah benda keras di balik celana Chanyeol. Baru seperti ini saja Baekhyun merasa tenaganya habis, tapi dia butuh lebih dari ini semua untuk kepuasan yang meledak-ledak.

Perlahan Baekhyun merasa sesuatu yang basah menyentuh kulitnya. Entah bagaimana prosesnya, kaitan di balik punggung itu sudah terlepas dan Chanyeol sudah menyusup kebelahan putih dadanya.

Chanyeol di sana, mengecap sesuatu serupa kemanisan yang terbalut di daging empuk. Lidahnya mendadak meliar, menjilat sesuatu yang menonjol dan mengeras lalu mengulumnya dengan terburu. Dia suka bermain dengan ini, lidahnya menjadi tak tau aturan untuk menyentil ujung keras itu hingga Baekhyun sudah hilang kesadaran dalam desahannya.

"Ahhh..." akhir dari semua itu adalah Baekhyun yang tiba-tiba ambruk, dia terjatuh di atas tubuh Chanyeol dengan nafas memburu dan tenaganya yang sudah musnah terlalu banyak. Mereka belum sejauh itu untuk saling memasuki, tapi dari pemanasan ini saja bisa disimpulkan jika nafsu keduanya benar-benar tak akan terbendung. Bagaimana jika mereka benar-benar berada dalam sebuah situasi telanjang dan nafsu membuat mereka meliar dalam hubungan di pangkal paha?

"Pulang, ya?" tanya Chanyeol saat di rasa napas Baekhyun sudah mulai normal. Tubuh Baekhyun perlahan di titah untuk di bangunkan, membawanya pada posisi lebih nyaman untuk duduk lalu menyelimuti tubuh atas mulus yang timbul banyak bercak kemerahan di bagian dada.

"Engh." Baekhyun hanya menjawab seadanya karena dia benar-benar butuh mimpi indah setelah merasa celana dalamnya basah.

.

.

Matahari sudah akan naik, kicau burung mulai mereda dan kesejukan khas keadaan pagi mulai berganti kehangatan. Baekhyun memiliki tidur berkualitas, meski ada sedikit rasa lelah yang tidak tau berasal dari mana, tidurnya benar-benar nyenyak. Punggung serta kakinya terasa pegal, seperti dia selesai membersihkan seluruh rumah besar Chanyeol hingga ke lubang tikus.

Tangannya menggeliat ke atas ketika mata sipit itu samar untuk terbuka. Melengok ke sekitar, Baekhyun merasa asing dengan keadaan kamar ini. Sebelumnya Baekhyun tinggal di sebuah kamar tamu di rumah Chanyeol dengan perabotan yang sederhana. Tapi di bukaan mata pertama, dia melihat benda-benda mewah yang berjajar beserta satu bingkai foto besar tepat di depan mata.

Itu Chanyeol, dengan segala ketegasan yang ia miliki sedang terbingkai dalam keabadian sebuah foto.

Baekhyun menyukainya, bagaimana Chanyeol terlihat begitu mengagumkan hingga membuat hatinya mendadak berdetak dan—

"Oh, kemana bajuku?"

Tubuh Baekhyun bagian atas hanya tertutup selimut sebatas dada. Tidak ada bra melingkup dan beruntung Baekhyun masih memiliki pelapis bawah yang melindungi. Otaknya yang mulai bisa beradaptasi mulai mengingat apa yang terjadi hingga semua pakaiannya hampir terlepas. Dan ketika menemukan ingatan itu, Baekhyun bersemu merah dengan jantung berdetak merasakan keadaan yang terjadi dalam mobil semalam.

"Sudah bangun?"

Senyum Baekhyun terkembang sepenuhnya ketika melihat laki-laki berkemeja hitam itu masuk dengan nampan berisi susu.

"Kenapa tidak membangunkanku?"

"Mana tega?" Chanyeol meletakkan nampan berisi gelas itu di atas nakas, "Kau tertidur sangat nyenyak."

"Tentu."

"Hari ini aku harus ke rumah profesor untuk membicarakan tentang Sehun, setelah itu ke kantor sebentar dan pulang. Ingin ku belikan sesuatu?"

"Tidak," kerah kemeja itu Baekhyun tarik, bagian pangkal dasi yang sedikit tidak simetris segera ia ambil alih dan melupakan pegangan pada selimut yang sebelumnya Baekhyun gunakan untuk menutupi dadanya yang terbuka. "Hanya cepat pulang karena aku berniat membuatkanmu makan malam istimewa."

"Wow. My first time. Thanks."

"Jangan mengeluh jika rasanya aneh. Aku sedikit bodoh mengendalikan rasa tapi percayalah aku akan memberikan yang terbaik."

Usakan itu Chanyeol berikan untuk mengungkapkan betapa berterimakasihnya dia pada eksistensi Baekhyun. Sejauh ini, selain keberadaan Sehun, Baekhyun berhasil menciptakan ruang istimewa lainnya yang tidak bisa membuat Chanyeol berpaling.

Seperti ini rasanya jatuh cinta. Detak jantung hanya simbol lain dari perasaan yang sedang mengembangkan banyak bunga. Chanyeol terpukau pada hatinya, secara menyeluruh hanya bisa melihat Baekhyun sebagai satu-satunya yang harus ia miliki untuk menemani masanya sebagai manusia biasa.

Pipi Baekhyun di usak halus, membuat si empunya memejamkan mata erat lalu menahan tangan itu untuk tetap berada di sana dalam beberapa saat. "Kenapa aku bisa secinta ini padamu? Kita baru bertemu tapi kau terlalu pandai menjeratku."

"Jangan pergi, ya?" rengkuhan itu refleks Chanyeol lakukan, seakan ia takut jika Baekhyun akan tiba-tiba berada dalam keadaan seperti Sehun dan berpeluang meninggalkannya. Meninggalkan atau ditinggalkan, Chanyeol berusaha menghindari hal itu.

"Tidak akan."

Yang tidak boleh Baekhyun lakukan dalam keadaan sepagi ini adalah dengan menarik mundur tubuhnya, membelit leher Chanyeol dengan lengan telanjang lalu membawa bibir tebal lelaki itu masuk dalam sebuah ciuman basah yang tercipta dalam kuasa Baekhyun. Semuanya menjadi begitu ringan, terasa sebuah kebebasan yang tidak pernah sedemikian luas.

Chanyeol meletakkan sebelah tangan pada pinggang polos Baekhyun, menekan bagian itu untuk merapat dan mencoba mengambil kuasa atas ciuman yang mereka lakukan. Terlalu pagi untuk sebuah penolakan, karena memang pada kenyataannya dua insan dengan penyatuan bibir itu memiliki gelora baru yang hanya bisa dilihat oleh mereka sendiri.

Selimut itu sudah tidak berarti apa-apa. Chanyeol ingin melakukan secara terbuka setelah tubuh mungil dalam pelukkannya itu ia bujurkan. Lidahnya menggaris dari belah dada, sedikit demi sedikit mulai turun dan menemukan sesuatu yang selalu membuat ketegangan di pangkal paha semakin menyiksa.

Gerak gelisah kaki Baekhyun menandakan wanita itu sama panasnya. Apapun yang terjadi setelah ini, Baekhyun hanya berpasrah dan bertumpu segala kepuasan pada Chanyeol yang sedang menciumi area itu. Sesekali ia meliat seperti cacing, tapi tak lama kemudian refleks yang paling bagus yang Baekhyun berikan membuat Chanyeol tak sungkan untuk kembali menggariskan lidah pada kain berenda itu.

Desahan, erangan, Baekhyun memiliki semua itu di nadanya yang paling rendah. Memecah belah keheningan dengan menambah nama Chanyeol sebagai pelengkap beserta cengkeraman halus pada kain sprei di sekitar yang sudah tak beraturan. Belum pernah Baekhyun merasa serendah ini sebagai seorang wanita, tapi rasa cinta nyatanya membuatnya buta dan menjadikan Chanyeol sebagai sebuah alasan mengapa ia bisa melakukan ini.

"Ah!" di akhir itu semua Baekhyun semakin basah. Kakinya mengapit Chanyeol yang ada di sana dan dia melepas sebagian tenaga karena pencapaian dari lidah Chanyeol.

"Aku melihat wajah seperti ini di sebuah film. Pipi bersemu merah, keringat, dan juga desah napas yang sedikit memburu."

Chanyeol sudah selesai dengan tugasnya, dia kembali menindih Baekhyun dan mengusak rambut-rambut basah di sekitar wajah wanita itu.

"Mau menikah denganku?"

"Y-ya?"

"Kau bisa memilih jenis pernikahan seperti apapun, asal kau mau menikah denganku. Kita harus terikat agar aku bisa memilikimu seutuhnya."

"Terdengar sangat egois."

"Begitulah. Menjadi egois untuk dirimu rasanya memang perlu."

Baekhyun kembali menarik leher Chanyeol dan membuat bibir mereka saling bertemu. "Aku memimpikan sebuah lamaran yang romantis, bukan saat keadaanku buruk seperti ini."

"Kau cantik. Selalu seperti itu."

"Apa ada pilihan untuk menolak?"

"Sepertinya tidak ada, Baek."

"Bagus." Lalu eratan di leher itu semakin kencang, membuat Chanyeol hanya bisa pasrah kala Baekhyun memiliki gairah lebih besar darinya, "Karena aku hanya akan memilih, Ya."

.

.

.

Sebuah pernikahan menjadi titik balik suatu kehidupan baru dimana status yang lebih ter-upgrade akan di sandang. Seseorang yang terbiasa hidup dengan kesendirian akan memiliki pendamping dengan janji suci yang sudah terikat erat dipelataran. Setelahnya adalah masa sebuah pengabdian untuk kesetiaan yang terbentuk dari dua hati hingga mengikrarkan sebuah akhir hanya bisa direnggut oleh maut.

Baekhyun mempercayakan desah napasnya di bawah Chanyeol yang sedang menggumul di leher. Pada kenyataannya mereka sudah bisa merasakan betul bagaimana kulit saling bergesekan dibawah ikatan sah pernikahan. Selama ini mereka hanya melakukan dengan jari atau lidah, tidak menggunakan kekerasan sebuah batang untuk membelah dinding sebuah keperawanan yang berhasil Baekhyun jaga selama 28 tahun ini.

Dan sekarang, Baekhyun bisa merasakan bagaimana perih ini terbayar dengan kenikmatan yang mencakar pikiran logisnya. Sedari tadi Baekhyun tak pernah berhenti mengerang kala kewanitaannya memakan sepenuhnya batang keras lelaki 32 tahun itu. Sakit, tapi setelahnya yang Baekhyun peroleh adalah surga yang benar-benar membuatnya meremas rambut Chanyeol secara acak.

Lelahnya pesta pernikahan yang berjalan seharian ini nyatanya tak membuat keduanya menunda satu ritual yang disebut malam pertama. Begitulah, nafsu kadang membutakan akal sehat asalkan kepuasan menjadi jaminan tertinggi di penghujungan setiap sentakan yang terjadi.

Baekhyun hanya perlu menjadi pengiring yang membuka paha lebar-lebar karena Chanyeol seperti ingin mendomanasi semua yang terjadi malam ini. Begitu saja Baekhyun sudah merasa lelah luar biasa. Terlebih sekarang Chanyeol menarik tubuhnya untuk duduk tepat diatas ikatan yang terjadi di pangkal paha dan menggerakkan tubuh di atas.

Sensasi ini baru pertama Baekhyun rasakan. Bagaimana rasanya berada dalam peraduan kelamin dengan suaminya beserta desahan yang semakin brutal. Tangan kurus Baekhyun mengikat leher Chanyeol untuk merapat pada gantungan payudara, meminta secara tipis pada suaminya itu untuk mengulum bagian mencut dengan decak lidahnya yang liar.

Sampai pada akhirnya Baekhyun menemui sebuah puncak. Dinding-dinding basahnya mengapit semua yang membengkak dan mengeras lalu merasakan ada yang menghangat tengah mengalir dalam peraduan denyut yang membutakan kewarasan.

"Kau yakin ini yang pertama?" pertanyaan itu membuat Baekhyun tersenyum kecil sambil menyandarkan kepala di pundak lelakinya yang juga bernafas buruk setelah pelepasan mereka.

"Masih bertanya seperti itu setelah membuktikannya sendiri. Dasar sumiku tercinta!"

"Ya mungkin saja kau melakukan suatu ritual agar bisa perawan lagi."

"Aku tidak segila itu, babe." Baekhyun lalu melepas pelukannya dan dia dibaringkan dengan layak pada ranjang yang berantakan itu. Tubuhnya yang lembab di tutup sebuah selimut sebelum akhirnya satu lengah kokoh melingkar tepat di bawah payudaranya. "Kau sendiri terasa lebih berpengalaman."

"Aku akan berterima kasih pada video yang ku simpan."

"Yakin karena video?"

"Andai saja ada yang bisa membuktikan kualitas keperjakaan."

"Aku percaya." Satu ciuman singkat Baekhyun curi sebelum akhirnya dia juga membelitkan sebuah pelukan pada lelakinya. Rasa lelah menuntun Baekhyun untuk cepat-cepat menutup mata dan menjemput mimpi untuk bertemu lagi dengan Chanyeol.

.

.

Seminggu setelah pernikahan, tidak ada yang berubah kecuali kebahagiaan yang bertambah. Baekhyun kini menyibukkan diri dengan mengurus segala keperluan Chanyeol dan terkadang menemani suaminya itu bekerja di ruangan pribadi sembari mengamati perkembangan Sehun. Baekhyun akan datang dengan secangkir kopi dan sepiring ubi rebus yang beraroma manis.

Ubi itu akan Baekhyun kupas perlahan dan membiarkan Chanyeol hanya menggigit tanpa bersusah payah mengurus kulitnya. Kualitas dari ubi ini Baekhyun jamin yang terbaik, karena dia mulai menetapkan semua yang teratas untuk rumah tangganya dengan Chanyeol. Tapi sepertinya kali ini Baekhyun salah memilih ubi. Pasalnya, ada yang tidak beres dengan aroma yang menguar hingga Baekhyun harus cepat-cepat berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua makan paginya.

Chanyeol yang mengetahui hal itu segera menyusul dan memijat tengkuk istrinya. Pucat wajah Baekhyun yang datang tiba-tiba membuat Chanyeol memendam banyak ke khawatiran dan meminta wanitanya itu untuk berisitirahat saja.

"Bau ubinya tidak beres. Mungkin stok lama. Nanti minta maid membuangnya, jangan dimakan." Kata Baekhyun kala tubuhnya dibaringkan di atas ranjang oleh Chanyeol. "Sebenarnya aku baik-baik saja. Hanya mual tapi aku bisa mengatasi."

"Istirahat dan jangan pikirkan apapun."

"Makan siangmu?"

"Aku menggaji maid untuk bekerja, bukan sembarang membuang uang. Tidak perlu khawatir, mereka akan menggantikanmu memasak hari ini. Sekarang istirahat." Picingan sedikit tajam dari mata Chanyeol menandai jika Baekhyun tak boleh lagi mengeluarkan bantahan. Dalam hal ini Chanyeol selalu menang; membuat Baekhyun patuh dan tidak bisa berkutik meski sebenarnya ada banyak kata yang ingin Baekhyun jadikan sebagai sangkalan.

"Ya sudah, sini dulu." Wanita itu menarik kecil krah kemeja suaminya dan mengalungkan lengan di leher si lelaki, "Cium dulu baru aku akan istirahat."

Satu hal yang sangat Chanyeol suka dari semua hal baru tentang pernikahan ini adalah Baekhyun-nya yang manja. "Dasar istri tukang cium."

"Itu lebih baik daripada kau yang meremas dadaku."

"Reflekku sangat bagus, kan?"

"Ya, tapi kau harus bertanggung jawab jika aku tiba-tiba naik pitam dan ingin sesuatu yang membuat tubuh kita lengket."

"Istirahat, Baekhyun. Aku tidak akan menyetubuhi istriku yang sedang sakit."

"Oke, oke, Tuan tampan. Selamat bekerja untukmu."

.

.

Sebuah gedung pencakar langit dengan bingkai mendung mengitari bagian atas menemani langkah gusar Chanyeol menuju mobilnya. Setiap jejak transparan yang di ukir sepatunya menjadi satu pertanda dimana harapan sudah tak tergenggam di tangan.

Dua jam lalu Profesor Han menemuinya dengan mimik serius. Sebelumnya Chanyeol sudah mempersiapkan kondisi lahir-batin untuk mendengar setiap tutur kata profesor Han tentang perkembangan keadaan Sehun.

Dalam pembicaraan itu sama sekali tak menyentuh isi cangkir yang telah di suguhkan. Hanya ada dua raut penuh ketegangan dimana Chanyeol mendapat yang paling banyak keringat ditelapak tangan mengenai setiap detil yang profesor Han ceritakan.

"Sehun mengalami keadaan yang kompleks. Darah vampir yang masih dia miliki memberi reaksi kuat pada darah manusia buatan yang sudah kita alirkan pada tubuhnya. Hal itu membuat tubuhnya tidak bisa stabil dan tidak sadarkan diri hingga sekarang. Yang paling ku takutkan dalam situasi ini, Sehun akan kembali menjadi vampir dan lebih tangguh dari sebelumnya."

Semuanya menjadi beban pikiran yang harus Chanyeol pecahkan. Menjadi seorang vampir tangguh sama artinya membahayakan bagi siapapun yang hidup di sekitarnya. Selama ini Chanyeol selalu memberi penawar untuk meredam darah panas seorang vampir yang tumbuh kala pubertas diperoleh. Tapi ternyata semua menjadi berantakan karena kekuatan darah vampir dalam diri Sehun memiliki reaksi tersembunyi kala diberi darah manusia buatan.

"Tuan! Tuan!" Baru selangkah Chanyeol memasuki pintu tinggi rumahnya, dia di sambut teriakan seorang maid dengan berlari terburu. "Tuan muda.. tuan muda.."

Tuan muda? Sehun!

Segera Chanyeol berlari menuju ke ruangan tempat menyimpan kapsul Sehun dan menemukan kapsul itu terombang-ambing dengan cara kasar. Langkah lebar Chanyeol tersusun sigap dan menarik Baekhyun yang berada di dekat sana untuk menjauh.

"Sehun!"

"Biar aku yang tangani. Kau pergilah."

"Tapi,"

"Pergi, Baekhyun. Ini sangat berbahaya."

"Chanyeol, aku ingin—"

"PERGI KARENA DIA BERBAHAYA!"

Tidak pernah ada maksud apapun untuk memberi suara setinggi itu karena pada kenyataannya Chanyeol hanya kalut oleh ketakutan. Kapsul itu segera ia buka, menggenggam erat pergelangan tangan Sehun agar anak itu tak mencuat keluar ketika kesadarannya kembali.

Seperti yang ia duga, Sehun kini memiliki kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Urat-urat yang seharusnya belum nampak pada anak usia 12 tahun kini tercetak menakjubkan dan Chanyeol harus mengerahkan tenaga yang lebih besar.

Bagian hitam mata Sehun menjadi semerah darah. Kulitnya yang sudah pucat kini bertambah parah dan kontras dengan rambutnya yang hitam pekat. Rahang Sehun mengeras, menandakan dia memiliki kemarahan yang bisa meledak kapan saja dengan kendali yang tidak bisa diatasi siapapun. Chanyeol merasa dia tidak akan mampu jika hanya menahan sebatas ini, fakta berbicara jika kekuatan ini bahkan lebih besar dari kekuatan penguasa vampir yang pernah Chanyeol ketahui.

Dua taring tajam itu muncul dengan kilat yang menawarkan racun. Pemberontakan yang Sehun lakukan memecah belah kapsul tempatnya berbaring dan mengejutkan siapa saja yang ada di sana.

"Sehun! Sehun! Ini Daddy!"

Brak!

Chanyeol terpental dengan sekali sentakan yang Sehun lakukan. Tubuhnya terbentur keras oleh meja yang seketika itu hancur. Kemarahan yang sama mencuatnya membuat darah panas dalam tubuh Chanyeol semakin mendidih. Taringnya tak sampai keluar, tapi cengkeraman tangannya membuat otot-otot disana mengepul dan menyerang Sehun tanpa dalam capitan siku yang keras.

Baekhyun yang melihatnya hanya bisa menutup mulut dengan tangis berderai. Sehun yang ia sayangi, berubah menjadi satu sosok yang penuh kilat marah dalam setiap pandangan yang dilakukan. Tidak ada hal manis dalam diri anak itu, dan semua yang terjadi membuat hati Baekhyun merasa terluka karena putra tirinya yang selalu ia anggap menggemaskan kini berubah menjadi menakutkan.

Kiranya Chanyeol bisa mengatasi hal itu dengan memberi satu suntikan pereda yang selalu ia sediakan di laci meja. Tapi Sehun terlalu kuat dengan instingnya yang tajam mencium setiap aroma menyenangkan bagi vampir. Kilat matanya menuju pada Baekhyun yang terpojok dengan airmata bercucuran.

"Tidak, Sehun. Itu Miss Bee, jangan sakiti Miss Bee."

Sehun sudah tidak lagi memiliki sisi nego dalam dirinya. Dalam sekali sentak dia mendorong tubuh Chanyeol ke belakang untuk menerjang Baekhyun yang dirundung banyak ketakutan.

Endusan itu Sehun mulai dari tangan Baekhyun, berlanjut ke atas hingga merah di matanya menunjukkan kebahagiaan pada ceruk leher Baekhyun. Dan ketika mulut bertaring tajam itu terbuka, Baekhyun hanya bisa memejamkan mata dengan segala tumpah ruah harapan ia gantung dipenghujung nasib.

"AHH!"

.

.

TBC

Basyot : Niatnya mau dibuat 2 chap aja, tapi kok kepanjangan. Ya sudah Ayoung pisah lagi biar gak panjang-panjang bacanya. Hehe...

Sedikit curhat, sempet lupa gimana feel nulis ff ini, sampai harus baca ulang tiap malam. Sejujurnya plot sudah ada dan sudah disusun berbulan-bulan yang lalu, tapi karena keracunan nulis Baekhyun Sunbae jadi plot Cuma sekedar coret-coretan aja di note hp. Hehe...

Maaf ya sudah menunggu lama, semoga chap ini bisa jadi obat basah—eh, maksudnya jadi obat setelah nunggu lama.

Buat yang tanya di chap kemarin Baekhyun umur berapa, Ayoung sih bayanginnya dia umur 26-28 tahun. Terus buat Sehun sekitar umur 10 tahun, jadi masih bocah tapi udah ganteng hihi...

Okay, gak panjang-panjang, sedekahnya di kotak review boleh-lah mengingat menjelang akhir bulan dompet udah seret (?) wkwkwk.. gak nyambung!

Salam hangat CHANBAEK terbasah untuk kita semua!

Saranghaeyooooooo...