Bruk!
Sehun terpental sebelum tajam taringnya merobek pembuluh darah Baekhyun. Chanyeol yang melakukan; penendangan dengan kakinya cukup membuahkan hasil dengan Baekhyun yang selamat dari kematian.
Mata Sehun semakin memerah, bahkan erangannya seperti menepis fakta jika anak itu pernah berlaku semanis madu. Keluguan yang selalu Baekhyun cintai dari Sehun telah enyah dan berganti dengan kemurkaan sang darah panas. Baru kali ini Baekhyun melihat bagaimana seorang vampir berevolusi sepenuhnya; taring tajam dan mata memerah menjadi yang paling menonjol untuk ditakuti. Tapi sekali lagi, ini Sehun, anak laki-laki yang sudah Baekhyun patenkan sebagai seorang anak yang ia kasihi. Baekhyun tak memiliki ketakutan itu, dia ingin sekali mengulurkan tangan dan ucapan penenang agar kemarahan Sehun mereda sekali waktu.
"Jangan mendekat atau kau akan berakhir menyedihkan!" Peringatan itu untuk Baekhyun yang baru selangkah mendekati Sehun. "Biarkan aku yang melakukan. Kau cukup diam dan terima saja apa yang akan ku pilih. Percayalah, ini demi kebaikan kita."
Baekhyun tak begitu paham maksud Chanyeol, dia kembali terhenti pada tempatnya dan memekik cukup keras kala Sehun kembali terpental setelah menyerang Chanyeol tiba-tiba.
Keadaan ruangan sudah tak berbentuk. Beberapa barang yang ada berserakan dengan caranya yang malang. Kebanyakan dari itu semua adalah karena tubuh Sehun yang terpental dan Chanyeol yang melalukan itu tanpa ada toleransi.
Teriakan Sehun dan pemberontakan itu karena Chanyeol kembali menerjang tubuhnya dengan sekuat tenaga. Perlawanan tentu terjadi, tapi Chanyeol seperti sudah memberikan semua yang ia miliki agar Sehun tak lagi bereaksi atas darah panas dalam tubuhnya. Lalu dengan sekali sentak pada bagian tubuh belakang Sehun yang Chanyeol tahan, anak itu seketika tumbang dan kemarahan yang tercetak mendadak hilang.
Baekhyun menjadi yang pertama berlari mendekap tubuh lemah Sehun. Teriakannya akan anak tiri kesayangan itu tak pernah terdengar Sehun yang mulai memucat. Tak hanya itu, sekitar matanya mulai timbul semburat merah serta bibirnya yang berwarna keunguan.
Rontaan tangis Baekhyun membawanya melihat pada Chanyeol yang membeku. Tak ada pergerakan dari lelaki itu kecuali getar tubuhnya yang bertambah parah dan tersadar beberapa saat kemudian untuk segera memindahkan Sehun ke dalam kapsulnya.
.
Secangkir teh itu menjadi pembuka ketika Chanyeol melihat wanitanya terbaring dengan punggung sebagai penyaji. Dilihatnya bahu sempit Baekhyun masih bergerak naik turun teratur dan pantulan cermin di depan sangat jelas menampilkan si wanita masih terjaga.
"Aku membuat teh hangat ini sendiri. Tidak terlalu manis karena ku rasa kau lebih butuh kehangatan."
Chanyeol tidak terlalu pandai berkata manis untuk keadaan ini. Dia adalah manusia baru, masih banyak hal yang perlu ia pelajari tentang berbagai macam keadaan yang umumnya terjadi pada manusia biasa.
"Kau tahu Baekhyun, ada banyak hal di dunia yang masih banyak harus ku pelajari sebagai seorang manusia."
Selimut yang terangkat sebatas pinggang itu Chanyeol naikkan hingga bahu, berharap Baekhyun tak memiliki rasa dingin akan cuaca ataupun suasana ini.
Keahlian Chanyeol hanya belajar. Dia akan mempelajari banyak hal untuk menangani situasi yang ada. Perubahannya sebagai manusia tidak sampai 100%, nyatanya dia masih memiliki jiwa seorang vampir yang terkadang berkuasa di situasi tertentu.
Chanyeol ingin sekali menggenggam kemenangan untuk mencairkan suasana. Dia paham betul, Baekhyun yang kali ini memunggunginya adalah bentuk kemarahan atas apa yang sudah terjadi pada Sehun. Rasa cinta yang Baekhyun miliki pada Sehun teramat besar hingga kesakitan yang dirasa Sehun akan sewajarnya Baekhyun rasakan.
"Aku bisa mempelajari hal lainnya dengan cepat. Makan, minum, bersosialisasi, aku bisa menguasai hal itu dalam waktu singkat. Tapi aku tidak bisa mempelajari suatu hal, ku rasa aku butuh banyak waktu untuk mempelajari hal itu."
Tangannya terulur untuk mendekap tubuh mungil yang berbaring itu. Dagunya menempel di puncak kepala; sesekali memberi ciuman kecil untuk aroma harum yang menguar di indera pencium Chanyeol.
"Aku kesulitan belajar memperbaiki kesalahan."
"Hanya meminta maaf."
"Itu untuk apa yang seharusnya di ucapkan mulut manusia ketika mengakui kesalahan. Tapi ku rasa ada hal lain yang harus dilakukan agar kesalahan itu benar-benar bisa hilang."
"Aku tidak menyalahkanmu."
Butuh waktu sepersekian detik bagi Chanyeol untuk tetap berada di posisinya ketika ada tangan ringkih lain yang membalas dekapannya. Punggung sempit itu berpindah posisi, membelakangi jendela kamar yang sudah tertutup tirai dan berucap selamat tinggal pada kehampaan yang sempat tercipta.
"Aku hanya memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Sehun."
"Sehun akan baik-baik saja."
Keduanya kini berada pada dekapan yang sama. Baekhyun yang sudah menyembunyikan diri dalam dada lelakinya dan Chanyeol yang memulai usakan kasih pada punggung wanitanya tercinta.
"Dia mungkin menyeramkan. Tapi aku masih tetap menyayanginya."
"Hm. Aku tahu. Terima kasih telah menyayangi Sehun sebanyak itu, Baek."
"Chanyeol," Baekhyun menengadah untuk menatap Chanyeol langsung pada matanya, "ada yang ingin ku beritahu padamu."
"Apa?"
Binar di mata Baekhyun mulai tumbuh, perlahan tapi pasti mulai menghias sipit yang Baekhyun miliki dan Chanyeol mengartikan sesuatu yang baik tengah Baekhyun pikirkan. Chanyeol beranggapan tak ada batasan untuk sebuah kebahagiaan. Apa yang tercipta dan membuat manusia merasa bahagia sepatutnya dipertahan. Tapi dia mendadak berubah haluan, dua alisnya bertarung untuk rentetan tulisan dari lembar kertas yang Baekhyun ambil dari laci nakas.
"Aku hamil."
Hamil?
Wajah Baekhyun masih sangat berbinar, tapi Chanyeol memiliki jenis wajah lain yang sangat bertolak belakang dengan apa yang Baekhyun miliki. Tangannya bahkan bergetar, bibirnya seketika bungkam padahal Baekhyun mengharap lelaki itu menyuarakan kebahagiaan yang sama.
"Aku sudah memeriksakannya ke dokter dan di dalam perutku ada buah hati kita."
Masih bungkam.
Perjalanan Chanyeol belum jauh sebagai manusia, bukan berarti dia merasa asing dengan sebuah kehamilan yang terjadi pada wanita pada umumnya, tetapi dia tidak mengerti bagaimana semua ini terasa seperti petaka baru karena keyakinannya hampir mencapai 100% tentang turunan vampir yang sedang ada dalam kandungan Baekhyun.
"Usianya baru 3 minggu."
Rentetan pertanyaan mulai Baekhyun kaji ulang. Apa dan kenapa semua yang Chanyeol ekspresikan sangat jauh dari ekspektasi.
Mereka adalah pasangan yang sah, surat yang dikeluarkan negara menandakan ada ikatan pernikahan yang sesuai hukum dan wajar jika buah dari semua itu adalah seorang bayi dalam kandungan. Apa Chanyeol masih belum memahaminya? Tidak, Baekhyun tak ingin berspekulasi lebih jauh dan memilih kembali memancing Chanyeol dalam rentetan pernyataan tentang janin dalam kandungannya.
"Dalam waktu kurang dari sembilan bulan, kita akan mempunyai anggota keluarga baru, Chanyeol."
Apa yang belum Baekhyun sadari di waktu ini adalah suaminya yang tengah berada pada peraduan yang menyulitkan. Bukan sebuah pertanggungjawaban yang Chanyeol khawatirkan, melainkan sebuah hidup dan mati yang ia duga akan menjadi ujung dari semua ini.
Tapi melihat bagaimana Baekhyun cukup bahagia dengan apa yang terpancar di matanya, Chanyeol memiliki keibaan sendiri untuk tidak merusak itu dan memilih menyembunyikan kekhawatirannya dalam gang semping di hati.
"Untuk itu kau harus menjaganya baik-baik." Chanyeol berkata kemudian, memeluk Baekhyun dalam dekapan dan berusaha terlihat turut bahagia dengan semua ini.
Siapa yang tidak berbahagia jika pernikahan yang di jalani sudah membuahkan hasil yang memuaskan berupa kehidupan kecil dalam perut sang istri? Chanyeol memiliki kebahagiaan itu, hanya saja dia memahami dampak lain untuk keturunan seorang vampir dalam raga Baekhyun sebagai manusia biasa.
"Mulai besok jangan mengerjakan hal yang berat-berat. Kau harus banyak istirahat sampai dia lahir."
.
Sebuah rumah sakit di pinggiran kota menjadi tujuan Chanyeol setelah menyelesaikan beberapa rapat di kantor. Langkahnya sangat kaku, rahangnya bahkan mengeras untuk sekedar melekukkan bibirnya sedikit kala beberapa dokter menunduk hormat padanya. Sesekali napasnya terhembus besar, meluruhkan ketegangan dan menunggu lift yang ia naiki tiba pada satu lantai yang selalu menjadi tujuannya.
Tak lama setelah pintu lift terbuka, seorang lelaki menginjak usia limapuluhan sudah menanti dengan membungkuk hormat dan ucapan selamat datang.
"Maaf membuat Profesor Han harus menunda keberangkatan ke London."
"Tidak masalah, Tuan. Kuliah umum di sana bisa digantikan oleh rekan saya yang lain."
"Sebelum itu, saya ingin tahu perkembangan nutrisi untuk Sehun. Apa sudah ketemu?"
Profesor Han mengambil satu map di meja dan memberikannya pada Chanyeol. Lelaki itu meneliti tiap detil tulisan yang tertera, membaca seksama beberapa rentetan bahan-bahan untuk membuat nutrisi Sehun yang belakangan ia bicarakan dengan Profesor Han.
"Saya sudah menghubungi beberapa relasi untuk keberadaan bahan-bahan itu. Beberapa dari mereka siap menyuplai dan jika pengiriman berjalan lancar, minggu depan saya bisa segera membuatnya. Hanya saja.."
Sesungguhnya Chanyeol tidak terlalu menyukai gantungan perkataan Profesor Han, tapi dia berusaha tenang dan hanya memberi kerutan pada dua alisnya untuk menunggu kelanjutan.
"...nutrisi-nutrisi ini hanya untuk membuat Sehun tenang dalam waktu kurang dari 12 jam."
"Kau bisa membuat banyak untuk itu, Prof. Aku bersedia membayar berapapun."
"Bukan tentang biaya." Profesor Han menghela sejenak, "Susunan nutrisi itu setidaknya membutuhkan suntikan darah manusia sekitar 4 kantong untuk satu nutrisi. Dan darah manusia yang harus digunakan adalah darah seorang wanita hamil."
Mengusak sebentar wajahnya, Chanyeol lantas turut menghela napas besar atas apa yang Profesor Han katakan.
"Mungkin aku harus bertindak sedikit egois untuk meminta para wanita hamil di kota ini untuk mendonorkan darahnya."
"Bukan sekedar wanita hamil. Tapi wanita yang sedang mengandung keturunan vampir."
Seketika Chanyeol melepas semua sisa perasaan tenang yang ia miliki untuk kembali menegang atas apa yang Profesor Han katakan.
Di kehidupan manusia sekarang, tidak ada rasio yang bisa digunakan untuk menentukan jumlah wanita hamil dengan seorang jabang bayi keturunan vampir. Chanyeol bahkan tak yakin untuk mengetahui keberadaan wanita hamil dengan darah vampir mengalir pada bayi dalam kandungan.
"Beberapa sel darah si ibu akan terkontaminasi dengan gumpalan darah pada janin yang akan membentuk seorang bayi. Dalam fase, darah si ibu memiliki kandungan darah panas vampir yang sangat cocok untuk menekan perubahan Sehun."
Jadi begini rasanya diterpa pilihan sulit? Chanyeol tak menyangka kepalanya akan berdenyut konstan sedang jantungnya berdetak cepat untuk tekanan batinnya.
"Aku mengenal seorang wanita hamil keturunan vampir."
Profesor Han melebarkan senyumnya, tapi Chanyeol masih pada keraguan yang ia tekan perlahan dalam dirinya.
"Dan dia istriku."
"T-tuan, kalau begitu Tuan tidak bisa membuat Nyonya dan Sehun berada dalam lingkungan yang sama."
"Maksudmu?"
"Seorang wanita hamil keturunan vampir dan seorang manusia setengah vampir, mereka memiliki hubungan saling membutuhkan."
"Jangan katakan jika.."
"Nyonya akan menjadi sedikit berbeda dari wanita hamil pada umumnya. Rasa lapar dan dahaga akan terjadi pada Nyonya. Bukan untuk makanan manusia, tapi untuk darah manusia setengah vampir. Dan Sehun,"
Chanyeol kesulitan meneguk ludahnya sendiri. Lilitan dasi pada lehernya seketika menyusahkannya untuk bernapas normal dan dia butuh ruang untuk ini semua.
"...Sehun akan menjadi sangat lapar jika wanita hamil keturunan vampir ada di sekitarnya."
.
Mobil Chanyeol melaju kencang membelah jalanan kota yang sedang dirundung rintik hujan. Dua alisnya bahkan sudah saling bertarung, matanya menajam pada keadaan di depannya dan pikirannya melanglang buana pada panggilan yang ia terima ketika keluar dari rumah sakit.
Tidak ada yang lebih membuatnya tercengang selain kabar jika Baekhyun bertindak aneh. Wajahnya dikatakan memucat, urat-urat kebiruan perlahan muncul di sekitar leher, dan Baekhyun menjadi tak terkendali ketika mendekati kapsul penyimpan raga Sehun.
Kekhawatiran Chanyeol memiliki jenis beragam. Di tidak bisa melerai satu persatu semua itu karena ketika mobilnya tiba di gerbang rumah dan beberapa maid menghampiri dengan raut kekhawatiran, yang ada di pikiran Chanyeol hanya cara menyelesaikan ini secepat mungkin.
Wanitanya terkungkung dalam perubahan nyata. Tidak hanya fisik, tapi mentalnya juga mengalami guncangan keras untuk dirinya yang mendadak bernapsu untuk seseorang yang terbujur kaku di dalam kapsul.
"Chanyeol..tolong aku.." rintihnya benar memiliki kesadaran.
Baekhyun pada keadaan membingungkan. Ada bagian lain dalam dirinya yang memiliki keinginan untuk menerkam Sehun habis-habisan. Tapi sisi kemanusiaan yang masih melekat menahannya kuat-kuat untuk tidak mendekat meski rasa haus mulai meliar di sekujur tubuh.
"Aku..aku..tidak bisa mengendalikan diriku sendiri."
"Tenang, sayang. Aku di sini. Tenangkan dirimu."
"Ada apa dengan diriku? Kenapa..kenapa aku begitu menginginkan Sehun?"
Chanyeol memiliki kebungkaman untuk dirinya sendiri. Dia memilih menangkup Baekhyun dalam pelukannya dan meminta maid untuk menjaga ketat ruangan penyimpan kapsul Sehun.
"C-chanyeol..a-aku...panas..."
Tubuh Baekhyun seketika menggeliat, bibirnya membiru sedang tangannya mengepal penuh getar.
Rasanya seperti terbakar hidup-hidup, tapi tidak seburuk itu sebelum akhirnya Baekhyun berlari ke kamar mandi dan menenggelamkan tubuhnya dalam bathtub yang ia kucuri dengan air. Napasnya yang semula memburu kini jauh lebih baik. Meski derunya masih tersisa, setidaknya tubuh basah dalam genangan air ini membuat Baekhyun memiliki ketenangan tersendiri.
Tak ada yang bisa Chanyeol perbuat selain menggenggam tangan Baekhyun dan mengusak penuh iba pada wanita itu. Perut istrinya itu juga sudah nampak seperti kandungan berusia 4 bulan meski sebelumnya Baekhyun mengatakan dia hamil 3 minggu.
Apa yang profesor katakan tentang kehamilan Baekhyun mulai menunjukkan tanda kebenaran. Janin dalam kandungan Baekhyun tak ubahnya titik balik paling menyedihkan untuk perjalanan kehamilan ini. Bukan karena si bayi yang tak Chanyeol cintai; lelaki itu memiliki kasih terbesar untuk keturunannya. Tapi lebih kepada wujud bayi keturunan vampir yang memiliki kekuatan selayaknya vampir dengan tubuh manusia biasa.
"Nyonya Baekhyun akan mengalami perubahan pada dirinya. Tubuhnya akan sering terasa panas akibat bayi dalam kandungannya yang bereaksi. Keadaan ini setiap harinya akan bertambah parah karena bayi Anda memiliki pertumbuhan yang pesat seperti seorang vampir. Dan pertumbuhan yang terjadi memiliki efek panas pada si ibu hamil. Prediksinya, Nyonya Baekhyun akan melahirkan dalam waktu kurang dari satu bulan."
.
Bukaan pertama mata Baekhyun adalah Chanyeol yang tengah menatap tulus padanya. Entah sudah berapa lama dia berada pada pejaman mata itu, Baekhyun mendapati keadaan di luar sudah mulai gelap dan tirai-tirai kamar juga tertutup. Sukmanya masih perlahan ia kumpulkan menuju kesadaran sepenuhnya, tapi Baekhyun tak bisa memaksa itu semua terkumpul dalam waktu singkat karena tubuhnya terasa lemah.
"Tidur saja." Chanyeol menaikkan selimut itu sebatas dada, mengusak anak rambut di depan dahi Baekhyun dengan penuh kasih. "Mau ku ambilkan sesuatu? Mungkin kau lapar atau haus atau hal lainnya."
Alih-alih menjawab, Baekhyun mendekatkan tubuhnya untuk meringkuk pada dada bidang Chanyeol. Aroma maskulin itu menguar di seluruh indera penciumnya, memberikan Baekhyun sedikit rasa tenang setelah ia sadar atas apa yang ia alami tadi.
Tubuh yang panas, keinginan untuk menerkam Sehun, Baekhyun masih mengingat itu semua. Diam-diam dia memiliki kekhawatiran pada keadaan tubuhnya yang membuncit dengan cepat. Tak menampik semua itu Baekhyun benar berpikir jika bayi kesayangan yang ada dalam janinnya menurun gen vampir Chanyeol dan semua perubahan ini bersumber atas hal itu.
"Chanyeol,"
"Hm?"
"Bagaimana tentang nutrisi yang kau bicarakan dengan profesor? Apa kalian menemukan jawabannya?"
Beruntung Baekhyun berhadapan dengan dada Chanyeol, karena jika Baekhyun melihat bagaimana sekarang Chanyeol memiliki paras terkejut, wanita itu akan berspekulasi tentang banyak hal. "Kami belum menemukan nutrisi yang benar-benar bisa menjamin kehidupan Sehun seutuhnya. Masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan karena peluang hidup Sehun hampir saja terpatahkan." Menghela napasnya sebentar, Chanyeol lantas mengeratkan pelukannya pada tubuh Baekhyun sembari mengecup kecil puncak kepala wanita itu. "Kami tidak bisa gegabah. Semua yang akan diberikan pada Sehun memiliki efek dan aku benar-benar tidak ingin merugikan siapapun."
"Jika ada yang bisa ku bantu, katakan saja. Aku siap memberikan apapun untuk Sehun."
Jangan katakan itu.
"Ya. Terima kasih, sayang. Untuk saat ini kau hanya perlu istirahat dan menjaga kehamilanmu."
"Chanyeol," Baekhyun mendongak sebentar, "Perutku membuncit dengan cepat. Ku kira aku tidak akan lebih dari 9 bulan untuk menunggu anak kita lahir."
Ada tendangan kecil yang Baekhyun rasakan dalam perutnya. Dia merasa senang mendapat respon dari si kecil yang sepertinya bahagia ketika usakan-usakan itu diberikan.
Chanyeol menyembunyikan kesedihan tentang banyaknya fakta yang membahayakan Baekhyun pada kehamilannya ini. Lelaki itu pandai mengukir senyum bahagia meski kenyataannya dia bingung setengah mati untuk pilihan-pilihan yang ada.
"Kau senang dengan hal itu?"
"Tentu! Aku tidak sabar mengenalkan bayi kita pada dunia."
"Baekhyun,"
"Ya?"
"Kau tentu tahu jika..jika aku bukan sepenuhnya seorang manusia. Ku harap kau tidak akan terkejut jika nanti dia memiliki hal berbeda dari manusia biasa." Baekhyun menekuk dahinya, tidak menyela pembicaraan Chanyeol dan meminta lelaki itu menuntuskan sampai akhir apa yang akan ia bicarakan. "Profesor mengatakan jika bentuk fisiknya memang akan serupa manusia. Hanya saja.."
"Hanya saja?"
"Dia akan memiliki beberapa kelebihan layaknya seorang vampir."
"Contohnya?"
"Dia," Chanyeol menurunkan tubuhnya, menyingkap selimut yang menutupi tubuh Baekhyun untuk bertemu langsung pada kehidupan di dalam perut wanita itu, "akan memiliki kekuatan yang istimewa dibanding dengan diriku. Aku masih belum tahu apa itu, hanya saja sudah bisa dipastikan jika kelak dia akan berbeda dari kebanyakan anak."
Kecupan kecil kemudian berlabuh pada perut sedikit buncit itu. Chanyeol tak memiliki apapun untuk ia katakan dari bibirnya, tapi dia memiliki banyak hal yang tengah ia utarakan dari batinnya.
Tolong jaga ibu, jangan menyakitinya karena kita berdua sama-sama menyayanginya. Ayah mencintai ibu juga dirimu, Ayah sangat mencintai kalian.
.
Baekhyun selalu merasakan perutnya kontraksi dalam jumlah rasa sakit yang berlebih. Panas yang menjalar juga semakin menjadi-jadi dan sesekali dia harus berendam dalam bathtub berisi banyak es batu untuk meredakan itu semua.
Pola makannya juga mengalami perubahan. Jika biasanya Baekhyun masih menggemari makanan manusia pada umumnya, kini dia beralih pada daging ayam mentah atau daging sapi yang baru saja terpotong dan belum dimasak. Baekhyun tak mengerti itu semua, tak begitu memahami mengapa dia amat sangat ingin menerkam Sehun untuk rasa lapar yang di rasakan si kecil. Rasa laparnya akan menjadi-jadi ketika mendekati kapsul Sehun terlebih melihat urat kebiruan yang kini menghiasi sekitar leher Sehun.
Baekhyun ingin mencabiknya, menyesap aroma manis yang tercium oleh hidungnya dan menenangkan rasa lapar dalam perutnya, tapi Baekhyun menahan itu semua demi keutuhan tubuh Sehun yang masih berpeluang untuk hidup.
Sebagai gantinya, Baekhyun akan berlari ke dapur dan mengobrak-abrik isi lemari es untuk menemukan sesuatu yang mengganggu rasa laparnya. Bukan sepotong kue, melainkan sepotong ayam mentah yang menarik perhatian dan nyatanya bisa sedikit meredakan rasa lapar yang Baekhyun rasakan.
Chanyeol merasa prihatin, rasa bersalah semakin banyak ia miliki tapi tak bisa berbuat apa-apa ketika Baekhyun mengatakan bayi dalam kandungannya menginginkan sesuatu yang janggal. Baekhyun akan menangis saat daging mentah itu tergantikan oleh sepiring sup, dia menginginkan aroma amis dari daging sapi ataupun ayam yang belum di olah dan lebih tergugah lagi ketika ada sisa darah yang menempel pada daging-daging itu.
Hingga suatu hari, saat Baekhyun benar semakin liar menghabiskan daging mentah yang tersedia, Chanyeol memilih menyuntikkan sesuatu pada wanita itu agar tidak tersiksa lebih lama. Baekhyun akan tertidur setelahnya, tidak ada lagi wanita berperut buncit yang meronta meminta daging mentah lebih banyak meski sebenarnya dia kesusahan menelan itu semua.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Persediaan nutrisi Sehun menipis dan Baekhyun bertingkah aneh dengan makanan-makanan mentah yang ia makan."
Malam itu profesor datang berkunjung untuk memenuhi nutrisi yang Sehun butuhkan. Profesor mendapati Chanyeol dalam keadaan berantakan, pikiran lelaki itu jelas kalut dan tidak mengerti apa yang harus diperbuat ketika pilihan menyelamatkan Sehun harus ia tebus dengan mengorbankan Baekhyun.
"Baekhyun mengonsumsi banyak daging mentah. Dia harus memakan itu untuk menekan keinginnya menyesap darah Sehun. Aku tahu dia kesulitan, dia menyembunyikan tangisnya demi menyingkirkan egonya menerkam Sehun."
"Daging mentah tidak memiliki efek lama untuk rasa lapar Nyonya, Tuan."
"Ya, aku mengerti itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membiarkannya memakan semua itu."
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita memisahkan keberadaan Nyonya dengan Tuan Muda Sehun? Setelah memeriksa keadaan Tuan Muda, saya berani menyimpulkan jika semakin lama Tuan Muda berada dalam kapsul, rasa laparnya pada darah wanita hamil akan semakin besar."
Map merah di atas meja itu Chanyeol buka perlahan. Rentetan laporan perkembangan Sehun yang baru saja diperiksa oleh Profesor menunjukkan hal yang kurang baik.
Chanyeol tidak buta untuk efek seorang vampir yang terlalu lama berada dalam kapsul. Fisiknya memang terbujur kaku, tapi benang-benang darah vampir di dalam tubuh akan bekerja dua kali lebih cepat dalam menyusun rasa lapar.
"Apa tidak ada cara lain untuk mengembalikan Sehun seperti semula? Aku tidak ingin jika semakin lama Sehun akan semakin lapar dan dia tiba-tiba menghisap darah Baekhyun saat sadar."
"Saya sedang mencari cara lain, Tuan. Tapi sejauh ini saya hanya bisa menemukan ramuan nutrisi yang bisa menahan Sehun selama beberapa jam saja."
"Aku pernah melihat bagaimana Sehun sangat lapar saat Baekhyun terlihat matanya. Dia seakan lupa semua, yang dia kedepankan hanya rasa lapar dan tidak ada hal lain. Dan Baekhyun—astaga, aku bahkan tidak tahu bagaimana lagi membantunya untuk lepas dari semua rasa panas itu. Katakan padaku apa yang harus ku lakukan!"
Profesor hanya diam tak memiliki hal lain untuk dikatakan. Kefrustasian Chanyeol beralasan logis karena dua sosok yang teramat ia cintai memiliki ketergantungan kuat yang berakhir pada musnahnya salah satu jika Chanyeol membuat pilihan. Hanya saja Chanyeol belum sejauh itu, dia tidak berpikir membuat pilihan apa-apa karena dia bersikeras semua harus selamat.
Baru kali ini Chanyeol merasa kesedihan yang mendalam. Sebagai seorang manusia baru, dia memiliki kegelisahan yang tiada duanya dalam tekanan hidup. Tapi dia terlalu pandai menyembunyikan semua itu di depan Baekhyun, memberikan senyum terbaik demi sang istri yang selalu berkata akan mengorbankan apapun untuk kehidupan Sehun.
Chanyeol pikir semua akan tertutup rapat—tidak tahu sampai kapan. Nyatanya Chanyeol terlalu cepat berspekulasi karena di ujung pintu yang tidak terjangkau kilas pandang Chanyeol juga profesor, ada wanita hamil yang mendengar dengan kesedihan yang melingkup di mata sipitnya.
.
.
TBC
Basyod : Janji dehh Chap depan udah end! Wkwk.. lama banget nyusun plot ini, mau ketik kok adaaaaa aja malesnya. Sebenernya udah kesusun dari luama, Cuma tinggal lanjut beberapa bagian biar mateng dan siap dibaca. Semoga gak bosenin yak! Saranghek..
Salam CHANBAEK terbasah untuk kita semuaaaahhhh...
