Chapter sebelumnya:

"Dengar, Jangan pernah kalian mencoba mendekatiku, dan berbicara padaku! Aku tidak mau didekati oleh kalian, mengerti?" kata Yaya pelan bahkan terdengar seperti sebuah bisikan. Setelah mengucapkan hal tersebut, Yaya langsung pergi melawati mereka.

Boboiboy dan yang lainnya masih terdiam disana. Mereka masih antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Yaya. Menjauhinya? Bagaimana mereka bisa menjauhi sahabat mereka sendiri? Tidak ada yang pergi meninggalkan tempat itu, mereka berempat masih disana. Bahkan saat petir menyambar dan hujan turun membasahi mereka, keempat pahlawan super itu tidak pergi dari tempat mereka berdiri.

'Kenapa?' batin mereka sedih.


Disclaimer: Boboiboy, dkk adalah milik Animonsta studio

Genre(s): Romance, Angst, Hurt/Comfort, Drama, dll

Pairing: Boboiboy x Yaya, Fang x Ying, dll

Warning: Typo, OOC, Alur kecepetan/kelamaan, Cerita gaje, dll


Chapter 2: Impossible!

Di dalam sebuah bangunan kecil, nampak seorang gadis yang mengenakan kerudung hitam. Dari pakaiannnya, sepertinya dia baru pulang sekolah. Sang gadis berada di depan pintu yang disampingnya terdapat sebuah jam klasik yang cukup besar. Sang gadis melepaskan kacamatanya sebelum akhirnya dia membuka pintu tersebut.

CKLEK

"Yaya?" suara yang pertama kali Yaya dengar saat membuka pintu tersebut adalah suara perempuan yang sepertinya sudah cukup tua.

Didalam sana terdapat tiga orang. Dua diantaranya adalah satu perempuan dan satu laki – laki yang keliatan sudah cukup tua, dan satu bocah laki – laki yang sedang tertidur dipangkuan perempuan setengah baya itu.

"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Yaya kepada tiga orang di depannya.

"Kami baik – baik saja Yaya." Jawab pria setengah baya yang ada di depan Yaya.

Yaya yang mendengar jawaban itu pun menghela nafas lega.

"Yaya." panggil perempuan setengah baya sambil mengelus kepala bocah laki – laki yang ada di pangkuan.

"Iya?" tanya Yaya.

"Semua ini tidak benar Yaya. Kamu yakin mau melakukan semua ini?" tanya perempuan itu kepada Yaya.

Yaya yang mendengar pertanyaan itupun terdiam. Namun tak lama dia menjawab,

"Yaya tak punya pilihan lain." jawab Yaya sambil tersenyum sedih.

Yaya mendekati tiga orang itu dan menggenggam tangan pria dan perempuan setengah baya di depannya.

"Yaya janji, Yaya akan membebaskan kalian-" Yaya menghentikan kalimatnya sebentar lalu melanjutkannya.

"Ayah, ibu, Totoitoy." Setelah itu Yaya pergi meninggalkan ruangan tersebut.


"Aku berubah seperti ini karena kejadian 3 tahun yang lalu."

"AKU MENYESAL TELAH MENJADI PAHLAWAN SUPER DULU, DAN JIKA SEANDAINYA BOBOIBOY TIDAK MENEMUKAN OCHOBOT, KEHIDUPANKU TIDAK AKAN JADI BEGINI. SEANDAINYA OCHOBOT TIDAK MEMBERIKANKU JAM KUASA SAAT ITU, AKU TIDAK MUNGKIN JADI SEPERTI SEKARANG. DAN ASAL KALIAN TAHU, KARNA JAM KUASA ITU AKU HARUS MELAWAN ADUDU PADAHAL AKU TIDAK TAHU APAPUN SAAT ITU. DAN SEMENJAK AKU MENJADI PAHLAWAN SUPER, AKU HARUS MELIHAT PERTENGKARAN DIANTARA KALIAN. APA KALIAN TIDAK TAHU PERASAANKU SAAT KEJADIAN WAKTU ITU HAH?"

"Dengar, Jangan pernah kalian mencoba mendekatiku, dan berbicara padaku! Aku tidak mau didekati oleh kalian, mengerti?"

Kalimat Yaya hari ini benar – benar telah menusuk hati Boboiboy. Ternyata dugaannya benar, Yaya berubah itu semua karena salahnya. 'Siapa yang aku bohongi? Yaya seperti itu memang karena aku.' batin Boboiboy.

"Boboiboy." panggil Ochobot yang sedari tadi memperhatikan Boboiboy.

"Ada apa Ochobot?" tanya Boboiboy tanpa menoleh kearah robot kuning di sampingnya.

"Sudahlah, jangan sedih lagi!" kata Ochobot.

Boboiboy hanya menghela nafas, pemuda itu pun berdiri dari tempat tidurnya dan...

"BOBOIBOY TAUFAN!" ucap Boboiboy yang berubah menjadi Boboiboy Taufan.

Ochobot yang mellihat Boboiboy yang tiba – tiba berubah pun kaget.

"Kamu mau ngapain Boboiboy?" tanya Ochobot kepada Boboiboy Taufan.

"Cari udara segar di luar." jawab Boboiboy Taufan yang segera pergi dengan hoverboard nya.

Boboiboy pergi dengan pikiran kacau sehingga dia tidak bisa fokus saat terbang. Bahkan, dia hampir menabrak tiang listrik jika dia tidak segera sadar dan dengan cepat mengendalikan hoverboard miliknya itu.

Saat Boboiboy Taufan tengah terbang, tidak sengaja dia melihat gadis berkerudung hitam yang sangat di kenalinya. Ya... gadis itu adalah Yaya. 'Yaya? Apa yang sedang di lakukannya malem – malem begini?' batin Boboiboy penasaran.

Sebenarnya Boboiboy ingin sekali menghampiri Yaya tapi dia terlalu takut untuk menghampiri gadis itu. Sehingga, dia segera menurunkan hoverboard nya ke tanah dan berubah menjadi Boboiboy Halilintar.

Dengan cepat Boboiboy Halilintar mengikuti Yaya. Terkadang dia berhenti dan bersembunyi saat Yaya mebalikkan badannya. 'Kok rasanya, kayak ada yang ngikutin aku dari tadi ya?' batin Yaya. Tapi kemudian gadis itu hanya mengangkat bahu dan kembali berjalan. Boboiboy yang merasa keadaan sudah aman pun, segera keluar dari persembunyiannya dan kembali mengikuti Yaya.

"SIAPA DI SANA? CEPAT KELUAR!" teriak Yaya yang mulai kesal, sang gadis pun memutar badannya ke belakang.

Sedangkan Boboiboy yang kaget dan tidak siap untuk bersembunyi pun menghela nafas pasrah. Yaya kaget saat melihat Boboiboy, tapi dengan cepat dia mengendalikan keterkejutannya itu.

"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Yaya dingin.

"Aku tidak mengikutimu, aku hanya mencari udara segar." jawab Boboiboy Halilintar yang tak kalah dingin.

Yaya memutar bola matanya, tanpa mengatakan apapun Yaya kembali berjalan dan mengabaikan Boboiboy Halilintar.

"Hei." panggil Boboiboy Halilintar. Yaya pun menghentikan langkahnya dan menatap Boboiboy tajam.

"Ada apa? Bukankah sudah kubilang jangan mencoba untuk bicara padaku?" tanya Yaya sinis.

"Aku hanya ingin bertanya satu hal padamu." ucap Boboiboy Halilintar.

"Tanya apa?" tanya Yaya sedikit emosi.

Boboiboy Halilintar menarik nafas sejenak sebelum bicara.

"Apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Boboiboy Halilintar dengan tatapan sendu.

Yaya terdiam, rasa bersalah pun mulai memenuhi hatinya. Sebenarnya Yaya sudah memaafkan Boboiboy sejak lama, tapi dia tidak bisa mengatakannya pada pemuda itu sekarang.

Mata gadis itu mulai berair, Yaya berusaha keras agar tidak menangis di depan Boboiboy. 'Tahan Yaya!' batin Yaya, sedangkan Boboiboy tidak bisa melihat ekspresi Yaya karna sang gadis menundukkan kepalanya.

"Yaya." panggil Boboiboy sedikit khawatir. Boboiboy Halilintar berjalan mendekati Yaya, tapi gadis itu mengangkat tangannya ke depan seakan menyuruh Boboiboy untuk berhenti.

"Jangan mendekat!" kata Yaya dengan suara bergetar. Boboiboy yang mendengar suara Yaya mengerutkan dahinya bingung.

"Kau kenapa Yaya?" tanya Boboiboy dengan suara yang terdengar lembut.

"Jangan pernah kau dekati aku! Mulai sekarang aku bukanlah sahabatmu lagi. Aku benci kau!" bentak Yaya. Langsung saja gadis berkerudung hitam itu berlari, air matanya pun tumpah dan mengalir melewati pipinya. 'Maafkan aku Boboiboy.' batin Yaya sambil terus berlari.

Sementara itu, Boboiboy Halilintar masih berdiri disana. Dia merasa kakinya seperti di ikat dengan sangat kuat. Boboiboy Halilintar pun berubah menjadi Boboiboy yang biasa, tetapi sama saja dia tidak bisa bergerak. Perlahan namun pasti air matanya pun jatuh, Boboiboy jatuh terduduk kemudian menangis sejadi – jadinya disana.

Dia tidak peduli jika ada yang mendengar tangisannya, toh dia ada di jalan yang sepi. Benar – benar tidak bisa diperbaiki lagi, semua sudah selesai. Yaya membencinya bahkan Yaya sudah tidak mau berteman dengannya lagi. Boboiboy benar – benar putus asa, sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki semua yang terjadi.

Pemuda itu kecewa dan marah pada dirinya sendiri, kenapa saat kesempatan itu masih banyak dia malah menyia – nyiakannya? Kenapa saat gadis itu masih bersamanya dia justru tidak mempedulikannya? Tapi mau bagaimana lagi? Penyesalan selalu datang terakhir.

"Hahaha...aku sungguh tidak berguna." ucap Boboiboy sambil tertawa pahit.

Di tengah – tengah kesedihan pemuda itu, seseorang memanggil namanya.

"Boboiboy?" panggil seseorang yang berada di depan Boboiboy. Boboiboy pun mendongak dan melihat seorang gadis bermata Lightblue yang ditutupi oleh kacamata bulat.

"Ying..."

"Apa yang lakukan disini Boboiboy?" tanya Ying kepada sahabat masa kecilnya.

Boboiboy tidak menjawab ataupun bergerak, dia masih dalam posisi yang sama. Ying yang tidak mendapat reaksi ataupun jawaban dari pemuda itu mulai heran. Dia pun berjongkok dan merendahkan kepalanya untuk melihat keadaan pemuda bertopi dinosaurus itu.

Dia melihat mata pemuda itu merah dan bengkak, hidungnya merah, wajahnya pun pucat. Ying yang melihat itu pun sedikit kaget, dia mendekatkan wajahnya sedikit pada Boboiboy.

"Apa yang terjadi Boboiboy?" tanya Ying. Tetapi reaksi yang diberikan pemuda itu tetap sama, gadis berkacamata bulat itu pun mendengus.

"Ayo ke rumahku! Kau harus menceritakan semuanya!" perintah Ying.

Boboiboy pun mengangguk kemudian berdiri, dia mengikuti Ying yang berjalan menuju ke rumah sang gadis.


Yaya sampai di depan rumahnya, dengan segera dia memasuki rumah tersebut. Tetapi sebelum tangannya meraih pegangan pintu, seseorang telah menarik tangan Yaya yang satunya lagi.

Yaya pun menoleh dan menatap tajam 'Orang itu'.

"Kau lagi, apa mau kali ini hah?" tanya Yaya emosi. 'Orang itu' terkekeh kecil sebelum membuka suara.

"Aku hanya mengunjungi temanku saja. Apa itu salah?" tanya 'Orang itu' dengan manja. Yaya yang mendengarnya pun jengkel, tapi dia berusaha untuk menahan emosinya itu.

'Orang itu' mendekati Yaya kemudian dia mengangkat wajah gadis itu kasar. 'Orang itu' menyeringai saat melihat ada bekas air mata di pipi Yaya.

"Dengar ya, permainan ini baru saja akan dimulai. Jadi, jangan coba – coba untuk lari! Paham?" tanya 'Orang itu' sinis. Yaya yang mendengar ucapan (baca: ancaman) dari 'Orang itu' pun menepis tangan 'Orang itu' dari wajahnya.

Kemudian gadis berkacamata itu menganggukan kepalanya. 'Orang itu' menyeringai puas saat melihat Yaya mengangguk.

"Good." kata 'Orang itu' puas.

"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa lagi Yaya~" ucap 'Orang itu' ceria sambil meninggalkan rumah Yaya.

Yaya melihat kepergian 'Orang itu' hanya bisa menghela nafas berat. Rasanya semakin lama, keadaan yang dialami oleh gadis berkerudung itu semakin sulit. 'Kapan semua ini akan berakhir?' batin Yaya, kemudian sang gadis pun memasuki rumahnya.


Sekarang Boboiboy berada dirumah Ying. Dia sedang menunggu Ying yang tengah membuatkan minuman di ruang tamu. Pikirannya terus mengulang kejadian barusan, seperti kaset rusak yang terus – menerus mengulang lagu yang sama, tapi kali ini lebih menyakitkan.

"Jangan pernah kau dekati aku! Mulai sekarang aku bukanlah sahabatmu lagi."

"Jangan pernah kau dekati aku! Mulai sekarang aku bukanlah sahabatmu lagi."

"Aku benci kau!"

"Aku benci kau!"

"AAARRGGGHHHH." teriak Boboiboy frustasi. Pemuda itu mengacak rambutnya yang masih ditutupi oleh topi. Sehingga, topi itu jadi sedikit miring tapi dia sama sekali tidak peduli.

"Kau kenapa Boboiboy?" tanya Ying yang baru saja kembali dari dapur, dengan nampan berisi dua cangkir teh di tangannya.

"Ah, aku tidak apa – apa kok." jawab Boboiboy yang disertai dengan senyum tipis di wajahnya. Ying pun duduk di depan Boboiboy dan menaruh salah satu cangkir teh di depan pemuda bertopi itu.

"Jadi, sebenarnya apa yang terjadi denganmu tadi di jalan?" tanya Ying ke inti pembicaraan. Boboiboy yang sedang meminum tehnya pun terhenti. Dia meletakkan cangkir teh tersebut ke meja dan mulai menceritakan apa yang di alaminya kepada Ying.

Ying mendengar cerita Boboiboy dengan seksama dan tidak butuh waktu lama Boboiboy selesai dengan ceritanya. Dia melihat ekspresi Ying, gadis itu membelakkan mata dan mulutnya terbuka sedikit. Boboiboy sudah mengira bahwa temannya pasti akan kaget setelah mendengar ceritanya.

Boboiboy menghela nafas, dia berusaha keras untuk melupakan kejadian itu, meski dia tahu bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.

"Bohong!" Boboiboy menatap Ying yang kelihatan masih syok.

"Bohong! Semua itu pasti bohong! Yaya bukanlah gadis seperti itu, dia tidak akan pernah membeci orang lain terutama sahabatnya sendiri. Semua itu pasti bohong, kan?" ucap Ying tidak percaya.

Gadis keturunan china itu sama sekali tidak percaya, dia tidak percaya bahwa sahabatnya sampai tega mengatakan hal sekejam itu. Dia tidak percaya bahwa sahabatnya akan mengeluarkan kata 'benci' kepada orang lain. Tapi yang paling gadis china itu tidak percaya adalah, kali ini kata itu ditunjukan kepada Boboiboy, sahabat masa kecilnya.

Sedangkan Boboiboy, hanya bisa menundukkan kepala saat mendengar ucapan sahabatnya itu. Sebenarnya dia juga heran, apa semarah itukah Yaya sampai dia membenci Boboiboy? Entah mengapa Boboiboy merasa bahwa terlalu banyak teka – teki dalam hidupnya, di tambah lagi masalahnya selalu bertambah. 'Kenapa semua jadi rumit begini?' batin Boboiboy.

"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Boboiboy.

Ying yang mendengar pertayaan dari Boboiboy mulai berpikir, kemudian gadis keturunan china itu menjawab...

"Tentu saja kita akan tetap berusaha agar Yaya kembali kepada kita!" jawab Ying dengan yakin, meskipun hatinya masih ragu.

Boboiboy yang mendengar jawaban tersebut kaget, bagaimana caranya mereka bisa mendekati Yaya?

"Tapi, Yaya pasti akan berusaha menjauhi kita." ucap Boboiboy putus asa.

"Kalau begitu kita tinggal berusaha untuk mendekatinya, apa susahnya sih?" tanya Ying sedikit kesal. Gadis itu tidak suka ketika melihat sahabatnya putus asa.

"Tapi-"

"Dengar ya Boboiboy! Kau tidak bisa menyerah begitu saja! Semua ini masih bisa kita perbaiki kok, dan jangan pernah kau memikirkan masalah ini sendirian! Kau masih punya aku, Fang dan juga Gopal. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama – sama, ok?" ucapan sekaligus pertanyaan dari Ying membuat Boboiboy tidak bisa berkata apa – apa lagi.

Pemuda itu merasa terharu, bagaimana bisa dia lupa bahwa dia masih memiliki sahabat? Boboiboy tersenyum kepada Ying.

"Terima kasih Ying." ucap Boboiboy sambil tersenyum tulus. Ying yang melihat sahabatnya tersenyum pun ikut tersenyum juga. Tak lama akhirnya Boboiboy pamit dan berjalan menuju rumahnya.

Ying melambaikan tangannya dan berhenti saat Boboiboy sudah tidak terlihat lagi di jalanan. Gadis itu memasuki rumahnya kemudian menutup pintu, seketika ekspresinya langsung berubah menjadi sedih.

Air matanya perlahan jatuh melewati pipinya, isakan tangis mulai terdengar di seluruh penjuru rumah. Beruntung sang nenek telah tertidur di kamarnya sehingga beliau tidak mendengar isakan tangis cucunya itu. Gadis keturunan china itu memasuki kamarnya, dan dia melihat sebuah bingkai foto yang berada di atas meja belajarnya.

Ying mengambil bingkai foto tersebut kemudian dia mengelus permukaan kacanya.

Foto itu terdapat tiga anak laki – laki, yang dua diantaranya sedang beradu mulut sedangkan satunya lagi hanya menatap datar kedua anak laki – laki itu. Dan juga terdapat dua anak perempuan yang saling tersenyum, mereka seperti tidak peduli dengan perkelahian kedua anak laki – laki yang berada di belakang mereka. Ying masih ingat betul momen disaat mereka berlima berfoto waktu itu.

Flash back on

"Hei, apa kalian tahu? Kita berlima belum pernah foto bareng." ucap seorang anak laki – laki yang mengenakan topi dinosaurus.

Mendengar penuturan dari Boboiboy kempat pahlawan super lainnya pun menghentikan aktifitas mereka dan menoleh kearah anak laki – laki itu.

"Hmmm... benar juga." gumam anak laki – laki keturunan india, Gopal.

"Bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita ke kedai Tok Aba untuk berfoto bersama?" tanya Boboiboy kepada keempat sahabatnya itu.

Mereka pun mulai memikirkan ide dari sahabat mereka itu.

"Boleh juga ide itu, lagi pula aku tidak ada kegiatan apapun hari ini." jawab seorang anak perempuan yang mengenakan kerudung merah muda, Yaya.

"Aku juga!" seru anak perempuan keturunan china, Ying.

"Kami juga ikut!" ujar Gopal dan seorang anak laki – laki berambut Raven, Fang.

Boboiboy yang mendengar jawaban dari keempat sahabatnya itu pun tersenyum lebar.

"Baiklah, Sudah diputuskan! Sepulang sekolah nanti kita ke Kedai Tok Aba."seru Boboiboy penuh semangat.

"OK!" seru yang lainnya yang tak kalah semangat.

Sepulang sekolah

"Cepatlah Gopal" seru Ying tidak sabar.

"Sebentarlah!" ucap Gopal yang sedang mengatur kameranya.

Sesuai rencana, mereka berempat tengah berada di Kedai Tok Aba. Kemana Tok Aba dan Ochobot? Mereka berdua ke rumah sebentar untuk mengambil koko.

"Ish, kau geserlah Boboiboy!"

"Lah, aku pula yang salah?!"

"Hm...kau itu memang selalu salah."

"APA KAU BILANG?!"

"MEMANG KENAPA HAH?!"

Yaya yang mendengar pertengkaran antara Boboiboy dan Fang hanya bisa menghela nafas. Jujur, dia sebenarnya ingin menegur mereka tapi sayang tenggorokannya tengah sakit sekarang, jadi dia tidak bisa menegur mereka berdua seperti yang biasa dia lakukan.

"Biaklah sudah siap!" ujar Gopal sambil berlari menuju teman- temannya.

"Semuanya bersiap!" seru Ying kepada yang lain.

Nit...nit...nit...nit...nit...CKREK

Flash back off

Ying mengusap air mata, kenangan itu memang kenangan indah tapi jika kau mengingat kenangan itu saat sahabatmu pergi atau meninggalkanmu, maka kenangan itu akan berubah menjadi kenangan yang menyakitkan.

Sungguh, gadis keturunan china itu sangat merindukan sahabatnya yang dulu. Dia merindukan Yaya yang selalu tersenyum dan yang selalu mengenakan kerudung merah muda. Bahkan dia merindukan Yaya yang selalu menawarkan biskuit kepadanya yang pasti akan segera ditolak oleh Ying.

"Yaya."


"Ughh..."

Yaya membuka matanya, gadis itu pun duduk di kasurnya sebentar untuk mengumpulkan nyawanya yang semalam pergi ke alam mimpi. Kemudian dia melihat jam yang menunjukkan pukul 05.30, Yaya pun segera berdiri menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian sholat subuh.

Setelah sholat subuh Yaya kembali ke kamar mandi untuk membersihkan badan, kemudian Yaya kembali ke kamar untuk bersiap – siap.

Dia mengenakan seragam sekolahnya dan cardigan hitam. Dia mengambil kerudung berwarna hitam yang berada di atas kasur dan mengenakannya, Yaya kemudian mengambil kacamata bingkai hitam miliknya yang terletak di atas meja. Gadis itu melihat penampilannya dicermin, semua sudah lengkap, kacamata sudah bertengker manis di hidungnya.

Merasa penampilannya sudah sempurna, kemudian Yaya mengambil tasnya dan menuju ke ruang makan untuk sarapan. Dia mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai cokelat. kemudian gadis itu memakan rotinya dengan tenang, setelah sarapan dia kembali melihat jam.

06.00

Sang gadis pun segera mencuci piring, kemudian dia memakai sepatu dan membuka pintu. Yaya menengok kedepan dan menatap bagian dalam rumahnya, sejenak sebelum akhirnya dia memutar kepalanya ke depan dan menutup sekaligus menguncinya.


Terlihat seorang pemuda berambut Raven tengah berjalan melewati koridor sekolahnya, sekolah masih sangat sepi karena dia datang pada jam 06.05 sedangkan pelajaran dimulai pada jam 07.00. tapi memang itu tujuannya datang awal, dia tidak ingin mendengar teriakan dari para fans nya hari ini.

"Selamat pagi."

"Ah, selamat pagi Fang."

Fang melihat kelas masih sangat sepi, dia hanya melihat gadis berkacamata bundar yang sedang duduk di kursinya yang terletak paling depan. Fang pun menarik sebuah kursi dan duduk di samping Ying.

Dia melihat ekspresi sang gadis, wajahnya terlihat lesu dari biasanya, bahkan saat menyapanya tadi suara Ying tidak terdengar semngat seperti biasanya. 'Apadia masih memikirkan hal kemarin?' tebak Fang dalam hati. Saat pemuda berkacamata nila itu ingin bertanya, Ying sudah membuka suara.

"Aku mau menceritakan seuatu." ucap Ying sambil menatap Fang serius.

"Menceritakan apa?" tanya Fang penasaran.

Ying pun menceritakan kejadian yang dialami Boboiboy tadi malam kepada Fang. Setelah selesai menceritakan semuanya, Ying pun menundukkan kepala. Sedangkan Fang yang mendengar cerita Ying sedikit kaget, dia menghela nafas kemudian memijat dahinya. 'Menyusahkan.' batin Fang sedikit frustasi.

"Hik...hiks...hiks..."

Fang kaget saat mendengar isakan yang berasal dari gadis yang ada di sampingnya. Fang mengangkat dagu Ying pelan dan melihat kedua mata gadis itu mengeluarkan air mata.

"Kenapa kau nangis?" tanya Fang.

"A...aku...hiks...tidak tahu...hiks...harus bagaimana lagi...hiks. Ke...kenapa...hiks...hal ini harus...hiks...terjadi pada kita Fang? Hiks...kenapa?" tanya Ying yang kembali menundukkan kepalanya.

Fang yang mendengar pertanyaan itu pun terdiam, mulutnya serasa terkunci. Dan entah mengapa, hatinya merasa sakit saat melihat gadis yang berada di hadapannya menangis. 'Aku juga tidak tahu Ying.' jawab Fang dalam hati.

Pemuda itu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna ungu dengan garis hitam. Dia memberikan sapu tangan tersebut kepada Ying.

"Ini, pakailah!" kata Fang. Ying yang melihat Fang menyodorkan sapu tangannya pun ingin menolak.

"Ta...tapi-"

"Aku tidak suka melihatmu menangis! Jadi hapus air matamu itu!" perintah Fang. Ying dengan ragu mengambil sapu tangan itu, kemudian dia menghapus air matanya.

"Te...terimakasih." ucap Ying.

"Hm...sama – sama." jawab Fang dengan datar. Sekarang Ying tahu, bahwa meskipun Fang terkesan dingin dan datar tapi dia masih memiliki sisi lembut. Ying tersenyum tipis saat menyadari hal itu, dan entah mengapa dia tidak mau melepaskan sapu tangan yang ada di genggamannya saat ini.

"Sapu tangannya kukembalikan setelah kucuci, ya?"

"Iya."

Kemudian masuklah seorang gadis yang mengenakan kerudung hitam, dia melewati Fang dan Ying begitu saja seakan – akan seperti tidak ada orang di dalam kelas. Sedangkan Fang dan Ying tidak tahu harus melakukan apa, keheningan pun menyelimuti mereka bertiga.

Rasanya Ying dan Fang ingin sekali segera berdiri dan berlari meninggalkan kelas, tapi tidak mungkin mereka melakukannya. Karena entah mengapa, badan mereka terasa kaku untuk digerakkan.

Semakin lama, semakin banyak murid yang memasuki kelas sehingga keadaan kelas menjadi sedikit ramai. Kemudian, masuklah seorang pemuda berkulit hitam yang merupakan keturunan India.

"Selamat pagi Ying, Fang." seru Gopal kepada mereka berdua.

"Selamat pagi Gopal." jawab Ying dan Fang bersamaan.

"Hei Gopal, Boboiboy tidak bersama kau?" tanya Fang.

"Hm...tidak, tadi aku buru – buru ke sini. Jadi aku tidak sempat datang kerumahnya." jawab Gopal.

"Haiya...sekarang sudah jam 06.58 wo. Kenapa dia masih belum datang?" tanya Ying sedikit panik. Sedangkan Gopal hanya mengangkat bahu.

KRRIIINNGGG

Tak lama akhirnya bel masuk pun berbunyi, dengan terburu – buru semua muridkembali ke tempat duduk masing – masing. Kemudian muncullah seorang guru dengan seorang gadis di belakangnya.

"Ehem, BANGUUUNNN...selamat pagi cikgu."

"Selamat pagi cikgu."

"Selamat semuanya. Duduk!" murid – murid pun duduk kembali ke kursi mereka.

"Baiklah semuanya, hari ini kita kedatangan murid baru. Perkenalkan diri kamu!" perintah sang guru kepada gadis di sampingnya. Gadis itu memiliki mata berwarna ungu dan rambut berwarna Darkblue yang mencapai pinggangnya. Dia mengenakan seragam sekolah menengah atas Pulau Rintis dengan Sweater berwarna biru dongker, dan dia juga mengenakan rok berwarna abu – abu yang mencapai selutut.

"Hai semuanya~ Nama saya adalah-"

TBC


Halo saya datang lagi! Hehehe saya sengaja berhentiin sampai sini biar sedikit lebih greget aja#dimutilasi

Sebagai imformasi saja bahwa saya akan update lama karna masih banyak urusan yang menumpuk/soksibuk

Baiklah segini saja dari saya, dan untuk pertama kalinya saya ingin meminta review dari para reader.

Silahkan review nya~