Chapter sebelumnya:
"Ehem, BANGUUUNNN...selamat pagi cikgu."
"Selamat pagi cikgu."
"Selamat pagi semuanya. Duduk!" murid–murid pun duduk kembali ke kursi mereka.
"Baiklah semuanya, hari ini kita kedatangan murid baru. Perkenalkan diri kamu!" perintah sang guru kepada gadis di sampingnya. Gadis itu memiliki mata berwarna ungu dan rambut berwarna Darkblue yang mencapai pinggangnya. Dia mengenakan seragam sekolah menengah atas Pulau Rintis dengan Sweater berwarna biru dongker, dan dia juga mengenakan rok berwarna abu – abu yang mencapai selutut.
"Hai semuanya~ Nama saya adalah-"
Disclaimer: Boboiboy, dkk adalah milik Animonsta studio
Genre(s): Angst, Hurt/Comfort, Drama, Romance, dll
Pairing: Boboiboy x Yaya, Fang x Ying, dll
Warning: Typo, OOC, Alur kecepetan/kelamaan, Cerita gaje, dll
Chapter 3: What?!
BRAKK
Semua orang termasuk sang guru menoleh kesumber suara. Boboiboy berdiri di depan pintu dengan pakaian yang berantakan, pemuda itu terlihat kelelahan dan juga keringat yang mengalir melewati wajah dan lehernya. Terlihat sekali bahwa pemuda itu habis berlari.
"Boboiboy? Kenapa kau terlambat?" tanya sang guru yang terlihat tidak suka, karena salah satu muridnya datang terlambat. Boboiboy yang sudah bisa mengatur nafasnya pun menjawab pertanyaan sang guru.
"Maaf bu, tadi saya kesiangan." jawab Boboiboy.
Sang guru terlihat marah dan dia menghampiri Boboiboy. Tapi sebelum sang guru melakukan sesuatu pada pemuda itu, si murid baru menghentikannya.
"Emm...permisi cikgu, bagaimana dengan saya?" tanya murid baru yang sejak tadi hanya diam. Sang guru yang menyadari bahwa ada murid baru pun menghentikan aksinya, perempuan paruh baya itu menghela nafas.
"Baiklah, karena hari ini sedang ada murid baru kamu saya maafkan." ucap sang guru kepada Boboiboy. Mendengar itu, Boboiboy merasa lega dan segera menuju ke tempat duduknya.
"Baiklah, perkenalkan diri kamu!" perintah sang guru.
"Hai semuanya~ Nama saya adalah Azka Putri Maharani. Kalian bisa memanggilku Azka atau Rani. Salam kenal~" ucap sang gadis memperkenalkan diri dengan senyum lebar di wajahnya.
"Baiklah Azka, kamu akan duduk disana." Ucap sang guru sambil menunjuk kursi kosong yang letaknya di samping Yaya.
"Terima kasih cikgu!" kata Azka sambil tersenyum lebar, dia pun menuju ke tempat duduknya dan saat dia melihat Yaya, senyum aneh pun terukir di wajahnya.
"Baiklah semuanya, kumpulkan tugas yang kemarin. Sekarang!" perintah sang guru tegas.
"Yaya~ kita ke kantin yuk!" ajak Azka dengan ceria.
"Maaf, aku tidak lapar." tolak Yaya.
"Kalau begitu, kau temani aku saja~" paksa Azka. Sebelum Yaya sempat menolak lagi, Azka telah menarik tangannya dengan paksa, sehingga membuat gadis berwajah datar itu sedikit kesakitan.
"Ayo~" ucap Azka semangat sambil membawa (baca: menyeret) Yaya keluar kelas. Yaya yang ditarik paksa oleh Azka hanya bisa pasrah, ditambah lagi gadis yang membawanya itu berteriak jika ada orang yang menghalangi jalannya.
"MINGGIIRRR!~" teriak Azka sambil terus berlari di koridor. Ada beberapa murid yang kaget saat mendengar teriakan Azka dan ada juga yang hanya menggelengkan kepala mereka.
Sementara itu, Boboiboy dan kawan – kawan melihat Azka membawa Yaya dengan tatapan heran.
"Apa dia tidak takut menarik Yaya seperti itu?" tanya Gopal kepada teman serekannya.
"Haiya kau ini Gopal, dia kan murid baru. Jadi wajar saja dia tidak takut." jawab Ying, sedangkan Gopal yang mendengar jawaban itu hanya terkekeh kecil.
"Tapi, aku merasa aneh dengan murid baru itu." kata Fang dengan pose berpikir.
"Eh? Aneh? Aneh kenapa?" tanya Ying.
"Aneh saja, dia langsung mengetahui nama Yaya, padahal Yaya tidak menyebutkan namanya." jawab Fang.
"Mungkin Yaya sempat memperkenalkan diri pada Azka, tapi kau tidak dengar." kata Gopal.
"Tidak, aku berada tepat di depannya. Jadi meskipun dia berbicara dengan sangat pelan, aku pasti masih bisa mendengarnya." ucap Fang kepada pemuda bertubuh gempal itu.
"Heleh, bilang saja kalau kau tidak dengar!" kata Gopal dengan nada yang meremehkan.
"APA!?"
"Ish, sudahlah! Kalian jangan bertengkar hanya hal seperti itu! Bisa saja Azka itu temannya Yaya." Ucap Boboiboy yang mulai kesal dengan argumen mereka.
"Yalo, kalian jangan berperasangka buruk dulu!" kata Ying membenarkan ucapan Boboiboy.
"Eh, bukan aku yang mulai! Dia yang mulai!" ucap Gopal sambil menunjuk pemuda di sampingnya. Muncullah perempatan di dahi pemuda berambut Raven itu.
"APA?!"
"Ish, sudahlah kalian berdua! Tidak baik membicarakan orang lain seperti itu! Lagi pula gadis itu hanya sekedar murid baru, kan? Untuk apa kita permasalahkan?" ucap Boboiboy menghentikan Gopal dan Fang yang hampir bertengkar.
"Tapi-"
"Sudahlah! Ayo kita ke kantin!" ucap Boboiboy memotong kalimat Fang. Fang, Gopal dan Ying mengikuti Boboiboy yang berjalan menuju kantin.
KRRRIIINNGGG
Mendengar bel tanda masuk telah berbunyi, semua murid pun segera memasuki kelas mereka masing-masing. Kenapa? Karena setelah istirahat guru yang mengajar setiap kelas adalah guru yang cukup ditakuti di sekolah, terutama bagi kelas yang mendapat jadwal pelajaran Matematika.
Siapkan saja mental dan fisik kalian, karena guru yang mengajar pelajaran tersebut merupakan guru tergalak di sekolah, tidak jarang ada yang menjadi korban kemarahan guru itu.
Semua kelas yang ada di sekolah itu menjadi sunyi, kecuali kelas 11-C (kelas Boboiboy dan kawan-kawan) yang banyak sekali murid yang berlari kesana kemari. Ada yang main kejar-kejaran, main pesawat kertas dan lain-lain.
Kenapa? Sebenarnya sekarang adalah waktunya pelajaran Matematika, tapi guru yang mengajar pelajaran itu telah pindah ke kota lain. Mendengar hal itu seluruh murid pun bersorak kegirangan, ada yang lompat-lompat bahkan ada yang sujud syukur. Oke mungkin sedikit berlebihan, tapi itulah kenyataannya.
"Hei...menurut kalian guru Matematika kita nanti seperti apa?" tanya Fang.
"Hmmm...entah, tapi aku harap guru itu baik dan sabar." Jawab Boboiboy.
"Aku setuju! Aku juga berharap guru baru kita tidak membawa rotan." ucap Gopal dengan antusias.
"Heleh, bilang saja kalau kau tidak mau kena pukul lagi." kata Ying menatap Gopal malas.
"Hehehe..." Gopal menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Tiba-tiba ada seorang murid yang berlari dan memasuki kelas tersebut.
"CIKGU DATANG!" teriak pemuda itu panik, dan dalam sekejap seluruh murid di kelas itu menduduki kursi mereka masing masing.
"BANGUUNNN...selamat pagi cikgu."
"Selamat pagi cikgu."
Sang guru pun memasuki kelas, guru itu mengenakan topeng berwarna merah dan kacamata berbingkai biru muda yang menutupi matanya. Beliau mengenakan pakaian ketat ala super hero dengan dasi berwarna kuning di lehernya, tidak lupa ikat pinggang berwarna Gold yang terpasang dipinggangnya dengan hurf "P" di tengah sabuk tersebut.
Boboiboy yang melihat guru baru itu membelakkan mata tidak percaya. Sedangkan Fang dan Ying, mulut mereka menganga lebar dan muka yang bisa di bilang Absurd karna sangking kagetnya.
Tapi berbeda dengan Gopal, matanya sudah berlinang air mata dengan senyuman di wajahnya. Sepertinya hanya dia yang merasa bahagia sekarang.
'PAPA ZOLA!?' teriak Boboiboy, Ying, dan Fang dalam hati tidak percaya.
"Selamat pagi murid-murid kebenaran...duduk ke kursi kamu masing-masing!" ucap Papa Zola dengan pose super heronya.
"Umm...cikgu..." panggil Boboiboy ragu sambil mengangkat tangannya.
"Ada apa wahai anak muda~?"
"Kenapa cikgu bisa mengajar disini?" tanya Boboiboy.
"Sebenarnya...menjadi guru Matematika adalah cita-cita cikgu dari taman kanak-kanak..." jawab Papa Zola sambil menerawang jauh.
Flashback of Papa Zola on
"Murid-murid, apa cita-cita kalian saat sudah besar nanti?" tanya seorang guru kepada murid-muridnya.
"Saya mau jadi pengacara!" jawab seorang murid dengan semangat sambil mengangkat tangannya.
"Saya mau jadi dokter cikgu." jawab murid lain yang tak kalah semangat.
"Saya mau jadi...guru Matematikaaa!" ujar seorang murid yang mengenakan topeng berwarna merah sambil berdiri di kursi dan berpose ala super hero.
"Saya akan menambahkan kebaikan dan mengurangi kejahatan..." ucap murid itu yang sudah kelewat semangatnya.
Flashback of Papa Zola off
"...dan bapak akan aljabarkan kejahatan dengan..." dan seterusnya dari celotehan Papa Zola, Boboiboy hanya menatap malas sang guru. Sedangkan Gopal menatap dengan sangat antusias.
"Sudahlah cikgu, kapan pelajaran akan dimulai?" tanya Fang yang sudah mulai bosan dengan cerita dan celotehan dari Papa Zola.
"Ah...eh iya...hmm...BAIKLAH! untuk memulai pertemuan pertama kita, bapak ada surprise untuk kalian." Ucap Papa Zola dengan pelan pada akhir kalimat. Mendengar hal itu seluruh murid mendesah kagum (-Yaya). Mereka penasaran, kira-kira kejutan apa yang akan Papa Zola berikan pada mereka?
"Wah...surprise! untuk ulang tahun saya, kan cikgu?" tanya Gopal terlalu percaya diri.
"SEJAK KAPAN BAPAK MAU MEMBERIKANMU SURPRISE HAH? APA KAMU PIKIR ULANG TAHUN KAMU BISA DI RAYAKAN KAPAN SAJAAAA?" teriak Papa Zola kepada Gopal dengan kuah yang keluar dari mulutnya.
"Hehehe..." kekeh Gopal.
"Baiklah, kalian semua mau tahu surprise dari bapak?" tanya Papa Zola.
"Mau...mau!" jawab semua murid (-Yaya dan Fang) dengan semangat.
"Kalau begitu tutup mata kamu semua. Jangan mengintip ya!" mendengar perintah sang guru, seluruh murid menutup mata mereka. Tak lama kemudian Papa Zola berteriak...
"BUKA MATA KAMU SEKARANG!" seluruh murid pun membuka mata mereka dan kaget saat melihat apa yang ada di depan mereka, yaitu sebuah soal yang tertulis di papan tulis. Sebenarnya soalnya adalah...
'1+1+1-1+1-1+1-1-1+1+1-1+1-1+1-1+1+1-1-1+1-1-1+1+1-1-1+1+1-1+1-1-1=?'
"JAWABLAH SOAL MATEMATIKA KEBENARAN INI, SEKARANG!" perintah Papa Zola kepada seluruh murid di kelas itu.
Seluruh murid pun mulai menghitung, mereka tidak menyangka akan di berikan soal Absurd seperti ini. Wajah mereka mulai bingung, ada yang masih berusaha menghitung seperti Ying dan ada juga yang sudah mengacak rambutnya karena sangking bingung dan frustasi seperti Gopal. Kecuali Fang, dia sudah sangat hafal dengan soal yang di berikan Papa Zola sewaktu Sekolah Dasar dulu.
Sebelum Fang mengangkat tangannya, ada murid lain yang mengangkat tangan lebih dulu. Papa Zola yang melihat murid itu mengangkat tangannya pun langsung menuju ketempat duduk murid itu.
"IYA, JAWABANNYA ADALAH..." teriak Papa Zola sambil menunjuk anak itu.
"Satu." jawab sang murid dengan nada malas.
"Ya...jawaban kamu benar! Selamat anak muda...selamat!" kata Papa Zola sambil menjabat tangan murid itu. Mendengar penuturan dari Papa Zola, seluruh murid mendecak kagum.
"Wuish, pandai sekali dia."
"Ha ah, tidak disangka dia bisa menjawab soal seperti itu."
Fang pun menjadi kesal, dia kesal karena seharusnya dia yang menjawab soal itu. Seharusnya tangannya yang sedang dijabat oleh Papa Zola dan seharusnya dia yang mendapat pujian dari murid yang lain. Fang pun memutar badannya menjadi kebelakang dan membelakkan mata kaget, karena yang menjawab soal itu adalah...
"Yaya..." gumam Fang.
"Siapakah nama kamu, wahai anak muda...?" tanya Papa Zola.
"Yaya." jawab Yaya.
"APAAAA?!" seluruh murid memandangi Papa Zola yang terlihat kaget.
"Ti...ti...TIDAK MUNGKIN! Kamu bukan Yaya!" ucap Papa Zola tidak percaya.
"Tapi...dia itu memang Yaya cikgu." kata Fang.
"TIDAK MUNGKIN! KENAPA? KENAPA KAMU BERUBAH MENJADI SEPERTI INI?" tanya Papa Zola sambil mengguncangkan bahu Yaya.
Yaya yang mendengar pertanyaan Papa Zola pun tersentak, dia bingung harus menjawab apa. Tidak sengaja dia bertemu tatap dengan Azka, gadis berambut biru tua itu tersenyum kepada Yaya. Melihat senyuman itu Yaya langsung memalingkan wajahnya, dia menundukkan kepalanya tak berani menatap guru yang ada di depannya.
Papa Zola yang tidak mendapat respon dari Yaya pun melepaskan cengkramannya dari bahu sang gadis, dan beralih ke bahu pemuda yang mengenakan topi berwarna jingga.
"Boboiboy,kenapa kawan kamu bisa seperti itu HAH?" tanya Papa Zola yang tanpa sengaja memuncratkan kuahnya ke muka pemuda itu.
Sekarang Boboiboy yang menjadi bingung, jika memberitahukan penyebab Yaya berubah maka mau tidak mau dia harus menceritakan kejadian 3 tahun yang lalu. Dia melihat seluruh kelas dan melihat wajah seluruh murid sudah mulai tegang, ada yang melihat dengan tatapan gugup dan ada juga yang melihat dengan tatapan penasaran.
Pemuda itu pun melihat ketiga sahabatnya, baik Ying, Gopal dan Fang mereka hanya menundukkan kepala saja. Boboiboy yakin, pasti sahabat-sahabatnya itu juga sedang bingung seperti dirinya, tapi apa yang harus dia jawab sekarang? Boboiboy menghela nafas pasrah 'Aku harus mengatakannya.' batin Boboiboy meyakinkan diri.
Tapi sebelum Boboiboy membuka suara, Yaya sudah berdiri dari kursinya.
"Kemauan!" seru Yaya, seluruh murid dan Papa Zola menoleh ke arah gadis itu. Papa Zola mengernyit bingung.
"Apa kamu bilang tadi?" tanya Papa Zola. Yaya menghela nafas sejenak kemudian membuka suara.
"Saya berubah seperti ini karena kemauan saya sendiri cikgu. Karena ini sedikit pribadi, saya harap cikgu Papa tidak memaksa saya untuk menjelaskan lebih jauh." kata Yaya kepada Papa Zola. Papa Zola mengangguk mengerti dan berjalan ke depan kelas.
"BAIKLAH! Sebelum mengakiri pelajaran kebenaran, bapak memiliki tugas penting untuk kamu semua." Ucap Papa Zola.
"Tugas penting? Tugas apa cikgu?" tanya salah satu murid.
"TUGASNYA ADALAH...MENGERJAKAN SOAL DI LEMBARAN INI..." teriak Papa Zola sambil mengangkat lembar soal di tangan kanannya. Murid-murid yang melihat lembar soal di tangan Papa Zola pun menjadi sedikit gemetar, mereka takut soal yang ada di tangan Papa Zola akan Absurd seperti yang sebelumnya.
"Tapi...karena lembaran ini tidak cukup jumlahnya maka...cikgu akan membagi kamu dalam beberapa kelompok." kata Papa Zola.
Papa Zola pun menyebutkan kelompok yang terbentuk dalam kelas itu. Ada yang kegirangan karena dapat satu kelompok dengan temannya dan ada juga yang mendesah kecewa karena tidak bisa satu kelompok dengan orang yang diinginkan.
"Kelompok selanjutnya adalah Fang, Ying dan Gopal." ucap Papa Zola.
Murid-murid atau lebih tepatnya murid perempuan mendesah kecewa karena ternyata Fang tidak satu kelompok dengan mereka. Dan ada beberapa murid perempuan yang melempar Death glare kearah Ying, tapi Ying sama sekali tidak sadar kalau sedang ditatap tajam oleh beberapa orang.
"Dan kelompok terakhir adalah Boboiboy, Azka dan Yaya." Ucap Papa Zola (lagi).
Azka yang mendengar itu pun tersenyum senang, berbeda dengan Boboiboy dan Yaya yang keliahatan kaget. Tanpa sadar, Boboiboy dan Yaya berdiri dari kursi mereka.
"APA?!"
TBC
Hai semuanya...maaf baru update sekarang
Sebenarnya saya sedang mudik jadi harus bisa bagi waktu, tapi malah jadi begini T_T
Karena chapter berikutnya belum pada tahap pengetikan, mungkin updatenya akan jadi sedikit lama#disiramairpanas
Jadi shoujo harap reader sabar menunggu
Dan karena sekarang sedang memasuki bulan Ramadhan saya ingin mengucapkan
Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin.
Segini saja dari saya
Mohon review para reader sekalian~
