Chapter sebelumnya
"Kelompok selanjutnya adalah Fang, Ying dan Gopal." ucap Papa Zola.
Murid-murid atau lebih tepatnya murid perempuan mendesah kecewa karena ternyata Fang tidak satu kelompok dengan mereka. Dan ada beberapa murid perempuan yang melempar Death glare kearah Ying, tapi Ying sama sekali tidak sadar kalau sedang ditatap tajam oleh beberapa orang.
"Dan kelompok terakhir adalah Boboiboy, Azka dan Yaya." Ucap Papa Zola (lagi).
Azka yang mendengar itu pun tersenyum senang, berbeda dengan Boboiboy dan Yaya yang keliahatan kaget. Tanpa sadar, Boboiboy dan Yaya berdiri dari kursi mereka.
"APA?!"
Disclaimer: Boboiboy, dkk adalah milik Animonsta studio
Genre(s): Angst, Hurt/Comfort, Drama, Romance, dll
Pairing: Boboiboy x Yaya, Fang x Ying, dll
Warning: Typo, OOC, Alur kecepetan/kelamaan, Cerita gaje, dll
Chapter 4: I'm not understand!
Bagaimana perasaanmu saat dipasangkan dengan orang yang tidak ingin kamu dekati? Pasti kaget bukan? Itulah yang dirasakan oleh Boboiboy dan Yaya sekarang.
Kedua orang itu menatap tidak percaya kearah guru mereka. Bagaimana bisa sang guru menyatukan mereka segampang menepuk jidat? Padahal hubungan mereka saat ini tengah...
"Sebenarnya kenapa kalian berdua nih, haaahh? Kenapa kalian begitu terkejut seperti itu? Kalian tak suka dengan keputusan saya, HAHH?" tanya Papa Zola sembari menunjuk Yaya dan Boboiboy yang masih dalam posisi berdiri.
Pandangan seluruh murid terkunci pada Yaya dan Boboiboy. Mereka dapat melihat dua orang berbeda Gender itu memasang wajah terkejut bercampur bingung.
Yaya sedikit tersentak seakan mendapatkan kembali kesadarannya, dia mengedarkan pandangannya keseluruh kelas, dan melihat seluruh murid sedang melihatnya dan Boboiboy dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.
Gadis itu menghembuskan napasnya perlahan dan menatap sang guru dengan ekspresi datar.
"Tidak ada apa-apa cikgu," jawab Yaya singkat sebelum sang gadis kembali duduk ke kursinya dan mengalihkan pandangannya ke pemandangan luar jendela.
Boboiboy pun perlahan kembali mendudukan dirinya ke kursi. Pemuda bertopi jingga itu menoleh ke belakang dengan takut-takut, dan melihat Yaya yang menatap pemandangan dari jendela dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.
Papa Zola yang mendengar jawaban Yaya mengernyit dahi tidak mengerti, tapi kemudian sang guru mengangguk sebelum berbicara.
"BAIKLAH! Tugas ini harus kalian kumpulkan minggu depan. Tapi, jika minggu depan tak dikumpulkan... maka cikgu terpaksa menghukum kamu semua~" seru Papa Zola.
"Hu... hukuman apa cikgu?" tanya Gopal dengan badan bergetar. Entah mengapa, pemuda bertubuh gempal itu merasakan firasat buruk.
"Hohoho... sepertinya kamu benar-benar ingin tahu anak muda," ujar Papa Zola sedikit berbasa-basi.
"HUKUMANNYA ADALAH...KALIAN HARUS UJIAN MATEMATIKAAA... MINGGU DEPAAAN!" teriak Papa Zola. Jangan lupa dengan hujan yang keluar dari mulutnya.
Para murid yang mendengar penuturan dari Papa Zola membelalakkan mata tidak percaya.
"APA?! TIDAAAKK!"
"Hah..."
"Mau berapa kali kau menghela napas seperti itu, hah?"
"Tidak tahu, tidak peduli."
Fang menatap Boboiboy dengan tatapan iba. Pemuda itu tahu, apa yang tengah dirasakan oleh sahabat sekaligus rivalnya itu dan dia merasa tidak tega. Tapi, Fang juga tidak bisa melakukan apa-apa.
"Sudahlah Boboiboy, kau pasti bisa melewati semua ini. Bersemangatlah!" hibur Ying sambil menepuk punggung sahabat masa kecilnya.
Lagi-lagi Boboiboy menghela napas berat, pemuda itu mengeratkan pegangannya pada tasnya. Boboiboy menoleh kearah Ying dan tersenyum kecil.
"Terima kasih Ying," ucap Boboiboy sembari tersenyum kearah Ying.
Ying tahu bahwa senyum yang Boboiboy berikan padanya adalah senyuman palsu. Tapi gadis itu tidak memaksa sahabatnya untuk tersenyum tulus, Ying membalas senyuman Boboiboy sebelum mengalihkan pandangannya kearah jalan yang tengah dia dan teman-temannya lewati.
Keheningan menyelimuti mereka. Tidak ada yang berani untuk membuka suara bahkan Gopal sekalipun. Fang, Ying dan Gopal melihat Boboiboy dengan tatapan prihatin dan kasihan.
Mereka tahu, bahwa Boboiboy sedang bingung karena dia harus sekelompok dengan sahabat-ralat-mantan sahabat mereka, Yaya.
Sedangkan Boboiboy sendiri sedang merasa gelisah. Pikiran negatif pun menyelimuti hati dan otak pemuda bertopi dinosaurus itu.
Bagaimana jika Yaya masih marah padanya?
Bagaimana jika Yaya tidak mau menerimanya?
Bagaimana jika Yaya tidak mau menatapnya?
Bagaimana jika-
'Arrgg... cukup!' batin Boboiboy pada dirinya sendiri. Dia kemudian menggelengkan kepalanya dengan kuat menyebabkan kepalanya sedikit sakit.
Pemuda berkekuatan lima elemen itu berhenti berjalan dan memegangi kepalanya membuat Fang, Ying dan Gopal menjadi khawatir.
"Kau baik-baik saja Boboiboy?" tanya Gopal menepuk pundak sahabatnya.
Boboiboy menggeleng kecil.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sakit kepala saja," jawab Boboiboy.
Sebelum mereka kembali berjalan, sebuah suara nyaring memasuki telinga mereka.
"BOBOIBOY!"
Boboiboy, Ying, Gopal, dan Fang menengok ke sumber suara dan melihat Azka tengah berlari kearah mereka sambil menggandeng tangan seseorang.
Gadis itu berhenti di hadapan mereka dan mengatur napasnya sejenak. Boboiboy dan yang lainnya sedikit tersentak. Bukan, bukan karena Azka menghampiri mereka.
Melainkan gadis yang dibawa oleh Azka.
Azka yang sudah bisa mengatur napasnya pun menegakkan badannya dan menatap Boboiboy dengan antusias.
"Hai Boboiboy, perkenalkan namaku Azka. Salam kenal ya," ucap Azka dengan riang.
Jujur, sebetulnya Ying, Fang dan Gopal sedikit tidak suka dengan cara bicara Azka yang seakan-akan menganggap mereka tidak ada disana.
Boboiboy menoleh kearah Azka dan melempar senyuman tipis. "Aku Boboiboy, salam kenal juga," balasnya.
Baiklah, sesungguhnya cucu dari Tok Aba itu sedang kelelahan hari ini dan sudah berencana untuk segera pulang kemudian beristirahat. Tapi sepertinya hal itu tidaklah mudah.
Azka melepaskan genggamannya dari gadis disampingnya dan berjalan mendekati Boboiboy.
"Hei, kita satu kelompok, kan? Apa kira-kira kau bisa mengerjakan tugas dari Papa Zola besok?"
APA?!
Salah. Sungguh itu adalah pertanyaan yang salah, sangat salah. 'Yang benar saja?' teriak Boboiboy dalam hati. Cukup hari ini dia dikejutkan oleh kehadiran Papa Zola di sekolahnya, satu kelompok dengan Yaya dan kemudian dia harus mengerjakan tugas kelompok dan itu adalah besok!
Sungguh, rasanya dia ingin lari sekarang.
"Ke-kenapa harus besok? Memangnya, hari lain tidak bisa?" tanya Boboiboy heran.
"Karena besok adalah hari Sabtu, sedangkan hari Minggu aku ada acara keluarga," jawab Azka.
"Terus, kenapa tidak sehabis pulang sekolah saja?"
"Aku tidak bisa, karena sehabis pulang sekolah aku harus les privat sampai malam. Jadi, selama hari sekolah aku nggak pernah ada waktu buat istirahat."
Bagus.
Bagus sekali.
Lengkap sudah masalahnya hari ini. Tidak, bahkan besok dia masih belum terbebas dari masalah.
Kenapa takdir dan keadaan selalu menguji dirinya?
Boboiboy menghela napas berat.
"Baiklah, besok jam 7 kita mengerjakan tugasnya di rumahku," ujar Boboiboy dengan berat hati.
Azka yang mendengar penuturan dari Boboiboy pun tersenyum lebar. Dia membalikkan badannya dan menggenggam tangan gadis yang dibawanya.
"Kau sudah dengar, kan? Jadi, besok kau tidak boleh terlambat Yaya."
Benar, gadis yang sedari tadi dibawa lari bersama Azka adalah Yaya. Yaya hanya bergumam dan kembali memainkan handphone pintarnya.
"Baiklah, besok kita berkumpul di kedai Tok Aba ya! Sampai jumpa besok Boboiboy!"
Setelah mengatakan itu, Azka segera berlari sambil menggandeng tangan Yaya dan meninggalkan Boboiboy, Ying, Fang dan Gopal yang masih terdiam disana.
"Ish, kenapa 'dia' belum datang juga?"
Di markas kotak, terlihat makhluk berkepala kotak berwarna hijau tengah mondar-mandir dengan raut wajah kesal. Robot yang sedari tadi bersamanya pun terheran-heran dengan apa yang dilakukan makhluk tersebut.
"Incik bos, kenapa kau terlihat sangat kesal?" tanya robot yang bernama Probe.
"Bagaimana aku tidak kesal? Sudah sejak tadi aku tunggu 'dia', tapi 'dia' tidak datang juga," jawab Adudu kesal. Makhluk planet ata Ta Tiga itu melihat kearah jam yang telah menunjukkan pukul 23.00.
"Sabar sedikitlah, incik bos! 'Dia' pasti sedang sibuk hari ini. Jadi wajar jika 'dia' sedikit terlambat," ucap Probe yang berusaha menenangkan bosnya.
"Ish! Tapi ini sudah sangat terlambatlah, Probe! Awas saja, jika 'dia' mengingkari janjinya aku akan-"
"Kau akan apa?"
Baik Adudu maupun Probe sama-sama menoleh ke belakang dan melihat 'orang' yang mereka tunggu menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi.
"I-i-i-itu, jika k-kau tidak d-d-dat-datang a-aku akan mmm... ah! Aku tidak akan bisa membuat minuman untukmu! Ya! Ha-hahaha, i-itu yang aku maksud!" ujar Adudu gelagapan. 'Orang itu' hanya mendengus mendengarnya.
"Ya... ya... ya, terserah kau saja," ujar 'orang itu' tidak peduli.
"Ngomong-ngomong, karena kau sudah disini kita mulai saja sekarang," ucap Adudu.
"Baiklah. Nah, apa yang ingin kau tanyakan?" tanya 'orang itu' dengan nada santai.
"Bagaimana rencananya? Apa berjalan lancar?" tanya Adudu. 'Orang itu' tertawa pelan.
"Tentu saja. Kau pikir aku ini selalu gagal sepertimu?" tanya 'orang itu' dengan senyum meremehkan.
"Kau seperti biasa, selalu memancing amarahku," ucap Adudu mulai kesal.
"Eits, jangan marah! Aku hanya bercanda, kok! Meski itu memang benar," kata 'orang itu' sedikit mengejek.
"APA KAU BILANG?!" tanya Adudu yang mulai tersulut emosi.
"Hahahaha... maaf, aku benar-benar hanya bercanda! Ya... begitulah. Aku sudah bisa mengendalikan dia belakangan ini," ucap 'orang itu'.
"Bagaimana dengan Boboiboy? Kau tidak lupa dengan rencana yang 'itu', kan?" tanya Adudu dengan tatapan curiga.
"Tentu saja aku tidak lupa. Untuk urusan Boboiboy sedang aku urus jadi kau tidak perlu khawatir," jawab 'orang itu'.
"Hahahaha, bagus! Dengan begini, rencana kita akan berjalan tanpa gangguan," ucap Adudu disertai tawa liciknya.
"Jangan senang dulu! Bagaimana dengan 'alat' itu? Kau sudah menyelesaikannya, kan?" tanya 'orang itu'.
"Tentu. Semuanya sudah selesai. Tinggal tambahkan satu bahan lagi, maka 'alat' itu akan menjadi sempurna," ucap Adudu dengan bangga.
"Hahaha. Kerja bagus! Tidak sia-sia aku bekerja sama denganmu," ucap 'orang itu'.
"Tentu saja. Aku adalah alien paling cerdik di plenet ata Ta Tiga," ucap Adudu dengan percaya diri.
"Ya... terserah kau mau bilang apa," ucap 'orang itu' datar. Tak lama, 'orang itu' membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Eh... kau sudah mau pergi?" tanya Probe yang sejak tadi terabaikan.
"Iya. Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan. Sampai jumpa," ucap 'orang itu' sebelum benar-benar keluar dari markas kotak.
"Ada apa dengan cucu Atok, ni? Manyun saja dari tadi," Boboiboy mendongak dan melihat Tok Aba tengah berdiri didepannya sambil memegang secangkir coklat panas.
"Hmm... tidak ada apa-apa, Atok," bohong Boboiboy.
"Heleh... tidak mungkin kamu baik-baik saja, wajahmu sudah dapat Atok baca sejak tadi. Ini, coklat panas agar kau lebih tenang," ujar Tok Aba sembari memberikan secangkir coklat panas kepada cucunya.
Boboiboy menerima coklat panas tersebut. Dengan perlahan, dia mengarahkan mulutnya ke pinggir cangkir dan meminum coklat panasnya sedikit demi sedikit. Benar, coklat panas dari Tok Aba membuatnya menjadi lebih tenang. Tapi tetap saja dia merasa gelisah.
Gelisah karena akan bertemu Yaya.
Entah mengapa, tapi Boboiboy merasa bahwa sahabatnya yang indentik dengan warna pink (yang sekarang menjadi hitam) itu nampak mengeluarkan ekspresi dinginnya dengan cara yang dibuat-buat.
Bahkan, ekspresi dinginnya yang ada pada Halilintar terkesan lebih alami dibandingkan Yaya. Meskipun gadis itu terlihat lebih dingin dan cuek. Tapi tetap saja, ada yang mengganjal di wajahnya.
Terutama di matanya.
Boboiboy segera tersadar dari lamunannya dan kemudian melanjutkan menikmati secangkir coklat panas ditangannya.
"Hai, Boboiboy!"
"Uhuk... uhuk... uhuk...!"
Azka panik saat melihat Boboiboy terbatuk-batuk. Awalnya, gadis itu hanya ingin mengejutkan Boboiboy saja. Tapi, dia tidak menyangka kalau tindakannya tadi membuat pemuda bertopi jingga itu sampai tersedak.
"Ma-maaf, Boboiboy! Kau tidak apa-apa?" tanya Azka sambil menepuk pelan punggung lebar Boboiboy.
"Ugh... iya. Aku tidak apa-apa, kok!" jawab Boboiboy yang sudah merasa lebih baik.
Boboiboy bangun dari posisi duduknya. Dia melihat sekitar. Tidak, tidak ada gadis dengan kerudung hitam disekitar sana. Boboiboy menatap Azka yang ada di sampingnya.
"Um... Azka, dimana Yaya?" tanya Boboiboy.
"Oh, Yaya bilang dia akan sedikit terlambat. Entah ada apa gitu, dia nggak ngasih tahu," jawab Azka sekenanya.
Boboiboy mengangguk paham. Setidaknya, dia tidak bertemu Yaya sekarang.
"Boboiboy, ayo! Kita mengerjakan tugasnya dirumahmu, kan?" tanya Azka.
"Ah, iya!" jawab Boboiboy sebelum berjalan menuju rumahnya bersama Azka.
"Yaya, sudah cukup! Hentikan semua ini!" Yaya menatap ibunya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
"Jika aku menghentikan ini semua, kalian akan terluka. Tidak, aku tidak ingin hal itu terjadi," ucap Yaya tegas.
"Tapi, bagaimana dengan teman-temanmu? Kau ingin membuat mereka terlibat dalam hal ini? Mereka tidak tahu apa-apa, Yaya. Jangan korbankan mereka!" ujar ayah Yaya bijaksana.
Yaya terdiam. Dia tahu teman-temannya tidak tahu apa-apa. Dia tahu mereka tidak boleh dilibatkan. Tapi Yaya tidak bisa melakukan apa-apa. Yaya bingung harus mengambil jalan mana. Gadis berkerudung hitam itu merasa dia selalu salah dibanyak sisi.
"Ayah, ibu, Yaya mengambil keputusan ini tidak sembarangan. Yaya juga tidak mau melibatkan mereka tapi Yaya tidak bisa. Jika Yaya mengabaikan perintah 'dia' kalian akan terluka," Yaya mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan.
"Aku memilih agar mereka terlibat, karena aku tahu mereka itu cukup kuat untuk mengalahkan 'dia'. Jika pada akhirnya aku tidak ada disini lagi, mereka bisa mengeluarkan ayah, ibu, dan Totoitoy dari sini. Jadi, tolong mengertilah!" sambung Yaya panjang lebar.
"Jangan katakan kau tidak akan ada disini lagi, nak! Ka-kau akan baik-baik saja. Ibu yakin kau dan teman-temanmu dapat menyelesaikan masalah ini," ucap ibu Yaya yang hampir menangis karena mendengar perkataan anaknya.
"Maaf, ibu! Aku bukannya pesimis, tapi ini memang salah satu rencana orang itu. Aku tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi nantinya, tapi aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk datang kesini," ucap Yaya sebelum sang gadis memakai kembali kacamatanya dan keluar dari ruangan tersebut.
Boboiboy sama sekali tidak bisa konsentrasi dalam mengerjakan soal. Pemuda itu mendongak untuk melihat jam dinding di kamarnya. Sudah dua jam terlewati, tapi Yaya masih belum datang.
Muncul kekhawatiran dalam hati Boboiboy. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Yaya? Hei, wajar saja jikalau dia khawatir karena pasalnya, Yaya bukan lagi gadis yang memiliki kekuatan memanipulasi grafitasi. Boboiboy takut jikalau gadis itu tiba-tiba diserang Adudu dan Probe karena mereka belum tahu kalau Yaya sudah keluar dari kelompok palahwan super.
"Boy... Boboiboy!" panggil Azka. Boboiboy yang sedari tadi melamun tersadar dan melihat kearah gadis di sampingnya.
"Eh... iya, ada apa?" tanya Boboiboy.
"Apa ada soal yang susah? Kau sejak tadi baru mengerjakan tiga soal saja, lho! Kau ingin kubantu?" tanya Azka seraya menawarkan diri.
"Ah... iya. Aku kurang mengerti soal nomor dua puluh empat. Bisakah kau mengajarkanku?" tanya Boboiboy. Azka tersenyum seraya mengangguk.
Tok tok tok
Sebelum Azka sempat menjelaskan soal matematika kepada Boboiboy, seseorang mengetuk pintu rumah pemuda itu. Refleks, Boboiboy bangkit dari posisi duduknya dan berjalan keluar dari kamar meninggalkan Azka sendirian disana.
Tok tok tok
"Sebentar!" ucap Boboiboy yang sudah ada di depan pintu rumahnya.
Kriet
Pintu pun terbuka dan menampilkan seorang gadis berkerudung hitam disana. Boboiboy membeku. Sekarang, baik Boboiboy maupun sang gadis sama-sama terdiam, yang bisa mereka lakukan dalam keheningan itu hanyalah saling menatap dengan tatapan yang berbeda.
Jika Boboiboy menatapnya dengan tatapan terkejut sekaligus tatapan menyesal, maka berbeda dengan Yaya yang menatapnya dengan tatapan datar. Meskipun Yaya menatap pemuda itu datar tapi, di dalam hatinya terdapat banyak emosi yang memberontak untuk segera dikeluarkan.
"Boboiboy, siapa yang dat- eh... Yaya rupanya."
Boboiboy dan Yaya melihat ke sumber suara. Azka yang baru saja menuruni tangga berjalan kearah mereka.
"Yaya! Kau itu sudah sangat terlambat tahu! Kamu tadi memangnya kemana dulu, sih?" tanya Azka sedikit kesal.
"Maaf, tadi aku pergi pasar untuk membeli bahan makanan," ucap Yaya berbohong.
"Tapi kan aku sudah bilang, jangan sampai terlambat! Kamu malah telat 2 jam," ujar Azka yang kemudian melipat tangannya di depan dada. Boboiboy yang melihat pertengkaran kecil di depannya itu membuka suara.
"Oke, karena Yaya sudah disini, sebaiknya kita masuk dan segera menyelesaikan tugas dari Papa Zola," usul Boboiboy yang mempersilahkan kedua gadis itu untuk masuk kerumahnya.
Saat mereka memasuki kamar Boboiboy, Yaya melihat sekitar. Sudah cukup lama dia tidak mengunjungi kamar pemuda itu tapi desainnya masih tetap sama. Tembok yang memiliki nuansa layaknya luar angkasa itu membuatnya nyaris tertawa. Ternyata, Boboiboy masih suka tipe yang seperti itu tanpa menyadari bahwa dirinya telah berubah menjadi seorang remaja.
Ketiga remaja itu segera duduk di lantai yang tepat berada di samping kasur Boboiboy. Yaya kemudian mengeluarkan buku dan juga alat tulisnya dari dalam tas.
"Nah... Boboiboy, kau tadi bertanya soal nomor dua puluh empat, kan?" gerakan tangan Yaya terhenti saat mendengar Azka mengeluarkan suaranya.
"Eh, I-iya. Aku kurang mengerti maksud dari soalnya," mata abu-abu gadis itu bergulir dan melihat Boboiboy dan Azka tengah berbincang-bincang dengan akrabnya.
"Masa kamu nggak ngerti sama soal seperti ini? Ini kan soal dari pelajaran SMP," ujar Azka menatap heran Boboiboy. Dia mendekati Boboiboy dan mulai membantu pemuda itu mengerjakan soal.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata abu-abu terus memperhatikan mereka. Yaya sadar bahwa sejak dia memperhatikan mereka berdua dia merasakan perasaan tertusuk di dadanya. Sang gadis tertawa sedih dalam hati.
Hah... dia jadi teringat saat dia SD dulu. Saat itu, Boboiboy dan Gopal selalu saja lupa mengerjakan PR di rumah dan pada akhirnya mereka selalu menyelesaikan tugas mereka di sekolah.
Yaya yang pada saat itu masih bersama Boboiboy dan yang lainnya selalu membantu mereka berdua dalam menyelesaikan tugas. Meskipun selalu diiringi dengan pukulan rotan, Boboiboy dan Gopal dapat menyelesaikan tugas mereka sebelum bel sekolah berbunyi.
Kini dia hanya menghela napas saat melihat posisinya telah digeser oleh orang lain. Lebih tepatnya telah digeser oleh Azka.
"Yaya," Yaya tersentak saat melihat Azka kini telah ada di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Yaya yang berusaha terlihat biasa.
"Bisakah kau gantikan aku mengajari Boboiboy? Aku ingin ke toilet dulu. Bisa, ya? Sebentar saja, kok!" ujar Azka yang tengah berusaha menahan rasa ingin buang air yang melanda sejak tadi.
Sebelum Yaya sempat protes, Azka telah lebih dulu berlari menuju toilet meninggal Boboiboy dan Yaya yang terdiam disana.
Wuuusshh
Terdengar dengan jelas suara angin bertiup dari jendela kamar Boboiboy yang terbuka menandakan keadaan hening sedang terjadi di kamar pemuda itu. Baik Yaya maupun Boboiboy sama-sama enggan untuk membuka suara.
Boboiboy sungguh tidak suka keadaan ini. Oh ayolah! Ini sungguh konyol! Dia hanya ingin mengerjakan soal dari Papa Zola, tapi kenapa justru dia terjebak dalam situasi seperti ini?
Boboiboy melihat kearah Yaya. Pemuda itu tak dapat melihat dengan jelas wajahnya karena mata sang gadis tertutup oleh kerudung hitamnya jika dilihat dari samping. Melihat tidak ada tanda-tanda Yaya akan mengajarinya, Boboiboy akhirnya memilih menunggu sampai Azka kembali.
Tik tok tik tok
.
.
.
.
'Ugh... lama sekali, sih!' batin Boboiboy gelisah. Pahlawan Pulau Rintis itu melihat ke arah jam. Mulut Boboiboy terbuka saat melihat bahwa dia baru saja menunggu selama lima menit.
Boboiboy menghela napas perlahan untuk menenangkan pikirannya tapi, tidak bisa! Sejak tadi jantungnya terus berdegup kencang dan dia merasa tidak nyaman. Ditambah lagi, Yaya yang sejak tadi hanya diam tidak memperbaiki suasana sama sekali. Jika tahu begini, lebih baik dia mengusulkan pada Azka agar mengerjakan tugas di kedai Atoknya saja.
"Boboiboy," Boboiboy hampir terjungkal kebelakang saat menyadari bahwa Yaya telah berpindah posisi menjadi tepat di depannya.
"Dekatkan bukumu! Kau ingin diajari atau tidak?" tanya Yaya dingin.
"I-iya," jawab Boboiboy seraya mendekatkan bukunya kearah Yaya. Pemuda itu menelan salivanya kasar untuk menghilangkan kegugupannya.
Yaya mulai menjelaskan rumus matematika pada Boboiboy dari yang cukup sederhana sampai ke bagian rumit. Baiklah, sebenarnya Boboiboy sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan apa yang sedang diterangkan oleh Yaya.
Mata coklat pemuda itu melihat ke wajah Yaya. Andai saja sang gadis melepas kacamatanya, dia akan lebih leluasa untuk melihat mata abu-abu itu.
Boboiboy tertawa remeh dalam hati. 'Bagaimana aku mungkin menatap matanya? Saat kami bertemu pandang saja aku menghindar,' batin Boboiboy.
"Kau sudah paham?" tanya Yaya tiba-tiba. Boboiboy terkejut saat mendengar Yaya tiba-tiba bicara. Pemuda itu refleks melihat ke berbagai arah layaknya orang tersesat.
Yaya yang melihat Boboiboy tidak konsentrasi pun naik pitam. Sang gadis melempar buku pemuda itu hingga membuat pemiliknya membelalak kaget sebelum mengemasi barang-barangnya dan berjalan menuju pintu kamar Boboiboy.
Sang gadis menutup matanya saat merasakan pergelangan tangannya ditahan oleh Boboiboy. Pemuda itu terengah-engah, dia tidak menyangka jika Yaya akan berubah sampai sejauh ini.
"Apa masalahmu?" bentaknya. Yaya sedikit kaget saat mendengar pemuda itu membentaknya, tapi sang gadis berusaha untuk menutupinya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku, ha?! Apa segitunya kau membenciku sampai kau seperti ini? Aku tahu jika aku salah, aku mengerti jika kau marah. Tapi jangan lampiaskan semua itu padaku, Yaya! Aku sudah minta maaf berkali-kali, tapi kenapa kau tidak memaafkanku? Aku harus melakukan apa agar kau memaafkanku, ha?" Boboiboy sebenarnya sedikit kaget mengetahui bahwa dirinya dengan lancar membentak Yaya.
Tangan Boboiboy memegang tangan Yaya lebih erat seakan ingin melampiaskan semua yang tengah pemuda itu rasakan.
"Apa masalahmu? Tolong beritahu aku! Aku tidak mengerti dengan semua ini, Yaya. Kau tidak memaafkanku, tapi kenapa kau juga menghindari Ying, Fang dan Gopal? Kau bahkan pernah membentak mereka," Yaya terdiam saat mendengar penuturan Boboiboy.
Benar. Jika Yaya marah karena kejadian waktu itu, kenapa dia tidak menghindari Boboiboy saja? Kenapa dia harus menghindari yang lain juga? Sungguh, seharusnya Yaya bisa memikirkan itu terlebih dulu.
"I-itu bukan urusanmu!" Yaya menarik paksa tangannya dan berjalan dengan cepat menuju pintu kamar Boboiboy.
Tapi sepertinya, sang pemilik kamar tidak akan membiarkannya.
"Tunggu!" Boboiboy menarik paksa tangan Yaya hingga menyebabkan sang gadis hilang keseimbangan.
"Kya!"
Gubrak
Pemuda berkekuatan lima elemen itu mengerang kesakitan saat merasakan punggungnya jatuh dengan cukup keras. Ditambah lagi dengan Yaya yang ada diatas tubuhnya.
Eh?
'Tunggu dulu...' dengan hati-hati, Boboiboy melihat kearah tubuhnya dan betapa terkejutnya dia saat menyadari ternyata Yaya memang tengah berada diatas tubuhnya.
'Yaya ada diatas tubuhku? Apa yang aku lakukan? Apa yang yang telah aku perbuat? Bagaimana bisa? Asdfghjklzxcvbnm,' batin Boboiboy histeris.
Sementara itu, Yaya yang menyadari posisinya dan Boboiboy yang terbilang err... cukup memalukan itu hanya bisa menahan rona merah yang perlahan mulai menjalar ke pipinya.
Tidak mau berlama-lama dalam posisi seperti itu, Yaya segera bangkit dari tubuh pemuda di bawahnya. Boboiboy yang merasakan pergerakan dari Yaya segera menahan gadis itu dengan mencengkram pundaknya dan menariknya dengan cukup keras.
Yaya menatap Boboiboy dengan tatapan kesal. Tapi, pemuda itu sepertinya tidak peduli dengan tatapan kesal yanng dilayangkan sang gadis untuknya. Boboiboy hanya ingin semua masalah ini selesai saat ini juga.
"Aku ingin kau menceritakan semuanya padaku, Yaya. Jangan menghindariku terus! Meskipun kau terus menjauhiku, aku akan terus mendekatimu sampai kau mau menceritakan masalahmu padaku," ujar Boboiboy mutlak.
Yaya mendengar penuturan pemuda itu mematung di posisinya. Sebenarnya sang gadis ingin menceritakan semuanya pada pemuda itu. Tapi, dia tidak berdaya untuk menerima resikonya nanti.
Tangan Yaya meremas jaket jingga pemuda di bawahnya. Dia menatap wajah Boboiboy dengan mata yang sudah digenangi air mata.
"Boboiboy. Aku... aku..."
Boboiboy yang mendengar suara Yaya bergetar menatap sang gadis khawatir. Dia terdiam saat melihat wajah gadis di atasnya hampir menangis.
"Aku... sebenarnya, aku-"
Tap tap tap
Yaya dan Boboiboy panik saat mendengar suara langkah kaki mendekati pintu. Buru-buru mereka bangkit dari posisi mereka dan segera menjaga jarak masing-masing
Kriet
"Ah~ lega sekali. Maaf aku sedikit lama, Yaya!" ujar Azka yang tengah menutup pintu kamar Boboiboy.
Gadis berambut gelap itu mengernyit heran saat melihat Boboiboy dan Yaya hanya diam tidak menanggapi kedatangan gadis itu.
"Kalian kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Azka penasaran.
Wajah Boboiboy terkejut saat mendengar Azka bertanya seperti itu. Tapi, sebelum pemuda bertopi dinosaurus itu menjawab gadis di sampingnya telah mendahuluinya.
"Tidak terjadi apa-apa," katanya.
Sebenarnya, Azka masih curiga dengan kedua manusia berbeda gender itu. Tapi pada akhirnya, dia tidak mempermasalahkan lebih jauh.
Tugas kelompok pun kembali berjalan lancar. Meskipun begitu, tetap terjadi keheningan diantara Yaya dan Boboiboy.
Boboiboy terkadang mengabaikan penjelasan Azka dan mencuri pandang kearah Yaya. Dia melihat ekspresi gadis itu datar seperti biasa seakan-akan memang tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
Pemuda berjaket jingga itu menghela napasnya dan kembali memperhatikan penjelasan Azka meski sejujurnya dia tidak mengerti sama sekali.
"Terima kasih Boboiboy, karena telah mengizinkan kami mengerjakan tugas di rumahmu."
Boboiboy tersenyum tipis kearah Azka.
"Iya, sama-sama. Aku juga berterimakasih karena kalian telah membantuku mengerjakan soal," ujarnya.
"Ah... kalau soal itu kami nggak keberatan, kok!" ujar Azka sambil merangkul pundak Yaya. Gadis berkerudung hitam itu sebenarnya sedikit risih dirangkul seperti itu. Tapi, dia memilih untuk tidak melawan.
"Huaa... sudah jam segini! Aku pulang dulu ya! Bye. Sampai jumpa besok, Boboiboy, Yaya!" seru Azka sebelum berlari meninggalkan mereka berdua.
Boboiboy menjadi gugup saat menyadari bahwa kini tinggal dia dan Yaya saja yang ada disana. Tapi, pemuda itu segera ingat dengan ucapan Yaya yang belum selesai. Saat pemuda itu ingin bertanya, sang gadis telah berucap lebih dulu.
"Aku pulang," ucap Yaya sambil melangkah menuju rumahnya yang berada disamping rumah pemuda bertopi polkadot itu.
Boboiboy hanya bisa diam sambil menatap Yaya yang mulai sampai di rumahnya. Saat sang gadis masuk dan menutup pintu rumah tersebut, Boboiboy mulai mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu.
"Aku... sebenarnya, aku-"
'Kau sebenarnya ingin mengakatan apa, Yaya?' batin Boboiboy bertanya.
Pemuda itu menutup matanya sejenak sebekum melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah tempat dia tinggal.
'Aku... tidak mengerti.'
Halo~ aku kembali lagi...*keluar dari persembunyian*
#readers menatap tajam shoujo#*gemetar*
Baiklah sebenarnya Shoujo lama update karena Shoujo tengah sibuk menghadapi ujian. Ditambah lagi, Shoujo harus memikirkan daftar SMA, Ujian Sekolah dan Ujian Nasional. Arrggh*frustasi*
Jadi, tolong para readers bisa maklumi keterlambatan Shoujo yang sangat keterlaluan ini.
Baiklah, seperti sampai disini saja
Review please~
