Plak
Duk
Hening mencekam, semuanya terasa membeku seperti es. Tidak ada yang berani memecah keheningan yang semakin mencekam itu. Kecuali Hikari Hyuuga.
"Apa yang kau lakukan hah? Kau membuat keluarga kita malu," ujar Hikari dengan nafas memburu. Ia berdiri menjulang di depan Hinata yang jatuh tersungkur. Beberapa helai rambut Hinata terjatuh. Sanggulannya menjadi tidak rapi. Wajahnya yang putih mulus terdapat bekas tamparan yang berwarna merah.
Hinata hanya menatap ke lantai. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Yang ia pikirkan hanyalah pria yang sempat kritis itu. Pikirannya bercabang dua, tatapan matanya kosong.
Byur
"Kau harus dihukum lebih berat dari ini Hinata," kata Hikari menyiram Hinata menggunakan air putih yang sempat ia pesan. Emosinya menjadi tak terkendali, ia bahkan tak peduli tatapan para pelayan dan pelanggan lain yang mengiba kepada anaknya. Dia juga tak peduli tatapan geram dari keluarga yang akan menjadi calon tunangan dari anaknya.
Ia berjalan mendekati Hinata yang jatuh terduduk sambil menunduk. Tatapannya berkilat penuh amarah. Sampai saat Hikari berjongkok di depan Hinata hendak memberinya hukuman kembali, kedua pundaknya dicengkram oleh seseorang di belakangnya. Hikari merasa geram dan berbalik mendapati seseorang yang mencekram kedua pundaknya.
"Hiashi… Apa yang kau lakukan?! Anak ini harus diberi…"
"Hikari, tidakkah kau lihat kau melakukan hukumanmu pada Hinata di depan keluarga Namikaze!" bentak Hiashi kepada istrinya yang membuat istrinya terguncang. Takut-takut ia menoleh, menatap keluarga Namikaze. Ia buru-buru berdiri dan merapikan gaunnya.
"Ah, gomenasai Namikaze-san mengenai itu,.."
Sret
"Sudah cukup."
"Apa maksud anda Minato-san?" tanya Hikari penuh kegugupan. Minato yang sudah berdiri menatap Hikari tajam, kemudian menghela nafas. Ia tak menyangka akan berhubungan dengan keluarga kolot seperti Hyuuga. Naruto melepas jasnya. Ia berjalan menuju Hinata dan memakaikannya kepada Hinata yang masih menunduk.
Minato melirik apa yang dilakukan oleh anaknya kemudian menatap Hikari dan Hiashi, serta istrinya bergantian. "Lebih baik, pertunangan ini dibatalkan."
.
.
.
.
Prisoner and Hope
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Rated T Semi M
Warning : AU, OOC, Typo, etc
.
.
.
.
Hinata segera mendongak menatap pria yang lebih muda 3 tahun dari ayahnya itu. Matanya terbelalak. "Jangan… jangan batalkan pertunangan ini…" gumamnya pelan yang hanya dapat didengar oleh Naruto.
Naruto mengernyit bingung, menurutnya pilihan untuk membatalkan pertunangan ini adalah jalan yang terbaik untuk dirinya dan juga wanita yang ada di depannya. Lantas apa yang membuatnya menolak seperti itu?
Detik itu juga ia tahu kenapa gadis itu menolak untuk membatalkan pertunangan ini. Ia melihat Hikari Hyuuga dengan tubuh gemetaran. Gerakannya tidak bisa diprediksi. Tahu-tahu piring yang terbuat dari kaca itu sudah ada di samping tangan kiri Hinata dengan keadaan berkeping-keping dan menimbulkan luka di tangan Hinata.
"Apa yang kau lakukan Hikari?!" bentak Hiashi mencengkram kedua pergelangan tangan istrinya, agar tidak melakukan tindak berbahaya lagi.
"Kau tidak lihat itu anata?! Dia!" tunjuk Hikari pada Hinata menggunakan dagunya. "Telah mempermalukan keluarga kita. Bahkan sampai pertunangan ini dibatalkan karenanya!"
"Dia harus memakan nasi dan garam selama sebulan!" tambah Hikari yang membuat Kushina terperanjat, ia menatap Hikari ngeri.
"Dia merusak reputasi Hyuuga!" bentak Hikari kembali pada Hiashi. Ia terengah-engah, kemudian mengatur nafasnya. Ia menatap sekeliling, kemudian tatapannya tertuju kepada Hinata. "Hinata anakku sayang," suara Hikari menjadi lembut, tetapi tampak mengerikan. Hinata tampak gemetaran. "Kau tahu jika kita diperhatikan oleh banyak orang. Apa yang harus kau lakukan untuk membela Hyuuga, sayang?"
Dengan tenaga yang tersisa ia berdiri, tanpa dibantu oleh Naruto. Ia berdiri kemudian membungkuk. Tangannya tampak tergores oleh pecahan kaca dan mengeluarkan darah segar yang mengalir di telapak tangannya.
"Gomenasai telah mengganggu acara makan malam anda sekalian. Saya mohon dengan sangat untuk mengabaikan kejadian ini atau bahkan melupakan kejadian ini. Juga untuk tidak meliput kejadian ini sebagai topik hangat di internet. Onegai," pinta Hinata. Setelah itu ia berdiri tegak menatap para pelanggan dan pelayan yang menatap iba kepadanya dan memutuskan untuk melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda.
Kemudian ia berbalik menatap keluarga Namikaze, ia juga membungkuk hormat. "Gomenasai Namikaze-san. Ini semua dilakukan agar membuat saya terdidik. Ini adalah wujud kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Jadi, mohon dimaklumi," kata Hinata tersenyum tegar. Kushina menghampiri Hinata dan mengeluarkan sebuah sapu tangan. Naruto bangkit dan menatap Ibunya.
"Tangan seorang wanita tidak boleh terluka seperti ini, Hinata-chan," kata wanita paruhbaya yang biasanya nampak bersemangat, kini nampak sedih. Ia mengambil tangan Ia membalut tangan Hinata dengan sapu tangan yang ia keluarkan. Sapu tangan yang berwarna putih itu tampak menimbulkan bercak kemerahan dan menembus. Hinata hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Kushina.
Melihat itu, Hikari hanya diam. Bersamaan dengan itu, Hiashi membuat Hikari pingsan dengan memukul tengkuknya. Hikari pingsan dan dengan sigap ia menggendong istrinya. Ia melihat anaknya yang kedua tangannya dipegang oleh Kushina.
Sret
"Gomen ne Hinata-chan. Aku tidak bisa membantumu... Sepertinya sebuah kesalahan membatalkan pertunangan ini. Aku tidak menyangka kalo Hikari..." Kushina menggigit bibirnya, ia mempererat pelukannya pada Hinata. Hinata hanya terdiam, tidak membalas atau mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku... Aku... Maafkan aku Hinata," ujar Kushina dengan air mata yang mengalir.
"Baa-sama tidak melakukan kesalahan. Ini adalah hal yang biasa bagi saya. Apa yang anda lakukan adalah sesuatu yang benar. Karena jika anda menjalin hubungan atau terikat dengan seorang Hyuuga, anda akan sulit untuk melepaskan ikatan tersebut."
.
.
.
Seperti dugaan Hinata, esok harinya di perusahaan pusat Hyuuga, ia akan kedatangan tamu. Tamu yang tak diundang datang saat jam makan siang.
"Ada apa Naruto-san? Apa ada suatu kendala dalam proyek kita yang sedang berjalan?" tanya Hinata santun. Hinata tahu pasti ini tentang...
"Tidak ada Hinata-san. Ini tentang kejadian tadi malam."
Pertunangan yang gagal. Hinata tahu bahwa pemuda yang sedang duduk di hadapannya ini pasti akan menyinggung tentang kejadian tadi malam.
"Ah, saya yakin anak buah saya sudah mengembalikan jas milik anda, Naruto-san," Hinata tersenyum melihat reaksi Naruto yang menahan emosinya.
"Hinata-san berhenti bersikap seolah kau baik-baik saja! Kau-"
"Naruto-san," ujar Hinata dingin. "Saya seorang Hyuuga. Anda baru beberapa jam mengenal saya. Jangan seolah-seolah mengetahui tentang saya luar dan dalam," tambah Hinata, ia menatap Naruto tajam yang membuat empunya bergidik.
"Anda tidak berhak mencampuri urusan orang lain. Ah, dan satu lagi. Seorang Hyuuga tidak akan melewatkan jam makan siangnya hanya untuk urusan yang tidak penting. Jadi-"
"Jadi menurutmu apa yang terjadi semalam tidak penting? Kau terluka juga tidak penting?!" geram Naruto. Hinata tersenyum, ia menyeruput tehnya dengan anggun.
"Ya, itu tidak penting jika dibandingkan dengan proyek kita Naruto-san. Karena saat kau berada di kantor Hyuuga, kau harus bisa membedakan antara urusan pribadi dan urusan pekerjaan. Jika tidak ada kepentingan yang harus kita diskusikan, saya mohon anda berkenan untuk undur diri. Karena saya akan ada rapat 5 menit lagi. Terimakasih Naruto-san," ujar Hinata panjang lebar dengan disertai senyuman formalnya.
Naruto menahan emosinya. Ia berusaha untuk tidak melakukan tindakan ceroboh dan akan merugikan dirinya sendiri. Ia beranjak dari sofanya, membungkuk hormat, kemudian meninggalkan ruangan Hinata dalam diam.
Setelah pintu tertutup, Hinata menyandarkan punggungnya pada sofa yang ada di ruangannya itu. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Shizune-san, bagaimana keadaannya?"
"..."
"Saya mengerti, saya akan menuju kesana 4 jam lagi."
"..."
"Baiklah. Terimakasih atas bantuannya."
Klik
Hinata menatap langit-langit ruangannya, sesekali memijat pelipisnya pelan. Ia menghela nafas. "Siapa kau sebenarnya?"
.
.
.
21 Maret 20XX, 17.00
Rumah Sakit Uzu
Seorang wanita berjalan dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya, ia berjalan menuju ke resepsionis. Setelah mendapat informasi dari resepsionis wanita itu berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya pada pemuda misterius yang kemarin ia tabrak.
Ting
Pintu lift terbuka dengan segera ia memasuki lift dan menunggu. Tapi hal itu tidak lama. Menuju ke ruangan 239 ternyata sangat cepat.
Sesampainya di depan pintu, ia menghela nafas dan memantapkan hatinya. Ia mengetuk pintu dua kali. Dan pintu terbuka menampilkan seorang wanita berusia sekitar 30-an, wanita itu tersenyum mendapati tamunya datang 1 jam setelah perjanjian.
"Ah, Hinata-san lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" ujar wanita berambut hitam itu basa-basi. Ia menggeser tubuhnya dan memberi tanda kepada Hinata untuk masuk.
"Aku baik Shizune-san," balas Hinata dan berjalan menuju kursi terdekat dari ranjang yang berisi pemuda yang tengah terbaring. "Gomen, ada tamu yang membuatku tertahan di kantor," tambah Hinata menyuarakan alasan keterlambatannya.
"Tidak apa Hinata-san. Ia belum menunjukkan tanda-tanda mau siuman setelah kuperiksa tadi."
Hinata hanya menatap wajah pemuda itu. "Apa sudah diketahui identitasnya?"
"Saat ini belum Hinata-san. Padahal anda sudah melapor, tapi entah kenapa sampai saat ini. Keluarganya belum hadir, dan belum ada hasil tentang identitasnya."
Hinata menghela nafas, ini akan sulit, pikir Hinata. "Shizune-san terimakasih atas kepedulian anda. Anda pasti lelah menunggu saya, lebih baik anda istirahat."
"Tidak apa, aku baik-baik saja. Jika kau butuh bantuan, panggil saja aku. Aku akan membantumu. Karena bagaimanapun juga kau anak Hitomi. Setidaknya membantu anaknya juga dapat meringankan bebannya," ujar Shizune
Hinata menoleh ke belakang menatap Shizune dan tersenyum. "Arigatou Shizune-san."
"Kau tahu Hinata? Pria yang kau bawa banyak disukai oleh perawat di rumah sakit ini. Menurutku dia cukup tampan. Kau beruntung menemukannya," Shizune terkikik kecil sebelum membuka pintu. "Aku permisi."
Pintu tertutup meninggalkan ia seorang bersama pria yang sedang terbaring nyaman di tempat tidurnya. Ia menghela nafas sesekali memijat pelipisnya. Ia penasaran dengan pria yang ada di depannya ini. Siapa ia sebenarnya dan apa yang ia lakukan kemarin malam.
Hinata beranjak dari kursi dan duduk di sebuah sofa, ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan dokumen-dokumen yang harus diperiksanya. Ia memutuskan untuk berada di ruangan ini sampai malam tiba. Ia terlalu lelah untuk langsung pulang sekarang. Setidaknya istirahat di ruangan ini tidak masalah bagi dirinya. Lagipula kamar inap untuk pemuda ini ia yang membayar, jadi tidak masalah baginya untuk melepas lelah sejenak.
Hinata memeriksa beberapa dokumen dengan ditemani oleh roti melon dan air mineral. Bau obat dan bunyi AC yang menyala serta suara jam dinding menemani Hinata dengan pria misterius yang sampai sekarang belum siuman.
Setelah roti melonnya kandas ia melihat jam sesekali melihat pria yang masih terbaring itu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.00. ia segera merapikan barangnya dan beranjak dari sofa lalu berjalan menghampiri pria itu.
"Cepatlah bangun dan temui keluargamu. Kau membuatku bingung," gumam Hinata dan meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan seorang pria yang masih terbaring tanpa menunjukkan reaksi apapun.
.
.
.
28 Maret 20XX, Hyuuga Inc.
Tok tok
"Masuk."
"Hyuuga-sama, Uchiha-sama sudah datang."
"Suruh ia masuk."
"Ha'i Hyuuga-sama. Dozo Uchiha-sama," ujar sekretaris berambut gelap itu mempersilahkan tamu atasannya untuk masuk. Hinata berbisik pelan kepada sekretarisnya untuk membawakan teh bagi dirinya dan tamunya.
"Arigatou," balas pria tersebut. Pintu kembali ditutup, Hinata berjalan menuju pria di hadapannya dan mengulurkan tangannya. Pria berambut raven itu menjabat tangan Hinata.
"Konnichiwa Uchiha-san. Silahkan duduk," kata Hinata mempersilahkan tamunya untuk duduk. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setelah mereka duduk berhadapan. Beberapa saat kemudia pintu terbuka menampilkan sekretarisnya yang mengantarkan minuman dan meletakkan di depan Hinata dan pria yang memiliki iris gelap dan berkarisma itu. Setelah urusannya selesai, wanita itu pun pergiPria itu memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Gomenasai Hinata-san," ucap pria itu sedikit membungkukkan badannya. "Seharusnya ia ada disini. Tetapi beberapa hari yang lalu ia menghilang, jadi aku akan menggantikan posisinya sementara. Jika kau tidak keberatan," tambahnya.
"Ah, tidak apa-apa Uchiha-san. Asal proyek ini akan berjalan lancar, aku tidak masalah siapapun penggantinya," komentar Hinata
Pemuda itu menyunggingkan senyumannya "Kau loyal sekali Hinata-san. Ah, satu lagi tidak perlu memanggilku seperti itu. Aku tidak terlalu nyaman jika kau memanggilku dengan menggunakan margaku. Cukup memanggilku dengan nama depanku."
"Ah, baiklah Itachi-san. Jadi, apakah anda setuju dengan proyek ini Itachi-san?" Hinata menyodorkan beberapa berkas-berkas yang sudah ditata rapi oleh Hinata.
"Jika dilihat dari keuntungan proyek ini. Proyek ini dapat melipatgandakan hasil yang diperoleh sebelumnya. Mengingat proyek ini menyatukan kedua perusahaan yang paling berpengaruh di Jepang, hal ini juga dapat menambah wisatawan asing berkunjung ke Jepang dan juga dapat meningkatkan devisa negara," jelas Hinata panjang lebar, kemudian ia menarik nafas dan menghembuskannya. Ia menatap iris seseorang yang berada di hadapannya datar.
"Saya sudah meninjau bibit, bebet, bobotnya dan sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan matang. Hanya tinggal menunggu anda untuk menyetujui proyek ini maka proyek ini akan segera dijalankan, Itachi-san," tambahnya. Hinata sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang, ia bahkan membuat segalanya menjadi detail dan rinci untuk hasil yang lebih baik.
"Wah Hinata-san. Sepertinya keputusannya untuk bekerja sama denganmu adalah sesuatu yang tepat, pekerjaanmu tanpa cela, Hinata-san," puji Itachi. Ia mengeluarkan sebuah pena dari saku bagian depan jasnya.
"Terimakasih atas pujiannya, Itachi-san," kata Hinata tersenyum sopan dan membungkukkan sedikit tubuhnya, kemudian mengambil secangkir teh dan meminumnya dengan anggun.
"Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya," gumam Itachi yang dapat didengar oleh Hinata.
"Kau memang tidak punya pilihan lain, Itachi-san," ujar Hinata menanggapi, kemudian menaruh cangkirnya ke atas meja.
"Aku bingung kenapa ia bisa mendapatkan rencana yang sempurna seperti ini. Karena ia pernah berkata padaku bahwa ia tidak mau menjalin hubungan dengan perusahaan yang berpengaruh di Jepang. Sekarang ia malah menawarkan proyek, aku tidak tahu jalan pikirannya itu," kata Itachi menghela nafas dan meletakkan berkas-berkas itu di meja.
Hinata tahu siapa yang dibicarakan oleh Itachi, ia hanya tersenyum. "Semua orang dapat berubah dengan cepat Itachi-san."
"Aku tahu."
Hinata mengambil kembali berkas-berkas yang sempat ditinjau oleh Itachi. Sedangkan Itachi hanya melihatnya sambil menikmati teh yang sudah disediakan.
"Ngomong-ngomong Itachi-san apa 'ia' sudah ditemukan?"
"Kau peduli padanya?" goda Itachi
'Aku hanya memastikan apa kau memiliki hubungan darah dengannya atau tidak. Lagipula kemiripan fisik kalian sangat mirip,' batin Hinata memandang Itachi dengan tatapan menilai.
"Aku hanya bertanya, siapa tahu aku bisa membantu," jawab Hinata datar sambil merapikan dokumen-dokumennya kembali. Itachi menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada sofa di ruangan itu. Ia baru menyadari betapa kakunya Hyuuga.
"Berkat laporan seorang wanita kepada kepolisian. Keluarga kami dapat menemukannya dengan cepat. Hal ini juga berkat bantuan Obito-jii-san."
"Pamanmu seorang polisi, Itachi-san?" tanya Hinata mengernyitkan dahinya.
"Iya, memang kenapa?"
"Aku kira semua keluarga Uchiha bergerak di bidang bisnis," jawab Hinata
"Tidak juga," kata Itachi, ia melirik jam tangan yang tersemat di pergelangan tangannya, lalu menatap Hinata yang juga sedang menatapnya. "Ah gomenasai Hinata-san, sepertinya pertemuan kita berakhir secepat ini. Aku ada perlu," pamit Itachi tersenyum kemudian berdiri dan diikuti Hinata yang ikut berdiri.
"Ah, ha'i terimakasih atas kerja samanya Itachi-san," kata Hinata mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik oleh Itachi.
"Sama-sama Hinata-san aku juga berterima kasih atas kerja samanya juga dan tehnya."
Setelah berterimakasih, Uchiha Itachi meninggalkan perusahaan Hyuuga dan meninggalkan sang pewaris Hyuuga sendirian di ruangannya.
Hinata berjalan menuju tempat duduk yang biasa ia gunakan saat menandatangani atau memeriksa dokumen. Ia duduk dan memijat pelipisnya pelan, sampai suara ponsel memecah keheningan di ruangannya.
'Shizune-san calling'
"Moshi-moshi Shizune-san, ada apa?" tanya Hinata langsung to the poimt begitu ia menjawab ponselnya.
"Ah gomen ne Hinata-san, sepertinya aku mengganggu pekerjaanmu."
"Daijobu Shizune-san, lagipula aku sedang senggang. Ada apa?"
"Apa setelah pulang dari kantor, kau bisa menjenguknya? Mengingat 2 hari ini kau belum menjenguknya."
"Itu bukan alasan Shizune-san."
"Um, keluarga pria yang kau tabrak minggu lalu akan datang dan ingin bertemu denganmu."
"Benarkah?" 'Akhirnya,' batin Hinata.
"Iya, dan sayangnya aku tidak bisa membantumu jika kau kesulitan menjawab pertanyaan."
Hinata hanya memutar bola matanya malas mendengar penuturan Shizune. "Shizune-san aku sudah berumur 26 tahun dan kau mengkhawatirkanku seperti aku berumur 5 tahun saja."
"Haha aku lupa jika kau sudah dewasa," Terdengar tawa renyah yang dikeluarkan oleh Shizune. "Baiklah sepertinya tidak ada yang perlu dirisaukan saat aku pergi." tambahnya.
"Kau pergi? Kemana?"
"Aku sedang melakukan ekspedisi ke Amegakure dengan Tsunade-san dan Orochimaru-san. Untuk itu aku buru-buru menelponmu."
"Kapan kau berangkat Shizune-san?"
"Aku bahkan sudah sampai di Ame, aku buru-buru menelponmu supaya aku tidak lupa Hinata-san. Hehe, barusan saja aku mendapatkan email dari kepolisian."
Hinata hanya menghela nafas. "Baiklah, nikmati ekspedisimu."
"Oh ya satu lagi. Aku sudah meminta Kurenai-san untuk membantumu menjawab pertanyaan tentang kesehatannya. Ah ya, aku belum memberitahumu. Terakhir kali aku mengeceknya, ia masih belum sadarkan diri."
"Ha'i, arigatou Shizune-san."
"Jaa ne."
Sambungan terputus, Hinata memejamkan matanya sejenak. Kemudian membukanya, ia berpikir sejenak karena merasa ada kejanggalan.
"Aku baru tahu sinyal di Ame sangat bagus."
.
.
.
.
Cklek
Pintu terbuka, seorang wanita dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya berjalan memasuki ruangan menghampiri pria yang masih tak sadarkan diri. Ia menarik kursi dan duduk sambil memangku tas kerjanya
Ia memandangi wajah pria tersebut dengan teliti.
"Apa aku menabraknya terlalu keras hingga ia koma seperti ini?" tanya wanita itu kepada dirinya sendiri.
"Kami-sama kenapa kau memberikan cobaan ini kepadaku?" Hinata beranjak dari tempat duduknya, ia melepaskan jas kerja yang membuat ia gerah, dan menyisakan kemeja putihnya.
Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya agar nampak segar. Setelah itu ia mengelap wajahnya dengan sapu tangan di sakunya. Setelah itu, wanita berambut indigo tersebut kembali ke tempat duduknya.
Ia merasa menyesal tidak menanyakan kapan keluarga itu datang. Hinata, nama wanita itu memutuskan untuk mengeluarkan ponselnya dan melihat berita mengenai saham.
Beberapa menit kemudian, ia merasa suhu udara di ruangan itu sangat rendah, ia memutuskan mencari remote AC.
Di seluruh tempat sudah ia cari, tetapi Hinata tetap tidak menemukan remotenya, sampai ia melihat benda kecil yang terselip di bantal pasien.
Sebenarnya ia bisa memakai jasnya, tetapi jas saja tidak cukup untuk menghangatkannya. Dengan perlahan-lahan ia mengambil remote itu. Sialnya, remote itu ada di dekat leher sang pasien.
'Kenapa remote malah diletakkan sembarangan seperti ini?' batin Hinata merasa janggal akan lokasi remote tersebut. Ia menatap kembali pria yang berada di hadapannya yang tidak menunjukkan tanda-tanda siuman. Ia lalu berusaha untuk tidak mengganggu pria itu.
Sampai saat Hinata menyentuh remote itu dan mau menariknya perlahan. Secara tidak sengaja ia menyentuh leher pria itu, ia menahan nafas. Dengan wajah tenangnya ia kembali menarik remote itu.
Grep
"Bra mu kelihatan, Nona," suara maskulin itu menyentak Hinata dan ia baru menyadari jarak dan kelopak mata pria yang ada di depannya ini mulai terbuka. Menampakkan iris hitam yang menatapnya datar. Hinata balas menatapnya datar.
"Oh, lantas?" Hinata kembali duduk di kursinya dan menatap pria itu teliti dan mengurungkan niatnya.
"Kau mencari ini?" tanya pria itu mengambil remote yang belum sempat diambil Hinata "Kau tidak marah Nona?"
"Untuk apa aku marah?" Hinata membalas pertanyaan pria itu dengan entengnya.
"Kukira semua wanita pasti malu jika aku menyangkut tentang pakaian dalamnya."
"Tidak semua wanita seperti itu."
"Kau wanita yang unik," pria itu memaksakan duduk dan bersandar pada tempat tidurnya. Ia menyeringai."Hyuuga-san."
Iris Hinata langsung menajam mendengar ucapan pria itu yang membuat pria itu memandangnya dengan angkuh.
"Dari awal aku sudah curiga terhadapmu, melihat remote yang tergeletak sembarangan. Siapa kau sebenarnya?" tanya Hinata melipat tangannya di depan dada. Pria itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Aku? Entahlah aku juga tidak tahu siapa diriku," kata pria itu dengan nada putus asa. Ia melirik Hinata ingin tahu ekspresi wanita itu.
"Kau amnesia?" tanya Hinata datar walau terdapat nada tidak percaya di dalamnya. "Ini bukanlah film atau novel Tuan, aku tahu kau berbohong."
"Matamu tajam sekali Nona, bagaimana jika aku tidak berbohong?" pria itu menoleh menatap Hinata.
"Jika itu terjadi, kau sungguh merepotkan. Aku akan panggilkan dokter," Hinata berdiri berjalan mendekati kasur dan berniat menekan tombol merah.
"Kau tidak perlu memanggil dokter, Hyuuga," kata pria itu menahan tangan Hinata. Hinata menatap pria itu.
"Yang saat ini kau butuhkan adalah dokter bukan teman untuk kau ajak bicara."
"Dingin sekali ucapanmu itu. Bukankah kau curiga kepadaku? Apa tidak ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?"
"Untuk apa aku bertanya, sesuai pepatah 'Biarkan waktu yang menjawab'. Aku membiarkan waktu untuk menjawab kecurigaanku. Jadi lepaskan tanganku."
"Cih, kau mengesalkan Hyuuga," kata pria berambut raven itu melepaskan pegangannya pada tangan Hinata untuk mempermulus apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Sedangkan Hinata masih sibuk mencari-cari tombol merah.
"Kau naif dan sangat menyedihkan, Hyuuga."
"Apa urusanmu? Kita hanya sebatas orang asing."
"Oh ya? Apa hanya sebatas itu? Aku penasaran melihat ekspresimu saat mengetahui siapa aku sebenarnya."
"Aku tidak sabar menantikan saat itu tiba," kata Hinata tersenyum miring. Ia tidak menemukan tombol merah itu, ia memutuskan untuk duduk kembali dan menatap pria itu datar tanpa emosi.
"Kau pasti menyembunyikan tombol itu."
"Apa semua Hyuuga selalu berprasangka buruk?" tanyanya dengan nada main-main.
"Berhenti merendahkanku. Apa tidak ada rasa terimakasih karena telah menyelamatkanmu?"
"Tidak, lagipula kesalahan berada di tanganmu, untuk apa aku berterimakasih kepada orang yang menabrakku?"
Hinata menghela nafas, ia benar-benar seperti meladeni anak kecil. "Sepertinya keadaanmu baik. Aku tinggal menunggu walimu dan dokter datang. Sampai saat itu tiba aku akan tetap disini."
Setelah mengatakan itu, Hinata beranjak dari kursi dan menuju sofa. Ia lalu membuka tasnya dan mengeluarkan dokumen-dokumen yang belum sempat diperiksanya. Pria itu hanya memandang gerak-gerik Hinata.
Kamar itu kembali hening, hanya suara AC, jam dinding, serta suara pena yang menggores kertas yang mengisi ruangan itu. Kedua insan berbeda gender itu saling terdiam satu sama lain, hanyut dalam pikiran sendiri.
"Sebenarnya apa yang membuatmu tergerak menyelamatkanku, Hyuuga?" tanya pria itu memecah keheningan. Hinata menghentikan aktifitasnya sejenak dan menatap pria itu dari kejauhan.
"Mungkin karena kucing?" Hinata kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Cih alasan yang konyol," pria itu berdecih
"Malam itu, kau mau bunuh diri kan?" tebak Hinata yang membuat pria itu terperanjat, setelah itu raut wajahnya datar kembali. Beruntung Hinata yang masih fokus tidak mengetahui ekspresi lawan jenisnya itu.
Srek
"Entahlah, menurutmu?"
"Kau tahu? Seharusnya, manusia itu tidak memutuskan sesuatu yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Sedangkan kau? Kau berniat mengakhiri hidupmu lebih cepat."
"Jangan sok tahu, Hyuuga."
"Siapa yang so-" ucapan Hinata terpotong saat ia tidak mendapati benda yang harusnya ada di genggamannya malah tidak ada. Ia mendongak menatap pria yang menjulang di hadapannya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Hinata datar walau tatapannya tersirat kekhawatiran yang jelas.
Pria yang baru sadar dari komanya itu malah berdiri di hadapannya dengan tiang infus di sampingnya.
"Aku? Aku hanya ingin mengajarkan supaya kau tidak sok tahu, Hyuuga."
"Itu bukanlah sok tahu itu adal-"
Bruk
Dalam satu dorongan, pria itu berhasil menindih Hinata. Pria itu baru sadar dari komanya tetapi memiliki kekuatan yang menurut Hinata besar sekali. Pria itu mengurung Hinata dengan tangannya. Ia agak gemetar, mengingat belum pernah berkontak fisik dengan pria asing sejauh ini.
Walaupun begitu, ia tetap menatap datar pria itu, karena seorang Hyuuga tidak boleh menunjukkan kelemahannya di depan siapapun. Pria itu menyeringai melihat Hinata berusaha menyempurnakan 'topeng' yang selalu diagungkannya itu demi menutupi kelemahannya.
"Kau tampak gemetaran, Hyuuga," kata pria itu menyusuri rahang Hinata dengan jarinya.
"Apa maumu?" tanya Hinata berusaha untuk tidak bergidik, ia menggretakkan giginya. Menahan sensasi untuk tidak ketakutan.
"Lihat, kau bahkan sudah berkeringat dingin," kata pria itu dengan berani menyentuh lehernya dan dahinya. Hinata membulatkan matanya.
"Kau jangan melakukan lebih dari ini," kata Hinata dingin. Pria itu malah melebarkan seringainya.
"Jangan bilang kau belum pernah melakukan kontak fisik dengan pria?"
"Aku pernah melakukan kontak fisik dan itu bukan urusanmu," jawab Hinata ketus, pria itu mendekatkan wajahnya ke telinga Hinata dan menghembuskan nafas beratnya disana.
"Oh ya?" pria itu menaikkan sebelah alisnya, ia merasa tertantang akan jawaban yang diberikan oleh Hinata.
'Berjabatan dengan relasi bisnis,' tambah Hinata dalam hati. Seolah tahu apa yang ada dipikiran pria itu melebarkan jarak di antara keduanya dan menatap Hinata bosan.
"Bersalaman dengan relasi bisnis bukanlah kontak fisik Hyuuga."
Hinata balas menatap pria itu angkuh dan datar.
"Aku akan mengajarkan supaya kau tidak sok tahu, Hyuuga."
Setelah mengatakan hal tersebut, pemuda berambut raven itu mendekatkan wajahnya kepada Hinata. Sedangkan Hinata hanya mengepalkan tangannya, ia tidak bisa melawan karena pria itu langsung mengunci seluruh pergerakannya. Ia tidak menggunakan kepalanya karena melihat perban di dahi pria itu.
Yang saat ini bisa dilakukannya adalah menunggu kedatangan seseorang untuk menyelamatkannya dari kejadian yang tidak diinginkannya ini.
15 cm
10 cm
6 cm
4 cm
Cklek
"Sasu-chan?" suara lembut seorang wanita membuat pria itu mendangak menatap wanita itu. Hinata tidak bisa melihat mengingat keadaannya itu, hanya perasaan lega yang melingkupi hatinya. Sedangkan pria diatasnya menampakkan ekspresi kaget, sampai ia mengernyitkan dahinya.
"Kaa-san?"
TBC
Konbanwa minna-san. Disaat April Mop begini saya memutuskan update salah satu dari dua fic multichap saya. Sebenarnya, chapter ini sudah lama hampir selesai dibuat, hanya saja saya masih sibuk dan juga belum punya kesempatan untuk mengoreksi ulang dan menambahkan yang kurang.
Hari ini saya sering kena April Mop daripada tahun kemarin. Jujur saja, kena April Mop itu menyebalkan. Tapi, tenang aja ini chapter bukan jebakan kok.
Oh ya, untuk ff I Realized, saya gak tahu mau update lagi kapan. Kena WB terus dan kurang mood untuk update ff tersebut. Tapi, Insya Allah kalo tidak minggu ini, minggu depan saya akan update.
Oke terimakasih sudah me review, follow, dan favorite ff saya ini. Happy April Fool's Day 2015! :)
