"Kaa-san?"
"Apa yang kau lakukan Sasu-chan?" tanya wanita paruhbaya itu memasuki kamar inap. Dan ia begitu kaget melihat seorang wanita muda berada di kungkungan 'Sasu-chan'.
"A-ah maaf mengganggu disaat yang tidak tepat," Hinata hanya terdiam sambil menatap leher putih pria di atasnya.
"Apa maksud kaa-san?" tanya pria itu datar, Ibu dari 'Sasu-chan' itu berjalan mundur dan sampai di luar ia menutup pintu hingga menimbulkan celah kecil dan melesakkan kepalanya di celah tersebut seperti seseorang yang sedang mengintip.
"Pelan-pelan ya Sasu-chan~" ujar wanita paruhbaya itu tesenyum jahil yang membuat Sasuke memutar matanya.
Setelah pintu tertutup pria itu beranjak dari sofa dan menuju kasur dengan tiang infus dan duduk di kasur dengan meluruskan kakinya dan menyenderkan tubuhnya.
Setelah pria berambut raven itu beranjak, Hinata merapikan rambut dan kemeja putihnya. Kemudian berjalan mendekati kursi dekat pasien dan mengenakan jasnya.
"Aku lebih menyukai kau yang hanya menggunakan kemeja putihmu saja."
Hinata mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?"
"Karena aku bisa melihat tubuhmu dengan jelas," jawab pria itu menyeringai. Hinata memutar bola matanya bosan sambil mengancingi mansetnya.
"Berhentilah mengatakan sesuatu yang tidak penting," kata Hinata, lalu melangkahkan kakinya menuju pintu masuk kamar inap tersebut dan membukanya.
Wanita paruhbaya itu berbalik. Wajahnya agak merah saat menatap Hinata. Tetapi Hinata hanya menatap datar wajah wanita itu, lalu memberi jalan. "Silahkan masuk baa-sama."
"Ah, arigatou um-"
"Hinata Hyuuga desu," kata Hinata membungkukkan tubuhnya.
"Aa! Hinata yang itu? Tak kusangka bertemu Hyuuga di sini. Saya Mikoto Uchiha desu, yoroshiku ne Hinata-chan," kata Mikoto tersenyum lembut, Hinata tertegun melihatnya. Ia terdiam kaku selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia kembali menguasai dirinya kembali. Dan semua itu tidak luput dari penglihatan pria itu.
"Ah gomen ne jika Sasu-chan merepotkanmu Hinata," tambah Mikoto sambil menuju meja di sebelah pasien dan menaruh bingkisan buah sedangkan Hinata menutup pintu.
Setelah itu, Hinata berbalik dan berjalan menuju Mikoto. Ia lalu menatap pria misterius itu tajam, dan menyeringai yang dibalas pria itu dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Uchiha-san," panggil Hinata dengan nada lembut yang membuat Mikoto berbunga-bunga dan pria tersebut berekspresi seolah-olah akan muntah.
"Ya Hinata-chan?"
"Sebenarnya pria ini siapanya anda ya?" Mikoto terkejut
"Ini anak bungsu saya," jawab Mikoto tersenyum sambil mengelus pundak anaknya. "Dia adalah Sasuke Uchiha adik Itachi Uchiha."
Hinata terdiam mendengar ucapan Mikoto. "Terimakasih sudah repot-repot menjaga anakku. Padahal kalian tidak saling kenal."
Hinata langsung membungkuk, "Gomenasai Uchiha-san. Hontouni gomenasai."
"Ada apa Hinata-chan?" tanya Mikoto bingung atas tindakan Hinata.
"Saya yang menabrak putra anda," kata Hinata masih membungkuk. Detik itu juga Mikoto tidak bisa menahan keterkejutannya.
.
.
.
.
Hope and Prisoner
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
.
.
.
.
Tik
Tik
Tik
Bunyi dentingan jam dinding mengisi keheningan malam itu. Hinata masih setia membungkukkan badannya. Yang membuat keheningan semakin mencekam, atmosfer di sekitar mereka bertiga tampak memberat. Sampai…
Sret
"Kyaaaa! Hinata-chan berjodoh dengan Sasu-chan~" ujar Mikoto, ia memeluk Hinata erat dan berputar-putar. Pria yang sejak tadi memperhatikan interaksi kedua wanita yang berada dihadapannya hanya menatap mereka jengah.
Setelah puas memeluk Hinata, Mikoto melepaskan pelukannya. "Apa maksud anda?"
"Ah, mungkin ini adalah takdir yang menemukan Hinata-chan dan Sasu-chan~" kata Mikoto berseri sedangkan Sasuke memutar matanya bosan.
"Em, tapi maaf sepertinya hal itu hanya kesalahan saya karena mengemudikan mobil diatas rata-rata," kata Hinata berusaha tidak melenceng dari topik.
"Ya, ini kesalahanmu juga kesalahan Sasu-chan yang mau bunuh diri saat itu," kata Mikoto dengan nada kesal.
"Kaa-san berhentilah memanggilku seperti itu," protes Sasuke
Mikoto mengacuhkan protes Sasuke, ia tersenyum lembut kepada Hinata. "Terimakasih Hinata-chan, kau telah menyelamatkan dan bertanggung jawab atas anakku," bahu Hinata gemetar, mendengar Mikoto berkata selembut itu dengan tulus membuatnya mati-matian mengendalikan perasaan kasih sayang dari orang tua yang selama ini dinantinya.
Ia mengepalkan tangannya, menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya, berusaha mengendalikan dirinya. "Sama-sama Uchiha-san. Saya sangat bersalah saat itu, maafkan saya," kata Hinata dan kembali membungkukkan badannya.
Puk
Hinata membelalakkan matanya merasakan sentuhan lembut di kedua pundaknya.
"Hinata-chan tidak usah seperti ini lagi, berdirilah," pinta Mikoto yang saat itu juga Hinata berdiri tegap. "Ini sudah berlalu. Sasu-chan juga sudah siuman, Hinata-chan."
Hinata berkeringat, ia sudah ingin meluapkan perasaan yang selama ini ditahan melihat perlakuan Mikoto kepadanya. "Maaf Uchiha-san, tapi bisakah anda tidak memanggil saya seperti itu?" pinta Hinata, yang membuat Mikoto mengernyitkan dahi. Sasuke menatap tajam Hinata, ia tahu apa yang akan Hinata ucapkan selanjutnya.
"Memanggil seperti apa? Oh maksudmu Hinata-chan?"
'Aku harus menghentikan perlakuan Uchiha-san kepadaku sekarang juga karena aku adalah boneka yang tak patut disayangi,' batin Hinata, ia mengepalkan tangannya dan menatap Mikoto datar dan angkuh.
"Iya, sepertinya panggilan anda sangat tidak mengenakkan saya. Kita bahkan tidak akrab dan baru pertama kali bertemu dan bicara," kata Hinata dingin. Mikoto melebarkan senyumnya dan berjalan menuju Hinata dan memeluknya.
"Aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri Hinata. Aku juga adalah teman Hitomi yang mengetahui masalah tentangmu. Aku menyayangimu seperti anakku sendiri."
'Anakku sendiri? Apa maksudnya? Jadi… aku bisa merasakan hal seperti ini? Apa ini kehangatan seorang Ibu? Apa ini rasanya menjadi seorang anak?' batin Hinata, matanya memanas, ia menahan air matanya saat Mikoto mengelus punggungnya, menyalurkan kasih sayang yang selama ini tidak pernah ia rasakan.
Tes
Sasuke terbelalak menatap pemandangan di hadapannya, ia melihat jelas dan sangat jelas. Tapi ia tak percaya apa yang dilihatnya, ia melihat seorang Hyuuga Hinata yang angkuh, dingin, dan egois menangis. Walau hanya setetes air mata yang turun, cukup membuat dirinya kaget. Dan ia lebih kaget saat melihat Hinata menangis di pelukan Mikoto, Ibunya Sasuke.
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya saat menyadari pipinya terasa basah, detik itu juga ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar di dalam kehidupannya. Ia menatap iris kelam yang juga menatapnya. Ia menangis di depan seseorang dan itu adalah seorang Sasuke Uchiha.
Cepat-cepat ia melepas rangkulannya pada Mikoto, mengambil tasnya dalam keadaan menunduk. Lalu, berbalik sebentar untuk menghapus air mata dan berbalik lagi menatap kedua Uchiha.
"Gomenasai, saya harus pulang sekarang. Ada acara yang harus saya hadiri," kata Hinata membungkuk kemudian berjalan menuju pintu keluar. Dan segera pergi meninggalkan kamar inap itu.
Mikoto hanya memandang sendu wanita muda tersebut. Ia berbalik menatap anak bungsunya dan berkata, "Jadi rumor yang beredar itu benar? Walau diceritakan oleh Hitomi, aku tetap tak percaya," kata Mikoto, ia menutup wajah dengan kedua tangannya dan duduk di kursi tempat tas Hinata tadi tergeletak.
Sasuke melihat bahu Ibunya bergetar diiringi isak tangis, ia menghela nafas dan menurunkan kakinya lalu memeluk Ibunya memberikan ketenangan kapadanya. Hidup berdua hanya dengan Ibunya membuat ia mengetahui apa yang harus dilakukannya di saat seperti ini.
"Jika dia berbalik, ia dapat melihat betapa banyak orang memberikan uluran tangan dan kasih sayang kepadanya," kata Mikoto disela tangisannya.
Sasuke mengelus punggung Ibunya, ia membiarkan Ibunya mengeluarkan seluruh perasaannya. Jujur, ia sangat tidak suka melihat seorang wanita menangis, karena ia merasa seolah ia melakukan kesalahan. Dan ia paling tidak suka mengetahui Ibunya menangis karena Hyuuga. Sistem Hyuuga yang membuat Hinata menderita membuat Mikoto merasa kasihan kepada wanita berusia 26 tahun itu.
'Hyuuga, kau benar-benar bodoh,' batin Sasuke.
.
.
.
Hinata mempercepat langkahnya menuju lift. Ia menekan tombol lantai satu dengan gemetaran. Beruntung ia hanya sendirian di lift tersebut, setidaknya ia dapat menenangkan diri. Ia berharap segera pulang ke rumah dan mengompres dirinya dengan es. Berlebihan memang, tapi ini yang ia butuhkan saat ini.
Hal itu adalah terapi yang biasa ia lakukan saat dirinya stress. Tapi hal yang dialami sekarang berbeda dengan yang sebelumnya. Ia merasa linglung, bingung, dan sedih. Hal seperti inilah yang belum pernah ia alami. Dan ia berfikir untuk segera menghilangkan perasaan itu segera.
Hinata menyandarkan tubuhnya di dinding lift dan memejamkan matanya, berusaha untuk menenangkan dirinya.
Ting
Bunyi dentingan lift menyadarkan Hinata untuk segera pergi dari lift itu. Ia berjalan keluar lift menuju pintu keluar dengan langkah terburu-buru. Helaian indigonya bergoyang sesuai irama langkahnya. Tangan kanannya mencari kunci mobil di dalam tasnya sampai ia tidak memperhatikan jalan.
Duk
"Kau tidak apa-apa Nona?" tanya seorang pria, ia menahan tubuh Hinata yang nyaris tersungkur.
"Iya aku tidak apa-apa. Terimakasih," balas Hinata datar, ia tidak mendongak atau sekadar melihat wajah pria yang menolongnya. Saat ini yang ia butuhkan adalah pulang ke rumah dan itu berarti mengenali orang yang menolongnya bukanlah prioritas penting.
Baru berjalan dua langkah suara pria itu membuat langkah Hinata terhenti. "Hinata-san?"
Hinata berbalik, ia mendapati seorang pria berumur 30-an berdiri di hadapannya. Mata onyxnya menatap Hinata tidak percaya yang dibalas oleh Hinata dengan tatapan datar.
"Ya? Oh Itachi-san, sedang apa kau di sini?" tanya Hinata basa-basi.
"Menjenguk adikku. Hinata-san sendiri?"
'Jadi benar mereka saudara,' batin Hinata. "Saya hanya menjenguk seseorang. Permisi, saya harus pergi sekarang. Selamat malam Itachi-san," setelah berpamitan dengan Itachi, Hinata keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju parkiran.
Hinata menggunakan kunci mobil untuk membuka mobilnya, kemudian memasuki mobil itu dan mengendarainya. Ia menghela nafas, ia berharap untuk sampai ke rumah secepatnya.
.
.
"Tadaima," ujar Hinata sambil melepaskan heels nya.
Sepi, satu kata itulah yang menggambarkan suasana rumah itu. Hinata menyalakan lampu di seluruh ruangan dan berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur, ia berjalan menuju kulkas dan membukanya lalu mengambil es batu. Hinata mengambil sebuah baskom dan meletakkan es itu di sana.
Setelah itu, menutup pintu kulkas. Ia menaiki tangga yang menuju ke arah kamarnya. Sesampainya di kamar, ia mengganti baju dan membaringkan diri di kasur. Hinata mengambil es dan membungkusnya menggunakan sapu tangan, lalu meletakkan di dahinya.
Ia memejamkan mata, merasakan dinginnya es yang menyentuh permukaan kulitnya. Kejadian beberapa menit yang lalu benar-benar membuatnya bingung dan memalukan disaat yang bersamaan. Dan menyebalkannya, hal itu dilihat secara langsung oleh Sasuke Uchiha.
Lambat laun rasa kantuk menghinggapinya, ia menyamankan diri di tempat tidur setelah menaruh kembali bungkusan es. Ia berharap kejadian ini tidak terulang kembali, ia berharap hidupnya kembali monoton tanpa adanya kejadian-kejadian aneh. Ia berharap untuk tidak berurusan dengan Uchiha lagi.
.
.
.
Esok hari, harapan terakhir dari Hinata tidak terkabul, terbukti dengan adanya sosok jangkung di hadapannya dengan perban di dahinya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Uchiha-san?" tanya Hinata datar.
"Hanya ingin membahas proyek kita. Bagaimana?"
"Jika ingin membahas proyek, kenapa kau merebut dokumen pentingku?"
"Merebut?" pria itu menaikkan sebelah alisnya. Ia melanjutkan, "Aku hanya mengambil sesuatu yang menghalangi wajah datarmu, Hyuuga."
"Lagipula tidak ada yang menarik dengan wajahku, untuk apa melihatnya?"
"Oh ya? Wajahmu sangat menarik, aku suka."
Hinata memutar matanya bosan. "Pujianmu tidak berpengaruh kepadaku, Uchiha-san."
"Memang. Tapi, kupikir itu akan berhasil jika yang melakukannya adalah aku," kata pria berambut raven itu.
"Percaya diri sekali. Keluarlah, masalahku denganmu sudah selesai," ujar Hinata ketus, ia kembali memeriksa dokumen lainnya.
Sret
Lagi-lagi dokumen kedua yang baru diperiksa oleh Hinata direbut oleh Sasuke. Hal itu membuat Hinata mendongak, menatap pria itu kesal. "Kau mengusirku?" tanya pria yang bernama Sasuke Uchiha itu memastikan.
"Ya, kau mengganggu kerjaku. Kembalikan dokumenku sekarang," desis Hinata, ia beranjak dari kursinya, berjalan memutari meja kerjanya dan sampai di hadapan Sasuke.
"Tidak, sebelum kau mengabulkan satu hal," kata Sasuke menaikkan jari telunjuknya di depan Hinata. Hinata menghela nafas lelah.
"Berhentilah bermain-main. Itu dokumen berharga, kau harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan dokumen itu," ancam Hinata.
"Tak masalah, tapi kau harus mengabulkan permintaanku," kata Sasuke santai. Hinata menggertakkan gigi mendengar ucapan Sasuke yang kelewat santai. Ia mengatur nafasnya, berusaha agar tak terpancing dengan tindakan Sasuke.
Ia menatap angkuh Sasuke. "Jadi, apa maumu?"
"Jika aku mengatakannya, kau harus berjanji mengabulkannya."
"Aku tidak janji, asal permintaanmu sesuai dengan akal pikiranku tak masalah," Mendengar ucapan Hinata, Sasuke mendengus.
"Aku tidak memberitahumu jika kau tidak berjanji terlebih dahulu," kata Sasuke datar, Hinata memutar matanya bosan. Lalu menatap Sasuke tidak percaya.
"Kau ini anak kecil ya? Tingkahmu menyebalkan sekali," kata Hinata mendecakkan lidahnya, untuk pertama kalinya dalam 26 tahun ia hidup. Ia merasakan emosi yang meledak-ledak kepada pria di hadapannya.
"Aku tidak butuh komentarmu tentangku. Aku hanya butuh jawaban bahwa kau berjanji."
Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Hinata memutuskan sesuatu, "Aku berjanji," mendengar jawaban Hinata, Sasuke menyeringai. "Jadi apa permintaanmu?" tanya Hinata to the point.
"Sampai luka ini sembuh, kau harus bersamaku ke manapun pergi. Termasuk makan siang," kata Sasuke menunjuk luka di dahinya.
Hinata mengernyitkan dahi, ia menatap tidak percaya pada Sasuke. "Menemani? Kau gila? Dan makan siang? Seorang Hyuuga tidak akan melewatkan jam makan siangnya hanya-"
Sasuke memutar matanya bosan, "Ya, ya aku tahu 'untuk urusan yang tidak penting', bukan?"
Hinata terdiam, tidak menjawab menurutnya pertanyaan Sasuke bukanlah pertanyaan yang harus dijawab. Ia menatap tajam Sasuke yang dibalas dengan tatapan berkilat jahil di iris gelap milik sang Uchiha.
"Kenapa kau tidak menyewa baby sitter saja?" geram Hinata.
Sasuke mengangkat dagu Hinata, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata. "Jika bukan urusan penting aku pasti sudah menyewanya. Ini juga tentang urusan pekerjaan, bodoh."
Great! Sasuke berhasil memancing amarah Hinata, hal itu terbukti dengan terkepalnya tangan Hinata dan tarikan dasi Sasuke yang membuat bibir Sasuke menyentuh leher jenjang milik Hinata.
"Kupastikan kau akan menyesal mengejekku seperti itu, Uchiha. Jangan bermain api kepada Hyuuga," desis Hinata di telinga Sasuke.
Sasuke menjulurkan lidahnya, menyentuh leher jenjang Hinata. Kemudian menarik diri, ia menyeringai. "Rasamu manis, Hyuuga. Tapi, aku tidak akan menarik ucapanku."
Hinata menggeram, ia menggosokkan tangan ke lehernya yang sempat disentuh Sasuke. Sasuke menyerahkan dua dokumen kepada Hinata, Hinata hanya menatap datar dokumen itu. Walaupun tatapannya datar, ia tetap tak bisa menyembunyikan kelegaannya melihat dokumen itu kembali. Dan hal itu tak luput dari pandangan Sasuke.
"Batalkan kontrak dengan Akakusa Corp."
"Ini bukan urusanmu."
"Kau tak tahu bahwa Sabaku no Gaara dan Akasuna Sasori ada di perusahaan itu?" tanya Sasuke.
"Aku tahu, mereka mafia bukan? Tapi permainan mereka bersih dalam hal ini, Uchiha."
Sasuke mengernyitkan dahi, tak percaya akan jawaban enteng yang dilontarkan oleh Hinata. "Kau percaya kepada mereka?"
"Ya, aku percaya kepada mereka," kata Hinata merapihkan dokumennya dan meletakkannya di sebuah map di atas meja.
"Kau hanya tak tahu permainan licik yang dimainkan oleh mereka, Hyuuga."
"Kau juga tak tahu betapa besar kekuatan Hyuuga, Uchiha," kata Hinata sinis, Sasuke bersiul mendengarnya.
Setelah membereskan dokumen, Hinata berbalik, lalu mendekati Sasuke. "Kau mengkhawatirkanku?" tanya Hinata.
"Jika aku bilang iya, kau akan membatalkan kontrak itu?"
Hinata mendengus. "Hmph! Tentu saja tidak, simpan tenagamu daripada mengkhawatirkanku Uchiha."
Sasuke hanya terdiam sambil menatap Hinata. Ia menghela nafas dan berkata, "Lebih baik kita segera pergi," Sasuke menarik tangan Hinata keluar dari ruangannya.
.
.
.
Hinata menatap bosan melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Sesekali ia melirik Sasuke yang berada di sampingnya. Ia mengeratkan pegangannya pada tas plastik yang berisi fast food sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
"Kenapa kau membawaku kemari, Uchiha?" geram Hinata.
"Tentu saja makan siang," jawab Sasuke enteng.
"Tapi kenapa kau membawaku ke kebun binatang?!" luntur sudah image dingin, angkuh, tanpa emosi milik Hyuuga.
Saat ini Hinata benar-benar ingin melampiaskan kekesalannya. Ia sudah sukarela mengikuti permintaan dari Sasuke. Ia tak menyangka ia akan diajak makan siang di kebun binatang! Ya, kebun yang berisi aneka binatang yang membuat siapapun tak akan memilih tempat itu sebagai tempat melakukan makan siang.
"Kenapa tidak ke tempat lain?" tanya Hinata menatap ngeri dengan tulisan yang tertulis 'Ueno' dengan huruf Jepang dan 'Zoo' dengan huruf alfabet.
"Kau ingin aku mengajakmu ke sebuah taman yang romantis?" tanya Sasuke menarik sudut bibirnya ke atas.
"Kau mengharapkanku merona mendengar ucapanmu?"
"Kau mengerikan, Hyuuga. Kau bisa membaca pikiranku," kata Sasuke dengan nada ngeri yang dibuat-buat.
"Itu karena semua perbuatanmu terlihat jelas di mataku."
"Oh ya? Apakah Hyuuga punya kemampuan lain selain bekerja tanpa henti?" sindir Sasuke, tapi diacuhkan oleh Hinata.
"Bagaimana jika kukatakan bahwa..." Hinata berjinjit, ia mendekatkan bibirnya di telinga Sasuke. "Hyuuga memiliki kemampuan indigo?"
"Leluconmu lucu sekali" komentar Sasuke dengan wajah datar, yang dibalas dengan tatapan datar milik Hyuuga.
" Kau mengharapkanku takut dan percaya mendengar ucapanmu?" tanya Sasuke mengulang pertanyaan Hinata dengan sedikit mengubahnya. Sasuke melangkahkan kakinya memasuki kebun binatang itu.
"Tidak berhasil ya?" Hinata mengikuti langkah Sasuke.
"Butuh 100 tahun untuk membuatku seperti itu Hyuuga."
Hinata mendengus mendengarnya. Akhirnya mereka memasuki kebun binatang tersebut. Seperti kebanyakan kebun binatang yang lain, banyak anak kecil dengan orang tuanya yang berlalu lalang. Hinata menelan ludah melihat keadaan di sekitarnya. Jujur saja, pemandangan itu tidak menenangkan dimatanya.
"Apa-apaan dengan tatapanmu itu?" tanya Sasuke.
"Tidak apa-apa," jawab Hinata ketus.
"Tidak usah berbohong kepadaku, Hyuuga."
"Aku tidak berbohong," elak Hinata.
"Memangnya kau ingin berada dimana?" tanya Sasuke, ia berjalan menuju tempat penjualan tiket masuk.
"Tempat yang normal," jawab Hinata. Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Cih, bilang saja kau ingin berduaan denganku kan?"
"Percaya diri sekali. Aku hanya tidak suka berbaur dengan orang abnormal."
"Apa maksudmu? Jadi, kau anggap semua orang di sini abnormal begitu?"
"Jika tidak, untuk apa mereka menghabiskan waktu hanya untuk melihat hewan telanjang?" tanya Hinata sinis.
"Kau benar-benar bodoh," gumam Sasuke.
"Apa katamu?" tanya Hinata memastikan pendengarannya tidak salah.
"Lantas kau apa? Hanya berkutat dengan dokumen tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarmu."
"Aku punya tujuan yang jelas tidak se absurd mereka. Tujuanku-"
"Berhentilah mengoceh, kau mau tetap di situ atau ikut bersamaku?" tanya Sasuke sambil menyerahkan satu tiket yang sudah dibelinya kepada Hinata. Sasuke memegang satu tiket dan satu peta tentang kebun binatang yang ia beli tadi.
"Berapa harganya?"
"600 yen, kau tak perlu menggantinya," kata Sasuke seolah mengetahui isi pikiran Hinata. Hinata hanya terdiam sambil melihat tiketnya.
"Arigatou," gumam Hinata pelan yang dapat didengar oleh Sasuke.
"Hn. Cepatlah kemari," pinta Sasuke melambaikan tangannya. Hinata mendekati Sasuke dan berjalan di sampingnya.
Grep
Hinata tersentak saat merasakan tangannya merasa hangat. Ia memandangi tangannya yang digendeng oleh Sasuke.
"Kau bisa tersesat," gumam Sasuke. Tanpa ia sadari, wajah Hinata sedikit menimbulkan rona merah yang tipis atas perlakuan kecil yang diberikan oleh Sasuke.
"Jadi, kita akan kemana dulu?" tanya Sasuke meminta saran dari Hinata dengan menyodorkan peta kebun binatang yang luas itu. Hinata menunjuk sebuah gambar penguin kecil dengan tangannya yang bebas.
"Aku ingin bertemu dengan penguin," kata Hinata dengan matanya yang berbinar-binar. Sasuke tersenyum tipis melihat reaksi Hinata yang seperti anak kecil, ia bahkan tak menyangka bahwa wanita di sampingnya adalah wanita yang dingin, angkuh, dan tidak punya emosi, semua itu lenyap hanya karena sebuah hewan. Penguin.
Tak satu pun dari mereka yang ingin melepaskan pegangan tangan tersebut sampai jam makan siang berakhir, dan tak satupun dari mereka yang menyadari bahwa sejak awal sampai akhir jam makan siang tangan mereka saling bertaut.
Di lain tempat kedua orang memandangi mereka berdua dari jauh.
"Hyuuga dan Uchiha, ya? Menarik."
TBC
Haha chap ini jelek banget ya? Semakin aneh dan gaje ceritanya. Di sini saya melewati scene Hinata dengan Ibunya, dan saya lebih ingin memberikan adegan SasuHina. Maaf mengecewakan. Terimakasih telah me review, fav, follow fic ini. Jika ada yang ingin ditanyakan pm saya pasti saya jawab.
Saya akan memberi sedikit bocoran bahwa ff ini masalahnya tidak serumit I Realized. Sebenarnya I Realized melenceng dari dugaan saya. Sekian dari saya dan sampai jumpa!
