Hope and Prisoner

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuHina

Rated T

.

.

.

.

"Hei, bisakah kau lambatkan langkahmu?" pinta Hinata kepada Sasuke yang tetap berjalan tegap.

"Langkahmu yang terlalu pendek. Bukankah kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, huh?" ujar Sasuke setengah menyindir. Hinata mendengus kesal mendengar penuturan Sasuke, ia mempercepat langkahnya agar dapat berjalan beriringan dengan Sasuke.

Tiba-tiba langkah Sasuke mulai melambat, "Lagipula, bukankah kau ingin bertemu dengan penguin secepatnya? Makanya latihlah kaki pendekmu agar dapat menyamaiku, Hyuuga."

"Huh, awas saja kau Uchiha," desis Hinata.

"Hei, aku dapat mendengar ancamanmu itu. Akuilah bahwa kakimu pendek, Hyuuga."

"Kakimu yang terlalu panjang! Kau ini tidak bisa berperilaku dengan baik kepada wanita apa?" seru Hinata.

"Memangnya kau wanita?" ujar Sasuke sambil melirik Hinata yang berada di belakangnya.

Buagh!

Sasuke menghentikan langkahnya dan berbalik, "Hoi hoi kau benar-benar ingin membuatku amnesia?!" seru Sasuke sambil mengusap-usap kepalanya. "Luka yang sebelumnya saja belum sembuh," tambahnya.

"Jika itu membuatmu bisa berperilaku baik terhadap wanita, tidak masalah," ujar Hinata cuek.

Sasuke mendecakkan lidahnya, kesal dengan apa yang dikatakan Hinata. "Dasar Gorilla," desisnya.

Hinata menatap tajam Sasuke saat mendengar desisan kecil dari Sasuke, "Kau bilang apa?"

"Tidak ada Hyuuga-sama," jawab Sasuke setengah menyindir, saat melihat Hinata yang akan protes, Sasuke segera berkata kembali, "Kita harus cepat jika kau ingin bertemu penguin, karena kita masuk melewati Gerbang Ikenohata. Jadi berhentilah mengeluh."

Hinata menghela nafas, "Kalau begitu, kenapa kau membawaku kesini, huh?"

Sasuke mulai melanjutkan langkahnya dengan langkah sedang, "Bukankah kau juga menikmatinya?"

Wajah Hinata sontak memerah karena malu, ia memalingkan wajahnya dan mulai menyamai langkah Sasuke, "Ti-Tidak juga."

Ah, betapa beruntungnya kau Sasuke dapat melihat wajah merona dari Hyuuga sulung yang kolot ini, pikir Sasuke.

"Tch, dasar Tsundere."

"Apa yang kau katakan ha?!" tanya Hinata sambil menatap sengit Sasuke.

"Tidak ada."

"Aku tahu kau berbicara tadi."

Sasuke menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Berhentilah mencurigaiku dan mengajakku berdebat, Hyuuga. Kau bisa menjadi kuda nil yang berada di sana," tunjuk Sasuke pada beberapa kuda nil yang sedang berkubang pada lumpur.

"Grrr… Berhentilah mengejekku, Uchiha-san!" seru Hinata dan melayangkan tasnya ke lengan Sasuke.

"Hoi hoi berhenti. Itu sakit, hei! Pftt… huahaha," mendengar tawa Sasuke yang menyebalkan, Hinata berhenti memukul Sasuke, nafasnya tampak terengah-engah karena mengeluarkan seluruh tenaganya.

Saat tidak merasakan pukulan pada lengannya, Sasuke menatap Hinata yang tampak mengatur nafasnya. "Aku tidak menyangka jika Lady Hyuuga bisa marah hanya karena disamakan oleh kuda nil."

Hinata memejamkan mata, menahan emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Kemudian menarik nafas panjang lalu dihembuskan dan mendengus, "Terserah."

Setelah Hinata berbicara, mereka kembali berjalan beriringan dalam diam dan saling bergandengan. Mereka tidak menyadari jika sejak keduanya saling berdebat, tangan mereka saling bertaut. Entah mereka sadar atau tidak, bahwa keduanya cukup nyaman dalam suasana ini.

Iris mereka bergerak kesana kemari, mengamati kebun binatang yang ramai itu. Manusia-manusia dari segala umur ikut meramaikan kebun binatang Ueno, walaupun anak-anak lebih mendominasi keramaian kebun binatang itu.

Lama mereka terdiam, hingga iris onyx Sasuke menemukan sesuatu yang menarik. "Hei, bagaimana jika kita ke kebun binatang anak?" tanya Sasuke sambil menatap Hinata yang berada di sampingnya.

Hinata menelan ludah, "U-u-untuk a-apa? K-kita hanya makan siang di sini. Ja-jangan keasyikan di sini sampai melupakan tujuan kita," ujar Hinata terbata-bata.

"Aku hanya manyarankan. Lagipula kenapa kau tergagap huh?" tanya Sasuke dengan tatapan jahilnya.

"Aku hanya ingin kita semakin selesai dengan urusan kita, Uchiha-san."

"Pintar sekali mencari alasan. Di perjanjian 'kau harus mengikuti ke manapun aku pergi', bukan? Jadi kau tidak bisa menolak, Hyuuga," ujar Sasuke mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata. Irisnya bergerak mengamati ekspresi yang dibuat Hyuuga sulung itu.

"Kalau begitu, untuk apa meminta pendapatku," gumam Hinata pelan dan terselip nada emosi di sana.

"Aku bisa mendengarnya. Ayo," Sasuke segera menarik Hinata agar dapat berjalan beriringan dengannya saat langkah mereka semakin cepat.

Tanpa mereka berdua sadari, kedua orang yang sejak tadi mengawasi mereka dari kejauhan juga ikut mempercepat langkahnya.

"Sebenarnya apa yang dipikirkan di otak Uchiha itu? Mengajak lady Hyuuga ke area anak-anak? Yang benar saja!" seru salah satu orang yang mengawasi pergerakan mereka.

"Berhentilah mengeluh, mungkin dia sudah mengetahui jika kita sedang mengawasinya."

"Mungkin."

.

.

.

"Hee, kelinci semua? Ada apa dengan kebun binatang ini?" keluh Sasuke saat mereka berdua sudah sampai di kawasan kebun binatang anak.

Wanita yang berada di sampingnya hanya menghela nafas, "Kau yang menyarankan tapi kau sendiri mengeluh sekarang."

"Aku sedang tidak ingin berdebat, ojou-sama," ujar Sasuke.

Wanita yang bernama Hinata itu hanya bisa menghela nafas, "Jika begini akhirnya aku tidak akan menyetuju janjimu," gumam Hinata yang dapat didengar oleh Sasuke.

"Jika itu terjadi aku akan menuntutmu."

Hinata segera menolehkan kepalanya dan menatap tidak percaya pada Sasuke, "Apa maksudmu? Kau tetap ingin menuntutku?!" seru Hinata tidak terima.

Tiba-tiba suara anak kecil yang berlari kencang dengan es krim di tangannya terdengar ke seluruh ruangan kawasan kebun binatang anak. "Hei Rei-kun tangkap aku kalo bisa!" seru anak kecil yang berlari kencang.

Bagaikan tidak mendengar apapun, Sasuke dan Hinata tetap melangkahkan kakinya. Sasuke menoleh dan menatap Hinata malas, "Tentu saja aku "

Bruk!

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Sasuke menghentikan ucapannya dan menoleh ke bawah. Melihat Sasuke yang menoleh ke bawah, ia ikut menundukkan kepalanya. Dan ia menukan sesuatu yang membuatnya tidak bisa berkata-kata. Aura di sekitar tubuhnya menggelap seketika.

"A-ah gomenasai onee-chan, onii-chan aku tidak sengaja. Gomenasai!" seru anak itu membungkuk berkali-kali. Sasuke melirik Hinata yang tidak memberi respon apapun.

Sasuke sengaja tidak bersuara saat itu, ia ingin menyaksikan ekspresi seperti apa yang akan dikeluarkan sang Lady Hyuuga itu. Ia membuat posisi berjaga-jaga saat ia melihat cengkraman Hinata pada tas jinjing yang dibawanya semakin mengerat. Ia khawatir jika Hinata melakukan tindakan ekstrem kepada bocah yang menurutnya berusia 12 tahun. Matanya menyipit saat tidak menemukan pergerakan dari Hinata. Ia kembali menurunkan pandangannya melihat rok kerja selutut Hinata yang basah dan terdapat sisa es krim di sana.

"S-s-sumimasen nee-chan, aku "

Buagh!

"Ittai! Apa yang kau lakukan ha?!" suara itu bukan berasal dari anak kecil yang berada di hadapan mereka, bukan juga berasal dari suara Hinata. Tapi berasal dari seorang pria yang sejak tadi berada di samping Hinata. Pria yang bernama Uchiha Sasuke.

.

.

.

"Apa-apaan kau ini?! Memukulku tanpa alasan yang jelas," gerutu Sasuke sambil melepas jas kerjanya dan bersandar pada tembok di belakangnya.

"Diam kau Uchiha!" seru Hinata yang menimbulkan efek gema karena ia sedang berada di kamar mandi.

"Tch, apa Hyuuga memang selalu begitu? Selalu menyalahkan orang lain," gerutu Sasuke sambil melonggarkan dasinya.

"Aku tidak ingin mendengar hal itu dari orang seperti kau, Uchiha," desis Sasuke.

Sasuke menguap pelan, "Ya ya, tapi kau sudah mendengarnya. Lagipula lama sekali kau berada di kamar mandi. Seharusnya aku mengikuti masuk ke kamar mandi."

"Berani sekali kau memasuki kamar mandi wanita," ujar Hinata sambil membasuh mukanya di wastafel yang ada.

"Tentu saja aku berani. Lagipula kau berada di kamar mandi sendirian, aku tambah semangat untuk memasuki ruangan ini."

"Brengsek!" umpat Hinata yang tentu saja dapat didengar oleh Sasuke.

Sasuke menyeringai, ia merasa puas telah melihat semua ekspresi yang dikeluarkan oleh Lady Hyuuga itu pada hari ini. Walaupun ia harus sedikit bekorban untuk terluka, memar atau semacamnya tetapi terbayar dengan berbagai ekspresi langka yang dikeluarkan Hinata. Ia hanya berharap agar Hinata tidak mengumbar ekspresi seperti itu kepada orang lain selain dirinya.

Tunggu, entah kenapa berpikir seperti itu ia merasa bahwa ia seperti seorang pria yang melindungi pacarnya. Ah, sudahlah. Lebih baik ia berpikir bagaimana caranya ia dapat menjahili Hyuuga saat ini.

"Hoi Hyuuga, kau lama sekali. Aku masuk ya!" seru Sasuke dan mulai membuka pintu toilet.

"Aku sudah selesai dan berhentilah berseru keras seperti itu Uchiha," ujar Hinata merapikan kemejanya kemudian mengenakan kembali jasnya.

"Kau ini membersihkan rokmu atau mandi sih?" cibir Sasuke yang hanya dibalas dengan deathglare dari Hinata yang menurut Sasuke tampak seperti orang yang merajuk.

"Sudahlah cepat pergi dari sini. Lebih baik kita segera makan," ajak Sasuke langsung menyeret Hinata keluar dari kawasan kebun binatang anak. Karena ada toilet di kawasan itu, Hinata memilih menggunakan toilet itu daripada berjalan lebih jauh dengan rok yang basah untuk mencari toilet.

Hinata dengan terpaksa terseret oleh Sasuke yang berjalan cepat. Mau tak mau ia juga harus mempercepat langkahnya. Ia tak menyangka bahwa waktu makan siangnya hanya digunakan unuk hampir mengelilingi kebun binatang ini.

Sebenarnya ia juga kesal dengan pria yang ada di hadapannya. Baru 2 hari mereka bicara, pria itu melihatnya seakan-akan sudah mengenali seluruh seluk beluk dirinya. ia sempat berpikir bahwa pria ini adalah stalker atau mata-mata dari perusahaan lain yang bermaksud menjatuhkan Hyuuga. Tapi, kenapa dia sendiri mengajukan diri untuk bekerja sama dengan Hyuuga. Ini aneh, sangat aneh. Apa yang diinginkan oleh pria ini sebenarnya?

.

.

.

Setelah melewati banyak kejadian di kebun binatang bagian barat yang terdapat kawasan untuk anak-anak, akhirnya mereka sampai di restoran atau tempat peristirahatan yang ada di Ueno Zoo tepatnya berada di kebun binatang timur.

Kebun binatang bagian timur terdapat aneka hewan yang lebih banyak daripada kebun binatang bagian barat dan juga terdapat tempat istiharat yang biasanya digunakan oleh para pngunjung untuk beristirahat setelah tour atau makan.

Entah kenapa makan siang hari ini, seperti makan siang setelah piknik. Hinata menghela nafas memikirkan semua hal yang terjadi hari ini. Dan pusat dari segala keanehan dalam hidup monotannya adalah Uchiha Sasuke. Jujur, Hinata sangat bersyukur dapat memukulnya hari ini. Lebih bersyukur lagi jika pria itu tidak membawanya ke tempat seperti ini.

Ia tahu ini adalah tempat umum, dan ia dapat pastikan bahwa mayoritas pengunjung memerhatikan dirinya dan pemuda bermarga Uchiha ini. Bagaimana tidak? Mereka berdua menikmati makan siang di kebun binatang dengan setelan formal dan mereka berdua adalah orang-orang terpandang di dunia bisnis dan mau repot-repot mengunjungi kebun binatang yang seharusnya tidak penting dikunjungi oleh pebisnis terkenal.

Walau ia sering mendapatkan perhatian publik, ia risih jika ia menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang berlalu lalang. Ia juga khawatir jika terdapat beberapa paparazzi yang menemukan mereka dan membuat skandal antara dirinya dan Sasuke. Tidak! Ia tidak menginginkan hal ini terjadi! Sepertinya ia harus segera pergi dari kebun binatang ini, pikir Hinata.

Puk

Tepukan kecil di kepala Hinata menyadarkan dirinya dari lamunan panjangnya, "A-apa yang kau lakukan?" tanya Hinata tidak terima.

"Makan ini," ujar Sasuke tanpa berniat menjawab pertanyaan Hinata menyerahkan plastik fast food kepada Hinata.

Hinata mengernyit bingung, bukannya sejak tadi ia membawa plastik itu? Kenapa plastik itu ada di tangan Sasuke. Ah, ia baru menyadari bahwa saat di kamar mandi ia menitipkan plastiknya kepada Sasuke. Ia menatap plastik makanannya dengan pandangan khawatir, ia kembali mengingat kegelisahannya tadi. Dan tidak menyadari bahwa Sasuke sejak tadi memandangnya.

Sudut bibir pria Uchiha itu tertarik, membentuk seringaian, "Tidak akan ada paparazzi," ujarnya sambil membuka bungkus makanannya. Hinata langsung mendongak, menatap Sasuke dengan tatapan terkejut bercampur bingung.

"A-apa ma "

"Sejak tadi kau mengkhawatirkan hal itu, heh?" ujar Sasuke dengan tatapan merendahkan.

Hinata hanya mendengus dan membuka bungkus makanannya, "Cepatlah makan. Kita harus segera keluar dari tempat ini," ujar Hinata kemudian memakan makanan yang dibawanya.

Sasuke mendecakkan lidahnya, "Dasar tsundere," gumamnya lalu ikut memakan makanan yang dibawanya. Walau mulutnya sibuk mengunyah makanan, tatapannya tidak lepas dari wajah Hinata. Dalam hati ia mengejek pipi Hinata yang menggembung itu.

'Heeh, beginikah cara makan Lady Hyuuga? Menarik sekali,' batin Sasuke dalam hati dan mengunyah makanannya pelan.

Hinata yang tidak mengetahui Sasuke sedang memerhatikannya tetap melanjutkan kegiatan makanannya. Hanya satu tujuannya sekarang, yaitu menyelesaikan aktifitas makan siang ini dan kembali ke kantornya tanpa diusik Sasuke. Saking fokusnya ia untuk menghabiskan makanan, beberapa remahan makanan menempel pada pipinya.

"Gaya makanmu unik juga ya Hyuuga. Betapa menariknya remahan di kedua bakpaomu itu," ujar Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah lain saat menyadari Lady Hyuuga itu melihat ke arahnya.

"Aku tidak peduli. Urusi saja dirimu sendiri," ujar Hinata ketus. Ia tidak peduli lagi jika Uchiha itu kembali meledeknya, ia hanya ingin waktu berlalu begitu cepat. Irisnya kembali terfokus pada makanannya yang sudah tiga perempat habis.

Sasuke terkesiap mendengar reaksi Hinata, irisnya melirik Hinata yang sedang sibuk dengan makanannya. Ia tersadar bahwa Hinata kembali kepada kepribadiannya yang biasanya jika sudah memiliki tujuan tetap. Ia mengangkat bahu tidak peduli, kemudian melanjutkan aktifitasnya dengan lebih serius.

Lagi-lagi aktifitas mereka diintai oleh kedua orang yang berada di dua meja di samping kanan mereka.

"Apa-apaan Uchiha itu, dia ke kebun binatang hanya untuk makan siang?! Yang benar saja!" desis salah satu pengintai itu.

"Pelankan suaramu. Kita bisa nampak curiga dalam keadaan seperti ini."

"Kita ini orang terpandang dan melakukan hal seperti stalker. Kau tidak merasa ini aneh?"

"Ini demi perusahaan kita. Kita harus mencegah Uchiha itu membatalkan perjanjian Hyuuga dengan perusahaan kita."

"Tapi ti-"

"Jangan alihkan pandanganmu, lihatlah. Uchiha itu akan pergi ke toilet sepertinya. Cepatlah laksanakan misimu."

"Ha'i!" ujar pengintai yang sejak tadi mengeluh tentang aktifitas sang Uchiha. Dia berlalu meninggalkan temannya sendirian.

"Kau tidak akan lolos dari Akasusa bersaudara, Uchiha," ujar sosok yang tetap tinggal di restoran itu sambil menyunggingkan seringaiannya.

.

.

.

Sret

Hinata mendongak menatap pria di hadapannya yang beranjak dari tempat duduknya.

"Aku akan ke toilet, kau tunggu sebentar," ujar Sasuke tiba-tiba. Ia lalu menyampirkan jasnya ke kursi. Hinata hanya terdiam memperhatikan gerak-gerik Sasuke.

"Lihat-lihatlah dulu. Jangan menilai kebun binatang ini begitu buruk," setelah mengatakan itu, Sasuke segera berlalu meninggalkan Hinata sendirian. Hinata hanya mengangkat bahu tidak peduli.

"Dan sekarang aku harus menunggu hingga Uchiha itu dari toilet. Aku benar-benar ingin keluar dari tempat ini," gumam Hinata sambil membuka tas jinjingnya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumennya. Untunglah kegiatan makan siang sudah selesai, jadi meja terasa lebih luas tanpa makanan.

Hinata mengeluarkan penanya untuk menandatangani sekaligus memeriksa beberapa dokumen yang sempat dibawanya. Tak peduli dimana pun tempatnya, ia tidak akan pernah melepaskan pekerjaannya begitu saja, tidak seperti Uchiha yang menurutnya terlalu santai terhadap pekerjaannya.

Srak

Beberapa dokumen Hinata berjatuhan akibat senggolan kecil yang disebabkan oleh wanita yang sedang lewat itu, "Ah, sumimasen ojou-san," ujar wanita itu lalu membungkuk memungut dokumen-dokumen Hinata yang berjatuhan.

"Iie… Tidak apa-apa," ujar Hinata ikut memungut dokumennya. Setelah dokumennya sudah dipungut semua, Hinata segera berdiri untuk mengucapkan terimakasih tapi orang yang dicarinya tidak ada.

"Eh? Cepat sekali perginya," gumamnya sambil mengedarkan iris peraknya ke penjuru restoran itu tapi tetap tidak menemukan wanita yang sempat mennyenggol dan membantunya itu.

Ia hanya mengangkat bahu tidak peduli dan kembali duduk di tempat duduknya lalu mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda. Lama ia berkutat dengan pekerjaannya tidak menyadari jika satu jam telah berlalu.

Tanpa sengaja ia melirik kepada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Irisnya membelalak menyadari bahwa Uchiha itu sudah satu jam tidak kembali. Ia menggigit bibirnya tanda panik. Ini bahkan sudah lewat dari jam makan siang yang seharusnya.

Ia mengedarkan pandangannya dan melihat restoran itu yang mulai sepi. Ia segera membereskan dokumennya dan bersiap untuk pergi meninggalkan restoran. Tapi gerakannya terhenti seketika kala melihat jas Sasuke yang masih tersampir di kursi.

'Jadi dia tidak kabur. Sepertinya aku harus mencarinya,' batin Hinata. Hinata mulai berjalan meninggalkan restoran. Baru tiga langkah ia berjalan, ia melihat sosok seorang pria yang berjalan ke arahnya. Matanya menyipit saat melihat pria itu yang diterpa cahaya matahari.

Beberapa detik berikutnya, ia dikejutkan dengan sosok yang kini jelas berada di hadapannya. Ia mengernyit pelan kala melihat lengan di kemeja putihnya yang berubah menjadi merah, serta pipinya kanannya yang tergores, dan masih terdapat darah segar yang keluar dari luka itu.

"U-uchiha-san ap "

Bruk

Hinata dikejutkan dengan Sasuke yang tiba-tiba ambruk dan jatuh ke pelukannya. "A-apa yang kau laku "

"Kita pulang. Lebih baik kita pulang sekarang," ujar Sasuke lirih.

Hinata tersenyum mendengar keputusan Sasuke, "Ya, kita akan pulang sekarang," ujar Hinata mulai sedikit mendorong tubuh Sasuke untuk mengambil jas Sasuke yang masih tertinggal. Tapi yang didapat malah pelukan dari pria itu.

Hinata akan mengeluarkan emosinya saat melihat perlakuan semena-mena dari pria itu, saat ia akan protes, pria itu sudah duluan berkata, "Maafkan aku tidak mempertemukanmu dengan penguin hari ini."

Wajah wanita bersurai indigo itu mulai memerah saat Sasuke mengatakan permohonan maaf seperti itu. "Ti-tidak apa-apa," ujarnya gugup. Dengan jarak sedekat ini dengan Sasuke, membuatnya dapat mencium aroma dari tubuh pria itu. Ia sedikit mengernyit kala mencium bau anyir darah.

Hinata melirik pemuda yang masih memeluknya itu, 'Sebenarnya apa yang terjadi dengannya saat ia berada di toilet,' batinnya.

.

.

.

Bangunan perusahaan Hyuuga yang berdiri kokoh mulai nampak. Hinata segera masuk ke area parkir bawah tanah. Karena keadaan Sasuke yang tidak memungkinkan untuk menyetir, ia yang menyetir mobil mewah itu.

Sesampainya memarkirkan mobilnya, ia segera mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengaman lalu segera keluar dari mobil sampai tangannya yang digenggam oleh Sasuke. "Aku ikut," ujar Sasuke sambil memakai jasnya dengan lemah.

"Kau tidak perlu ikut, Uchiha-san. Keadaanmu tidak memungkinkan un " ucapan Hinata dipotong dengan Sasuke yang tiba-tiba menutup mulut Hinata dengan telapak tangan.

"Urusai. Aku tahu apa yang akan aku lakukan. Jadi diamlah," ujar Sasuke sambil membuka pintu mobil.

"Tapi "

Sasuke segera keluar dari mobil itu seraya berkata, "Kau tidak ingin terlambat bukan? Berhentilah mengeluarkan ocehanmu itu," kata Sasuke sambil menutup pintu mobil dan berjalan menuju lift terdekat, diikuti oleh Hinata yang keluar dari mobil, lalu menutup pintu mobil dan mengunci mobilnya.

Mereka berdua kemudian menunggu lift. Beberapa detik mereka menunggu, pintu lift kemudian terbuka. Hinata segera menekan lantai satu untuk bertemu dengan kliennya yang berada di lantai satu. Ia diberitahu bahwa kliennya menunggu di lantai satu oleh sekretarisnya.

Hanya menunggu beberapa detik hingga pintu lift sampai di lantai tujuan. Ia mencuri-curi pandang pada Sasuke dengan pandangan khawatir. Ia tak menyadari bahwa kegiatannya ini juga tidak luput dari perhatian Uchiha.

"Tidak usah mempedulikanku. Fokus saja pada klienmu," ujar Sasuke menepuk kepala Hinata singkat. Perkataan Sasuke seolah menjawab segala kekahawatiran dari Lady Hyuuga ini.

Pintu lift terbuka, ia segera disambut oleh sekretarisnya yang membungkuk hormat. "Hyuuga-sama, saya akan mengantar anda menuju klien anda," ujar sekretaris bersurai gelap itu mengajukan diri untuk menuntun Hinata. Hinata hanya mengangguk.

"Aku akan ke toilet dulu," bisik Sasuke pelan di telinga Hinata dan segera melenggang pergi meninggalkan Hinata dan sekretarisnya.

Hinata dan sekretarisnya kemudaian berjalan beriringan dengan sekretarisnya yang membacakan jadwal Hinata.

"Kita sudah sampai, Hyuuga-sama," ujar sekretaris itu saat mereka sudah sampai di ruangan tunggu klien.

Hinata segera membungkuk hormat kepada kliennya yang masih menghadap jendela dan belum berbalik ke arahnya, "Mohon maaf atas keterlambatannya," setelah mengatakan hal itu ia langsung berdiri tegap menatap punggung kliennya yang ia sadari adalah wanita paruhbaya.

"Tidak biasanya kau terlambat " suara ini…

" Anakku," dan detik berikutnya Hinata dapat melihat dengan jelas Ibunya yang berbalik dan menatap tajam pada Hinata dengan senyum ramah menghiasi bibirnya.

Hinata membatu seketika, ia tak menyangka bahwa klien yang dimaksud adalah Ibunya sendiri. Ia terkejut menyadari jika Ibunya mengetahui untuk pertama kalinya ia terlambat. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

"Okaa-sama…" gumamnya lirih.

TBC

Yo minna! Ada yang masih ingat ff ini? Gomen, terjebak dalam WB berkepanjangan selama berbulan-bulan. Banyak hal yang terjadi tidak terduga dalam bulan-bulan terakhir ini. Maag kalo nunggunya sampai berkarat hehe.

Dan saya memutuskan untuk hiatus sebentar. Sudah update lama, sekarang hiatus pula. Ya karena ada suatu hal yang membuat saya memutuskan hal demikian. Saya harap minna-san masih setia menunggu fic saya sekian dari saya… See you next chap~

Spoiler next chap

"Siapa kau?! Berani-beraninya mengganggu kami!"

"Beruntung aku datang tepat waktu."

"Terimakasih atas segalanya Uchiha-san."

"Berhentilah menyebut namanya!"