.

.

.

Hope and Prisoner

Disclaimer : Masashi Kishimoto

SasuHina

T

.

.

.

Bunyi ketukan heels terdengar nyaring di mansion besar nan luas serta mewah itu. Bunyi tersebut diiringi langkah kaki di belakangnya.

Bunyi itu terhenti saat seseorang yang memakai heels tersebut berhenti di sebuah pintu lebar yang terdapat dua daun pintu. Pintu yang terbuat dari kayu jati itu terasa berat saat orang out membukanya hingga menimbulkan bunyi yang keras.

Orang tersebut memakai pakaian maid yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang pelayan di mansion megah itu. Ia membungkuk sejenak sebagai bentuk penghormatan dirinya terhadao sang majikan yang duduk membelakanginya.

"Permisi Tuan. Nyonya Uchiha sudah sampai," maid itu menyampaikan tujuannya memasuki ruangan sang majikan.

"Hn. Suruh ia masuk."

"Baik Tuan. Uchiha-sama, silahkan masuk."

Maid itu menyampingkan tubuhnya untuk memberikan jalan kepada majikannya. Ia membungkuk sejenak saat wanita paruhbaya yang anggun itu berjalan melewati dirinya.

"Terimakasih Ayame, kau boleh pergi."

"Baik Nyonya."

Detik selanjutnya terdengar suara pintu tertutup disertai dengan langkah kaki yang berjalan menjauh.

"Bagaimana liburanmu, Mikoto?" kursi putar itu berbalik menampakkan wajah pria paruhbaya dengan wajah stoic-nya.

Mikoto, nama wanita tersebut. Ia melangkahkan kakinya menuju sofa yang berada di depan meja kerja pria tersebut. Ia menjawab dengan senyum anggun terpatri di wajahnya setelah ia mendudukkan dirinya di sofa empuk itu.

"Tokyo adalah kota yang menarik. Aku senang berada di sana. Pemandian air panas yang ada di sana sungguh menakjubkn. Rasanya aku ingin tinggal di sana lebih lama lagi, anata," binar-binar kebahagiaan tampak jelas di wajah ayu nyonya Uchiha itu.

Pria itu tersenyum tipis saat mendengar penjelasan penuh semangat yang dilontarkan oleh istrinya. Ia menyeruput kopi hangat yang berada di atas mejanya sebelum melanjutkan percakapan dengan istrinya itu.

"Bagaimana jika aku membeli sebuah rumah di Tokyo? Kau tidak perlu repot mencari penginapan di sana," ia menawarkan rumah semudah ia menawarkan permen kepada anak kecil.

"Benarkah anata?" Fugaku hanya mengangguk singkat sebelum menyeruput minumannya kembali. Setelahnya ia mendengar helaan nafas bahagia dari istrinya.

"Sepertinya akan menyenangkan memiliki hunian di Tokyo. Aku akan menanam banyak tanaman di sana."

Mikoto memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia membayangkan apa yang akan ia lakukan di rumah yang diberikan oleh suaminya itu. ia bergumam kecil saat membayangkan hal menarik yang akan ia lakukan.

Fugaku cukup menikmati dengan keadaan ini. Keadaan dimana ia tengah berdua dengan istrinya dan dapat melihat senyum manis dari istrinya itu. Terdengar aneh memang, tapi ia cukup menikmati suasana seperti itu. Suasana yang dapat menenangkan hatinya.

Ia terkesiap saat melihat istrinya menegakkan tubuhnya dan tampak seperti teringat sesuatu. Dahinya berkerut saat mengingat-ingat lebih jelas apa yang sempat terlintas di benak istrinya itu.

Mikoto menoleh, menatap Fugaku dengan sorot pandang bersalah. Dan Fugaku tidak menyukai sorot pandang seperti itu.

"Sepertinya tidak usah membeli rumah di Tokyo, anata."

Fugaku mengernyit. "Kenapa?"

Hening sejenak. Fugaku memutuskan untuk menyeruput kopinya kembali.

"Ada anakku di sana."

"…" cangkir yang Fugaku pegang terhenti tepat di bibirnya.

Mikoto mengeluarkan sebuah album dari dalam tasnya, ia membuka album tersebut dan tersenyum tipis. "Mungkin aku akan tinggal bersamanya jika aku ke Tokyo."

"…"

"Dan berkenalan dengan pacar barunya."

"…"

"Anata, ia sudah besar sekarang. Ia bahkan memiliki pacar yang manis dan cantik, serta anggun sepertiku."

"…" tangan Fugaku yang memegang cangkir tampak bergetar saat mendengar ucapan istrinya.

"Anakku, Uchiha Sasuke dia sudah me–"

Detik selanjutnya terdengar suara barang pecah serta gebrakan meja mengisi ruangan besar tersebut. Mikoto terpekik tertahan saat mendengar suara nyaring tersebut mengisi ruangan tersebut.

Irisnya terbelalak saat melihat raut wajah suaminya. Ia tidak menyangka suaminya akan semarah ini saat ia menyebutkan anak bungsunya. Tangannya gemetar saat melihat kilatan amarah di kedua iris suaminya itu. Tidak hanya anggota tubuhnya yang gemetar, suaranya pun ikut bergetar saat melihat amarah suaminya itu.

"Anata…"

Fugaku segera beranjak dari kursinya. Ia menjatuhkan semua barang di meja kerjanya dalam satu sapuan tangan. Beberapa barang elektronik hancur dalam sapuan tangannya.

Ia berjalan menuju Mikoto dan merebut paksa album itu dari tangannya dan membuka jendela lebar-lebar sambil menggenggam erat album foto tersebut.

Mikoto beranjak dari kursinya dan berjalan tergesa-gesa menuju suaminya saat melihat Fugaku mengeluarkan pemantik dari sakunya, menyalakannya, dan mengarahkannya pada kumpulan album foto tersebut.

"Anata! Apa yang kau lakukan?!" seru Mikoto saat melihat album foto itu terbakar. Fugaku berbalik menatap Mikoto dingin dan tajam.

Mikoto merasakan matanya memanas. Ia menahan air matanya sekuat tenaga di hadapan suaminya yang pada akhirnya mengalir deras di pipinya.

"Anata! Ada foto Sasuke-kun di sana!"

"Diamlah."

Mikoto segera mengambil album yang sudah setengah terbakar itu. ia tidak mempedulikan jika tangannya terbakar saat menyelamatkan album foto itu. "Ini adalah satu-satunya petunjuk jika ia menghilang lagi."

"Buang itu."

Mikoto mendongak menatap Fugaku tajam. "Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau melakukan ini?!"

Fugaku merebut album itu dan melemparkannya ke luar jendela. "Sudah kubilang buang benda itu! Apa kau tuli hah?!"

Mikoto menatap album itu yang terbuang keluar jendela dengan perasaan hampa. Ia tidak menyadari jika ponsel di saku cardigannya sudah diambil dan dihancurkan dengan injakan oleh suaminya.

"Tidak ada yang boleh berkomunikasi dengannya! Termasuk kau Mikoto!" tunjuk Fugaku kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.

Mikoto mencengkram lengan Fugaku erat, membuat pria itu menghentikan langkahnya.

"Ia juga anakmu! Mengapa kau tidak mengakuinya Fugaku?!" jerit Mikoto frustasi sambil mencengkram erat lengan suaminya, menahan suaminya agar tidak pergi. Ia tidak peduli jika kukunya melukai lengan Fugaku.

Fugaku langsung menyentakkan tangan Mikoto kasar.

"Hanya Itachi anakku! Hanya dia anakku satu-satunya!" bentak Fugaku dan kembali berjalan keluar dari ruangan itu.

"Sasuke adalah anakmu juga! Sasuke Uchiha! Ia adalah anakmu! Berhentilah lari dari kenyataan!" teriak Mikoto histeris. Hal itu membuat Fugaku menghentikan langkahnya.

Fugaku berbalik dan menatap Mikoto tajam.

"Berhentilah menyebut namanya!"

Sontak Mikoto terdiam kaku mendengar bentakan yang penuh emosi dan keras seperti itu. Tubuhnya bergetar dan tangannya saling bertautan, menahan ketakutan yang tengah melandanya.

"Dia! Bocah busuk itu tidak ada! Ia bukanlah bagian dari Uchiha!"

"Berhentilah mengaitkannya dengan Uchiha!" setelah mengatakan hal itu, Fugaku kembali melanjutkan langkahnya.

"Tadi kau bilang apa? Bocah busuk?" Fugaku hanya melirik Mikoto yang memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Ia kembali menghentikan langkahnya saat sampai di depan pintu.

"Ana–"

Saat Mikoto mulai mengeluarkan seruannya kembali, gumaman yang keluar dari Fugaku dan dapat ia dengar dengan jelas menghentikan ucapannya.

"Sasuke… anak itu–"

Mikoto terdiam, menunggu ucapan selanjutnya yang akan diucapkan suaminya itu.

"–ia sudah lama mati."

Bersamaan dengan itu pintu terbuka lebar dan Fugaku berlalu meninggalkan Mikoto sendirian di ruangan yang nampak habis terkena gempa bumi.

Mikoto sudah tidak bisa kembali menahan berat tubuhnya. Kakinya terasa lemas karena kejadian barusan. Ia jatuh ke lantai. Penampilannya sangat berantakan tidak seperti tadi. Air mata kembali menetes dan jatuh ke pipinya.

Ia menatap sebuah foto yang sempat diselematkannya walau terdapat bekas terbakar di sana sini. Foto yang menampilkan sosok gagah dan hangat dari anak bungsunya. Anak itu tampak tersenyum bahagia di tengah-tengah keluarganya yang juga bersuka cita.

Ia ingat bahwa foto itu terakhir diambil sebelum peristiwa itu terjadi. Peristiwa yang merenggut kehangatan keluarga Uchiha dan menyebabkan perpecahan di keluarga Uchiha.

Mikoto menatap kosong foto dalam genggamannya. Ia tersenyum miris saat mengingat kembali hal-hal saat keluarganya bahagia.

"Sasuke-kun… cepatlah pulang dan temui ayahmu."

.

.

.

"Okaa-sama…" iris Hinata bergulir ke sosok yang berada di samping ibunya. Irisnya terbelalak saat mengetahui sosok itu.

"Kau!" pekiknya tertahan. Sosok itu adalah wanita itu. Wanita yang tidak sengaja menjatuhkan dokumen kerjanya saat di kebun binatang.

"Konan sudah menceritakan semuanya kepadaku."

Hinata menggigit bibirnya, menahan ketakutan dan kekhawatiran yang kini melandanya. Ia meremas-remas jarinya menahan gugup.

Ibunya berjalan perlahan mendekat ke arahnya. "Ia mengatakan tentang dirimu dan semua perilaku tidak pantas yang telah kau lakukan, di kebun binatang."

Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya saat dengan tiba-tiba Ibunya menyentuh dan mencengkram perlahan bahunya.

"Aku tidak melakukan apapun, okaa-sama. Percayalah. Sejak tadi aku berada di ruanganku dan menandatangani berkas-berkas."

Iris bulan Hikari melirik ke bawah. "Kau berbohong, Hyuuga."

Tubuh Hinata menjadi kaku seketika. Ia mengatupkan bibirnya, tidak bisa berkata-kata atas tuduhan yang dilancarkan Hikari. Bahkan suaranya tampak bergetar saat mencoba mengelak dari tuduhan ibunya.

"Benar… aku tidak kemana-mana okaa-sama."

Hikari menyeringai sinis, "Bahkan suaramu tampak bergetar, sayang."

Hinata menelan ludahnya gugup. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi. Ia benar-benar panik terhadap hukuman apa yang akan dilakukan ibunya.

Jujur, ia kecewa terhadap dirinya sendiri. Ia tidak bisa menjaga peraturan Hyuuga dengan semestinya selama bertahun-tahun. Ia merasa telah kehilangan martabat serta harga dirinya karena melanggar peraturan Hyuuga yang hampir ratusan. Dan juga gagal sebagai seorang Hyuuga.

Di lain pihak, ia juga ketakutan. Ia telah melanggar 4 peraturan sekaligus dalam waktu satu hari. Ia tidak bisa membayangkan hukuman apa yang didapatkannya. Ia sedikit bersyukur saat tahun berganti tahun dan hukuman kepada dirinya mulai tidak ada.

Tapi sekarang, kekhawatiran masa lalu kembali hadir dalam benaknya. Ia kembali teringat tamparan, cambukan, pukulan di masa lalu. Tubuhnya bergetar kala mengingat kembali hal itu.

Ia menarik nafas untuk mengeluarkan pembelaannya yang sempat terlintas di pikirannya. Ia mencoba untuk menahan suaranya yang bergetar. Ia memejamkan mata sejenak dan mengganti sorot matanya menjadi tajam.

Ia memandang ibunya yang berjalan menuju Konan.

"Apa buktinya bahwa aku berada di sana?" Hikari langsung berbalik menatap Hinata. Ia terkesiap saat melihat Hinata mengeluarkan aura khas Hyuuga nya.

"Apa buktinya, okaa-sama?" ulang Hinata dengan sorot angkuh.

Hinata melirik ke bawah, menatap roknya sejenak sebelum menatap wajah datar Konan dan wajah sedikit terkejut milik ibunya.

"Rok yang basah ini tidak menjamin bahwa aku berada di sana saat makan siang." Hati Hinata mulai melambung saat melihat ibunya tidak berkata-kata. Ia merasa hukumannya akan sirna seiring dengan permainan kata-kata yang dikeluarkannya.

"Seorang Hyuuga tidak akan menuduh orang lain tanpa bukti, bukan?" wajah Hikari berubah menjadi panik.

Ia menatap iris bulan Hikari lurus-lurus penuh keyakinan dan tekad. "Jadi, apa bukti aku melakukan semua kesalahan tersebut okaa-sama?"

Hinata menyunggingkan senyuman khas Hyuuga ketika ia merasa menang. Ia memperhatikan gerak-gerik ibunya yang berubah-rubah. Ia merasa bingung saat raut wajah ibunya menjadi tampak senang.

"Kau hebat Hinata. Aku kagum dengan sikapmu yang melawanku sekarang," entah kenapa Hinata merasa perasaannya mulai memburuk.

Ibunya berjalan mendekat dengan tangan yang nampak memegang sesuatu di belakangnya. Hinata memaksakan tubuhnya untuk tetap berdiri dengan tegak.

"Tapi, apapun pembelaan yang kau lontarkan tidak akan berpengaruh padaku, pada ibumu." Hikari mengangkat dagu Hinata pelan kemudian melepaskannya seraya berbalik dan berjalan menuju Konan.

"Kau melewatkan sesuatu Hinata. Kau melewatkan sesuatu yang membuatmu sangat lemah."

Hinata menatap wajah Konan yang tersenyum tipis. Ia merasa curiga dengan tingkah yang ditunjukkan oleh Konan. Ia merasa Konan lah yang membuat Ibunya membalikkan keadaan dan merubah raut wajahnya seperti itu. Jangan-jangan…

Wush

"Kau kalah anakku."

Hinata terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Beragam kertas turun dari atas. Ia baru menyadari bahwa kertas-kertas dalam jumlah yang banyak itu dilemparkan oleh ibunya. Ia merasa perasaannya sangat buruk sekarang. Ia dapat melihat seringaian Konan tampak jelas.

Ia mengulurkan telapak tangannya untuk mengambil salah satu kertas yang masih berjatuhan. Irisnya terbelalak tidak percaya. Tangannya gemetar melihat gambar yang tertera di kertas itu. kakinya terasa lemas dan tidak bertenaga.

Ia masih menatap kertas itu tidak percaya. Ia tahu siapa yang berada di kertas itu. Itu adalah dirinya. Dirinya dan Sasuke yang saling bergandengan tangan!

Iris bulannya menatap foto-foto yang berhamburan di lantai. Irisnya terbelalak, itu semua adalah foto semua kegiatan yang dilakukannya dengan Sasuke di kebun binatang itu.

"1. Hyuuga tidak akan melakukan tindakan bermesraan di depan umum tanpa alasan. 2. Seorang Hyuuga tidak membuang waktu makan siangnya untuk hal yang tidak berharga. 3. Seorang Hyuuga tidak mengeluarkan nada yang bergetar di hadapan siapapun. 4. Seorang Hyuuga tidak pernah berbohong, kecuali saat keadaan tertentu."

"Melanggar lebih dari 3 peraturan dalam satu hari akan mendapatkan hukuman yang sangat berat."

Tubuh Hinata bergetar. Ia sudah skak mat. Ia tidak bisa kabur dari semua hukuman yang akan menimpanya. Tatapannya kosong dipenuhi dengan sorot ketakutan. Bayang-bayang masa lalu kembali menghampirinya. Tubuhnya bergetar hebat kala teringat kembali masa lalu saat di sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka.

"Hinata. Aku sangat kecewa padamu, anakku. Kau tidak bisa menjadi Hyuuga," Hikari mengelus pipi Hinata lembut. Hinata menatap ngeri ibunya.

Hikari menyeringai, ia melepaskan elusannya di pipi kanan anaknya. Ia mulai gelap mata dan melayangkan tangannya pada pipi kanan Hinata.

Plak

Tamparan yang dikeluarkan Hikari adalah tamparan biasa namun membuat pipi Hinata lecet.

"Masih dua lagi, anakku."

Hikari kembali menampar pipi kanan Hinata yang terluka. Tubuhnya bergetar kala suara tamparan keras itu terdengar di telinganya. Tamparan itu begitu keras hingga telinganya sedikit berdengung. Bibirnya mengeluarkan darah karena gigitan yang ia lakukan untuk menahan rasa sakit yang melandanya.

Hikari kembali bersiap melayang tamparannya pada Hinata. Hinata menatap horror ibunya. Seluruh tubuhnya bergetar kala melihat tangan ibunya yang sudah siap untuk menamparnya.

"Okaa-sama…" suaranya ikut bergetar, menggambarkan dirinya yang sangat ketakutan. Ia memejamkan mata dan bersiap untuk menahan rasa sakit yang teramat sangat. Hikari segera melayangkan tamparannya pada Hinata sekali lagi.

Grep

Tes

Tes

"Seorang Hyuuga tidak akan menarik perhatian khalayak ramai," suara ini…

Hinata membuka matanya. Ia terkejut saat melihat seseorang di hadapannya. Sosok yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Pria yang berada di hadapannya yang menolongnya disaat kejadian yang sangat buruk akan terjadi.

"Itachi-san…"

Itachi menolehkan sedikit kepalanya, menatap Hinata. Ia tersenyum menatap Hinata. "Maaf, aku terlambat."

"Uchiha-san?" suara Hikari tampak bergetar. Raut wajahnya penuh dengan kepanikan dan kecemasan. "Maafkan saya Uchiha-san ini karena–"

Itachi tersenyum. Ia menggenggam kedua tangan wanita paruhbaya itu. "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sebaiknya anda tidak melakukan hal tersebut kepada anak anda. Bagaimana pun ia adalah anak kandung anda."

Iris Hikari menjadi geram. "Tapi, ia sudah berbuat kesalahan!"

Itachi mengeluarkan sebuah foto dari saku jasnya. "Karena ini? Ah, perkenalkan pria di foto ini adalah adikku. Sasuke Uchiha."

"Dia berkata padaku bahwa ia memiliki proyek dengan Hinata-san. Ia memutuskan untuk mengobservasi dengan Hinata-san tempat yang sering dikunjungi oleh masyarakat dalam segala umur."

Hinata membelalakkan matanya. Teringat kembali dalam benaknya ketika Sasuke mengatakan untuk melihat-lihat. Ia tidak terlalu mengerti tentang ucapan Sasuke saat itu tapi saat ini dia menyadari bahwa ucapan Sasuke saat itu adalah bukti bahwa pria itu tidak menyampingkan urusan perkerjaannya.

"Mereka berdua merencanakan membuat sebuah tempat umum yang akan menarik perhatian para tourist dan penduduk lokal pada Hotel dan Resort yang dibangun oleh Hyuuga dan Uchiha."

Hikari tertawa meremehkan saat mendengarnya. "Lalu apa yang kau dapatkan dari observasi kecilmu itu, anakku?" Hikari menekankan kata observasi pada ucapannya. Bermaksud menyudutkan Hinata.

Hinata menatap Hikari lurus-lurus. Benaknya dipenuhi oleh memori ketika ia melihat anak-anak yang berlarian di kebun binatang dan para pasangan yang berjalan santai sembari tertawa di kebun itu.

"Anak-anak dipenuhi oleh rasa ingin tahunya terhadap sesuatu. Kami berencana membangun sebuah tempat yang berisi beraneka macam biota laut mengingat hotel Uchiha dan Hyuuga berada di pantai."

Hikari menyeringai. "Bukankah itu tampak membosankan? Kau berencana membangun museum? Apanya yang menarik perhatian? Idemu sudah banyak dipakai, anakku."

Hikari berjalan mendekati Hinata. "Menggunakan aneka biota laut untuk menarik perhatian anak kecil itu sudah biasa. Apa kau tidak memikirkan bagaimana bosannya para orang dewasa saat berada di sana?"

"Aku yakin okaa-sama tahu tentang desain restoran dengan suasana kedalaman laut bukan? Kami akan menggunakan konsep itu. Memang terdengar biasa, tapi ada sebuah hal yang membuat tempat tersebut berbeda."

"Tempat yang kami rencanakan adalah tempat beristirahat dan berwisata dalam satu paket. Kami akan membangun tiga lantai. Lantai pertama terbagi atas dua ruangan. Ruangan pertama adalah restoran dengan dinding dan lantai yang berisi aneka biota laut. Sebuah konsep aquarium. Pengunjung dapat melihat berbagai macam aneka biota laut sambil menyantap pesanan mereka. Ruangan kedua adalah tempat anak-anak memenuhi rasa ingin tahunya terhadap alam. Dan ruangan kedua juga terbuka bagi mereka yang berniat menyelami aquarium."

Hinata tersenyum yakin menatap Hikari. "Okaa-sama, Hyuuga tidak pernah meremehkan lawan. Konsep restoran aquarium memang sudah biasa digunakan, tetapi jika kita pintar dalam mendesainnya hal itulah yang akan membuat berbeda dari yang lain. Bahkan ada beberapa restoran internasional yang menggunakan konsep itu."

Hinata mengangkat jari telunjuknya. "Tapi restoran aquarium bukanlah sorot utamanya. Karena tujuan utama pembuatan taman wisata itu adalah sebagai tempat bersantai para pengunjung, kami menyediakan tempat spa dan sebuah ruangan outdoor untuk berjemur, menikmati keindahan pantai, dan hembusan angin dari lantai dua. Dan saya yakin bahwa untuk urusan ini baik anak-anak maupun orang dewasa akan menikmatinya."

"Karena bagaimana pun manusia tetap akan terpesona dengan keindahan alam yang dibuat oleh Tuhan. Dan untuk itulah tempat bersantai ini cocok untuk segela umur. Dan jangan lupakan bahwa selain spa, ada sebuah taman bermain yang akan kami bangun di sana."

Hikari mendengus. "Idemu terlalu biasa anakku. Menggabungkan konsep restoran, spa, taman bermain sudah terlalu biasa. Untuk menarik perhatian pengunjung dibutuhkan kreatifitas yang tinggi dalam membentuknya. Dalam hal ini, kau hanya menggabungkan konsep orang lain."

Hinata mengangkat dagunya angkuh. "Sesuatu yang biasa akan tampak luar biasa tergantung bagaimana cara kita mengolahnya. Tidak apa-apa jika okaa-sama meremehkan ide kami ini. Tapi kami tetap akan merealisasikan ide kami. Dan ketika itu semua sudah terwujud, saya yakin bahwa anda akan lupa daratan dan tidak bisa membedakan antara daratan dan lautan."

Hikari terkekeh. Ia menutupi seringaiannya dengan kipas mahal yang dibawanya. Ia menyipitkan matanya yang membuat Hinata menegang. "Aku sangat menantikan hal itu. aku harap dedikasimu untuk perusahaan ini besar, Nak." Hikari memberi kode pada Konan untuk mengikutinya dan dengan setia sekretasris wanita paruhbaya itu mengikuti sang atasan.

Hikari menepuk pelan pundak Hinata saat ia berjalan melewati anaknya itu. "Dan kau akan menjadi seorang Hyuuga sejati."

"Terima kasih, Hyuuga-sama." Hikari membelalakkan matanya sejenak kemudian ekspresi menjadi dingin seperti biasanya. Ia meninggalkan Itachi dan Hinata dalam ruangan itu.

Setelah kepergian sang ibu, tubuh Hinata bergetar, ia tidak dapat menahan beban tubuhnya. Tubuh Hinata kelimpungan dan akan menghantam lantai jika tidak Itachi yang menahannya. "Kau tidak apa-apa Hinata-san?"

Hinata menggeleng. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Maaf telah merepotkanmu, Itachi-san."

Sebenarnya banyak sekali pertanyaan dalam benak Itachi yang tidak tersampaikan, tapi ia memutuskan diam untuk saat ini atau akan menambah buruk kondisi wanita di hadapannya ini.

"Tidak apa-apa. Tenanglah," Itachi memeluk Hinata, berusaha memberi ketenangan pada wanita itu. Ia mengusap surai Hinata, memberikan rasa tenang dan kekuatan untuk wanita bersurai indigo itu. Entah kenapa melihat sosok lemah Hinata membuat Itachi mengingat Sasuke.

Tangis Hinata semakin pecah saat menerima perilaku hangat Itachi. Tubuhnya bergetar. Ini adalah pengalaman pertama Hinata melawan ibunya dan rasa ketakutan saat ibunya meremehkannya, mencela, dan menampar Hinata membuat ia kembali mengingat masa lalu yang tidak pernah ingin ia ingat.

Karena mengingat masa lalu itulah rasa sakit terpendam saat ia masih kanak-kanak mencuat. Dan hal itu terjadi karena untuk pertama kalinya ada yang menenangkannya. Tiba-tiba wajah Sasuke muncul dalam ingatannya. Hal itu membuat Hinata menghentikan tangisannya.

Hinata menatap Itachi dengan pandangannya yang memburam. "Bagaimana dengan Uchiha-san?"

"Denganku? Kau bisa lihat sendiri bahwa aku baik-baik saja."

Hinata menggeleng. "Maksudku Sasuke-san. Bagaimana keadaannya? Ia mengalami luka yang parah saat kemari."

Itachi mengangguk. "Ya. Keadaannya sangat buruk."

Iris Hinata membulat, "Benarkah? Bagaimana bisa? Ini pasti salahku kare–"

Itachi menepuk kepala Hinata pelan. "Tenanglah. Sekarang ia pasti baik-baik saja. Kau ingin membujuknya?"

Hinata mengangguk. "Bisakah aku menumpang padamu?"

Itachi bangkit berdiri, ia menjulurkan tangannya ke arah Hinata yang masih berada di lantai. Ia tersenyum tipis hingga matanya menyipit. "Pintu mobilku selalu terbuka untukmu, Hinata-san."

.

.

.

"Dia kehabisan banyak darah. Ia pingsan di kamar mandi. Kebetulan aku sedang menuju ke Hyuuga Corp," jelas Itachi. Ia menatap Hinata yang sedang memandang Sasuke dengan raut wajah khawatir.

Itachi tidak akan menjelaskan bahwa saat itu Sasuke sempat menelponnya untuk meminta pertolongan menyelamatkan Hinata. Ia tidak ingin membuat wanita itu semakin merasa bersalah.

Itachi mengacak surai Hinata. "Ia tidak akan mati secepat itu. tenanglah dan pikirkan dirimu sendiri saat ini."

"Aku tidak apa-apa, Itachi-san." Hinata mendongak menatap Itachi dan menggeleng kemudian ia menatap Sasuke yang masih terpejam dengan tenangnya.

Itachi menghela napas saat melihat reaksi keras kepala dari sulung Hyuuga itu. "Penampilanmu jelas sangat buruk. Bersihkan dirimu, paling tidak saat ia terbangun ia tidak melihat wajah bekas menangis itu."

Wajah Hinata merona mendengarnya. Ia merasa malu karena tetap mempertahankan wajah kacaunya di hadapan semua orang. Ia menundukkan kepalanya agar Itachi tidak melihat wajah kacaunya saat ini.

Itachi melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kau yakin akan tetap menunggunya hingga terbangun?"

Hinata mengangguk, ia menatap wajah damai Sasuke sekilas dan melihat kuku-kuku jarinya. "Ya. Itachi-san akan pergi?"

Itachi tersenyum saat melihat raut wajah Hinata yang tampak seperti gadis polos itu. "Ya. Maaf meninggalkanmu sendirian di sini. Aku ada sedikit urusan. Apa aku meminta sopirku untuk mengantarkanmu pulang ke rumah?"

Hinata menatap Itachi dengan pandangan tidak nyaman. "Tidak usah. Aku sudah terlalu merepotkan. Aku akan meminta sekretarisku untuk menjemputku nanti."

Itachi menggaruk tengkuknya. "Baiklah jika kau bersikeras. Kalau begitu aku pergi dulu."

Hinata mengangguk. "Ha'i. Hati-hati Itachi-san." Itachi tersenyum mendengarnya.

Hinata menatap Itachi hingga pria itu membuka pintu dan berbalik sejenak ke arahnya. Ia tersenyum tipis ke arah Hinata. "Itekimasu."

Sesaat setelah pintu tertutup, Hinata memutuskan untuk mencuci wajahnya di kamar mandi. Setidaknya ia tidak ingin Sasuke melihat bekas air mata di pipinya, walau sepertinya ia tidak dapat menghilangkan matanya yang bengkak dan sembab untuk sementara waktu.

Setelah membasuh wajahnya, Hinata kembali duduk di kursi yang berada di samping kasur Sasuke. Entah kenapa ia jadi teringat ketika Sasuke yang juga berbaring tenang seperti saat ini dulu. Dan secara tiba-tiba orang itu sadar dan melakukan tindakan yang tidak seperti orang yang mengalami koma.

Hinata mendengus saat mengingat memorinya di masa lampau itu. "Huh. Mana mungkin ia tiba-tiba terbangun seperti dulu."

Nyut

Nyut

Hinata menekan-nekan pipi Sasuke yang terplester. "Sakit tidak ya?"

Entah dapat ide darimana Hinata memutuskan menghilankan rasa bosannya dengan menekan pipi Sasuke lembut. Dari mata Hinata, ia dapat menemukan sisi imut Sasuke ketika pipi tirus pemuda itu tertekan. Iris Hinata berbinar-binar seolah mendapatkan mainan baru.

Grep

"Sakit bodoh." Hinata memundurkan tubuhnya saat tangannya dicengkram oleh tangan lain.

"Kau bangun." Komentar Hinata. Ia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Sasuke.

Bukannya terlepas, tangan Hinata semakin digenggam erat. "Tch. Berhentilah bergerak dan bantu aku duduk."

Mendengar permintaan Sasuke yang cenderung menyuruh Hinata membuat Hinata tersadar. Ia segera memapah Sasuke untuk bersandar pada sandaran ranjangnya.

"Maaf," gumam Hinata.

Sasuke menghela napasnya kasar. Bergerak sedikit saja seluruh badannya terasa sangat sakit. Dalam hati ia mengumpat setan merah bersaudara yang mengeroyoknya di toilet.

Demi Tuhan! Ia hanya ingin membuang kotoran cairannya dan ternyata ia malah ditahan dan dikeroyok ramai-ramai oleh mereka. Jika Sasuke tidak kebelet saat itu dapat dipastikan duo bersaudara itu hancur di tangannya. Awas saja jika bertemu lagi.

Sasuke menatap Hinata datar. "Untuk apa?"

"Karena telah merepotkanmu."

Sasuke mengehela napasnya. "Memang. Seharusnya kau meminta maaf."

Hinata sedikit terkejut saat tiba-tiba watak orang itu berubah menjadi angkuh. "Maaf."

"Ya ya. Diamlah. Aku ingin beristirahat sebentar."

Hinata membebaskan tangannya dari cengkraman lemah Sasuke. "Kalau begitu akan kupanggilkan dokter. Permisi."

Sasuke segera menahan lengan Hinata. "Sudah kubilang diam. Aku tidak perlu dokter, temani aku sebentar."

"Yang kau butuhkan dokter bukan–"

Sasuke menghela napasnya kesar. Ia berusaha menahan emosi dan rasa sakitnya mati-matian. "Aku tahu. Berhentilah bicara, kau membuatku pusing." Sasuke memijat pelipisnya yang berdenyut.

Hinata kembali duduk. "Maaf."

"Hn." Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya terang yang memasuki indra penglihatannya itu.

Setelah terbiasa dengan intensitas cahaya yang ada, irisnya bergulir menatap gadis yang menunduk. Tampak murung.

"Ada apa denganmu? Tidak biasanya."

Hinata mendongak, irisnya menatap Sasuke dengan tatapan terluka. "Tidak apa-apa."

Sasuke merangsek maju, ia tidak peduli dengan gesekan kain yang menyentuh kulitnya yang terluka. Rasa penasaran yang besar mengalahkan rasa sakitnya. Kedua tangannya menyentuh kedua pundak Hinata agar gadis bersurai indigo itu tetap menatap irisnya.

Iris Sasuke membola saat mendapati gadis itu bersiap mengeluarkan tetesan air mata dari manik pucat itu. "Hoi hoi. Ada apa? Apa aku melukaimu?"

Hinata menggeleng. Tumpah sudah. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi. Hinata bergerak menjauhi Sasuke saat mendapati raut wajah khawatir dari pemuda bersurai raven.

Sasuke semakin gelagapan saat mendapati penolakan Hinata. Ia semakin menarik pundak Hinata mendekati dirinya. "Maaf jika aku berkata kasar. Ada apa? Bicaralah."

Hinata menggeleng pelan. Mendengar bujuk rayu Sasuke membuat lelehan air matanya semakin menjadi. "Aku pulang saja. Sepertinya Uchiha-san sudah baikan." Hinata segera beranjak dari kursinya dan mencengkram tasnya. Gerakan Sasuke yang terbatas karena infusnya membuat dirinya tidak bisa menahan Hinata.

Iris Sasuke membulat sempurna saat melihat luka di pipi mulus gadis bermarga Hyuuga itu. Ia segera menahan lengan Hinata kuat-kuat. Memaksa agar gadis itu berbalik dan menatapnya. Sasuke benar-benar tidak bisa menahan rasa panik dan terkejutnya.

Kedua tangan Sasuke menyentuh kedua pipi Hinata. "Kenapa kau terluka? Kenapa ini bisa terjadi?!"

"Lepaskan Uchiha-san. Aku mohon," pinta Hinata dengan suara bergetar. Ia menggigit bibirnya untuk menahan suara penuh kepiluannya yang akan keluar.

Sasuke mengabaikan permohonan Hinata. Ia menatap Hinata intens. "Siapa yang melakukannya? Siapa?!"

Hinata menggeleng. "Tidak ada. Lepaskan aku, kau menyakitiku Uchiha-san." Hinata meronta dalam cengkraman Sasuke.

Sasuke menatap Hinata penuh selidik. "Ibumu? Apa ibumu yang melakukannya?! Jawab aku!"

Hinata mematung, bibirnya bergetar. Dugaan Sasuke tpat di hatinya. Ia berhenti meronta dan sebagai gantinya tangisannya semakin deras dan sudah tak terbendung lagi.

"Ternyata benar," gumam Sasuke. Ia menarik tubuh Hinata hingga jatuh kepelukannya. Sakit memang saat merasakan tubuh Hinata yang menggesek lukanya. Ada hal yang lebih penting dari meringis dan mengeluh tentang rasa sakit yang di deritanya.

Sasuke memeluk Hinata erat dengan kedua tangannya. "Maafkan aku. Aku tidak ada di sana bersamamu."

Hinata tidak membalas. Ia hanya membalas pelukan Sasuke. Tangannya mencengkram seragam pasien pemuda itu. Ia mencengkram kuat sebagai bentuk menyalurkan rasa sakit yang tertahan selama ini.

Sakit ketika ibunya sendiri memukulnya, menamparnya, mensia-siakan usahanya. Dan rasa sakit ketika ia mencoba tegar di hadapan ibunya, tidak memiliki teman, dididik begitu keras tanpa kenal lelah. Melihat luka di sekujur tubuhnya yang mengeluarkan darah. Dan terakhir rasa sakit karena tidak pernah dianggap sebagai anak melainkan sebuah alat.

Perasaan itu datang kembali. Rasa sakit yang ditahan Hinata keluar bersama tangisannya yang sudah tak terbendung. Ia sudah berada pada batasnya. Hari ini ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit itu. Hari ini adalah puncak kesabarannya saat ibunya menamparnya setelah bertahun-tahun beliau tidak melakukannya.

Sasuke mengusap surai indigo Hinata. "Tidak apa-apa. Keluarkan semuanya. Aku di sini. Kau akan aman."

Hinata berteriak sekencang yang ia bisa. Berharap beban di hatinya menghilang, tersapu oleh teriakan penuh kepiluan yang disuarakannya.

"Keluarkan. Keluarkan semuanya. Aku akan menjagamu dari siapa pun. Tidak ada yang akan mengganggumu karena aku selalu di sampingmu."

Hinata mengangguk. Ia semakin melesakkan kepalanya di dada bidang Sasuke. Ingin memperoleh kehangatan dan keamanan lebih.

Sasuke menatap puncak kepala Hinata sayu. "Maafkan aku. Kali ini aku berjanji."

Sasuke mendekap Hinata dan menyamankan posisi duduk gadis itu pada dirinya. Ia mencium puncak kepala gadis itu. mengendus aroma lavender yang semerbak.

"Aku akan berjanji melindungi sampai kapan pun."

.

.

TBC

.

.

~Spoiler~

Aku hanya bisa melihat punggung yang terbebani oleh perasaan kecewa itu pergi.

Dan detik selanjutnya aku menyadari bahwa aku bukan bagian dari Uchiha lagi

.

Chapter 6 : Sebuah Kenangan

.

A/N

Terima kasih minna-san yang telah menunggu fic ini update. Mungkin bagi yang telah membaca I Realized dan fic ini pasti berpikir. Ini kok Hinata nangis terus. Bagi kalian yang berpikir seperti itu jawabannya adalah …

KARENA SAYA LAGI PMS SAAT GARAP FIC INI. Huhu :'(( ditambah pengiring lagu sad yang menambah suasana hati untuk menggalau karena menunggu hasil UN yang membuat saya mimpi buruh di siang bolong berkali-kali. Sampai bosan T_T

Doain untuk yang terbaik bagi saya yah. Muah muah :*

See you~~