"Aku akan berjanji melindungimu sampai kapan pun."

.

.

Hope and Prisoner

Disclaimer : Masashi Kishimoto

SasuHina

T

.

.

"Aku pulang." Hinata melepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Kemudian ia melangkah, memasuki lebih dalam rumah besar Hyuuga.

"Kau pulang terlambat, Hinata," ujar Hiashi sambil bersedekap. Iris keperakannya menatap Hinata dengan pandangan menyelidik.

Hinata membungkuk hormat sekilas, "Aku ada sedikit keperluan tadi. Maaf ayah."

Hiashi menatap Hinata lama sebelum kemudian berdeham. "Baiklah. Istirahatlah. Jaga kesehatanmu." Setelah mengatakan hal tersebut, Hiashi pergi meninggalkan Hinata di ruang tamu.

Hinata membungkuk lagi sebagai bentuk terima kasih. "Terima kasih, ayah."

.

.

.

Sesampainya di kamar, Hinata segera mengambil handuk dan membersihkan dirinya di kamar mandi yang terdapat di kamarnya itu. Ia memutuskan untuk berendam dengan air hangat demi membuat dirinya rileks mengingat begitu banyak hal yang terjadi hari ini.

Setelah air yang berada pada bath tub penuh, ia segera merendamkan dirinya pada kehangatan air tersebut. Beberapa kali ia meringis pelan kala merasakan rasa sakit di pipinya ketika menyentuh air hangat.

Ia kembali mengingat kejadian hari ini. Dirinya yang pergi dengan Sasuke, ibunya yang memergokinya dan menyudutkannya, serta kejadian kilas balik masa lalu yang membuatnya merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Ia menatap kosong pada air yang merendam tubuhnya. Ia sudah tidak bisa menangis lagi setelah bertemu dengan Sasuke. Hanya rasa sakit di dadanya ketika ia membayangkan perlakuan ibunya pada dirinya.

Kedua iris keperakan itu menutup. Wanita itu menenggelamkan seluruh tubuhnya. Ingin merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya. Dalam benaknya, wanita itu terus berpikir. Berpikir tentang seorang pria yang membuat dirinya bingung dan kehilangan arah untuk pertama kalinya.

"Aku akan berjanji melindungimu sampai kapan pun."

Seorang pria bernama Sasuke Uchiha.

.

.

.

Hinata berjalan menuju ruang makan, tempat singgah dirinya untuk mengisi perut sebelum berangkat kerja. Dan ia hanya mendapati ayahnya yang duduk tenang membaca koran sambil menyesap kopi. Ia memutuskan untuk duduk di bersebrangan dengan ayahnya.

Bersamaan dengan dirinya yang duduk, para pelayan datang dan membawakan menu sarapan pagi yang akan dinikmati oleh kedua souke Hyuuga. Hidangan yang disajikan berupa dua lapis pancake, dua telur mata sapi, dan beberapa lembar beef bacon.

Setelah berdoa atas kenikmatan yang diberikan, ayah dan anak tersebut secara bersamaan mulai mengambil suapan pertama. Sarapan pagi itu berjalan dengan tenang. Cuaca yang cerah dan adanya ketenangan di ruang makan tersebut semakin memberikan kenyamanan dalam hati Hinata, hingga suara berat ayahnya menghentikan aktivitasnya menikmati hidangan pagi itu

"Hinata."

Hinata mengalihkan pandangannya dari sarapan di hadapannya. "Ya? Ada apa ayah?"

Hiashi meletakkan garpu dan pisaunya. Iris keperakannya menatap Hinata tajam. "Batalkan proyek dengan Uchiha."

Iris Hinata membola, tidak biasanya ayahnya membatalkan kontrak yang berhubungan dengan perusahaan yang besar. "Apa? Kenapa?"

Hiashi meraih serbet dan mengusap bibirnya. "Kenapa? Apa kau akan membantah perintahku seperti apa yang kau lakukan pada ibumu?"

Deg

Jantung Hinata berdetak cepat. Keringat dingin mulai keluar dan mengalir di pelipisnya. Suasana ruang makan semakin memberat dan mencekam.

"Tidak, ayah."

"Kalau begitu, batalkan segera proyek dengan Uchiha."

Dahi Hinata berkerut. "Kenapa tiba-tiba ayah memutuskan hal itu?"

"Apa butuh alasan untuk membatalkan kontrak dengan perusahaan yang telah menghina ibumu di hadapan banyak orang?"

Tangan Hinata mencengkram pisau dan garpu yang berada di tangannya erat. Berusaha mengendalikan emosi amarahnya atas ketidaktahuan ayahnya tentang peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Hinata menatap Hiashi lurus-lurus. "Aku tidak bisa ayah."

Mata Hiashi menyipit tidak suka. "Apa maksudmu? Kau ingin membantahku sekarang? Apa sekarang kau akan melindungi Uchihamu itu?"

Hinata menatap Hiashi penuh keyakinan. "Aku tidak mungkin membatalkan proyek yang sudah dimulai sejak beberapa hari yang lalu. Sudah banyak uang yang telah dikeluarkan dalam proyek ini dan aku tidak mau membatalkan proyek hanya karena hal itu. Aku tidak ingin uang yang telah kita keluarkan terbuang sia-sia."

"Apa kau bermaksud untuk membela perusahaan itu? Perusahaan yang telah menghina ibumu?"

Hinata menatap Hiashi tidak percaya. "Kenapa ayah seperti ini? Kenapa ayah justru mencampurkan masalah pribadi dan masalah pekerjaan yang berakibat pada uang yang terbuang sia-sia?"

Hiashi menggebrak meja dengan suara yang tidak terlalu keras. Tampak jelas pria paruhbaya tersebut menahan emosinya. "Kau pikir hinaan mereka pada ibumu bukanlah masalah pekerjaan? Apa kau memikirkan reputasi ibumu yang akan hancur oleh hal ini?"

Hinata meletakkan garpu dan pisaunya kasar. "Ayah tidak tahu apapun. Dan aku tidak setuju bahwa ayah menuduh Uchiha menghina ibu." Hinata menarik napasnya kuat-kuat. "bagaimana jika kukatakan bahwa Uchiha yang membantuku dari istirmu itu?"

Hiashi mengepalkan tangannya erat. "Jaga ucapanmu, Hyuuga!"

"Jika ayah membatalkan kontrak Hyuuga dan Uchiha karena mengira Uchiha menghina ibu, aku akan membatalkan kontrakku sebagai anak dari ibuku karena ibuku telah menghinaku di hadapan Uchiha."

Hiashi semakin mengeratkan kepalannya dan menggebrak meja hingga piring yang menyajikan sarapan bergetar. "Hinata! Kau sudah melebihi batas wajar! Berani-beraninya kau berkata seperti itu!"

Hinata meraih tas kerjanya dan pergi meninggalkan Hiashi. "Aku selesai."

Terdengar lagi gebrakan meja yang kali ini terdengar begitu keras. "Hyuuga Hinata! Apa kau telah kehilangan tata kramamu?!"

Hinata berhenti melangkah kemudian berbalik. "Aku belajar dari ayah. Dari awal ayah sudah mengajak bicara dengan topik yang serius di tengah-tengah sarapan. Apa ayah pikir hal tersebut tidak melanggar tata krama seorang Hyuuga?"

"Kau..." geram Hiashi sambil menggebrak meja dengan sangat keras.

Hinata membungkuk sekilas kemudian pergi. "Terima kasih atas makanannya."

.

.

.

Sasuke menatap keluar jendela. Irisnya menatap pepohonan rindang yang berada di balik jendela rumah sakit yang terbuka. Hembusan angin yang lembut sedikit menggoyangkan surai kehitamannya. Tatapannya tampak menerawang jauh seperti memikirkan sesuatu.

Greeek

"Sasuke."

Sasuke tetap mempertahankan posisinya menghadap ke arah jendela, membelakangi pintu masuk dan sosok yang memanggilnya.

"Pulanglah, ibu menunggumu."

"Terima kasih atas bantuanmu kemarin, tapi bukan berarti aku akan menuruti ucapanmu."

Sosok itu menatap datar punggung Sasuke yang senantiasa membelakanginya. "Ibu membutuhkanmu, Sasuke."

"Tapi orang itu tidak menginginkanku." Sasuke mendongak, menatap dedaunan pepohonan yang berada di bagian atas pohon. "Dan aku tidak memiliki hak untuk kembali."

Sosok yang berada di ujung pintu menatap punggung Sasuke sendu. "Sasuke."

"Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi, pergilah."

Sosok yang mengajak Sasuke berbicara sedari tadi hanya termenung, tidak ada niatan sedikit pun untuk pergi meninggalkan adiknya. Sosok yang bernama Uchiha Itachi, sang sulung Uchiha yang dipalsukan sebagai pewaris tunggal

Itachi menghela napas, "Jangan seperti ini, Sasuke. Kau terlalu cepat menyerah. Aku yakin jika kau kembali, situasinya akan berubah. Mungkin otou-san tak lagi seperti ini setelah melihatmu."

Sasuke berbalik, irisnya menatap tajam Itachi. "Apa yang kau maksud kekerasan di dalam rumah adalah perubahan situasi? Dan lagi ayahku sudah mati."

Itachi terbelalak. Ia mengepalkan tangannya geram. "Apa maksudmu, Sasuke?!"

"Ayahku bukanlah Fugaku Uchiha, namun Obito Uchiha." Sasuke menatap Itachi sejenak sebelum membalikkan badan dan beranjak mendekati jendela.

"Karena seorang ayah yang baik tidak mungkin membuang anaknya hanya karena tubuhnya yang lemah."

Itachi menatap punggung yang tampak rapuh itu dengan tatapan sendu. Telah banyak peristiwa yang dilewati oleh pria di hadapannya dan ia sebagai kakak hanya bisa terdiam tanpa melakukan apapun.

Itachi menghela napas. Untuk saat ini, tidak ada gunanya membujuk Sasuke. "Panggil aku jika kau membutuhkan bantuanku."

"Aku tidak membutuhkan ban-"

"Bukan kau. Tapi wanita yang sangat ingin kau lindungi dari penyihir. Untuk masalah itu, kau tidak bisa menanganinya sendiri."

Itachi berbalik dan mendekati pintu geser. "Aku pergi."

Greeek

Setelah kepergian Itachi, tidak ada suatu perubahan yang berarti dari ekspresi wajah Sasuke. Namun tatapannya yang menerawang tampak jelas bahwa ia sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan masa lalu. Masa lalunya yang kelam.

.

.

.

Hari Minggu, hari dimana hari tersebut adalah Family Time. Dan hal tersebut juga berlaku untuk keluarga konglomerat cabang Uchiha Fugaku. Uchiha Fugaku yang merupakan anak kedua dari Uchiha Madara cukup memiliki waktu luang di hari minggu untuk keluarganya.

"Uhuk uhuk..." Sasuke kecil terbatuk kecil. Ia memegang dada kirinya yang berdenyut nyeri.

"Ah..." desis Sasuke saat merasakan rasa sakit di dadanya yang mulai menghilang.

"Hei Sasuke! Apa yang kau lakukan di sana? Baru lari sebentar, lho. Biasanya larimu kan cepat!" seru Itachi dari kejauhan.

"Dasar kau aniki! Nantikan balasanku!" seru Sasuke, ia tidak memedulikan lagi rasa sakit di dadanya. Ia berlari cepat mengejar kakaknya.

Itachi terus berlari dengan sekuat tenaga, tujuannya adalah tempat kedua orang tuanya berada. Ia tidak menyadari bahwa Sasuke sudah terengah-engah, keringat yang membanjiri tubuhnya dan pandangannya yang mengabur.

Iris gelap Sasuke masih dapat melihat Itachi dari kejauhan. Namun perlahan pandangan otu mengabur. "Ita...chi..."

Akhirnya ia dapat melihat kedua orang tuanya berada. Ia mempercepat langkahnya. Dan di detik selanjutnya pandangannya menggelap dan ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Telinganya dapat mendengar suara histeris penuh kekhawatiran dari ibunya dan merusak kebahagiaan di hari minggu itu. Termasuk merenggut kasih sayang yang diberikan Fugaku pada Sasuke.

.

.

"Sasuke..." Mikoto menangis sesenggukan.

Itachi menyentuh lengan Mikoto. "Ibu, tenanglah."

Mikoto langsung memeluk Itachi erat. "Itachi... Sasuke..."

Itachi menggigit bibirnya, menahan air mata yang berada di pelupuk matanya. "Ibu... maaf, semua ini salahku."

Mikoto menggeleng. "Ini bukan salahmu, Nak. Bukan salahmu..."

Itachi melepaskan pelukannya. Ia menatap Mikoto dengan mata berkaca-kaca. "Ini semua karena aku..." Itachi menarik napas semampu yang ia bisa. "Aku tadi-"

"Tidak perlu minta maaf, Itachi." Suara dingin nan berat Fugaku terdengar. Mikoto menoleh ke belakang dan mendapati Fugaku yang berdiri tegak dan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

"Fugaku... Sasuke, bagaimana keadaan-"

Fugaku melangkah mendekati Itachi. Sampai di samping Itachi ia menepuk pelan krpala Itachi. "Kau tidak perlu minta, maaf. Kau tidak salah."

"Tapi, ayah-"

Fugaku menatap Itachi dengan iris dinginnya. "Sasuke yang lemah, seorang pewaris sepertimu tidak perlu minta maaf. Ini karena Sasuke yang terlalu lemah."

Mikoto membelalakkan matanya. "Fugaku, bukankah itu sedikit kasar untuk anakmu sendiri?"

Fugaku menatap Mikoto dengan tatapan bertanya. "Anak? Aku tidak ingat memiliki anak yang lemah. Seingatku aku hanya memiliki seorang pewaris yang kuat."

Mikoto menatap nyalang Fugaku. Ia bangkit berdiri. Detik selanjutnya dengan kecepatan yang tidak diprediksi tamparan maha dasyat mengenai pipi tirus Fugaku.

"Kurang ajar! Ayah macam apa kau ini? Saduke adalah darah daging kita! Dia anak kita! Apa kau telah buta, hah?! Meskipun dia lemah bukan berarti dia bukan anak kita!"

"Ibu..." cicit Itachi ketakutan.

Fugaku menatap Mikoto datar. "Aku anggap itu sebagai salam perpisahan darimu. Hari ini adalah hari terakhir kau bisa berpisah dengannya."

Fugaku merapikan dirinya seolah tidak ada apapun yang terjadi. "Esok ia dikenal sebagai anak dari Obito Uchiha bukan Fugaku Uchiha. Dan aku hanya punya satu pewaris yaitu Itachi Uchiha."

Fugaku berjalan melewati Mikoto tanpa beban. "Karena aku hanya membutuhkan pewaris yang bisa bertahan melawan perusahaan Akasusa yang melecehkan harga diri Uchiha hingga membuat Uchiha hampir bangkrut."

"Merusak harga diri Uchiha adalah hal yang tak termaafkan."

.

.

Kelopak mata Sasuke bergetar. Perlahan namun pasti iris Sasuke mulai terlihat. Sasuke mengerjap-ngerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke indra penglihatannya. Dan sosok yang ia lihat pertama kali adalah wajah keras milik sang ayah.

"Ayah..." lirih Sasuke. Ia mencoba bangkit, namun kedua tangan menahan tubuhnya.

"Tidak perlu bangun. Tetaplah dalam posisi itu."

Sasuke mengikuti intruksi dari Fugaku, ia terdiam dan tak melakukan pergerakan apapun. "Ayah, dimana yang lain?"

Fugaku diam k menjawab. Ia hanya menatap Sasuke datar tanpa ekspresi.

"Ayah?"

Fugaku melirik jam, ia mengambil jasnya kemudian mengenakannya. "Jangan panggil aku ayah. Aku bukan ayahmu. Ayahmu adalah Obito Uchiha, ayah yang cocok untuk orang lemah sepertimu."

Deg

Sasuke tak dapat berkata-kata, irisnya menatap kosong sosok di sampingnya. Ia merasakan nyeri yang luar biasa di daerah dadanya. Matanya memanas, air mata keluar tanpa dicegah. Sasuke syok mendengar ucapan Fugaku. Ia tidak menyangka ucapan kejam seperti itu dilontarkan oleh orang terdekatnya sendiri, ayahnya sendiri.

"A-ayah..." lirihan keluar tanpa dicegah. Sasuke tidak dapat memikirkan selain apa yang diucapkan ayahnya terakhir kali.

Fugaku berhenti. "Aku kecewa padamu. Aku kecewa padamu, Sasuke Uchiha."

Sasuke tidak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya yang masih lemas tak berdaya dan pergerakannya yang tidak leluasa karena infus yang menancap di tubuhnya membuat dirinya hanya bgisa melihat sang ayah dari kejauhan.

Dan Sasuke kecil hanya bisa melihat punggung yang terbebani oleh perasaan kecewa itu pergi.

Dan detik selanjutnya Sasuke tersadar, ia bukan bagian dari Uchiha lagi.

"Aku bukan lagi..." lirih Sasuke. Ia menatap langit-langit dengan air mata yang masih jatuh dengan derasnya.

"...bagian dari Fugaku Uchiha."

.

.

.

Kedua pemuda dengan warna surai yang mirip namun tak sama tersebut melangkah bersama-sama menuju sebuah bangunan bertingkat di hadapannya. Bangunan bertuliskan Magenta menunjukkan nama perusahaan dari bangunan tersebut. Bangunan tinggi yang berada di daerah pegunungan yang cukup sepi membuat bangunan tersebut terlihat sangat mencolok.

Kedua pemuda itu melangkah masuk menuju lift. Lantai 1 perusahaan itu hanya berisi lift. Tidak seperti perusahaan pada umumnya yang terdapat meja resepsionis, perusahaan itu hanya berisi satu lift.

Kedua pria tersebut memasuki lift secara bersamaan. Pintu lift kemudian tertutup. Bersamaan dengan itu, sebuah pesan suara terdengar.

"Apa tujuan Anda?"

Pria dengan wajah datar menjawab. "Obsesi."

Dilanjut dengan pria berwajah imut. "Abadi."

Pertanyaan kembali terdengar. "Apa tujuan Anda?"

Dan lagi-lagi respon yang sama dilakukan kedua pria tersebut.

Pertanyaan untuk ketiga kalinya kembali terdengar. "Apa tujuan Anda?"

"Obsesi."

"Abadi."

Triiing

Setelah bunyi gemericik lonceng terdengar, sebuah perintah kembali terdengar. "Sebutkan identitas Anda."

"Gaara Sabaku," ujar sosok yang berwajah datar dan bersurai merah bata.

"Sasori Akasuna," kali ini sosok pria berwajah imutlah yang mengenalkan dirinya.

"Tunjukkan kartu identitas Anda pada kamera."

Kedua pria tersebut menunjukkan kartunya pada kamera kecil yang terdapat pada samping pintu lift di bawah tombol angka.

Triiing

"Masukkan sidik jari Anda, dan dekatkan wajah Anda pada kamera."

Kedua pria tersebut melakukan perintah tersebut secara bergantian.

Triiing

"Silahkan berkelahi."

Sosok pria berwajah imut yang bernama Sasori mengeluh lelah. "Apakah kita harus melakukan ini setiap kita kemari?"

Gaara menatap Sasori datar. "Sudah lakukan saja, kau tahu tujuan kenapa diberlakukannya sistem ini."

Sasori menghela napas, "Hadeeeh."

Dengan gerakan gesit dan tak diduga Sasori, Gaara melayangkan tinjunya pada wajah Sasori. Pukulan tersebut mengenai pipi Sasori walau hanya sekilas, Sasori tetap merasakan pukulan dari pria di hadapannya.

Dengan cepat Sasori membalas pukulan Gaara dengan tak kalah cepat dan juga mengenai pipi Gaara.

Triiing

"Anda berhasil. Silahkan menikmati perjalanan Anda, Tuan Sabaku dan Akasuna."

Lift mulai bergerak maju, kemudian baru beberapa saat lift bergerak turun dengan cepat.

Kedua pria tersebut merapikan jas mereka kembali sembari menunggu hingga lift berhenti bergerak.

Ting

Pintu lift terbuka bersamaan dengan suara mengiringinya. "Terima kasih telah melakukan prosedur keamanan kami. Silahkan masuk pada pintu baja, Tuan Petinggi sudah menunggu."

Kedua pria tersebut langsung bergerak cepat menuju pintu baja. Jenis-jenis pintu menunjukkan sifat dari suatu permasalah yang dibahas. Jika pintu tersebu berarti masalah yang akan dibahas sama drngan karakteristik dari pintu tersebut.

"Masalah serius, eh?" gumam Sasori.

Gaara mengangguk singkat. "Sepertinya, pengamatan kita terhadap Hyuuga dan Uchiha bukanlah hal yang dapat diremehkan."

"Ya kau benar. Berarti permasalahan yang terjadi tentang–"

"–hidup mati perusahaan." potong Gaara yang disambut dengan anggukan kecil dari Sasori.

Akhirnya mereka sampai di pintu baja. Gaara membuka pintu baja tersebut dengan kedua lengan kekarnya.'Akhirnya pintu terbuka dan keduanya masuk.

Setelah keduanya masuk, pintu tertutp otomatis.

"Ah, kalian sudah sampai. Sabaku-san, Akasuna-san."

Kedua pria tersebut membungkuk sekilas. "Senang kembali bertemu Anda dalam keadaan sehat, Kizashi-san."

.

.

.

"Bagaimana hasil pengamatanmu, Gaara?"

Kizashi terkekeh, "Tidak perlu sekaku itu dengan anakmu sendiri, Rasa."

Rasa hanya melirik Kizashi kemudian kembali menatap datar Gaara. "Jadi?"

"Sekarang pemuda Uchiha itu sedang dirawat. Kita telah melakukan penyerangan, namun setidaknya mampu membuat keluarga Uchiha mengalami gertakan."

Kizashi terkekeh. Ia menyulut rokok yang terselip di bibirnya. "Well, sepertinya mangsa kita kali ini salah."

Rasa menatap Kizashi terkejut bercampur bingung. "Apa maksudmu?"

"Bisa dibilang, Sasuke Uchiha bukanlah sosok yang begitu penting yang dapat menggoyahkan Kerajaan Bisnis Uchiha. Namun sosoknya dapat menjadi ancaman tersendiri bagi pihak keluarga Uchiha."

Rasa mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

Kizashi menatap Rasa dengan tatapan santai. "Sosok yang begitu vital bagi keluarga Uchiha tak lain dan tak bukan adalah Itachi Uchiha, sang pewaris tunggal."

"Kalau begitu, serang saja Itachi sekarang."

Kiashi menggoyangkan jari telunjuknya. "Kau terlalu gegabah, Rasa. Jika kita melakukan hal itu, putri tersayangku tidak bisa mengambil peran."

"Kau–"

Kizashi menepuk pundak Rasa pelan, seolah memberi ketenangan pada sahabatnya yang begitu tempramen. "Lagipula tujuan kita dari awal adalah menaklukan Uchiha dan menjadikan Petal Group menjadi Kerajaan Bisnis dengan cara bekerja sama dengan perusahaan Hyuuga."

"Kau tahu kan bahwa Hyuuga terkenal akan perusahaan yang selalu stabil?"

Rasa menajamkan irisnya. "Sebenarnya, apa rencanamu Kizashi? Kau tahu pasti bahwa aku lebih suka menghancurkan perusahaan itu sampai rata dengan tanah dibandingkan menaklukannya."

Kizashi menatap Rasa dengan tatapan prihatin. "Kau tahu hal yang paling membuat orang sekelas Uchiha merasakan kesakitan yang tiada tara hingga mereka lebih memilih mati ketimbang hidup?"

Kizashi berbisik. "Itu adalah membuat harga dirinya jatuh." Kizashi menjauhkan badannya kemudian mematikan rokok di mulutnya. "Dan aku akan menggunakan Sasuke untuk melakukan hal tersebut. Dan tentu saja, peran dari anakku akan sangat berpengaruh dalam hal ini."

Rasa mengepalkan tangannya. "Kau tidak berniat hanya memanfaatkanku, bukan?"

Kizashi menatap wajah Rasa dengan wajah terkejut yang dibuat-buat. "Tentu saja tidak, kawan." Pria paruhbaya itu menampilkan senyum terbaiknya. "Kau dapat bersenang-senang dengan mereka setelah aku menghancurkan harga diri mereka."

Rasa menampakkan seringaiannya. "Baguslah. Tapi kau harus ingat konsekuensinya jika kau menghianati Akasusa, Haruno."

Kizashi tersenyum. "Tentu saja." Tangan keriput pria itu mulai melihat foto-foto kebersamaan Sasuke dan Hinata yang tercetak jelas.

"Hmmm... Hinata Hyuuga sepertinya akan ikut andil dalam bagian ini," gumam Kizashi.

"Kau benar, sepertinya akan lebih bagus jika Hyuuga sulung itu tertarik dengan Sasuke Uchiha," timpal Sasori.

Kizashi mendongak, menatap iris Sasori. "Benarkah?" Kizashi menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Aku memang ingin menaklukan Uchiha, namun aku tidak keberatan jika aku bisa menaklukan Hyuuga."

.

.

.

Hinata menatap pemandangan di luar jendela kaca besar yang berada di belakang kursi kantornya. Wanita muda tersebut menghela napas lelah. Ia melepaskan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.

Iris keperakannya melirik jam tangan yang sudah menunjukkan istirahat makan siang. "Sepertinya aku harus makan."

Hinata merapikan mejanya, lalu mengambil dompetnya kemudian pergi dari ruangannya menuju kafetaria yang terletak di lantai 2 perusahaan. Sesampainya di kafetaria, ia tidak menduga bahwa kafetaria akan sangat penuh hingga banyak karyawannya yang makan sambil berdiri. Sepertinya ia harus makan di luar.

Hinata menaiki lift untuk menuju lantai pertama. Ia berniat untuk makan di sekitar perusahaannya. Ia menghubungi sekertarisnya dan mengatakan ia akan makan di luar.

Sesampainya di lantai pertama, Hinata berjalan terburu-buru keluar perusahaan. Ia hanya mengangguk sekilas ketika ada beberapa karyawannya yang memberikan penghormatan. Wanita itu tidak menyadari bahwa hari itu hujan. Beruntung, ia baru sampai di teras perusahaan.

"Nona, gunakanlah payung ini," tawar seorang penjaga pintu kepada Hinata.

Hinata menatap penjaga pintu tersebut. "Tida–"

Blam

Atensi Hinata teralihkan saat mendengar suara pintu mobil yang tertutup. Mobil tersebut terparkir tepat di depan teras perusahaan. Seorang pria muda keluar dari mobil mewah tersebut dengan memegang payung di tangan kanannya.

"Tidak perlu. Nona itu akan makan bersamaku."

Hinata menatap sosok itu dengan tatapan tidak percaya bercampur dengan keterkejutan. "Kau?"

Sosok itu tersenyum tipis lalu mengangkat tangan kirinya sebagai bentuk sapaan. "Osu."

Hinata menggigit bibirnya sejenak merasa ragu. "Bukankah seharusnya kau berada di rumah sakit, Sasuke-san?"

"Aku memiliki tugas untuk menemani nona yang kesepian ini." Seringai mulai terpatri di wajah tampak Sasuke. "Jadi bagaimana, nona?"

.

.

.

Akhirnya tibalah mereka di sebuah kedai makanan cepat saji yang terletak tak jauh dari perusahaan tempat Hinata bekerja. Mereka menuju tempat pemesanan makanan. Sasuke memutuskan untuk memesan roti lapis dan teh hangat sedangkan Hinata memesan roti lapis dan cola.

"Kau yakin meminum itu saat hujan?"

Hinata mengeluarkan dompetnya. "Anggap saja itu sebagai pengganti sake."

"Geez, kau ingin mabuk?" tanya Sasuke heran hingga sebelah alisnya naik ke atas.

Hinata menendikkan bahu tanpa menatap Sasuke. "Hanya ingin."

Hinata segera mengambil nampannya yang di atasnya terdapat roti lapis yang dibungkus dan segelas cola. Ia lalu berjalan mencari tempat kosong di dekat jendela dan diikuti oleh Sasuke. Akhirnya mereka duduk saling berhadapan di dekat jendela besar.

Sasuke membuka bungkus kertas pada roti lapisnya kemudian memakannya. Ia mengunyah makanannya dengan lahap. Tentu saja karena bagi pria itu, semua makanan di rumah sakit tidak enak dan pas di lidah pria itu. Setelah gigitan ketiga ia baru menyadari bahwa sosok di hadapannya belum menyentuh makanannya sama sekali.

"Ada apa?" tanya Sasuke dengan mulut yang setengah dipenuhi oleh makanan.

Hinata terdiam. Ia hanya menatap gelas cola yang mulai menampakkan embunnya. 'Apa aku harus membatalkan kontrak dengan Uchiha?'

Sasuke menghela napas. "Makanlah." Ia kembali mengunyah makanannya.

Melihat Hinata yang tetep diam, membuat pria itu menghentikan kunyahannya. "Ada apa? Apa kau ada masalah?"

Perlahan Hinata menatap Sasuke. Iris keperakan bertemu dengan iris jelaga. 'Jika ayah sudah memutuskan, pasti itu merupakan masalah serius, bukan?'

Sasuke menghela napas, menelan makanannya lalu menyeruput minum. "Apapun yang kau pikirkan, untuk saat ini aku tak bisa pergi darimu sekarang." Ia kembali menatap makanannya dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.

Deg

Jantung Hinata berdetak lebih cepat. Tangannya bergetar dan ia dapat merasakan hawa panas menghampiri tubuhnya. Di saat yang bersamaan ia merasa begitu excited tanpa sebab. 'Perasaan apa ini?'

Sasuke menyelesaikan gigitan terakhirnya kemudian mengusap bibirnya dengan tisu. "Masalah akan terjadi di masa depan." Irisnya menatap lurus pada Hinata. Menunjukkan keseriusan yang nyata di kedua iris indah itu.

"Dan pertama aku ingin menyelesaikan masalahmu dengan ibumu, dengan artian menjagamu."

Hinata menenangkan detak jantungnya sambil mengeratkan cengkramannya pada rok kerjanya. "Apa hakmu mengatakan itu? Lagipula kontrak kita sudah selesai."

"Siapa bilang?" Sasuke menunjuk perban di mukanya dan tangannya. "Kau malah membuatku semakin banyak terluka.

Sasuke menyeruput tehnya kemudian berdeham, "Kalau begitu bagaimana kita membuat kontrak baru?"

Hinata mengerutkan dahi, heran. "Apa itu?"

"Biarkanlah aku berada di sampingmu untuk menjagamu."

Ba-Dump Ba-Dump

Hinata berusaha menenangkan hatinya yang berdetak semakin menggila. Ia menarik napas dalam-dalam. "Biar kupertegas Uchiha. Hubungan kita hanya sebatas rekan kerja dan walau kau telah membantuku satu kali, bukan berarti kau memiliki hak untuk ikut campur dalam keluargaku."

Sasuke menggeleng pelan. Ia menyandarkan kursinya dan menatap angkuh Hinata. "Tidak bisa. Aku tidak bisa melakukannya."

Hinata menggeram emosi. "Apa maksudmu?"

"Karena hanya aku yang bisa membantumu."

Hinata menggebrak pelan meja. "Kau tidak tahu apapun."

Sasuke memajukan tubuhnya. "Aku tahu lebih dari apa yang kau tahu, Hyuuga. Tentang keluargamu, aku tahu semuanya."

"Sebenarnya, apa tujuanmu melakukan ini semua? Berhentilah mempermainkanku, aku tidak suka dengan permainan kekanakan seperti ini.

Sasuke menegakkan tubuhnya. Ia menunjuk dirinya sendiri. "Apa wajahku tampak seperti orang yang sedang bermain?"

Hinata terdiam, Sasuke memang tidak menunjukkan wajah yang bercanda. Namun, perkataan yang pria itu ucapkan terdengar konyol di pendengarannya.

Sasuke menatap tehnya sejenak sebelum menyeruputnya. "Karena aku hanya ingin menyelamatkan diriku yang lain."

Walau tidak mengerti, Hinata tetap terdiam. Ia memutuskan memakan roti lapisnya.

"Jadi, bagaimana?"

Hinata menelan hasil kunyahannya sebelum menjawab pertanyaan Sasuke. "Aku tidak menyetujui kau ikut campur dalam urusan keluargaku."

Sasuke bertopang dagu. Seringainya mulai tampak. "Kalau begitu, kau setuju aku untuk tetap di sampingmu kan?"

"Aku tidak pernah bilang menyetujuinya."

"Dan kau juga tidak pernah bilang untuk menolaknya." Sasuke bangkit lalu mengacak rambut Hinata pelan.

"Mohon kerja samanya, Hyuuga-san."

Di detik selanjutnya Sasuke melenggang menuju kamar mandi. Meninggalkan Hinata sendiri. Tanpa Hinata sadari wajahnya mulai memerah. Ia hanya merasakan hawa panas di sekitarnya di tengah hawa dingin yang terjadi di kota itu.

"Perasaan apa ini?"

.

TBC

.

A/N

Hanya ingin memberitahu bahwa seri ini akan berakhir pada chapter 20, maaf baru bisa update sekarang. Dan untuk MO dan I.R nya saya pending dulu. Mungkin saya akan merampungkan ini dulu karena jalan cerita sudah ditulis, jadi untuk MO dan I.R nya mungkin bakal saya update tapi tidak sesering seri ini.

Terima kasih telah membaca dan sampai jumpa.

.

~Spoiler~

Hyuuga's Family Arc END on Chapter 8

"Aku tidak akan pernah merestuimu."

"Aku tidak butuh restumu selama Hinata tidak menganggapmu ibu."

.

Revenge Arc

"Kau telah merebut status lajangku, tapi jangan harap kau dapat merebut hatiku."

.

C

O

M

I

N

G

.

S

O

O

N

.