Hope and Prisoner

Naruto © Masashi Kishimoto

SasuHina

.

.

.

Tap Tap Tap

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor. Langkah kaki yang kuat dan penuh keyakinan menggema. Seorang pria paruhbaya dengan amarah yang tertahan melajukan langkahnya menemui sosok yang berada di salah satu kamar di sepanjang koridor. Tangannya terkepal, rahang mengeras, dan tatapan tajam, membuktikan amarah yang sudah tak bisa ia tahan lagi.

Langkah lebar lagi panjang itu terhenti di sebuah pintu. Pintu itu adalah satu-satunya pintu yang terbesar di koridor itu. Tanpa mengetuk atau mengucapkan salam, sosok paruhbaya itu langsung membuka pintu dengan kasar. Dan sosok yang dicari-carinya telah muncul. Dengan balutan piyama membungkus tubuh sosok yang dicari pria itu. Walau usia sudah tak lagi muda, garis-garis kecantikan masih terpancar di wajah aristokratnya.

Sosok yang dicari pria itu adalah wanita yang bertingkah elegan dan mewah yang menunjukkan statusnya sebagai seorang lady. Bahkan ketika wanita itu berbalik menatap sosok yang membuat gaduh di kamarnya terlihat sangat elegan. Sosok itu adalah Hikari Hyuuga.

"Ada apa, anata?" Hikari mendekat, menyentuh dada bidang suaminya dengan lembut.

Namun sayangnya, seluruh raga dan jiwa pria itu sedang mendidih, hingga sentuhan lembut dari sang istri tak membuat keadaannya membaik. Pria itu menatap tajam sosok istinya. Iris keperakannya berkilat. Ia mencengkram pergelangan tangan istrinya dengan kuat.

"Cukup Hikari. Aku sedang tidak bercanda."

Tangan Hikari yang bebas menyentuh cengkraman suaminya. "Aku juga sedang tidak bercanda, anata. Kau tahu kan aku orang yang selalu serius?"

Hiashi menyentakkan tangannya. "Apa kau juga serius saat mempermalukan putrimu sendiri?"

Raut wajah Hikari memucat, namun ia melebarkan senyumannya dan memasang ekspresi seolah ia tidak tahu apapun. "Apa maksudmu, anata? Kau tahu sendiri kan bahwa aku tak mungkin mempermalukan keluargaku di hadapan orang lain?"

Hiashi hanya melirk Hikari dan berjalan menuju jendela besar satu-satunya yang berada di kamar itu. "Apa kau menampar Hinata di hadapan Uchiha?"

Hikari mengernyit tak mengerti. "Apa maksudmu, anata? Aku tak mungkin me-"

Hiashi berbalik, urat-urat mulai muncul di pelipisnya seiring dengan bentakan yang dilontarkannya. "Jawab pertanyaanku, Hikari Hyuuga!"

"..."

Hiashi menyipitkan matanya. "Tak bisa menjawab, huh? Jadi itu benar?"

"..."

"Memalukan. Apa Hyuuga memang seperti ini? Melakukan ritualnya di depan umum?"

Hikari menatap angkuh Hiashi. "Itu bukan urusanmu. Seseorang dari Klan Byakuugan yang bergabung dengan Hyuuga, tak tahu apapun. Bagaimana cara mendidik seorang pewaris dengan begitu baik hingga membuat perusahaan raksasa seperti Hyuuga corp akan terus stabil."

Hikari berjalan dengan angkuh menuju Hiashi. "Seorang dari klan yang telah hancur, tak berhak mengguruiku."

Hiashi menggenggam kedua tangan Hikari kuat-kuat hingga empunya meringis kesakitan. "Dan perlu kau tahu, bahwa aku satu-satunya orang yang juga mengalahkan Hyuuga. Dengan menjadi istriku, tidak ada batas di antara kita. Dan kau juga harus tahu, bahwa dirikulah yang juga menciptakan pewaris itu."

Hikari menggigit bibir. Saat inilah yang dia benci. Saat ketika ia takluk dengan mudahnya di bawah kungkungan Hiashi. Bahkan suara dan raganya bergetar mendengar kalimat tajam terlontar dari bibir suaminya. "Lepaskan."

Hiashi melepaskan cengkramannya, meninggaalkan ruam merah di pergelangan tangan istrinya. Ia menaikkan dagu istrinya. "Orang tua Hinata adalah aku dan kau yang berasal dari keluarga yang berbeda. Sebagai seorang anak, ia harus didik oleh kedua orang tuanya, bukan hanya orang dari klan berada."

Hiashi melangkahkan kaki meninggalkan Hikari. "Aku menyesal membiarkanmu menggunakan caramu dalam mendidik Hinata, Hikari."

Hiashi membuka engsel pintu, ia berhenti sejenak. "Aku menyesal tidak memberi batasan padamu. Dan lebih penting, aku kecewa padamu, Hikari. Sangat kecewa."

Blam

Bersamaan dengan pintu tertutup, Hikari berteriak frustasi. "Sialan! Sialan! Uchiha sialan!"

Prang

Pyar

Hikari menghancurkan vas dengan cara melemparkannya ke tembok. Hal itulah cara untuk melampiaskan kemarahannya. Ia menggenggam pecahan vas hingga tangannya meneteskan darah.

"Awas kau, Uchiha. Aku akan menghabisimu."

.

.

.

"Apa kau tidak apa-apa mengantarku kembali?"

Sasuke melirik sekilas, "Apa kau sedang mengkhawatirkanku?"

Hinata hanya diam tak menjawab. Di balik wajah datarnya, ia berusaha menetralkan dentuman jantungnya yang kian menggila.

Sasuke menghela napas. "Tidak masalah. Aku sedang bosan."

"Apa kau memang selalu begini? Menelantarkan perusahaanmu dengan berjalan tidak jelas seperti ini?"

Sasuke sedikit tersentak kala mendengar sindiran dari Hinata. "Menelantarkan, ya?"

Sasuke menghentikan langkahnya, ia menatap Hinata yang juga menghentikan langkahnya. "Apa wanita selalu seperti ini? Berburuk sangka kepada laki-laki?"

Hinata memalingkan wajah. "Suntik hormon estrogen dan kau akan tahu jawabannya."

"Hah?" Sasuke menatap Hinata tidak percaya. Di detik berikutnya, ia tertawa terbahak-bahak. "Kau lucu sekali, Nata. Wahahaha."

Sriing

Hinata berbalik, menatap Sasuke yang tertawa. Wajah tampannya tampak bersinar di bawah hujan. Wajahnya tampak polos dan indah. Ya, wajah Sasuke tampak indah dengan suara baritonnya yang khas dan indah didengar, pria itu menampilkan wajahnya yang benar-benar rupawan.

Dan lagi-lagi Hinata merasakan rasa sakit di dadanya. Ia memang selalu merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya, namun rasa sakit ini begitu berbeda. Rasa sakit yang menyenangkan.

Sasuke menyudahi tawanya, ia mengusap lembut surai keunguan Hinata. "Aku tahu kau mengkhawatirkanku."

Sasuke menatap Hinata datar tapi wanita itu bisa merasakan kehangatan terpancar dari tatapan itu. "Tenanglah, aku akan selalu di sampingmu. Aku tidak akan kenapa-napa."

Hinata seolah terhipnotis oleh ucapannya. Ia hanya mengangguk. Kemudian mereka kembali melanjutkan langkah mereka ke perusahaan Hyuuga.

Dalam hati Hinata bertanya-tanya. Bisakah ia terus melihat iris indah yang menatapnya lembut seperti itu selamanya? Bisakah ia terus merasakan kehangatan bersama pria itu selamanya? Ia tak tahu dan tak menyadari bahwa ia telah terjerat pada pesona pria itu. Sasuke Uchiha.

.

.

.

"Apa jadwalku hari ini?" tanya Hinata pada sekretarisnya.

Wanita bersurai gelap itu membuka agendanya saat Hinata mulai mencucuki kursi kerjanya. "Sebentar lagi, Anda akan bertemu dengan perwakilan dari Akasusa corp. Dan setelah ini, Anda masih harus menandatangani berkas-berkas."

Hinata mengangguk. "Baiklah. Siapkan hidangan kecil untuk tamu kita. Dan tolong siapkan keperluan 'khusus'. Tamu kita kali ini sangat spesial."

"Baik." sekretaris Hinata berlalu, meninggalkan atasannya sendirian.

Hinata memutar kursinya, menatap pemandangan di balik kaca berembun jendela kerjanya. Ia menyesap tehnya pelan. Hingga beberapa menit ia menikmati pemandangan yang tersaji, ketukan berbunyi.

"Masuk."

"Perwakilan dari Akasusa corp. telah datang, Hyuuga-sama."

Hinata memutar kembali kursinya. Is keperakannya menatap sekretarisnya datar. "Suruh ia masuk."

"Baik." sekretaris Hinata membungkuk sekilas kemudian menghilang sesaat dan kembali masuk dengan seorang pria berwajah tampan nan imut dan diikuti dengan sosok yang notabene adalah sekretaris dari Sasori.

Hinata berdiri. "Silahkan duduk, Akasuna-san."

"Baik, terima kasih, Hyuuga-san."

Hinata menghampiri Sasori yang duduk di sofa tamu. Hinata memilih mengambil tempat bersebrangan dengan Sasori. Sedangkan sekretaris Sasori memilih berdiri di belakang Sasori.

Detik berikutnya suara ketukan terdengar. Hinata mempersilahkan sekretarisnya untuk masuk dan membawa camilan kecil dan dua cangkir minuman.

Setelah menyajikan hidangan, sekretaris Hinata menempatkan diri berdiri di belakang Hinata.

"Ehm. Seperti yang kita janjikan. Saya di sini sebagai perwakilan dari perusahaan Akasusa, akan memastikan langsung apakah Hyuuga-san setuju bekerja sama dengan kami atau tidak?"

Hinata tersenyum tipis. "Anda sangat to the point. Akasuna-san." Hinata menyesap teh di hadapannya. "Sepertinya kita tidak perlu berbasa-basi."

Trak

Hinata mengulurkan tangannya. "Selamat, Anda mendapatkan dukungan penuh dari perusahaan Hyuuga untuk bekerja sama."

Saori membalas uluran tangan Hinata. "Terima kasih atas kepercayaannya, Hyuuga-san."

Sekretaris Hinata segera menyerahkan kembali proposal dari Akasusa corp kepada Sasori. Kemudian, sekretaris Sasori memberikan selembar kertas.

"Apa ini, Akasuna-san?"

Sasori berdeham sekilas. "Surat perjanjian, sebagai simbolis kepercayaan Anda kepada kami. Kami berharap kita berdua tidak saling mengkhianati ke depannya, Hyuuga-san."

Hinata tersenyum tipis. Ia mengambil cap berlambang Hyuuga kemudian menempelkan cap berlambang Hyuuga di surat tersebut setelah sebelumnya membaca isi surat itu.

Sasori segera mengambil surat tersebut, kemudian bangkit dari sofanya diikuti oleh Hinata. "Terima kasih atas kerja samanya, Hyuuga-san."

"Sama-sama."

"Saya harap dapat terus bekerja sama dengan Anda."

Hinata menganggukkan kepalanya singkat. "Saya akan menantikan hal tersebut."

Setelah mengantarkan Sasori hingga keluar ruangannya, Hinata kembali ke ruangannya dan duduj di kursi putarnya, ia menghela napas lelah.

"Apa kau telah mendapatkan'nya'?"

Sekretaris Hinata mengangguk sekilas. "Sudah, Hyuuga-sama."

"Segera kirimkan ke Shikamaru. Dan atur pertemuan kita dengannya besok."

Sekretaris Hinata mengangguk. "Baik. Saya permisi."

Kemudian sekretaris Hinata meninggalkan Hinata sendirian. Dalam keheningan ruang kerjanya. Hinata menyandarkan tubuhnya di kursi empuk kebanggaannya seraya menatap langit-langit ruang kerjanya. Tampak menerawang.

"Apa yang kau rencanakan, Akasusa?"

.

.

.

"Aku pulang." Hinata melepaskan sepatunya, kemudian melangkahkan kakinya memasuki lebih dalam rumahnya.

"Hinata."

Hinata sedikit terkejut kemudian ia memberikan hormat pada ayahnya. "Aku pulang, Ayah."

Hiashi menatap datar Hinata. "Masuklah. Ganti bajumu dan temui ayah di ruang kerja. Ada yang ingin Ayah bicarakan."

"Baik Ayah." Setelah mendengar langkah kaki menjauh, Hinata baru menegakkan tubuhnya. Irisnya menatap punggung Hiashi yang semakin lama semakin menjauh.

Hinata segera menuju kamarnya. Ia mengambil handuk kemudian melaksanakan ritual mandinya. Kali ini, ia menggunakan shower untuk membersihkan tubuhnya. Jika ayahnya sudah serius, berarti urusan itu adalah urusan penting. Dan berarti ia harus bergerak cepat untuk menemui ayahnya.

Setelah membersihkan diri, Hinata langsung memakai pakaian sopan berupa rok hitam selutut dan blouse berwarna krem. Langkah panjangnya membawa ia ke ruang kerja sang ayah. Ia mengetuk pelan pintu, sebagai bentuk meminta perizinan masuk.

"Masuk."

Hinata segera menutup pintu setelah memasuki ruang kerja ayahnya. Ia dapat mencium aroma rak buku, kertas lama, dan aroma manis dari kayu jati. Aroma khas ayahnya.

Hinata membungkuk sekilas. "Ada perlu apa Ayah memanggilku?"

"Duduklah."

Hinata mengambil tempat di sofa yang terletak di depan kerja ayahnya. Setelah Hinata duduk, ayahnya membawa sebuah cangkir teh dan meletakkannya di meja kaca di depan sofa.

Hiashi segera mengambil tempat duduk berada di samping Hinata. Hiashi menoleh, menatap Hinata datar. "Ayah tak ingin berbasa-basi, ceritakan sejujurnya apa yang kau terjadi kemarin."

Hinata terbelalak, ia tidak menyangka ayahnya akan menanyakan hal ini kepadanya. "Ke-kenapa tiba-tiba?"

Hiashi menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menepuk pelan pundak Hinata. Ia menatap iris Hinata lembut. "Ayah ingin mendengar semuanya darimu, Nata."

Tes

Air mata keluar tanpa dicegah. Hinata menggigit bibirnya, menahan isakannya. Ia menggenggam erat rok hitam yang dikenakannya. Air mata terus mengalir seiring dengan gejolak emosi yang dikeluarkan wanita itu. Bahunya bergetar tanda ia berusaha menahan segala emosinya.

Tarikan lembut membuat Hinata jatuh ke pelukan hangat sang ayah yang menenangkan hatinya. Namun, justru dengan perilaku hangat yang didapatkan dari orang tua kandungnya membuat hatinya semakin sedih. Pasalnya, ia sudah lama tidak merasakan kehangatan yang didapatkan dari kasih sayang seorang orang tua.

Air mata terus mengalir di kedua pelupuk Hinata. Semakin deras seiring dengan emosi yang dikeluarkan Hinata. Hinata menangis meraung-raung, mengeluarkan beban di hatinya. Ia benar-benar sudah mencapai batas, dan kini saatnyabagi orang seperti Hinata untuk membagi beban itu bersama. Membaginya dengan orang terdekat.

Hiashi menatap sendu Hinata. Ia tidak menyadari bahwa selama ini anaknya mengalami berbagai kehidupan yang sulit. Ia merasa gagal menjadi orang tua yang menutup matanya dan membiarkan berlalu tanpa mengerti isi hati dari anaknya sendiri. Walau Hinata tak kunjung bercerita, namun dengan tangisan wanita itu dapat menjelaskan semuanya. Rasa sakit yang begitu besar yang selama ini wanita itu rasakan.

Dalam hati Hiashi berjaji. Ia akan membuat keluarganya bahagia. Dan tidak akan membiarkan seorang pun merusak kebahagiaan keluarganya. Mungkin sekarang sudah begitu terlambat. Namun, ia tetap akan berjuang keras demi kebahagiaan keluarganya.

Keluarga Hyuuga.

.

.

.

Tok Tok

"Masuk."

Setelah masuk, pria bersurai merah muda membungkuk singkat kepada sosok paruhbaya yang membelakangi dirnya kemudian menutup pintu di belakangnya. Iris madunya dapat melihat sosok di hadapannya sibuk bermain biliar.

"Siang, Tuan."

"Kaku seperti biasanya, huh?" Pria paruhbaya itu berbalik dan menatap santai pada pria yang lebih muda dari dirinya itu. "Sasori."

"Tuan Kizashi, saya melapor."

Kizashi menyodok cue ball. Kemudian, ia menggenggam cue dan mengambil posisi lain dari papan biliar. "Tidak usah kaku begitu, Sasori."

Tak

Cue ball menabrak bola yang ditargetkan oleh Kizashi. "Ada kabar terbaru tentang Uchiha?"

"Tidak ada, Tuan. Tapi, saya melaporkan bahwa tugas saya sudah selesai dilakukan."

Kizashi mengusap dagunya yang ditumbuhi oleh jenggot tipis sambil mencermati permainan. "Pastikan Hyuuga tidak berkhianat dengan kita."

"Siap, Tuan. Apa saya perlu menghabisi Uchiha sekarang?"

Kizashi memposisikan dirinya untuk kembali menyerang targetnya dengan cue ball. "Tidak perlu."

Tak

Bola target tersodok dengan mulus dan jatuh pada lubang yang tepat. Kizashi menatap Sasori senang. "Karena itu adalah peran dari anakku."

"Apa maksud Tuan?"

Kizashi meletakkan cue di papan biliar, kemudian berjalan ke arah Sasori. "Kau akan tahu nanti."

Tok Tok

"Ah, itu dia sudah datang." Kizashi mengusap keringatnya dengan sapu tangannya. Detik selanjutnya mereka dapat mendengar suara gedoran pintu yang tidak sabar.

Sasori segera mengambil pistol dari saku dan mengarahkannya ke pintu. "Hati-hati, Tuan. Sepertinya ada penyusup masuk."

Kizashi terkekeh, ia menyimpan kembali sapu tangannya kemudian menurunkan tangan Sasori. "Santai."

Kizashi melangkahkan kakinya menuju pintu dimana Sasori masuk. Kizashi lalu membuka pintu dan mempersilahkan sosok yang merengut kesal.

"Aku sudah menunggu lama, Yah."

Kizashi terkekeh sambil mengacak surai merah muda wanita itu. "Maafkan Ayah. Ada seseorang yang ingin Ayah kenalkan padamu."

Wanita itu menatap ayahnya dengan tatapan penasaran. "Apa itu Sasuke?"

Kizashi tersenyum lembut. "Bukan, Nak." Kizashi menggiring anaknya untuk memasuki ruangan tersebut lebih dalam. Lalu mereka berhenti di hadapan sosok pria yang berdiri dengan tegap.

"Perkenalkan dia anak buah ayah. Sasori Akasuna. Dia yang akan membantu mempertemukanmu dengan Sasuke."

Wanita itu tampak berseri-seri lalu mengulurkan tangannya yang seputih susu dan tentunya sangat lembut itu. "Ah, perkenalkan aku Sakura Haruno. Salam kenal."

Sasori menyambut uluran tangan Sakura dengan wajah datar. "Salam kenal."

Semburat yang sangat tipis muncul di pipi tirus Sasori setelah berjabat tangan dengan anak majikannya.

Mereka berdua melepas uluran tangan. Kemudian Sakura meregangkan tangannya lalu tersenyum manis pada Sasori. Ia menepuk pelan bahu Sasori.

"Tenang saja, Akasuna-san. Untuk masalah Sasuke, aku yang akan mengambil peran. Anda tak perlu khawatir."

Sasori menatap datar Sakura. "Ya."

Namun di sudut hati terkecilnya, di tempat yang tak pernah ia jangkau sebelumnya, ia dapat merasakan. Merasakan perasaan tidak rela yang timbul dari ucapan penuh semangat dari wanita di hadapannya ini.

.

.

.

Hinata mengusap ingusnya dengan tisu yang tersedia di atas meja kerja ayahnya. Ia telah menceritakan semuanya. Semua kejadian yang ia alami yang berhubungan dengan ibunya sejak ia kecil hingga sekarang tanpa menutupi apapun. Entah kenapa ia merasa lega dan beban di hatinya terasa berkurang.

"Hinata."

Hinata menatap ayahnya dengan wajah yang sembab. "Ya, Ayah?"

"Bagaimana jika untuk sementara kau tinggal di suite Hyuuga?"

Hinata menatap wajah ayahnya bingung. "Kenapa, Yah? Aku sudah cukup bahagia dengan tinggal di sini."

"Ada urusan yang harus Ayah selesaikan. Dan sampai urusan itu selesai, Ayah harap kau tidak berada di sini."

Hiashi mencengkram lembut kedua pundak Hinata. "Itu akan membahayakanmu, Nak."

Hinata menatap ayahnya dengan tatapan tak yakin. "Baiklah jika itu yang diinginkan Ayah. Aku tak masalah. Lalu kapan aku akan pindah?"

"Secepatnya. Akhir pekan ini. Ayah akan mengurus kepindahanmu."

Hinata menyodorkan jari kelingkingnya. "Ayah harus berjanji suatu hal. Bahwa apapun yang terjadi, ayah tidak boleh membahayakan diri ayah sendiri."

Hiashi terkekeh lalu menyambut uluran jari kelingking anak sulungnya itu. "Ayah janji."

Hinata melebarkan senyumannya. Dalam hati Hiashi sudah bersumpah untuk tak membuat anak di hadapannya ini menangis lagi. Oleh orang lain, keluarga Hyuuga, maupun oleh dia sendiri.

.

.

.

Sasuke memandang papan nama yang tercetak jelas di depan pintu masuk bangunan itu. Ia menghela napas kemudian memasuki tempat umum itu. Sepanjang kakinya melangkah, ia dapat melihat beberapa lansia yang sedang menikmati hari tuanya dengan berbagai cara. Seperti bermain catur, bercengkrama, membaca koran, bahkan merenung menatap hujan yang terus mengguyur dengan deras.

Sasuke meletakkan payungnya di tempat peletakan payung. Ia lalu melangkah menuju resepsionis. Dan langsung disambut dengan ramah oleh pegawai itu.

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Bolehkah saya melihat daftar kunjungan untuk pasien bernama Kaguya Hyuuga?"

"Maaf, tapi apakah Anda memiliki relasi dengan pasien ini?"

Sasuke mengangguk singkat. "Ya, aku menantu dari anaknya."

Pegawai itu mengangguk singkat. "Baik, tunggu sebentar."

Sasuke mengetuk meja resepsionis itu pelan. Sembari menunggu pegawai itu mengambil berkas, iris gelapnya menatap ke sekeliling. Mengamati bagaimana tenangnya keadaan di sebuah panti jompo tua itu.

"Ah, ini daftarnya. Silahkan Anda lihat. Kunjungan terakhir pada pasien ini adalah dua bulan yang lalu oleh Hikari Hyuuga."

"Ah, terima kasih. Biar saya lihat sendiri." Sasuke mengambil daftar yang disodorkan pegawai itu dan melihat daftar kunjungannya. Ia sudah menduga dari awal bahwa wanita paruhbaya bernama Hikari itu pasti mengunjungi panti ini berdasarkan info yang ia dapat. Tapi, ia tidak percaya bahwa wanita itu ternyata mengunjungi pasien ini secara rutin setiap dua kali dalam sebulan dan di tanggal yang sama setiap bulannya.

"Anda orang yang beruntung karena menjadi menantu dari anak pasien ini."

Sasuke mendongakkan kepalanya. "Ya?'

"Nyonya Hikari yang sering mengunjungi pasien ini sangat baik. Ia sering kali memberikan bantuan kepada panti ini hingga masih tetap berdiri seperti ini. Kami sangat berterima kasih kepada Beliau atas jasanya yang luar biasa itu."

Bantuan?

"Tolong sampaikan terima kasih kami kepada Beliau."

Sasuke berdeham kemudian mengembalikan daftar itu kepada pegawai resepsionis. "Terima kasih, akan kusampaikan."

Pegawai itu membungkuk dalam-dalam yang dibalas anggukan singkat oleh Sasuke. "Terima kasih, Tuan."

Sasuke segera pergi dan mengambil payungnya. Lalu ia melebarkan payungnya saat berada di teras panti jompo itu. Ia segera mengambil ponsel dari mantelnya dan jarinya bergerak menekan angaka-angka untuk menghubungi sesorang.

"Halo. Bisa kau cari data tentang Kaguya Hyuuga? Aku butuh data itu besok pagi di mejaku."

Setelah memberikan perintah itu, Sasuke kembali menyimpan ponselnya di sakunya. Ia menatap langit kelabu yang senantiasa menumpahkan airnya.

"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Hikari Hyuuga?"

.

.

.

TBC

A/N

Chapter 8 udah mulai penyelesaian Hyuuga Arc. Semua alasan atas ketidaknormalan Hikari Hyuuga akan terkuak di episode berikutnya. Maaf memakan waktu lama untuk update ini. Saya usahakan chapter berikutnya tidak selama ini. Sekian, terima kasih. Ciao!