"Tenanglah, Yah. Lagipula kita masih dalam satu kota, kan?" Hinata tersenyum tipis saat melihat raut wajah kekhawatiran yang dipancarkan ayahnya.

Hiashi menatap sendu anaknya kemudian mengeratkan lilitan syal di leher Hinata. "Baik-baiklah di sana."

"Tenanglah, Yah. Aku akan baik-baik saja."

Detik selanjutnya Hinata diterjang oleh pelukan rindu dan kasih sayang oleh seorang wanita yabg lebih muda darinya. "Kakak!"

Hinata membalas pelukan hangat itu. "Hanabi."

"Kakak... jaga–sob–sob–jaga kesehatan ya..."

Hinata meregangkan pelukannya kemudian mengacak surai coklat muda milik sang adik. "Baiklah. Kau juga jaga kesehatan, ya. Jangan terlalu sering begadang."

Hanabi mengangguk semangat. Namun, air mata terus mengalir di kedua pipinya. "Aku akan sering ke suite biar bisa ketemu kakak."

Hinata tertawa kecil, jarinya menghapus jejak-jejak air mata sang adik. "Tentu saja. Kau bisa datang kapan saja."

Kemudian Hanabi meregangkan pelukannya memberikan tempat bagi ayahnya memberikan salam perpisahan kepada Hinata.

"Walau kami tidak berada di sampingmu, tetap jaga kesehatanmu. Kami selalu berdoa untukmu, Nak." Hinata tersenyum lembut sambil mengencangkan pelukannya kepada ayahnya, saat merasakan usapan lembut pria paruhbaya itu pada surai panjangnya.

"Baik, Yah." Hinata melonggarkan pelukannya. Ia merangkul Hanabi, "ayah dan Hanabi jaga kesehatan juga ya."

"Pasti!"

Hinata melepaskan rangkulannya seraya menarik koper kecil bersamanya. Ia menyalakan mobil dengan kuncinya kemudian membuka bagasi. Ia masukkan koper itu ke dalam sedan putihnya.

Setelah itu, Hinata kembali ke kursi kemudi. Ia menyalakan mesinnya sambil menurunkan jendela. Berpamitan kembali.

"Itekimasu!"

Hanabi dan Hiashi ikut melambaikan tangan seraya tersenyum hangat. "Iterashai!"

Sedan putih Hinata melesat. Membelah jalanan sepi di pagi hari. Angin sejuk membelai lembut wajahnya. Entah kenapa ia merasa perasaannya lebih baik. Ia merasakan ketenangan di dalam hatinya. Ia berharap memutuskan pergi sejenak dari rumah mewah itu adalah hal yang tepat.

Di lain pihak, Hikari menatap nanar kepergian Hinata. Kedua tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Sepeninggal Hinata, Hikari segera meraih ponselnya yang tergeletak di meja kecil dekat ranjang.

Jari-jari lentiknya begerak dengan cepat. "Sasori-san, aku terima tawaranmu. Terus awasi Sasuke Uchiha."

.

.

.

Hope and Prisoner© Yuki Ryota

Naruto © Masashi Kishimoto

SasuHina

T

.

.

.

Hikari mengatur napasnya yang memburu akibat emosi yang tak tertahankan di dalam dirinya. Ia melirik kalender yang terletak di nakas. Iris matanya yang semula dipenuhi oleh emosi yang berapi-api perlahan meredup kala melihat coretan yang tertulis di kalendarnya.

"Sudah lama sekali ya, kaa-san." Hikari meraih bathrobe kemudian berjalan menuju ke kamar mandi. Berniat membersihkan diri sebelum melakukan rutinitas yang sudah lama tak ia lakukan dua bulan yang lalu.

Hikari mengenakan blouseberwarna peach dan celana kain berwarna kheki. Ia mengenakan coatberwarna coklat muda dan dipadukan dengan sepatu berhak rendah. Rambutnya ia biarkan tergerai. Ia melangkah menuju parkiran untuk mengambil audy putihnya. Ia melihat Hiashi yang sedang meminum segelas kopi di teras depan rumahnya.

"Jangan menemui anakku jika kau berniat melukainya." Hiashi menatap tajam Hikari. Seketika Hikari mematung. Ia merasa tubuhnya mendingin seketika kala ditatap tajam oleh Hiashi.

Hikari menggertakkan giginya. Ia merasa malu kepada dirinya karena ia tak dapat berkutik oleh Hiashi. Hikari mengatur napasnya kemudian mendengus. "Terserah."

Hikari melangkahkan kakinya kembali menuju mobilnya yang terpakir rapi. Kemudian ia memasuki mobilnya dan mengendarainya. Ia tak peduli jika Hiashi masih menatapnya tajam, intinya ia hanya ingin menuntaskan rutinitas bulanannya. Hikari mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.

Setelah 20 menit mengendarai kendaraan pribadinya, wanita paruhbaya itu tiba di sebuah bangunan tua yang terawat. Bahkan halaman bangunan itu tampak tertata rapi dan bersih dengan dihiasi berbagai macam jenis bunga di sekitarnya. Hikari menghirup udara pagi itu dalam-dalam. Aroma kesegaran bunga benar-benar menenangkan memakirkan mobilnya di tempat parkir yang berada di lahan kosong yang tak ditumbuhi bunga di halaman depan bangunan itu.

Ia melangkahkan kakinya, memasuki bangunan tersebut. Setibanya dia memasuki tempat tersebut, ia disambut dengan ramah dan sukacita oleh pemilik bangunan itu yang senantiasa menjaga empat resepsionis.

"Hikari-san!" wanita yang memanggil Hikari berjalan dengan cepat menuju Hikari kemudian memeluknya.

"Ah, Kurenai. Bagaimana kabarmu?" tanya Hikari ramah.

Kurenai mengangguk dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya. "Baik-baik saja."

Kurenai merangkul Hikari dan membawa Hikari ke kamar yang biasa Hikari kunjungi. "Bagaimana kabarmu? Kau sudah lama tidak kemari."

"Ah, aku memiliki beberapa urusan yang harus diselesaikan."

Kurenai mengeratkan pelukannya pada Hikari. "Wanita karir memang berbeda, ya?"

Hikari hanya menjawabnya dengan kekehan. Tanpa sadar, mereka telah sampai di depan kamar yang biasa Hikari kunjungi.

Kurenai menatap sendu Hikari. "Kau tahu, Hikari. Ada seorang pria mengunjungi panti ini. Dan dia ingin bertemu dengan ibumu."

Hikati membelalakkan matanya. Ia terkejut. Tentu saja. Hiashi tak pernah tahu bahwa ibunya dirawat. Dan hanya dia dan Kurenai yang mengetahui bahwa ibunya dirawat di tempat ini.

Usapan lembut di pundak Hikari membuat wanita paruhbaya itu tenang. "Tenanglah. Ia tak bermaksud untuk menyakitimu. Nah, masuklah."

Hikari tersenyum tipis. "Terima kasih, Kurenai."

Setelahnya, Hikari memasuki kamar. Di sana ia dapat melihat sosok yang duduk di kursi roda dan membelakanginya. Sosok yang surainya sudah beruban menghadap ke jendela besar. Hikari berjalan mendekat.

"Ibu… ini aku."

Sosok yang membelakangi Hikari sedari tadi hanya menolehkan sedikit kepalanya. "Siapa?"

"Hikari, Bu. Hikari Hyuuga." Hikari mencengkram pegangan pada kursi roda yang digunakan ibunya.

Sosok tua itu mendongakkan kepalanya, menatap Hikari datar. "Siapa kau?"

Tanpa sadar air mata menetes di kedua iris keperakan milik Hikari. "Ini aku, Bu. Anakmu."

"Hikari… siapa itu Hikari?" air mata tak henti-hentinya menetes dan membanjiri di kedua pipi Hikari.

Lutut Hikari merasa lemas. Ia tak lagi bisa menumpu tubuhnya. Ia jatuh bersimpuh di samping ibunya. Ia menangis keras. Air mata tak henti-hentinya keluar. Sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa. Hikari melampiaskannya dengan mencengkram pegangan tangan pada kursi roda.

"Ibu… ibu…"

Hikari harus menelan pil pahit bahwa selama apapun ia merawat ibunya, ibunya tetap tak menunjukkan tanda-tanda positif bahwa wanita itu mengenal Hikari.

.

.

.

Hujan deras mengguyur kawasan panti jompo itu. Hikari yang berniat untuk kembali ke panti setelah pergi ke minimarket terpaksa menghentikan perjalanannya dan memutuskan berteduh di sebuah toko yang tutup. Hikari menatap hujan yang mmasih turun dengan deras. Jarak toko itu dan minimmarket hanya 100 meter, namun ia memutuskan menunggu sampai reda. Tentu saja, ia tak mauberjalan sejauh itu hanya untuk membeli payung jika pada akhirnya ia tetap basah.

Hikari mengecek email maupun pesan yang masuk di ponselnya. Beruntung ia mmembawa ponsel, setidaknya ia dapat menghubungi supir jika hujan masih turun dengan derasnya.

"Hyuuga-san?"

Hikari tersentak, ia mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Kau–"

Soosk itu tersenyum tipis di bawah payung yang ia bawa. Sosok tampan itu menjulurkan tangannya sebagai bentuk perkenalan. "Anda pasti sudah mengenal saya."

"Kenalkan, saya Sasuke Uchiha."

.

.

.

Hinata memijat pangkal hidungnya. Ia lepaskan kacamata yang sedari tadi bertengger di hidung macungnya. Ia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sedari tadi bekerja sejak 5 jam yang lalu. Tangannya meraih gelas kopi yang terbuat dari karton itu. Meneguk cepat cairan hitam kental itu. Ia memejamkan matanya mengistirahatkan matanya yang sedari tadi fokus membaca deretan tulisan yang tertera di sana.

Triing

Perlahan ia meraih ponselnya dalam keadaan mata tertutup. Ia angkat panggilan tersebut tanpa tahu siapa yang menghubunginya.

"Dengan Hinata Hyuuga di sini."

"Aku tebak kau belum tahu bahwa aku menghubungimu, kan?" suara familiar terdengar di indra pendengaran Hinata. Lantas ia membuka matanya kemudian memastikan siapa yang menghubunginya.

"Shikamaru-san?"

"San?" terdengar kekehan kecil di sana.

"Tak perlu seformal itu, Hinata." Terdengar helaan napas di sebrang sana, "bisa kita bertemu siang nanti?"

"Secepat itu kah?"

"Tentu saja. Data seorang Akasusa adalah data yang paling mudah kudapatkan. Bagaimana saat makan siang?"

Hinata melirik jam di dinding dan jadwalnya hari ini. "Aku kosong."

"Yosh! Kita bertemu di kafe dekat perusahaanmu, ya."

"Deal."

.

.

.

Hikari hanya menatap tangan Sasuke yang terjulur. "Apa kau memiliki keperluan denganku?"

Sasuke tersenyum miring. Ia teringat akan Hinata. Sasuke memutuskan ikut berteduh di bawah atap toko. Ia menutup payungnya.

Hikari mengerutkan dahi tak suka. "Kenapa kau ikut berteduh di sini? Kau bahkan membawa payung."

Sasuke terkekeh. Ia berdeham. "Anggap saja aku sedang mendekatkan diri pada besanku."

Hikari menatap Sasuke dengan pandangan tidak percaya. "Apa maksudmu? Aku tidak merestui hubungan kalian!"

Sasuke menolehkan kepalanya, menatap Hikari. Wajahnya tampak tenang berekspresi."Aku tidak membutuhkan restumu. Aku hanya membutuhkan restu Hiashi-san."

Hikari mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi yang meledak-ledak di dalam dirinya "Apa maksudmu? Aku itu ibunya, aku berhak atas mengatur semua hal yang ada di dalam dirinya termasuk jodoh sekalipun!"

Sasuke menyeringai. Ia mendengus. "Setelah kau melakukan semua hal itu pada Hinata, kau masih menganggap dirimu seorang ibu?"

Hikari menggertakkan giginya. Ia menarik napas panjang dan tersenyum meremehkan."Kau tak tahu apa-apa, anak muda. Ajaranku pada dirinya dan caranya mendidik bukan urusanmu. Itu semua adalah urusan keluarga kami. Hyuuga."

Sasuke meregangkan badannya yang terasa pegal. "Tentu saja itu adalah urusanku, karena Hinata Hyuuga adalah calon istriku. Tentu saja itu adalah tanggung jawabku."

Grep

Tangan Hikari yang hendak mendaratkan tamparan di pipi mulus pria Uchiha itu tertahan oleh cengkraman erat oleh pria Uchiha itu sendiri.

Hikari menatap Sasuke berapi-api, penuh kebencian di dalamny. "Kurang ajar."

Hikari berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman kuat Sassuke."Pasti kau kau kan. Kau yang mencuci otak Hinata ku?!"

Sasuke tersenyum miring. Merasakan kontradiksi yang begitu nyata di hadapannya. "Mencuci otak? Apa itu tidak salah?"

Sasuke melepaskan cengkramannya seraya menyisipkan rokok di ujung jelaganya melirik Hikari. "Kau yang mencuci otaknya, menjadikannya robot. Dan bahkan menanamkan pemikiran kolot. Apa itu bukan tindakan cuci otak?"

Sasuke menghadapkan seluruh tubuhnya pada Hikari seraya terkekeh. "Ah, bahkan lebih parah dari itu."

Sasuke mencondongkan tubuhnya. "Apakah itu tindakan manusiawi?" kemudian dengan gesit Sasuke segera mundur.

Hikari hanya bisa menggeram karena pergelangan tangannya yang sakit. Ia merasa kelabakan "Kau tak tahu apa–"

"Aku tahu semuanya. Hikari-san. Aku mengetahui semua detail keluarga Hyuuga." Sasuke menyulut api di rokoknya.

"Asal kau tahu, aku hanya memancing jiwa pemberontak dari diri Hinata." Sasuke mendongak, menatap langit yang terus menurunkan tumpahan air.

Pria bersurai raven itu melirik ekspresi Hikari. "Ia tidak seperti keturunan Hyuuga sebelumnya yang tidak memiliki ekspresi. Dan aku melihat secercah emosi dalam dirinya. Aku hanya memancing itu saja."

Hikari menggebrak rolling door toko yang tertutup hinggga menimbulkan suara nyaring."Apa kau tidak tahu akibat yang kau sebabkan, anak muda?!"

Hikari merangsek maju dengan telunjuk yang teracung pada Sasuke. "Kau telah menghancurkan Hyuuga! Ia akan menjadi lembek dan tidak bertanggung jawab karena ketidakmampuannya menekan emosinya!"

Sasuke berdecih, ia menatap tak percaya pada Hikari. "Apa kau tak sadar bahwa kau lah yang menghancurkan Hyuuga dari dalam dengan terus menurunkan ajaranmu?"

"Omong kosong kau! Berhentilah ikut campur urusan keluarga lain dan uruslah urusanmu sendiri!" Setelah mengatakan hal tersebut, Hikari berbalik dan memutuskan mencari temlat yang memiliki jarak yang jauh dari tempat pria muda Uchiha itu berada.

Sasuke menatap lunggung Hikari yang menjauh kemudian bersidekap. "Hikaru Hyuuga. Nenek dari Hinata Hyuuga. Ibu dari Hikari Hyuuga menderita penyakit psikologis, bukan?"

Hikari seketika membeku. Sekujur tubuhnya terasa kaku ketika ucapan yang dipenuhi fakta itu terucapkan. Ia merasa seluruh dunianya menjadi terombang-ambing atas fakta yang diungkapkan yang selama ini ia tutupi.

"Panti jompo di sebelah sana adalah panti yang juga tempat rehabilitasi untuk Hikaru Hyuuga, bukan?"

"Cukup."

Sasuke hanya menatap prihatin pada wanita paruhbaya yang menyembunyikan hal vital secara rapat-rapat bahkan dari keluarganya sendiri. "Ia sudah dirawat lebih dari 5 tahun dan masih belum menunjukkan tanda-tanda se–"

"Kubilang cukup!"

Ctar

Zraaaashh

Suara petir yang kemudian diikuti suara hujan lebat yang mulai disertai dengan angin membuat emosi Hikari semakin tak menentu.

Sasuke hanya menatap Hikari datar dengan terus mengepulkan asap rokok di sekitarnya.

Hening yang mencekam mengiringi keduanya. Hanya suara hujan deras yang terus turun dan sesekali suara petir yang bersahutan sebagai pemecah keheningan di antara mereka. Air hujan yang terus turun membuat sebagian pakaian yang dikenakan Hikari menjadi basah. Sasuke yang sadar akan hal tersebut menghela napas. Ia mematikan rokoknya.

"Jauhi Hinata. Jangan dekati dia setidaknya dengan kondisi psikologismu yang mulai kacau."

"…" Hikari hanya terdiam tak bersuara. Sasuke bahkan tak yakin apakah Hikari mendengar ucapannya atau tidak.

"Dan juga, jika tradisi ini terus dilanjutkan, klan Hyuuga akan punah karena mereka yang mulai memutuskan untuk mati muda karena beban yang terlalu berat untuk dipikul dan tekanan mental yang terus dialami."

Sasuke membuka payungnya. "Beruntung, Hinata memiliki darah seorang Hiashi dan orang-orang baik di sekitarnya yang terus mendukungnya. Ia jadi tidak seburuk pendahulunya."

Sasuke tak peduli lagi jika Hikari akan menamparnya atau berteriak padanya. Yang terpenting tujuannya telah tercapai.

Sasuke menghentikan langkahnya saat suara wanita paruhbaya mengintrupsi. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"

Hikari berbalik dan menatap tajam Sasuke. "Apa kau ingin membuat Hyuuga terpuruk dan hancur atau aku yang hancur, ha?!"

Sasuke menggoyangkan jari telunjuknya, tanda tak setuju dengan persepsi Hikari kepada dirinya. "Tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya meminta satu saja Hikari-san."

"Yaitu kebahagiaan Hinata."

Hikari terdiam ia termangu dengan kalimat terakhir yang Sasuke ucapkaan padanya. Sasuke memutuskan meletakkan payungnya kemudian menerobos hujan tanpa pelindung kecuali setelan jas kerjanya.

Sebelum Sasuke pergi, ia berkata. "Kau bisa menggunakan ini, Hikari-san.Terima kasih telah mendengarkanku."

Setelah mengatakan hal tersebut Sasuke segera menerobos hujan dan menghilang dari pandangan Hikari. Hikari menatap kosong jalan di hadapannya. Pikirannya kalang kabut dan ia tak bisa berpikir dengan jernih lagi.

Perlahan, hujan mulai reda. Tersisa gerimis dan aroma khas tanah yang telah tersiram oleh jutaan air yang tumpah menuju dasar bumi. Dan wanita paruhbaya iu masih di situ. Dengan setelan rapinya yang meninggalkan jejak basah dan pemberian payung oleh pria bermarga Uchiha itu. Dan hal yang sangat tak biasa yang dialaminya seumur hidup. Lelehan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir di kedua pipinya.

.

.

.

Hinata duduk berhadapan dengan Shikamaru. Ia memesan cappuccino kesukaannya. "Selamat siang Shika-san."

Shikamaru mengacak rambutnya kesal. "Apa harus seformal itu walau kita sudah sering bertemu?"

"Baiklah, Shika-kun." Hinata menunduk, mencari dompetnya untuk membayar minumannya.

Wajah Shikamaru memerah. Tidak mempercayai bahwa Hinata akan terbuka seperti itu. ""Kau kesambet ya? Sejak kapan kau–"

Hinata mendongak. "Ya?"

Shikamaru mendengus. "Sudahlah lupakan saja." Pria bersurai jabrik itu memilih meneguk minumannya. "Aku menemukan hal yang menarik."

Hinata menatap Shikamaru. "Apa itu tentang Akasusa?"

Shikamaru mengangguk. "Tentu saja. Dan kau tahu apa yang paling menarik?"

Hinata menggeleng. Minumannya hadir, Hinata langsung memberikan uangnya pada pelayan yang mengantarkan pesanannnya. Ia menyesap minumannya. "Bisa kita tidak terlalu berbasa-basi?"

Shikamaru mendengus. "Serius sekali. Lagipula jam makan siangmu masih panjang."

Hinata menghela napas. "Kau tahukan Hyuuga itu–"

"Ya, ya aku tahu." Shikamaru memutar bola matanya bosan. Shikamaru mencondongkan tubuhnya seraya berbisik. "Jadi apa kau mengetahui bahwa Akasusa bekerja sama dengan Haruno?"

"Haruno? Maksudmu perusahaan kecil itu?"

Shikamaru berdeham seraya meneguk minumaannya lagi. "Jangan meremehkan Haruno. Apa kau tahu bahwa separuh saham di Akasusa adalah milik Haruno?"

"Apa?!" Hinata terkejut. Pasalnya ia sangat mengetahui berapa harga 1% saham itu dan tentu saja harganya bukan main-main.

"Tapi kenapa Haruno adalah perusahaan yang kecil? Bahkan jika dibandingkan dengan perusahaan Hyuuga yang memiliki saham dimana-mana, perusahaan kami tidak sekecil itu."

Shikamaru menepuk tangannya. Telunjuknya menunjuk Hinata seolah Hinata menjawab dengan sempurna sebuah kuis. "Itulah poinnya!"

Shikamaru kembali mencondongkan tubuhnya. "Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Haruno?"

Hinata menggeleng pelan. "Apa kau telah menemukannya? Apa ia dapat membahayakan Hyuuga?"

Shikamaru menyeringai penuh semangat. "Tentu saja aku telah menemukannya, Nona cantik." Ia membuka laptopnya dan menunjukkan data apa saja yang didapatkan oleh dirinya dari menelusuri tentang Akasusa.

Hinata mengamati satu persatu data yang didapatkan oleh Shikkamaru. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka tak percaya. "Tidak mungkin… Uchiha?" Hinata menatap Shilamaru dengan pandangan tak percaya.

Shikamaru menutup laptopnya kemudian memasukkan laptopnya ke dalam tasnya. "Kau tahu sendiri bahwa selama ini, Akasusa yang telah bekerja sama dengan Haruno dengan sangat kental ini terus melakukan pengamatan terhadap Uchiha. Dan bahkan mereka menuliskan perusahaan mana saja yang bekerja sama dengan Uchiha."

Shikamaru membasahi kerongkongannya lagi. "Seperti yang kau lihat Hyuuga termasuk dalam daftar tersebut. Dan pemantauan perusahaan Hyuuga juga sedang dilakukan saat ini."

Hinata menggigit bibirnya pelan. Ia tampak berpikir keras. Dahinya berkerut. Shikaamarubyang melihatnya hanya terkekeh.

"Tenanglah, Nona." Shikamaru menatap iris Hinata penuh keyakinan. "Kau hanya perlu waspada. Jangan terlalu bertindak gegabah. Pikirkan baik-baik. Hyuuga bukan tujuan Akasusa. Tujuannya saat ini adalah Uchiha. Tapi kau tetap harus waspada. Karena srgala kemungkinan tentu saja dapat terjadi. Untuk itu, berhati-hatilah pada Akasusa."

.

.

.

Setelah pembicaraan penuh ketegangan dengan Shikamaru, Hinata kembali melanjutkan pekerjaannya. Walau terkadang pikiraannya melayang pada Akasusa dan Haruno, bukan Hyuuga namanya jika tidak gampang teralihkan.

Ia meneguk kopi hitamnya yang keyiga kali sejak sore itu. Ia menatap jam dan pekerjaannya yang sudah selesai. Terbukti dengan tumpukan map yang mulai berkurang. Melihat jam yang sudah beranjak malam, wanita muda penuh khharisma itu memutuskan membereskan peralatannya dan bersiap untuk pulang.

Sesampainya di teras perusahaan, ketika ia hendak menghubungi sopirnya, sebuah sapaan dengan intonasi dattar menyapanya.

Hinata mendongak, mencari sosok yang memanggilnya dan ia temukan sosok pria bersurai raven melambaikan tanganmya malas. "Osu."

Hinata menghampiri Sasuke. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Sasuke menarik tangan Hinata. Membuat tubuh Hinata merangsek maju ke arahnya. Hinata yang kehilangan keseimbangan tanpa sadar mencengkram jas kerja Sasuke.

"Mulai sekarang aku yang menjemputmu."

Hinata hanya menatap iris jelaga milik Sasuke yang datar namun memancarkan keseriusan. Dalam hati, ia mengagumi keindahan iris sosok di hadapannya. Waktu berjalan terasa lambat. Aroma tubuh pria tampan itu dan kedekatan jarak keduanya, membuat Hinata tidak dapat berpikir jernih.

"Apa maksudmu?"

Detik kemudian Hinata terpaku. Tubuhnya tak dapat digerakkan. Ia merasa telah melihat sesuatu yang sangat indah di hadapannya. Sebuah garis tipis di wajah pria itu tetap terpampang membuktikan bahwa itu adalah hal nyata.

Dengan senyuman lembutnya, Sasuke mengusap puncak kepala wanita itu. "Aku akan membuatmu keluar dari penjara yang selama ini mengekangmu. Aku berjanji bahwa aku akan melihat betapa indahnya dunia luar. Jadi, aku mohon–"

"–Aku mohon berharaplah padaku."

Jantung Hinata berdebar dengan sangat keras. Wanita itu merasa perutnya meletup-letup penuh kebahagiaan. Tanpa sadar wajahnya memerah. Ia bahkan dapat mendengar debaran jantungnya. Dan tanpa sadar, air mata mengalir di kedua sudut matanya.

Hinata tersenyum tulus. "Terima kasih, Sasuke." Hinata memejamkan matanya seraya mencengkram jas Sasuke erat seraya menunduk.

Tarikan lembut nan hangat dirasakan oleh Hinata. Ia telah menyadari bahwa ia jatuh ke pelukan pria bermarga Uchiha itu. Air mata tak henti-hentinya mengalir dan menganak sungai de kedua pipi Hinata. Tanpa sadar Hinata membalas pelukan Sasuke seraya mencengkram jas bagian belakang milik pria itu.

"Terima kasih."

.

.

.

Tidak banyak percakapan yang terjadi di dalam mobil Sasuke. Hal itu dikarenakan Hinata yang tertidur karena kelelahan. Sasuke tersenyum kecil saat melihat mudah sekali wanita itu tertidur. Sasuke tetap menjalankan mobilnya. Karena ia tak sempat bertanya alamat tempat tinggal Hinata, ia putuskan untuk mengemudikan mobilnya menuju yataiyang searah dengan rumahnya. Mengingat waktu sudah menunjukkan makan malam.

Mobil audi hitam legam itu berhenti tepat di sebuah yatai kecil di pinggir jalan. Jalanan menuju ke rumah Sasuke memang jalanan pedesaan. Karena di sekitar jalan itu tampak sepi karena jalan sebelah kanan dan kiri dipenuhi oleh sawah dan lapangan luas. Sasuke memutuskan berhenti di angkringan yang selalu ia dan Obito kunjungi dulu.

Sasuke melepaskan sabuk pengamannya. Ia mengguncang tubuh Hinata. "Kita sudah sampai."

Hinata mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia melihat ke sekeliling. "Dimana kita? Ini bahkan bukan suite yang kutinggali."

"Cepat turun. Kita akan makan malam." Sasuke segera keluar dari mobil. Diikuti Hinata yang masih menguap dan sedikit meregangkan tubuhnya.

"Ikuti aku." Hinata yang disuruh oleh Sasuke, terpaksa mengikuti permintaan pria itu. Karena ia tak tahu wilayah mana yang ia datangi sekarang.

Dan sampailah mereka di sebuah yatai sederhana. Aroma oden panas yang mengepul sudah menggugah selera keduanya

"Malam, Paman," sapa Sasuke sambil menyibak kain yang menutupi sisi-sisi yatai. Ia lalu memasuki yatai dan duduk di kursi memanjang yang menghadap pada penjualnya.

"Ah, Nak Suke. Sudah lama kau tak kemari. Apa mau pesan seperti dulu?"

Sasuke menggeleng pelan. Ia tersenyum tipis. "Kali ini aku pesan 2oden dan 2 agonono saja. Jangan lupa sake."

"Kau mau minum malam ini?"

Hinata langsung menyanggah saat Sasuke hendak menjawab pertanyaan pria tua itu. "Tidak perlu, Paman. Ia akan mengemudi dan aku tidak ingin dia menyetir sambil mabuk."

"Ah, aku tidak menyadari jika ada wanita cantik ini. Apa ini pacarmu, Sasuke?" tanya Paman itu dengan nada jahil terselip di dalamnya.

Sasuke hanya berdeham. Paman penjual itu hanya tersenyum maklum. "Tenang saja, Nona. Sasukemu ini kuat minum. Tapi, karena aku tidak mau membuatmu khawatir aku hanya memberikan dia sake dengan kadar yang kecil."

Setelah itu paman baik hati itu menyiapkan pesanan keduanya. Hinata mati-matian menahan wajahnya yang mulai memerah. Ia menolehkan kepalanya saat merasakan tepukan pelan di bahunya.

"Apa yang kau lakukan? Aku sedang ingin minum malam ini." Tampak jelas raut kesal di wajah tampan bungsu Uchiha.

"Kau tak boleh mabuk. Ingat kau sedang membawaku malam ini." Hinata memperingatkan. Ia melihat ke sekitar. "Lagipula tempat apa ini? Sempit sekali."

Sasuke mengambil yakitori. "Hussh. Berhentilah mengeluh. Ini adalah yatai. Angkringan kecil tempatku dan ayahku beristirahat dulu. Tenanglah. Kebersihannya telah terjaga oleh pemerintah."

Hinata menangguk pelan. Ia mulai mengamati sekitar sampai tak terasa makanan yang telah dipesan Sasuke sudah datang. Asap yang mengepul dari oden yang panas benar-benar menggoda kedua perut mereka untuk segera melahap makanan di hadapannya.

"Itadakimasu."

Hinata segera menyendok kaldu dari oden tersebut. Wajahnya mrndadak berbinar dan dipenuhi oleh binar bahagia. "Wah! Enak sekali!" Hinata menatap paman penjual itu. "Apa ini, Paman?"

"Oden. Oden ini terdiri dari katsuobushi, kombu, tamago, dan konyaku. Lalu direbus dengan kecap asin"

Sasuke tersebyun kecil melihat tingkah Hinata yang kekanakan. Ia mmengambil agemono dan memberikannya pada Hinata. "Cobalah ini sambil kau rasakan odennya."

Hinata langsung mengikuti intruksi Sasuke. Dan lagi-lagi wajahnya dipenuhi oleh binar kebahagiaan. "Wah! Enak sekali!"

Paman penjual tersebut tersenyum hangat. "Kalau begitu. Makan dengan lahap ya."

Hinata menangguk semangat. "Tentu saja!" Hinata kembali melanjutkan makanannya.

Sasuke yang melihat tingkah Hinata menahan dirinya untuk tidak tersenyum lebar. Di lain pihak, paman itu mengirim kerlingan jahil ke arah Sasuke. Sasuke yang sadar dirinya mulai hilang fokus dan menyadari tatapan paman tersebut hanya berdeham.

Sasuke segera menuang botol sake ke dalam sloki kecilnya. Ia langsung meminum sake nya dalam sekali teguk. Ia lalu mendesis kala merasakan cairan panas mengalir di kerongkongannya.

Hinata menatap Sasuke dengan wajah penasaran yang imut. Walau Sasuke tidak mabuk tapi entah kenapa ia merasa ingin 'memakan' sosok di hadapannya. Terutama bibir mungil wanita itu.

"Ini namanya sake. Ini paling enak diminum saat kau sedang berada di yatai," jawab Sasuke sekenanya.

Hinata mengangguk. Ia lalu mengikuti Sasuke. Ia tak menyadari bahwa cairan itu dapat mengubah kepribadiannya. Dan tentu saja, hal tersebut membuat Sasuke harus menahan nafsunya mati-matian.

.

.

.

Lagi-lagi, Sasuke lupa untuk menanyakan alamat suite tempat Hinata tinggal. Ia melirik Hinata yang sudah tertidur pulas. Hanya karena 1 sloki kecil sake dan wanita itu langsung mabuk. Luar biasa. Jika tahu akan begini akhirnya, lebih baik ia tidak pernah mengajak Hinata untuk ikut meminum sake.

Akhirnya Sasuke menghentikan mobilnya di garasi mobil rumah minimalis. Sasuke keluar sambil menggendong Hinata. Ia mengetuk pintu rumahnya, berharap ada orang yang membukakan pintu.

Dan pintu terbuka, tampak seorang wanita paruhbaya bersurai coklat dengan senyum ramah di wajahnya. "Ah, Sasuke-kun!"

"Tadaima, kaa-san."

Wanita yang bernama Rin itu memberi jalan agar Sasuke memasuki rumah tersebut. "Astaga! Siapa wanita yang sedang kau bawa?"

"Ibu, bisa siapkan kamar tamu? Aku harus membawa wanita itu ke sana."

Rin mengerjapkan matanya berkali-kali. "Ah, baiklah. Sebenta–"

"Tidak usah, Ibu!" seru seorang wanita dewasa menghentikan gerakan Rin.

Sasuke menatap bosan saudara sepupunya itu. "Sial."

Bunyi tangan yang diregangkan dan siap meninju terdengar di ruang tamu tersebut. Wanita yang mengintrupsi tindakan Rin tersenyum sadis. "Anak ini harus diberi pelajaran."

Sasuke menatap datar wanita itu. "Anko."

.

.

.

"Number you're calling is not active. Please try again la–"

Seorang wanita paruhbaya dengan wajah sembabnya terus menatap layar ponselnya. Dalam hati, ia berharap bahwa sosok yang hendak ia hubungi segera menjawab panggilannya.

Wanita itu menghela napas. "Hinata, angkatlah teleponmu, Nak."

.

.

.

TBC

A/N

Wah wah, udah telat lebih 1 bulan. Doain semoga cepat update~

Maaf atas keterlambatannya. Ini semua karena draft saya ilang semua (lagi). Masalah Uchiha mulai terkuak dikit demi sedikit. Dan masalah keluarga Hyuuga mulai berkurang.

Ada yang merasa janggal dengan chap ini? Jawabannya benar~ kenapa Sasuke nyebut dua orang wanita sebagai ibu? Nantikan jawabannya seiring berjalanannya chapter~

Akhir kata. Terima kasih. Ciao~