SEARCH AND FOUND IT!

.

CHAPTER 3

.

Cast :

Kim Yesung

Cho Kyuhyun

Lee Donghae

Lee Hyukjae

Tan Hangeng

Choi Seung Hyun (T.O.P)

And another cast (Muncul sesuai jalan cerita)

.

Author : Kim Hwang Yuni

Pair : KyuSung Or TopSung (?)

Rating : T +17

Genre : Crime, Hurt/comfort, AU, Suspense, Drama, Family

Warning :Typo

Disclaimer : Cerita ini terinspirasi dari perpaduan Film Fast and Furious dan Mission Impossible II

Attention : Jika tidak suka, jangan membaca! Hargai setiap karangan yang diciptakan oleh seorang fans. Karena menciptakan suatu karangan itu tidaklah mudah.

.

.

.

Summary : Kim Yesung yang merupakan anak berandalan yang kesepian dipaksa oleh Cho Kyuhyun, seorang perwira tinggi USA untuk menjalin kembali hubungan asmara bersama mafia besar, Choi Seung Hyun. Berhasilkah dia?

.

.

.

Dengan langkah yang sangat hati-hati Yesung keluar dari gerbang rumah Kyuhyun dan memperhatikan jalanan didepannya. Kosong. Itu berarti dia aman.

"Sedang apa kau disini?" sebuah suara husky dan berat mengagetkan Yesung hingga membuat namja itu berjengkit kaget.

Dengan segera Yesung membalikkan badannya dan melebarkan matanya. Sumpah demi apapun, jantung Yesung berdegup dengan sangat kencangnya dan serasa ingin melompat keluar.

"Seung Hyun…" ujar Yesung terbata.

.

.

.

HAPPY READING…!

.

.

.

Seung Hyun melangkahkan kakinya mendekati Yesung dengan tatapan tajam dan penuh intimidasi, membuat yang ditatap semakin takut. Seung Hyun berhenti tepat didepan tubuh Yesung yang gemetaran. Mencoba memberi ketenangan pada namja manisnya dengan mengusap sayang surai halus raven namja mungil didepannya ini.

Membuang segala rasa penasaran yang membuncah dalam hatinya, Seung Hyun mencoba bertanya sekali lagi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Dia tak ingin namja manis yang sangat dicintainya bergetar ketakutan hanya karena suara intimidasi darinya.

"Apa yang kau lakukan disini, Honey?" tanya Seung Hyun yang kali ini pelan, halus dan lembut. Benar-benar bukan seorang TOP dimata dunia.

Perlahan namun pasti si manis pun mengangkat kepalanya, mencoba menatap obsidian tajam didepannya. Yesung pun tak mengerti kenapa dirinya menjadi sangat takut seperti sekarang ini. "Aku… Aku hanya berjalan-jalan disekitar sini." Jawab Yesung gugup yang tentu saja bohong.

Seung Hyun tersenyum lembut. "Tapi yang ku lihat, kau baru keluar dari rumah itu."

"Itu… Tadi aku melihat ada seekor anak anjing yang sangat lucu. Jadi aku masuk untuk melihatnya dari jarak yang lebih dekat lagi." ujar Yesung takut-takut dan masih berbohong.

Seung Hyun kembali tersenyum lembut dan kembali mengusap surai raven Yesung. "Kali ini kau ku maafkan. Tapi lain kali jika ingin berbohong, jangan pernah menunjukkan rasa ketakutan mu. Karena itu hanya akan menjadi titik lemah mu." Seung Hyun menurunkan tangannya dan menggenggam dengan lembut jari mungil Yesung. "Ayo kembali ke mobil. GD dan Daesung sudah menunggu mu disana."

Tanpa memperdulikan ekspresi terkejut Yesung, Seung Hyun pun menarik Yesung untuk pergi ketempat dimana supirnya memarkirkan BMW hitam yang digunakan Yesung untuk mengantar 'undangan'.

'Apa aku ketahuan? Bagaimana dia tahu aku berbohong?' begitulah kira-kira pertanyaan yang terus berputar diotak namja mungil nan manis ini.

Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar diotak Yesung hingga membuatnya tak sadar bahwa mereka telah sampai ditempat parkiran.

"Hyung, kau kemana saja? Aku dan GD hyung sungguh mengkhawatirkan mu." ujar Daesung sambil memeluk Yesung yang membuat namja manis itu segera tersadar dari dunia berpikirnya.

Reflex, Yesung membalas pelukan hangat dari Daesung. "Aku hanya berjalan-jalan disekitar sini."

"Berjalan-jalan dengan keadaan perut yang sungguh melilit? Cih, hebat sekali acting mu hingga membuat ku percaya." Sindir GD yang membuat pelukan mereka terlepas.

Yesung menundukkan kepalanya dan membungkukkan badannya pada GD. "Mianhae. Aku hanya ingin berjalan sendirian tanpa pengawalan."

"Tapi tetap saja kau membuat ku panik."

"Aku tahu aku bersalah. Ku mohon maafkan aku, GD." ujar Yesung dengan penuh penyesalan.

"Sudahlah. Tak perlu memperpanjang masalah ini. Kita akhiri saja permasalahan ini sampai disini." ujar Seung Hyun menengahi pembicaraan GD dan Yesung. "Sweetheart, kau pulang dengan ku, ne?" lanjut Seung Hyun yang kini menarik lengan Yesung menuju mobil sport mewahnya, McLaren MP4-12C berwarna orange yang terparkir agak jauh dari BMW hitam tadi.

Yesung sungguh terkejut dan terpana saat melihat mobil sport mewah didepannya kini. "Sejak kapan kau mengendarai mobil yang seperti ini?" tanya Yesung dengan wajah bingungnya.

Seung Hyun hanya tertawa menanggapi pertanyaan Yesung. "Masuklah. Kau akan lebih terkejut jika melihat bagaimana aku mengemudikannya." Seung Hyun pun masuk kedalam mobilnya yang diikuti oleh Yesung yang masih menyimpan berbagai pertanyaan.

Seung Hyun benar-benar orang yang penuh kejutan! Karena seingat Yesung, mobil termewah yang dimiliki Seung Hyun adalah Ferrari. Dan ditahun ini itu sudah menjadi model yang sangat lama. Dan juga Seung Hyun jarang memakainya dengan alasan dia belum ingin mati muda dengan kecepatan mobil mewah itu. Adi untuk kesehariannya dia hanya menggunakan mobil biasa-biasa saja.

Seung Hyun pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, membuat Yesung harus mencengkram kuat sabuk pengamannya karena belum siap. Ya, namja manis itu belum siap dengan segala kejutan dari Seung Hyun. Bagaimana mungkin bisa Seung Hyun dengan tenang melajukan mobilnya dengan kecepatan yang setara dengan kecepatannya saat membawa mobil dalam track balapannya? Belum lagi kemahirannya dalam membaca situasi jalanan didepannya. Bahkan Yesung saja sering salah dalam memperkirakan kemungkinan-kemungkinan didepannya jika dia mengebut dijalanan umum. Tapi ini, Seung Hyun dengan mudah menguasai jalanan, seakan semua kendaraan yang sedang melintas menyingkir dengan sendirinya memberikan jalan yang luas bagi mereka. Benar-benar perubahan yang sangat sulit untuk dipercaya!

15 menit waktu yang sangat singkat untuk menempuh perjalanan menuju taman kota USA, Central Park. Taman seluas 3,4 kilometer persegi itu menjadi tujuan utama Seung Hyun dalam membawa kekasih manisnya untuk berjalan-jalan disore hari seperti ini, layaknya pasangan kekasih yang lain.

"Sudah sampai. Ayo kita turun."

"Bukankah kita seharusnya pulang?"

"Kau tak ingin berjalan-jalan sore dengan ku?" tanya Seung Hyun yang dijawab dengan anggukan oleh Yesung.

Seung Hyun dan Yesung berjalan beriringan sembari bergenggaman tangan. Menikmati pemandangan dan suasana sore yang diberikan oleh taman kota itu. Menciptakan keheningan karena si manis yang terus memperhatikan sisi kiri dan kanan jalan. Sementara Seung Hyun, justru menikmati wajah indah dari namja mungil disampingnya ini. Terlebih lagi genggaman tangan mereka yang sungguh pas dan hangat.

Mereka berdua terus berjalan melewati pohon-pohon yang menjulang tinggi dan tersusun rapi disetiap kanan dan kiri jalan yang mereka lewati. Melewati beberapa gedung mewah dan hingga mereka sampai pada sebuah kolam. Tampak Yesung sangat menikmati suasana disekitar sini, karena banyak keluarga yang bersantai disekitar kola mini.

Grep…

Yesung merasakan Seung Hyun yang memeluknya dari belakang. Merasakan lengan kekar Seung Hyun yang merengkuh pinggang rampingnya posesif. Dan jangan lupakan dagu yang menempel pada bahu sempit Yesung.

"Apa kau tahu, jika musim dingin tiba maka kolam ini akan berubah menjadi arena ice skating?" bisik Seung Hyun.

"Jeongmal?"

"Ne. Dan disetiap musim panas, kelompok Public Theater mementaskan drama di langit terbuka, serta pementasan dengan aktor teater dan layar lebar terkenal di Teater Delacorte. Hampir semua drama yang dipentaskan adalah karya Shakespeare." ujar Seung Hyun sembari sesekali mencium pipi Yesung yang berhasil dia jangkau.

"Orkes Philharmonic New York setiap tahunnya mengadakan konser langit terbuka di Great Lawn, sedangkan Metropolitan Opera menyajikan dua kali pementasan opera. Sejumlah musisi terkenal pernah mengadakan konser musik besar-besaran di Central Park,termasuk di antaranya Elton John pada tahun 1980, reuni Simon and Garfunkel, Diana Ross pada tahun 1983, Garth Brooks di tahun 1997, dan Dave Matthews Band pada 2003. Sejak tahun 1992, penyanyi sekaligus penulis lagu David Ippolito tampil bernyanyi di depan orang lewat setiap akhir pekan musim panas. Orang menjulukinya sebagai "That guitar man from Central Park" (Gitaris dari Central Park)." Lanjut Seung Hyun menjelaskan.

"Setiap musim panas City Parks Foundation mengadakan panggung hiburan bernama Summerstage. Pada tahun 2005, Summerstage merayakan hari jadi ke 20 dengan mengundang musisi ternama dari dua dekade terakhir, Celia Cruz, David Byrne, Curtis Mayfield, Ladysmith Black Mambazo, serta penerima Hadiah Nobel dan Pulitzer Toni Morrison." ujar Yesung yang melanjutkan kalimat panjang Seung Hyun barusan.

"Dari mana kau tahu?"

"Aku pernah membaca tentang artikel itu."

"Ku pikir kau hanya tertarik pada dunia malam mu dan segala hal tentangnya." ujar Seung Hyun terkekeh.

"Ya! Jangan meremehkan ku, Seung Hyun." Yesung memukul lengan Seung Hyun yang tentu saja tidak terasa oleh namja tampan itu. "Ini kan musim panas, Seung Hyun. Apa itu artinya pementasan itu akan dilakukan?" tanya Yesung antusias, melupakan kekesalannya barusan.

Seung Hyun terkekeh mendengar pertanyaan yang begitu antusias dari Yesung. "Ne. Mereka akan mementaskannya akhir minggu nanti. Kau mau menontonnya?"

Yesung membalikkan tubuhnya menghadap pada Seung Hyun. "Tentu saja aku mau, Seung Hyun. Aku sangat senang dengan pementasan drama, terlebih itu adalah karya dari seorang hebat seperti Shakespeare." Jawab Yesung dengan begitu semangatnya setelah menganggukkan kepala.

"Baiklah. Kalau begitu akhir minggu nanti aku akan membawa mu kesini. Dan kita akan menonton pementasan itu bersama." ujar Seung Hyun sembari mengusap surai halus Yesung.

"Gomawo, Seung Hyun."

.

.

.

"Bagaimana kau menyadarinya hyung?" tanya Daesung pada GD yang saat ini tengah menikmati pemandangan kota USA melalui kaca jendela mobil.

"Kau pasti sudah tahu bukan, bahwa sejak awal aku curiga padanya? Dan coba kau pikir, apa ada orang yang tadinya sangat baik-baik saja, mendadak mengalami sakit perut yang sangat tak tertahankan tanpa sebab?" GD berdecih. "Benar-benar akting murahan yang sungguh bagus untuk pemula sepertinya."

"Tapi kau percaya padanya Hyung. Ku lihat, kau panik."

"Aku harus melakukannya agar dia yakin bahwa aku pergi untuk mencarikannya obat."

"Dan berkat akting mu, kita mendapat hal yang sangat bagus." ujar Daesung yang kini memperlihatkan sebuah handycam pada GD yang tengah memutar sebuah video yang tadi direkam oleh Daesung. "Benar-benar penipu ulung. Aku pikir dia benar-benar 'bersih'. Baru kali ini aku terkecoh oleh namja manis sepertinya."

GD tersenyum miring. "Bukankah sudah ku katakan untuk tidak mudah percaya pada wajah manisnya? Dan lihatlah, dugaan ku benar. Kim Yesung lebih menakutkan dari apa yang ku perkirakan."

Daesung tertawa "Ya, kau benar hyung. Aku harus lebih berhati-hati lagi jika berhadapan dengan namja manis. Tapi aku penasaran padanya, hyung. Apa yang direncanakan oleh Kim Yesung dengan perwira tinggi USA itu?"

GD mengambil alih handycam itu dan segera mematikannya. "Entahlah Daesung. Tapi apapun rencana mereka, aku yakin hal itu pasti akan merugikan kita, terutama Seung Hyun."

"Sepertinya bukti itu sudah cukup untuk kita berikan pada Seung Hyun hyung."

"Ya, tunggu sampai rekaman ini sampai ditangan Seung Hyun."

.

.

.

Donghae menikmati makan malamnya dengan tenang, meski sesekali Kyuhyun mengganggunya dengan mendumel tak jelas disebelahnya. Sebenarnya Donghae tak terlalu ambil pusing. Beberapa hari tinggal bersama sudah cukup membuat Donghae untuk mengetahui bahwa lieutenal colonel disampingnya ini adalah seorang pencinta game. Dan dia akan menjadi sangat berisik jika sudah menggeluti profesi sampingannya itu. Belum lagi kadangkala Kyuhyun akan berubah menjadi sangat evil dan manja dalam waktu bersamaan, seperti kemarin. Setelah Kyuhyun berhasil membuat Donghae jengkel dan kesal setengah mati dengan semua perkataannya dan membuat Donghae ingin segera pulang ke Korea, tiba-tiba saja Kyuhyun mengeluarkan semua kata manisnya sembari mengayunkan tangan Donghae. Dan jangan lupakan aegyo Kyuhyun yang membuat Donghae luluh seketika.

Asal tahu saja, walaupun Donghae kekanakan, tapi jika sudah bertemu dengan orang yang lebih kekanakan darinya, maka dia akan berubah menjadi seorang yang sangat dewasa dan memiliki kesabaran tingkat tinggi. Dan Donghae paling tidak tahan dengan aegyo yang sangat imut. Dan entah belajar darimana, Kyuhyun berhasil membuat aegyo paling imut yang pernah Donghae lihat.

YOU WIN! Terpampang jelas pada layar PSP Kyuhyun. Dan itu berarti dia telah menamatkan gamenya yang entah untuk keberapa kalinya dalam waktu 3 jam ini. Kyuhyun pun meletakkan PSPnya begitu saja pada meja makan didepannya. Menautkan jari-jari pada kedua tangannya dan menempatkannya dibelakang kepala. Kyuhyun menyenderkan tubuhnya dibadan kursi, mencoba bersantai sembari meregangkan otot-ototnya yang lelah setelah berkutat dengan benda persegi hitam kecintaannya.

"Kau hobi sekali bermain game." ucap Donghae memulai pembicaraan.

"Ya, aku merasa dengan game hidup ku terasa sempurna." ujar Kyuhyun enteng yang kali ini sudah menutup kedua matanya.

"Tapi kau sudah dewasa. Tidak seharusnya kau memainkan permainan untuk anak-anak seperti itu." ujar Donghae sadis.

Kyuhyun membuka kedua matanya dan menatap Donghae tanpa merubah posisi duduknya. "Kau bukan seorang gamers. Jadi kau tidak akan tahu bagaimana perasaan ku." Donghae hanya berdecih menanggapi perkataan Kyuhyun.

"Oh ya, ngomong-ngomong ide mu sungguh brilian membawa kita keluar dari camp militer mu. Aku sungguh tak nyaman berada disana. Membuat ku seakan aku ini seorang tawanan. Berada dalam satu ruangan yang dikelilingi oleh orang-orang tegap bersenjata selama 24 jam. Benar-benar mengerikan." Donghae merinding jika harus kembali mengingat bagaimana dia di camp militer Kyuhyun dulu. Membuatnya tak bebas untuk beraktifitas.

Kyuhyun hanya tertawa mendengar penuturan Donghae barusan. Ya, mereka pindah karena Donghae selalu merengek padanya untuk dipindahkan saja."Ya, untungnya aku memiliki rumah dinas disini. Jadi kita tak harus membuang waktu untuk mencari rumah baru." Kyuhyun tersenyum. "Hey, apa aku sudah bilang bahwa tadi siang Kim Yesung datang kesini?"

Donghae menoleh dengan cepat pada Kyuhyun dan melebarkan matanya. "Jeongmalyo? Bagaimana mungkin? Apa yang dilakukannya?" Tanya Donghae bertubi-tubi.

"Ck, kalau bertanya satu persatu." Kyuhyun menegakkan posisi duduknya dan meletakkan kedua tangannya diatas pahanya. "Dia datang untuk memberikan kita tiket masuk kedalam mansion TOP."

Donghae semakin membelalakkan matanya. "Apa dia sudah gila?"

"Tenanglah." Kyuhyun meletakkan sebuah undangan diatas meja yang entah dia sembunyikan dimana undangan itu sedari tadi. Donghae pun mengambil undangan tersebut dan mulai memperhatikannya. "Itu undangan ulang tahun Kim Yesung yang dibuatkan khusus oleh TOP. Dan kita bisa masuk kesana dengan itu."

"Apa ini tidak terlalu berbahaya? Bagaimana kalau kita tertangkap basah disana?"

Kyuhyun menepuk bahu Donghae pelan, berusaha menenangkan namja pecinta nemo itu. "Kau tenang saja, Hae-ah. Kita tidak akan ketahuan dengan mudah."

"Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu dengan sangat ringan?"

Kyuhyun terkekeh. "Dengan sedikit acting dan penyamaran. Maka kita bisa masuk dengan sangat mudah." Kyuhyun mengambil undangan ditangan Donghae dan menunjukkan undangan itu pada Donghae. "Bukankah kita diundang sebagi 'teman' Kim Yesung? Itu artinya, kita akan datang sebagai 'teman' Kim Yesung."

Donghae menatap lama Kyuhyun dan undangan yang dipegang Kyuhyun, berusaha mencerna setiap kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Kyuhyun. Dan tak berapa lama, senyuman pun terkembang dibibir Donghae, membuat Kyuhyun juga ikut tersenyum. "Ya, kau benar. Kita masuk sebagai 'teman' Yesung hyung."

"Lalu bagaimana caranya kita masuk agar tidak ketahuan oleh mereka, mengingat Seung Hyun sudah tahu wajah asli mu. Dan wajah Donghae, aku rasa dia juga sudah tahu." Hyukjae mengambil tempat duduk disebelah Donghae dengan segelas susu strawberry ditangannya.

"Ya, kau benar. Jika ku pikir lagi itu adalah hal mustahil. Percuma kita memiliki tiket masuk jika pada akhirnya kita tetap tidak dapat masuk kesana." ujar Donghae membenarkan perkataan Hyukjae barusan.

Kyuhyun kembali berkutat pada PSP yang sempat dia tinggalkan. Memainkan game itu dengan santainya, membuat kedua namja bermarga Lee itu menatap kesal padanya.

"Ya! Cho Kyuhyun! Kami sedang berusaha berpikir keras untuk masuk kesana, dan kau dengan tenang dan santainya bermain permainan bodoh mu itu?" pekik Donghae kesal.

"Aish, Donghae-ya! Tidak perlu khawatir begitu." Kyuhyun memutar bola matanya malas lalu berkutat kembali dengan PSPnya. "Apa guna alat pembuat topeng wajah milik Hyuk jika kita tidak bisa menggunakannya."

Donghae dan Hyukjae sama-sama berpikir. Dan detik selanjutnya, senyuman merekah pada wajah Hyukjae karena mengerti maksud Kyuhyun. Sementara Donghae masih berpikir keras, karena dia sama sekali tidak mengerti maksud namja yang tengah bermain game disebelahnya ini.

"Kita menyamar. Bukan begitu, Kyu?" tebak Hyukjae.

"Bingo!" ucap Kyuhyun tanpa mengalihkan tatapannya dai benda persegi hitam tersebut.

"Apa maksudnya?" tanya Donghae pada Hyukjae, karena jika dia bertanya pada Kyuhyun, sudah pasti dirinya akan merasa kesal kembali.

"Kami punya sebuah alat yang dapat digunakan untuk membuat topeng wajah yang sama persis dengan wajah asli orang tersebut. Jadi kita bisa menyamar dengan menggunakan topeng wajah itu agar wajah kita yang asli tidak akan dikenali." Jelas Hyukjae.

"Lalu bagaimana dengan suara? Kita bisa dikenali dengan suara."

"Kami juga punya alat pengubah suara yang sama persis dengan suara orang itu." Donghae tampak meragu dengan perkataan Hyukjae barusan. "Percayalah, kami sudah sering melakukannya dan semuanya berhasil." Ucap Hyukjae meyakinkan.

Donghae mengangguk. "Baiklah jika hanya itu rencana yang kita punya dan bisa kita lakukan." ujar Donghae pada akhirnya.

.

.

.

Danau Tahoe. Siapa yang tak mengenal danau ini? Danau terbesar kedua didunia ini begitu memikat dengan pesona keindahan alamnya. Air danau yang begitu biru dengan dikelilingi pohon-pohon tinggi yang menjulang membuat keadaan disekitar menjadi sangat sejuk dan teduh. Memikat hati siapapun untuk berlama-lama santai melepas setiap beban disana. Dan pemandangan gunung yang tak kalah indahnya membuat hari menjadi semakin sempurna.

Dan disinilah Yesung berada. Menikmati kekayaan alam yang terasa sangat lembut dan memanjakan mata memandang. Semilir angin menyapa tubuhnya yang mungil, membuatnya menghirup nafas dalam-dalam, berusaha menikmati setiap detik keberadaannya disana. Keadaan danau hari ini cukup sepi, hanya ada beberapa pengunjung asing dan local. Dan itu adalah keuarga dan beberapa pasang kekasih.

Yesung masih menikmati danau dengan memandang jauh kearah danau, sampai kemudian dia merasakan sepasang lengan melingkar pada pinggang mungilnya, membuatnya menciptakan sebuah senyuman tulus disana. Yesung pun berbalik menghadap pada orang yang memeluk pinggang rampingnya.

"Donghae-ya."

Donghae tersenyum lembut pada hyung angkatnya itu. "Bogoshippeo, Hyung. Aku senang karena pada akhirnya kita dapat bertemu disini."

"Ya, dan semua ini berkat mu. Kalau saja kau tidak menipu Seung Hyun pagi tadi dengan mengatakan perusahaannya dikepung oleh CIA."

"Tapi memang begitu kenyataannya, hyung. Kami menemukan bukti bahwa perusahaan itu pernah melakukan kegiatan illegal. Dan kami langsung laporkan saja pada CIA yang memang sudah mengincar perusahaan itu sejak lama."

"Ya, dan kau sukses membuat wajahnya pucat." Yesung tertawa jika harus mengingat kembali wajah Seung Hyun pagi tadi yang tampak sungguh panik dan pucat walau dia berusaha tetap tenang.

"Dan jangan lupakan dengan keahlian mengemudi ku saat membawa mu kabur, Hyungie." Donghae tertawa. "GD dan Daesung kehilangan jejak kita karena tidak dapat mengimbangi kecepatan ku. Dan aku yakin, mereka pasti mengumpat kesal karenanya."

Yesung memukul pelan dahi Donghae. "Dasar nakal. Jalanan USA yang ramai pun kau jadikan track balapan."

"Jika tidak seperti itu, maka sudah dipastikan 2 pengganggu itu akan terus mengawasi mu, hyungie."

Yesung memandang Donghae heran. "Menurut mu begitu?"

"Ne. Mereka tengah mengawasi mu, hyungie. Dan aku mendapat firasat tidak bagus tentang ini. Aku merasa GD dan Daesung mulai mencurigai mu dari semua cerita mu pada ku sepanjang perjalanan tadi."

"Ya, terlebih GD. Dia adalah orang pertama yang sangat dingin pada ku dan menatap ku seolah aku ini akan diterkamnya." Yesung bergedik. "Sungguh menyeramkan harus serumah dengan 2 namja itu."

"Sepertinya obrolan kalian sangat seru hingga melupakan kami yang ada disini." Ucap sebuah suara yang menginterupsi perbincangan Yesung dan Donghae.

Keduanya menoleh pada asal suara da langsung tersenyum saat melihat 2 namja yang berdiri tak jauh dari mereka dengan 2 kaleng soda pada masing-masing tangan mereka. 2 namjatadi pun segera mendekati dan bergabung dengan Yesung dan Donghae. Menyerahkan sekaleng soda pada keduanya dan menatap pada danau yang tenang.

"Seung Hyun berhasil lolos dari pemeriksaan CIA." ujar namja tertinggi diantara mereka.

3 namja lainnya pun segera menoleh pada namja tersebut. "Bagaimana bisa?" Tanya Donghae seakan tak percaya dengan ucapan namja barusan.

"Barusan CIA menelpon dan memberitahu bahwa semua tuduhan mereka tidak cukup bukti untuk membawa perusahaan itu kepada jalur hukum." jawab namja bergummy smile tersebut setelah meneguk sodanya.

"Jadi begitu." Yesung menghela nafas berat. "Ku kira kita akan mudah untuk menaklukannya, tapi sepertinya ini akan sangat sulit, Kyuhyun-ah."

Namja yang paling tinggi diantara mereka – Kyuhyun- menoleh pada Yesung dan tersenyum. "Gwenchana. Kita pasti akan bisa membawa perusahaan itu dan TOP pada hukum. Bagaimana pun juga kebenaran harus ditegakkan."

Entah mengapa perkataan Kyuhyun barusan membuat Yesung percaya dan hatinya menjadi tenang. Dan tanpa dia sadari, bibir kissable miliknya melengkung indah keatas, membentuk sebuah senyuman manis yang sangat disayangkan untuk dilihat banyak orang. Dan entah mengapa hanya dengan senyuman itu jantung Kyuhyun berdetak dengan tidak wajarnya, seakan ingin meledak saat itu juga.

"Hyukie-ah, sepertinya aku ingin berjalan-jalan dengan mu." ujar Donghae sambil menarik namja bergummy smile tadi yang ternyata adalah Hyukjae tanpa peduli namja itu kebingungan.

"Mereka kenapa?" Tanya Yesung heran pada entah siapa, karena walau ada Kyuhyun disampingnya dia tidak menyebut nama namja tampan itu.

"Entahlah. Biarkan saja mereka berdua." Jawab Kyuhyun yang sepertinya berpikir bahwa pertanyaan Yesung barusan adalah untuknya.

Mereka pun duduk pada rerumputan hijau dengan sebuah pohon maple ditengah mereka. Keduanya menyenderkan sebelah bahu pada sisi samping pohon tersebut. Dengan sebuah headset yang terpasang pada sebelah telinga keduanya yang mengalunkan lagu ballad yang indah, mereka menikmati siang ini dengan menatap pada danau.

"Kyu, apa kau yakin semua akan berakhir baik-baik saja?" Tanya Yesung memecah keheningan mereka.

Kyuhyun membuka matanya yang sempat terpejam. Menatap dari samping wajah yang begitu manis yang mulai memasuki hatinya sejak pertemuan pertama mereka dalam track balapan. "Kau tenang saja. Aku pasti akan memastikan bahwa kau akan aman."

"Tapi aku merasa aneh pada Seung Hyun, Kyu."

Kyuhyun menaikkan alisnya sebelah. "Dia aneh kenapa, Yesungie?" Kyuhyun tanpa sadar telah memanggil nama Yesung dengan sebutan semanis itu.

"Aku rasa Seung Hyun bukanlah orang yang bodoh dan bisa dikelabui dengan mudahnya. Dia melewati 7 tahunnya dengan dunia yang begitu kejam dan keras, hingga membuatnya berhasil menciptakan virus itu. Dan ini sungguh aneh jika dia menerima ku begitu saja tanpa menyelidiki ku terlebih dahulu secara mendetail. Dia tidak mungkin percaya begitu saja pada informasi dari internet, karena internet bisa menceritakan hal jujur ataupun kebohongan."

Yesung menolehkan kepalanya kearah samping, menatap Kyuhyun yang masih menuntut perkataan Yesung selanjutnya. "Dengan kata lain, Seung Hyun mencurigai ku namun dia memilih untuk berpura-pura tidak mengetahui apapun."

"Maksud mu adalah, dibalik diamnya Seung Hyun dia memiliki suatu rencana besar?"

"Ya. Dan aku yakin rencana itu akan sangat membahayakan kita." Ujar Yesung serius.

Sebenarnya Yesung mulai memikirkan semua ini sejak dia mendengar perbincangan GD dan Daesung dihalaman belakang mansion. Saat itu dirinya sedang berjalan-jalan disekitar mereka tanpa disadari keduanya. Walau GD mengatakan bahwa Seung Hyun adalah seorang yang bodoh dan tidak percaya pada siapapun jika menyangkut tentang cinta, namun hati Yesung mengatakan bahwa spekulasi GD adalah salah.

Bagaimanapun Seung Hyun sudah berubah. Dia bukan lagi orang yang sama seperti 7 tahun lalu yang akan diam saja jika ditertawakan. Kali ini Seung Hyun pasti akan bertindak meski hanya disenggol saja. Dan pikiran-pikiran buruk mulai menghantui Yesung. Dia selalu merasa terancam bila berdekatan dengan namja bersuara husky tersebut.

Yesung tersentak saat merasakan belaian pada pipinya. Walau hanya belaian halus dan pelan, namun cukup untuk membuatnya tersadar dari dunia lamunannya.

"Tidak usah difikirkan." Kyuhyun tersenyum lembut. "Kita akan memikirkan itu semua nanti jika sudah pergi dari sini. Sekarang, kita sedang menikmati liburan singkat dan mendadak kita. Jadi aku rasa tidak pantas jika mengingat semua permasalahan yang ada."

Yesung memukul bahu Kyuhyun pelan, membuahkan sebuah tawa dari namja bersurai ikal tersebut. "Lagian kalian aneh dengan membawa kabur ku secara tiba-tiba ketempat seperti ini. Aku sungguh terkejut."

"Kapan lagi kita memiliki kesempatan seperti ini, Yesungie." ujar Kyuhyun sambil menarik hidung mancung Yesung, membuahkan pukulan dari tangan mungil dan erangan sakit namja manis tersebut.

Kyuhyun pun hanya bisa tertawa saat melihat hidung Yesung yang memerah akibat dari tarikannya, sementara si manis mengerucutkan bibirnya sebal namun sangat cute dimata Kyuhyun.

"Kau jahat sekali pada ku, Kyunnie." ucap Yesung tanpa sadar memanggil nama Kyuhyun dengan begitu manisnya.

"Kau memanggil ku apa? Kyunnie?"

Wajah Yesung memerah karena baru menyadari perkataannya barusan. "Ani. Mungkin kau salah dengar." Kilah Yesung.

"Lalu kenapa wajah mu memerah, Yesungie?"

"Kau juga memanggil ku dengan sebutanYesungie." ujar Yesung kali ini sambil menodongkan jari telunjuknya didepan wajah Kyuhyun.

"Baiklah, aku mengakui. Tidak seperti mu yang berkilah." Kyuhyun tertawa sambil menatap Yesung yang menurunkan telunjuk mungilnya.

"Hey, kalau dipikirkan lagi itu sangat manis. Kyunnie dan juga Yesungie. Sangat cocok! Mulai sekarang aku akan memanggil mu Kyunnie dan kau harus memanggil ku Yesungie." Yesung mengulurkan jari kelingkingnya. "Yaksok?"

Kyuhyun pun menyambut dengan mengulurkan jari kelingkingnya juga yang tentu lebih panjang dari milik Yesung lalu kemudian menautkan dua jari kelingking beda ukuran itu dengan erat. "Yaksok." ucap Kyuhyun dengan senyuman menawan miliknya.

Sementara itu, tak jauh dari pasangan Kyusung, Donghae dan Hyukjae berjalan beriringan menelusuri tepi danau. Dengan sebuah es krim pada masing-masing tangannya, tampak wajah bahagia menghiasi keduanya. Mereka terus mengobrol sepanjang perjalanan 20 menit mereka tanpa berhenti dan diselingi tawa tentunya. Dan itu sukses membuat beberapa turis menatap arah mereka, entah karena terganggu atau aneh dengan sikap mereka.

"Jadi kau sudah 4 tahun ini memasuki dunia malam bersama Yesung hyung?" tanya Hyukjae antusias saat mereka sudah mendudukkan diri pada sebuah bangku panjang yang kosong.

"Ne. Dan aku sangat bersyukur karena telah bertemu dengan orang sebaik Yesung hyung."

"Sebenarnya Yesung hyung itu orang yang bagaimana? Aku merasa iri dengannya yang merupakan seorang raja track balapan. Aku juga ingin menjadi seperti dirinya yang dicintai banyak orang." Ujar Hyukjae semangat.

Donghae menolehkan wajahnya pada Hyukjae dan tersenyum pedih. "Jika kau tahu kenyataan yang sebenarnya, kau tak akan mau menjadi seperti dirinya. Kau akan lebih mensyukuri hidup mu sendiri."

Hyukjae mengernyitkan dahinya bingung. "Aku tak mengerti maksud mu. Bukankah dari cerita mu tadi, sepertinya Yesung hyung adalah orang yang sangat beruntung karena dicintai oleh orang-orang disekitarnya?"

"Yesung hyun itu, walau kelihatannya ceria tapi dia menyimpan kesedihan yang mendalam. Dia adalah orang yang sangat kesepian."

"Apa maksud mu? Dia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintai dan menyayanginya." Seru Hyukjae tak terima.

Donghae kembali menatap danau dan tersenyum sedih. "Aku yang ikut dengannya selama 4 tahun ini, jadi aku yang tahu bagaimana dirinya yang sebenarnya." Donghae menghela nafasnya sejenak. "Walau dia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya, tapi semua itu tidak berarti apapun baginya tanpa kedua orang tuanya."

Hyukjae menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan membelalakkan matanya. "Apa orang tuanya sudah meninggal?" tanyanya polos yang membuat Donghae sangat kesal hingga memukul sayang kepalanya dengan keras. "Appo!" pekik Hyukjae sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit.

"Ya! Jangan sembarangan bicara! Orang tua Yesung hyung masih hidup, bahkan masih sangat sehat!" marah Donghae pada Hyukjae yang jika menganalisa sesuatu, sungguh kelewatan.

"Tapi kau sendiri yang mengatakan bahwa semua tidak berarti apapun baginya tanpa kedua orang tuanya. Itu artinya orang tuanya sudah meninggal, bukan?"

Donghae menatap tajam Hyukjae. "Berani kau mengatakan orang tuanya meninggal lagi, aku bersumpah akan menceburkan mu kedanau ini!" ancam Donghae tajam.

"Mianhae." Ujar Hyukjae takut dengan tatapan dan ancaman Donghae barusan. Walau Donghae terlihat kekanakan, tapi jika sudah serius dia bisa bertransformasi menjadi sangat menyeramkan. Dan Hyukjae sudah memperhatikan hal itu selama ini dan dia yakin spekulasinya kali ini tidak akan salah. Terbukti dengan kejadian barusan. Dan tambahannya, jika sudah menyangkut tentang Yesung, maka seorang Lee Donghae akan menjadi sangat sensitive layaknya seorang yeoja yang sedang dalam masa PMS. Bahkan lebih dari itu.

Donghae kembali menatap pada air danau. Sepertinya menatap danau jauh lebih baik daripada melihat wajah Hyukjae yang dapat dipastikan mampu membangkitkan emosi Donghae yang mulai meredam.

"Orang tua Yesung hyung tak pernah ada waktu untuknya. Mereka sering berpergian keluar negeri. Appanya melakukan perjalanan bisnis ke tiongkok dan eommanya menjadi desainer para artis Hollywood di eropa. Dan biasanya mereka akan pulang 3 bulan sebelum akhir tahun." ujar Donghae yang memulai ceritanya. "Dan kau tahu hal apa yang terburuk dari kepulangan mereka?" tanya Donghae.

"Hal terburuk? Bukankah harusnya menjadi hal terbaik bagi Yesung hyung yang bisa melihat dan memeluk orang tuanya yang jarang sekali pulang?" Bukannya menjawab, namun Hyukjae justru berbalik untuk bertanya pada Donghae.

"Ya, semua akan menjadi hal terbaik jika saja mereka tidak selalu bertengkar." Jawab Donghae yang lagi-lagi sukses membuat Hyukjae kembali membelalakkan matanya.

"Bertengkar?"

Donghae mengangguk. "Yesung hyung memang melihat mereka, tapi tak pernah bisa untuk memeluk keduanya. Mendapat ciuman hangat dari dua orang yang menghadirkannya didunia ini. Kepulangan keduanya hanya diisi dengan pertengkaran mereka yang sungguh memekakkan telinga, saling menuduh tanpa adanya bukti yang jelas dan melupakan bahwa mereka memiliki Yesung hyung yang membutuhkan kasih sayang dan cinta dari keduanya." Donghae kembali menghela nafasnya lelah. "Saat mereka pulang, maka mansion akan berubah menjadi neraka terpanas bagi Yesung hyung. Bahkan aku sering mendengar Yesung hyung yang menangis memilukan sendirian didalam kamarnya. Dan saat aku masuk, dia mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja padahal dia tahu bahwa keadaan orang tuanya semakin lama menjadi semakin parah."

Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari bola mata milik Donghae tanpa bisa dia cegah apalagi untuk dia pandu. Donghae menatap bawah, pada tanah rerumputan yang dia pijak. Menciptakan sebuah isakan tangis yang sungguh menyakitkan pada indera pendengaran Hyukjae.

Namja itu pun mengulurkan tangan kanannya untuk mengusap punggung belakang Donghae, berharap dengan seperti itu Donghae bisa menjadi lebih tenang. Hyukjae tahu bahwa Donghae tengah bersedih jika harus mengingat dan menceritakan kembali hal-hal yang setiap tahunnya terjadi secarab berulang kali. Tapi dia yakin, Yesung jauh lebih sedih dan sakit dibandingkan Donghae yang hanya bisa melihatnya. Karena Yesung merasakan semua itu sendiri dan tak membiarkan siapapun untuk berbagi dengannya, meski dengan Donghae yang sudah dia anggap dongsaeng kandung sendiri.

"Aku tak pernah menyangka jika Yesung hyung mampu bertahan sejauh ini." Setetes air mata Hyukjae ikut terjatuh namun dengan cepat dia mengusapnya. "Mungkin jika aku yang berada pada posisinya aku akan berubah menjadi gila. Tidak tahan dengan semua pertengkaran orang tua ku yang seakan tidak ada jalan keluarnya."

Donghae hanya diam walau masih menangis. Kini dia tidak peduli jika orang lain yang melihat akan mencapnya sebagai namja cengeng. "Meskipun aku hidup dan dibesarkan dengan keras, tapi orang tua ku selalu ada untuk ku. Mereka selalu memberikan pelukan hangat untuk ku, kecupan sayang untuk ku, dan menemani ku disaat ketakutan menyergap ku. Mereka selalu ada kapanpun aku membutuhkannya." Bulir air mata kembali menetes dari sepasang bola mata Hyukjae. Dia jadi ingat pada keluarganya yang saat ini berada Gwangju.

"Maaf, aku jadi bercerita pada mu." Donghae menghapus air matanya dan itu membuat Hyukjae tersadar dari lamunannya tentang keluarganya. Tiba-tiba dia merasa kerinduan pada keluarganya disana. Dan ini sudah lama dia tidak bertemu dengan keluarganya.

"Tak apa, aku senang bisa menjadi tempat mu untuk berbagi." Hyukjae menghapus air matanya dan kemudian merangkul Donghae dari samping. Tersenyum cerah adalah hal yang dilakukan oleh Hyukjae selanjutnya. "Dengan begini, kita menjadi lebih dekat, kau tau."

Donghae terkekeh. "Baiklah, jika kau ingin lain kali kau bisa curhat dengan ku."

"Itu sudah pasti. Tapi Donghae-ya, sedari tadi kau hanya menceritakan tentang keluarga Yesung hyung. Lalu bagaimana dengan keluarga mu? Kau kan bukan dongsaeng kandung Yesung hyung."

Senyum pada wajah Donghae langsung menghilang. Wajah cerianya tergantikan dengan wajah yang teramat sangat masam, bahkan terkesan menyeramkan. Donghae menolehkan wajahnya pada arah samping. "Jangan pernah mempertanyakan tentang keluarga ku. Aku sudah 'membuang' mereka." Ujar Donghae dengan nada bicara yang sangat tidak bersahabat, bahkan sangat menyeramkan.

"Baiklah." Ujar Hyukjae lirih. Hyukjae lebih memilih untuk tidak mempertanyakan lagi tentang keluarga Donghae, walau dia sangat ingin. Hyukjae itu orang yang sangat penasaran pada segala hal. Dia akan terus bertanya sampai mendapatkan jawaban yang sangat puas untuknya, hingga tak jarang membuat Kyuhyun menjadi kesal sendiri dengannya. Tapi sifat baiknya, dia tidak akan pernah memaksa orang tersebut untuk bercerita jika dia melihat adanya luka dan kepedihan pada mata orang tersebut. Dan itulah yang Hyukjae lihat pada mata Donghae sekarang. Dan Hyukjae yakin Donghae pasti akan menceritakan semua hal yang membuatnya penasaran pada hari ini jika keadaan hati namja penyuka nemo itu sudah lebih baik dan siap untuk berbagi dengannya.

.

.

.

Seung Hyun menggerutukkan giginya kesal. CIA itu, walau tidak menemukan bukti apapun atas tuduhan mereka padanya, namun mereka terus saja memojokkan Seung Hyun dengan segala pertanyaan bodoh mereka. Setidaknya itu menurut pemikiran Seung Hyun. Dan setelah beberapa rangkaian pertanyaan tak penting dan bodoh yang berusaha memojokkannya namun gagal, akhirnya dengan berat hati para CIA itu pergi meninggalkan perusahaan yang telah dibangunnya selama 5 tahun.

Cklek…

GD dan Daesung masuk dalam ruangan berukuran 237 m2 dengan nuansa berwarna hitam dan putih yang terpadu dengan cocok namun terkesan lembut. Dan betapa terkejutnya mereka melihat beberapa kertas berserakan dilantai, akibat dari tangan besar Seung Hyun yang baru saja mengacak-acak meja kerjanya karena kesal dengan semua pertanyaan orang-orang dari CIA.

"Wah, ruangan mu seperti kapal pecah, hyung." komentar Daesung saat mereka sudah berdiri didepan Seung Hyun.

"Ada apa, Seung Hyun?" tanya GD langsung.

Seung Hyun menggebrak meja yang disenderi oleh tubuhnya beberapa detik yang lalu. Tampak wajahnya yang mulai memerah menahan amarah. Seung Hyun pun menghembuskan nafasnya, berusaha menetralisir keadaan yang sempat tenggang hingga membuat GD dan Daesung menelan susah saliva mereka. Seung Hyun tampak sangat menyeramkan saat ini.

"Err… TOP hyung, kau baik-baik saja, kan?" tanya Daesung berusaha mencairkan suasana.

Seung Hyun membalikkan tubuhnya menghadap pada 2 namja yang dibelakanginya sedari tadi. "Nan gwenchana." Ucapnya mulai tenang.

"Apa yang terjadi?" tanya GD kembali yang sangat ingin mengetahui. Karena setahunya, Seung Hyun adalah orang yang sangat rapi. Jadi kemungkinan, sesuatu hal yang buruk baru saja terjadi melihat bagaimana isi ruangan Seung Hyun kini.

"CIA datang kesini beberapa waktu lalu."

GD dan Daesung terkejut mendengarnya. CIA tak pernah menyentuh mereka selama ini, karena mereka selalu bermain dengan 'rapi'. Dan kali ini CIA mengunjungi mereka, itu artinya mereka hampir ketahuan atau sudah ketahuan. Karena intelejen itu tidak mungkin datang tanpa adanya bukti ditangan mereka.

"Bagaimana mungkin mereka bisa datang kesini? Lalu bagaimana?" tanya GD tak sabaran.

"Mereka membawa bukti namun tidak cukup untuk menyeret ku kejalur hukum." Terdengar helaan nafas lega dari GD dan Daesung. "Namun seolah tidak menyerah, mereka terus mencerca ku dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh mereka yang berusaha untuk memojokkan ku."

"Lalu bagaimana, hyung?"

"Kau tenang saja, Daesung-ah. Kita masih aman. Aku masih bisa mengendalikan semuanya dengan baik."

"Aku heran, dari mana mereka mendapat semua bukti itu." GD menatap Seung Hyun dengan pandangan penuh arti. "Pasti ada seseorang yang memberikan bukti itu pada mereka."

Seung Hyun yang mengerti arah pembicaraan GD menghela nafasnya. "Kau ingin menuduh Yesung yang memberikan bukti itu pada CIA?" tebak Seung Hyun.

GD mengedikkan bahunya. "Semua kemungkinan itu selalu ada, Seung Hyun." ucap GD santai.

"Kau tak bisa menuduhnya begitu saja, GD. Kau tak punya bukti untuk menuduh Yesung seperti itu!" seru Seung Hyun tidak terima.

GD mendongakkan kepalanya dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya frustasi, lalu kembali menatap Seung Hyun tajam. "Seung Hyun! Buka mata mu! Yesung bukanlah namja sebaik dan sepolos yang kau kira. Dia tidak terlihat seperti yang selama ini dia tampilkan! Dia itu sungguh berbeda!"

"Ya, hyung. GD hyung benar. Yesung hyung walau baik, tapi dia sungguh menyeramkan. Dan kau harus percaya pada kami."

"Kalian berkata seperti ini, karena kalian tidak menyukainya, kan? Aku yang lama bersama dengannya, jadi aku yang lebih tahu dia daripada kalian."

"Sadarlah Seung Hyun! Yesung mu bukanlah orang yang sama seperti 7 tahun yang lalu. Dia sudah menjadi orang yang berbeda, seperti kau yang berubah dalam waktu 7 tahun. Walau kau telah lama bersama, tapi dengan adanya pemisah jarak dan waktu diantara kalian, itu sudah sangat cukup untuk membuat dia menjadi seorang yang asing untuk mu. Dan kau harus menerima saat orang yang kau cintai sudah bukan dia yang kau cintai 7 tahun lalu."

Seung Hyun tampak mulai tenang hingga membuat Daesung berani melangkah mendekatinya. "Hyung, kau harus melihat ini." Daesung menyerahkan sebuah handycam pada Seung Hyun.

Dengan raut wajah bingung Seung Hyun mengambil handycam itu dan memainkan satu-satunya rekaman yang terdapat didalam handycam tersebut. GD dan Daesung saling pandang sebelum akhirnya melihat bagaimana raut wajah Seung Hyun saat menonton rekaman itu.

Rekaman dalam handycam itu sudah berputar, menampilkan rekaman seorang Kim Yesung yang datang kerumah seseorang, seorang namja lebih tepatnya. Dan Seung Hyun masih ingat bahwa waktu rekaman itu diambil adalah 2 hari yang lalu, saat Seung Hyun memergoki Yesung yang baru keluar dari sebuah rumah besar. Dan rumah besar itu adalah rumah yang sama yang dikunjungi Yesung 2 hari yang lalu.

Wajah Seung Hyun hanya datar selama menonton rekaman itu, walau dia tahu namja yang Yesung kunjungi adalah seorang perwira tinggi USA yang merupakan musuh utamanya. Senyuman mulai merekah dari wajah GD dan Daesung, berpikir bahwa Seung Hyun akan percaya dengan semua perkataan mereka tentang Yesung.

Rekaman itu selesai dan Seung Hyun langsung mengembalikan handycam tersebut pada Daesung. Daesung tentu menerimanya dengan senang hati dan senyuman tetap berada pada wajahnya. "Kau percaya dengan ku dan GD hyung kan, TOP hyung?"

Seung Hyun menghela nafasnya kasar. "Mianhae, tapi aku tetap pada pendirian ku mengenai Yesung." ujar Seung Hyun santai.

Dan hanya dengan satu kalimat itu saja berhasil membuat GD dan Daesung memandang Seung Hyun tak percaya. "Apa kau gila? Direkaman itu sudah jelas bahwa Yesung menemui lieutenal colonel itu. Dan kenapa kau masih menutup mata mu untuk hal yang sudah terbukti kebenarannya?" Jujur saja, rasanya GD ingin menjedutkan kepala Seung Hyun pada tembok agar pikirannya menjadi lebih terbuka atas bukti yang sudah susah payah mereka dapatkan. Dan jika Seung Hyun tidak percaya, itu artinya pekerjaan mereka sungguh sia-sia.

"Mungkin saja Yesung kesana karena ketidaksengajaan."

"Ketidaksengajaan, hyung? Bagaimana tidak sengaja? Tidak mungkin kan, Yesung hyung itu iseng dengan mendatangi rumah orang tanpa tujuan yang jelas dan beruntungnya dia datang kerumah perwira sialan itu." Daesung menghela nafas frustasi. "Sadarlah TOP hyung, buka mata mu. Yesung hyung tidak sebaik yang kau kira. Dia punya maksud dan tujuan dengan mendekati mu kembali."

"Kalian berdua keluarlah."

"Ne?" ucap GD dan Daesung serempak.

Seung Hyun menghela nafasnya lelah. "Kalian pulang lah. Aku ingin sendirian dulu untuk saat ini."

GD mengangguk dan menepuk pelan pundak sahabatnya itu. "Baiklah, kami akan segera pergi. Kau butuh waktu untuk sendirian dulu. Tapi ku harap kau mau sadar dan menerima kenyataan semua ini, Seung Hyun."

GD dan Daesung pun pergi meninggalkan Seung Hyun sendirian diruangannya. Sesuai perkataannya tadi, dia membutuhkan kesendirian untuk saat ini dalam menghadapi semuanya. Seung Hyun pun melangkahkan kakinya menuju sofa berwarna coklat yang memang tersedia diruangan besar itu dan duduk dengan nyaman disana. Membiarkan AC menerpa kulit putihnya. Dia butuh kesejukan untuk saat ini, walau hal itu tidak akan berpengaruh pada suasana hatinya yang sedang buruk saat ini.

"Yesungie, kenapa mencintai mu harus sesulit ini? Aku seperti ingin menyerah saja dalam meraih cinta mu."

Seung Hyun menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mengusapnya beberapa kali secara lembut. "Apa yang kau rencanakan dibelakang ku? Sejak awal aku sudah mencurigai mu tapi aku berusaha menampikkan semua itu karena aku percaya kau datang pada ku untuk cinta mu yang telah lama mati."

Seung Hyun tersenyum pedih walau setetes air mata jatuh pada pipinya. "Tapi sepertinya harapan ku terlalu besar untuk mu hingga membuat ku buta pada semua bukti yang ada. Bukti yang telah ku kumpulkan selama ini tanpa seorang pun tahu. Dan kau tahu, kau menyakiti ku lagi, Yesungie. Bahkan kali ini lebih parah."

Seung Hyun menghapus air matanya yang jatuh dengan punggung tangannya. Dan beberapa detik kemudian seringaian mengerikan telah hadir pada wajah tampannya. "Jika dulu aku akan diam saja melihat kekasih hati ku pergi dari sisi ku dan lebih memilih untuk diam tenggelam selama bertahun-tahun, maka kali ini jangan berharap untuk hal yang sama akan terjadi kembali. Karena kali ini aku tak akan diam saja melihat mu pergi dan menyakiti ku kembali, Yesungie."

"GD benar. Kau dan aku bukanlah orang yang sama seperti 7 tahun yang lalu. Kita sudah berubah, bahkan kau bukan lagi malaikat manis ku yang akan tersipu malu dengan semua rayuan dan kalimat cinta ku pada mu. Dan kali ini akan aku pastikan bahwa kau akan terus berada dalam genggaman ku. Berada dibawah kendali ku, karena kali ini aku tak akan diam seperti orang bodoh."

"Masa lalu mengajarkan segalanya pada ku, Yesungie. Mengajarkan untuk mempertahankan apa yang telah menjadi milik ku dan tak membiarkannya lepas meski itu hanya akan membuat kita menderita. Tapi kau tenang saja, aku pastikan kau menikmati penderitaan itu bersama ku. Di neraka ku."

.

.

.

TBC

.

.

.

Annyeong! Mian Yuni telat Update. Yuni sempet kehilangan mood untuk nulis beberapa waktu lalu, jadi terpaksa Yuni tinggalkan semua tulisan Yuni.

Buat yang mintapair, tuh udah Yuni kasih pairnya. Yuni jadi harus berpikir ulang untuk mengubah jalan cerita yang ada. Ga apa deh asal chingudeul bahagia ^^

Jangan lupa tinggalkan jejak dikotak review ne, karena itu akan membantu Yuni dalam menulis.

Akhir kata, annyeong chingudeul. Saranghae ^^