SEARCH AND FOUND IT!

.

CHAPTER 4

.

Cast :

Kim Yesung

Cho Kyuhyun

Choi Seung Hyun (TOP)

Lee Donghae

Lee Hyukjae

GD

Daesung

Kim Woobin

Shin Min Ah

Choi Dong Wook (Se7en)

And another cast

.

Author : Kim Hwang Yuni

Pair : KyuSung or TopSung (?)

Rating : T +17

Genre : Crime, Hurt/comfort, AU, Suspense, Drama, Family, and Friendship

Warning : Typo dan Alur yang cepat

Disclaimer : Cerita ini terinspirasi dari perpaduan film Fast and Furious dan Mission Impossible II dengan sedikit pengubahan sesuai imajinasi Yuni.

Attention : Jika tidak suka, jangan membaca! Hargai setiap karangan yang diciptakan oleh seorang fans. Karena menciptakan suatu karangan itu tidaklah mudah. Dan jika mulai bosan dengan cerita ini, segera tinggalkan.

.

.

.

Summary : Kim Yesung yang merupakan anak berandalan yang kesepian dipaksa oleh Cho kyuhyun, seorang perwira tinggi USA untuk menjalin kembali hubungan asmara bersama mafia besar, Choi Seung Hyun. Berhasilkah dia?

.

.

.

Seung Hyun menghapus air matanya yang jatuh dengan punggung tangannya. Dan beberapa detik kemudian seringaian mengerikan telah hadir pada wajah tampannya. "Jika dulu aku akan diam saja melihat kekasih hati ku pergi dari sisi ku dan lebih memilih untuk diam tenggelam selama bertahun-tahun, maka kali ini jangan berharap untuk yang sama akan terjadi kembali. Karena kali ini aku tak akan diam seperti orang bodoh."

"GD benar. Kau dan aku bukanlah orang yang sama seperti 7 tahun yang lalu. Kita sudah berubah, bahkan kau bukan lagi malaikat manis ku yang akan tersipu malu dengan semua rayuan dan kalimat cinta ku pada mu. Dan kali ini akan aku pastikan bahwa kau akan terus berada dalam genggaman ku. Berada dibawah kendali ku, karena kali ini aku tak akan diam seperti orang bodoh."

"Masa lalu mengajarkan segalanya pada ku Yesungie. Mengajarkan untuk mempertahankan apa yang telah menjadi milik ku dan tak membiarkannya lepas meski itu hanya akan membuat kita menderita. Tapi kau tenang saja, aku pastikan kau menikmati penderitaan itu bersama ku. Di neraka ku."

.

.

.

HAPPY READING!

.

.

.

FLASHBACK 7 YEARS AGO…

Anyang Art High School. Siapa yang tak mengenal sekolah ini? Sekolah seni yang cukup terkenal didaerah Anyang ini merupakan salah satu sekolah terbaik yang telah melahirkan banyak bakat-bakat muda, terlebih dibidang seni.

Dan mari melihat pada salah satu ruangan yang cukup besar disekolah itu, yakni ruang musik dengan berbagai fasilitas yang lengkap. Dimulai dari berbagai macam instrumen musik, sebuah lemari, ruangan yang full AC dan dinding dengan ukiran-ukiran yang mengandung unsur seni tingkat tinggi.

Seorang namja manis tengah duduk disalah satu piano yang ada disana. Sudah 1 jam lamanya dirinya memainkan piano tersebut, menciptakan alunan melodi yang indah dan musik yang merdu. Membuat siapapun yang mendengarnya menjadi merasa sangat tenang dan hangat, seperti yang dialami oleh namja lainnya yang telah berdiri sejak 30 menit yang lalu didepan pintu tanpa diketahui oleh namja manis tersebut.

Suara tepuk tangan terdengar saat namja manis itu menyelesaikan permainan pianonya yang apik. Menoleh pada sang pelaku tepukan tangan tersebut dan tersenyum cerah setelahnya.

"Permainan mu sangat hebat, Yesungie." Ujar namja tampan yang sedari tadi berdiri didepan pintu seraya melangkah ketempat namja manis berada.

"Seunghyun. Gomapta." ujar namja manis tersebut dengan senyumannya yang lembut.

Namja tampan yang diketahui bernama Seunghyun memilih untuk duduk didekat Yesung yang merupakan kekasihnya. Menatap lembut pada sang namjachingu dan beralih memainkan piano dengan alunan musik klasik.

Bagi siapapun yang mendengar, mungkin mereka akan berpikir jika Seunghyun memiliki selera musik yang rendah dan lawas. Tapi tidak bagi Yesung. Menurutnya, selera musik Seunghyun yang klasik justru membuat dirinya merasa nyaman dan teduh karena musik yang dimainkan Seunghyun memiliki seni yang tak semua orang dapat mengerti.

Yesung merebahkan kepalanya pada pundak Seunghyun yang terus memainkan pianonya. Memejamkan kedua matanya dan mulai tenggelam dalam kelembutan musik klasik yang selalu mampu membuat jiwanya terasa damai.

Yesung tidak tahu sejak kapan dia mulai menyukai musik klasik, padahal kalau diingat dia selalu mencibir musik klasik saat salah seorang maid dirumahnya selalu menyetel musik klasik. Menghakimi sang maid dengan sesuka hatinya hanya karena berpikir musik klasik hanya diminati oleh mereka yang sudah lanjut usia. Namun semua berubah saat Seunghyun yang mengenalkan musik klasik padanya. Yesung merasa ini adalah karma untuknya. Tapi tentu saja karma terindah dalam artian Yesung sendiri.

Musik berhenti dan Yesung kembali membuka matanya. Kembali duduk dengan tegak dan menatap Seunghyun, seolah bertanya kenapa namja tampan itu menghentikan permainan pianonya yang indah.

Seunghyun yang mengerti tersenyum lembut dan menjawab "Sudah masuk. Kita harus kembali kekelas atau seonsaengnim akan menghukum kita."

Yesung mengangguk dan berdiri bersama dengan Seunghyun. Melangkah bersama dengan jari yang saling bertautan satu sama lain menuju kelas mereka yang berada diujung lorong.

.

.

.

"Rumah mu selalu sepi, chagiya." Ujar Seunghyun saat keduanya baru memasuki rumah Yesung yang sangat besar dan megah.

"Hm, Appa dan Eomma selalu sibuk sendiri dengan pekerjaan mereka." Ucap Yesung sembari menatap sebuah foto keluarga, dimana didalam foto tersebut ada dirinya bersama kedua orangtuanya yang tengah tersenyum bersama.

Yesung kembali menatap Seunghyun yang masih menelisik isi rumah Yesung. Kadang Yesung tak mengerti dengan Seunghyun yang selalu menatap kagum pada isi rumahnya, padahal ini bukan kali pertama Seunghyun menginjakkan kakinya di mansion Kim. Sudah terlampau sering, bahkan Yesung tak pernah menghitung berapa kali Seunghyun datang kerumahnya.

"Kita langsung kekamar?" tanya Yesung memecah fokus Seunghyun yang menatap arsitektur rumah Yesung.

"Ah, ne. Tentu saja." Jawab Seunghyun tersadar dari dunianya sendiri dan segera mengikuti langkah kaki Yesung menuju kamar namja manis tersebut.

Sesampainya dikamar, Seunghyun langsung merebahkan dirinya diranjang empuk dan besar milik sang kekasih. Yesung yang melihat hanya terkekeh maklum dan segera berjongkok guna untuk melepas sepatu Seunghyun. Sudah menjadi kebiasaan bagi Yesung untuk melakukan hal seperti itu, karena dirinya tahu bahwa Seunghyun tak akan mau repot membuka sepatunya sendiri jika sudah bertemu dengan kasur. Alasannya terlalu lelah katanya, yang menurut Yesung alasan sangat klasik. Sebenarnya Yesung tak takut jika ranjangnya kotor hanya karena sepatu Seunghyun, hanya saja menurutnya Seunghyun tak akan nyaman jika harus bersantai dengan masih menggunakan sepatu sekolah.

"Seunghyun." Panggil Yesung pelan.

"Ne?" tanya Seunghyun yang kini sudah duduk dan menatap wajah Yesung yang sedih. "Ada apa, chagiya?" tanya Seunghyun lagi yang kini mengusap lembut kepala sang namjachingu.

Yesung beralih duduk pada pangkuan Seunghyun. Menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher yang lebih tampan. Reflek, Seunghyun mengusap pelan punggung Yesung yang tak selebar miliknya.

"Aku merindukan Appa dan Eomma." Bisik Yesung pelan dengan disertai isakan halus."Mereka tak pernah ada untuk ku."

"Kau masih punya aku yang selalu mencintai mu. Kau punya aku yang akan selalu ada untuk mu."

Yesung mengangkat wajahnya yang ternyata sudah basah dengan air mata. Menatap teduh pada Seunghyun yang selalu bisa memberinya ketenangan. Seunghyun mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Yesung.

"Terkadang aku bertanya, kenapa kau mau mencintai ku yang yatim piatu dan miskin ini? Aku tidak seperti mu yang memiliki harta berlimpah dan hunian layaknya istana. Aku tidak bisa membelikan mu barang-barang mahal seperti yang namja lainnya berikan pada kekasihnya. Walau aku ingin memberikan mu semua itu, tapi aku tak bisa Yesungie. Tapi aku berjanji akan bekerja keras untuk bisa membelikan mu semua hal yang kau inginkan." Ungkap Seunghyun tulus.

Yesung yang mendengar hal itu segera mengecup singkat bibir Seunghyun dan mengalungkan tangannya pada leher Seunghyun. "Kau tak perlu membelikan ku apapun, karena kau sudah memberikannya pada ku. Aku tak butuh semua barang yang mewah. Semua sudah lebih dari cukup dengan cinta mu yang sangat tulus. Dan kau harus ingat satu hal, kau harus ingat bahwa aku tak pernah membedakan status dan strata. Bagi ku kau lebih dari sempurna dan terindah."

Yesung memeluk Seunghyun dengan erat. "Gomawo, Seunghyun-ah. Saranghae, jeongmal saranghaeyo."

Mereka melepaskan pelukannya dan memulai sesi ciuman mereka yang panjang dengan dilanjutkan pada adegan 'panas' sepanjang siang hingga malam tiba.

.

.

.

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Seiring berjalannya waktu, kini Yesung danSeunghyun telah menyelesaikan highschool mereka. Tentu saja mereka senang karena sudah lulus dari highschool. Dan kini mereka melanjutkan jenjang pendidikan mereka pada yang lebih tinggi lagi, yaitu perguruan tinggi. Sama seperti sebelumnya, kini keduanya kembali kuliah pada universitas yang sama, yaitu Seoul Institute Of The Arts. Universitas terbaik dan bergengsi yang lebih merujuk pada bidang kesenian. Seperti yang diketahui, keduanya memiliki bakat dibidang musik hingga mereka memilih untuk memasuki Universitas tersebut.

Walau mereka berada pada satu universitas yang sama, namun mereka harus terpisahkan karena berbeda kelas. Entah beruntung atau memang karena otak cerdasnya, Seunghyun mendapatkan beasiswa dan memasuki kelas percepatan sehingga membuat dirinya berada pada 3 tingkat lebih tinggi dibanding Yesung. Dan itu membuat Yesung bangga pada Seunghyun karena prestasinya yang begitu kemilau. Namun bukan disitu saja letak kebanggaan Yesung pada sang kekasih. Yesung juga bangga pada Seunghyun yang menurutnya luar biasa karena kuliah sembari bekerja. Di pagi hari Seunghyun kuliah, lalu sepulang kuliah dia bekerja paruh waktu disebuah toko buku dan malamnya dia bekerja sebagai bartender disebuah club malam ternama.

Yesung tahu dengan semua kesibukan Seunghyun maka waktu untuk bersama dengan namja tampan itu pun akan semakin berkurang bahkan nyaris tak bercelah. Tapi Yesung tak pernah mempermasalahkan hal itu, selama cinta dan kasih sayang Seunghyun tak pernah berkurang apalagi berubah. Dan harus Yesung akui bahwa kini dia menjadi kembali kesepian. Tapi semua cukup terbayar saat Seunghyun yang rutin bervideo call dengannya disaat namja tampan itu memiliki waktu luang. Dan jangan lupakan kencan terindah mereka saat akhir minggu tiba. Karena pada saat itulah Yesung bisa meluapkan segala kerinduannya pada sang kekasih, seperti sekarang ini saat Yesung dengan manjanya menyenderkan kepalanya pada bahu kokoh Seunghyun sembari menatap danau biru yang indah membentang didepan mereka.

"Aku selalu menantikan saat akhir minggu." Ujar Yesung membuka pembicaraan mereka setelah keheningan lama menerpa keduanya.

"Karena kita akan berkencan dan kau bisa melampiaskan semua perasaan rindu mu?" tebak Seunghyun dan Yesung hanya tersenyum mendengarnya.

"Bukan hanya itu saja, Seunghyun. Tapi lebih daripada itu, aku mendapatkan ketenangan jiwa. Karena separuh jiwa ku telah kembali bersama dengan ku."

Yesung menegakkan tubuhnya, menatap dalam pada bola mata yang tajam namun indah untuknya. Menggamit salah satu tangan Seunghyun dan menempelkannya pada pipi chubbynya, merasakan setiap kehangatan yang menjalar dari tangan besar dan kokoh tersebut. Tangan yang selalu dia rindukan untuk membelainya dan ditutup dengan ciuman lembut pada punggung tangan itu.

"Tangan kokoh ini sudah bekerja dengan keras. Tapi aku tidak tahu kenapa tangan mu masih saja sangat halus, Seunghyun." Yesung tersenyum dengan perkataannya sendiri. "Aku tidak mau kau terlalu lelah. Kau harus menjaga kesehatan mu." Lanjut Yesung dengan nada yang khawatir.

"Jangan cemaskan aku, chagiya. Aku namja yang kuat. Dan aku akan mampu menikahi mu suatu saat nanti dan memiliki kehidupan yang bahagia dan mencukupi mu. Aku melakukan semua ini untuk diri mu dimasa mendatang, sayang." Seunghyun mengusap pelan surai Yesung.

"Jadi menurut mu aku ini bukan namja yang kuat, begitu?" rajuk Yesung kesal.

Seunghyun terkekeh mendengarnya. "Tentu saja tidak. Kau itu namja yang penuh kelembutan."

"Ya! Bagaimana pun juga aku ini namja, Seunghyun. Jadi aku juga kuat walau harus ku akui aku tak sekuat diri mu." Yesung mempoutkan bibirnya kesal. Oh ayolah, mana ada namja kuat yang melakukan hal seperti itu.

"Baiklah, aku mengalah saja, Mrs. Choi." Ujar Seunghyun pada akhirnya.

"Ya! Kau mengatai ku Nona. Aku ini namja, Seunghyun." Yesung memukuli bahu Seunghyun. Dan harus Seunghyun akui pukulan Yesung terasa sakit juga walau hanya sedikit. "Eh, tapi tadi kau memanggil ku apa? Choi? Marga ku Kim, Seunghyun. Belum berganti." Protes Yesung usai menghentikan acara mari-memukul-bahu-Seunghyun.

"Memang, tapi sebentar lagi saat aku menikahi mu maka marga mu akan berubah menjadi Choi. Nyonya Choi Yesung." Ujar Seunghyun yang kini sudah berdiri.

"Ya! Kau mengatai ku Nyonya lagi. Aku ini namja, Seunghyun. Namja yang kuat." Kesal Yesung semakin menjadi.

"Kalau kau memang namja yang kuat, coba tangkap aku, Yesungie." Ujar Seunghyun yang kini sudah berlari menjauh dari Yesung.

"Ya! Awas kau!" Yesung pun berdiri dan mulai untuk mengejar Seunghyun yang menurutnya sangat menyebalkan.

.

FLASHBACK END

.

"Yesung hyung…" panggil Donghae sembari mengguncang bahu Yesung pelan, membuat namja manis itu tersadar dari lamunan akan kisah masa lalunya bersama Seunghyun.

"Kau melamun, hyung?" tanya Hyukjae yang entah sejak kapan sudah mengambil tempat duduk disebelah kiri Yesung, sementara Donghae berada disebelah kanannya. Saat ini mereka sudah berada dirumah dinas Kyuhyun. Tadi sore Yesung sudah menelfon Seunghyun, namun mesin alih yang menjawab jadi Yesung hanya meninggalkan pesan suara untuk namja yang telah mengisi hati Yesung 7 tahun yang lalu.

"Ah, aniyo. Hanya mengenang masa lalu yang tak seharusnya ku kenang." Jawab Yesung seadanya.

"Err… Hyung, apa kau sedang mengingat masa lalu mu bersama Seunghyun?" tanya Donghae hati-hati.

Yesung menundukkan kepalanya sambil tersenyum dan kemudian mengangguk guna membenarkan pertanyaan Donghae. Melihat hal itu, Donghae dan Hyukjae hanya bisa menghela nafas mereka.

"Maaf jika aku lancang, hyung. Tapi, apa kau masih mencintai Seunghyun?" tanya Hyukjae yang sangat ingin tahu.

Yesung tertawa mendengarnya. Namun dua dongsaeng yang mendengar tawa Yesung yang lirih, seakan tahu apa jawaban namja manis itu. "Jawab dengan hati mu, hyung."lanjut Hyukjae.

Yesung menghentikan tawanya dan kemudian menatap kosong kedepan. "Entahlah, aku tidak tahu. Saat pertama kali aku kembali pada Seunghyun, aku masih sangat yakin bahwa aku sangat membencinya. Tapi sekarang, justru aku tidak bisa mempercayai diri ku sendiri lagi. Ini terlalu membingungkan."

Yesung menatap Donghae dan Hyukjae bergantian. "Apa kalian mau mendengar sebuah cerita dari ku?" tanya Yesung pada 2 dongsaengnya.

"Apa itu tentang kisah masa lalu mu bersama Seunghyun?" tanya Donghae dan Yesung mengangguk memberi jawaban.

"Baiklah, kami mau mendengarnya." Ujar mereka kompak dan bersemangat.

"Ini adalah kisah, bagaimana aku mengakhiri cinta ku pada Seunghyun, padahal aku masih sangat mencintainya." Kenang Yesung sambil menatap lurus kedepan.

.

FLASHBACK….

PLAK…

Terdengar sebuah tamparan yang sangat keras disebuah ruang keluarga yang sangat luas pada bangunan mansion Kim. Bisa dilihat disana terdapat 2 namja berbeda usia dan seorang yeoja cantik yang walau sudah tidak lagi muda namun masih terlihat awet muda.

Namja yang lebih tua mengepalkan kedua tangannya, menatap penuh emosi dan dalam pada namja yang lebih muda dihadapannya kini yang masih memegangi pipi yang baru saja dia tampar beberapa detik yang lalu. Sementara sang yeoja yang merupakan istrinya hanya bisa menunduk sembari terisak melihat suami yang sudah berpuluh tahun mendampinginya menampar anak semata wayang yang sangat dia cintai.

Adalah Kim Woobin dan Shin Min Ah yang merupakan orang tua Yesung dan baru saja kembali dari urusan bisnis mereka. Namun bukan pelukan hangat dan kecupan kasih sayang yang diterima Yesung melainkan sebuah tamparan yang menyakitkan yang dia terima. Namun bukan tanpa alasan sang Appa menamparnya. Walau mereka berjauhan tapi Kim Woobin dan Shin Min Ah tidak pernah menggunakan kekerasan dalam mendidik anaknya.

"Harus berapa kali kau membuat malu keluarga kita, Kim Yesung?" bentak Woobin pada anaknya yang masih belum mau menatapnya.

"Yeobo, sudahlah. Kasihan anak kita jika kau kasar kepadanya." Ujar Shin Min Ah yang masih terisak, berusaha menenangkan amarah sang suami.

"Tidak, yeobo. Dia harus tahu bahwa dia sudah banyak mempermalukan kita." Ujar Woobin yang menatap sang istri dan kemudian kembali menatap sang anak. "Kau sudah mempermalukan Appa dan Eomma dengan seks mu yang menyimpang, dan kami masih menerima terhadap hal itu. Tapi yang tak bisa kami terima, kau berpacaran dengan seorang yatim piatu dan miskin. Dia tidak sebanding dengan kita, Kim Yesung!"

Yesung menatap sang Appa dengan wajah yang telah basah karena air mata. "Tapi Seunghyun adalah namja yang baik, Appa. Dia adalah namja yang tulus dan tak pernah mempermainkan ku. Aku sangat mencintai Seunghyun, Appa."

"Omong kosong dengan semua itu, Kim Yesung! Dia namja yang tidak punya apapun untuk bisa diberikan kepada mu. Mau jadi apa kau jika terus bersama dengan namja miskin itu? Kau akan hidup kekurangan jika terus bersama dengannya. Harusnya kau mencari pasangan yang sederajat dengan keluarga kita." marah Kim Woobin.

"Seunghyun pasti bisa memenuhi semua kebutuhan ku, Appa. Dia adalah namja pekerja keras. Dia pasti bisa." Yesung semakin mengeluarkan air matanya.

Woobin membanting gelas kristal mahal yang berada didekatnya, membuat sang istri terjengkit kaget namun tak bisa berbuat apa-apa saat Woobin mengamuk pada sang anak. "Jangan membantah ku, Kim Yesung! Putuskan hubungan mu dengan namja miskin itu atau akan ku pastikan kalian akan menyesal!" ucap Woobin kemudian pergi dari ruang tamu itu, menyisakan isakan tangis dari anak dan istrinya.

Shin Min Ah beralih memeluk Yesung erat, mencoba memberi kekuatan pada anak sematawayang yang sangat dia kasihi. Seraya mengusap pelan dan lembut punggung Yesung, Shin Min Ah mengatakan kalimat penenang.

"Eomma, aku tak mau berpisah dari Seunghyun. Aku sangat mencintainya, Eomma." Bisik Yesung pelan dalam rengkuhan sang Eomma.

Shin Min Ah mengangguk. "Eomma tau kau sangat mencintainya. Tapi kau tau sendiri bahwa Appa mu bukanlah orang yang bisa ditolak. Dia akan melakukan segala cara untuk memisahkan kalian. Berpisahlah dengannya, Yesungie. Ini untuk kebaikan kalian."

Yesung melepaskan pelukan sang Eomma dengan kasar dan memandangnya tidak percaya. "Aku kira Eomma akan mendukung ku. Tapi Eomma sama saja seperti Appa. Egois. Kalian hanya memikirkan diri kalian sendiri tanpa peduli terhadap yang aku inginkan."

"Yesungie, percayalah bahwa Eomma mendukung mu. Hanya saja Appa mu bukan orang yang bisa kau tentang dengan mudah, nak." Shin Min Ah mencoba mengusap kepala Yesung, namun dengan segera Yesung menepisnya.

"AKU BENCI KALIAN!" teriak Yesung yang kemudian lari pergi dari rumah, mengabaikan sang Eomma yang meneriaki memanggil namanya.

.

.

.

Jam telah menunjukan pukul 3 pagi. Seunghyun tengah bersiap untuk pulang karena sudah berganti shift dengan temannya. Setelah memastikan semua barangnya lengkap, Seunghyun keluar dari pintu belakang club tersebut.

Seunghyun semakin merapatkan jaket hitamnya tatkala merasakan dinginnya angin malam berhembus kencang menerpa tubuhnya. Namja tampan itu terus berjalan tanpa menyadari bahaya yang tengah mengintai dirinya.

Seunghyun terus berjalan sampai ada 3 orang namja berbadan kekar dan tegap menghadang jalannya. Seunghyun memandang aneh ketiga namja tersebut. Berusaha tidak peduli, Seunghyun kembali melanjutkan jalannya namun saat akan melewati ketiga namja itu, salah seorang menahan bahu Seunghyun, membuatnya kembali mundur.

Seunghyun memandang tajam pada 3 namja didepannya ini. "Nuguseyo?"

"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kami peringatkan kepada mu untuk menjauhi Kim Yesung atau kau akan menyesal." Ujar salah seorang diantara mereka.

"Menjauhi Kim Yesung? Kenapa aku harus menjauhinya jika aku sangat mencintainya?" tantang Seunghyun pada orang-orang didepannya tanpa rasa takut sedikitpun. "Aku tidak akan pernah menjauhinya."

"Kalau begitu kau perlu diberi pelajaran." Ujar namja yang paling kanan dan kemudian maju dengan diikuti 2 namja lainnya.

Perkelahian tak terelakan pun terjadi. Dengan gesit Seunghyun berhasil menghindari pukulan demi pukulan yang dilayangkan kepadanya dan membalas memukul. Di awal perkelahian, Seunghyun menang. Namun tanpa Seunghyun sadari, salah seorang namja datang dengan sebuah balok kayu ditangannya. Memukul keras pada tengkuk Seunghyun hingga membuat namja tampan itu terjatuh. Dengan memanfaatkan situasi, 2 namja yang berada didepan Seunghyun bangun dan langsung memukuli Seunghyun secara brutal.

Seunghyun yang kalah jumlah dan tenaga hanya bisa menerima pukulan itu sembari melindungi kepalanya dengan 2 tangannya. Puas memukuli Seunghyun dan yakin bahwa namja tampan itu sudah tidak berdaya, mereka pun akhirnya pergi. Membiarkan Seunghyun yang terluka parah dipinggir jalan yang begitu sepi.

.

.

.

Yesung yang mendengar bahwa Seunghyun tidak masuk kuliah karena sakit, segera datang kerumah Seunghyun begitu namja manis itu pulang kuliah. Dengan langkah yang tidak sabaran Yesung segera menuju kamar Seunghyun. Jangan ditanya bagaimana cara Yesung untuk masuk, karena tentu saja namja manis itu memiliki kunci duplikat rumah milik sang kekasih yang luasnya hanya separuh dari kamarnya.

"Seunghyun…" panggil Yesung khawatir begitu namja manis itu masuk dan menempatkan dirinya untuk duduk disebelah ranjang sang namjachingu. Hati Yesung merasa teriris saat melihat keadaan Seunghyun yang jauh dari kata baik-baik saja dan terbaring lemah dikasurnya.

"Yesung. Kau datang." Ucap Seunghyun lemah.

Yesung langsung menjatuhkan air matanya begitu melihat keadaan Seunghyun yang begitu memprihatinkan. Wajah tampan Seunghyun berubah menjadi lebam disana-sini, bahkan terdapat darah yang mengering pada pipi namja tampan tersebut.

Dengan perlahan dan hati-hati Yesung menyusuri wajah Seunghyun dengan tangan mungilnya. Semakin menangis terisak saat dia bisa menebak siapa dalang dibalik penderitaan Seunghyun-Nya. Yesung sangat yakin, bahwa Appanya lah penyebab Seunghyun menjadi seperti ini.

"Mianhae, Seunghyun. Mianhae. Jeongmal mianhae." ucap Yesung sembari terisak kencang dan keras.

"Uljimma, Sungie-ah. Aku tidak ingin kau menangis. Aku tidak apa-apa." Seunghyun berusaha menghentikan tangis Yesung sembari mengelus kepala namja manis tersebut.

Namun bukannya berhenti, tangisan Yesung semakin kencang. Bahkan kini Yesung memeluk Seunghyun dan berulang kali menggumamkan kata 'Mianhae' yang Seunghyun sendiri tidak tahu kenapa namja manis itu terus meminta maaf kepadanya atas kesalahan yang tak pernah Yesung lakukan.

1 jam 30 menit dan akhirnya tangisan Yesung berhenti. Kini namja manis itu tertidur dipelukan Seunghyun. Walau kasur Seunghyun hanya cukup untuk satu orang, namun sepertinya tidur menyamping tak masalah untuk mereka berbagi kasur.

Seunghyun mengecup berkali-kali kepala Yesung, merasakan wanginya aroma buah yang terhirup oleh hidung mancungnya. Sembari tersenyum Seunghyun mengeratkan pelukannya. Namun pemikirannya kembali pada kejadian malam tadi. Beruntung bagi Seunghyun yang ditemukan oleh seorang tetangganya yang baru pulang kerja pukul 5 pagi dan segera membawa Seunghyun pulang kerumah karena Seunghyun yang sadar dan tidak mau dibawa kerumah sakit.

Seunghyun bertanya-tanya, siapa 3 namja yang memukulinya itu? Dan kenapa mereka menyuruh Seunghyun menjauhi Yesung? Seunghyun sangat yakin bahwa 3 namja itu adalah orang suruhan. Tapi suruhan siapa?

Lama Seunghyun berpikir hingga terlintas sebuah nama pada otak cerdasnya. Memandang penuh arti pada Yesung yang masih terlelap dalam pelukannya. "Tidak mungkin dia kan, chagi?" tanya Seunghyun pada Yesung yang masih tertidur dengan damai.

"Kim Woobin. 3 namja yang memukuli ku bukan orang suruhan Appa mu kan? Dia tidak ingin memisahkan kita, kan?" Seunghyun mulai mengeluarkan air matanya. "Aku sangat mencintai mu, Yesungie. Aku ingin terus berada disamping mu." Seunghyun menenggelamkan kepala Yesung pada dada bidangnya.

Tanpa Seunghyun sadari, Yesung terbangun dan kembali menangis. "Maafkan aku, Seunghyun-ah. Aku juga sangat mencintai mu. Tapi aku tak mau kau menderita lebih dari ini. Aku akan melepaskan mu demi kebaikan mu. Jeongmal mianhae jika aku menyakiti mu. Tapi percayalah, ku lakukan semua ini karena cinta ku pada mu." Ucap Yesung dalam hati.

.

.

.

Seminggu setelah kejadian pemukulan Seunghyun, kini namja tampan itu sudah pulih kembali seperti semula. Melakukan aktivitas seperti biasanya. Semua tetap sama, hanya saja kali ini Yesungnya berubah. 2 hari setelah namja manis itu menemainya, kini Yesung tak pernah bisa untuk Seunghyun hubungi. Dicari kekelas pun Yesung tak pernah ada. Setiap kali Seunghyun datang kerumah, dirinya selalu diusir oleh pengawal Kim Woobin. Dan hal ini sukses membuat Seunghyun uring-uringan.

Tapi beruntung, pagi ini Yesung mau mengangkat telepon darinya dan bahkan mengajaknya untuk bertemu ditaman mereka biasa berkencan. Dan Seunghyun sudah berdiri ditaman sejak 30 menit yang lalu. Senyum Seunghyun mengembang saat melihat Yesung datang mendekat padanya.

"Yesungie…" sapa Seunghyun ramah dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah tampannya.

"Seunghyun, ada hal yang ingin aku sampaikan kepada mu." Ujar Yesung langsung dengan wajah datar.

Seunghyun mengernyit melihat sikap Yesung yang tak biasa ini. Kemana Yesungnya yang ceria? Meskipun begitu, Seunghyun tak pernah melunturkan senyuman terindah miliknya dari wajahnya. "Apa itu?"

Yesung menghela nafasnya sejenak. Memejamkan kedua matanya sebentar lalu membuka kembali. Mengumpulkan keberanian dan memantapkan hatinya atas keputusan terberat yang akan dia ambil. Walau berat, tapi inilah jalan terbaik bagi mereka.

"Aku ingin putus dari mu." Ucap Yesung dengan cepat, lancar dan tegas.

Seunghyun yang mendengarnya tentu saja terkejut. Namun detik selanjutnya, namja tampan itu malah tertawa dengan keras, seolah Yesung tengah menyampaikan hal yang sangat lucu untuk didengar.

"Kenapa kau tertawa?" Yesung memandang heran pada Seunghyun yang masih tertawa.

"Kau tau, lelucon mu sangat lucu, Yesungie. Aku hampir percaya karenanya." Jawab Seunghyun disela tawanya. Bahkan kini Seunghyun memegangi perutnya yang kram akibat terlalu banyak tertawa.

"Tapi aku sedang tidak menciptakan lelucon, Seunghyun-ah." Yesung memandang datar dan tajam Seunghyun. "Aku serius. Dan aku harap kau bisa menerimanya."

Yesung akan pergi sebelum Seunghyun menahan lengannya setelah menghentikan tawanya terlebih dahulu. Memandang Yesung dengan wajah yang sulit untuk dia percaya.

"Waeyo? Kenapa kau tiba-tiba ingin putus dari ku? Apa salah ku pada mu?" tanya Seunghyun bertubi-tubi.

Yesung menepis kasar tangan Seunghyun. "Aku sudah tidak mencintai mu lagi. Aku kini sadar, bahwa tidak seharusnya aku mempermalukan orang tua ku. Mempermalukan Appa dan Eomma didepan rekan-rekan bisnisnya karena seksual ku yang menyimpang. Harusnya aku tidak memiliki hubungan asmara bersama seorang namja juga."

Seunghyun menggeleng lalu kemudian mencengkram bahu Yesung dengan kuat. "Kau pasti berbohong. Katakan bahwa kau berbohong. KATAKAN BAHWA KAU BERBOHONG, YESUNGIE."

PLAK…

Yesung menampar wajah Seunghyun dengan cukup keras. "AKU TIDAK BERBOHONG. AKU INGIN MENJALANI KEHIDUPAN KU YANG NORMAL DAN ITU BERSAMA YEOJA. BUKANNYA NAMJA." Teriak Yesung frustasi dengan air mata yang berjatuhan.

Seunghyun menatap Yesung dengan tatapan terluka. Dengan mata yang sudah memerah dan berkaca-kaca. Jujur saja, Seunghyun kecewa dengan perkataan Yesung barusan. Rasa sakit dipipinya tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya. Dia merasa bahwa Yesung mengkhianatinya.

"Carilah orang lain yang lebih baik daripada aku, Seunghyun. Hiduplah dengan baik setelah ini. Anggap bahwa tidak pernah ada kisah antara kita berdua. Dan aku bisa pastikan bahwa ini adalah hari terakhir kau bertemu dengan ku. Aku tidak akan lagi mengusik kehidupan mu. Ini akan seperti aku yang tak pernah ada. Aku minta maaf atas semua yang terjadi. Aku pergi." Yesung pergi berlari meninggalkan Seunghyun begitu saja tanpa membiarkan namja tampan itu mengucapkan apapun lagi, bahkan tidak memperdulikan Seunghyun yang meneriakan namanya.

"Jeongmal mianhae, Seunghyun. Mianhae. Geurigo saranghae." Ucap Yesung dalam hati sembari menangis dan terus berlari.

.

FLASHBACK END

.

Yesung mengakhiri ceritanya dengan setetes air mata yang jatuh lalu dengan cepat namja manis itu menghapusnya. Hyukjae yang mudah tersentuh, menangis setelah mendengar kisah masa lalu Yesung. Namun berbeda dengan Donghae yang walau tidak menangis namun raut wajahnya sendu.

"Setelah aku putus dari Seunghyun, aku memilih untuk pergi ke Jepang. Melanjutkan study ku selama 2 tahun lalu kemudian aku pindah ke LA hingga sekarang. Selama 7 tahun aku tidak pernah mengirimkan kabar pada Seunghyun. Aku sengaja memutuskan segala kontak ku darinya. Dan terakhir yang ku dengar, Seunghyun juga menghilang setelah lulus kuliah." Yesung mengusap kasar air matanya yang lagi-lagi terjatuh tanpa dia pandu.

"Apa Seunghyun tahu alasan kau memutuskannya hyung?" tanya Donghae.

Yesung menggeleng. "Appa ku memastikan semuanya sesuai dengan yang dia inginkan."

"Jadi, kau tetap mencintainya kan, hyung?" tanya Hyukjae menuntut kepastian dari Yesung.

Yesung tersenyum miris mendengar pertanyaan Hyukjae dan memandang dua dongsaeng yang ada dihadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Tadinya aku berpikir begitu. Tapi setelah aku tahu, orang macam apa Seunghyun sekarang, semua cinta ku padanya berubah menjadi kebencian. Aku sangat membencinya."

Donghae dan Hyukjae saling menghela nafas. Dan keduanya menoleh saat Yesung berdiri dari duduknya. "Aku akan kedapur mengambil minum. Kalian ingin sesuatu untuk ku ambilkan?"

Keduanya menggeleng. "Tidak, hyung. Gomapta." Ujar keduanya serempak dan Yesung pergi meninggalkan keduanya.

Donghae masih memikirkan cerita Yesung barusan dan segera menoleh saat Hyukjae tiba-tiba mengeluarkan suaranya.

"Apa kau memikirkan apa yang ku pikirkan, Hae?" tanya Hyukjae memandang Donghae penuh arti.

Donghae menatap Hyukjae dengan penuh arti juga kemudian mengangguk. "Hm, sepertinya begitu."

"Yesung hyung hanya kecewa pada TOP. Dia tak pernah membencinya." Donghae mengangguk setuju dengan perkataan Hyukjae barusan.

Tidak jauh dari tempat Donghae dan Hyukjae, Yesung yang baru memasuki dapur dikejutkan dengan keberadaan Kyuhyun yang entah sudah berapa lama dirinya berdiri disana.

"Kau mengejutkan ku, Kyuhyun-ah." Yesung memegangi dadanya karena terkejut itu.

Kyuhyun hanya diam dan tidak menjawab. Yesung yang tidak mau ambil pusing hanya mengendikkan bahunya dan kemudian membuka lemari es dan mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya beberapa tegukan.

"Kau tidak pernah membenci TOP." Ujar Kyuhyun yang membuat Yesung terkejut hingga memuncratkan air didalam mulutnya. Dengan sedikit terbatuk Yesung memandang tajam Kyuhyun.

"Kau mendengarnya? Apa maksud mu?" tanya Yesung bertubi.

Kyuhyun menatap Yesung dengan lembut, membuat ada sesuatu yang aneh bergejolak dalam jiwa Yesung. Dengan perasaan canggung Yesung mengusap kepala belakangnya. Lalu kemudian menatap Kyuhyun. Namun kali ini dengan tatapannya yang juga lembut, tidak tajam seperti tadi.

"Maaf jika aku lancang, tapi aku mendengar semuanya. Semua kisah masa lalu mu bersama dengan TOP. Aku tidak tahu bahwa ada kisah cinta seperti itu didunia ini. Dan kini aku benar-benar merasa bersalah karena harus kembali mengungkit kenangan lama antara kau dengan TOP." Kyuhyun membungkukkan badannya untuk meminta maaf pada Yesung. Bagaimanapun karenanya lah kini Yesung harus kembali mengingat masa lalunya.

Yesung mengibaskan tangannya. "Sudahlah, tak perlu ada penyesalan. Kita sudah sejauh ini dan tak mungkin berhenti ditengah jalan. Bagaimana pun aku sudah membencinya sekarang."

Kyuhyun menggeleng. "Kau tak pernah membencinya. Sama sekali tidak pernah, Yesungie. Sejak awal, kau tak pernah membenci TOP. Kau hanya marah dan kecewa padanya, karena Seunghyun berubah menjadi sosok yang tidak lagi kau kenal." Kyuhyun berhenti sejenak. "Aku mengerti alasan kau memutuskannya sepihak padahal jelas kau masih sangat mencintainya. Dan kebencian yang kau ungkapkan kemarin, itu hanya palsu. Hanya untuk menutupi betapa kecewanya kau pada TOP yang telah berubah menjadi sosok monster yang menakutkan." Lanjut Kyuhyun.

Yesung hanya diam. Karena perkataan Kyuhyun adalah benar walau berulang kali dia mencoba untuk menampik semua itu.

"Pikirkan lagi, Yesungie. Jangan sampai kau kembali mengulang kesalahan yang sama." Ucap Kyuhyun lalu pergi meninggalkan Yesung yang masih tenggelam dalam pemikirannya.

.

.

.

Seunghyun duduk diranjang king bednya dengan menatap dalam pada sebuah bingkai foto ditangannya. Foto yang berisikan dirinya dan Yesung saat masih bersama 7 tahun yang lalu, saat mereka masih senior highschool. Di foto itu Seunghyun dan Yesung saling berangkulan sembari menatap kamera dengan tersenyum penuh.

Seunghyun ingat foto itu diambil saat mereka sedang kencan sepulang sekolah dan seorang Ahjussi yang merupakan fotografer menawarkan diri untuk mengambil foto mereka berdua, karena sang Ahjussi melihat keromantisan mereka. Awalnya Seunghyun menolak, namun karena paksaan Yesung akhirnya Seunghyun mau.

Seunghyun tersenyum saat mengingat kembali masa-masa indah dirinya bersama Yesung. Namun sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi datar dan sendu jika mengingat bahwa Yesung pergi meninggalkannya tanpa memberi kabar apapun lalu kemudian sekarang kembali datang pada kehidupannya.

Seunghyun menoleh saat mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka dan menampilkan GD dan Daesung. Mereka mendekati Seunghyun dan GD langsung merebut bingkai foto ditangan Seunghyun. Tidak peduli pada tatapan tajam Seunghyun, GD menelisik foto tersebut.

"Kalian pasangan yang romantis dulunya." Komentar GD yang kemudian mengembalikan bingkai foto tersebut pada Seunghyun setelah menatap lama sebelumnya.

Seunghyun meletakkan kembali bingkai foto itu pada tempatnya semula, didalam laci nakas. "Jauh sebelum Yesungie meninggalkan ku, kami adalah pasangan teromantis dan paling serasi didunia." Seunghyun tersenyum mengingatnya. "Setidaknya kisah ku adalah hal yang paling indah diawal."

GD dan Daesung mengambil tempat duduk disebelah kanan dan kiri Seunghyun. Dengan kekanakannya, Daesung menggoyang lengan kiri Seunghyun. "Hyung, ceritakan bagaimana awal mula kau bertemu dengan Yesung hyung." Rengek Daesung.

Seunghyun melihat Daesung dengan tatapan aneh. "Kenapa kau seperti ini tiba-tiba?"

"Aku hanya ingin tahu, hyung. Sepertinya kisah masa lalu mu seru."

Seunghyun menerawang keatas langit-langit kamarnya. "Awal mula aku bertemu dengannya adalah disekolah. Aku dan Yesung berada dalam satu sekolah dan kelas yang sama. Keterbiasaan bersama membuat kami saling tertarik satu dengan yang lain." Jelas Seunghyun.

"Hanya seperti itu? Sungguh hal yang biasa." GD menilai.

Seunghyun menatap GD dan tersenyum manis. "Masa awal hubungan ku dengan Yesung memang biasa saja. Tapi bagi ku itu adalah hal yang paling terindah dan aku merasa paling beruntung. Seorang namja miskin dan yatim piatu bisa mendapatkan cinta yang begitu tulus dan besar dari seorang chaebol dari keluarga Kim."

"Lalu kenapa pada akhirnya dia justru meninggalkan mu? Pergi jauh dan tak pernah memberi mu kabar apapun." GD mendecih.

"Hyung, setelah yesung hyung meninggalkan mu, bagaimana kehidupan mu selanjutnya?" tanya Daesung semangat.

"Tentu saja Seunghyun hancur dan terpuruk, Daesung. Apalagi yang lebih baik dari itu?" GD menjawab sebelum Seunghyun dan itu sukses membuat Daesung kesal.

"Ya! Hyung, aku bertanya pada Seunghyun hyung. Bukan pada mu." Sungut Daesung.

"Tapi aku hanya mewakilkan." Balas GD cuek.

"Ya! GD hyung! Kau sungguh menyebalkan." Ujar Daesung yang benar-benar kesal.

Seunghyun hanya tertawa melihat pertengkaran kecil GD dan Daesung. Kadang melihat mereka bertengkar menjadi hiburan tersendiri untuk Seunghyun. Namja tampan itu menyayangi keduanya seperti keluarganya sendiri, mengingat dia sudah tidak memiliki siapapun lagi didunia ini. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat dia berusia 10 tahun dan keluarganya yang lain entah kemana.

"Sudahlah, kalian tidak usah bertengkar seperti anak kecil. Aku akan bercerita bagaimana kehidupan ku saat Yesungie pergi meninggalkan ku." Ujar Seunghyun bersiap memulai ceritanya.

GD dan Daesung terdiam dan memandang Seunghyun dengan pose siap mendengarkan. Sementara Seunghyun sudah menerawang kedepan, berusaha kembali mengungkit masa lalunya yang pedih dan menyakitkan. "Benar kata GD. Aku memang terpuruk dan merasa bahwa dunia ku terhenti saat itu juga. Rasanya semua kerja keras ku untuk mengumpulkan won demi won sia-sia. Tanpa Yesung semua usaha ku tidak ada artinya."

.

FLASHBACK….

.

Dentuman musik keras terdengar diseluruh penjuru club malam yang besar dan luas. Berbagai aktifitas terjadi disana, mulai dari para pelayan yang hilir mudik melayani para customer, para namja yang merokok maupun menenggak minuman beralkohol yang sesungguhnya membakar tenggorokan namun terasa nikmat bagi peminumnya, menari dengan gaya sensual mengikuti alunan irama musik sang DJ dan banyak hal sebagainya.

Disalah satu kursi didepan bartender, terdapat seorang namja tampan yang penuh kharisma andai saja saat ini penampilannya tidak berantakan seperti sekarang. Jika diteliti, kesadaran namja itu sudah menghilang lenyap dikarenakan entah sudah berapa banyak alkohol yang melewati tenggorokannya. Namun bukan wajah mabuk yang ditampilkan namja tampan itu, melainkan wajah sendu dan menyedihkan.

Sang bartender, yang merupakan teman namja tampan itu yang baru saja berganti shift dengannya hanya menggelengkan kepalanya melihat namja tampan itu. Usai mengelap botol-botol kaca yang berisi alkohol yang tentu dengan harga mahal, namja yang bername-tag Taeyang itu segera menghampiri sang namja tampan dan menepuk keras bahu namja tampan itu.

"Seunghyun-ah, pulang lah. Jangan minum lagi." Ujar Taeyang pada namja tampan yang ternyata Seunghyun.

Seunghyun menghempaskan tangan Taeyang. "Pergilah. Aku masih ingin minum."

"Tapi kau sudah terlalu banyak minum, Seunghyun. Aku tidak akan membiarkan mu untuk minum lagi. Kau bisa membunuh diri mu sendiri." Peringat Taeyang.

"Lebih baik aku mati, daripada aku kehilangan dia, Taeyang-ah."

Taeyang menghela nafasnya dan kemudian memanggil salah seorang Guard melalui walkie-talkie miliknya. Tak butuh waktu lama, Guard yang Taeyang panggil tadi datang.

"Tolong, bawa dia keluar dan carikan taksi untuknya." Taeyang menyerahkan beberapa lembar uang pada Guard tersebut. "Pastikan dia pulang dengan selamat."

Guard tersebut pun menerima uang pemberian Taeyang dan segera memapah Seunghyun yang sudah kehilangan kesadarannya karena pengaruh alkohol dan segera membawa namja tampan itu pergi.

"Aku harap kau menemukan penggantinya, Seunghyun-ah." Gumam Taeyang kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.

.

.

.

Waktu terus berputar sesuai dengan hukum pergerakannya. Beberapa hal didunia ini telah berubah sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Namun tidak bagi Seunghyun. Walau memasuki akhir dari kuliahnya, hatinya masih tetap sama. Diam dan menunggu seorang Kim Yesung yang entah dimana keberadaannya. Mengharapkan malaikat manisnya kembali kepada sisinya. Namun jika dilihat, sepertinya tidak mungkin, mengingat namja manis itu tidak pernah memberikan kabar apapun pada Seunghyun.

Semenjak perpisahannya dengan Yesung, kini Seunghyun lebih sering menghabiskan waktunya di club malam selain kuliah tentunya. Dia sudah mengundurkan diri dari toko buku karena menurutnya percuma kini dirinya bekerja keras jika alasan dia membanting tulang sudah tidak ada. Akhirnya Seunghyun memilih untuk terus bekerja di club malam selain untuk memenuhi biayanya juga karena kini alkohol adalah pelampiasan kesedihannya. Menjadi teman yang mengisi kesehariannya usai beraktifitas.

Seunghyun masih asyik menenggak minuman alkohol miliknya. Sudah botol ke-4 yang dia habiskan semenjak dirinya berganti shift dengan temannya. Dentuman musik yang memekakan telinga tidak diambil pusing olehnya. Begitu juga dengan beberapa yeoja cantik, seksi dan memikat yang menawarkan diri padanya pun, dia tolak dengan mentah-mentah.

Seunghyun masih terus meminum alkoholnya sampai dia merasakan tangan seseorang merangkul lehernya dengan cukup kuat namun lembut. Seunghyun menoleh kearah si pelaku dan menemukan seorang namja tampan, tinggi, putih, tubuh yang berotot dan tegap, rahang yang juga tak kalah tegas dan keras dari Seunghyun, cool dan bermata agak sipit.

Seunghyun mendecih dan kembali memutar kepalanya pada gelas wine yang digenggamannya kini. "Se7en, ck."

Namja yang menghampiri Seunghyun dan yang dipanggil dengan sebutan Se7en barusan hanya tersenyum dan mengambil tempat duduk disebelah Seunghyun. Memesan minuman alkohol yang menjadi favoritnya pada Taeyang dan kembali menatap sang sahabat.

"Kau sungguh berantakan, TOP. Ini bukan kau yang biasanya." Komentar Se7en pada Seunghyun.

Seunghyun mendorong bahu Se7en dari samping namun tidak membuat namja berkharisma itu bergeser barang seinci pun. "Ini bukan urusan mu, Se7en."

"Oh, ayolah. Kita teman, kan? Cerita lah pada ku."

"Percuma saja, Se7en-sshi. Orang yang sedang patah hati tak akan mau bercerita apapun." Ujar Taeyang sembari meletakkan gelas yang berisikan es batu dan sebotol alkohol didepan Se7en.

Se7en mengernyit. "Benarkah? Tak ku sangka, aku menghilang selama 1 tahun lebih dan banyak hal yang telah berubah." Se7en tertawa dengan keras setelahnya.

Se7en pun menuangkan setengah isi dari botol alkohol itu kegelasnya dan menghabiskannya hanya dalam satu tegukan. Lalu kemudian menatap Seunghyun. "Sudahlah, TOP. Namja seperti itu tidak usah kau pikirkan terlalu mendalam. Kau masih bisa mencari yang lainnya."

"Mudah bagi mu untuk mengatakannya, Se7en. Tapi ini adalah perasaan ku dan hati ku. Aku mencintainya dengan sangat tulus. Aku bekerja keras mengumpulkan uang agar aku bisa menikahinya dan memberikan dia kehidupan yang layak. Tapi Yesungie justru pergi meninggalkan ku begitu saja." Seunghyun memukul keras dadanya. "Disini sakit, Se7en. Sangat sakit. Dan kau harus mengerti itu."

Se7en mengelus pelan badan Seunghyun. "Aku tau bagaimana rasanya kehilangan, TOP. Dan itu sangat menyakitkan, bahkan membuat seluruh dunia mu runtuh seketika. Lenyap tak bersisa. Seolah dunia yang kau tahu selama ini sudah hilang dan musnah." Se7en memandang Seunghyun yang tampak sangat rapuh. "Tapi kau harus ingat, bahwa hidup didunia ini kadang tak adil. Bahkan mungkin tak pernah adil. Tapi kau harus tetap kuat, kau tetap tegar, TOP. Kau bukan namja lemah. Kau harus bangkit. Karena masih ada kehidupan dihari esok."

"Hidup ku adalah Kim Yesung. Dan dengan perginya Yesungie, maka hidup ku juga berakhir. Aku sudah tidak kuat, Se7en." Seunghyun mulai menangis sambil menunduk.

"Kalau begitu kau harus bangkit. Bawa kembali Yesung mu. Jeput dia kembali, TOP. Ambil kembali dia dari mereka yang telah merampasnya. Jangan biarkan dunia mu runtuh dan hancur begitu saja. Bawa dia kembali, ambil dia kembali." Ujar Se7en yang membuat Seunghyun berhenti menangis dan menatap dalam padanya.

"Aku tidak tahu bagaimana caranya, Se7en. Percuma saja." Seunghyun membuang mukanya.

Se7en kembali menarik wajah Seunghyun agar menoleh padanya dan menatap Seunghyun dengan dalam. Kemudian seringaian tercipta dari bibir sexynya. "Aku akan membantu mu. Aku yang akan memandu mu untuk menjadi seorang TOP yang kuat, jiwa pemberontak dan paling ditakuti dan disegani. Bukan seorang Choi Seunghyun yang lemah dan hanya bisa menerima keadaan hingga membuatnya diinjak begitu saja bagaikan sampah yang tak berguna. Aku akan membantu mu, TOP." Ujar Se7en yakin mencoba memberi sugesti, sementara Seunghyun hanya mengangguk padanya.

.

Choi Dong Wook yang lebih dikenal dengan nama Se7en merupakan ketua mafia yang menguasai Korea, China dan Hongkong. Memiliki banyak bisnis ilegal tingkat tinggi yang cukup sukses dan sering lolos dari kejaran para interpol, seperti dia mampu membuat semua badan hukum negara diam dengan aksinya karena sangat lihai dalam menyembunyikan bisnis hitam yang dijalankannya. Namja tampan itu juga sering berpindah tempat tinggal demi kelancaran berbisnisnya, namun akan pulang beberapa tahun sekali ke Korea.

Pertemuan Se7en dengan Seunghyun berawal dari Se7en yang datang ke club malam tempat Seunghyun bekerja saat masih sekolah dalam keadaan stress yang cukup berat. Se7en hanya duduk sembari menghisap puntung rokok yang tinggal setengah yang masih terselip diantara jari telunjuk dan tengahnya. Hanya duduk disana tanpa memesan apapun.

Se7en masih terus menghisap puntung rokoknya dengan kepala tertunduk, seolah semua bebannya tertumpu disana. Namun saat segelas alkohol yang diketahui bernama cocktail disuguhkan didepannya, Se7en mengangkat kepalanya dan melihat sang bartender yang tengah tersenyum ramah kepadanya.

"Gratis untuk mu. Ku lihat kau sedang bermasalah. Beberapa orang mengatakan, bahwa pelampiasan paling bagus adalah alkohol, walau setelah meminumnya dan perasaan mu lebih baik, masalah yang kau hadapi tidak juga selesai begitu saja. Namun itu lebih baik daripada kau menyimpannya sendiri dan menjadikannya bom waktu yang bisa meledakkan mu kapan saja." Ujar Seunghyun panjang dengan masih tersenyum dengan ramah.

Se7en mengambil gelas cocktail tersebut dan meminumnya dengan sekali tegukan. "Gomapta." ujarnya singkat dan bermaksud mengembalikan gelas itu pada Seunghyun. Namun bukannya menerima kembali gelas tersebut, Seunghyun justru menuangkan cocktail ke-2 kedalam gelas kosong tersebut lalu kemudian meletakkan sebotol cocktail itu dihadapan Se7en.

Se7en yang bingung hanya menatap Seunghyun, menuntut jawaban dari namja tampan dihadapannya ini hanya melalui tatapan matanya. Mengerti dengan arti tatapan Se7en, Seunghyun menjawab "Hari ini aku gajian. Jadi aku traktir kau minum. Tapi maaf jika aku hanya bisa membayari mu sebotol cocktail."

Melihat Seunghyun yang terus tersenyum ramah kepadanya, hati Se7en menjadi terenyuh dan hangat. Dia merasa bahwa namja didepannya ini adalah namja yang baik dan hanya sedikit orang yang seperti dirinya. Se7en mengambil cocktail miliknya. "Gomawoyo." Seunghyun hanya mengangguk dengan masih tersenyum lalu mohon ijin untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.

Dan semenjak saat itu, Se7en menjadi pelanggan tetap club malam itu dan hanya mau dilayani oleh Seunghyun. Mereka banyak bertukar cerita mengenai banyak hal walau lebih banyak bercerita tentang alkohol yang enak dan mahal, karena keduanya sangat mengerti tentang minuman pembakar kerongkongan yang sangat nikmat itu.

Seunghyun juga merupakan orang yang mudah beradaptasi dengan orang-orang yang baru ditemuinya hingga membuat keduanya lama kelamaan menjadi akrab. Bahkan tak segan, mereka saling curhat selayaknya sepasang sahabat yang telah mengenal lama. Bahkan karena akrabnya mereka, Se7en memberikan Seunghyun dengan julukan TOP, karena menurutnya Seunghyun adalah seorang yang hebat.

Dan mendengar tentang Seunghyun yang terpuruk, membuat Se7en sebagai sahabat merasa sedih. Dia ingin Seunghyun kembali bangkit dengan menjadi pribadi baru yang lebih kuat dan tidak mudah goyah. Sehingga dia mengubur sisi Seunghyun sedalam mungkin dan mencoba menciptakan TOP yang akan menggantikannya kelak memimpin dunia mafia yang telah dijalaninya selama ini.

Sejak malam dimana Se7en dan Seunghyun kembali bertemu, Se7en menyuruh Seunghyun untuk berhenti bekerja dan hanya fokus pada kuliahnya yang akan segera lulus sebentar lagi. Mengajak Seunghyun untuk pindah ke mansion besarnya dan mulai membentuk karakter TOP. Sulit bagi Seunghyun diawal, namun dengan motivasi yang terus diberikan oleh Se7en dan tekad Seunghyun yang kuat, akhirnya Seunghyun berubah menjadi TOP sepenuhnya dan mengubur dalam-dalam sisi baik dari seorang Seunghyun.

.

FLASHBACK END

.

Seunghyun mengakhiri ceritanya dengan mengusap air mata yang jatuh kepipinya. Lalu kemudian memandang tersenyum pada Daesung dan GD yang sendu menatapnya, bahkan Daesung sudah menangis.

"Dan sejak mengenal Se7en juga, aku akhirnya bertemu dan kenal kalian yang ternyata merupakan kerabat dekat Se7en."

"Aku merasa ada yang aneh dari cerita mu." Ujar GD setelah lama terdiam mendengarkan cerita Seunghyun barusan. "Kau bilang, Se7en membentuk karakter TOP dalam diri mu dan mengubur sisi baik Seunghyun. Lalu kenapa saat ada orang yang memanggil mu dengan nama Seunghyun, sisi baik yang terkubur itu tidak datang? Harusnya sisi Choi Seunghyun muncul saat ada yang memanggilnya." Lanjut GD berdecak.

"Entahlah, aku tak pernah memikirkannya selama ini." Jawab Seunghyun santai.

"Mungkin karena TOP hyung sudah terbiasa dengan sisi TOP jadi jika sisi Seunghyun hanya dipanggil berdasarkan nama saja, hal itu tidak akan mempengaruhi apapun." Ujar Daesung yang ikut menilai setelah menghapus air matanya yang berjatuhan.

"Jadi menurut mu begitu?" tanya Seunghyun yang kini menatap Daesung.

"Aku hanya berhipotesa saja, hyung. Karena aku tak pernah menciptakan 2 karakter dalam diri ku. Itu seperti aku seorang psikopat saja." Daesung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menatap TOP dengan pandangan bersalah. "Maafkan aku, TOP hyung. Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa kau seorang psikopat."

"Aku rasa Daesung benar. Tapi tentu saja berbeda dalam kasus mu, Seunghyun-ah. Kau menciptakan karakter baru bukan karena kau seorang psikopat, tapi hal itu dilakukan untuk melupakan masa lalu mu yang cukup menyakitkan dan pedih." Ujar GD yang ikut menyuarakan pendapatnya.

"Tapi bukan aku yang menciptakan karakter itu, melainkan Se7en." Seunghyun menatap GD.

"Karena Se7en hyung hanya membantu mu." Ucap GD dan Daesung serentak lalu kemudian terdengar gelak tawa dari keduanya. Awalnya Seunghyun hanya menatap datar mereka, lalu sedetik kemudian dirinya ikut tertawa bersama.

.

.

.

Siang telah berlalu dan tergantikan oleh sang malam. Menampilkan langit hitam bertabur bintang yang terang benderang. Angin malam semakin dingin menusuk kulit bagi siapa saja yang masih berkeliaran diluar. Tapi semua itu tidak melunturkan semangat beberapa kelompok namja dengan penampilan mewah mereka, tentunya yang terutama adalah penampilan kendaraan beroda empat yang sangat mahal.

"Yo, Kim Yesung. Are you ready for race tonight?" Tanya dan sapa seorang pria bule pada Yesung yang tengah asyik mengobrol dengan beberapa pria bule lainnya dan tak lupa ada Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun disampingnya.

Yesung menoleh dan tersenyum pada pria bule tersebut. "Yes, but it seems I haven't found the right rivals."

"Exactly, I find one guy for you. He is new residents. And I'm sure you will be like him, man." Ujar pria bule itu dengan semangat dan gaya Amerikanya.

"It sounds like nice. Can I meet with him?" Tanya Yesung penasaran.

"And what's the car?" Tanya Donghae yang kali ini bersuara.

"Pagani Zonda. Ever hear that?"

"Pagani Zonda? Are you kidding me?" Tanya Domghae heboh yang langsung mendapat tepukan ringan dari Hyukjae dibahunya. "It's the faster car."

"Yeah, you're very right. Just follow me because he've waiting for you." Ucap si pria bule yang kemudian pergi lebih dulu dan langsung diikuti oleh Yesung, Donghae, Hyukjae dan Kyuhyun.

Jangan tanyakan kenapa mereka berada diarena balap malam ini. Tentu saja karena Yesung dan Donghae sudah membuat janji dengan komunitas mereka. Mendengar Yesung dan Donghae akan pergi, Hyukjae pun memaksa Kyuhyun untuk ikut. Dan akhirnya mereka berempat berakhir disini.

Seorang namja tampan, tinggi, putih, tubuh yang berotot dan tegap, rahang yang tegas dan keras, cool dan bermata agak sipit adalah yang kali pertama mereka lihat. Namja itu menampilkan senyumnya walau masih tampak terkesan datar. Namja itu maju dan bersalaman dengan Yesung.

"Jadi, ini yang namanya Kim Yesung? Seorang handal dibidangnya?" ujar namja itu yang ternyata juga orang korea.

"Yap. Dan sepertinya kau bukan orang 'sembarangan' yang mudah ditaklukan." Ujar Yesung enteng dan santai.

Namja itu tertawa renyah mendengar penuturan Yesung. Menyalurkan tangannya kedepan dan langsung dijabat oleh Yesung.

"Perkenalkan, nama ku Se7en. Senang bertemu dengan mu, Yesung-sshi."

"Aku rasa kau sudah tahu siapa aku, jadi sepertinya aku tak perlu memperkenalkan diri ku." Ucap Yesung yang kemudian mereka melepaskan jabatan tangannya.

"Jadi, apa taruhannya?" Tanya Se7en.

Yesung melihat kebelakang, tepatnya mobil Se7en, lalu kemudian menatap Se7en kembali. "Aku suka mobil mu. Bagaimana jika mobil ditukar dengan mobil?"

Se7en melihat kebelakang Yesung juga, tepatnya pada sebuah Nissan GTR Nismo berwarna putih yang terparkir indah disana. "Tak buruk. Aku rasa itu adalah yang pantas."

"Jadi kesepakatannya, siapapun yang kalah maka mobilnya harus diberikan pada sang pemenang." Ujar Donghae.

"Deal." Ujar Se7en yakin.

"Deal." Ujar Yesung yang juga tak kalah yakin.

Mereka saling menatap satu sama lain dengan pemikiran masing-masing. Sedetik kemudian mereka pun berbalik dan menuju mobil mereka. Suasana semakin panas dengan teriakan para penonton yang mengelukan nama mereka, terutama Yesung.

"Kim Yesung, eoh? Namja mu sangat manis, Seunghyun. Tapi sayang dia adalah orang yang sangat berbahaya dan dapat menghancurkan mu kapan pun. Sepertinya aku harus turun tangan untuk kali ini." Ujar Se7en dalam hati saat memasuki mobilnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Annyeong Chingudeul….

Yuni kembali dengan Search And Found It!

Maaf atas keterlambatannya karena untuk uplat adalah hal yang paling mustahil. Saat ini Yuni hanya bisa memberikan segini dulu dan Yuni juga minta maaf karena belum tau bisa kapan lagi untuk update. Tapi akan Yuni usahakan untuk tetep Update.

Yuni juga ga akan hiatus dulu sebelum ff Yuni semuanya selesai. Yuni juga mau mengucapkan terima kasih untuk semua review yang masuk dan tetap mendukung tulisan Yuni walau hanya dengan kalimat next, karena itu sangat membantu.

Akhir kata, Yuni ucapkan terima kasih dan saranghae….