Itachi kecil adalah seorang pengecut. Ia adalah seorang pengecut yang memiliki ketakutan terbesar dalam pikirannya. Ia tidak ingin dibuang. Ia tidak ingin tergantikan oleh apa pun dan siapa pun.
Itachi ingat hari itu. Hari itu sejuk. Temperatur yang nyaman dan aman serta mengundang kedamaian bagi siapa pun yang merasakannya. Namun, saat itu hati dan pikiran Itachi telah dikuasai oleh rasa ketakutan yang amat besar hingga ia pun tidak merasakan kedamaian yang dibawa lingkungan sekitarnya.
Saat itu ia sedang mencari miniatur tentaranya yang hilang dan tidak sengaja mendengarkan ucapan rahasia yang tak seharusnya ia dengarkan. Mungkin saat itulah Tuhan mengujinya. Apakah ia akan memilih hal yang benar atau hal yang buruk.
"Sasuke adalah pemuda yang cerdas, Ayah. Aku yakin Sasuke dapat menuntun Uchiha menuju lebih baik."
Itachi mematung. Ia dapat mendengar suara ayahnya dengan baik. Tubuhnya kaku, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Bagaimana dengan Itachi? Bagaimana jika Itachi yang akan mewariskan perusahaan ini?"
Itachi dapat mendengar suara kakeknya membalas ucapan ayahnya, Fugaku. Jantungnya berdegup kencang, ia seperti menunggu hasil ujian. Ia memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan ucapan ayahnya.
"Tidak. Itachi tidak secakap Sasuke. Ia tidak mampu menuntun perusahaan ini. Aku merekomendasikan dia sebagai bawahan Sasuke atau menjadi kepala cabang. Lagipula Sasuke lebih kuat daripada Itachi, aku yakin ia akan lebih baik dari Itachi."
Saat itulah Itachi menyadari bahwa dunianya hancur seketika. Ayahnya tidak pernah mengharapkan apa pun darinya dan tidak menganggap dirinya secakap Sasuke.
Hanya satu pikiran di benak Itachi kecil. Yaitu menyingkirkan Sasuke.
.
.
.
Hope and Prisoner (c) Yuki Ryota
SasuHina
T+
.
.
.
"Uhuk uhuk!" Sasuke kecil menepuk pelan dadanya. Meredakan rasa nyeri dari dalam dirinya. Ia masih sibuk menghentikan batuknya hingga ia tidak menyadari kehadiran Itachi yang berjalan mendekati dirinya.
"Kau tidak apa Sasuke?" tanya Itachi khawatir.
Sasuke tersenyum tipis. "Tidak apa, Kak. Aku hanya merasakan nyeri di dada."
"Kenapa kau bisa merasa nyeri?" tanya Itachi khawatir seraya meletakkan miniatur tentara yang dicarinya di hadapan Sasuke.
Sasuke menggeleng. "Tidak apa-apa. Wah, kakak menemukan miniaturnya."
"Apa kau ingin kuberitahukan pada Ibu?"
Sasuke menggeleng kuat. "Jangan. Jangan beritahukan pada siapa pun. Aku tidak ingin ayah menganggapku lemah. Aku tidak ingin mengecewakan Ayah."
Deg
Itachi merasa keringat dinginnya keluar bersamaan dengan berbagai pemikiran yang berseliweran di otaknya. Ia melamun cukup lama hingga ia dapat mendengar suara sarat akan kekhawatiran yang diberikan Sasuke kepadanya.
"Kakak tidak apa-apa?" tanya Sasuke
Itachi tersenyum hangat. "Kakak tidak apa-apa. Ayo main lagi."
Itachi melihat Sasuke dan menatapnya miris. "Maafkan aku Sasuke."
.
.
.
Sejak hari dideklarasikan bahwa Sasuke bukan bagian dari Uchiha, Itachi merasa bahwa rencananya berjalan mulus. Ia merasa bahwa segalanya akan menjadi mudah dan hatinya akan lega. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Ia tidak hanya menghancurkan Sasuke, namun ia juga menghancurkan keluarganya. Orang tuanya yang kerap bertengkar dan ayahnya yang masih menatapanya tidak yakin.
Ia baru menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan tidak serta merta membalikkan keadaan dan kenyataan bahwa ia lebih baik daripada Sasuke. Di saat ia ingin mengembalikan keadaan seperti semula. Ia menyadari bahwa ia telah terlambat. Tali persaudaraan yang mengikat antara dirinya dan Sasuke telah terputus. Dengan menjadikan Sasuke sebagai anak Obito Uchiha menjadikan Sasuke seperti Obito. Menjadi terbuang dan terasingkan.
.
.
.
Perusahaan Akatsuki adalah perusahaan besar yang telah bergerak di bidang perbankan secara turun-temurun. Perusahaan Akatsuki yang telah besar dan punya nama tidak dapat diragukan lagi kualitas perusahaan tersebut. Perusahaan Akatsuki memiliki anak perusahaan yaitu Izanagi, Uchiha, dan Izami. Sudah menjadi tradisi Uchiha bahwa anak sulung keluarga Uchiha akan mewarisi perusahaan utama dan anak selanjutnya mewarisi perusahaan lainnya.
Izanagi dan Izami merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan alat rumah tangga. Sedangkan perusahaan Uchiha bergerak di bidang properti. Namun perusahaan Uhiha masih tergolong perusahaan kecil yang baru bisa melayanai pembangunan perumahan.
Madara yang dulu memegang perusahaan Akatsuki, memiliki tiga anak yaitu Fugaku, Shisui, dan Obito. Fugaku adalah anak sulung Madara sehingga ia mewarisi Akatsuki. Shisui mewarisi Izami. Dan Izuna yang merupakan adik Madara memegang perusahaan Izanagi.
Sebagai pemegang tertinggi di perusahaan Akatsuki, Madara dapat mengendalikan anak perusahaan di bawahnya. Seperti mengganti pemegang perusahaan atau sejenisnya. Hal ini karena sebagai pemegang tertinggi di perusahaan Akatsuki sebagai bukti bahwa ia telah mampu mengendalikan perusahaan dan memiliki sikap tanggungjawab yang besar.
Pesaing terbesar Akatsuki adalah Akasusa. Akasusa dengan segala kekuatannya telah menghancurkan Izanagi. Hal ini menyebabkan Izuna yang memegang perusahaan Izanagi dipindahkan oleh Madara untuk bersama-sama mengurus perusahaan Izami bersama Shisui.
Awalnya Obito yang merupakan anak bungsu dari Michida dan Madara tidak diberikan kekuasaan untuk memegang kendali perusahaan. Hal ini dikarenakan perangai Obito yang aneh. Ia tidak menyukai mengurus perusahaan dan lebih memilih untuk berada di dunia seni dan hidup tenang di pedasaan. Hal ini tentu saja membuat Madara marah karena membangkang tradisi. Ia menganggap Obito sebagai Uchiha buangan. Namun karena Michida menyukai anak bungsunya itu, ia memutuskan untuk memberikannya kepada Obito. Walaupun Obito tidak menginginkan untuk memegang perusahaan, ia tetap menerima apa yang dititahkan oleh sang Ibunda.
Seluruh keluarga Uchiha pun termasuk Fugaku memberlakukan Obito seperti buangan, kecuali Michida. Tibalah saat Sasuke tidak bisa menjadi perwaris karena kesehatannya. Akhirnya Sasuke dibuang di keluarga Obito. Walaupun Sasuke adalah anak dari Fugaku yang membencinya, ia tetap menyayangi Sasuke tanpa cela dan menganggapnya seperti anaknya sendiri. Ia pun selalu membahagiakan Sasuke dengan caranya. Menunjukkan kepada Sasuke tentang luasnya dunia dan seisinya, mengajarinya tata krama, dan kehidupan. Sasuke mendapatkan berbagai pengetahuan yang tidak ia dapatkan dari keluarga kandungnya. Hal yang selalu Sasuke ingat adalah bahwa keluarga Obito memberikan kasih sayang yang tak terhingga kepada Sasuke.
Saat Sasuke berusia 25 tahun, Obito meninggal dunia. Meninggalkan sebagian besar hartanya pada Sasuke berupa berbagai macam buku yang biasa dibaca Obito, beberapa petak tanah, dan meninggalkan Uchiha di bawah kendali Sasuke. Dan walaupun ia masih muda, ia mampu membawa Uhiha menuju kesuksesan. Bakat dan berbagai bekal ilmu yang diberikan Obito kepada dirinya membuat dirinya mampu menghadapi dunia bisnis yang keras.
.
.
.
Itachi menghela napas. Berkali-kali ia mengacak surainya dan mengusap wajahnya. Raut wajah kelelahan tampak di rupanya yang menawan. Sesakali ia melihat jam dan menghitung berapa waktu telah berlalu sejak Sasuke memasuki UGD.
Ia menyandarkan tubuh jangkungnya pada kursi ruang tunggu. "Maaf... maafkan aku, Sasuke."
Suara derap langkah tergesa-gesa menggema di koridor rumah sakit. Itachi dapat mendengar suara derap langkah yang familiar itu dengan jelas. Suara langkah khas seorang ibu yang dilanda kepanikan.
"Itachi!" Seru wanita paruh baya sambil mengatur napasnya.
Itachi segera bangkit dari kursinya. Ia merangkul tubuh wanita itu. "Ibu..."
Sosok yang dipanggil Ibu itu melepaskan rangkulan Itachi dan berjalan menuju ruang UGD. "Bagaimana kondisi Sasuke?"
Itachi hanya bisa tersenyum kecut kala melihat Mikota yang mengabaikan dirinya. "Ia tidak apa-apa, Bu. Ia-"
"Oh Tuhan!" Pekik Mikoto tertahan. Tubuhnya nyaris merosot di depan pintu UGD jika ia tidak ditahan oleh Itachi.
"Sasuke... anakku..." suara sesenggukan menggema di koridor rumah sakit tersebut. Itachi segera menuntun Mikoto untuk duduk dan memberikan ketenangan yang wanita itu butuhkan.
"Ibu..."
Mikoto mengusap air mata yang tak henti-hentinya keluar. Ia menatap Itachi lekat. "Apa yang terjadi, Nak? Ceritakan pada ibu."
Deg
Jantung Itachi bertalu-talu. Ia ingin menceritakan segalanya pada Mikoto. Tentang dendam kekanakan yang dulu ia punya hingga membuat Sasuke diasingkan ataupun aksinya yang gegabah yang ia lakukan pada Sasuke. Ingin rasanya ia mengakui semuanya agar beban di hatinya berkurang. Namun, ia adalah pengecut. Ia hanyalah orang yang menyembunyikan berbagai hal di balik senyum hangatnya.
"Tidak masalah, Bu. Sasuke hanya kambuh dan obatnya yang habis. Mungkin ia terlalu memaksakan diri."
Mikoto menatap Itachi sejenak sebelum menyandarkan kepalanya pada pundak Itachi. "apa pun masalahnya, ceritakan pada Ibu. Ibu sangat menyayangi kalian, meskipun ayah kalian seperti itu, Ibu tetap menyayangi kalian. Kalian darah daging Ibu, Ibu tidak bisa menyakiti kalian."
Itachi tersenyum miris. 'Maafkan aku, Bu. Aku hanya takut... takut jika engkau mengetahui hal yang sebenarnya terjadi, engkau akan membenciku. Aku memang pengecut, maafkan aku, Bu.'
.
.
.
Itachi mengusap wajahnya. Ia meneguk kopi yang ke sekian kalinya. Jemarinya berulang kali membuka dokumen di tangannya. Sejak Sasuke masuk rumah sakit dan tidak sadar, Itachi lah yang mengambil alih perusahaan Uchiha. Ia mengetahui bahwa Uchiha di ujung batas dengan kasus korupsi dan bangkrut yang mengancam. Ia berniat untuk menyuntikkan dana kepada perusahaan Uchiha, namun kasus Uchiha yang pelik membuatnya susah untuk memberikan dana secara cuma-cuma karena Akatsuki yang masih dipegang sepenuhnya oleh Fugaku.
"Tuan, ini berkas yang Tuan minta." Sekretaris Sasuke pun ikut membantu Itachi agar ia mengetahui bagaimana keadaan perusahaan Uchiha dan apa yang sudah Sasuke lakukan.
Itaxhi segera membuka dokumem yang diberikan kepadanya. "Apa ini? Akasusa?" Itachi menatap sekretaris Sasuke, yakni Kakashi.
"Tuan Sasuke sedang melakukan penyelidikan terhadap pihak Akasusa."
Itachi berdecak. "Itu membuang waktu. Kita haru membangun kembali koneksi dengan perusahaan lain. Aku akan mencoba agar Akatsuki dapat menyuntikkan dana untuk membantu Uchiha."
Saat merasakan tidak ada jawaban dari Kakashi, Itachi menatap Kakashi kembali. "Sekarang lakukan apa yang kuperintahkan, tujuan utama kita adalah membangung konrksi kembali."
Kakashi terdiam sejenak sebelum berkata. "Bagaimana dengan usaha dari Tuan Sasuke?"
Itachi tersenyum khas sambil mengambil jasnya. "Biarkan saja, sekarang lakukan tugasmu dan aku akan lakukan tugasku."
Kakashi membungkuk hormat. "Baik, Tuan."
Setelah menyampaikan titah pada Kakashi, Itachi segera pergi dari perusahaan Uchiha dan mengemudikan mobilnya ke kediaman Uchiha.
.
.
.
Sulung Uchiha generasi ke-7 berjalan dengan langkah tegap di sebuah koridor sepi. Ia dapat mendengar gema pantofel yang ia kenakan kala melangkah menuju tempat tujuannya. Ia menghentikan langkahnya di depan ruangan dengan dua daun pintu yang terbuat dari jati.
Ia ketuk pintu tersebut. "Itachi Uchiha."
Terdengar suara dari dalam ruangan. "Masuk."
Itachi memasuki ruangan tersebut dengan gagah. Ia membungkukkan tubuhnya singkat, sebeluk menatap sosok yang duduk di seberangnya. "Selamat malam, Yah."
Fugaku, sosok di seberang Itachi berdeham. "Malam. Apa yang kau lakukan di sini? Akatsuki tidak berada dalam masalah."
"Ya, Akatsuki memang stabil, tapi Uchiha sedang dalam masalah, Ayah. Tidak bisakah kita menyuntikkan dana untuk perusahaan Uchiha?"
Fugaku mengernyit. "Dana? Apa kau tahu apa masalah dari Uchiha?"
Itachi mengangguk. "Korupsi dan ancaman kebangkrutan."
Fugaku berdiri dan berjalan menuju Itachi. "Dan kau pikir yang membuat masalah itu adalah Akatsuki? Apa yang terjadi di Uchiha tidak ada hubungannya dengan Akatsuki."
"Tapi, Uchiha adalah anak dari Akatsuki. Tak bisakah Ayah menyuntikkan dana untuk membangkitkan Uchiha?"
Fugaku mengabaikan Itachi dan kembali ke mejanya. Wajah cemas Itachi mulai tampak. Ia maju untuk membujuk kembali ayahnya. "Aku tahu jika Ayah memiliki masalah dengan Sasuke, tak bisakah Ayah bersikap profesional dan menyampingkan masalah pribadi?"
Fugaku menggebrak meja dengan keras. "Kau tak tahu masalahnya Itachi!" Suara Fugaku menggelegar seisi ruangan. Menggetarkan setiap saraf di tubuh Itachi yang membuatnya merinding ketakutan.
Fugaku menatap nyalang Itachi. "Masalah Uchiha terjadi atas ketidakmampuan yang memegang perusahaan itu. Jika ada masalah terjadi, ia lah yang seharusnya bertanggung jawab."
"Tapi Yah-"
Brak
Suara pintu menjeblak terbuka. Menampakkan sosok jangkung dengan napasnya yang terengah-engah. "Tidak perlu, Itachi."
Itachi berbalik dan membelalak. "Sasuke? Kau-"
Sasuke berjalan dan menatap ayahnya lurus-lurus. "Aku tidak perlu bantuan dari Akatsuki untuk menyelelesaikan masalah perusahaanku."
Ia berdiri di hadapan Fugaku. "Aku tak perlu bantuan Itachi, Akatsuki, maupun dirimu."
Fugaku menatap datar Sasuke. "Tidak seharusnya Uchiha buangan berada di sini."
"Ayah!" Seru Itachi tidak terima.
Sasuke mengangkat sebelah tangannya, menghentikan seruan Itachi. "Aku juga tidak berniat untuk berada di sini dan mencium baumu, Pak Tua."
Setelah mengatakan hal tersebut, Sasuke berbalik dan meninggalkan ruangan kerja Fugaku. Itachi berniat untuk mengejar Sasuke, namun langkahnya terhenti oleh ayahnya.
"Itachi, jangan pernah membahas perusahaan itu di depanku maupun membawa anak itu kemari. Jika tidak, kau pun akan samanya dengan Uchiha buangan itu."
Itachi menunduk. "Baik, Yah."
.
.
.
Dan benar saja. Apa yang dikatakan Sasuke terbukti benar. Setelah kepulihannya dari rumah sakit, ia dapat membalikkan keadaan dalam waktu 2 minggu. Kasus korupsi telah terselesaikan dengan ditangkapnya Kepala Divisi Pemasaran, Yamamura secara tertutup. Dan kasus ini pun tak pernah muncul ke permukaan media. Kerja sama dengan perusahaan lain kembali terjalin. Proyek yang sempat terbengkalai pun tetap dilanjutkan, termasuk proyek Uchiha dan Hyuuga.
Itachi yang mendengar bahwa Uchiha membaik dengan sangat pesat dari keterpurukannya pun segera menemui Sasuke di ruangannya. Ia dapat melihat adik kandungnya tampak asyik dengan ponsel dan dokumennya.
Dengan sekali gerakan, Itachi membuka pintu ruangan Sasuke. "Sasuke."
Sasuke segera mengakhiri panggilannya dan menatap datar Itachi. "Kau. Untuk apa kau kemari?"
Itachi tersenyum lebar sambil mengendikkan bahu. "Entahlah. Aku hanya ingin mengucapkan selamat."
Sasuke segera bangkit dan mengambil jasnya. "Untuk apa? Karena aku masuk UGD setelah bertemu denganmu?"
Itachi tersenyum tipis. "Ayolah Sasuke, kau tahu maksudku ka-hei. Kau mau kemana? Aku baru mengajakmu bicara." Itachi menahan lengan Sasuke sehingga mereka kini berdiri berhadapan.
"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu maksudmu. Dan perlu kau ingat bahwa apa pun yang kau lakukan tidak akan berguna untukku." Sasuke segera melengos pergi ketika Itachi mengendorkan cengkramannya.
Itachi tertegun oleh perkataan Sasuke. Ia hanya dapat diam dan melihat Sasuke pergi meninggalkannya. "Ya, ini salahku. Tidak seharusnya aku melakukan perbuatan itu. Maafkan aku Sasuke."
.
.
.
Hinata berjalan menuju teras perusahaannya saat ia melihat sebuah mobil hitam meluncur dan berhenti di depan teras perusahaannya. Tanpa Hinata sadari, ia berjalan cepat menuruni tangga dan menghampiri mobil hitam metalik tersebut.
Pintu mobil terbuka, menampakkan sosok jangkung yang berdiri dengan tegap dan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Hinata berhenti tepat di depannya dan mendongak, menatap sosok jangkung tersebut.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Hinata sambil menatap datar Sasuke.
Sasuke menyeringai. "Kau menungguku?" Sasuke menghela napas. "Aku ada urusan selama ini."
Lagi-lagi jawaban yang Sasuke berikan kepadanya tidak nyambung. "Jika kau ada urusan selama itu, mengapa tidak mengabariku?"
Iris Sasuke membola. "Kau merindukanku?"
Respon Sasuke yang seenaknya membuat Hinata lelah. Ia segera meninggalkan Sasuke. Belum jauh ia meninggalkan Sasuke, langkah Hinata tertahan oleh tarikan Sasuke di lengannya. Hinata yang tidak siap, menabrak dada bidang Sasuke yang keras.
"Aw," keluh Hinata saat merasakan hidungnya terasa nyeri. Sebelum ia sempat berontak, ia dapat merasakan lengan Sasuke melingkari tubuhnya, memenjarakan dirinya dalam sebuah pelukan yang hangat.
Hinata dapat merasakan napas berat di tengkuknya. "Maafkan aku. Aku merasa sangat lelah."
Hinata bingung dengan apa yang dilakukan Sasuke. Ia tahu bahwa tindakan yang Sasuke lakukan sangat tidak pantas. Namun, ia menemukan dirinya membalas pelukan pria itu.
"Tenanglah, aku di sini," ujar Hinata pelan. Sesekali ia memberikan tepukan pelan di punggung lebar pria tersebut.
Sasuke menghirup dalam-dalam aroma lembuat yang menguar di tubuh Hinata. Anehnya, ia merasa tenang. Ia merasa bahwa aroma inilah aroma yang membatnya tetap hidup selama ini. Dalam dekapannya, ia merasa bahwa hidupnya telah cukup. Bahwa ia tidak membutuhkan apa pun di dunia ini selain bisa bersamanya. Bersama Hyuuga Hinata.
.
.
.
"Ayah! Sampai kapan aku menunggu?!" Seru seorang wanita yang memeluk sebuah bingkai foto dengan wajah masam. Iris emeraldnya bergerak mengikuti ke mana seorang pak tua melangkah.
Tak
Bunyi bola disodok terdengar di dalam ruangan yang besar itu. Seorang pria paruh baya tampak puas dengan hasil karyanya dalam bermain billiard. Ia menatap wajah anaknya yang memberengut.
"Tenanglah, Nak. Semua itu ada jam terbang masing-masing. Hal yang harus kita lakukan adalah bersabar. Setelah itu segalanya akan menjadi milik kita."
Wanita muda tersebut membanting pigura di atas sofa. "Ayah! Kapan aku bisa bertemu dengan Sasuke?! Aku sangat merindukannya! Aku tak tahan lagi!"
"Sakura. Tenanglah," ujar pria berumur setengah abad yang bernama Kizashi. "Istirahatlah sekarang."
Wanita muda yang dipanggil Sakuea itu menggeleng lesu. "Aku tidak ingin istirahat jika aku belum bertemu dengan Sasuke-ku."
Kizashi menghela napas. "Baik jika itu maumu." Kizashi mengambil tabletnya dan mengutak-utiknya. Setelah selesai, ia berjalan ke arah Sakura.
Kizashi menyerahlan tabletnya. "Ini lokasi Sasuke. Kau hanya bisa menemuinya selama 10 menit jika kau tak ingin rencana ayah gagal."
Sakura melompat senang. "Yay! Aku sayang Ayah."
"Tapi dengan syarat, kau harus ditemani oleh Sasori."
Sakura memberengut tidak suka. "Apa?!"
Kizashi menjauhi Sakura dan kembali bermain billiard. "Jika kau tidak mau, silakan menunggunya di sini."
Sakura mendengus kesal. "Baiklah. Sasori ikuti aku."
Sasori yang berada di ujung pintu mengangguk dan membuka pintu untuk Sakura. Ia kemudian berjalan mengikuti Sakura ke arah parkiran. Ia telah menyiapkan kunci mobil yang akan membawa mereka pergi ke tempat tujuan.
'Aku datang Sasuke-ku. Akan kupastikan kau menjadi milikku.'
.
.
.
Hinata terkejut kala mobil Sasuke berhenti di suits Hyuuga. Ia kira bahwa mereka akan makan bersama, tapi ia tidak bertanya pada Sasuke. Mengingat pria itu besar kepala. Hinata turun dari mobil, namun dicegah.
"Aku akan menjemputmu jam 7. Bersiaplah." Sasuke melepaskan cengkramannya. Hinata menutup pintu mobil dan melihat mobil Sasuke menghilang dari pandangannya.
Tanpa Hinata sadari wajahnya memerah. Jantungnya bertalu-talu dan kepalanya pening. Apa yang akan Sasuke lakukan untuk mengejutkannya?
Tanpa basa-basi, Hinata segera memasuki kamarnya. Ia segera luluran dan bersiap diri. Kemudian ia bilas dan keramas. Waktu masih menunjukkan pukul 4 sore kala itu. Ia habiskan satu jam untuk membersihkan tubuhnya. Hinata keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah dengan handuk yang hanya menutupi dada hingga setengah pahanya itu. Ia keringkan rambutnya seraya menelpon adiknya.
Saat ia telah mengeringkan rambut, adiknya telah sampai. Hinata buka pintu dan menampakkan adiknya yang membawa berbagai kotak.
"Kenapa mendadak sekali?"
Hinata mengikuti langkah adiknya. "Aku juga tidak tahu. Bantu aku."
Hanabi bersedekap. "Acara apa yang kau hadiri dan dimana?"
Hinata menggeleng. "Aku tidak tahu dan sepertinya makan malam."
Hanabi membuka salah satu kotak dan menghamparkan sebuah kimono merah di atas kasur. "Bagaimana jika kimono?"
Hinata menatap kimono tersebut. "Apa pantas menggunakan kimono?"
Hanabi berdecak. "Tentu saja. Apa yang ia katakan itu pasti kalian akan makan di tempat reservasi. Pukau dia dengan kimono ini."
Saat Hinata hendak membantah, Hanabi segera menyeret Hinata ke meja rias. "Serahkan pada ahlinya."
Hinata tersenyum melihat semangat adiknya. Ia beruntung bahwa adiknya merupakan tata busana. Sehingga dapat diharapkan di situasi seperti ini.
.
.
.
Hinata berputar sambil melihat ke arah cermin. Rambutnya disanggul dan menyisakan beberapa anak rambut yang dibuat gelombang. Wajahnya dirias natural. Yang menjadi masalah adalah kimono yang ia kenakan tampak terbuka. Belahan dada yang rendah dan belahan kaki hingga mencapai lutut membuatnya tidak nyaman.
"Apa tidak apa mengenakan ini? Ini terlalu terbuka."
Hanabi menggeleng. "Tentu saja tidak. Ini modis."
Hinata berjalan ke arah kasur dan membuka kotak-kotak. Ia terkejut melihat tidak ada satu pun pakaian yang tertutup. Seluruhnya menampakkan punggung, belahan dada, dan kaki. Kini ia paham mengapa Hanabi berkata ini tidak terbuka.
Sebuah bel memecah lamunan Hinata. Hinata panik. Ia melihat telah pukul 7 dan ia bingung apakah ia harus memakai kimono itu atau tidak. Hanabi segera mendorong Hinata ke pintu.
"Selamat berjuang," Hanabi mengedipkan sebelah matanya dan membuka pintu.
Tampak seorang pria jangkung dengan tuksedo gelap berdiri di hadapan Hinata. Hinata tidak berani untuk mendongak dan menatap iris kelam itu. Ia pertahankan tatapannya hanya di kemeja putih yang dikenakan pria itu.
Hanabi yang melihat Sasuke yang menatap kakaknya dan Hinata yang tidak mau menatap balik membuatnya gemas. Ia dorong kakaknya hingga menabrak tubuh keras pria itu.
"Cepat pergi dan makan yang banyak." Pintu langsung tertutup saat Hinata menoleh ke pintu.
Tanpa Hinata sadari, ia telah jatuh ke pelukan pria yang bernama Sasuke itu. Sepasang lengan melingkari pinggangnya yang membuat Hinata merasakan perutna tergelitik. Sasuke mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata.
"Ayo pergi," bisik rendah Sasuke. Membuat Hinata merinding dan jantunya berdebar kencang. Ia tak peduli semerah apa wajahnya.
Tangan Hinata yang gemetar digenggam oleh tangan kasar Sasuke. Menghantarkan perasaan yang menggelitik di tubuhnya. Akhirnya ia dibawa menuju mobil yang dikemudikan oleh Sasuke.
Hinata yang duduk di samping kursi kemudi menunduk menatap kukunya. Sedangkan Sasuke menatapnya intens tanpa menyalakan mesin mobilnya.
"Apa kau tidak nyaman?"
Tidak ada jawaban.
"Kau boleh mengganti pakaianmu jika kau ingin. Aku akan menunggu."
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Tapi kurasa tidak perlu." Sasuke dapat melihat pundak Hinata menegang. "Kau sangat cantik dengan kimono itu."
Untuk pertama kalinya Hinata menatap Sasuke tepat di iris kelam itu. Sasuke yang tidak siap dapat merasakan jantungnya berdetak dengan sangat keras membuat sakit yang anehnya terasa menyenangkan. Sasuke mencondongkan diri. Ia tarik pinggang Hinata dan ia sematkan ciuman di pelipis wanita itu. Ia jauhkan wajahnya dan menatap iris keperakan Hinata yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Kau cantik sekali, hime. Kau membuatku gila," bisik Sasuke dengan suaranya yang berat. Ia kecup dahi Hinata sebelum akhirnya ia mengemudikan mobilnya.
.
.
.
Sesampainya di tempat parkir bawah tanah, Sasuke dan Hinata keluar. Sasuke menyampirkan mantel kulit berwarna gelap di tubuh Hinata. Hinata menatap Sasuke dengan pandangan bertanya. Sasuke tidak mengindahkan hal tersebut dan menggenggam tangan Hinata ke arah lift. Sasuke tekan lantai paling atas yaitu lantai 5.
"Kenapa tinggi sekali?"
Sasuke tidak menjawab. Ia menatap Hinata dan merapatkan mantelnya di tubuh Hinata. Ia cium tangan Hinata di genggamannya. Aroma wangi vanila merebak di indra penciuman Sasuke. Aroma yang memabukkan bagi hati dan pikiran.
Pintu lift terbuka. Sasuke menuntun Hinata yang tampak kesulitan dengan kimononya. Ia dudukkan Hinata di kursi sebelum akhirnya ia duduk berhadapan dengan Hinata. Di bawah cahaya kota yang bersinar, tampak wajah Hinata yang memesona di bawah pencahayaan redup di lantai itu.
Sasuke menatap Hinata yang menatap kagum pemandangan di luar jendela besar. "Apa kau suka?"
Hinata menatap Sasuke yang kemudian wajahnya memerah. "Lumayan." Di mata Hinata, Sasuke sangat tampan. Garis wajahnya yang tegas, tatapannya yang lurus, dan bibir tipisnya yang memesona membuat Hinata tidak dapat berpikir jernih.
Sasuke mengangkat tangannya dan seorang pelayan datang dan membawa dua piring batu yang panas berisi rib eye kesukaan Hinata. Piring tersebut sangat panas hingga membuat daging di atasnya mendidih.
Beberapa saat kemudian, sebotol wine yang berada di ember berisi es dihidangkan. Lengkap dengan dua gelas tangkai di sana. Setelah itu, satu piring risotto dihadirkan.
"Kau hanya memesan satu?"
Sasuke lagi-lagi tidak menjawab. Ia tuang wine di kedua gelas yang tersedia. "Bagaimana jika bersulang?"
Hinata meneguk winenya setelah bersulang. Meresapi rasa manis cairan anggur memasuki kerongkongannya. Ia merasa tubuhnya panas.
"Kau pernah mengajakku mencicipi rib eye terbaik di kota ini. Percayalah, rib eye di sini tidak dapat dibandingkan dengan yang lain." Sasuke mengiris daging dan melahapnya. Ia menatap Hinata yang sibuk mengiris daging.
Sasuke amati bagaimana daging panas itu masuk ke mulut Hinata. Ia tatap lamat-lamat bibir Hinata yang menutup dan tampak merekah itu. Beberapa saat kemudian, uap panas keluar dari bibir Hinata. Sasuke amati ekspresi bahagia dari Hinata.
"Kau benar, ini lebih enak daripada yang pernah kuajak dulu." Hinata melepas mantel Sasuke yang mengundang tanya dari pria itu.
"Nanti kotor," ujar Hinata seolah menyadari tatapan tanya Sasuke. Jemari lentiknya kembali mengiris daging dan menyuapkan pada dirinya.
Sasuke kembali menuangkan wine lalu memakan risotonya. Ia tatap Hinata intens. Ia tak pernah mengalihkan pandangannya dari Hinata. Bagaimana wanita itu makan dan menikmati makanannya. Sasuke terpesona oleh keelokan wanita itu. Ia tatap wajah wanita itu, lalu turun ke leher, dan tatapannya berhenti di belahan dada wanita itu. Menggoda, tentu saja.
Sejak ia melihat Hinata dengan kimono. Ingin rasanya menggagalkan rencana hari ini dan menghabisi Hinata saat itu juga. Ia bahkan mati-matian menahan hasratnya saat mereka berda di mobil dan lift. Ingin rasanya mengurung Hinata dan memerangkapnya dalam ciuman, lumatan, dan hisapan yang memabukkan. Namun, ia menyadari bahwa Hinata bukanlah seorang wanita murahan. Ia adalah wanita terhormat yang dengan caranya membuat orang lain bertekuk lutut.
Sasuke mengerti itu dan itulah mengapa ia berusaha membuat wanita itu nyaman di sisinya. Hanya wanita itulah satu-satunya harapan Sasuke untuk tetap hidup. Jika ia menghancurkan wanita itu, hancur pula hidupnya. Tentu saja ia tidak ingin hal itu terjadi.
Sasuke kembali memakan daging yang ia pesan. Tanpa ia sadari, telah berkurang setengah porsi. Sepertinya ia larut dalam lamunan hingga menghabiskan dagingnya tanpa sadar. Ia menilik piring Hinata yang bahkan tinggal tersisa seperempat porsi. Betapa laparnya wanita itu.
Sasuke kembali menatap paras wanita itu penuh damba. Wanita itu tampak anggun bagaimanapun ia bersikap. Sasuke tidak menyadari seorang wanita berjalan ke arah meja mereka.
"Sasuke-kun~" Sebuah pelukan menerjang punggung Sasuke. Sasuke segera melepaska pelukan tersebut dan menatap tajam sosok wanita di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan?"
Iris kelamnya menatap sosok wanita bersurai merah muda panjang yang mengenakan pakaian modis berupa tunik putih gading yang mentupi setengah pahanya dan heels merah di kaki jenjangnya. Sebuah kalung dengan batu berwarna merah muda menambah kesan cantik wanita itu. Tubuhnya langsing dan rambut panjangnya yang ditata apik dapat memesona kaum adam. Namun, Sasuke tak sedikitpun terpesona oleh wanita itu. Baginya, Hinata lebih memesona.
Wanita bersurai merah muda mengerucutkan bibirnya. "Kau lupa aku? Aku Sakura. Aku telah lama menunggumu." Sasuke memalingkan wajah dan menatap kembali makanannya.
"Aku tidak menyangka kau memiliki kekasih, Kei." tanya Hinata sambil mengusap bibinya. Sasuke mendongak. Ia tak menyangka Hinata akan memanggilnya dengan panggilan yang berbeda.
Sasuke mengeleng seraya meneguk winenya. "Dia bukan kekasihku."
Hinata melirik wanita itu. "Apa ia tak pernah diajarkan tata krama?"
Sasuke menatap Hinata lurus-lurus. "Sudah kukatakan, ia bukan kekasihku. Abaikan dia."
Lengan Sasuke digoyangkan. "Kau jahat sekali, Suke. Kau tidak mengenalku padahal kita selalu bersama!" Sakura melingkarkan tangannya di leher Sasuke. "Kau mengatakan akan menikahiku, kan?"
Hinata tersedak wine. Ia menatap Sasuke tidak percaya. "Kau memiliki kekasih tak tahu aturan dan masih mengajakku. Betapa brengseknya kau."
Sasuke melepaskan rangkulan Sakura. Ia menggenggam tangan Hinata. "Aku bahkan tak mengenalnya, Nata."
Hinata menangkis tangan Sasuke. "Aku tak tahu kau sangat brengsek Sasuke." Hinata meraih tasnya dan beranjak pergi. "Ajari wanitamu itu bersikap di depan orang lain. Ia tampak tidak memiliki tata krama."
Sederik kemudian Hinata dapat merasakan rambutnya basah dan ia merasakan dingin di tubuhnya. Ia membuja mata dan tampaklah Sakura yang mengguyurnya dengan wine.
"Kurang ajar sekali kau. Berani-beraninya kau mengatakan aku tidak memiliki tata krama!" Sakura meletakkan botol wine di atas meja.
Hinata melangkah mendekati Sakura. Ia menatap datar Sakura yang membuat wanita itu bergidik. "Jika kau memiliki tata krama, pastikan tanganmu tidak licin saat melayani tamu."
"Beraninya!" Saat Sakura hendak menerkam Hinata, tabgannya dicengkram oleh Sasuke. Hinata melihat apa yang dilakukan Sasuke sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
Sasuke menghempaskan Sakura kasar. "Apa yang kau lakukan?! Aku bahkan tak pernah mengenalmu!"
Sakura menatap Sasuke berapi-api. "Kau mengajakku menikah! Mengajak Sakura Haruno untuk menikah, bukan?!"
Sasuke segera mengejar Hinata ia tidak peduli bahwa Sakura sangat kacau. Pintu lift tertutup dan akhirnya ia putuskan untuk turun dengan tangga darurat.
Hinata segera keluar dari lift. Ia berada di lantai satu. Ia tidak peduli bagaimana penampilannya. Ia merasa sangat kecewa. Ia menahan tangis sepanjang perjalanan keluar restoran. Ia berjalan ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi. Saat ia hendak menaiki taksi, ia ditarik dan pintu taksi tertutup. Ia langsubg bertabrakan dengan tubuh yang keras ia dapat mencium aroma yang kini membuatnya muak.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Ronta Hinata. Ia memukul dada bidang pria itu berkali-kali
Sasuke tetap memeluk Hinata erat. "Dengarkan aku, Hinata."
Hinata tidak dapat membendung tangis. Rasa kekecewaan dan malu melanda hatinya. Tidak seharusnya ia bahagia ketika Sasuke memperlakukannya begitu lembut dan penuh kasih. Kini ia dihadapkan oleh kenyataan yang membuat hatinya sakit.
"Lepaskan aku, Sasuke. Lepaskan..." Hinata sudah tidak memiliki tenaga untuk mengamuk. Ia merasa begitu tidak berdaya di bawah kurungan Sasuke.
"Dia bukan kekasih, tunangan, maupun istriku. Dia bukan siapa-siapa. Aku bahkan tidak tahu ia siapa. Dengarkan aku, Hinata."
Hinata menangis saat mendengar perkataan Sasuke. Ia tahu jika Sasuke selalu jujur kepadanya tapi ia tetap merasakan rasa sakit dan kecewa kala melihat Sasuke dianggap sangat istimewa oleh orang lain.
Sasuke melonggarkan rengkuhannya dan menatap Hinata dalam-dalam. "Bukankah aku telah berjanji untuk melindungimu sampai kapan pun?"
.
.
.
TBC
