Because Romeo Juliet Not My Destiny

.

.

.

"Kau tahu? Tadi itu sangat mengagumkan, aku bahkan tidak menyangka jika kekasihku yang melakukannya." Ucap seorang gadis dengan mata bulatnya yang berbinar.

Sedangkan seorang pemuda yang berada di sampingnya hanya diam dan sibuk melayani beberapa pelanggan yang sedang melakukan pembayaran dengan senyuman ramahnya.

"Bagaimana kau bisa seberani itu membelaku? Dan kenapa kau selalu datang di saat waktu yang tepat?" Tanya gadis itu pada si pemuda yang masih sibuk tersenyum ramah pada beberapa pelanggan.

Kyungsoo, gadis itu terus saja menatap pemuda yang berada di depannya dengan kagum.

"Bukankah aku sangat beruntung karena memilikimu?" Tanya Kyungsoo yang kini mulai memiringkan kepalanya menatap pemuda itu.

Pemuda yang telah selesai melayani para pelanggan yang datang itu akhirnya menatap kekasihnya dan tersenyum pada gadis itu. Senyuman tulus syarat akan perasaan sayangnya pada gadis itu. Senyuman berbeda yang tak akan ditemui oleh siapapun kecuali bersama gadis itu.

Jongin, pemuda itu mulai mendekatkan kepalanya kepada gadis itu hingga hembusan nafas satu sama lainnya dapat mereka rasakan.

"Bukankah seharusnya anda duduk tenang di sana nona Do?" Tanya Jongin dengan senyumannya.

Sejujurnya Jongin benar-benar gemas dengan gadis itu karena sejak dari tadi ia selalu mengoceh tentang kejadian dimana dirinya membela gadis itu. Tentu saja hal tersebut sedikit mengganggu Jongin dalam bekerja.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan semakin melebarkan senyumannya.

"Bagaimana kalau kau mengajakku kencan? Mungkin aku akan diam sekarang." Jawab Kyungsoo dengan santainya.

Jongin semakin menyunggingkan senyumannya dan disertai gelengan kepalanya.

"Aku akan mentraktirmu!" Ucap Kyungsoo dengan sedikit paksaan.

"Tidak." Jawab Jongin dengan menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu, aku akan datang ke rumahmu?" Tawar Kyungsoo lagi.

"Tidak." Tolak Jongin dengan senyuman yang semakin menggembang di wajahnya.

"Aku memaksamu!" Pinta Kyungsoo dengan nada tegasnya.

Jongin semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo hingga jika mereka bergerak sedikit saja maka bibir keduanya akan bersentuhan.

"Kau harus belajar nona Do." Ingat Jongin dengan senyuman yang masih melekat pada wajah tampannya.

"Tidak mau!" Tolak Kyungsoo tegas dengan menjauhkan kepalanya.

"Aku sudah muak melihat tulisan itu, lagipula aku ini sudah pintar bahkan mungkin jenius jadi aku tak perlu belajar lagi. Dan kau harus menuruti apa perkataanku karena..."

Tiba-tiba saja perkataan Kyungsoo tersebut terhenti saat bibir Jongin terasa begitu nyata menempel pada bibir berbentuk hatinya itu.

Tentu saja Kyungsoo merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Jongin. Bahkan saat bibir Jongin sudah tak berada di sana Kyungsoo masih saja terdiam mematung saking terkejutnya.

"Hari minggu jam sembilan aku akan menunggumu di tempat biasa." Ucap Jongin yang berhasil menyadarkan Kyungsoo.

"Ya?!" Tanya Kyungsoo yang tersadar dari keterkejutannya.

"Pulanglah." Pinta Jongin dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Entah mengapa melihat Kyungsoo terkejut seperti itu membuat Jongin merasa semakin gemas dengan gadis di depannya itu.

Kyungsoo yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya menuju keluar cafe tersebut. Terlihat beberapa kali Kyungsoo menepuk pipinya sendiri. Dan tentu saja hal itu membuat Jongin semakin menyunggingkan senyumannya.

"Dia selalu terlihat imut." Ucap Jongin dengan senyuman yang mungkin jika orang lain melihatnya maka mereka akan menganggapnya orang gila.

.

.

.

Seorang gadis tampak menggeliat di atas tempat tidurnya. Ia segera mendudukkan dirinya dan tersenyum senang dengan mata yang masih terpejam.

Menurutnya hari ini adalah hari yang akan menyenangkan. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke arah samping dimana jendela berada.

"Selamat pagi..." Ucapnya yang kini membuka gorden jendelanya dan tersenyum senang.

Setelahnya ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Senyuman bahagia terus terpancar pada wajah cantiknya.

Kini ia telah menyelesaikan acara mandinya, dengan sigap ia segera membuka lemarinya dengan handuk yang masih melilit pada tubuh mungilnya.

"Baiklah apa yang harus ku kenakan untuk hari istimewa ini?" Tanya gadis itu dengan menatap pakaiannya yang tergantung di dalam lemarinya itu.

Ia tampak sibuk memilah-milah baju yang akan ia kenakan bahkan ia tak segan-segan mengeluarkannya dan membuangnya di atas tempat tidur jika baju itu tak cocok dengannya.

"Aku sudah pernah memakainya saat kencan minggu lalu." Ucapnya dengan melihat cermin dan kini ia tengah menempelkan sebuah dress berwarna peach pada tubuhnya.

Lama ia mengobrak-abrik seluruh isi lemarinya akhirnya ia menemukan pakaian apa yang cocok untuk ia gunakan.

.

.

.

Jongin terduduk di bangku taman dekat rumah Kyungsoo. Dengan pakaian casualnya, ia mengenakan celana jeans dan sweater berwarna putih yang dipadukan dengan kemeja flanel yang berbentuk jaket berwarna merah serta sepatu berwarna putih.

"Jongin!" Panggil Kyungsoo yang baru saja datang.

Jongin mengalihkan pandangannya ke arah dimana Kyungsoo saat ini berada. Perlahan-lahan gadis itu mulai mendekatinya. Jongin benar-benar dibuat terpana akan penampilan Kyungsoo.

Kyungsoo terlihat begitu cantik dengan dress putih lima centi di atas lutut dengan perpaduan cardigan berwarna gray dan sepatu yang senada dengan warna sepatu Jongin terlebih lagi rambut panjangnya yang digerai hingga menyentuh punggungnya, serta poni depannya yang sebatas alis mata membuatnya terlihat manis.

Jongin tersenyum lebar saat melihat kekasihnya itu semakin mendekat padanya.

"Apa kau lama menungguku?" Tanya Kyungsoo yang merasa tak enak hati pada Jongin.

Jongin hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Kyungsoo.

"Ayo..." Ajak Jongin dengan menggenggam erat tangan Kyungsoo.

"Kemana?" Tanya Kyungsoo yang penasaran.

Jongin hanya menjawab pertanyaan itu dengan senyumannya. Ia segera berjalan dengan menggendeng erat Kyungsoo menuju halte bus terdekat.

Kyungsoo terus saja memandangi Jongin yang kini duduk di sampingnya. Mereka kini sudah berada di dalam bus, seperti biasa Kyungsoo yang duduk di samping jendela dan Jongin duduk di sampingnya.

Dengan tangan yang saling bertautan mereka duduk dengan tenang. Kyungsoo menatap tangan mereka yang saling bertautan. Ia dapat merasakan tangan kasar itu bersentuhan dengan tangan lembutnya.

Ia sedikit merasa kasihan pada pemuda itu karena terkadang demi bisa berkencan dengan dirinya, pemuda itu rela mencari pekerjaan tambahan selain mengandalkan pekerjaan paruh waktunya setelah sekolah.

Dan saat Kyungsoo menawari akan mentraktirnya maka dengan tegas Jongin akan menolaknya. Ia selalu berkata jika itu adalah kewajibannya karena kebahagiaan Kyungsoo juga merupakan kebahagiaannya.

Kyungsoo selalu tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh Jongin. Walaupun kelihatannya pemuda itu terkesan cuek dan acuh tapi percayalah ia akan perhatian dan hangat jika bersama dengan Kyungsoo.

Kyungsoo melepas tautan tangan mereka hingga membuat Jongin menatapnya bingung. Ia tersenyum lalu memegang tangan Jongin dan mengusapnya.

"Lihatlah, tanganmu sangat kasar." Kata Kyungsoo sambil mengusap telapak tangan Jongin.

"Apa tanganku menyakitimu?" Tanya Jongin.

Kyungsoo segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Jongin.

"Ini hangat." Jawab Kyungsoo yang kembali menautkan tangannya pada tangan Jongin dengan erat.

Jongin yang mendengar penuturan Kyungsoo itu akhirnya ikut tersenyum.

.

.

"Kenapa kita kemari?" Tanya Kyungsoo menatap sebuah tempat di depannya.

Mereka kini sudah berada di depan sebuah taman hiburan dan Kyungsoo yakin jika mereka masuk ke dalam sana pasti tiketnya mahal terlebih lagi jika nanti mereka membeli sesuatu di dalam sana.

"Tentu saja untuk kencan." Jawab Jongin dengan senyuman santainya.

"Tidak, tidak, ini namanya pemborosan ayo kita cari tempat lain." Ucap Kyungsoo yang berbalik dan melangkah pergi dari sana.

"Baiklah kalau begitu kita pulang saja." Jawab Jongin dengan melirik Kyungsoo.

Kyungsoo yang mendengar itu segera berbalik lagi mendekati Jongin.

"Ayo kita masuk!" Ucap Kyungsoo dengan nada kesalnya.

Sedangkan Jongin yang melihat itu hanya tersenyum senang dan mengikuti langkah gadisnya itu.

Ia sangat tahu jika Kyungsoo pasti khawatir dengan uangnya yang akan habis jika hanya digunakan untuk berkencan atau membelikan Kyungsoo barang yang diinginkan. Tapi baginya ia akan melakukan apapun demi Kyungsoonya.

Dengan tangan yang saling bertautan erat sepasang kekasih itu melangkah ke dalam taman hiburan tersebut.

Raut bahagia terpancar dari wajah Kyungsoo maupun Jongin. Mereka begitu menikmati setiap waktu mereka bersama hingga tak terasa sang mentari sudah tertidur dan digantikan oleh sinar rembulan yang bertabur bintang.

"Satu lagi!" Seru Kyungsoo dengan semangatnya.

Jongin sendiri kini memfokuskan dirinya untuk melempar bola yang berada di tangannya mencoba memperkirakan lemparannya agar sasarannya yang berupa kaleng itu terjatuh.

"Yes!" Seru Kyungsoo kegirangan karena lemparan Jongin tepat mengenai sasaran.

Ia terlihat sangat senang saat melihat sebuah boneka beruang berwarna cokelat diberikan pada Jongin.

Dan dengan cepat Jongin memberikan boneka tersebut kepada Kyungsoo.

"Terima kasih." Ucap Kyungsoo yang segera memeluk boneka tersebut.

"Kau senang?" Tanya Jongin dengan senyumannya.

Kyungsoo hanya menjawab pertanyaan Jongin dengan anggukan tanpa mengalihkan pandangannya pada boneka tersebut.

Jongin merasa udara semakin terasa dingin dan hari sudah menggelap, yang artinya ia harus membawa Kyungsoo pulang ke kediamannya.

Jongin melepas jaketnya dan memakaikannya pada Kyungsoo agar gadis itu tidak merasa kedinginan bahkan ia juga memakaikan penutup kepala yang terdapat pada jaket tersebut hingga membuat Kyungsoo terlihat lebih imut dan manis, terlebih lagi ukuran jaket tersebut yang kebesaran saat dipakai oleh Kyungsoo.

"Ayo kita pulang." Kata Jongin dengan menggandeng Kyungsoo.

Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Jongin.

.

.

.

"Masuklah." Suruh Jongin saat ia sudah berada di depan kediaman Kyungsoo.

Kyungsoo menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Jongin. tanpa diduga-duga dengan beraninya Kyungsoo mengecup bibir Jongin dan berlalu pergi untuk masuk ke dalam rumah.

Jongin yang mendapat perlakuan seperti itu dari Kyungsoo hanya tersenyum dan menatap gadis itu hingga menghilang di balik pintu.

Saat Jongin akan berbalik dan hendak pergi dari sana, tiba-tiba saja sebuah air mengguyur badan Jongin hingga membuatnya basah kuyup.

Awalnya Jongin kira air itu adalah hujan namun saat ia mendongak langit terlihat baik-baik saja dan tidak terlihat ada mendung di sana. Hingga akhirnya ia tahu jika itu adalah perbuatan dari ibu Kyungsoo yang menyalakan selang untuk menyirami tanaman di sana.

"Sudah ku katakan jangan pernah mendekati Kyungsoo! Apa kau tidak mengerti juga?!" Marah wanita paruh baya itu.

Jongin hanya diam dan membungkukkan badannya tanpa berkata sepatah katapun.

"Eomma!" Seru Kyungsoo yang segera menghampiri Jongin.

Jongin yang mendengar suara gadis itu akhirnya mendongak menatap Kyungsoo yang berlari ke arahnya.

"Kenapa eomma selalu memperlakukan Jongin seperti ini?" Tanya Kyungsoo.

"Karena dia selalu berusaha mendekatimu." Jawab wanita itu dengan santainya.

"Apa salahnya jika Jongin mendekatiku? Lagipula aku juga menyukainya bahkan aku mencintainya." Kata Kyungsoo.

"Tidak, tapi aku sangat mencintainya!" Lanjut Kyungsoo dengan tegas.

Entah kenapa dalam keadaan seperti ini Jongin justru bungkam tak mengatakan sepatah kata apapun.

Sedangkan wanita paruh baya itu menggeram marah saat melihat Kyungsoo membela Jongin.

"Cepat masuk!" Suruh wanita itu.

Kyungsoo segera menggelengkan kepalanya menolak perintah sang ibunya.

"Kyungsoo! Cepat masuk atau apa perlu aku memaksamu?!" Perintah wanita itu lagi.

Kyungsoo kembali menggelengkan kepalanya menolak perintah ibunya.

Jongin yang melihat itu hanya menggenggam tangan Kyungsoo dan memberikan isyarat kepadanya agar ia menuruti perintah ibunya.

Kyungsoo menatap Jongin dengan tatapan tak relanya. Namun sebaliknya, Jongin justru tersenyum dan meyakinkan Kyungsoo agar ia masuk ke dalam rumahnya.

Dengan terpaksa Kyungsoo harus kembali masuk ke dalam rumahnya dan membiarkan Jongin yang basah kuyup di sana. Jongin hanya tersenyum saat sesekali Kyungsoo menolehkan kepalanya untuk melihat Jongin.

"Katakan berapa yang kau inginkan? Aku akan memberikannya." Tanya wanita itu dengan angkuhnya.

Jongin masih tersenyum dan menatap wanita itu.

"Maafkan saya nyoya, saya sama sekali tidak menginginkan uang anda. Yang saya inginkan hanya satu yaitu anda merestui hubungan saya dengan Kyungsoo itu saja sudah cukup untuk saya." Jawab Jongin dengan tenangnya bahkan senyumannya semakin mengembang.

Wanita itu justru tersenyum meremehkan saat mendengar jawaban dari Jongin.

"Aku hanya memiliki satu putri, dan dia adalah Kyungsoo. Tapi kau dengan lancangnya meminta izinku untuk merestui hubungan kalian?" Tanya wanita itu yang menatap Jongin dengan tatapan tak percayanya.

"Aku tidak menyangka kau seserakah itu." Lanjut wanita itu.

"Saya benar..."

"Mulai sekarang jangan dekati Kyungsoo lagi atau kau akan tahu sendiri akibatnya!" Sela wanita itu dengan mengancam Jongin.

Jongin terdiam menatap wanita itu yang kembali ke dalam kediamannya. Ia menatap sendu rumah megah itu dan tersenyum pilu.

.

.

.

TBC

.

'Dongvil'