"Baiklah tuan muda Guanlin." Minhyun menyamankan posisi duduknya. "Jika sebelumnya kau tidak percaya dengan love at first sight, sekarang kau harus bisa mempercayainya. Karena apa yang kau alami sekarang adalah tanda-tanda bahwa kau sedang jatuh cinta."
"Darimana hyung tau?" Guanlin berusaha untuk menyembunyikan rasa gugupnya dengan kembali memunculkan ekspresi stoic di wajahnya.
"Aku bisa melihatnya dari wajahmu Guanlin, nada bicaramu, juga tatapan matamu." Minhyun kembali tersenyum.
"Kau sedang jatuh cinta kepada seseorang"
.
.
.
Critical Beauty
Chapter 3
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T (M for future chapter)
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
Malam ini adalah malam Minggu, malam dimana orang-orang menghabiskan waktu di luar bersama teman, keluarga, atau kekasih mereka untuk sekedar melepas penat dari rutinitas yang mereka lakukan.
Cuaca cukup cerah malam ini, tidak mendung ataupun hujan seperti sabtu pada minggu-minggu sebelumnya. Mungkin para 'tuna pasangan' di luar sana sedang baik hati untuk tidak mendoakan agar sabtu malam ini turun hujan.
Karena turun hujan disaat Saturday night itu benar-benar menyebalkan.
Terlepas dari hujan tidaknya malam ini, dua orang pria di tempat yang berbeda sedang saling memikirkan satu sama lain. Keduanya sama-sama tidak fokus dengan kegiatan yang sedang mereka lakukan. Kepala mereka tengah dibayangi oleh kejadian tadi siang di toko buku.
.
.
~Buttermints~
.
.
Sejak tadi Guanlin hanya membolak balikkan halaman buku Inferno yang baru saja dibelinya. Rencananya untuk berkencan dengan bukunya itu mendadak sirna setelah ia mengalami kejadian tadi siang.
Bayangan mata berwarna coklat tua serta senyuman manis milik pemuda penjaga toko itu terus terbayang di kepalanya. Hal itu membuatnya hampir seratus persen menghancurkan rencananya malam ini. Selain itu perkataan Minhyun tadi siang juga membuat dirinya kehilangan konsentrasi untuk mencerna setiap kalimat yang ada di dalam buku.
"Berhenti memikirkannya Guanlin." Gumamnya seraya menggelengkan kepalanya pelan dan memperbaiki posisi duduknya di atas ranjang. Ia pun kembali memulai kegiatan membacanya yang tertunda sejak tadi.
Tidak ada suara apapun di ruangan itu, hanya sesekali terdengar suara lembaran kertas yang terbuka. Ketika Guanlin membuka lembar kertas ke empat, tiba-tiba muncul wajah Seonho dengan senyum manisnya. Dia terperanjat kemudian langsung menutup bukunya dan meletakkannya di meja nakas bersamaan dengan kacamata bacanya.
Ia kemudian melangkahkan kakinya turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamarnya.
"Sepertinya aku butuh air dingin..."
.
.
~Buttermints~
.
.
"Yoo Seonho! Omeletmu gosong!" Pekik seorang pria berwajah cantik tepat di sebelah telinga Seonho.
Seonho yang dari tadi sibuk melamun segera tersadar mendengar suara melengking di dekat telinganya, kemudian ia menoleh dan mendapati hyung cantiknya yang sedang memelototkan mata.
"Minki hyung! Aish! Suaramu bisa membuat telingaku tuli!" ucapnya seraya mengusap-ngusap telinganya.
"Jangan berteriak padaku dan segera bereskan omelet gosong itu." Jawab pria bernama Minki itu seraya memukul pelan kepala Seonho menggunakan sendok.
"Akk!"
Seonho memekik pelan seraya memegangi kepalanya yang baru saja mendapatkan ciuman manis dari sebuah sendok. Setelah itu bibirnya mulai mengerucut karena kesal.
"Kutunggu di meja makan, mengerti?"
Pria yang tengah mengerucutkan bibirnya itu hanya mengangguk. Minki tertawa melihat ekspresi menggemaskan adiknya itu, ia pun pergi meninggalkan dapur setelah sempat mengabadikan wajah Seonho dengan ponselnya.
"Dasar hyung tidak tau diri, kenapa orang sebaik Jonghyun hyung bisa mau dengan pria galak seperti dia." Gerutu Seonho seraya membereskan hasil masakannya yang sudah tak layak makan itu.
Jujur saja seharian ini wajah Guanlin selalu muncul di kepalanya. Suaranya yang berat terus terulang di telinganya seperti lagu yang di putar berkali-kali. Tubuhnya yang tinggi dan ramping menyerupai sosok pangeran, benar-benar sempurna. Semua itu membuatnya tidak bisa fokus. Wajah Guanlin muncul dimana-mana, bahkan saat dia di kamar mandi sekalipun.
'Tunggu, apa hubungannya Guanlin dengan kamar mandi?'
Seonho bertanya pada dirinya sendiri, sedetik kemudian rona merah mulai menjalari wajahnya. Kemudian ia menggeleng-gelengkan cepat kepalanya.
"Berhenti Yoo Seonho, ibumu tidak pernah mengajarimu untuk berpikiran seperti itu!" gumamnya seraya memegang kedua pipinya yang masih terlihat memerah.
Tiba-tiba terdengar suara terikan yang berasal dari ruang makan. "Makanan akan habis dalam lima menit!"
"Hyung! Jangan coba-coba!" Seonho segera menanggalkan celemeknya kemudian berlari ke ruang makan.
Sebenarnya apa hubungan antara Guanlin dengan kamar mandi? Sudahlah, biarkan Seonho seorang saja yang tahu.
.
.
~Buttermints~
.
.
Weekend berlalu begitu cepat, tidak terasa hari sudah kembali menjadi Senin. Semua orang kembali menjalani rutinitas mereka masing-masing. Tak terkecuali siswa 101 International School yang mulai memadati area sekolah, bersiap-siap untuk kembali menjalani kodrat mereka sebagai pelajar.
Diantara siswa-siswa yang berlalu lalang itu, terlihat sekelompok siswa berjalan memasuki kawasan sekolah. Kehadiran mereka seakan-akan membuat orang-orang di sekitarnya diam mematung di tempat seraya memperhatikan mereka yang sedang berjalan, dengan tatapan memuja.
Siapa lagi jika bukan Prince Corp, sekumpulan pria berwajah tampan yang menyandang predikat flower boy di sekolah itu.
Tampak Guanlin yang berjalan bersebelahan dengan Hyungseob, kemudian pasangan Jinyoung dan Jihoon, disusul Euiwoong yang bersebelahan dengan Kenta, dan yang terakhir pasangan fenomenal satu sekolah, Samuel dan Daehwi, yang terlihat sedang ribut karena Samuel yang sibuk memberikan kedipan mata pada orang-orang yang menyapanya sementara Daehwi sibuk menarik tangan Samuel agar bisa cepat pergi dari situ.
"Apa kalian tidak bisa akur untuk sehari saja?! Aish!" Ucap Kenta seraya memelototkan matanya kearah Daehwi dan Samuel.
Daehwi mengerucutkan bibirnya. "Samuel genit dengan orang lain, mana bisa aku diam saja"
"Jangan mengerucutkan bibirmu seperti itu babe, nanti aku lepas kontrol."
Samuel menyeringai dengan tangan yang sudah bertengger di pinggang Daehwi. Mata Daehwi membola merasakan gelagat Samuel yang mulai aneh, lalu berusaha membebaskan diri dari dekapan Samuel.
Sementara pasangan itu sibuk dengan kegiatan 'tarik-menarik'nya, yang lain hanya memutar bola mata mereka malas dan bergegas meninggalkan dua sejoli itu menuju kelas mereka masing-masing.
"Demi dewa, kenapa aku bisa tahan berteman dengan mereka berdua." ucap Jihoon seraya mengamit lengan Jinyoung di sebelahnya.
"Mungkin karena kau sejenis dengan Daehwi. Bukankah kalian sudah menjadi teman dari lama, bahkan saat masih sama-sama memakai popok." Ujar Jinyoung santai.
"Oh, jadi aku sama berlebihannya dengan Daehwi? Begitu?"
Tanpa sadar Jinyoung mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah sang kekasih yang sudah menampakkan wajah kesal. Melihat Jinyoung menganggukkan kepalanya, Jihoon segera menghempaskan lengan Jinyoung yang semula dia peluk.
Merasa lengannya dihempaskan, sontak Jinyoung menoleh ke arah sang kekasih.
"Jihoonie kena–, Oh shit." Seketika Jinyoung terpaku melihat ekspresi wajah Jihoon yang berubah masam.
'Sepertinya aku salah bicara'
"Mulai hari ini kucoret kau dari daftar calon anggota keluargaku!"
Setelah mengucapkan kalimat maut –bagi Jinyoung– itu, Jihoon segera pergi meninggalkan Jinyoung yang diam ditempat dengan mulut menganga.
Sedetik kemudian Jinyoung mengejar Jihoon yang sudah jauh darinya. "Jihoonie! Aku tidak bermaksud begitu!"
Jadilah adegan saling mengejar seperti di film-film Bollywood yang sering diputar di stasiun televisi, sementara yang lain berusaha untuk tidak melihat adegan dramatis itu. Hal seperti itu bukanlah hal yang baru bagi mereka.
"Sepertinya kita tidak perlu ke bioskop lagi untuk menonton film romance." Celetuk Hyungseob seraya tertawa.
Tiga orang pria yang masih tersisa disitu hanya tertawa mendengar celetukan Hyungseob seraya kembali melangkahkan kaki menuju kelas.
"Bagaimana jika sepulang sekolah nanti kita mampir sebentar ke Cocoa Cafe? Aku yang traktir." Ujar Euiwoong dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Kenta dan Hyungseob kompak menganggukkan kepalanya dengan semangat, kecuali Guanlin yang tidak merespon pembicaraan Euiwoong. Melihat Guanlin tidak merespon, Euiwoong mendesah sebal karena merasa diabaikan.
"Guanlin, kau ikut tidak?"
Tersadar bahwa Euiwoong berbicara padanya, Guanlin sontak menoleh ke arah Euiwoong.
"Aku–"
"Hey! Yoo Seonho! Ponselmu masih ada padaku!"
Suara teriakan seseorang dari persimpangan lorong membuat Guanlin menghentikan bicaranya. Kepalanya seketika menoleh ke asal suara tersebut. Tampak seorang pria berdiri seraya mengacung-acungkan sebuah ponsel.
'Yoo Seonho? Kenapa namanya bisa sama dengan pria yang kutemui di toko buku itu? Apakah dia juga siswa sekolah ini?'
Guanlin diam mematung dengan tatapan yang masih mengarah ke persimpangan lorong itu. Dia ingin memastikan apakah pria itu memang benar pria manis yang ditemuinya waktu itu. Tapi tidak ada orang lain yang muncul sampai pria yang memegang ponsel itu akhirnya kembali masuk kelas.
"Hello... Lai Guanlin"
Terlihat ketiga teman yang masih bersamanya itu mengibas-ngibaskan tangan mereka masing-masing tepat di depan wajahnya. Guanlin segera tersadar seraya menggelengkan kepalanya pelan.
KRINGGG–
"Ah, sudah bel, aku masuk kelas dulu"
Pria tinggi itu kemudian melangkah menuju kelas yang tinggal beberapa meter saja dari tempatnya berdiri meninggalkan teman-temannya yang masih melongo di tempat.
Hyungseob menyikut pelan perut Euiwoong. "Ada apa dengannya?"
Euiwoong hanya mengangkat bahu pertanda ia tidak tahu sebab sahabatnya bertingkah aneh seperti itu. "Sudahlah sebaiknya kita cepat masuk kelas saja, hari ini jam pertama dimulai oleh Mr Lee."
Mendengar penuturan Euiwong, mereka bergegas menyusul Guanlin masuk kelas. Siapa yang berani melawan Mr Lee yang terkenal galak seantero sekolah itu.
Sepertinya tidak ada.
.
.
~Buttermints~
.
.
Seonho berhasil masuk kelas dengan penampilan yang sedikit berantakan, terang saja dia berlari dari kelas di ujung lorong menuju kelasnya. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena ia takut terlambat masuk kelas, ia terpaksa berlari mengabaikan Seungwoo yang memanggilnya.
Dengan nafas yang masih belum teratur, Seonho merupakan penampilannya yang berantakan itu kemudian mengelap keringatdi wajahnya dengan sapu tangan.
"Jika bukan karena Seongwoo yang menahan dan menginterogasiku di tengah jalan, aku tidak perlu berlari seperti tadi."
Gumaman-gumaman bernada kesal terlontar dari bibirnya, sesekali bibirnya mengerucut sebal mengingat kejadian tadi. Orang-orang di sekitar Seonho mulai memperhatikan tingkahnya yang sedang menggumam tidak jelas.
"Ya, hentikan gumaman tidak jelasmu itu. Suaramu membuat telingaku jadi tidak nyaman."
Sungut seorang gadis yang kebetulan duduk di seberang meja Seonho. Mendengar protes yang dilayangkan padanya, Seonho seketika menghentikan kegiatan marah-marahnya. Dia hanya menunduk tanpa berniat membalas.
"Ada apa lagi dengannya Somi?" Ucap seorang gadis yang baru saja duduk di sebelah Somi.
"Si nerdy itu menggerutu sejak tadi, aku jadi tidak bisa konsentrasi." Gerutunya seraya kembali memainkan ponsel.
Gadis itu ikut memperhatikan konten yang sedang dilihat Somi di ponselnya. "Sejak kapan memandang foto Guanlin di media sosialnya membutuhkan konsentrasi?"
Somi segera menutup layar ponselnya dengan telapak tangan. "Kim Sejeong! Berhenti mengintip!"
Dua gadis itu kemudian mulai memperdebatkan sosok pangeran sekolah bernama Guanlin. Seonho memutar mata yang untungnya sedikit tersamarkan di balik kacamata tebalnya.
'Dasar wanita, selalu meributkan yang tidak penting.'
Sungut Seonho seraya memandang keluar jendela yang berhadapan langsung dengan lapangan basket.
'Ah bukannya hari ini kelas Guanlin ada jam olahraga? Kalau begitu aku bisa melihatnya dari sini.'
Setelahnya Seonho mulai larut dalam lamunannya sampai terdengar salam sapaan dari guru yang baru saja masuk ke kelasnya.
.
.
~Buttermints~
.
.
KRINGGG
Bel kembali berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran pertama sudah berakhir sekaligus tanda pergantian jam pelajaran. Seonho membereskan buku-bukunya sekaligus menyiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya.
"Yoo Seonho, tolong bawakan buku-buku ini ke ruang guru." Panggil Mrs. Woo.
Mendengar namanya dipanggil, Seonho segera menghampiri meja Mrs Woo kemudian mengangkat buku-buku yang beratnya lumayan itu.
"Letakkan di mejaku, hati-hati membawanya." Ucapnya seraya berjalan mendahului Seonho.
Seonho mengangguk kemudian mengikuti Mrs Kim. Jujur saja Seonho merasa buku-buku itu sedikit berat di tangannya, ia memutuskan untuk berjalan pelan-pelan saja karena takut menjatuhkan buku-bukunya.
Untuk sampai ke ruang guru, Seonho harus sedikit memutari lapangan basket. Sungguh sekolahnya itu sangat luas, jadi untuk pindah dari satu gedung ke gedung yang lain harus menempuh jarak yang cukup jauh dan melelahkan.
"Kurasa aku akan memotong jalan saja dengan menyebrangi lapangan basket, kurasa tak apa jika aku berjalan di pinggir lapangan."
Pria berkacamata itu bergumam seraya melanjutkan langkahnya. Lapangan itu tampak sudah diisi oleh beberapa siswa yang sedang bermain basket untuk sekedar menunggu kedatangan guru mereka.
Terdengar suara teriakan dari beberapa siswa yang sedang menonton permainan basket itu. Terang saja mereka begitu senang, disana ada Guanlin dan teman-temannya. Beberapa dari mereka mengabadikan momen siswa-siswa tampa yang sedang berkeringat itu menggunakan ponsel masing-masing.
"Kenta!" Guanlin mengoper bola kepada Kenta yang diterima langsung olehnya, kemudian dibawanya bola itu ke depan, mendekati ring.
Guanlin berlari menyusul Kenta, kemudian memberikan kode kepadanya untuk mengoperkan bola itu.
Melihat posisi menguntungkan Guanlin, Kenta mengoper bola itu kepada Guanlin, yang kemudian bola itu dilemparkan dengan kuat ke arah ring. Sayangnya bola keras itu meleset melewati papan ring dan mengarah pada seorang siswa yang sedang berjalan melewati lapangan basket.
"HEY! AWAS!"
Terdengar teriakan dari arah lapangan, Seonho anak yang berjalan itu menoleh pada asal suara dari tengah lapangan seraya menghentikan langkahnya.
BUGH
Kemudian terdengar teriakan banyak orang, suara buku yang berjatuhan, kemudian semuanya menjadi gelap.
.
.
.
TBC
.
.
.
Kembali lagi dengan Buttermints~~.
Syukur ide lagi lancar dan lagi senggang jadi bisa update cepat, jadi readers nggak terlalu lama nunggu hehehe.
Aku nggak bosen-bosennya ngucapin terimakasih buat yang udah follow, favorite, dan review FF ini.
Untuk Chapter yang kemarin ada readers yang ngoreksi beberapa kata yang salah, terimakasih karena sudah diingatkan dan kuusahakan buat segera edit kata-kata yang salah itu.
Tunggu terus kelanjutan ceritanya yaa
Aku tunggu review dari kalian :*
Love
~Buttermints~
