Melihat posisi menguntungkan Guanlin, Kenta mengoper bola itu kepada Guanlin, yang kemudian bola itu dilemparkan dengan kuat ke arah ring. Sayangnya bola keras itu meleset melewati papan ring dan mengarah pada seorang siswa yang sedang berjalan melewati lapangan basket.
"HEY! AWAS!"
Terdengar teriakan dari arah lapangan, Seonhoanak yang berjalan itu menoleh pada asal suara dari tengah lapangan seraya menghentikan langkahnya.
BUGH
Kemudian terdengar teriakan banyak orang, suara buku yang berjatuhan, kemudian semuanya menjadi gelap.
Critical Beauty
Chapter 4
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T (M for future chapter)
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
Siang itu ruang UKS yang biasanya sepi mendadak ramai. Ramai karena seorang siswa bersurai hitam tengah melontarkan omelan kepada seorang siswa lain yang ada di ruangan itu. Siswa yang mengaku sahabat dari Seonho itu terlihat bicara dengan kedua tangan yang bertengger di pinggangnya. Sesekali tangannya menunjuk-nunjuk kearah siswa yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Kau harus tanggung jawab Lai Guanlin! Bagaimana jika sahabatku mendadak amnesia karena lemparan bola laknatmu itu!"
"Tenanglah Ongie, kau ini sedang berada di UKS." Ucap siswa bermata sipit yang sedang sibuk membereskan obat-obatan yang sudah selesai dipakai.
Sekali lagi Guanlin membungkuk seraya mengucapkan permintaan maaf pada orang yang dipanggil Ong itu. Meski ia menganggap kata-kata Ong ini sedikit berlebihan, bagaimanapun juga hal tadi adalah murni kesalahannya.
Siswa bernama lengkap Ong Seongwoo itu mendengus melihat permintaan Guanlin yang menurutnya belum sepadan dengan perbuatan yang dilakukannya. Berani-beraninya dia melukai Seonho, teman kesayangannya.
"Pertama, kau harus mengganti kacamatanya yang retak. Penglihatannya sangat buruk, dia tidak akan bisa beraktivitas tanpa kacamatanya."
"Akan kuganti." Jawab Guanlin.
"Bagus. Kedua, urus ijin tidak masuk kelas Seonho untuk setiap pelajaran yang terjadwal hari ini."
"Kenta dan Hyungseob sedang mengurusnya. Sebentarlagi mereka menyusul kemari." Guanlin kembali menjawab.
Seongwoo kemudian melipat tangan di depan dadanya. "Good. Jangan sampai ada satu pun simbol 'A' di absensinya. Kau bisa jamin itu?"
"Kau bisa pegang kata-kataku." Pria tampan itu tersenyum meyakinkan.
Tiba-tiba pintu UKS terbuka, terlihat dua sosok pria berseragam olahraga memasuki ruangan itu. Sontak semua mata yang ada di ruangan itu menoleh ke arah pintu, kecuali Seonho yang masih terbaring pingsan di ranjang UKS yang dibatasi tirai.
"Kami sudah mengurus semuanya– ah, bukankah kau Park Woojin?"
Hyungseob mengganti topik pembicaraan secara tiba-tiba setelah melihat sosok pria bermata sipit yang sedang tersenyum padanya.
"Ya, aku Park Woojin, kau Ahn Hyungseob kan?" Tanya Woojin, masih dengan senyum di wajahnya.
Seketika Hyungseob ikut mengembangkan senyumnya. "Ah tak kusangka kita akan– aduh!"
Hyungseob mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit, ia menoleh ke arah si pelaku yang sedang melotot kearahnya.
"Kita kemari untuk melapor Hyungseob, bukan untuk flirting dengan penjaga UKS." Sungut Kenta seraya menyimpan kembali ponselnya.
Guanlin hanya bisa tersenyum menahan tawa melihat tingkah kedua temannya itu. Ia kemudian kembali merapikan duduknya.
"Jadi bagaimana? Semuanya sudah selesai?"
Pria Jepang itu menganggukkan kepalanya. "Sudah beres, tadi kami berdua dibantu oleh Mrs. Min yang kebetulan melihat insiden di lapangan."
"Syukurlah, terimakasih kalian berdua."
Akhirnya Guanlin bisa bernapas lega meski tanggung jawabnya belum terpenuhi selurhnya, namun setidaknya salah satu tugasnya sudah selesai.
Kemudian ruangan itu kembali senyap, mereka masih menunggu sang korban terbangun. Raut wajah Seongwoo mulai terlihat khawatir karena sahabat kecilnya belum juga siuman. Dia takut terjadi sesuatu yang serius pada Seonho karena beberapa orang di lapangan mengatakan jika bola basket itu membentur kepala Seonho dengan cukup keras.
'Ya tuhan, semoga tidak terjadi sesuatu padanya'
.
.
~Buttermints~
.
.
Hal pertama yang Seonho rasakan ketika baru saja kembali ke alam sadarnya adalah denyutan dibagian kepalanya. Kepalanya terasa berat dan ia merasa sulit membuka matanya. Yang dia ingat hanya teriakan orang-orang ketika dia sedang menyebrangi lapangan basket dengan membawa buku, setelah itu ia tidak ingat apapun.
'Kenapa sepi sekali?Ah, kepalaku..'
Seonho memegangi kepalanya seraya mencoba untuk mendudukkan dirinya. Matanya mulai terbuka, mengerjap-ngerjap untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang mulai memasuki matanya.
Matanya menyipit, ia merasa daerah sekitarnya menjadi buram. Tangannya kemudian meraba daerah sekitar wajahnya.
'Pantas saja, kacamataku hilang lagi.'
Ia mulai meraba-raba daerah sekitarnya, sedetik kemudian denyutan menyakitkan di kepalanya datang lagi.
"Ah!"
Suara pekikan terdengar di ruangan itu, disusul suara tirai pembatas yang dibuka dengan paksa, kemudian Seonho merasa ada seseorang yang memeluknya.
"Kau tidak apa-apa?! Ya tuhan... kau pingsan lebih dari satu jam."
Tunggu, sepertinya dia kenal dengan suara ini.
"Seungwoo?" Ucap Seonho sedikit ragu.
"Aish, ini aku bodoh! Bagaimana bisa kau tidak mengenali temanmu sendiri."
Sungguh Seungwoo ingin menjitak dahi milik sahabatnya ini. Namun ia segera mengurungkan niatnya itu ketika melihat dahinya yang memar dan sedikit bengkak.
Seonho kembali memegangi kepalanya yang semakin berdenyut. "Kepalaku sakit ssh..."
"Suruh dia minum terlebih dahulu, kemudian akan kubantu dia berbaring." Ucap Woojin sembari menyodorkan segelas air pada Seungwoo.
Pria bersurai hitam itu menerima gelas dari Woojin kemudian meminumkannya pada Seonho dengan hati-hati.
Setelah memastikan bahwa Seonho telah menelan air itu, Woojin segera membantunya untuk kembali berbaring. Sebelumnya ia telah menata bantal dengan sedemikian rupa agar Seonho bisa berbaring dengan nyaman.
"Kusarankan kau untuk banyak berbaring, kepalamu terbentur cukup keras hingga memar di bagian dahi." Woojin kembali bersuara.
Lelaki yang tengah berbaring itu mengerutkan dahinya.
"Terbentur? Ah sebelum kalian menjelaskan semuanya padaku, tolong ambilkan kacamataku, aku benar-benar tidak bisa melihat dengan benar sekarang."
"Maaf, tapi kacamatamu benar-benar tidak bisa diselamatkan." Seungwoo menepuk-nepuk pelan lengan Seonho.
"A– Apa?"
Seonho membulatkan matanya. 'Kacamatanya rusak?'
Tiba-tiba suara berat yang ia kenal menginterupsi percakapan mereka. Seonho yang semula tengah melamun meratapi nasib kacamata malangnya seketika menghentikan kegiatannya itu.
"Bisa kalian meninggalkan aku dengannya? Aku perlu bicara."
Suara itu berasal dari balik tirai pembatas yang tidak jauh dari Seonho. Seungwoo yang sudah mulai tenang memutar bola matanya jengah.
"Bicara saja sekarang, lagipula pembicaraanmu itu sifatnya tidak pribadi Tuan Lai."
Wajah Seonho memucat mendengar sebutan 'Lai' yang keluar dari mulut Seungwoo. Dugaannya sedari tadi sepertinya benar, itu suara Guanlin. 'Kenapa dia ada disini!' Seonho merutuk dalam hati.
"Ini masalahku dengannya, jadi aku dan dia saja sudah cukup, tidak perlu ada orang lain. Tolong kalian tinggalkan aku sebentar saja."
Semua yang ada di ruangan itu tidak merespon penuturan Guanlin, sebelum akhirnya suara deheman Woojin memecah keheningan itu.
"Ekhm! Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu, aku ada pertemuan saat jam istirahat nanti dan... sepertinya aku harus bersiap sekarang. Kau, semoga lekas sembuh."
Woojin menepuk pelan lengan Seonho kemudian segera beranjak keluar dari ruangan itu setelah sebelumnya berpamitan kepada semua orang disana. Pergerakan Woojin itu disusul oleh Kenta dan Hyungseob yang pamit pergi ke kantin setelah sebelumnya bertanya apakah Guanlin ingin titip sesuatu atau tidak.
Ketika yang lain sudah pergi, Seungwoo masih bersikeras ingin menemani Seonho. Ia kembali mengeluarkan gumaman-gumaman kesal di sebelah Seonho.
"Seungwoo, jangan terlalu khawatir eoh, aku akan baik-baik saja."
Tangan Seonho meraba lengan Seungwoo dan menepuknya perlahan.
"Tapi bagaimana jika–"
"Percaya padaku." Seonho melontarkan senyum manis andalannya.
Seungwoo kemudian menghela napas. "Baiklah, jika bukan karena senyum memohonmu aku akan tetap disini. Berjanjilah untuk menelponku saat kau sudah di rumah nanti, ponselmu kuletakkan di meja."
"Siap ibu..." Jawab Seonho dengan menampilkan senyum lebarnya.
Pria dihadapannya itu mendengus mendengar sebutan 'ibu' yang baru saja dilontarkan Seonho.
"Aish! Aku bukan ibumu! Ah dan satu lagi..." Suara Seungwoo perlahan berubah menjadi pelan, ia kemudian berbisik di telinga Seonho.
"Kurasa bercinta di UKS boleh juga, terlihat 'panas' dan 'menantang'."
Seonho membulatkan matanya, wajahnya mulai merona. 'B– Bercinta?'. Seonho sama sekali tidak pernah membayangkan hal 'aneh-aneh' seperti sahabat mesumnya ini.
Ya, Ong Seungwoo, sahabat kecilnya ini memang mesum, dan sekarang ia sedang meracuni otaknya yang masih polos. Kalau boleh jujur Seonho tidak pernah melakukan yang namanya 'masturbasi', apalagi bercinta, membayangkannya saja Seonho tidak berani.
Seungwoo tertawa melihat ekspresi sahabatnya yang menurutnya menggemaskan itu. "Aku pergi dulu~ selamat bersenang-senang~." Ia menepuk pelan kepala Seonho kemudian pergi begitu saja.
Tinggallah dua orang pria dalam ruangan itu, tak ada satupun dari mereka yang berbicara. Pria berpostur tinggi masih duduk manis di kursinya yang menghadap ke arah tirai pembatas antara sang pasien dan dirinya.
Sejak insiden tadi, Guanlin tidak mengetahui rupa si korban karena Kenta yang menggendongnya ke UKS, sedangkan dirinya mencari dan mengurus ijin kepada guru olahraga yang untungnya ada tidak jauh dari sana. Ketika ia tiba di UKS, si korban sudah masuk ke bagian ruangan yang bertirai dan sedang diberikan pertolongan pertama.
Ia hanya mengetahui namanya dari Hyungseob, namanya adalah Seonho, dan hal itulah yang mengganggunya sejak tadi. Sebenarnya ia sengaja meminta untuk ditinggal berdua seperti sekarang, selain untuk membicarakan bentuk pertanggungjawabannya, ia juga ingin memastikan, apakah orang ini adalah pemuda manis yang ia temui di toko buku atau bukan.
Dia penasaran, sungguh, karena seingatnya orang bernama Seonho yang ia temui di toko buku itu tidak memakai kacamata. Tapi tak ada salahnya untuk memastikan kan?
Setelah hening cukup lama, suara berat Guanlin akhirnya memecahkan keheningan itu. Seketika Seonho ingat, jika saat ini dia hanya berdua saja dengan Guanlin. Sekali lagi, jantungnya berdetak tidak normal.
"Aku minta maaf atas kecerobohanku tadi. Karena aku, kau jadi terluka."
Guanlin berucap dengan nada yang menyiratkan rasa bersalah. Seonho perlu menelan ludahnya beberapa kali sebelum menjawab pernyataan Guanlin. Lidahnya terasa kelu karena gugup.
'Tenang Yoo Seonho, tenang...'
"T– Tidak apa-apa. Aku tau kau tidak sengaja."
Seonho merutuki suara gugup yang baru saja keluar dari bibirnya. Sekeras apapun Seonho mencoba tenang, ia tidak akan pernah bisa melakukannya jika sudah berhadapan dengan orang yang disukainya.
Pria bertubuh tinggi itu sedikit khawatir mendengar suara Seonho yang bergetar, sontak ia berjalan mendekati tirai pembatas itu dan berdiri tepat di depannya.
"Apa kau kembali merasakan sakit?"
"A– Aku sudah tidak apa-apa. K– kau tidak perlu khawatir." Jawab Seonho terbata.
Guanlin memegang tirai putih itu, bersiap untuk membukanya.
"Aku akan masuk dan melihat lukamu, sejak tadi aku tidak tahu luka seperti apa yang kau dapatkan. Setidaknya aku harus tahu perawatan seperti apa yang harus kau dapatkan nanti."
Rasa panik seketika datang membayangi Seonho, tepat ketika ia akan menjawab, suara tirai yang dibuka seakan membuat lidahnya menjadi beku. Ia menoleh ke asal suara itu, meski dengan pandangan yang buram, ia tahu jika Guanlin saat ini tengah menatap kearahnya.
Waktu terasa berhenti untuk sesaat. Kedua pria itu masih saling menatap satu sama lain. Guanlin seperti mengalami de Javu ketika dua manik hitamnya bertemu dengan manik hitam lain yang kini sedang menatapnya.
Tatapan mata yang polos serta pipi yang sedikit chubby, persis seperti waktu itu. Guanlin hanya diam seraya mengamati Seonho selama beberapa detik.
"M– maafkan aku jika arah mataku tidak kepadamu saat bicara. Pandanganku buram."
Pria tampan itu tersadar dari lamunannya. "A– ah, tak apa. Harusnya aku yang minta maaf padamu. Aku sudah merusak kaca mata itu."
'Ah sial! Kenapa tiba-tiba aku jadi gugup!'
Guanlin mengatur nafasnya, kemudian mulai menepuk-nepuk pelan dada kirinya, tempat dimana jantungnya berada.
Pria kecil yang sedang berbaring itu meremat pelan alas kasurnya karena rasa gugup yang tak kunjung hilang. "Um, kau oke?"
Guanlin tidak bisa menahan senyumnya, sungguh pria yang ada di depannya saat ini tampak seperti malaikat. Secara tidak sadar ia mengusap surai hitam milik Seonho dengan pelan.
"Apa masih sakit?"
Seonho merasakan usapan lembut di kepalanya, sontak ia mendongak perlahan, matanya mencoba fokus kepada sosok tampan di depannya.
Terlihat anggukan kecil diberikan oleh Seonho. "Sedikit..."
"Ayo, kuantar kau pulang." Ucap Guanlin tiba-tiba.
"P– Pulang? T–Tidak perlu nanti– Ah!" Seonho memekik karena merasa tubuhnya melayang, ia segera mencari sesuatu untuk dijadikan sebagai pegangan. Ia berakhir dengan memeluk leher Guanlin dan menyandarkan kepalanya ke benda datar yang merupakan dada bidang Guanlin.
'A– Apa dia sedang menggendongku?'
"Aku harus tahu dimana rumahmu, karena kau merupakan tanggung jawabku sampai kau benar-benar sembuh."
Guanlin mengambil ponsel Seonho di atas meja dengan sebelah tangannya, kemudian memasukkannya dalam kantong.
"Kita pulang sekarang."
Seonho hanya bisa mengangguk pasrah dengan posisinya yang sedang digendong seperti seorang pengantin. Setelah memastikan Seonho sudah nyaman di gendongannya, Guanlin berjalan keluar dari UKS.
Lelaki manis itu merasa orang-orang yang berada di lorong memperhatikannya. Meskipun ia tidak bisa melihat dengan jelas, tapi ia tahu mereka sedang memandang ke arahnya. Sungguh Seonho merasa sangat malu, jangan lupakan wajahnya yang kembali merona.
Ditengah kegugupannya itu, telinga Seonho menangkap suara degupan yang cukup keras dari tempatnya bersandar.
'Kenapa jantung Guanlin berdetak tidak teratur? Apa dia sakit? Atau dia lelah karena menggendongku?Ah! Apa...'
'Apa dia menyukaiku?'
.
.
TBC
.
.
Terimakasih sudah menunggu dan menyempatkan diri untuk baca updatetan ini~.
Beberapa hari ini aku hilang ide buat nulis, tapi terimakasih buat foto-foto byeongaris yang lewat-lewat di timeline XD. Mereka benar-benar menggemaskan.
Jangan lupa reviewnya readernimm, aku tunggu~~
Love
~Buttermints~
