Lelaki manis itu merasa orang-orang yang berada di lorong memperhatikannya. Meskipun ia tidak bisa melihat dengan jelas, tapi ia tahu mereka sedang memandang ke arahnya. Sungguh Seonho merasa sangat malu, jangan lupakan wajahnya yang kembali merona.

Ditengah kegugupannya itu, telinga Seonho menangkap suara degupan yang cukup keras dari tempatnya bersandar.

'Kenapa jantung Guanlin berdetak tidak teratur? Apa dia sakit? Atau dia lelah karena menggendongku?Ah! Apa...'

'Apa dia menyukaiku?'

Critical Beauty

Chapter 5

.

.

Produce 101/Wanna One Fanfiction

Romance, Humor, High School!AU, Yaoi

Main!Byeongari couple

(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)

Rating: T (M for future chapter)

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.

Sebuah mobil Toyota SUV putih terlihat meluncur melewati jalanan yang terlihat lengang siang itu. Tampak seorang pria paruh baya yang sedang menyetir dan dua orang pria lain yang menempati jok belakang. Pria yang menggunakan seragam sekolah terlihat berbaring di pangkuan pria berseragam olahraga yang duduk di sebelah kanan.

Suasana mobil itu hening, seperti biasanya. Guanlin sibuk memandang ke luar kaca mobil dengan sebelah tangan menahan kepala si pria kecil agar tidak terjatuh. Pria kecil itu tampak memejamkan matanya seolah-olah ia sedang tidur.

Setelah memberitahukan alamat rumahnya pada Guanlin saat masih di depan sekolah tadi, ia memutuskan untuk memejamkan matanya dan berpura-pura tidur. Selain karena kepalanya yang masih berdenyut-denyut, ia tidak bisa menemukan topik untuk berbicara dengan Guanlin.

Pujaan hatinya itu tidak banyak bicara sejak kejadian penculikan atas dirinya di UKS tadi, sampai sekarangpun ia tidak mendengar Guanlin mengatakan sesuatu. Sungguh, Seonho tidak menyangka Guanlin akan sependiam itu ketika tidak sedang bersama teman-temannya.

'Apa nanti dia akan cuek pada kekasihnya juga?'

Bibir Seonho mengerucut membayangkan hal itu. Oh ayolah, siapa yang ingin memiliki kekasih yang akan mendiamkanmu sepanjang hari ketika sedang berkencan. Tentu Seonho tidak mau, dia tidak suka diabaikan.

'Aish Yoo Seonho, berhentilah berkhayal. Kau–'

Usapan lembut pada bibirnya membuyarkan segala imajinasi yang berputar di kepalanya. Seketika Seonho membuka kedua matanya, samar-samar ia bisa melihat wajah Guanlin yang saat ini tengah menghadap ke arahnya.

Guanlin terkejut ketika mata indah itu terbuka menampakkan sepasang manik hitam milik Seonho. Ia segera memalingkan wajahnya, kembali menatap ke luar jendela mobil. Telinganya tampak berubah warna menjadi sedikit merah.

Tampaknya pangeran kita sedang salah tingkah karena aksinya telah ketahuan.

"Sebentarlagi kita sampai di rumahmu."

"Umm.. Maaf aku tertidur." Suara serak khas orang bangun tidur keluar dari bibir Seonho.

"Tak apa, aku tahu kau butuh banyak istirahat."

Seonho kembali diam seraya memandangi wajah Guanlin dari posisinya yang sedang berbaring. Ia kembali mengerucutkan bibirnya karena tidak bisa melihat wajah Guanlin dengan jelas.

'Andai saja kacamata itu tidak rusak, aku pasti bisa puas melihat wajah Guanlin.'

.

.

~Buttermints~

.

.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil itu berhenti di depan rumah dengan cat broken white yang terkesan sederhana. Rumah itu terletak di kompleks perumahan yang cukup jauh dari sekolah.

Paman Park segera turun dan membukakan pintu untuk Guanlin.

"Perlu saya bantu tuan Lai?"

"Tidak usah paman, tunggu saja di mobil sebentar. Aku akan mengantarkannya ke dalam."

Guanlin mengambil tas Seonho kemudian memakainya terlebih dahulu, kemudian membantu Seonho untuk merubah posisinya menjadi duduk.

"Naiklah ke pangkuanku agar aku bisa menggendongmu turun dengan mudah."

Pria pendek itu seketika menoleh ke arah Guanlin. "Tidak usah Guanlin-ssi. Aku bisa jalan sendiri, kepalaku sudah tidak sakit."

Tiba-tiba Seonho merasa tubuhnya terangkat, ia segera berpegangan ke pundak Guanlin, orang yang kembali menggendongnya dengan paksa.

"Kau bilang sendiri jika pandangan matamu buram, kau tentu tidak bisa jalan sendiri." Ujar pria tampan itu seraya menggendong Seonho turun dari mobil.

Guanlin berjalan memasuki halaman rumah yang tidak terlalu luas itu dengan Seonho dalam gendongannya. Lelaki itu kemudian berhenti tepat di depan pintu.

"Dimana kau letakkan kunci rumahmu?"

"A– Ada dalam saku..." Seonho mulai meraba-raba kantong blazernya untuk mengambil kunci rumah. "Ini... Ah, turunkan saja aku agar kau bisa membuka pintu dengan mudah"

"Baiklah." Pria tinggi itu perlahan menurunkan Seonho dan segera melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Seonho. Sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk membuka pintu.

Sungguh, wajah Seonho kembali terasa memanas ketika ia merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya. Ya tuhan, jantung Seonho seperti akan meledak karena terlalu berdetak terlalu cepat.

Setelah pintu berhasil terbuka, Guanlin kembali menggendong Seonho dan membawanya masuk ke dalam rumah. Seisi rumah itu tampak sangat rapi dan bersih, terlihat sebuah lemari yang penuh berisi buku di ruang tengah.

'Sepi sekali rumah ini, apa dia tinggal sendiri?'

"Turunkan aku disini saja Guanlin-ssi. Aku akan ke kamarku sebentar, kau bisa menunggu di ruang tamu."

Ucapan Seonho kembali menyadarkan Guanlin yang sibuk mengamati rumah Seonho sejak tadi.

"Dimana kamarmu?"

Mata Seonho membola mendengar pertanyaan Guanlin. "Y-Ye? Kamarku?"

Lontaran pertanyaan Seonho hanya dibalas Guanlin dengan sebuah gumaman.

"L– Lantai dua."

Guanlin mengangguk kemudian kembali melangkahkan kakinya menuju tangga untuk mencapai kamar Seonho. Rumah sederhana itu rupanya memiliki luas yang lumayan meski dari luar rumahnya tampak sederhana dan kecil. Terdapat dua kamar di lantai atas yang letaknya sedikit berjauhan. Guanlin menghentikan langkahnya di ujung tangga seraya mengamati pintu-pintu kamar itu.

"Ah, kamar dengan pintu bersticker ayam itu kamarku Guanlin-ssi."

Tanpa disuruh dua kali Guanlin segera berjalan menuju pintu dengan sticker anak ayam berwarna kuning. 'Ya tuhan, anak ini sungguh menggemaskan." Guanlin tersenyum menahan tawa, ia sungguh gemas dengan pria yang ada dalam gendongannya ini. Dengan sedikit usaha ia akhirnya bisa membuka pintu kamar itu tanpa menurunkan Seonho.

Tampak kamar bercat babyblue dengan sebuah ranjang queen size, meja belajar, sebuah lemari, dan lagi-lagi rak berisi buku-buku yang menempel di tembok. Kamar itu terlihat rapi, sama seperti ruangan-ruangan lain yang dilewati Guanlin tadi.

Setelah sempat mengamati sebentar kamar itu, Guanlin segera mendudukkan Seonho di atas ranjangnya. Ia kemudian meletakkan tas milik Seonho di atas meja belajar, ada beberapa frame berisi foto di atas meja itu. Guanlin melihat frame itu satu persatu, sampai ia menemukan foto masa kecil Seonho.

Sekali lagi Guanlin tersenyum melihat foto itu. 'Ternyata dia sudah memiliki senyuman manis sejak kecil.'

Seonho hanya duduk diam di ranjangnya, sesekali tangannya meremas-remas bedcover yang ia duduki. Pria kecil itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, ia tidak mendengar suara lain selain detikan jarum jam di ruangan itu.

'Kenapa sepi sekali? Apa Guanlin sudah pergi?'

Ia meraba-raba sebelahnya, kemudian menggapai area yang ada tepat di depannya. Nihil, ia tidak menemukan siapa-siapa disana. 'Ah, ternyata ia benar-benar sudah pulang. Tapi kenapa tidak bilang dulu padaku, aish.' Seonho mengerucutkan bibirnya.

'Kau terlalu banyak berharap Yoo Seonho, dia kemari atas dasar rasa bersalah, bukan karena menyukaimu. Wajar saja jika dia segera pulang setelah mengantarmu, dasar bodoh.'

Seonho merasa sedikit kecewa tentu saja, tapi ia sadar rasa kecewanya itu tidak beralasan, mungkin dia saja yang memiliki harapan terlalu tinggi. 'Sudahlah, lebih baik aku ganti baju, kemudian tidur sambil menunggu hyung pulang kerja.'

Pria itu kembali meraba bagian lain tempat tidurnya. Seonho memiliki kebiasaan meletakkan kaos dan celana pendek di atas tempat tidurnya saat pagi hari. Tujuannya agar memudahkannya mengganti baju ketika pulang sekolah, tidak perlu repot-repot membuka lemari, dan membuat waktu lebih efisien, menurutnya.

'Ah, ini dia!' Seonho bersorak dalam hati ketika menemukan apa yang ia cari, kemudian menarik kedua benda itu ke samping tubuhnya. Kemudian ia segera membuka blazer sekolahnya lalu beralih untuk membuka satu persatu kancing kemejanya.

"Panas sekali..." Ujarnya seraya meloloskan kemeja putih itu dari tubuhnya.

Guanlin yang sejak tadi melupakan keberadaan Seonho karena asik mengabadikan beberapa foto masa kecil Seonho dengan kamera ponselnya seketika menghentikan kegiatannya itu.

'Aish, aku sampai lupa tujuanku kemari.'

"Maaf barusan aku melihat beberapa foto di mejamu jadi–." Kalimat Guanlin seketika terputus ketika ia membalikkan badannya kembali ke arah Seonho.

Ponsel yang semula digenggamnya tiba-tiba terjatuh, tubuhnya mematung, seketika seluruh atensinya beralih ke arah Seonho yang saat itu sedang topless. Kulit putih nyaris tanpa cacat dengan dua buah tonjolan kecil berwarna kecoklatan yang ada di dadanya, kemudian perut rata dengan sedikit babyfat yang terlihat menggemaskan, terpampang dengan jelas di depan mata Guanlin.

Sungguh, Guanlin tidak tahu harus berbuat apa lagi selain mencoba menahan hasrat agar Guanlin junior tidak membuat celananya menjadi sempit.

Ia menundukkan kepalanya ke arah celana olahraga yang sedang ia pakai.

Terlambat.

'Tidak, jangan sekarang nak...'

Sementara Guanlin sedang sibuk menenangkan adik kecilya, Seonho yang baru saja kembali sadar pasca terkena heart attack akibat mendengar suara Guanlin segera memakai kaosnya, dengan terburu-buru, hingga ia tidak sadar bahwa kaosnya terbalik.

"S– Sejak kapan kau disana?! B– Bukankah kau sudah pulang?" Ujar Seonho panik, wajahnya sekarang sudah semerah cherry tomato kesukaan Minki.

Guanlin mencoba menstabilkan suaranya sebelum akhirnya bicara. "Ekhm, ak–u di sini s– sejak tadi." Namun sekeras apapun Guanlin berusaha, suaranya tetap memperlihatkan kegugupannya.

'S– Sejak tadi?! B– Berarti dia m–melihat tubuhku?!'

Sungguh rasanya Seonho ingin melompat dari jendela kamarnya dan segera menghilang dari hadapan Guanlin selamanya. Ia benar-benar malu, sangat-sangat malu.

"M– Maafkan aku Guanlin-ssi, k–kupikir kau sudah pulang." Ia menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang serasa terbakar.

Setelah memungut ponselnya di lantai, Guanlin berjalan mendekati Seonho kemudian berjongkok di depannya untuk sekedar menyamakan tinggi badan dengan pria yang lebih kecil.

"Tidak tidak, aku yang minta maaf." Guanlin menggigit pelan bibirnya. Hening sejenak sebelum Guanlin melanjutkan kalimatnya. "Ah, apa kau tidak punya kacamata ganti yang bisa dipakai sementara?" Pria yang berjongkok itu mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan aura canggung yang mendadak muncul.

"C– Contact lens, d– di laci meja belajar."

Guanlin segera mengambil apa yang disebutkan oleh Seonho. Tepat setelah ia menemukannya, ia kembali berjongkok di depan pria kecil itu dan meletakkan kotak contact lens di telapak tangan Seonho. "Apa kau bisa memakainya sendiri?"

Pria yang masih menunduk itu mengangguk. "Aku hanya butuh kaca."

Dengan sigap Guanlin mengambil kaca berukuran kecil yang tadi ia lihat di atas meja belajar. "Biar kupegang kacanya." Ia kembali berjongkok dan mendekatkan kaca ke wajah Seonho.

Seonho kembali mengangguk, ia membuka kotak berisi lens dan sebotol kecil obat tetes mata. Ia kemudian mencoba membasahi matanya dengan meneteskan obat tetes mata, pipinya sedikit basah karena beberapa cairan yang terlewat. Setelah dirasa cukup, ia mengambil lens di dalam kotak kemudian mendekatkan wajahnya pada kaca untuk memasang lens itu.

Guanlin memegang kaca itu seraya mengamati wajah Seonho yang menampakkan ekspresi lucu ketika sedang berusaha memasang contact lens di kedua matanya.

Seonho terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali sampai matanya terasa nyaman dan terbiasa dengan keberadaan lens yang baru saja dipakainya.

"Kau sudah bisa melihat dengan jelas?"

"Um..." Seonho mengangguk. "Tapi mataku tidak nyaman, itu alasanku kenapa tidak memakai lens." Tangannya bergerak untuk mengusap matanya yang terasa sedikit gatal.

Guanlin segera menahan tangan kecil Seonho. "Jangan pernak mengusap-ngusap matamu ketika memakai sedang memakai lens, paham?"

Jarak antara wajah Seonho dan Guanlin yang terbilang cukup dekat seketika membuat darah Seonho berdesir. Ia belum pernah menatap wajah pujaan hatinya itu dengan jarak yang teramat dekat seperti ini. Seonho seakan terperangkap dengan tatapan tajam Guanlin. Sampai-sampai ia mengabaikan ucapan pria tampan itu.

"Seonho? Kau dengar kata-kataku?"

Seonho terkesiap mendengar teguran Guanlin, ia mengangguk lalu kembali menundukkan kepalanya karena malu. "Maaf aku mengabaikanmu Guanlin-ssi."

"Panggil aku Guanlin, tidak perlu terlalu formal padaku." Guanlin tersenyum melihat anggukan Seonho. "Kacamatamu akan kuganti saat kau sudah sehat karena kau juga harus ikut aku ke optik."

"Besok aku sudah bisa pergi, kepalaku sudah tidak apa-apa." Ucap Seonho berusaha meyakinkan Guanlin.

Suara tawa terdengar dari bibir Guanlin. "Kita lihat saja keadaanmu besok, sekarang aku harus pulang."

"Ah, akan kuantar!"

Guanlin segera menahan Seonho yang akan berdiri dari duduknya. "Tidak usah, kau istirahat saja." Ia kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kamar Seonho. "Aku pergi, kau hati-hati di rumah."

"Ah ye! Terimakasih karena sudah mengantarku!"

Setelah memastikan Guanlin sudah benar-benar hilang dari pandangannya, ia merebahkan tubuhnya seraya memegangi dadanya yang kembali berdegup kencang. Entahlah, hari ini Seonho merasa bahagia meskipun kepalanya sedang lebam.

"Tenangkan dirimu Yoo Seonho, jangan terlalu senang." Ia berusaha menstabilkan deru nafasnya. Kemudian ia mengingat satu hal yang membuat senyumnya perlahan memudar.

"Dia kemari hanya sebagai bentuk pertanggung jawabannya karena kejadian di sekolah tadi. Lagipula tidak mungkin dia suka padaku."

Seonho kembali menghela napasnya.

.

.

~Buttermints~

.

.

Paman Park kembali terheran-heran melihat tuan mudanya menatap ke luar jendela mobil dengan senyuman yag tak kunjung hilang sejak memasuki mobil tadi. Wajah tuan mudanya ini tampak senang, seperti seseorang yang baru saja bertemu dengan kekasihnya. Ia kemudian menggeleng pelan seraya tersenyum. 'Dasar anak muda.' Pikirnya.

Pria yang duduk di kursi penumpang memang tidak bisa melepaskan senyum yang melekat di wajahnya. Kejadian tadi masih melekat di kepalanya, bagaimana bibir itu mengerucut ketika tidur, ah Guanlin merasa dirinya seperti lelaki tidak benar karena berani memikirkan hal yang aneh-aneh pada seseorang yang baru ia kenal.

'Sepertinya malam ini aku akan sulit tidur.'

Tiba-tiba bunyi notifikasi sms yang diikuti dengan getaran membuyarkan lamunannya. 'Sepertinya aku tidak mengganti nada notifikasi ponselku. Ponselku juga masih di kantong celana.' Suara itu berasal dari arah tas miliknya, ia segera memeriksanya. Ternyata suara notifikasi itu berasal dari ponsel berwarna hitam yang terhalang oleh tasnya.

Guanlin segera mengambil ponsel yang kembali berbunyi itu.

'Ponsel ini bukankah milik Seonho? Kenapa bisa disini?'

.

.

TBC

.

.

Akhirnya bisa update lagi setelah ide ngadat selama beberapa hari...

Oh iya, menurut pendapat readernim sekalian apa alur cerita ini terlalu lambat? Soalnya beberapa ada yang bilang begitu. Seandainya memang terlalu lambat, nanti aku bakalan coba buat agak dicepetin alurnya, biar readernim nggak bosen bacanya :D

Mohon masukannya dan jangan lupa review readernim~!

Thankyou!

Love

~Buttermints~