Tiba-tiba bunyi notifikasi sms yang diikuti dengan getaran membuyarkan lamunannya. 'Sepertinya aku tidak mengganti nada notifikasi ponselku. Ponselku juga masih di kantong celana.' Suara itu berasal dari arah tas miliknya, ia segera memeriksanya. Ternyata suara notifikasi itu berasal dari ponsel berwarna hitam yang terhalang oleh tasnya.
Guanlin segera mengambil ponsel yang kembali berbunyi itu.
'Ponsel ini bukankah milik Seonho? Kenapa bisa disini?'
.
.
.
Critical Beauty
Chapter 6
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T++ (Nyerempet M)
Warn!Sedikit adegan dewasa. Harap di Skip jika tidak siap membaca/?
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
Malam itu menjadi malam yang tidak tenang bagi Guanlin. Ia tidak bisa istirahat dan belajar dengan damai seperti biasanya. Bagaimana ia bisa berkonsentrasi jika ponsel berwarna hitam yang saat ini ada di atas mejanya terus mengeluarkan tanda notifikasi yang bermacam-macam. Mulai dari aplikasi chat, sms, juga telepon. Semuanya berasal dari nama ID yang sama.
10 Message from Ongie
7 Missed Call from Ongie
Guanlin membaca keterangan yang tertera pada lockscreen ponsel itu. Ia menggeram malas melihat siapa yang sedari tadi terus-terusan menghubungi nomor ponsel milik Seonho.
Tadi siang ia sudah menghubungi kakak dari pemilik ponsel itu dan mengatakan padanya jika ponsel milik adiknya itu tertinggal. Kakak Seonho yang bernama Minki itu memberikan respon yang baik padanya, bahkan ia meminta maaf atas nama adiknya karena sudah ceroboh dan merepotkan Guanlin.
"Demi tuhan, anak ini benar-benar bertingkah seperti ibunya." Jari tangannya bergerak untuk membuka lockscreen yang untungnya tidak diberi password itu. Ia membuka aplikasi pesan dan membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh orang bernama 'Ongie' tanpa berniat membalasnya.
"Jangan coba-coba mencuri segala jenis konten dalam ponsel Seonho atau kau akan kehilangan wajah tampanmu."
Pria tinggi itu mengerutkan dahinya seraya menahan tawanya yang akan meledak. 'Memangnya dengan apa dia akan membuatku menjadi jelek?' Ia kembali menscroll pesan-pesan yang dikirim oleh teman Seonho itu.
"Lagipula aku tidak ingin tahu tentang isi dari ponsel ini." Ujarnya seraya meletakkan ponsel itu ke atas meja. "Lebih baik aku tidur saja."
Guanlin segera beranjak menuju ranjangnya setelah selesai merapikan meja belajar. Ia kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa lebih lelah dari biasanya. 'Mungkin karena tadi aku menggendongnya teralu lama. Ah sudahlah, ayo istirahat.' Kelopak matanya mulai menutup dan bersiap memasuki alam mimpi.
.
.
~Buttermints~
.
.
"Ah! Aish! Pelan-pelan hyung!" Suara pekikan terdengar dari dalam kamar dengan cat babyblue.
"Diamlah. Lagipula kau begini karena kecerobohanmu sendiri." Tangan lentik pria di depan Seonho kembali mengusapkan gel bening ke dahi lebam adiknya.
Seonho mengerucutkan bibirnya. Sungguh hyung satu-satunya ini benar-benar menyebalkan, tidakkah dia tahu jika luka lebam di dahinya ini sakit. Dengan seenak hatinya hyungnya itu malah mengoleskan salep dengan tidak berperasaan.
"Sudah, sekarang kau istirahat. Besok kau tidak perlu sekolah, aku akan membuatkan surat ijin untukmu."
"Tidak perlu hyung... Aku sudah baik-baik saja." Helaan napas keluar dari bibir Seonho. Satu lagi sifat menyebalkan yang dimiliki hyung kesayangannya itu, dia sedikit overprotektif pada Seonho.
Minki menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, kau harus di rumah besok. Jangan lupa untuk melepas lensmu. Selamat malam." Tangannya menepuk pelan kepala Seonho lalu segera beranjak keluar dari kamar itu sebelum Seonho kembali memprotesnya.
"Hyung! Aish!"
Seonho kembali mengerucutkan bibirnya kesal. Tidak masuk sekolah selama satu hari berarti dia akan cukup banyak tertinggal materi pelajaran. Jika dia memiliki teman di kelasnya memang tidak masalah, ia bisa meminjam catatan milik teman-temannya, tapi masalahnya ia tidak punya teman di kelasnya.
Kehilangan catatan, berarti ia akan kehilangan satu bahan untuk belajar. Kehilangan satu bahan untuk belajar, sama saja dengan tidak bisa menjawab beberapa soal yang ada hubungannya dengan materi itu. Kesimpulannya, ia tidak akan bisa mendapatkan nilai yang sempurna saat ujian nanti.
Pria bersurai hitam itu menghela napasnya. "Tenanglah Yoo Seonho, kau pasti bisa mengatasinya. Sekarang yang harus kau lakukan adalah melepaskan lens ini, kemudian tidur." Ia kemudian mengambil kotak lensnya dan mulai melepaskan benda asing itu dari matanya.
Matanya mengerjap beberapa kali setelah lens itu berhasil terlepas dan memasukkannya ke dalam tempatnya lalu menyimpannya di atas nightstand.
"Benar-benar merepotkan, ish." Gerutunya seraya menaikkan kakinya ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya. Tangannya meraba-raba daerah sekitar bantalnya, mencari benda persegi berwarna hitam yang biasanya ia letakkan disana.
"Ah benar, ponselku ada pada Guanlin." Gumamnya setelah mengingat ucapan Minki tadi siang. Kemudian ia memutuskan untuk memejamkan matanya setelah ingat bahwa ponselnya tertinggal di mobil milik Guanlin.
Biasanya Seonho akan berkutat dengan ponselnya sebelum tidur. Entah itu berkirim pesan dengan Seungwoo, membaca e-book, ataupun melakukan hal lain, ia baru akan berhenti jika sudah merasa mengantuk.
Ingatan tentang isi chatnya dengan Seongwoo seketika membuat kedua matanya kembali terbuka lebar. Bagaimana tidak, hampir semua isi chatnya dengan Seungwoo adalah curahan hatinya yang semuanya berhubungan dengan Guanlin. Ditambah lagi foto-foto Guanlin yang dikirim oleh Seongwoo, yang sudah pasti tersimpan di galerinya.
Sungguh, Seonho tidak tahu dimana harus menyembunyikan wajahnya jika Guanlin melihat itu semua. Ia menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. 'Tidak tidak... Guanlin tidak mungkin dengan sengaja melihat-lihat isi ponselku.'
'Tapi bagaimana jika dia melihatnya?'
Bayangan Guanlin yang sedang tertawa-tawa dan menyebarkan seluruh rahasia besarnya kepada teman-temannya terngiang-ngiang di kepalanya.
"Tidaak!" Teriakan tertahan Seonho menggema di dalam ruangan itu, kepalanya sudah tersembunyi di balik selimut yang sengaja ditarik hingga menutupi ujung kepalanya.
Kedua kakinya menendang-nendang selimut tak berdosa itu hingga berantakan.
"Tidak.. Tidak.. Tenangkan dirimu Seonho." Gumamnya seraya mencoba menstabilkan nafasnya yang tidak beraturan.
"Guanlin tidak akan melihatnya. Dia pasti tidak akan melihatnya."
Ia terus merapalkan kalimat itu di dalam kepalanya dengan harapan agar Guanlin benar-benar tidak mengintip isi chat dan galerinya.
"Ah sudahlah! Aku tidur saja!" Kedua kelopak matanya kembali tertutup, namun sedetik kemudian terbuka kembali.
"Sungguh, aku bisa gila jika terus begini."
.
.
.
~Buttermints~
.
.
.
Deru napas yang tidak beraturan memenuhi kamar yang terlihat sedikit berantakan. Sepasang pria yang kini berada di atas ranjang hingga membuat kamar yang semula rapi berubah menjadi seperti kapal yang baru saja menabrak gunung es.
Kedua pria itu masih memakai setelan seragam mereka. Kemeja putih yang mereka kenakan sama-sama terlihat berantakan dengan beberapa kancing yang terbuka. Posisi mereka berdua bisa dibilang sangat intim, pria yang lebih kecil terlihat menungging dengan kedua tangan serta kaki yang menopang berat tubuhnya, sementara pria satu lagi terlihat merengkuh tubuh kecil itu dari belakang.
"Ah! G– Guanlin."
Sebuah desahan berhasil lolos dari bibir yang terlihat membengkak karena terlalu banyak digigit oleh si empunya.
"So pretty." Guanlin mengecup-ngecup bekas gigitan yang ia tinggalkan di perpotongan leher pria itu. "So pretty for me."
"B– Berhenti... Ah!" Tangan kurus milik pria yang lebih kecil meremat helaian kain yang terhampar di bawah tubuhnya ketika Guanlin dengan sengaja menyentuh dua tonjolan yang ada di dadanya dengan jari-jarinya.
Guanlin kembali menekan tonjolan yang terasa kecil di jari-jarinya itu, alhasil sebuah desahan yang menurutnya menggairahkan itu kembali memenuhi organ pendengarannya.
"Aku suka suaramu, terdengar seperti nyanyian malaikat." Bisiknya tepat di telinga milik pria di bawahnya. Ia lalu menggerakkan sebelah tangannya menelusuri perut rata pria itu hingga pergerakan tangannya terhalang oleh ikat pinggang yang masih terpasang rapi di celana milik pria yang lebih kecil.
Tanpa menunggu lagi, Guanlin segera membuka ikat pinggang yang dirasanya mengganggu kemudian menarik turun celana itu disusul dengan underwear hitam pria dibawahnya, celana dan underwear itu terlihat menggantung di paha bawahnya karena tertahan oleh lutut yang sedang menekuk.
Guanlin menciumi punggung yang masih tertutupi oleh kemeja putih berantakan itu seraya membelai paha bagian dalam pria di bawahnya menggunakan sebelah tangan.
"Nnggh!" Tubuh yang berada di bawahnya itu kembali menegang karena sentuhan lembut Guanlin pada pahanya.
"Jangan menahannya, biarkan aku mendengar kembali suaramu." Guanlin kemudian menjilat garis leher pria itu seraya menggenggam lembut kejantanan pria dibawahnya. Pergerakan Guanlin sukses membuat tubuh pria yang lebih kecil terlonjak karena sentuhan mendadak pada organ sensitifnya.
"G– Guanh –Ah!"
Suara desahan yang cukup keras kembali mengalun ketika Guanlin mulai menggerakkan tangannya pada kejantanan milik pria itu.
"So eager for my touch." Guanlin menciumi pundak sempit yang terekspos tepat di depan wajahnya. Tangannya tidak berhenti bekerja di bawah sana.
"Y– Yah! Ah!" Pria kecil itu kembali meremat helai kain di bawahnya seraya mendongakkan kepalanya ketika pergerakan tangan Guanlin terasa semakin cepat mengocok miliknya.
"Ah– hah Guan–linh"
Desahan putus-putus terdengar di sela deru nafasnya yang tidak beraturan.
"Kau akan sampai?" Guanlin melihat pria itu menganggukkan kepalanya. Paham dengan keadaan sang bottom, ia mempercepat pergerakan tangannya di bawah sana.
"Ahk! Ungh–!" Tubuh ramping itu kembali tersentak ke depan.
"Perlihatkan wajahmu sayang, aku ingin melihatnya." Ucapnya seraya menahan berat tubuh sang bottom yang hampir tersungkur ke depan karena kedua tangannya tak mampu lagi menahan berat tubunya sendiri.
Pria itu menolehkan kepalanya dengan susah payah karena tubuhnya yang bergetar menahan nikmat. Tatapan mata sayu dengan wajah semerah cherry tomato yang familiar terpampang dengan jelas di hadapan Guanlin. Pipi tembam dengan bibir kissable yang sedang mendesah itu, Guanlin mengenalnya.
"G– GUANLINH!"
.
.
Seketika Guanlin terlonjak bangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Tubuhnya dibanjiri peluh hingga membuat kaosnya basah kuyup.
'W– Wet dream?'
Ia menyingkap selimut yang menutupi setengah tubunya dan tampaklah sebuah gundukan besar pada celananya. "Oh my god!" Tubuh penuh keringat itu kembali berbaring di atas ranjang.
Memang tidak aneh bagi seorang pria jika mengalami yang namanya wet dream, namun yang saat ini mengganggu pikiran Guanlin adalah orang yang menjadi objek mimpi basahnya tadi.
"Yoo Seonho, kenapa dia bisa mampir ke dalam mimpiku." Ia mengusap pelan wajahnya.
Tangannya bergerak mengambil ponsel yang ia letakkan di nightstand sebelah tempat tidurnya. Matanya menangkap angka yang tertera pada tampilan lockscreen.
'Masih jam 4 pagi'
Tangannya bergerak membuka passcode yang muncul di layar ponselnya, kemudian membuka file manager. Bola matanya bergerak membaca satu persatu nama folder yang muncul di layar. Sampai akhirnya ia berhenti menscroll ponselnya ketika matanya menangkap sebuah folder berjudul 'Danger' dengan ikon folder yang terlihat buram, pertanda folder itu di hidden.
Guanlin membuka folder tersembuyi itu, kemudian muncullah berbagai macam foto yang tersimpan di dalamnya, salah satunya foto-foto Seonho yang ia ambil langsung dari ponsel Seonho. Benar, pria tampan satu ini diam-diam melihat isi dari galeri milik Seonho dan mengirim beberapa foto si empunya ke ponselnya.
Salahkan orang bernama Ongie yang sudah membuat Guanlin penasaran setelah membaca SMS ancaman yang ia kirimkan tadi. SMS itu membuatnya tidak bisa tidur dan akhirnya melakukan pelanggaran privasi milik Seonho tepat sebelum ia tidur.
"Mungkin karena aku melihat foto-fotonya sebelum tidur, dia jadi masuk ke dalam mimpiku." Ia bergumam seraya membuka salah satu foto milik Seonho. Foto itu menampakkan Seonho dengan pipi yang menggembung dipenuhi makanan dengan ekspresi wajah polosnya, tampaknya Seonho tidak sadar jika sedang difoto.
Seketika bayangan adegan rated yang muncul di mimpinya tadi kembali muncul di kepalanya. Guanlin mendesah lelah, ia meletakkan kembali ponselnya di atas nightsatnd. Kepalanya menunduk untuk memeriksa keadaan adik kecilnya yang ternyata masih sama seperti tadi.
"Kembalilah tidur nak, aku ada kelas besok pagi, jadi jangan merepotkanku."
Pria tampan itu melontarkan ungkapan kesal pada gundukan yang masih nampak di celananya. Sekali lagi ia mendesah pelan seraya melemparkan kepalanya ke atas bantal.
Sungguh, ini pertama kalinya Guanlin mengambil konten milik orang lain tanpa ijin si pemilik dan pertama kali pula ia mengalami wet dream dengan teman sekolahnya sendiri sebagai objeknya.
Guanlin tidak menyangka pertemuannya dengan Seonho mampu membuat hampir separuh dari kehidupannya berubah. Termasuk dalam hal percintaan.
.
.
~Buttermints~
.
.
Bias-bias keemasan mulai muncul dari ufuk timur yang menandakan hari sudah berubah menjadi pagi. Beberapa orang terlihat mulai melakukan aktivitasnya masing-masing, jalan-jalan juga mulai terlihat ramai oleh kendaraan, mulai dari kendaraan pribadi sampai kendaraan umum. Terang saja, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, sudah saatnya untuk orang-orang kembali menjalani kegiatan sehari-harinya.
Berbeda dengan orang lain yang sudah mulai bersiap-siap, pemilik kamar bernuansa babyblue itu masih tertidur pulas di ranjangnya. Ia seperti tidak terganggu dengan cahaya matahari yang mulai menembus tirai yang menutupi jendelanya. Separuh tubuhnya tertutup selimut sedangkan kedua tangannya memeluk erat guling kesayangannya.
Seketika pintu kamar itu terbuka menampilkan sosok pria berwajah cantik dengan tubuh yang dibalut kemeja warna pink. Pria yang diketahui bernama Minki itu melangkahkan kakinya memasuki kamar kemudian membuka tirai yang menutupi jendela.
"Nng..." Terpaan cahaya matahari pagi yang memasuki kamar rupanya mampu mengusik pria manis yang tengah tertidur.
"Bangunlah, sudah pagi."
Minki mengacak pelan rambut Seonho, namun pria manis itu hanya menggeliat pelan dengan kedua mata yang masih terpejam. Kemudian suara jepretan kamera terdengar menggema beberapa kali di dalam kamar, alhasil pria manis itu mulai mengerjapkan kedua matanya.
"Hyung hentikan..." Selimut yang semula menutupi separuh tubuhnya kini berpindah menutupi wajahnya.
"Aigoo menggemaskan sekali." Gumaman puas terdengar dari bibir berbentuk hati itu saat melihat hasil foto yang diambilnya. Ia menyimpan kembali ponselnya, kemudian menyingkap selimut yang dipakai oleh Seonho. Sontak suara erangan protes kembali terdengar di ruangan itu.
"Cepat bangun pemalas, sudah jam setengah tujuh." Jemari lentik Minki kembali mengacak lembut surai hitam milik Seonho. "Aku harus memastikan dirimu aman di rumah sebelum berangkat kerja."
"Aku sudah bangun..."
Seonho mendudukkan dirinya dengan mata yang masih terpejam serta rambut yang berantakan khas orang yang baru bangkit dari alam bawah sadarnya.
Suara tawa kembali keluar dari bibir Minki. "Bangun berarti mandi dan menggosok gigi juga Seonho."
Pernyataan Minki itu hanya dijawab Seonho dengan sebuah anggukan. Kakinya ia turunkan hingga menyentuh lantai, namun ia tidak segera beranjak dari posisinya yang baru. Punggung tangannya mengusap-usap sebelah matanya, kemudian ia mengerjapkan kedua matanya, menyesuaikan diri dengan banyaknya cahaya yang masuk.
"Kemari kupakaikan lensmu."
Dengan sigap Minki mengambil kotak tempat lens itu disimpan, kemudian memakaikan lensnya dengan hati-hati setelah sebelumnya ia meneteskan eye liquid ke mata Seonho.
Minki memperhatikan Seonho yang beberapa kali memejamkan matanya. "Sudah nyaman?"
"Sudah hyung, terimakasih." Seonho menampakkan cengiran lebarnya.
Minki kembali tersenyum melihat tingkah menggemaskan adik satu-satunya itu.
"Cepat mandi, kutunggu di bawah untuk sarapan. Nanti kau harus membayar satu jamku yang sia-sia karena kugunakan untuk membangunkanmu." Ujarnya seraya beranjak meninggalkan kamar Seonho .
Seonho mengerucutkan bibirnya ketika sifat menyebalkan hyungnya itu kembali. Ia segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi sebelum Minki kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengomel ketika melihat Seonho yang belum mandi.
.
.
~Buttermints~
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.20, harusnya Minki sudah berangkat ke toko bukunya jam 7 tepat karena ia harus membereskan toko dulu sebelum membukanya. Tapi kali ini ia merelakan jam buka tokonya yang akan sedikit terlambat untuk mengurus adiknya yang sedang sakit.
Minki sangat sayang pada Seonho meski hampir setiap hari ia mengomeli adik manisnya itu. Dia sadar jika terkadang ia menjadi terlalu cerewet ketika terjadi sesuatu pada Seonho. Itu semua merupakan sebuah reflek yang timbul akibat kekhawatirannya yang sedikit berlebihan.
Suara bel rumah yang berbunyi seketika membuyarkan lamunan Minki. "Siapa yang bertamu pagi-pagi begini, aish." Ia segera bangun dari duduknya, berniat untuk membukakan pintu untuk si tamu, namun gerakannya terhenti ketika mendengar suara derap langkah kaki dari arah tangga yang disusul oleh teriakan Seonho.
"Biar aku saja hyung!"
Minki yang sudah terduduk kembali di kursinya membalas teriakan Seonho. "Ya! Sudah kubilang jangan berlari di tangga!" Kemudian terdengar suara tawa Seonho dari ruang depan.
"Anak ini benar-benar." Gumamnya seraya meminum tehnya yang sudah mulai dingin.
Seonho meneruskan kegiatan berlarinya hingga sampai di depan pintu. Ia berhenti sejenak dengan sebelah tangan mengusap-usap pelan kepalanya. 'Aish, kepalaku sakit lagi. Harusnya tadi aku tidak berlari.'
Setelah kepalanya berhenti berdenyut, ia bergegas membukakan pintu untuk tamu paginya.
"Maaf membuat anda menunggu–"
Kalimat itu seketika terputus ketika Seonho melihat siapa orang yang datang bertamu. Tubuh tinggi semampai, rambut hitam legam yang ditata sedemikian rupa, serta senyuman khas yang setahu Seonho hanya dimiliki oleh satu orang.
"Senang melihatmu kembali sehat."
Senyuman mempesona milik sang tamu berhasil membuat tubuhnya diam mematung karena terpana, sekaligus membuat jantung Seonho berdetak sepuluh kali lebih cepat.
'Apa aku masih berada di dalam mimpi?'
.
.
TBC
.
.
Maafkan adegan rated yang terlihat amatiran itu, ini benar-benar pertama kalinya aku nulis adegan rated. Aku hanya sering baca, tapi nggak pernah nulis hehehe.
Chapter ini sepertinya yang paling panjang daripada yang lain, kuharap readernim nggak bosen bacanya XD.
Terimakasih yang udah review, fav, dan follow ff ini. Aku selalu menunggu saran dan masukan dari readernim sekalian, jadi jangan lupa review yaa.
Love
~Buttermints~
