Seonho mematung di depan pintu seraya memperhatikan mobil itu melaju pergi dari halaman rumahnya. Setelah memastikan mobil itu benar-benar pergi, ia langsung saja berlari kembali masuk ke dalam rumahnya.
Tepat setelah Seonho menutup pintu rumahnya, kaki-kakinya terasa lemas hingga membuatnya jatuh terduduk tepat di depan pintu. Entah sudah berapa kali jantungnya berdetak dengan tempo yang tidak normal hari itu dan entah berapa kali juga wajahnya berubah menjadi sewarna tomat seperti sekarang.
"T– Tadi itu ajakan kencan?"
.
.
.
Critical Beauty
Chapter 8
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T (M for future Chapter)
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
Waktu terasa cepat berlalu, rasanya baru sebentar mereka bersenang-senang karena sekolah yang dipulangkan lebih awal. Hari ini siswa 101 International School harus kembali masuk sekolah seperti biasanya, jam tujuh pagi dan pulang jam dua siang. Begitu pula dengan Seonho, setelah kemarin beristirahat di rumah sehari penuh, ia harus kembali masuk sekolah.
'Karena memikirkan hal itu, aku jadi tidak bisa tidur semalam. Kuharap wajahku tidak terlihat seperti panda.'
Semalam pemuda bersurai hitam itu terjaga hingga pukul dua pagi karena tidak bisa berhenti memikirkan Guanlin. Alhasil hari ini dia bangun lebih siang dari biasanya, itupun karena Minki yang menyeretnya paksa ke kamar mandi. Berkat hyungnya itu, dia tidak jadi terlambat datang ke sekolah.
Hari ini Seonho merasa sedikit aneh karena ini pertama kalinya ia pergi ke sekolah tanpa menggunakan kacamatanya. Sejak ia menginjakkan kaki di gerbang sekolah, semua orang tampak menatapnya dengan saling berbisik, entah apa yang dibicarakan oleh mereka. Seonho berusaha untuk mengabaikan tatapan-tatapan itu dan segera berjalan menuju kelasnya.
"Woah dia manis sekali..."
"Sepertinya murid baru, aku belum pernah melihatnya"
"Kyaaa! Anggota Prince Corp akan bertambah!"
Begitulah kira-kira yang diucapkan oleh siswa-siswa di sekitar Seonho yang kebanyakan adalah wanita. Mereka tampak bergerombol di sisi kiri kanan lorong kelas.
"Um? Kenapa ramai sekali?"
Jihoon yang baru saja kembali dari ruang guru terheran-heran karena jalan yang tadinya sepi, kini menjadi sangat ramai karena banyaknya siswa yang bergerombol di pinggir lorong. Karena penasaran, ia memutuskan untuk bertanya pada salah satu gadis disana.
"Permisi, rasanya disini ramai sekali. Memangnya ada apa?"
Gadis itu pun menoleh dan sedikit tersipu melihat Jihoon. "Ah, barusan ada siswa berwajah tampan lewat sini, sepertinya murid baru."
Jihoon menaikkan alisnya. 'Murid baru?'
"Kau tau dia pergi ke arah mana?"
"Dia berjalan lurus, kemudian sampai di pertigaan lorong belok kiri jika aku tidak salah."
"Terimakasih." Jihoon sedikit membungkukkan badannya kemudian segera berlari menuju arah yang disampaikan oleh gadis tadi.
"Kalau dia benar murid baru, dia harus segera dibawa ke ruang guru agar tidak dimanfaatkan oleh siswa yang tidak bertanggung jawab."
Kaki-kakinya terus melangkah, ia baru saja berbelok dari pertigaan lorong ke arah kiri dan tampaklah seseorang yang tengah berjalan dengan kepala menunduk. 'Ah sepertinya dia benar murid baru.'
"Hei kau! Berhenti sebentar!"
Seketika Seonho menghentikan langkahnya kemudian menolehkan kepalanya ke arah Jihoon yang sedang berlari menghampirinya. Napas pemuda yang baru saja berlari itu nampak terengah-engah ketika berhenti tepat di depan Seonho.
"Um... Ada apa?"
"Kau murid baru kan? Ayo ikut aku ke ruang guru."
'Eh? Tunggu, murid baru?'
Seonho menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, kemudian juga belakang tubuhnya. Mencoba mencari kalau-kalau ada orang yang berdiri disitu selain dirinya. Tapi yang ia temukan hanya dirinya sendiri dan laki-laki di depannya ini.
"Maksudmu aku?"
Jihoon mengernyit. "Tentu saja kau, memang aku bicara dengan siapa lagi?"
"Tapi aku– Yak!"
Sebuah pekikan lolos dari bibir Seonho ketika Jihoon menarik tangannya dengan tiba-tiba.
"Untung saja aku menemukanmu, jika tidak, mungkin kau akan dimanfaatkan oleh siswa yang tidak bertanggung jawab."
"Ah tapi–"
"Tidak ada tapi-tapian."
Pemuda yang kini tengah ditarik paksa oleh Jihoon itu tidak tahu harus bicara apalagi. Dia tidak pernah bicara dengan Jihoon sebelumnya, jadi dia sedikit takut ketika melihat tatapannya yang sedikit mengintimidasi. Tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkah kaki Jihoon yang otomatis membuat Seonho ikut berhenti.
"Kau sedang apa menarik-narik seorang siswa lain?"
DEGG–
Suara berat itu merupakan suara yang sangat Seonho kenali. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya saat ia membayangkan siapa orang yang saat ini tengah berdiri tepat di belakangnya.
"Ah, ini murid baru. Aku akan mengantarkannya ke ruang guru." Jawab Jihoon.
"Murid baru?" Guanlin memperhatikan sosok yang kini tengah berdiri membelakanginya. "Ah, yang ini ya. Apa aku boleh jadi teman pertamanya sebelum kau membawanya?"
Jihoon memutar matanya jengah. "Kau ini seperti anak TK saja. Jika kau ingin kenal, silahkan saja, tak ada larangan."
Guanlin menyunggingkan senyumannya. "Hei berbaliklah, aku tak bisa bersalaman dengan benar jika kau membelakangiku."
Lelaki yang berdiri di depannya itu tidak bergeming selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya dengan wajah yang masih setia menunduk.
Suara kekehan terdengar di lorong itu. "Ah sepertinya kau ini pemalu. Tak apa, angkat sedikit wajahmu."
Anak itu mengangguk kemudian mengangkat wajahnya perlahan hingga ia bisa melihat wajah Guanlin yang masih setia meyunggingkan senyumannya.
"Hum? Seonho?" Ucap Guanlin ketika wajah lelaki di depannya ini sudah bisa terlihat jelas.
"Seonho?" Jihoon tampak kebingungan.
"Dia bukan murid baru Jihoon, dia ini Yoo Seonho."
Jihoon menampakkan wajah tidak percayanya. "T– Tapi dia tidak pakai kacamata."
Helaan napas keluar dari bibir Guanlin. "Bukankah aku sudah cerita jika beberapa hari yang lalu lemparan bola basketku mengenai seorang siswa hingga kacamatanya pecah."
Sekali lagi Jihoon hanya menatap tak percaya ke arah Seonho.
"A– Aku masuk kelas dulu, sebentarlagi bel akan berbunyi. S– Sampai jumpa!"
Tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua, Seonho segera berlari menuju kelasnya mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Sementara dua siswa tampan yang ditinggalkan oleh Seonho hanya menatapnya dari kejauhan.
"Kau benar Guanlin."
Guanlin menoleh ke arah Jihoon yang kini tengah melihat kearahnya.
"We can't judge a book just by looking at its cover."
Guanlin hanya tersenyum mendengar pernyataan Jihoon. Ingatannya kembali pada kejadian sehari yang lalu.
.
.
Sekelompok pemuda terlihat sedang berkumpul di salah satu unit apartment yang terletak di kawasan elit kota Seoul. Suasana dalam ruangan itu tampak serius, semua penghuninya tengah menatap ke arah satu-satunya orang yang terlihat santai.
"Jadi, kenapa hari ini kau tidak masuk sekolah tanpa ada ijin? Itu bukan kebiasaanmu."
Daehwi memulai proses interogasinya, sementara yang lainnya tampak kompak mengangguk-nganggukkan kepalanya, setuju dengan pernyataan Daehwi.
"Tadi aku terlambat. Jadi, aku memutuskan untuk pulang saja."
Sebelah alis Daehwi terangkat. "Terlambat?"
"Aku bangun kesiangan."
"Kau hampir membuatku mempresentasikan tugas kita sendiri, untung saja hari ini tidak ada pelajaran." Celetuk Hyungseob kesal.
"Ah aku benar-benar lupa jika hari ini ada presentasi! Maafkan aku Seob-ah." Cengirnya tanpa rasa bersalah.
"Tampaknya dia juga tidak pulang ke rumah setelah itu." Semua mata beralih pada Jihoon. "Dia masih pakai seragam, harusnya dia sudah ganti baju jika memang pulang ke rumah."
Kemudian pandangan mereka kembali lagi pada Guanlin, meminta penjelasan.
"Aku belum sampai rumah ketika Daehwi menelponku." Guanlin memutar matanya.
Terdengar suara jentikan jari dari sebelah Jihoon.
"Aaa... atau jangan-jangan kau pergi ke rumah um... siapa itu namanya? Sinho? Sungho?"
"Seonho." Hyungseob membenarkan ucapan Kenta, lalu ditutup dengan gumaman 'ingatanmu payah sekali' yang tidak didengar oleh pemuda Jepang itu.
"Ah itu maksudku, Seonho."
"Kalaupun iya, itu bukan urusanmu Kenta."
"UWOOO!"
Seketika sorakan-sorakan ricuh terdengar di ruangan itu. Mereka menampakkan wajah tidak percaya usai mendengar jawaban singkat yang terdengar mencurigakan dari Guanlin. Daehwi tampak menutup mulutnya yang menganga lebar dengan kedua tangannya.
Sementara Guanlin hanya memandang datar teman-temannya yang sedang berteriak tidak jelas. Kadang ia tak habis pikir dengan kelakukan mereka yang bisa dibilang unik, mereka semua tampan, tapi tidak cool sepertinya. Oke, lupakan sisi narsis pemuda Cina yang mulai muncul ini.
Kembali pada pria-pria tampan kita yang sudah mulai tenang dan kembali pada posisi duduk mereka. Tatapan mereka kembali mengarah pada Guanlin, kali ini mereka melayangkan tatapan penuh selidik.
"Jadi kau ada hubungan spesial dengan si nerdy? Wow, I can't believe it bro–."
"Guanlin, jangan sampai kau menganggukkan kepalamu atas tuduhan yang dilayangkan Samuel-ku."
Samuel mengernyit tidak suka karena kalimatnya dipotong oleh sang kekasih. "Hey babe, aku belum– hmftt!"
Sekali lagi kalimat pria berwajah western itu harus terpotong karena tangan mungil Daehwi yang membekap mulutnya, melarang dirinya untuk berbicara lebih jauh.
"Seonho bukanlah seorang nerdy seperti yang kalian katakan dan aku tidak ada hubungan– maksudku belum ada hubungan apapun dengannya." Guanlin menjawab pertanyaan itu dengan ekspresi tenangnya.
"Belum ada? Berarti kau berencana memulai hubungan dengannya?"
Jinyoung yang sejak tadi hanya menyimak, mulai membuka suaranya. Hell! Dia tau jika Guanlin itu tampan, bahkan jumlah fansnya di sekolah melebihi dirinya. Lalu dengan tenangnya dia bilang 'belum memiliki hubungan' dengan Seonho, siswa paling nerd satu sekolah? No no no... Jinyoung tidak akan menyetujuinya.
"Mungkin."
Jawaban singkat Guanlin kembali membuat ricuh seisi ruangan. Beruntung apartment milik Euiwoong ini kedap suara, jadi mereka tidak perlu menghadapi tetangga sebelah yang mungkin akan mendatangi mereka karena terganggu dengan ulah para remaja itu.
"STOP!"
Suara teriakan si pemilik apartment mampu membuat seisi ruangan itu kembali senyap. Pemuda yang baru saja berteriak itu menghela napasnya pelan.
"Ya tuhan... Jangan heboh hanya karena Guanlin yang dekat dengan Seonho. Dia punya hak untuk memilih siapa saja menjadi kekasihnya. Selama dia bukan alien atau semacamnya, tidak masalah."
Beberapa orang di ruangan itu menatap tidak setuju pada pernyataan Euiwoong. Mereka mulai berdebat lagi setelahnya, persis seperti ibu-ibu yang akan menjodohkan anaknya.
.
.
"Hello, Jihoon to Guanlin." Jihoon menjentik-jentikkan jarinya di depan wajah Guanlin yang rupanya tengah melamun.
Guanlin segera tersadar dari lamunannya. "Ah, sampai dimana tadi?"
Pemuda bersurai cokelat itu mendecih pelan.
"Bel baru saja berbunyi, kita harus segera masuk kelas."
"Benarkah? Aku tidak dengar apapun tadi."
"Wah, kurasa pesona gebetanmu itu mampu membuat telingamu tuli secara mendadak."
Pemuda Cina itu memutar matanya malas mendengar pernyataan sarkastik dari Jihoon yang kini sudah berjalan mendahuluinya. Ia pun menyusul Jihoon, mensejajarkan langkah dengan pemuda di sebelahnya.
"Kau dulu juga terobsesi pada Jinyoung, menjadi penggemar rahasianya, memberikan bento setiap pagi di atas mejanya, mengam– Ahk!."
Guanlin meloncat-loncat kecil dengan tangan memegangi bagian kakinya yang baru saja ditendang oleh Jihoon.
"Hadiah untukmu bocah nakal." Ketusnya seraya masuk ke dalam kelas dengan wajah sedikit merona, meninggalkan Guanlin yang masih setia mengaduh kesakitan di depan pintu kelasnya.
.
.
~Buttermints~
.
.
KRINGGGG–
Sorak sorai siswa tampak menggema di beberapa kelas ketika mendengar bunyi bel pulang sekolah. Mereka bergegas membereskan semua barang-barang mereka kemudian beranjak meninggalkan kelas.
Suasana kelas yang ada di ujung lorong masih tampak ramai dipenuhi siswa-siswanya yang belum pulang. Sebagian siswa tampak bersiap untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, sedangkan yang lainnya masih sibuk mengobrol satu sama lain.
Seonho melirik jam di ponselnya was-was. Bel sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu, harusnya ia sudah menemui Guanlin tepat setelah bel berbunyi. Tapi saat ini bangkunya sedang dikelilingi oleh beberapa gadis yang merupakan teman sekelasnya sendiri. Alhasil ia terjebak di tempat duduknya, tidak bisa bergerak kemana-mana.
Sejak tadi kepalanya terus menunduk, mencoba menghindar dari tatapan lekat para gadis yang dilayangkan padanya.
"Jadi kau itu benar Seonho? Yoo Seonho yang berkacamata tebal?" celetuk salah satu gadis itu.
Seonho hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Woah, jadi selama ini kau menyembunyikan wajah tampanmu dengan kacamata itu?"
"T– Tidak, penglihatanku memang buruk."
Jawabnya yang langsung ditanggapi dengan anggukan oleh mereka.
"Dia menggemaskan sekali, iya kan Somi?" Sejeong berbisik pada Somi yang berdiri di sebelahnya.
"Bagiku tetap Guanlin yang paling tampan."
Sejeong tampak memutar matanya malas dan memilih untuk kembali memperhatikan Seonho daripada menanggapi ucapan temannya itu.
Suara ketukan pada pintu seketika mengalihkan atensi siswa-siwa di kelas itu, termasuk gadis-gadis yang sedang bergerombol di meja Seonho.
"Aku mencari Seonho, apa dia masih ada disini?"
Tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu. Semuanya tengah fokus memandangi pria tinggi bersuarai hitam yang masih berdiri di depan pintu, mereka tampak terpana akan sosok tinggi itu.
"A– Aku disini."
Suara Seonho memecah keheningan di kelas itu, ia tampak bergegas memakai tasnya dan berjalan melewati gadis-gadis yang tadi berdiri memutari meja, menghampiri pria yang kini tengah mengembangkan senyumnya.
"Kupikir kau sudah pulang."
"Maaf, tadi temanku ada sedikit urusan denganku, jadi aku terlambat menyusulmu." Seonho berucap lirih.
"Tak apa, kita berangkat sekarang?"
"Um.." Kepala Seonho mengangguk.
Kemudian mereka berdua beranjak meninggalkan kelas diiringi oleh tatapan heran teman-teman sekelas Seonho.
.
.
~Buttermints~
.
.
Mobil Toyota SUV putih milik Guanlin terlihat meluncur ditengah keramaian jalan kota Seoul. Suasana di dalam mobil itu tampak hening, seperti biasanya, Guanlin tengah sibuk memandang keluar jendela. Sementara Seonho sedang asik memainkan jari-jari tangannya, hal yang biasa ia lakukan ketika sedang gugup. Helaan napas beberapa kali keluar dari bibirnya, berusaha untuk menenangkan detak jantungnya yang mulai menggila.
Rasa gugupnya semakin bertambah karena sejak tadi Guanlin tidak mengajaknya bicara sejak mereka berdua memasuki mobil. Sebenarnya dia penasaran kemana Guanlin akan membawanya, ia ingin bertanya, namun lidahnya tidak bisa diajak kompromi karena mendadak jadi kaku. Selain itu, ia takut mengganggu kegiatan Guanlin yang sedang fokus memandangi jendela mobil.
"Um.. sebenarnya kita mau kemana?" Ucap Seonho akhirnya.
Guanlin terkesiap mendengar suara Seonho, ia lupa jika di dalam mobil ini bukan hanya ada dia dan paman Park, tapi juga ada Seonho. Kepalanya segera menoleh ke arah pria di sebelahnya.
"Kita akan pergi ke optik, membeli kacamata untukmu." Jawab Guanlin yang langsung direspon Seonho dengan anggukan.
Kemudian hening lagi. Seonho kembali berkutat dengan pikirannya, hatinya sedikit kecewa karena ajakan yang dipikirnya merupakan ajakan kencan ternyata hanya bagian dari tanggung jawab Guanlin, yaitu untuk mengganti kacamatanya yang pecah. Sebuah helaan napas lolos dari bibir Seonho, bahunya terlihat jatuh karena kecewa.
"Tuan kita sudah sampai."
Guanlin mengangguk kemudian beranjak turun dari mobil. "Ayo Seonho."
"A– Ah, iya." Seonho segera memakai tasnya dan turun dengan buru-buru.
Matanya memandang Guanlin yang sedang bicara sesuatu dengan paman Park sebelum mobil itu meluncur meninggalkan mereka berdua. Guanlin segera menyusul Seonho yang sudah menunggunya di depan toko.
"Kenapa paman Park tidak menunggu kita saja? Bukankah hanya sebentar?"
Bukannya menjawab pertanyaan Seonho, Guanlin malah menyunggingkan senyum simpulnya, lalu menarik Seonho masuk ke dalam optik.
"H– Hei!" Seonho memekik karena tangannya yang ditarik tiba-tiba.
Segera setelah mereka memasuki toko, Seonho segera masuk ke ruangan khusus yang digunakan untuk memeriksa matanya. Rupanya Guanlin sudah membuat janji khusus dengan dokter di sini, sehingga ia tidak perlu mendaftar lagi. Pemeriksaan hanya berlangsung sekitar 20 menit karena Seonho hanya memastikan apakah minus matanya bertambah atau tidak.
Setelah pemeriksaan, Guanlin mengajak Seonho untuk memilih frame kacamatanya di bagian depan toko. Seonho sedikit bingung karena disana terdapat banyak sekali jenis dan model frame, sampai-sampai ia harus dibantu oleh Guanlin untuk memilih frame yang cocok dengan wajahnya.
"Sepertinya yang ini saja" Ucap Guanlin seraya memperhatikan wajah Seonho dengan teliti. "Kau tampak manis."
"E– Eh? Baiklah yang ini saja."
Seonho buru-buru melepas frame kacamatanya dan berpura-pura sibuk memperhatikan etalase untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai merona. Sementara Guanlin hanya menyunggingkan senyumnya sebelum beranjak menuju kasir.
"Tidak usah pikirkan kata-kata itu bodoh. Dia tidak mungkin mengucapkannya dengan sengaja." Pria pendek itu bergumam dengan memukul-mukul pelan kepalanya menggunakan kepalan tangannya sendiri.
"Kenapa? Kepalamu sakit lagi?"
"A– Ah tidak... hehe." Seonho tertawa canggung, kepalanya menoleh ke arah Guanlin yang kini tengah menatapnya khawatir.
Guanlin bernapas lega, raut khawatirnya perlahan menghilang dan digantikan oleh senyuman khasnya.
"Kacamatamu akan selesai besok. Jadi kau harus kembali meluangkan waktu untuk mengambilnya denganku."
Seonho mengangguk patuh.
"Kita pergi sekarang."
Setelah semuanya selesai, mereka segera beranjak meninggalkan optik itu. Jalanan tampak sedikit ramai karena saat itu adalah jam pulang sekolah juga kantor. Nampak banyak orang berlalu lalang di sekitar mereka, Seonho yang tengah sibuk memandangi sekitarnya tidak sadar jika langkah kakinya mulai melambat hingga berjarak sedikit jauh dengan Guanlin yang berjalan di depannya.
Seketika langkahnya berhenti ketika matanya menangkap sebuah toko es krim yang ada di seberang jalan. "Uh... aku ingin makan es krim." Gumamnya seraya menatap toko es krim yang menarik perhatiannya.
Tiba-tiba ia merasa ada sebuah tangan yang menarik pergelangan tangannya. Sontak ia segera mengalihkan pandangannya ke arah tarikan itu dan mendapati Guanlin dengan napas yang tidak teratur.
Matanya mengerjap beberapa kali. "Kenapa napasmu jadi begitu?"
"Aku mencarimu di tengah keramaian. Bagaimana bisa kau tertinggal jauh di belakangku?"
Seonho tertegun. 'Dia... mencariku?'
"Setidaknya bilang padaku jika kau ingin berhenti. Saat ini jalan sedang ramai, kau bisa-bisa hilang disini."
'D– Dia mengkhawatirkanku?'
"Aku mengkhawatirkanmu, kau tau itu?"
Guanlin menjawab seakan-akan dia bisa membaca pikiran lelaki pendek yang tengah menatapnya.
"Maaf, tadi aku berhenti karena tidak sengaja melihat toko es krim."
"Toko es krim?"
Seonho mengangguk. "Toko es krim yang ada di seberang jalan."
"Kau ingin makan es krim?"
"Mau!"
Jemari Seonho langsung menutup bibirnya yang bersuara seenaknya. "T– Tidak, maksudku–."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Guanlin sudah lebih dulu menggandeng tangannya dan menariknya untuk menyeberang jalan, menuju toko es krim yang tadi ia tunjukkan.
Seonho mengamati tangannya yang kini tengah digenggam oleh Guanlin, hal itu sukses membuat wajahnya kembali merona. Kaki-kakinya mengikuti langkah kaki pria tinggi di depannya, hingga ia merasa langkah kaki itu berhenti. Seonho mendongakkan kepalanya dan ia baru sadar jika sudah sampai di depan counter es krim. Matanya berbinar ketika melihat es krim dengan berbagai rasa yang ditata di dalam etalase kaca.
"Pilihlah."
"Um... Dua scoop Double Choc dan satu scoop rasa Stroberi. Pakai cone cokelat." Ia menoleh pada Guanlin. "Kau?"
"Rasa Cappucino dan Vanilla, masing-masing satu scoop."
Guanlin membayar es krimnya dan Seonho, kemudian mengambil dua cone es krim pesanannya. Ia memberikan es krim milik Seonho yang langsung disambut dengan senang hati oleh si empunya.
"Terimakasih!"
Wajah Seonho yang tampak berbinar ketika memakan es krimnya membuat Guanlin mengembangkan senyumannya karena gemas. Ia kembali menggandeng tangan Seonho, kemudian segera beranjak dari toko es krim.
Guanlin memutuskan untuk membawa Seonho ke taman yang tidak jauh dari situ. Sesekali ia menolehkan wajahnya, sekedar mengecek Seonho yang sejak tadi tidak mengeluarkan suara apapun karena sibuk dengan es krim di tangannya.
"Kita duduk sebentar." Guanlin melepas gandengan tangannya dan mendudukkan dirinya di bangku taman.
Seonho yang sejak tadi sibuk memakan es krimnya kembali fokus pada sekitarnya gandengan tangannya dilepas oleh Guanlin.
"Um? Sejak kapan kita sampai sini?"
"Baru saja. Kau asik dengan es krimmu sejak tadi."
Tawa kecil Guanlin sukses membuat dirinya merasa malu. "M– Maafkan aku."
"Santai saja. Ah, duduklah."
Seonho segera mendudukkan tubuhnya di sebelah Guanlin, kemudian kembali menikmati es krimnya yang tersisa.
.
.
~Buttermints~
.
.
Semilir angin membuat pohon yang menaungi mereka berdua mengeluarkan bunyi gemerisik akibat daun-daun yang saling bergesekan. Sinar matahari yang mulai meredup menunjukkan bahwa hari sudah semakin sore. Entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu di luar bersama-sama.
Es krim yang tadi mereka beli telah digantikan oleh sebuah Chicken Burger yang tadi dibeli oleh Guanlin setelah mendengar bunyi yang berasal dari perut Seonho. Keduanya masih sibuk mengunyah tanpa menyuarakan kata-kata apapun.
Guanlin selesai makan lebih dulu, ia melipat kertas bekas tempat Burgernya, lalu menyimpannya untuk dibuang di tempat sampah nanti. Kepalanya menoleh ke arah Seonho yang masih setia mengunyah Burgernya.
'Manis sekali, bahkan saat makan.'
Lelaki itu tersenyum, sejenak mengagumi sosok menggemaskan itu dan berusaha memasukkan segala geraknya ke dalam memori otaknya. Sungguh, mata Guanlin menolak untuk mengalihkan pandangannya dari sosok bernama Yoo Seonho ini.
"A– Apa di wajahku ada sesuatu?"
Suara gagap Seonho membuyarkan lamunan Guanlin. Sekarang ganti dia yang gugup karena ketahuan sedang mengamati Seonho.
"T– Tidak ada, maaf aku hanya sedang tidak fokus."
Seonho mengangguk-nganggukkan kepalanya kemudian mengembalikan atensinya pada Burger di tangannya.
"Seonho. Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Uhum..." Lelaki itu bergumam dengan mulut yang masih setia mengunyah.
"Apa kau memiliki kekasih?"
"UHUK!"
Tangan Seonho berusaha meraih gelas berisi cola yang ada di sampingnya, kemudian segera meminumnya untuk menghilangkan rasa sesak akibat tersedak kunyahan burger.
"Kau tidak apa-apa?"
Guanlin menepuk-nepuk punggungnya pelan, berusaha membantu menghilangkan rasa sesak yang dirasakan Seonho.
"A– Aku tidak apa-apa."
Seonho berusaha menetralkan nafasnya pasca kejadian tersedaknya barusan, lalu menolehkan kepalanya ke arah mana saja untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"T– Tidak punya." Ucap Seonho tergagap.
"Hum?"
"A– Aku tidak punya kekasih. Uh, l– lagipula siapa yang mau dengan seorang nerd sepertiku." Lanjutnya.
Pria Cina itu bersorak dalam hati ketika mendengar penuturan Seonho, namun ia tetap menjaga ekspresinya, berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.
"Kau tidak seburuk itu Seonho. Masih banyak yang bisa dilihat darimu selain penampilan."
Kepala Seonho tertunduk. "Um... Terimakasih."
Kemudian hening sejenak.
"Lalu, apa ada seseorang yang kau sukai?"
DEGG–
Detak jantung Seonho mendadak meningkat mendengar pertanyaan yang baru saja dilontarkan kepadanya.
'A– Aku harus menjawab apa? Ya tuhan, tidak mungkin jika aku bilang bahwa aku menyukainya.'
Guanlin tampak menunggu Seonho memberikan jawabannya. Dibalik wajahnya yang tenang, terdapat sedikit rasa was-was di dalam hatinya. Entah kenapa dia merasa takut jika lelaki manis di sebelahnya ini menjawab–
"A– Ada."
–persis seperti yang Seonho katakan barusan.
Seketika ekspresi Guanlin berubah, terlihat ada sedikit kekecewaan di sana. Kemudian ia mencoba memberikan satu pertanyaan lagi pada Seonho.
"Apa dia menanggapi perasaanmu?"
Seonho memainkan jari-jarinya. "A– Aku tidak tahu. K– Kadang aku merasa dia memberikanku perhatian yang lebih padaku j– juga bersikap manis. T– Tapi aku masih belum yakin."
Saat itu juga Guanlin ingin menenggelamkan diri di lumpur panas bersamaan dengan perasaannya. Ia butuh kamarnya, ia butuh meditasi untuk menenangkan dirinya.
"Kita pulang sekarang."
.
.
TBC
.
.
Ini panjang banget, aku berdoa semoga readernim nggak bosen bacanya XD.
Oh iya, rencananya aku akan namatin ff ini di chapter 10, terus ditambah 1 chapter spesial, tapi baru rencana kok hehe.
Terimakasih buat yang udah favorite, follow, dan review~. Kalianlah penyemangatku #halah
Aku masih setia menunggu reviewan readernim sekalian, jadi jangan lupa review yaa.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!.
Love
~Buttermints~
