-SARANGHAE 2-

Matahari sudah bersinar cukup terik. Baekhyun, Kyungsoo, dan Sehun sedang menikmati sarapan sekaligus makan siang mereka yang di buat sendiri oleh Chen. Sarapan yang membutuhkan waktu lama untuk membuatnya, hingga jadinya pada siang hari. Chen sudah berjuang sekuat tenaga, dari pagi hingga siang. Walaupun masakannya sedikit gosong, untuk menghormati perjuangan Chen mereka berusaha menghabiskannya. Chen merasa bangga melihat masakannya dimakan oleh tuan-tuannya.

Saat semua sedang makan. Chen melihat Kyungsoo terlihat kebingungan seperti mencari seseorang. Sedari tadi Kyungsoo terus menoleh dengan wajah panik.

"Tuan Soo, apa yang sedang kau cari?" mendengar pertanyaan Chen membuat Baekhyun dan Sehun menghentikan aktivitas memakannya.

"Apa kau tau dimana Jongin? Aku tidak melihatnya sedari tadi.." Kyungsoo menatap Chen dengan tatapan penuh tanya.

"Apa Jongin tidak mengilimimu pethan hyung?" Sehun angkat bicara. Seharusnya Jongin sudah mengirimi Kyungsoo pesan kemarin malam.

"Aku tidak tahu, ponselku mati dan baru aku charge. Sehun kau pasti tau dia dimana? Kau kan kekasihnya." Tanya Kyungsoo antusias. Dia tidak sadar jika ada seseorang menatapnya dengan sorot tajam.

"Kakek membawa Jongin, dan Chanyeol kemalin malam. Kakek juga membawa pelayan di thini tadi pagi. Makanya Chen memathak untuk kita. Bahkan kakek tidak mengithintanku belpamitan dengan Jongin." Sehun menjawab meluapkan kekesalannya.

"Jongin tidak pergi jauh tuan muda." sindir Chen dan dibalas cibiran oleh Sehun.

"Kakek membawa pelayan? Untuk apa?" Kali ini Baekhyun yang angkat bicara dan Kyungsoo yang terdiam.

"Suho-ssi ingin menghidangkan makanan sehari-harinya untuk ayah ibu Yixing. Ia lebih percaya pelayan disini dari pada cheff di restoran pertemuan. Aku yang akan melayani kalian untuk hari ini. Serahkan urusan memasak padaku !" Chen sangat antusias.

Baekhyun, Sehun dan Kyungsoo memilih diam dan tidak menggubris ucapan Chen.

Drrttt drrttt drrrtt..

Ponsel di sebelah Sehun bergetar. Ada panggilan masuk dari ponselnya. Di layarnya tertulis 'Kakek Tua', sudah pasti Lee Sooman sang kakek yang meneleponnya. Sehun berdiri, membawa ponselnya dan berjalan sedikit jauh dari meja makan.

"Yeobotheyo.. ada apa kek?" Diam-diam Baekhyun dan Kyungsoo berusaha menajamkan telinga mereka untuk mendengar perkcakapan Sehun.

"..." Sayang sekali Sehun tidak mengloud speakernya, sehingga niatan Baekhyun dan Kyungsoo gagal.

"EOMMA DAN APPAKU DATANG?" Chen, Baekhyun, dan Kyungsoo menoleh bersamaan mendengar ucapan Sehun. Bahkan Baekhyun hampir tersedak karena kaget.

"..."

"Alaso.. aku dan Chen akan belangkat thetalang." mendengar perkataan sehun membuat raut wajah Kyungsoo terlihat panik. Kyungsoo khawatir setelah ini hanya dia dan Baekhyun yang ada di rumah ini.

Sehun menutup teleponnya dan berjalan sambil melompat-lompat menuju meja makan.

"CHEN AYO BELSIAP EOMMA APPA DATANG !" Sehun menyeret Chen untuk segera pergi.

"Baiklah tuan muda. Tapi bagaimana dengan tuan Baekhyun dan tuan Kyungsoo? Mereka hanya berdua disini." Sehun berhenti dan menatap kedua hyungnya dengan tatapan penuh arti.

"Thudahlah meleta thudah besal.. Hyung-hyung belanikan?" tanyanya pada kedua hyungnya.

"Ah.. ne.." jawab Kyungsoo dan Baekhyun bersamaan. Tentu dengan sangat canggung.

"Tapi tuan mereka.." Chen khawatir melihat kecanggungan kedua tuannya.

"Thudahlah... AYO PELGI!" Sehun tanpa belas kasihan menyeret Chen keluar menuju garasi.

Kini di meja makan hanya ada Kyungsoo dan Baekhyun yang saling terdiam. Keduanya tak berniat mengucapkan sepatah katapun. Membuat suasana menjadi sangat canggung. Untung ada suara sendok dan garpu yang sedikit memecah kesunyian.

Kyungsoo maupun Baekhyun diam-diam mencuri pandang satu sama lain. Sayangnya kedua mata mereka tak pernah bertemu. Tepatnya, ketika kedua mata mereka akan bertemu. Salah satu dari mereka memutus kontak dengan menoleh ke arah lain.

Baekhyun menpercepat acara makannya. Dia tidak tahan dengan kecanggungan ini. Dia jadi teringat dengan dirinya kemarin malam. Dan itu membuatnya sangat malu menghadapi Kyungsoo.

Tidak lama, makanan Baekhyun sudah habis. Baekhyun bangkit dan mengemasi piring-piring miliknya, Chen, dan juga Sehun. Kyungsoo diam-diam meliriknya ketika Baekhyun membawa piring-piring itu ke dapur.

Baekhyun memakai celemek yang tergantung di sudut dapur. Dan memulai acara mencuci piringnya. Sebelum itu ia menoleh ke arah Kyungsoo dan memberanikan diri untuk mengajak berbicara.

"Jika kau sudah selesai, bawa piringmu kemari. Aku akan mencucikannya.." setelah mengucapkan itu Baekhyun langsung berbalik tanpa menunggu jawaban. Dia terlalu takut melihat respon Kyungsoo.

Sedangkan Kyungsoo, saat ini dia sedang menahan hatinya yang berdegup tak beraturan. Kyungsoo tidak membalas ucapan Baekhyun dengan kata-kata. Dia mengangguk agar Baekhyun tak tahu.

Setelah cucian Baekhyun hampir selesai, Kyungsoo datang dan menyerahkan piring kotornya tanpa sepatah katapun. Baekhyun hanya dapat tersenyum menanggapinya.

"Nanti siang kau makan apa?" Tanya Baekhyun dengan mencoba setenang mungkin.

"Ini sudah siang." Kyungsoo menjawab dengan nada dingin sambil menunjuk ke arah jam di dapur yang menunjukan jam 11 siang. Baekhyun tertawa canggung menanggapinya.

"Ah benar juga... Kalau begitu makan malam nanti kau mau apa?" Baekhyun kembali memfokuskan dirinya pada piring agar tak terlalu grogi.

"Akuakanmemasak." jawab Kyungsoo dengan cepat, seperti kalimat tanpa spasi. Baekhyun yang terlalu fokus mencuci, tidak mendengar apa yang dikatakan Kyungsoo barusan. Baekhyun menghentikan acara mencucinya dan menoleh ke arah Kyungsoo. Membuat kedua menjadi bertatapan.

"Ne?" tanya Baekhyun sekali lagi.

"Aku yang memasak." Kyungsoo mengatakannya sambil menatap lekat manik-manik mata Baekhyun. Telinga Baekhyun memerah. Baekhyun memalingkan wajahnya ke arah cucian.

"Sudah lama kita tidak mengobrol." gumam Baekhyun sangat lirih. Sebagian dirinya berharap Kyungsoo mendengarnya. Sebagian lagi berharap Kyungsoo tidak mendengarnya.

"Apa?" Kyungsoo bertanya dengan nada galak.

"Itu... aku hanya senang kita tidak canggung lagi." Baekhyun senyum peps-den ke arah Kyungsoo. Kyungsoo masih menatapnya datar

"Kita masih canggung. Aku masih marah denganmu." Kyungsoo berjalan meninggalkan Baekhyun dengan langkah-langkah yang sengaja dihentakan keras.

"Sepertinya aku memang harus minta maaf..."

"Soal kesalahanku yang dulu."

Baekhyun menunduk sedih sambil menyelesaikan pekerjaannya.

-o-

Baekhyun mengetuk pintu kamar Kyungsoo berkali-kali. Dia terus mengetuk dan memanggil-manggil nama Kyungsoo. Kyungsoo yang sedang asyik membaca novel merasa tertanggu. Kyungsoo membuang novelnya asal. Kemudian dengan penuh emosi Kyungsoo membuka pintu kamarnya.

"Kyungsoo!" pekik Baekhyun riang saat melihat Kyungsoo dihadapannya.

"APA!" Tanya Kyungsoo tak santai.

Baekhyun tersenyum dan menyodorkan nampan dengan coklat panas dan sebuah kotak di atasnya.

"Teman untuk membaca novel." ujar Baekhyun ceria.

Kyungsoo masih terpaku, ia bingung melihat Baekhyun yang berbeda dari biasanya. Terlalu lama menunggu Kyungsoo, Baekhyun tanpa izin meraih tangan Kyungsoo. Meminta kedua tangan Kyungsoo untuk menerima nampan tersebut. Seperti dibimbing, kedua tangan Kyungsoo mengikuti apa yang diminta Baekhyun.

"Kalau kau butuh sesuatu, aku sedang mengerjakan proposal di kamar." Suara Baekhyun kembali menyadarkannya.

"Aku tidak akan mencarimu!" Baekhyun hanya tersenyum menanggapi ucapan Kyungsoo.

Baekhyun mengacak rambut Kyungsoo, kemudian berlari menuju kamarnya secepat mungkin. Sebelum Kyungsoo mengamuk dan meneriaki namanya.

"YAK BAEKHYUUN!" Baekhyun dapat mendengar teriakan Kyungsoo dari balik kamarnya. Mungkin ini satu-satunya cara Kyungsoo mau memanggil namanya.

-o-

Kyungsoo meletakan nampan yang diberikan Baekhyun di atas meja belajarnya. Kyungsoo duduk sambil memandangi kotak dan segelas apanas di atas nampan. Ia bertanya-tanya kenapa Baekhyun memberikan ini, bukankah Baekhyun seharusnya tahu jika dia tidak terlalu menyukai coklat. Kyungsoo mulai berpikir macam-macam. Mungkin dalam coklat itu ada racun. Kyungsoo menggelengkan kepalanya berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu.

Kyungsoo mengalihkan perhatiannya ke arah kotak coklat yang terlihat cukup tua. Kyungsoo mulai curiga lagi. Jangan salahkan Kyungsoo jika dia mudah curiga. Karena saat kecil, Baekhyun sering menjahilinya. Kyungsoo berpikir. Jangan-jangan di dalam kotak ada kecoa atau tikus, untuk mengejutkannya.

Kyungsoo mengangkat kotak itu dan mengocoknya. Tidak terdengar ada tanda-tanda makhluk hidup seperti tikus maupun kecoa di dalamnya. Kotak terasa sangat ringan, dan suaranya seperti benda-benda ringan yang saling bertubrukan.

Karena rasa penasaran Kyungsoo memberanikan diri saat membukanya. Ia membuka matanya sambil membuka penutup kota.

"HIYAAA" teriaknya namun tak terjadi apa-apa.

Kyungsoo membuka kedua matanya perlahan. Mengintip dari celah-celah matanya. Saat berhasil melihat apa yang ada di dalam kotak. Kedua mata Kyungsoo terbuka lebar. Bola matanya membulat tak percaya.

Kyungsoo mengeluarkan satu-persatu barang yang ada di dalam kotak. Pertama, dua buah sarung tangan dengan rajutan membentuk nama ayah dan ibu Kyungsoo. Selanjutnya terdapat gelang rajut yang ada sepasang. Kyungsoo tidak tahu gelang itu milik siapa. Dia lebih terfokus pada sapu tangan yang seharusnya sudah ia buang karena dirusak.

"Kenapa ini bisa ada disini? Bukankah Baekhyun sudah merusak semua ini?"

Kyungsoo menggeledah kotak itu kembali. Kyungsoo menemukan sepucuk surat dengan stiker anak anjing yang menangis.

Tanpa pikir panjang Kyungsoo membuka surat itu..

"Kyungja-yaa apa kabar?

Kyung, apa kau ingat? Saat kita kecil aku selalu memanggilmu dengan sebutan Kyungja.
Apa kau ingat? Aku selalu mengikutimu kemana-mana dan merengek seperti anak kecil.
Apa kau ingat? Aku selalu berlagak pahlawan tapi selalu kalah jika berhadapan denganmu.
Itu semua kenangan indah saat kita masih kecil.

Tapi karena kesalahanku,
Mungkin kau hanya mengingat bagaimana aku mengerjaimu, menjahilimu, dan mengejekmu.
Maafkan aku,
Aku terlalu banyak melukaimu karena itu.
Aku tak menyangka kita akan menjauh karena itu.

Aku terlalu kekanak-kanakan saat itu.
Aku menjahilimu, karena aku ingin mendapatkan perhatianmu..
Aku mengejek dan menggodamu, agar kau meneriakan namaku. Aku suka mendengarmu meneriakan namaku.

Ke kanak-kanakan sekali kan?

Kyungja-yaa

Apa kau masih mengingat saat aku merusak saputangan rajutan tanganmu untuk ayah ibumu?

Sebenarnya aku tidak benar-benar merusaknya. Aku membeli sapu tangan dengan warna sama dan merusaknya di hadapanmu.

Percayalah..
Sapu tangan dihadapanmu adalah milikmu yang sebenarnya
Aku tidak benar-benar tega merusaknya.

Maafkan aku

Aku benar-benar keterlaluan saat itu.
Aku tidak pernah bisa tidur tenang saat itu,
Aku selalu melihatmu menangis di mimpiku

Aku benar-benar bodoh
Aku membiarkan api cemburu membakarku,

Kau ingat? Saat itu guru kita meminta kita membuat rajutan untuk orang yang kita sayangi.
Aku mendengarmu akan membuat rajutan pada sepasang saputangan. Ku kira namaku yang akan tercantum disana, ternyata bukan.
Aku cemburu saat itu, aku tidak terima saat itu...
Kukira nama kedua orang tuamu, adalah nama teman sekelas kita.

Aku menyesal saat menyadari itu,
Maafkan aku Kyung,
Kau boleh tidak memaafkan karena semua kesalahanku dahulu.
Kau boleh membalasnya, seperti perlakuanku saat itu
Atau jika kau ingin aku akan memenuhi semua keinginanmu, selama aku hidup. Walau keinginanmu adalah sesuatu yang tak mungkin. Aku akan berusaha memenuhinya.
Sebagai penebusan dosaku
Aku pantas menerimanya..

Tapi bolehkah aku meminta sesuatu padamu?

Aku minta,
terimalah sepasang gelang rajutan ini.

Dulu aku membuatnya untuk kita,
Aku ingin kita memakai gelang pasangan ini. Dan memarkannya ke semua orang..

Namun,
Saat ini aku merasa tak pantas untuk memakai gelang ini denganmu
Jadi pakailah gelang ini bersama orang yang kau cintai

Kyunja-yaa
Segelas coklat panas di samping kotak ini, adalah tanda perminta maafanku padamu.

Dulu kau selalu memberiku coklat panas agar kita berbaikan dan tidak bertengkar.

Dengan segelas coklat ini aku ingin kita bisa berbaikan.

Tidak apa-apa jika kau tidak mau menerima permintaanku untuk berbaikan...

Aku mengerti hal itu

Oiya Kyung, kau tau?
Banyak yang mengatakan
Jika kau ingin mengungkapkan cinta pada seseorang
Berikanlah coklat pada orang itu

Itu alasan keduaku memberimu coklat.

Aku mencintaimu

Saranghae

-Baekhyun"

Kyungsoo selesai membaca surat itu. Ia tersenyum menatap surat itu. Air matanya yang terbendung akhirnya jatuh.

"Baekhyun pabo!"

-o-

Baekhyun tengah sibuk dengan berkas-berkasnya. Ia membaca dan menandatangani satu-persatu proposal yang dibuat organisasi lain dibawah osis.

Baekhyun juga tengah mengoreksi berkas-berkas untuk acara sekolah kedepan. Namun Baekhyun sama sekali tidak dapat berkonsentrasi.

Dia terlalu fokus membayangkan reaksi Kyungsoo. Sejujurnya Baekhyun terlalu malu untuk memberikam surat itu pada Kyungsoo. Namun firasatnya mengatakan, hari ini dia harus mengatakan yang sejujurnya.

Drrtt... drrttt...

Baekhyun tersadar dari lamunannya. Baekhyun langsung memeriksa ponselnya. Baekhyun hampir melempar ponselnya, saat melihat nama si pengirim pesan.

Kyungsoo

Ke kamarku skg juga!

Bulu kuduk Baekhyun langsung berdiri ketika membaca pesan singkat itu. Tanpa berpikir dua kali Baekhyun bergegas sebelum Kyungsoo berubah pikiran.

-o-

"Permisi" ujar Baekhyun lirih sedikit ketakutan.

"Masuklah kemari!" jawab Kyungsoo.

Baekhyun dapat melihat Kyungsoo duduk di atas kasurnya sambil membaca novel favoritnya. Baekhyun menutup pintu kamar Kyungsoo dan memberanikan diri berjalan mendekat.

"Kyung?"

"Hm?"

"Apa kau sudah membaca suratku?"

"Sudah."

Mendengar jawaban Kyungsoo. Membuat Baekhyun terpaku di tempatnya. Ia tidak berani duduk di sisi ranjang Kyungsoo dan akhirnya memilih berdiri. Ia saat ini berdiri tepat di samping Kyungsoo, seperti pelayan yang siap mengabulkan keinginan tuannya.

"Kenapa kau tak duduk?"

"Ne?"

"Biasanya kau selalu duduk disini ketika berkunjung ke kamarku." Kyungsoo menepuk tepi ranjangnya tempat Baekhyun yang selalu diam-diam memperhatikannya saat Kyungsoo tidur.

"Maksudmu?" Baekhyun membulatkan matanya. Ia benar-benar tak mengerti apa maksud Kyungsoo.

Kyungsoo yang sudah tak sabar, menarik tangan Baekhyun untuk duduk. Baekhyun pun menurut, takut Kyungsoo bertambah marah karena tidak menurutinya.

"Baek?"

"Ah... iya iya.." jawab Baekhyun gugup. Setelah sekian lama akhirnya Kyungsoo memanggil namanya dengan lembut.

"Apa kau benar-benar menyesal seperti yang tertulis di surat?" Baekhyun berdiri kembali dan menunduk sedalam-dalamnya.

"Ya aku sangat menyesal! Maafkan aku Kyung. Aku selalu ingin meminta maaf padamu." Jawab Baekhyun tanpa ada keraguan.

"Duduklah kembali..." Kyungsoo menarik Baekhyun lagi agar mau duduk.

"Apa kau serius akan mengabulkan permintaanku? Walau tidak mungkin?" Tanyanya lagi memastikan.

"Ya, aku serius. Aku berjanji." Baekhyun mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Kyungsoo.

"Baiklah, aku akan memaafkanmu. Tapi kau harus memenuhi semua permintaanku."

"Siap Tuan!" Baekhyun memberi hormat pada Kyungsoo.

"Aku akan menyebutkan 7 permintaanku saat ini."

"Permintaan pertamaku, kau tidak boleh mengulangi perbuatanmu yang dulu."

"Ne!"

"Permintaan kedua, kau harus selalu berada di sampingku dan jangan meninggalkanku."

"Ne?" Baekhyun mengerutkan keningnya. Kenapa permintaan Kyungsoo seperti ini.

"Permintaan ketiga, jangan mengunjungi kamarku diam-diam saat malam hari. Dan jangan menciumku diam-diam!"

"Ne? Mwo? Kau sadar saat aku kesini? Ja.. jadi... kau.." wajah Baekhyun memerah. Dia tertangkap basah.

"Dengarkan aku! Aku belum selesai!"

"Permintaanku keempat, batalkan perjodohanmu."

"Aku sudah membatalkannya sebelum kau minta."

"Kapan?"

"Kemarin malam, setelah kau mendobrak meja." Sekarang giliran Kyungsoo yang memerah akibat malu.

"Permintaan kelima, lupakan perjodohan kemarin!"

"Yes, sir!"

"Permintaan keenamku, kau harus menerima gelang ini!"

"Ini kan gelang buatanku? Kyung kenapa kau serahkan padaku? Kau harus menyerahkannya pada orang yang kau suka!"

"Permintaan ketujuh, jangan pernah mencintai orang lain selain aku." Kyungsoo menyembunyikan wajahnya di balik novel. Ia terlalu malu untuk menampakan wajahnya.

"Kyung?"

"Hm?"

"Apa kau menyukaiku?"

"Jika, iya kenapa? Jika tidak kenapa?"

"Ayolah jawab aku?!" Rengek Baekhyun memaksa.

"YA!"

"Ya? Kau menyukai?" Pancing Baekhyun.

"Ya!" Kyungsoo merutuki mulutnya yang sangat mudah terpancing.

"Kau memberiku gelang ini karena kau menyukaiku?"

"Hm"

"Kau menyuruhku selalu berada di sampingmu dan selalu mencintaimu, karena kau takut kehilanganku?"

"Berlebihan!"

"Intinya kau menyukaiku kan?"

"Hm.."

"HMM?" Baekhyun mengikuti deheman Kyungsoo.

"Iya, aku menyukaimu." Baekhyun melompat-lompat girang. Dia memeluk Kyungsoo dengan erat. Kyungsoo tersenyum dan membalas pelukan Baekhyun.

"Kyung bolehkah aku memanggilmu Kyungja?"

"Bukankah kau selalu memanggilku itu setiap malam?"

"Eh?"

Baekhyun melepaskan pelukannya. Kyungsoo tau semua yang ia lakukan selama ini. Telinga Baekhyun kembali memerah karena malu.

"Baek?"

"Ya?"

"Hanya pelukan?"

"Maksudmu?"

"Bukankah kita sekarang adalah kekasih?"

"Bisa dibilsng begitu. Lalu?"

"Dan kau hanya memberiku pelukan?"

"Ehm? Kau ingin apa?"

"Bukankah kau selalu mengecup keningku, pipiku, dan kedua mataku setiap malam?"

"Itu..."

"Bukankah kau selalu berusaha mencium bibirku?"

"Kau selama ini terbangun?"

"Iya"

"Jadi kau selama ini menikmatinya?"

"Tidak." Baekhyun tertunduk lesu mendengar jawaban Kyungsoo. Kyungsoo terkekeh melihat ekspresi Baekhyun. Bibir hati itu entah kapan, berhasil menggoda Baekhyun lagi.

"Kyung? Bolehkah aku?" Tatapan Baekhyun berubah menjadi sayu. Kedua matanya terfokus pada bibir ramum itu.

Kyungsoo mengalungkan tangannya di leher Baekhyun. Ia menempelkan keningnya pada ujung hidung Baekhyun.

"Aku tidak melarangmu."

Baekhyun menangkup wajah Kyungsoo. Mendongakan wajah itu agar bertatapan langsung dengannya. Baekhyun tanpa berpikir panjang segera mendekatkan wajahnya.

Kyungsoo dapat merasakan hembusan nafas Baekhyun. Ia memejamkan matanya, tepat ketika bibir mereka bertemu

-o-

Di perjamuan Suho...

Cucu ke 2

Kek, jika acara Suho hyung selesai jangan pulang dulu ya!
Aku sedang menyelesaikan tugasku dibantu Kyungsoo. Aku butuh konsentrasi tinggi

Sooman tersenyum membaca pesan dari Baekhyun.

"Sepertinya rencanaku berhasil."

-o-

Di perjamuan Suho...

di saat yang sama dengan eyang Sooman

Tuan Baekhyun

Chan, kau kembalilah besok pagi.
Aku dan Kyungsoo tengah menikmati masa berdua. Jangan ganggu kami!

Chanyeol tertawa mendapati pesan dari tuannya.

"Dasar!"

END