Pria itu tampak menahan napasnya. "A– Apa kekasihmu sudah datang?"
"Um? Ya, dia sudah disini, bersama teman-temanku juga. Hahaha jangan begitu Seonho-ya, aigoo."
Seketika tangannya meremat kuat buket bunga yang sedang ia pegang. "Baiklah hyung, kututup dulu." Sambungan itu kemudian diputus secara sepihak.
Harusnya ia tidak melakukan semua ini, sebesar apapun cintanya pada pria manis itu, ia tetap tidak boleh melakukannya. Sekali lagi matanya menatap ke arah sekelompok pemuda itu, sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari sana.
Critical Beauty
Chapter 10
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T (M for future Chapter)
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
Minhyun menatap pemuda bersurai gelap yang tengah sibuk mengaduk-ngaduk nasi goreng kimchi di piringnya. Pagi itu ia dikejutkan dengan adik sepupunya yang memasuki dapur dengan wajah pucat dan kantung mata yang menghitam. Tak ada sepatah katapun yang meluncur dari bibirnya, ia hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan Minhyun dengan gelengan dan anggukan kecil.
Bisa dibilang keadaan Guanlin saat ini terlihat menyedihkan, senyum secerah mentari yang hampir setiap hari muncul di wajahnya mendadak hilang. Sorot matanya yang biasanya hangat berubah menjadi dingin dan sendu. Sungguh, Guanlin tampak begitu kacau saat ini dan Minhyun khawatir dengan hal itu.
"Apa kau ingin makan yang lain? Biar kubuatkan." Lagi-lagi pertanyaan Minhyun hanya dijawab dengan gelengan pelan dari pemuda di hadapannya.
Minhyun menghela napasnya pelan, ia harus segera mengetahui alasan Guanlin menjadi seperti ini. Dahinya nampak berkerut disela-sela kegiatan mengunyahnya, mencoba mengingat-ingat kejadian apa saja yang terjadi dalam waktu dekat ini. Rasanya kemarin sore adik sepupunya ini masih baik-baik saja–
Oh!
Bayangan kejadian kemarin sore membuat Minhyun mendapatkan sedikit titik terang. Ia baru ingat jika Guanlin berniat menyatakan cintanya pada seseorang kemarin, namun sampai detik ini Guanlin tidak membahas apapun tentang hal itu. Mungkinkah, adik sepupunya ini sedang patah hati?
DRRT– DRRT–
Getar ponsel di atas meja menyadarkan Minhyun dari lamunannya, ia segera mengambil benda persegi panjang yang masih terus bergetar itu. Bibir kissablenya seketika menyunggingkan senyum ketika mata sipitnya menangkap nama sang kekasih muncul di layar.
"Halo babe? Tumben sekali kau menelpon pagi-pagi." Tubuh Guanlin menegang saat panggilan sayang itu meluncur dari bibir hyungnya.
Seonho.
Bayangan pemuda manis berpipi tembam yang tengah memeluk manja hyungnya kembali muncul di benaknya. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak, seperti baru saja dihantam menggunakan benda keras. Sungguh, pagi ini moodnya benar-benar hancur. Untung saja ini weekend dan sekolah libur, jadi ia tidak perlu susah-susah untuk membuat surat ijin tidak masuk sekolah. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Guanlin?" Pemuda bersurai gelap itu terkesiap ketika Minhyun memanggil namanya. "Kau tampak melamun sejak tadi, apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Tidak ada hyung." Ujar Guanlin seraya meneguk teh hangat miliknya.
"Benar?" Guanlin menganggukkan kepalanya.
"Aku hanya kurang tidur karena terlalu banyak minum kopi."
Minhyun berusaha menahan tawanya agar tidak meledak saat itu juga. Banyak minum kopi katanya? Minum setengah cup kopi saja dia sudah mengeluh sakit perut. Sepertinya ia perlu diajari bagaimana cara membuat alasan yang baik dan masuk akal.
"Dengar, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu. Hanya saja, jika kau merasa hal yang sedang kau hadapi itu terlalu berat, kau bisa menceritakannya padaku kapan saja."
Ucapan bernada lembut itu memancing helaan napas dari Guanlin. Sebenarnya ia ingin menceritakan semuanya secara jujur pada hyung kesayangannya itu, namun ia terlalu takut untuk melakukannya. Takut membuat hyungnya kecewa.
"Maaf jika aku menanyakan ini padamu, tapi apa ada hubungannya dengan kemarin?"
Guanlin sempat diam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Sepertinya ia memang harus bercerita pada seseorang agar bebannya bisa sedikit berkurang.
"Apa kau ingin ceita?" Tanya Minhyun hati-hati, bagaimanapun juga ia tak bisa memaksa Guanlin untuk cerita meskipun dia sendiri penasaran.
"Aku tidak jadi melakukannya hyung." Lelaki bermata sipit itu mengernyitkan dahinya heran.
"Tidak jadi? Kenapa?"
"Dia–" Guanlin menatap ragu pada Minhyun, tangannya tampak meremat pelan celananya di bawah meja. "Dia sudah memiliki kekasih."
"Darimana kau tahu?"
"Aku melihatnya sendiri, di depan mataku." Guanlin menghela napasnya pelan. "Mereka sedang bermesraan di sebuah cafe."
Minhyun berusaha menyembunyikan ekspresi terkejutnya ketika mendengar penuturan Guanlin. Pantas saja adik tampannya ini terlihat sangat kacau, hati siapa yang tidak hancur jika melihat orang yang kau sukai sedang bersama orang lain tepat di depan matamu. Hey, dirinya juga pernah muda, ia tahu rasanya ditinggal pacaran oleh orang yang disukai.
Dan rasanya memang sakit.
"Tapi kau tidak meninggalkannya tanpa kabar kan?"
"Tidak, aku bilang padanya jika tak jadi datang karena tidak enak badan."
"Lalu bagaimana responnya?"
"Entahlah, aku menonaktifkan ponselku sejak semalam." Ia sedikit menundukkan kepalanya. "Dibalas atau tidak, aku akan mencoba untuk tidak peduli."
"Hey, menghindar bukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalahmu. Lebih baik kau menjadikannya teman, bukankah itu lebih baik daripada mengabaikannya secara tiba-tiba?"
"Untuk saat ini menjadikannya teman bukanlah cara terbaik hyung." Minhyun memandangi lelaki di depannya. Ia merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan Guanlin saat ini.
"Guanlin, aku tahu saat ini kau sedang terluka karena dia, tapi ingatlah bahwa dia juga memiliki perasaan. Jika kau benar mencintainya, jangan pernah sakiti perasaannya meskipun dia telah membuatmu kecewa." Guanlin kembali menatap sosok lelaki di depannya.
"Disakiti bukan berarti balas menyakiti. Kau mengerti?"
Pemuda bersurai gelap itu tampak menganggukkan kepala, mengiyakan ucapan yang dilontarkan oleh hyungnya. Minhyun menyunggingkan senyum disela kegiatan minum tehnya, merasa senang dengan respon positif yang diberikan oleh Guanlin.
Jika kau tahu bahwa orang yang ingin kuhindari itu adalah kekasihmu, kau tentu akan mengatakan hal lain hyung.
"Ah, nanti siang aku akan bertemu dengan jonghyun dan teman-temanku yang lain. Kau mau ikut?"
"Kurasa tidak, hari ini aku ingin di rumah saja."
"Sayang sekali, padahal kekasihku juga ikut. Kau bilang ingin bertemu dengannya."
JLEB–
"M– Mungkin lain kali hyung." Minhyun menganggukkan kepalanya paham dan melanjutkan kegiatan makannya, menghabiskan sisa nasi goreng di piringnya.
Sepertinya mulai sekarang Guanlin harus menyiapkan alasan-alasan untuk menolak ajakan hyungnya. Dia belum siap menerima kenyataan yang terasa begitu pahit ini, apalagi melihat Seonho dan Minhyun bermesraan tepat di depannya.
Sial, kenapa bayangan lelaki manis itu terus-terusan membayang di kepalanya?! Ia merutuk dalam hati.
.
.
~Buttermints~
.
.
Seorang lelaki berpipi tembam tampak sibuk membolak balikkan tubuhnya di atas sofa panjang. Berkali-kali matanya melihat layar ponsel yang tidak menunjukkan adanya notifikasi sejak tadi. Lelaki itu mendesah pelan, entah sudah yang keberapa kalinya pagi itu, ia kembali menampakkan raut wajah khawatir yang begitu kentara.
Hatinya benar-benar tak tenang sejak semalam karena Guanlin tak kunjung membalas pesannya. Ia takut terjadi sesuatu padanya mengingat laki-laki itu tidak jadi menemuinya kemarin dengan alasan tidak enak badan.
"Sebenarnya apa yang membuatmu resah sampai berguling-guling tidak jelas begitu?" Seonho menolehkan kepalanya kearah Minki yang entah sejak kapan sudah duduk manis di single sofa, menatapnya dengan pandangan aneh sekaligus penasaran.
"Umm... tidak ada hehe." Jawaban polos Seonho mengundang kerutan di dahi mulus Minki.
"Kau menyimpan rahasia dariku?" Lelaki berpipi tembam itu menggaruk belakang kepalanya sambil menundukkan kepala. "Yoo Seonho?"
"Baik, baik. Aku akan cerita padamu hyung." Ucap Seonho akhirnya, bagaimanapun juga ia tidak akan pernah bisa menang dari kakaknya yang suka memaksa itu. Seonho menarik napasnya pelan sebelum memulai ceritanya.
"Uh– aku hanya khawatir padanya hyung. Dia tidak membalas pesanku sejak semalam."
"Sejak kemarin kau terus menyebutnya dengan panggilan 'dia', sekarang beritahu aku siapa namanya." Seonho meneguk ludahnya dengan susah payah.
"D– Dia teman satu sekolahku."
"Aish, aku bertanya nama, bukan darimana dia berasal." Ujar Minki gemas, oh ayolah, dia penasaran dengan orang yang berhasil mengambil hati Seonho.
"N– Namanya–"
"Cepat katakan atau aku akan berhenti membuat kue dan pastry untukmu."
Ancaman yang mungkin terdengar biasa saja itu nyatanya mampu menohok hati Seonho. Bukan Seonho tak mampu untuk membeli makanan-makanan manis itu di luar sana, hanya saja kudapan-kudapan buatan kakaknya itu merupakan yang terenak dari semua pastry dan kue yang pernah ia makan. Bisa-bisa ia mati lemas jika asupan gula mingguannya tidak terpenuhi dengan baik.
"L– Lelaki yang waktu itu datang kemari pagi-pagi." Minki mengernyitkan dahi ketika adiknya mengucapkan kalimat pendek itu dalam satu nafas tanpa jeda.
"Oh, ayolahh." Lelaki cantik itu mulai merengek pada sang adik. "Bicaralah dengan lebih pelan, aku tak bisa mendengarmu."
"Uh lelaki... yang... datang kemari pagi-pagi–"
"Tunggu! Lelaki yang datang kemari saat kepalamu benjol itu– maksudmu Guanlin?!" Netra gelapnya melebar ketika Seonho menganggukkan kepalanya malu-malu. "Jadi lelaki yang akan kau temui kemarin itu dia?!"
Pemuda berpipipi tembam kembali menganggukkan kepalanya. Sedetik kemudian suara pekikan girang terdengar menggema di ruangan itu, tubuh Seonho sedikit terlonjak ketika suara yang cukup nyaring itu menembus gendang telinganya. Netra gelapnya melirik Minki yang tengah menyunggingkan senyum lima jari kearahnya.
"K– Kenapa wajahmu seperti itu hyung?"
"Aku senang karena akhirnya kau punya kekasih Seonho-ya." Rona merah seketika merambati wajah Seonho, kekasih katanya?
"K– Kami hanya teman hyung, tidak berpacaran."
"He? Kenapa tidak?"
"Y– Ya aku tidak tahu eoh! Pertanyaanmu aneh sekali!" Minki tak bisa menahan tawanya ketika melihat ekspresi sang adik, bibirnya tampak mencebik lucu dengan yang wajah memerah. Ya tuhan, adiknya satu ini memang menggemaskan.
"Ekhm– jika kau memang khawatir, kenapa kau tidak pergi saja ke rumahnya?"
Kata-kata Minki sukses membuat Seonho terdiam sejenak. Benar juga, kenapa dia tidak datang saja ke rumahnya? Uh, tapi dia terlalu malu untuk melakukannya sendiri, lagipula ia sama sekali tidak tahu dimana alamat rumah Guanlin.
"Um– aku tidak tahu alamat rumahnya hyung."
Minki menghentikan kegiatan typing di ponselnya dan menatap Seonho tak percaya. Mereka sudah sedekat itu tapi masih belum tahu alamat rumahnya? Wow, adiknya satu ini benar-benar polos.
"Kau belum pernah ke rumahnya?" Seonho menggeleng. "Sama sekali?"
"Ung, sebenarnya Seongwoo berkali-kali menyuruhku untuk datang kesana, tapi aku tidak mau." Ia menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan rona merah yang kembali muncul.
"Kenapa tidak mau?"
"A– Aku takut mengganggunya d– dan lagi aku tidak berani kesana sendirian."
"PFFT– Ya tuhan Seonho, kau sudah sedekat ini dengan Guanlin tapi belum pernah datang ke rumahnya? Pergerakanmu benar-benar lambat, bisa-bisa dia diambil oleh orang lain sebelum kau sempat memilikinya."
"Sebenarnya kami tidak sedekat itu hyung. Uh, aku memang menyukainya sejak lama, tapi kami baru benar-benar bicara beberapa minggu terakhir ini, itupun karena insiden bola yang menimpaku." Ucap Seonho lirih seraya memainkan jari-jari tangannya. "Aku dan dia, benar-benar hanya teman."
Minki bisa menangkap kesedihan di dalam kalimat yang diucapkan oleh sang adik. Apa jangan-jangan cinta adiknya ini bertepuk sebelah tangan? Atau memang Guanlin yang memberikan harapan palsu untuk adiknya? Berbagai macam spekulasi mulai muncul memenuhi kepalanya. Ah, kebetulan siang ini dia ada janji dengan Minhyun, lebih baik ia bertanya langsung padanya nanti.
"Sebentarlagi akan kukirim alamatnya padamu, kau pergilah kesana. Jika tidak berani kau bisa ajak Seongwoo bersamamu." Seonho mendongakkan kepalanya, menatap Minki dengan pandangan bingung.
"Hyung tahu alamatnya?"
"Tentu saja aku tahu." Jawaban santai itu semakin membuat Seonho penasaran.
"Memang tahu darimana? Hyung baru bertemu dengannya sekali dan baru kali ini aku bercerita tentang Guanlin padamu."
"Aku punya informan terpercaya." Minki tersenyum jahil, jemarinya tampak sibuk mengutak-ngatik benda persegi panjang berwarna pink yang dipegangnya.
TING–
Terdengar bunyi notifikasi dari ponsel berwarna hitam di atas meja. "Nah, sudah ku kirim. Sebaiknya kau segera pergi mandi dan bersiap."
"Ung, kau tidak mau mengantarku hyung?" Lelaki bersurai cokelat itu mengurungkan niat untuk beranjak dari kursinya.
"Sebenarnya aku ingin, tapi hari ini aku sudah ada janji dengan teman-temanku. Jadi, aku tak bisa mengantarmu kesana."
"Ayolah hyung... hanya mengantar saja."
Seonho memasang tatapan memelas andalannya, namun sayang, tatapan menggemaskan yang bisa melemahkan hati siapa saja yang melihatnya itu sepertinya tak mempan pada Minki. Pemilik wajah cantik itu hanya memutar matanya malas seraya meneruskan langkahnya yang sempat terhenti tadi, meninggalkan Seonho yang kembali mencebikkan bibir karena merasa diabaikan oleh hyungnya.
"Akan kusiapkan bawaan untuk Guanlin! Kau cepatlah bersiap!"
"Aish, menyebalkan." Gerutunya seraya membuka tautan yang tadi dikirim oleh hyungnya. "Ah, sebaiknya aku minta tolong pada Seongwoo untuk mengantarku kesana."
Lelaki tembam itu segera mengirimkan pesan pada Seongwoo. Sambil menunggu balasan darinya, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan bersiap-siap.
"Huff– tenanglah Seonho, kau kesana hanya untuk melihat keadaannya, lalu pulang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan"
Seonho menepuk-nepuk pelan dada kirinya, berusaha menenangkan jantungnya yang kembali menggila di dalam sana.
.
.
~Buttermints~
.
.
"Maaf, sepertinya hari ini aku tidak jadi ikut dengan kalian."
"Apa? Tidak jadi katamu?!"
Guanlin reflek menjauhkan ponsel dari telinganya ketika mendengar pekikan nyaring dari seberang. Ia segera mengaktifkan mode speaker untuk mengantisipasi adanya teriakan susulan, karena sungguh, teriakan empat oktaf milik Daehwi itu sangat tidak baik untuk pendengaran seseorang.
"Aku sedang tidak enak badan Daehwi-ah, kepalaku pening dan aku butuh istirahat."
"Rasanya kemarin sore kau masih sehat-sehat saja. Kau tidak sedang membuat-buat alasan kan?"
"Memang aku pernah berbohong pada kalian? Aku benar-benar tidak enak badan, kau bisa tanya pada Minyun-hyung."
Sayup-sayup terdengar suara orang lain di seberang sana, selama beberapa saat hanya terdengar bisikan-bisikan dari ponsel itu. Guanlin merebahkan tubuhnya di ranjang dan meletakkan ponselnya di sebelah kepalanya.
"Baiklah. Nanti sore kami akan pergi ke rumahmu untuk mengantar oleh-oleh sekaligus melihat keadaanmu."
"Hum, sampaikan maafku pada yang lain."
"Ya ya, kututup dulu, kau istirahat baik-baik di rumah."
"Ne... Hati-hati."
Pemuda bersurai gelap itu menghela napasnya pelan ketika sambungan telepon itu terputus. Sebenarnya hari ini ia dan teman-temannya berencana untuk pergi ke Busan, tak ada tujuan khusus, hanya sekedar jalan-jalan untuk melepas stres karena terlalu banyak belajar. Ia benar-benar ingin pergi, tapi setelah melihat pantulan dirinya di kaca wastafel tadi, ia langsung mengurungkan niatnya, karena wajahnya benar-benar terlihat kacau.
Netra gelapnya melirik buket bunga yang sengaja ia letakkan di atas meja. Harusnya buket bunga itu menghiasai kamar bernuansa babyblue milik Seonho, bukan malah teronggok begitu saja seperti ini. Seonho mengirimkan beberapa pesan padanya sejak kemarin malam, namun ia sengaja tak membalasnya. Hal itu merupakan langkah awal untuknya agar bisa melupakan Seonho. Ya, mulai saat ini ia akan berusaha untuk menjauhi lelaki yang disukainya itu, demi hyungnya.
"Kira-kira sedang apa dia sekarang?" Gumamnya tanpa sadar. "Ah, apa yang kubicarakan. Dia tentu sedang bersama Minhyun-hyung dan juga teman-temannya. Berhenti memikirkannya Guanlin."
TING TONG–
Tubuhnya sedikit tersentak ketika mendengar suara bel yang cukup nyaring. Lelaki bertubuh tinggi itu merenggangkan tubuhnya sebentar, kemudian segera turun dari ranjang untuk melihat siapa yang datang. Kaki jenjangnya melangkah dengan santai menuruni tangga, begitu sampai di ruang tamu ia langsung saja membuka pintu. Nafasnya seketika tercekat saat pandangannya bertemu dengan netra gelap milik sosok manis yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.
"H– Hai, um– maaf aku tiba-tiba kemari."
Guanlin tidak merespon ucapan yang dilontarkan oleh sosok itu. Netra gelapnya sibuk mengamati lelaki manis berpipi tembam yang tengah memeluk erat sebuah keranjang berisi buah. Tubuh kurus yang terbalut sweater oversize berwarna baby blue membuatnya harus bersusah payah menahan keinginan untuk merengkuh sosok itu.
Lelaki bersurai gelap itu menggelengkan kepalanya pelan. Tidak, jangan sampai kau lepas kendali Guanlin, dia bukan milikmu. Lagipula sedang apa dia disini, bukankah harusnya dia bersama Minhyun-hyung?
"Guanlin? Kau tidak apa-apa?" Suara lembut Seonho memecah keheningan diantara mereka.
"Untuk apa kau kemari?"
Seonho terkesiap, rasa gugup kembali menyerangnya ketika mendengar ucapan bernada dingin yang dilontarkan oleh Guanlin. Tangannya semakin memeluk erat keranjang buah di dadanya.
"M– Maaf jika aku mengganggu. Uhm aku datang kemari untuk melihat keadaanmu."
Oh, jadi Seonho mengkhawatirkannya?
"Aku baik-baik saja."
"Ah syukurlah." Seonho tersenyum lega. "Kau tidak membalas pesanku sejak semalam, aku jadi khawatir padamu." Ujarnya malu-malu, kepalanya tampak menunduk untuk menyembunyikan rona merah yang mulai menjalari pipinya.
"Kau tidak perlu repot-repot mengkhawatirkanku, urusi saja urusanmu yang lain."
Senyum Seonho mendadak sirna setelah mendengar ucapan bernada dingin itu. Ia semakin menundukkan kepalanya, tak berani sedikitpun melirik wajah lelaki yang berdiri tepat di hadapannya. Entah hanya perasaannya saja ataukah kata-kata Guanlin tadi memang kasar.
"Lebih baik kau pergi temui kekasihmu." Seonho sontak mendongakkan kepalanya, ia tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Kenapa? Kaget karena aku tahu tentang rahasiamu?"
Guanlin tak bisa lagi membendung emosi yang sudah ia tahan semalaman. Rasa marah, kecewa, sedih, semuanya bercampur menjadi satu, mengisi seluruh ruang kosong di dalam hatinya sampai penuh dan membuatnya sesak.
"A– Apa maksudmu? A– Aku tidak punya–."
"Masih mau mencoba menjadi pembohong?"
Seonho merasakan matanya memanas, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Ia masih bisa mentolelir ucapan bernada dingin yang sejak tadi dilontarkan Guanlin padanya, tapi ia tak bisa menahan rasa kesalnya ketika lelaki bersurai gelap itu menyebutnya sebagai pembohong, tanpa alasan yang jelas.
"Aku bukan pembohong! Aku datang kemari hanya untuk melihat keadaanmu! Kenapa kau tiba-tiba bersikap kasar dan menuduhku seperti itu?!"
Guanlin tampak terkejut mendengar nada bicara Seonho yang tiba-tiba meninggi, namun ia berusaha untuk mempertahankan ekspresi datarnya dan tetap bersikap tenang.
"Harusnya kau jujur padaku dari awal." Guanlin menatap Seonho tepat di matanya. "Untuk apa kau memberiku setumpuk harapan jika pada kenyataannya kau sudah menjadi milik orang lain?"
Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipi tembam Seonho, hatinya terasa sakit mendengar ucapan-ucapan yang terasa menyudutkannya. Dia tidak tahu apa kesalahan yang sudah ia perbuat hingga Guanlin tega berkata seperti itu padanya. Lelaki manis itu mengusap kasar air matanya. Tidak, dia tidak boleh terlihat lemah di depan Guanlin.
"B– Berhenti menyudutkanku tanpa alasan!"
"Tanpa alasan? Aku bahkan melihatnya sendiri, kau dan kekasihmu bermesraan di sebuah cafe."
"Aku tidak melakukannya! Berhenti menuduhku yang tidak-tidak hiks. Jika kau memang tidak menyukaiku hiks, cukup jauhi aku." Seonho terisak pelan, air mata terus saja membasahi pipi tembamnya.
"Ya, aku memang akan menjauhimu."
JLEB–
"Mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah saling kenal."
Seonho tak mampu berkata-kata lagi. Hatinya terasa sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Bahu sempitnya tampak bergetar dengan suara isak tangis yang semakin keras.
"Pulanglah, jangan pernah muncul secara personal di hadapanku lagi kecuali untuk urusan yang penting. Terimakasih sudah datang kemari."
Setelah mengucapkan satu kalimat panjang, pintu bercat hitam itupun tertutup. Menyisakan Seonho yang masih menangis tersedu-sedu di depan pintu. Tangannya memeluk erat keranjang berisi buah di dadanya, menyalurkan seluruh rasa sakit yang dirasakannya pada keranjang itu. Dirinyaa sungguh tak menyangka jika orang yang selama ini ia sukai bisa berlaku sekasar itu padanya.
Mungkin selama ini memang dirinyalah yang terlau banyak berharap. Mungkin dari awal Guanlin memang hanya menganggapnya sebagai teman, bukan sebagai orang yang dia sukai, atau bahkan mungkin Guanlin menganggapnya sebagai pengganggu. Saat ini ia benar-benar dirundung kebingungan, sebenarnya dia salah apa? Kenapa Guanlin bisa menuduhnya seperti itu?
DRRT– DRRT–
Getar ponsel di saku celananya membuayrkan segala pikiran Seonho. Lelaki manis itu tampak mengusap air mata dengan punggung tangannya kemudian mengambil ponsel di sakunya dengan tangan yang gemetar. Layar ponselnya tampak menyala dengan menampilkan nama 'Ongie', ia segera mengangkat panggilan masuk itu tanpa ragu.
"Halo! Ah maaf mengganggu acara kencanmu aku hanya–"
"Hiks– Ongie–."
"Wait, Seonho, kau menangis? Ya tuhan! Apa yang dia lakukan padamu?!" Terdengar teriakan panik sekaligus marah dari seberang sana.
"T– Tolong hiks j– jemput aku di hiks tempat tadi."
"Aku akan sampai dalam waktu 15 menit! Kau tunggu di dekat gerbang dan jangan kemana-mana sampai aku datang, mengerti?!"
"U– Um."
Sambungan telepon itu kemudian diputus sepihak. Seonho memegang erat-erat ponselnya kemudian berlari meninggalkan teras rumah itu tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Jika Guanlin menginginkannya pergi, maka ia akan pergi dan membuang jauh-jauh perasaan yang selama ini dipendamnya.
Tanpa lelaki itu sadari, sejak tadi Guanlin memperhatikan Seonho secara diam-diam dari jendela rumahnya. Ia menatap lelaki yang disukainya itu dengan tatapan sendu yang sarat akan rasa bersalah.
"Maafkan aku, Seonho."
.
.
TBC
.
.
Akhirnya chapter ini berhasil aku post dengan selamat setelah berbulan-bulan tak tersentuh /sujud syukur/
Terimakasih bagi readernim sekalian yang sudah bersabar menunggu ff ini untuk update. Terimakasih juga buat yang udah rajin nge-PM aku buat ngingetin update ff hehehe.
Ah iya, PM aku selalu terbuka untuk readernim sekalian, yang mau sekedar ngobrol-ngobrol boleh silahkan ehehe~
Semoga chapter ini tidak mengecewakan buat readernim sekalian yaa.
Akhir kata, kutunggu saran dan komentar kalian di kolom review~
See you in the next chapter!
Love
~Buttermints~
