Jika Guanlin menginginkannya pergi, maka ia akan pergi dan membuang jauh-jauh perasaan yang selama ini dipendamnya.
Tanpa lelaki itu sadari, sejak tadi Guanlin memperhatikan Seonho secara diam-diam dari jendela rumahnya. Ia menatap lelaki yang disukainya itu dengan tatapan sendu yang sarat akan rasa bersalah.
"Maafkan aku, Seonho."
.
.
Critical Beauty
Chapter 11
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T (M for future Chapter)
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
"JADI DIA MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU PADAMU?!"
Teriakan murka Seongwoo seketika memenuhi ruang tamu di kediaman Seonho. Daniel–kekasih Seongwoo–tampak mengusap-usap lembut pundak sang kekasih, mencoba menenangkan lelaki manisnya yang siap berubah menjadi singa dalam hitungan detik.
"Sayang te–"
"Diam."
Daniel menghela napasnya pelan, beginilah kekasihnya jika sudah marah. Susah dibujuk dan sensitif. Salah bicara sedikit, maka dia akan semakin marah padamu.
"Tenangkan dirimu. Seonho akan semakin tidak nyaman jika kau emosional seperti itu." Bujuk Daniel seraya kembali mengusap-usap punggung kekasihnya.
Seongwoo tampak memejamkan matanya sejenak. Benar kata Daniel, dia harus bisa menahan emosinya agar tidak menakuti Seonho dan membuatnya semakin tidak nyaman. Setelah merasa lebih tenang, ia membuka matanya dan kembali memandang Seonho.
"Setelah ini jauhi dia Seonho. Aku tak mau melihatmu dipermainkan oleh laki-laki busuk seperti dia."
"A– Aku takut tidak bisa melakukannya." Ujar Seonho lirih. "Aku mencintainya."
"Tapi dia tidak." Wajah Seonho terangkat mendengar ucapan tegas Seongwoo. "Apalagi yang ingin kau pertahankan jika dia secara terang-terangan sudah menolakmu dan menginginkanmu untuk menjauhi dirinya. Apakah seperti itu yang kau sebut cinta?"
"Tapi kau tidak tahu rasanya berada di posisiku." Netra gelapnya nampak berkaca-kaca, siap untuk kembali menumpahkan air mata yang tadi sudah mengering.
"Aku memang tidak tahu, Seonho." Seongwoo menghela napas pelan. "Aku hanya tidak ingin air matamu terbuang sia-sia karena menangisi hal yang tidak pantas untuk ditangisi."
Seonho tampak diam tak menjawab. Tak dapat dipungkiri bahwa separuh hatinya setuju dengan pernyataan Seongwoo, kalau benar Guanlin mencintainya, dia tidak akan melakukan hal ini padanya. Namun, separuh hatinya yang lain merasa tidak rela jika harus menghapus perasaan itu dan membuang Guanlin jauh-jauh dari hidupnya. Katakan ia manusia yang bodoh karena masih mau mempertahankan rasa cintanya pada orang yang sudah pasti tak mencintainya.
Ya, dia memang bodoh.
Bodoh karena dengan lancangnya menaruh perasaan suka pada lelaki sesempurna Guanlin, sedangkan ia hanya seorang siswa biasa yang kebetulan memiliki kemampuan berpikir lebih. Selain itu apa yang bisa dilihat darinya? Ah, dia lupa jika semua kebaikan yang Guanlin lakukan hanya semata-mata untuk menyelesaikan tanggung jawabnya atas kejadian bola basket waktu itu.
Harusnya ia tak boleh terbuai dengan perlakuan lembut itu begitu saja.
Harusnya ia–
"Seonho? Jangan diam begitu. Kau membuatku takut."
Netra gelapnya tampak mengerjap beberapa kali, tersadar dari kegiatan melamunnya. Seonho kembali menundukkan kepalanya lalu menghela napas pelan.
"Aku ingin sendirian."
"Tidak, aku akan menemanimu."
Jawaban bernada tegas itu mau tak mau membuat Seonho mengangkat kepalanya. Dipandanginya lelaki bersurai gelap dihadapannya itu dengan pandangan memelas.
"Kumohon Ongie, saat ini aku benar-benar ingin sendiri." Ujarnya lirih.
"Meninggalkanmu sendiri dalam kondisi seperti ini hanya akan membuatku semakin khawatir, Seonho. Jika kau ingin menenangkan diri, kau boleh masuk kedalam kamarmu. Aku akan tetap disini."
"Sudahlah sayang, lebih baik kita pulang saja dulu, biarkan Seonho menenangkan dirinya. Kau bisa datang lagi besok." Daniel yang tidak tega melihat Seonho memutuskan untuk angkat bicara.
"Tapi bagaimana jika dia–"
"Seonho tak akan melakukan hal-hal bodoh seperti menggantung diri di jendela atau mengiris tangannya sendiri. Percaya padaku." Daniel mengusap lembut surai gelap Seongwoo. "Dia hanya butuh waktu untuk memikirkan semuanya."
Seongwoo tampak diam, menimbang-nimbang perkataan kekasihnya.
"Baiklah. Aku akan pulang." Daniel menghembuskan napas lega saat mendengar jawaban kekasihnya. "Tapi berjanjilah untuk menghubungiku nanti."
"Aku janji." Seonho tersenyum kecil.
"Kalau begitu kami pulang dulu, istirahat dan jangan melakukan hal-hal yang aneh."
Seongwoo merengkuh tubuh gempal Seonho sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya. Seonho membalas pelukan erat sahabat kecilnya itu..
"Terimakasih Ongie."
.
.
~Buttermints~
.
.
Siang itu cafe Beans and Cream tampak lebih ramai daripada biasanya. Cafe milik kekasih Minki itu memang selalu dipenuhi pengunjung, terutama saat hari libur dan weekend seperti ini. Pengunjung akan memesan salah satu varian kopi dan pastry yang disediakan oleh cafe dan menghabiskan waktu mereka untuk bersantai bersama teman atau kekasih masing-masing.
Kegiatan bersantai saat weekend juga tak dilewatkan oleh empat orang lelaki berwajah tampan yang menempati salah satu spot outdoor cafe. Empat orang itu tak lain dan tak bukan adalah Jonghyun–si pemilik cafe–, Minki, Minhyun, dan Hyunbin. Mereka tampak asik mengobrol sambil sesekali menyantap kudapan manis di atas meja.
"Tumben sekali kau bisa menemani Minhyun pergi selama dua hari berturut-turut. Tidak kerja?"
Pertanyaan–sindiran–yang dilontarkan oleh Minki mengalihkan atensi Hyunbin dari segelas Americano yang tengah diminumnya. Lelaki yang berprofesi sebagai model itu hanya tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Tak dapat dipungkiri bahwa pekerjaan sebagai seorang model memang banyak menyita waktu luangnya, termasuk waktu kencan bersama Minhyun.
"Agensi memberiku libur selama seminggu hyung, jadi–" Hyunbin menolehkan kepalanya pada Minhyun. "–aku bisa menemani Minhyun."
"Aaa bagus-bagus. Manfaatkan hari liburmu yang sebentar itu sebaik-baiknya." Minki menaik turunkan alisnya sambil tersenyum penuh arti.
"Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan, kau tidak perlu mengajarinya."
Minki terkekeh mendengar jawaban ketus Minhyun. Ia tampak menyamankan kepalanya di pundak Jonghyun yang duduk di sebelahnya.
"Ya ya, aku percaya. Lagipula kenapa kalian tidak tinggal serumah saja eoh?"
Minhyun menyesap Vanilla Lattenya perlahan. "Aku tak bisa meninggalkan Guanlin di rumah sendirian."
"Kalau begitu ajaklah Hyunbin untuk tinggal di rumahmu. Kurasa Guanlin tidak akan masalah."
"Err– sejujurnya aku belum pernah bertemu dengannya hyung." Hyunbin kembali menggaruk tengkuknya.
"What?! Ya, kalian sudah menjalin hubungan selama setahun! Harusnya Guanlin sudah bisa dekat denganmu!"
Jonghyun segera mengusap-usap punggung kekasihnya yang mulai bersikap overreacting. Bukan apa-apa, selain mengganggu pengunjung lain, ia tidak ingin kekasih cerewetnya ini menjadi bahan gosip orang-orang karena tingkahnya yang kelewat heboh itu.
"Ah, kenapa tadi tidak sekalian kau ajak Guanlin kemari Minhyun-ah?"
Hyunbin tampak mengangguk, mengiyakan ucapan Jonghyun. "Hyung benar, kenapa tidak kau ajak saja Guanlin kemari sayang?"
"Aku memang berniat mengajaknya tadi, sayangnya hari ini dia sedang tidak enak badan." Minhyun menghela napas pelan. "Dia benar-benar butuh istirahat."
"Sakit? Kau sudah memeriksakannya ke dokter?" Raut khawatir mendadak muncul di wajah Hyunbin.
"Dia bilang hanya pusing karena kurang tidur." Minhyun mengusap punggung tangan kekasihnya. "Aku sudah menyediakan obat pereda pusing dan makanan di rumah."
"Syukurlah. Oh iya, tadi Minki cerita jika Seonho akan pergi ke rumahmu."
Minhyun mengalihkan atensinya pada Jonghyun dengan dahi yang berkerut.
"Ke rumahku?" Ujarnya heran.
"Yap. Untuk menjenguk Guanlin." Cengiran lebar seketika tercetak di wajah Minki. "Aku memberinya alamatmu tadi."
Lelaki bersurai gelap itu tak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Seonho datang ke rumahnya untuk menjenguk Guanlin? Jadi selama ini mereka berdua saling kenal?
"Ya Minhyunie, mereka saling kenal dan merupakan teman satu sekolah." Minki berucap santai seolah bisa membaca pikiran Minhyun.
"W–Woah aku tidak menyangka. Guanlin tidak pernah cerita padaku."
"Guanlin tidak tahu jika aku adalah temanmu dan Seonho kenal denganmu." Ia menyesap Green Tea Lattenya sebelum melanjutkan. "Dan sepertinya mereka berdua dekat."
"Dekat? Maksudmu– lebih dari teman begitu?"
"Kurasa belum. Akhir-akhir ini Seonho sering pergi keluar, tapi bukan dengan si bocah Ong itu. Setelah aku mengorek info dari bocah itu, ternyata Seonho pergi dengan Guanlin."
Minhyun kembali tenggelam dalam pikirannya. Beberapa hari belakangan ini Guanlin memang sering pergi keluar dengan seseorang yang bukan berasal dari anggota gengnya dan dia adalah orang yang sedang dekat dengan Guanlin. Berarti orang yang diceritakan Guanlin selama ini adalah Seonho.
"Minki-ah." Netra gelap mereka saling menatap. "Apa orang yang ditunggu Seonho kemarin adalah Guanlin?"
"Uhum, tapi Seonho bilang Guanlin tidak jadi datang karena tidak enak badan. Maka dari itu dia tetap bersama kita dan pulang bersamaku."
Hening sejenak.
"Apa Seonho punya kekasih?"
"Pfft!" Lelaki cantik itu tampak menahan tawanya. "Kujamin 100% anak itu single. Andai dia sudah punya kekasih, aku pasti sudah memamerkannya pada kalian semua." Ujarnya seraya menggigit macaroon yang tadi batal dimakannya. "Memang kenapa eoh?"
"Akhir-akhir ini Guanlin sering cerita padaku jika dia sedang menyukai seseorang–"
"Kutebak orang itu adalah Seonho." Potong Jonghyun yang langsung diangguki oleh Minhyun.
"Dia tidak pernah menyebut namanya secara langsung, hanya bilang jika orang itu adalah teman sekolahnya. Tapi setelah mendengar cerita Minki tadi, kurasa orang itu adalah benar Seonho."
"Woah, kurasa kalian bisa menjadi kakak-adik ipar di masa depan." Hyunbin tertawa kecil.
"Kemarin Guanlin sengaja mengajak Seonho untuk bertemu dan berniat untuk menyatakan perasaannya."
"APA?!"
Teriakan kompak dari tiga orang lelaki di meja itu seketika mengundang perhatian dari pengunjung lain. Minhyun segera menyuruh mereka bertiga untuk kembali tenang.
"Tenang sedikit eoh. Kalian mengejutkan pengunjung lain."
"Tadi itu benar-benar reflek. Woah, aku benar-benar tidak percaya jika Guanlin seserius itu dengan Seonho." Minki buru-buru meneguk Green Tea Lattenya yang tersisa.
"Jadi, bisa kulanjutkan?"
Tiga lelaki itu kompak menganggukkan kepalanya dan kembali mendengarkan Minhyun dengan seksama.
"Ketika sarapan tadi aku menanyakan masalah itu pada Guanlin dan ternyata dia membatalkan–"
"Guanlin batal menyatakan perasaannya karena sakit. Begitu kan?" Simpul Jonghyun yang langsung dihadiahi gelengan pelan oleh Minhyun.
"Bukan? Lalu kenapa?" Hyunbin menatap kekasihnya bingung.
"Dia membatalkannya karena melihat Seonho sedang bersama kekasihnya di tempat mereka seharusnya bertemu, atau lebih tepatnya di cafe ini."
"Apa?" Minki tampak mengernyitkan dahinya. "Seonho tidak punya kekasih dan dia terus bersama kita semalam."
Mereka tampak terdiam setelahnya, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suasana di meja itu seketika menjadi hening selama beberapa saat sampai akhirnya Jonghyun memecahkan keheningan.
"Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi kurasa Guanlin sudah salah paham."
"Salah paham bagaimana?" Minki menatap kekasihnya.
"Guanlin sudah salah paham pada Minhyun dan Seonho."
Kalimat Jonghyun itu sontak membuat Minhyun dan Minki saling melemparkan pandangan. Kedua lelaki manis itu kembali terdiam, membiarkan otak mereka memproses informasi yang baru saja diterima.
"Aku harus bicara pada Guanlin." Ujar Minhyun akhirnya.
.
.
~Buttermints~
.
.
"Man, kau sungguh terlihat menyedihkan."
Komentar Samuel hanya dibalas dengan gumaman oleh Guanlin. Lelaki bersurai gelap itu tampak sibuk menyamankan dirinya di atas sofa, berniat untuk melanjutkan tidurnya yang tadi terganggu.
"Ya ya! Jangan tidur eoh! Kau berhutang penjelasan pada kami!" Guanlin melirik malas pada makhluk berisik–Daehwi–yang duduk tak jauh darinya.
"Penjelasan apa?"
"Pertama, alasanmu tidak jadi ikut. Kedua, penyebab penampilan menyedihkanmu ini. Sumpah, kau seperti anak muda yang baru saja putus cinta Guanlin."
"Kepalaku pusing, makanya tadi tidak ikut." Jawab Guanlin singkat.
Daehwi mendengus tidak puas dengan jawaban Guanlin. Ia melirik Samuel dan memberi kode padanya untuk gantian menginterogasi Guanlin. Lelaki berwajah bule itu menganggukkan kepala, paham dengan arti tatapan yang dilayangkan Daehwi.
"Ekhm– Begini Guanlin. Jika kau memang punya masalah, ada baiknya kau menceritakannya pada kami. Daripada kau menyimpan semuanya sendirian, itu tak baik untuk dirimu." Samuel menepuk pundak Guanlin yang kini sudah duduk tegak di sebelahnya.
"Samuel benar, lagipula kita sudah berteman lama. Seluruh rahasiamu akan aman ditangan kami semua." Hyungseob berusaha meyakinkan Guanlin.
Guanlin tampak menundukkan kepalanya, dia sedikit bimbang antara menceritakan semuanya atau hanya sebagian seperti yang sudah diceritakannya pada Minhyun. Setelah terdiam cukup lama, ia memutuskan untuk menceritakan semuanya. Ia percaya teman-temannya itu bisa menyimpan rahasia dan mungkin juga mereka akan memberikan saran yang berguna untuknya.
"Baiklah." Guanlin mengangkat wajahnya. "Tapi kalian harus berjanji untuk merahasiakannya dari siapapun."
Empat lelaki di ruangan itu tampak mengangguk cepat.
"Kemarin aku menyatakan cinta pada Seonho–"
"Wait– What?!" Teriak mereka–kecuali Samuel–bersamaan.
"Oh–My–God Lai Guanlin. Jangan bilang kalau si nerdy Seonho menolakmu dan kau jadi frustasi karenanya!" Ujar Hyungseob setengah tidak percaya.
Ia tak habis pikir kenapa bisa ada yang menolak lelaki nyaris sempurna seperti Guanlin. Bukannya apa-apa, berteman selama kurang lebih dua tahun dengan Guanlin membuatnya tahu orang seperti apa Guanlin itu. Selain tampan dan kaya, dia merupakan orang yang baik juga sopan. Hal itulah yang membuat banyak orang tertarik bahkan sampai mengejar-ngejar Guanlin.
Tapi sekarang, teman tampannya itu malah patah hati karena seorang siswa nerd bernama Yoo Seonho.
Benar-benar gila.
"Aku tidak ditolak."
Sekarang ganti Jihoon yang mengernyit bingung.
"Lalu kenapa?"
Guanlin menghela napasnya pelan.
"Dia sudah punya kekasih." Mereka semua kembali menampakkan raut wajah terkejut. "Dan kekasihnya adalah–"
Jeda sejenak. Guanlin balas menatap teman-temannya yang tampak menahan napas, menunggu kelanjutan dari kalimat Guanlin.
"Minhyun-hyung."
"APA?!"
Sekali lagi ruang tengah Guanlin dipenuhi dengan teriakan kompak para pemuda tampan itu.
"Gila! Kau sedang tidak mengarang cerita kan Lai Guanlin?" Daehwi menatap Guanlin lekat-lekat.
"Aku melihatnya sendiri, di depan mataku."
"Kurasa itu tidak mungkin bro. Lagipula darimana Minhyun-hyung kenal dengan Seonho?" Daehwi, Jihoon, dan Hyungseob tampak mengangguk, membenarkan ucapan Samuel.
"Dengar. Pada hari itu Minhyun-hyung bilang akan bertemu dengan kekasihnya di sebuah cafe dan ternyata cafe itu adalah cafe yang sama dengan tempat janjianku dengan Seonho. Dan pada saat aku sampai disana, aku melihat Seonho dan Minhyun-hyung berpelukan layaknya sepasang kekasih." Jelas Guanlin.
"Tapi bisa saja mereka hanya teman lama yang tak sengaja bertemu." Ucapan Jihoon langsung disambut dengan gelengan oleh Guanlin.
"Saat itu aku langsung menelepon Minhyun-hyung dan bertanya apakah saat ini ia sedang bersama kekasihnya." Pemuda bersurai gelap itu tampak memainkan jari-jarinya.
"Dan dia menjawab 'ya'. Bukankah hal itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa mereka bukanlah sekedar teman?"
Mereka semua tampak diam, sama sekali tak menanggapi pertanyaan yang dilontarkan oleh Guanlin. Samuel menepuk-nepuk pelan bahu temannya itu, tidak tahu harus merespon seperti apa lagi. Sementara tiga orang lainnya–Daehwi, Hyungseob, Jihoon–saling menggeser duduknya, sedikit menjauhi Guanlin dan Samuel.
"Kita harus melakukan sesuatu."
Daehwi memulai pembicaraan dengan volume suara yang sengaja dikecilkan.
"Um." Jihoon mengangguk. "Aku masih penasaran meskipun Guanlin sudah menceritakan semuanya dengan jelas."
"Kurasa kita perlu menginterogasi Seonho." Hyungseob melirik Samuel dan Guanlin, memastikan kedua orang itu tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Secara diam-diam."
Usulan Hyungseob itu langsung dihadiahi anggukan setuju oleh Daehwi dan Jihoon.
.
.
.
TBC
.
.
.
Oke, minta maaf kalau chapter ini membosankan. Jujur aku sedikit kehilangan ide di tengah-tengah, tolong maafkan *sujud*. Aku bakal berusaha lebih keras di chapter berikutnya!
Bagi readernim yang udah mau menunggu ff ini update, yang udah baca, ngereview, ngefollow, dan ngefav. Terimakasih banyak! Maafkan aku yang updatenya suka lama huhuhu.
Aku ada rencana meluncurkan(?) judul baru dengan character lain alias bukan Guanho. Barangkali ada yang berminat hehehe XD
Kutunggu komentar kalian di kolom review~
Next, ff baru? atau ngelanjutin hutang chapter di ff yang lain?
Love
~Buttermints~
