"Kita harus melakukan sesuatu."
Daehwi memulai pembicaraan dengan volume suara yang sengaja dikecilkan.
"Um." Jihoon mengangguk. "Aku masih penasaran meskipun Guanlin sudah menceritakan semuanya dengan jelas."
"Kurasa kita perlu menginterogasi Seonho." Hyungseob melirik Samuel dan Guanlin, memastikan kedua orang itu tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Secara diam-diam."
Usulan Hyungseob itu langsung dihadiahi anggukan setuju oleh Daehwi dan Jihoon.
.
.
.
Critical Beauty
Chapter 12
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T (M for future Chapter)
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
Seonho melangkah gontai memasuki gerbang sekolah. Hari ini ia benar-benar kehilangan semangat untuk belajar. Rasanya ia ingin tidur di rumah saja seharian bersama guling kesayangannya. Tapi apa daya, hyung cantiknya yang cerewet itu tak akan mungkin mengijinkannya membolos tanpa alasan yang jelas.
Semalam Minki sempat menanyakan masalah matanya yang sembab. Terpaksa ia bohong pada sang hyung dengan mengatakan bahwa ia baru saja menonton drama sedih bersama Seongwoo.
Klise, tapi anehnya Minki percaya.
Seonho menghela napas berat. Sudahlah, ia tak mau terlalu memikirkan kejadian kemarin. Jangan sampai rutinitasnya terganggu hanya karena lelaki itu.
Hatinya masih sakit tentu saja. Tapi ia akan coba untuk melupakan Guanlin dan semua memori yang telah dibuatnya. Meski ia tahu hal itu akan sulit untuk dilakukan.
BUGH
"Aw!"
Seonho mengaduh ketika tubuhnya tak sengaja ditabrak oleh siswa lain yang berlari dari arah belakang. Tubuhnya oleng ke depan dan menabrak punggung kokoh yang berada tak jauh dari posisinya.
BRUK!
Lelaki itu menghentikan obrola bersama temannya dan menoleh ke belakang. Tubuhnya seketika menegang ketika tahu siapa yang baru saja menubruknya.
"Ah! Maaf, aku tak sengaja! Tadi seseorang menyenggolku dari belakang, tubuhku terhempas dan menabrakmu. Aku minta maaf!"
Seonho terus membungkukkan tubuhnya sambil meminta maaf. Ia terlalu takut untuk sekedar mengangkat kepala dan tahu siapa orang yang telah ia tabrak.
"Lain kali hati-hati."
Eh? Bukankah suara ini milik-
Seonho mendongakkan kepalanya cepat. Iris gelapnya melebar ketika tahu orang yang ia tabrak adalah orang yang sedang ia hindari. Ia kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak berani membalas tatapan dingin dari orang itu.
"M– maaf."
Suaranya bergetar akibat rasa takut dan gugup yang menyerangnya tiba-tiba. Ia membungkuk canggung sekali lagi sebelum akhirnya meninggalkan sosok itu dengan terburu-buru.
"Man, kau membuatnya takut."
Lelaki berwajah bule angkat bicara setelah memastikan Seonho menghilang dari pandangannya.
"Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa jauh darinya."
Guanlin mendesah pelan.
"Sebenarnya aku tak tega melakukan hal ini pada Seonho."
Samuel menepuk-nepuk punggung Guanlin. Berusaha menghibur lelaki yang tengah dilanda kegalauan itu.
"Aku tahu kau melakukan ini demi hyungmu. Tapi kusarankan untuk menggunakan cara yang lebih lembut. Tatapanmu tadi sungguh membuatnya ketakutan."
Pemilik surai gelap tampak menganggukkan kepalanya pelan.
"Akan kucoba."
.
.
~Buttermints~
.
.
"Baik, hari ini sampai di sini dulu. Jangan lupa siapkan diri kalian untuk kuis di pertemuan berikutnya."
"Ne seonsaengnim..." Sahut seluruh kelas kompak.
Mereka berbondong-bondong keluar dari kelas ketika Mrs. Jung sudah meninggalkan ruangan. Satu keuntungan bagi kelas yang pelajarannya selesai lebih dulu daripada kelas lain, yaitu bisa makan di kantin tanpa perlu repot berdesakan.
Sungguh suatu anugerah bagi siswa yang sedang kelaparan.
Ruang kelas yang awalnya ramai seketika berubah menjadi sepi. Hanya terlihat beberapa siswa yang masih setia duduk manis di kursinya, termasuk lelaki berpipi tembam yang tengah menatap kosong ke luar jendela.
Helaan napas berat sesekali meluncur dari bibir penuhnya. Biasanya dia akan langsung berlari ke kantin jika jam istirahat tiba, namun kali ini ia seperti kehilangan nafsu makannya.
Aku ingin pulang.
"Seonho, tidak ke kantin?"
Yongguk-sang ketua kelas-menepuk pelan bahu Seonho yang kembali melamun. Si pipi tembam nampak terperanjat, kepalanya menoleh kearah Yongguk yang berdiri tepat di sebelah mejanya.
"A– ah, aku menunggu Seongwoo."
"Aaa... baiklah, kalau begitu aku duluan."
Seonho mengangguk. Lelaki berdarah Cina itu tersenyum sebelum akhirnya berjalan keluar kelas, menyisakan Seonho sendirian di dalam kelas.
"Haahh... aku ingin pulaaang." Ujar Seonho frustasi.
BRAK!
Seonho terlonjak kaget. Kepalanya menoleh kearah pintu yang di gebrak sembarangan oleh seseorang.
"Yoo Seonho!"
He? Bukankah itu Daehwi, Jihoon, dan Hyungseob? Mau apa mereka kemari?
"Bawa dia." Ujar Daehwi.
"A– apa? Yak!"
Seonho meronta ketika Jihoon dan Hyungseob menyeret tubuhnya keluar kelas. Daehwi tampak mengikuti mereka bertiga dari belakang.
"Lepas! A– aku salah apa?!"
Ketiga uke manis itu tak menjawab. Mereka terus menarik Seonho kearah halaman belakang sekolah. Seluruh siswa yang berada di lorong tampak memperhatikan mereka berempat sambil saling berbisik satu sama lain.
Tak ada satupun yang berani menghentikan perbuatan diva-diva sekolah itu. Mereka takut menjadi korban mulut pedas sang diva. Jadilah mereka hanya menonton kejadian tarik-menarik dramatis yang sedang live di depan mereka.
"Yah! Lepas– aw!"
Seonho memekik ketika tubuhnya didudukkan paksa ke atas rerumputan. Kepalanya mendongak, menatap sebal pada tiga orang yang berdiri di hadapannya.
"Kenapa kalian menarikku?"
"Aku ingin bertanya sesuatu."
Hyungseob menatapnya serius. Jujur saja Seonho sedikit takut mendapat tatapan mengintimidasi dari Hyungseob.
"A– apa?"
"Ada masalah apa antara kau dengan Guanlin?"
"Hah?"
Dahi Seonho mengerut bingung. Jadi mereka membawanya kesini hanya untuk menanyakan hal itu? Batinnya.
"Aku tanya, ada masalah apa kau dengan Guanlin?" Tanya Hyungseob lagi.
"Sudah, kita duduk saja melingkar dan tanyai dia baik-baik. Kakiku sudah pegal."
Sahut Jihoon seraya mendudukkan tubuhnya lebih dulu di depan Seonho. Daehwi dan Hyungseob memutar matanya malas lalu ikut mendudukkan diri di sebelah kiri dan kanan Jihoon.
"Jadi jelaskan, apa yang membuat Guanlin jadi seperti mayat hidup kemarin."
Seonho menatap Daehwi takut-takut. Sungguh, aura angkuh si drama queen ini benar-benar membuatnya tidak nyaman dan terintimidasi.
"A– aku tidak tahu. Kemarin aku hanya datang kesana untuk menjenguknya. La- lalu dia marah padaku tanpa sebab dan aku pulang."
"Hanya begitu saja? Apa kau tahu sebab dia marah padamu?"
"T– tidak tahu."
"Benar? Kau tidak tahu?"
Seonho menggeleng cepat. Ketiga orang di hadapannya itu tampak saling berpandangan.
"Yakin kau tidak sedang berbohong?" Ganti Jihoon yang bertanya pada Seonho.
"Aku sama sekali tidak bohong! Kalau kalian menarikku kemari hanya untuk membela Guanlin dan menyalahkanku, maaf aku tidak ada waktu untuk itu." Kesal Seonho.
Hilang sudah rasa takutnya ketika Jihoon melontarkan pernyataan yang dirasa menyudutkan dirinya. Dia yang jadi korban, kenapa dia yang disalahkan?
"Ya ya... kau belum boleh pergi."
Hyungseob menarik Seonho yang sudah berdiri dari duduknya, membuat lelaki tembam itu kembali jatuh terduduk di atas rumput.
"Kami tidak sedang membelanya, dengar? Kami hanya ingin memastikan apakah info yang kami dapat dari Guanlin itu benar."
"Info? Info apa?"
"Info jika kau adalah pacar dari Minhyun-hyung." Tembak Jihoon.
Kemudian hening selama beberapa saat. Seonho tampak diam mencerna kata-kata Jihoon.
"APA?!"
Teriakan Seonho sontak mengejutkan tiga lelaki lain yang ada di sana. Seonho menatap mereka tak percaya.
Pacar Minhyun-hyung katanya?! Aku bahkan baru bertemu dengannya lagi kemarin lusa, bagaimana bisa mereka menuduhku berpacaran dengan Minhyun-hyung.
"Ya, Seonho, jawab pertanyaanu eoh. Benar atau tidak?" Jihoon berucap tak sabar.
"Oke, dengar. Pertama, Minhyun-hyung adalah sahabat lama kakakku. Saat kakakku masih sekolah dulu, dia sering main ke rumahku. Karena itu aku dan hyung jadi dekat. Minhyun-hyung sudah menganggapku sebagai adik kandungnya sendiri."
Tiga uke manis itu tampak memperhatikan kalimat Seonho dengan seksama.
"Kedua, Minhyun-hyung itu sudah punya pacar. Namanya Kwon Hyunbin yang-"
"Tunggu, Kwon Hyunbin model muda yang sedang naik daun itu?" Potong Daehwi.
Anggukan Seonho mendapat respon gumaman tak percaya dari tiga lelaki cantik itu.
"Ekhm... apa kau punya bukti jika mereka memang benar bersama?"
Pemilik surai gelap segera mengambil ponsel di saku celananya dan membuka galeri untuk mencari foto Minhyun dan Hyunbin yang sempat dia curi dari ponsel Minki.
"Ini. Aku mendapatkannya dari ponsel kakakku."
Hyungseob setengah merebut ponsel hitam milik Seonho. Mulutnya tampak menganga ketika melihat foto mesra Minhyun dan si model tampan di layar.
"Oh my god! Ini asli! Bibirnya benar-benar menempel!" Pekik Daehwi.
"Aku tidak berpacaran dengan Minhyun-hyung. Kalian sudah percaya?"
Mereka mengangguk kompak seraya mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
"Aku sudah selesai. Sekarang giliran kalian yang menjelaskan ini semua padaku." Ujar Seonho, raut penasaran terlihat jelas di wajahnya.
"Jadi kemarin–"
"YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA SEONHO?!"
Teriakan bernada marah itu menghentikan ucapan Jihoon. Mereka berempat sontak menoleh ke arah sumber suara yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
Di kejauhan tampak Seongwoo yang tengah melangkah tak sabar ke bawah pohon tempat Seonho, Daehwi, Jihoon, dan Hyungseob duduk. Ekspresi wajahnya campur aduk antara kemarahan dan kecemasan.
"Seongwoo?" Seonho berucap lirih.
Oh, ini tidak bagus. Dia pasti mendengar tentang kejadian 'penyeretan' yang tadi dilakukan oleh Jihoon, Hyungseob, dan Daehwi.
Seonho memekik saat tubuhnya tiba-tiba ditarik oleh Seongwoo hingga berdiri.
"Berani sekali kalian berbuat kasar padanya hah!?"
"Hey, tenang dulu. Kami hanya bicara sedikit dengannya." Sahut Hyungseob santai.
"Kalian menyeretnya tadi. Jangan pikir aku tidak tahu tentang hal itu."
Seongwoo menatap nyalang pada orang-orang yang menurutnya sok kuasa di hadapannya. Berani sekali mereka berbuat kasar pada sahabatnya. Ngeh, belum tahu mereka berhadapan dengan siapa.
"Aku tak apa Ongie, mereka hanya-"
"Jangan membelanya! Semua orang tahu jika kau tadi di seret."
"T– tapi–"
"Sudah, kita pergi dari sini. Ayo."
Tangan Seonho kembali ditarik dengan tak sabar oleh Seongwoo. Lelaki berpipi gembul itu mau tak mau menyamakan langkahnya agar tidak terseret. Seonho sempat menoleh ke belakang dan mendapati Jihoon yang sedang bicara tanpa suara padanya.
'Nanti kutelepon.' Ujar Jihoon seraya menggerakkan jempol dan jari kelingkingnya di telinga.
Seonho tampak menganggukkan kepalanya sebelum menghilang di belokan lorong. Meninggalkan tiga orang lain yang masih setia di posisinya.
"Oke. Jadi semua ini benar-benar hanya salah paham saja, sesuai dengan dugaanku di awal."
Jihoon kembali membuka pembicaraan. Hyungseob dan Daehwi kompak mengangguk.
"Kita harus membantu mereka berdua. Aku sungguh tak tahan melihat Guanlin seperti itu." Tambah Hyungseob.
"Baik, ayo mulai susun rencananya!"
.
.
~Buttermints~
.
.
Kudengar tadi Seonho-sunbae diseret paksa oleh Daehwi, Hyungseob, dan Jihoon-sunbae.'
'Benarkah? Seonho-sunbae yang nerd itu? Kasihan sekali.'
"Ya tuhan, apa yang dilakukan oleh Jihoon sampai siswa satu sekolah membicarakannya."
Jinyoung tampak sibuk menekan tombol-tombol di layar ponselnya, berusaha menghubungi sang kekasih yang tak kunjung menemuinya di kantin. Telinganya gerah karena sejak tadi kekasih cantiknya itu menjadi topik pembicaraan siswa lain. Mulai dari dia keluar kelas, sampai dia duduk di kursi kantin ini.
"Seluruh sekolah membicarakan kekasihmu Baejin."
Jinyoung mendongakkan kepalanya kearah Euiwoong yang baru saja duduk di hadapannya sambil membawa nampan berisi makanan.
"Aku tahu. Dia belum bisa kuhubungi. Aish, sebenarnya apa yang dilakukan mereka bertiga itu?"
"Dengar-dengar mereka menyeret pujaan hati Guanlin dari kelasnya."
"Ck, pasti Daehwi yang memulai semua ini. Awas saja kalau sampai benar, akan ku bakar apartemen kekasih bulenya itu."
Euiwoong tampak mengedikkan bahu seraya menyuap french fries ke mulutnya.
"Jangan sembarang menuduh, bisa saja memang mereka bertiga yang merencanakan semua ini. Kau tahu kan trio uke itu sangat kompak."
"Tapi tetap saja–"
"Tenang, Daehwi bilang mereka hanya bicara dengan Seonho. Tak ada kekerasan, bullyan, atau semacamnya."
Jinyoung dan Euiwoong kompak menoleh ke arah lelaki berwajah bule yang baru saja bergabung di meja. Ekspresinya nampak santai, tak seperti Jinyoung yang sejak tadi terlihat gusar.
"Wajahmu kenapa santai sekali?" Timpal Euiwoong.
"Aku sudah dapat penjelasan dari Daehwi. Mereka akan segera menyusul kemari. Kau tenanglah bung, jangan menekuk wajah seperti itu."
Samuel merangkul Jinyoung dengan senyum lebar di wajahnya.
"Aku tetap tidak akan tenang sebelum Jihoonku datang."
Ujaran ketus Jinyoung membuat Samuel dan Euiwoong terkekeh. Di balik wajah polos dan ceria Bae Jinyoung, memang tersimpan sedikit rasa posesif untuk kekasihnya Park Jihoon. Jika Samuel merupakan tipe orang yang santai dan cenderung bebas, lain dengan Jinyoung yang mudah khawatir akan hal kecil.
"Kekasih kalian terkena gosip."
Euiwoong terlonjak kaget ketika suara berat yang familiar menembus gendang telinganya dari jarak yang cukup dekat.
"Woah! Aish! Kau mengagetkanku Guanlin!"
Lelaki berdarah China itu tersenyum geli melihat ekspresi Euiwoong yang menurutnya konyol.
"Katanya mereka membuat masalah dengan Seonho." Sahut Jinyoung.
Guanlin batal melahap kimbap tuna favoritnya.
"Dengan Seonho?"
Tiga lelaki tampan itu menganggukkan kepalanya.
"Mereka membullynya?"
Suara Guanlin jatuh satu oktaf lebih rendah dari sebelumnya. Nada bicaranya juga berubah menjadi dingin.
"Wow wow... Jangan salah paham dulu man, mereka tidak melakukan tindakan macam-macam pada Seonho." Jawab Samuel cepat.
"Sudah kita tunggu saja mere– ah! Itu dia!"
Ketiga pasang mata disana sontak mengikuti arah pandangan Euiwoong. Terlihat dua orang lelaki berwajah manis tengah berjalan kearah mereka dengan nampan di tangan masing-masing.
Samuel dan Jinyoung segera menggeser duduknya untuk sang kekasih, menyisakan ruang kosong di tengah-tengah mereka. Daehwi dan Jihoon langsung menempati tempat itu tanpa disuruh dua kali.
"Kau kemana saja hm? Semua orang membicarakanmu Jihoonie."
Jinyoung mengusap lembut kepala kekasih montoknya. Merasa sedikit lega karena Jihoon sudah ada bersamanya.
"Aku hanya berkumpul dengan teman-teman di halaman belakang, Baejin. Kau kenapa terlihat khawatir begitu?"
Jihoon melemparkan tatapan herannya pada Jinyoung.
"Bagaimana aku–"
"Berkumpul seperti apa yang kau maksud?"
Guanlin memotong ucapan Jinyoung, masih dengan nada bicaranya yang dingin.
"Ya berkumpul, bergosip, urusan uke." Daehwi menyahut santai.
Pemilik surai gelap itu melemparkan tatapan menyelidik pada Daehwi dan Jihoon. Merasa risih karena ditatap tidak enak, Jihoon menghentikan kegiatan-mari menyuapi Jinyoung-dan balik menatap Guanlin kesal.
"Kami tidak melakukan apapun, aish. Kau bisa periksa sendiri keadaan Seonho kalau tidak percaya. Aku, Daehwi, dan Hyungseob hanya mengobrol biasa dengannya."
"Lalu dimana Hyungseob?" Kejar Guanlin.
Jauh di dasar hatinya ia merasa khawatir pada Seonho. Tiga orang temannya itu memang manis, tapi kadang mereka bisa melakukan hal-hal di luar dugaan dalam kondisi tertentu.
"Hyungseob ke UKS, menemui pujaan hatinya yang sedikit norak itu." Sahut Daehwi.
"Kau juga norak Daehwi-ah, jangan suka mengatai orang."
Daehwi mendelik sebal ke arah Euiwoong yang tengah menyantap makan siangnya sambil menahan tawa.
Lalu dimulailah perang makian di meja kantin antara Euiwoong dan Daehwi, dengan Samuel yang sibuk meredam emosi kekasih cerewetnya. Sementara Jinyoung dan Jihoon hanya menjadi penonton sambil menyantap makanan mereka.
Kali ini Guanlin tak tertarik untuk melihat tontonan live yang biasa dia perhatikan sebelum-sebelumnya. Pikirannya terpusat pada satu orang yang harusnya tak boleh dia pikirkan.
Tidak, ini salah.
Lelaki itu merutuk dalam hati. Ia kembali meneruskan kegiatan makannya yang tadi tertunda sambil berusaha mengusir bayang-bayang orang itu dari benaknya.
Biarkan Guanlin. Kau tidak punya hak apapun atas dirinya. Tugasmu sekarang adalah melupakannya dan mengubur perasaan itu dalam-dalam.
Demi Minhyun-hyung.
.
.
~Buttermints~
.
.
Siang itu rumah Minhyun terlihat lebih ramai dari biasanya. Tampak 3 orang lelaki sedang mengobrol santai di ruang tengah rumah minimalis itu.
"Tidak perlu tegang begitu Kwon, kau hanya akan bertemu dengan sepupunya. Calon mertuamu saja bisa kau taklukkan, jadi tenang saja." Ujar Ren yang gemas melihat ekspresi tak tenang di wajah Hyunbin.
"Aku takut dia tidak menyukaiku."
"Pfftt."
Hyunbin melirik pasangan yang sibuk tertawa di depannya.
"Apa yang lucu?"
"Kau ini seperti anak SMA yang pertama kali pacaran saja Bin."
Ren menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.
"Minhyun memang pacar pertamaku."
Perhatian Jonghyun dan Ren seketika terpusat pada Hyunbin. Ekspresi kaget bercampur tak percaya sama-sama ditampakkan oleh pasangan itu.
"Kau... benar-benar baru pertama kali pacaran?"
Pertanyaan Jonghyun dijawab dengan anggukan kecil oleh Hyunbin.
"Daebak... jadi apa saja yang kau lakukan selama 21 tahun kau hidup di dunia eoh?" Sambung Minki.
"Aku lebih suka hubungan jangka panjang dengan orang yang bisa diajak komitmen. Bermain-main bukanlah tipeku."
Jonghyun menganggukkan kepalanya paham.
"Jadi itu sebabnya kau langsung menemui orang tua Minhyun seminggu setelah kalian resmi menjadi pasangan."
"Benar, agar aku bisa segera mendapat restu dari orang tuanya dan bisa melanjutkan hubunganku dengan tenang tanpa memikirkan masalah itu."
Sudut bibir Hyunbin tampak terangkat, menampilkan senyum tipis yang semakin menambah kadar ketampanan si pemuda Kwon.
"Kalian membicarakanku?"
Hyunbin menoleh ke arah Minhyun yang muncul dari dapur dengan nampan berisi empat gelas jus jeruk.
"Yup! Kami baru saja selesai menggosipkanmu." Minki menyeringai.
Minhyun memutar matanya malas. Ia meletakkan nampan di atas meja lalu duduk di sebelah Hyunbin. Mengabaikan Minki yang sekarang mencebik karena diabaikan.
"Jam berapa Guanlin pulang?" Tanya Jonghyun seraya mengusap-usap lembut rambut kekasihnya yang sedang merajuk.
"20 menit lagi jika dia tidak ada kegiatan lain di sekolah." Jawab Minhyun.
"Jelaskan secara rinci padanya nanti agar salah paham ini cepat selesai."
Pasangan tinggi itu mengangguk paham. Ya, mereka harus segera meluruskan permasalahan ini agar tidak merugikan Guanlin dan Seonho. Mereka tidak mau hubungan keduanya sampai merenggang akibat masalah ini.
KLEK–
"Aku pulang..."
Keempat orang di sana kompak menoleh ke arah ruang tamu begitu mendengar suara berat yang terasa familiar.
"Apa itu dia?"
Hyunbin menoleh ke arah Minhyun meminta kepastian.
"Yup, itu Guanlin."
Lelaki tinggi itu mengangguk paham. Ia kembali memusatkan perhatiannya kearah ruang tamu, menunggu kemunculan adik sepupu Minhyun yang sudah ia tunggu dari tadi.
"Hyung aku– ah annyeonghaseyo."
Guanlin yang awalnya berjalan teeburu-buru otomatis menghentikan langkahnya lalu membungkukkan tubih. Memberi salam pada teman-teman sang hyung yang tengah duduk di ruang tengah.
"Annyeong Guanlin-ah. Lama tidak bertemu." Sapa Jonghyun.
"Ne Jonghyun-hyung sudah lama kau tidak main kemari." Guanlin menyunggingkan senyumnya. "Ah, kurasa aku sudah mengganggu. Lebih baik aku ke atas sekarang."
Minhyun buru-buru menahan lengan Guanlin yang hendak kembali melangkahkan kakinya.
"Apa kau bisa duduk sebentar? Ada yang ingin kami bicarakan."
Guanlin menautkan alisnya bingung.
"Bicara... apa?"
Minhyun tersenyum seraya menggeser duduknya lebih dekat dengan Hyunbin di ujung sofa. Menyisakan ruang kosong di sebelahnya untuk diduduki Guanlin.
"Duduk sini."
Pria bersurai gelap itu menuruti permintaan hyungnya. Ia segera duduk di sebelah Minhyun, masih dengan raut wajah bingung yang kentara.
Jantungnya berdegup kencang. Entah kenapa ia merasa takut sekarang.
"Pertama, perkenalkan ini Kwon Hyunbin."
Hyunbin segera mengulurkan tangannya pada Guanlin.
"Kwon Hyunbin."
Guanlin menyambut uluran tangan Hyunbin sambil melemparkan senyum padanya.
"Lai Guanlin, sepupu Minhyun-hyung."
Sudut bibir Hyunbin semakin terangkat begitu Guanlin merespon perkenalannya dengan baik.
"Senang bertemu denganmu Guanlin."
"Senang juga bisa bertemu dengan model papan atas secara langsung. Tak kusangka orang seperti Minhyun-hyung bisa berteman dengan model terkenal sepertimu hyung."
Jonghyun dan Minki seketika tergelak mendengar komentar jujur yang dilontarkan oleh Guanlin. Sementara Minhyun hanya tersenyum menanggapi ujaran adik sepupunya itu. Ia bukan tipe orang yang pemarah, ingat?
"Sayangnya dia bukan temanku Guanlin-ah."
Guanlin kembali melemparkan tatapan bingung pada Minhyun.
Bukan teman? Lalu–
"Dia kekasihku."
Mata lelaki berdarah China itu seketika membola.
"A– apa?"
Dia tak salah dengar kan?
"Ya, kami adalah sepasang kekasih. Hubungan kami sudah berjalan setahun lamanya. Maaf karena hyung baru bisa memperkenalkan Hyunbin sekarang."
Minhyun dan Hyunbin saling melempar senyum dengan jari yang bertautan. Guanlin bisa melihat tatapan penuh kasih di mata mereka berdua.
Tidak mungkin. Jika Seonho bukan kekasihnya, kenapa interaksi mereka waktu itu terlihat seperti pasangan kekasih? Apa Minhyun-hyung sedang berusaha membohongiku?
"Hyungmu tidak bohong Guanlin-ah. Hyunbin adalah benar kekasihnya." Ucap Jonghyun seolah bisa membaca pikiran Guanlin.
"Tapi–"
"Apa beberapa waktu lalu saat kau bilang akan kencan dengan seseorang kau berencana menemui orang itu di cafe Jonghyun?" Tanya Minhyun.
"Y– ya."
Sungguh, Guanlin benar-benar gugup sekarang. Ini pertama kalinya ia menampakkan sisi lain dirinya yang biasanya ia sembunyikan.
"Apa orang itu bernama Yoo Seonho?"
Glek-
Ruangan itu mendadak hening. Semua mata di sana menatap Guanlin, menunggu jawaban yang akan menentukan benar tidaknya dugaan mereka.
"Ya, namanya Yoo Seonho. Satu sekolah denganku."
Seketika semua orang di sana menghembuskan napas lega.
"Guanlin-ah, Seonho itu adalah adikku. Aku dan Minhyun adalah teman satu sekolah. Dulu sebelum kami lulus sekolah menengah atas dan pindah kemari, Minhyun sering datang ke rumahku. Dia sangat baik pada Seonho dan sudah menganggap Seonho sebagai adik kandungnya sendiri. Maka dari itu Seonho selalu menempeli Minhyun dan bersikap manja padanya." Jelas Minki panjang lebar.
Guanlin terdiam. Mencoba menyaring informasi yang baru saja masuk ke dalam otaknya.
Jika Seonho adalah adik teman Minhyun-hyung, kenapa hyung tak pernah bilang padaku?
"Guanlin-ah, hyung sungguh tidak tahu jika kau dan Seonho saling kenal, begitu pula dengan Minki. Kami berdua sama-sama bau tahu jika kalian berdua ternyata adalah teman."
Minhyun menepuk pelan pundak Guanlin, berusaha meyakinkan lelaki China itu.
Guanlin tak menjawab. Perlahan hatinya mulai dirambati perasaan bersalah. Harusnya ia memastikan kebenaran informasi yang ia dapat lebih dulu sebelum bertindak, meski informasi itu ia sendiri yang melihatnya.
Benar, ini semua adalah salahnya. Ia sudah melukai hati lelaki manis yang tak bersalah itu, bahkan sampai membuatnya menangis.
Apa sekarang dia membenciku?
Apakah terlambat jika aku minta maaf padanya sekarang?
.
.
.
TBC
.
.
.
Persatukan tidak ya? Hehehe
Oke! Terimakasih bagi yang masih mau menunggu ff ini yang updatenya sangat lama sekali karena aku sedikit kehilangan ide. Please forgive me readernimm!
Tapi tenang, aku bakalan nyeleseaiin ff ini kok. Mana tega ngebiarin Guanho menggantung begitu XD.
Sekali lagi terimakasih banyak buat yang udah nyempetin baca, ngefollow, ngefavorite, dan ngereview ff ini.
Komentar dan saran yang membangun akan selalu aku terima dengan terbuka.
So, jangan bosan-bosan ngetik review yaa. Hehe
See you in the next chapter!
Love
~Buttermints~
