Guanlin tak menjawab. Perlahan hatinya mulai dirambati perasaan bersalah. Harusnya ia memastikan kebenaran informasi yang ia dapat lebih dulu sebelum bertindak, meski informasi itu ia sendiri yang melihatnya.

Benar, ini semua adalah salahnya. Ia sudah melukai hati lelaki manis yang tak bersalah itu, bahkan sampai membuatnya menangis.

Apa sekarang dia membenciku?

Apakah terlambat jika aku minta maaf padanya sekarang?

.

.

.

Critical Beauty

Chapter 13

.

.

Produce 101/Wanna One Fanfiction

Romance, Humor, High School!AU, Yaoi

Main!Byeongari couple

(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)

Rating: T (M for future Chapter)

.

.

Happy Reading! -Buttermints-

.

.

.

Malam itu Seonho terpaksa harus membatalkan agendanya untuk menyelesaikan PR kimia karena Seongwoo yang mendadak datang ke rumahnya. Jika sahabatnya satu itu sudah muncul terlebih lagi menginap, dia pasti akan mengajak Seonho mengobrol-bergosip-sepanjang malam.

Contohnya saja seperti sekarang. Seongwoo tak henti-hentinya bicara tentang Daniel dari tadi. Mulai dari Daniel yang sibuk dengan tim basketnya, Daniel yang sekarang jarang menjemputnya ke sekolah, sampai Daniel yang sedang diisukan dekat dengan Dahyun, salah satu anggota cheers di sekolahnya.

"Sudahlah Ongie, kau tahu sendiri kan jika Daniel adalah kapten tim dan termasuk siswa populer di One Highschool. Sudah pasti dia akan memiliki banyak fans dan tak akan lepas dari gosip."

Seonho berusaha menenangkan Seongwoo yang sedang dalam mode on fire di depannya.

"Kalau memang itu hanya sekedar gosip, kenapa semuanya berhubungan? Gosip Daniel dan Dahyun muncul ketika Daniel mulai sibuk dengan tim basketnya. Bisa dipastikan jika mereka berdua saling melakukan kontak ketika di lapangan hingga memunculkan kabar itu." Jelas Seongwoo.

Lelaki berpipi chubby menghela napasnya pelan. Penjelasan Seongwoo memang masuk akal, tapi dia sengaja tidak mendukung pernyataan itu agar sahabatnya tidak terus-terusan berpikir negatif.

"Kau seperti yakin sekali dengan kabar itu. Memangnya siapa yang memberitahumu?"

"Jisung."

Pantas saja.

Yoon Jisung adalah teman kecil Daniel sekaligus informan terpercaya Seongwoo. Terkenal sebagai bandar gosip di one highschool bersama temannya yang bernama Ha Sungwoon. Darimana Seonho tahu? Tentu saja dari Seongwoo sendiri.

"Lebih baik kau bicara langsung pada Daniel, daripada berspekulasi yang tidak-tidak begitu."

Seongwoo menggeleng pelan.

"Daniel pasti akan membela diri kalau aku bicara padanya."

"Aish baiklah, terserah padamu saja. Tapi jangan datang menangis-nangis padaku jika nanti kau bertengkar dengan– Aduh! Yak! Kenapa memukulku!?"

Seonho mengusap-ngusap kepalanya seraya melemparkan tatapan kesal pada Seongwoo. Bibirnya tampak maju beberapa senti karena Seongwoo malah sibuk menyantap potato chip tanpa ada sedikitpun rasa bersalah.

Benar-benar menyebalkan.

"Ngomong-ngomong, kau belum cerita masalah trio drama queen yang menyeretmu tadi. Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Tidak tahu." Jawab Seonho acuh.

"Eeyy... Ayolah sahabatku yang manis. Jangan merajuk begitu. Aku hanya bercanda tadi."

Seongwoo menowel-nowel lengan Seonho sambil mengeluarkan jurus aegyo yang biasa ia gunakan pada Daniel.

"Hentikan Ong Seongwoo. Aku bukan Daniel yang akan luluh begitu saja dengan ekspresi konyolmu itu."

Pemilik surai cokelat mendengus tak terima.

"Ya ya, aku tahu orang yang bisa meluluhkan hatimu hanya tuan muda Lai Guanlin seorang."

BLUSH!

"J– jangan sebut namanya di depanku!"

Teriakan salah tingkah itu mengundang kekehan gemas dari Seongwoo. Malu-malu kucing eh?

"Kemarin saja kau menangis-nangis sampai matamu bengkak, sekarang begitu aku menyebut namanya sedikit wajahmu langsung berubah seperti kepiting kukus." Cibir Seongwoo.

Baru saja Seonho hendak melempari Seongwoo dengan bantal, ponselnya yg tergeletak di atas meja belajar tiba-tiba bergetar. Ia buru-buru meletakkan bantal itu ke tempatnya dan berlari menuju meja belajar.

Sebenarnya sejak sore tadi ia menunggu telepon dari Jihoon. Lelaki itu berjanji akan menceritakan segala permasalahan yang terjadi terkait dengan Guanlin. Ia benar-benar tidak sabar mendengarkan penjelasan lengkap darinya.

DRRT– DRRT–

Seonho meraih ponselnya yang terus bergetar dan membaca id name yang muncul di layar.

Incoming Call...
Lai Guanlin

DEG!

Tubuhnya seketika membeku seraya memandangi layar ponselnya lekat-lekat.

Guanlin? Kenapa dia tiba-tiba meneleponku?

Beberapa saat kemudian benda persegi itu berhenti bergetar. Seonho yang masih setia berdiam diri di posisinya membuat Seongwoo mengernyit bingung. Ia bisa melihat ekspresi tegang pada wajah Seonho.

Aneh.

"Kenapa tidak diangkat?"

Pertanyaan Seongwoo berhasil mengembalikan kesadaran Seonho. Lelaki bersurai hitam itu sontak menolehkan kepalanya ke arah sang sahabat.

"G– Guanlin."

"Hah?"

DRRT– DRRT–

Ponsel di tangan Seonho kembali bergetar dan menampilkan id name Guanlin di layar. Ia melemparkan tatapan panik pada Seongwoo.

"A– aku harus bagaimana Ongie?"

"Sebenarnya ada apa eoh? Siapa yang menelponmu hingga membuatmu panik begitu?" Tanya Seongwoo tak sabar.

"G– Guanlin, di– dia menelponku."

Mata Seongwoo membola. Guanlin menelpon Seonho? Masih punya muka juga dia menghubungi orang yang sudah ia sakiti.

"Ongiee kenapa diam? Aku harus bagaimana?"

Seonho meloncat ke atas ranjang, masih dengan wajah paniknya. Sungguh, ia tak tahu harus bagaimana. Sebagian hatinya ingin mengangkat panggilan itu, sebagian lagi tidak.

"Angkat saja." Jawab Seongwoo.

"Angkat? Kau yakin?"

Seongwoo menganggukkan kepalanya.

"Angkat lalu loudspeaker, agar aku bisa mendengar pembicaraan kalian."

"B– baiklah."

Dengan sedikit gemetar, Seonho menekan ikon berwarna hijau lalu tombol loudspeaker yang ada di layar. Netra gelapnya melirik gugup pada Seongwoo yang tengah mengucapkan kata 'bicaralah' tanpa suara.

"H– halo?"

"Syukurlah, kupikir kau sudah tidak mau mengangkat teleponku lagi."

Seonho bisa menangkap kilasan rasa lega pada kalimat Guanlin. Benar-benar aneh, kalau tidak salah pagi tadi lelaki cina itu masih bersikap dingin padanya, kenapa sekarang sikapnya mendadak ramah lagi?

"Halo? Seonho? Kau masih disana?"

Pria berpipi tembam tampak terkesiap.

"A– ah ya, um– aku disini." Seonho menarik napas pelan, berusaha menenangkan dirinya yang masih dikuasai rasa panik. "Ada apa menelpon?"

Tak ada jawaban dari seberang. Seonho dan Seongwoo tampak saling bertukar pandang, menunggu Guanlin kembali berbicara.

"Apa sepulang sekolah besok kau ada janji?"

"Um... sepertinya tidak. Kenapa?"

"Aku ingin mengajakmu bertemu di cafe Sun Able. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan, bisakah?"

Seonho benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Sungguh, sejak tadi jantungnya tak bisa berdetak dengan normal. Semuanya terasa serba mendadak, Guanlin yang tiba-tiba menjauhinya, bersikap dingin padanya, kemudian meneleponnya, dan sekarang dia mengajak Seonho untuk bertemu.

Berdua.

Sebenarnya apa yang sedang tuhan rencanakan untuknya?

"Seonho-ah? Bagaimana?" Tanya Guanlin dari seberang.

"Ah– umm–"

Seonho melemparkan tatatapan bimbang pada Seongwoo yang tengah mengangguk-anggukan kepalanya, menyuruh Seonho untuk menyetujui ajakan Guanlin.

"B– baiklah. Kita bertemu besok sepulang sekolah."

Terdengar helaan napas lega dari seberang.

"Terimakasih, kalau begitu sampai bertemu besok. Maaf sudah mengganggu waktumu, selamat malam"

"N ne selamat malam."

PIP!

"Ya tuhan, jantungku seperti akan meledak saja rasanya!" Pekik Seonho seraya menepuk-nepuk pelan dada kirinya yang masih setia menggila.

"Sejujurnya tindakan Guanlin barusan itu terasa sedikit aneh."

Kalimat penuh rasa curiga itu membuat Seonho mengalihkan fokus pada kawannya.

"Kalau kau securiga itu padanya, kenapa menyuruhku untuk menerima ajakannya?"

Seonho memiringkan kepalanya dengan alis bertaut, menandakan bahwa dia tak mengerti dengan segala sesuatu yang sedang Seongwoo rencanakan.

"Karena firasatku mengatakan bahwa sesuatu yang ingin dia bicarakan itu ada kaitannya dengan masalah kemarin. Kau tentu butuh kejelasan kan?"

Seonho mengangguk cepat.

"Maka dari itu kau harus datang besok. Aku akan memantau dari jauh, antisipasi jika nanti dia berbuat macam-macam padamu."

"Uh, tapi pasti suasananya akan canggung."

Pemilik surai hitam tampak menundukkan kepala sambil memainkan jari-jarinya. Sungguh pemandangan yang membuat siapa saja ingin memeluk dan membawa Seonho pergi dari dunia yang kejam ini.

"It's okay. Kau pasti bisa mengatasinya, aku juga akan ada disana besok."

Seongwoo menepuk-nepuk pelan kepala Seonho. Berusaha untuk menenangkan sang sahabat.

"Terimakasih Ongie, kau yang terbaik!"

Seonho memeluk Seongwoo erat-erat. Ia benar-benar bersyukur memiliki teman seperti Seongwoo. Meskipun sedikit menyebalkan, tapi lelaki itu selalu ada untuknya ketika ia sedang membutuhkan.

"Ne... ne... tapi bisakah kau longgarkan pelukanmu sekarang? Aku kesulitan bernapas!"

Seonho tampak melepaskan pelukannya sambil menyunggingkan cengiran tak bersalahnya, sementara Seongwoo sibuk menarik napas banyak-banyak karena demi tuhan, pelukan Seonho barusan itu benar-benar membuatnya sesak napas.

"Untung sahabat, kalau tidak, sudah kulaporkan kau atas tuduhan percobaan pembunuhan." Sungutnya.

Seonho memeletkan lidahnya pada Seongwoo, sama sekali tidak takut dengan ancaman main-main itu.

.

.

.

~Buttermints~

.

.

.

Guanlin tampak menatap layar ponselnya malas. Moodnya yang sempat naik karena berhasil menghubungi Seonho mendadak rusak setelah mendapat telepon dari Daehwi.

Jadilah ia menyetel panggilannya dalam mode speaker dan meletakkan ponselnya di atas ranjang. Entah apa saja yang sudah diucapkan oleh Daehwi sejak tadi, ia tak terlalu memperhatikan.

"Jadi kita memutuskan untuk berkumpul di cafe dan kau harus datang!"

"Maaf aku besok sudah ada janji."

"What? Batalkan janjimu! Kau harus datang, mengerti?!" Teriak Daehwi dari seberang.

"Aish, mana bisa aku membatalkan janji begitu saja."

"Pokoknya batalkan!" Teriak Daehwi lagi.

Guanlin mendengus pelan.

"Tidak bisa Lee Daehwi. Janjiku besok sangat penting, jadi maaf aku tidak bisa ikut. Tolong sampaikan maafku pada yang lainnya."

"Yak! Tapi"

"Selamat malam."

PIP!

Panggilan diputus secara sepihak oleh Guanlin. Lelaki tinggi itu kemudian merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang.

Sebenarnya ia tidak ingin menolak ajakan Daehwi untuk berkumpul bersama teman-temannya. Tapi apa mau dikata, saat ini urusan dengan Seonho jauh lebih penting. Ia harus segera menyelesaikannya sebelum masalah salah paham ini menjadi semakin rumit lalu kembali melenyapkan kesempatannya untuk menyatakan cinta pada Seonho.

Dan Guanlin tak akan membiarkan hal itu terjadi.

DRRT– DRRT–

"Oh my god. Siapa lagi yang meneleponku."

Pemilik surai hitam meraih ponselnya yang kembali memunculkan notifikasi panggilan masuk.

Incoming Call...
Unknown Number

Nomor tak dikenal?

"Halo?"

"Apa kabar Linlinie? Lama tak bicara denganmu." Sapa orang di seberang.

Guanlin langsung menegakkan duduknya. Suara perempuan?

"Siapa?"

"Tega sekali kau melupakanku Linlinie."

Guanlin menautkan alisnya. Dia seperti familiar dengan suara ini.

"Maaf, tapi aku benar-benar tidak tahu."

"Ah sudahlah, toh kita akan bertemu tak lama lagi. I really miss you baby, see you soon."

"Ap–"

TUUT– TUUT– TUUT–

Belum sempat Guanlin melanjutkan pertanyaannya, sambungan telepon sudah lebih dulu diputus secara sepihak. Lelaki itu tampak menatap layar ponselnya sambil mengingat-ingat suara perempuan yang baru saja meneleponnya. Dia yakin pernah mendengar suara itu, tapi ia lupa dimana dan kapan terakhir kali ia mendengarnya.

Guanlin tampak terdiam selama beberapa saat sampai kilasan memori muncul di kepalanya.

"Apa mungkin, dia?"

.

.

.

~Buttermints~

.

.

.

Seorang perempuan bersurai ash brown tampak memandangi jalanan kota Seoul dari jendela mobil. Senyum senang tampak terukir di wajah cantiknya.

"Maaf nona, apakah anda ingin pergi ke suatu tempat dahulu sebelum ke apartemen?" Tanya sang supir.

"Kurasa tidak. Aku ingin segera istirahat, duduk sekian jam di pesawat membuat punggungku sakit"

Sang supir tampak mengangguk dan kembali fokus pada jalanan di depannya.

"Ah... aku benar-benar tak sabar untuk bertemu dengannya." Gumam perempuan muda itu seraya membuka lockscreen layar ponselnya.

Senyumnya semakin mengembang ketika jarinya menekan foto seorang lelaki berlesung pipi di dalam gallerynya.

"Lai Guanlin."

.

.

.

TBC

.

.

.

Maafkan ini pendek *deep bow*

Siapakah gerangan mbak-mbak yang manggil baby ke Guanlin? Tunggulah kelanjutan ceritanya hehehe.

Terimakasih banyak buat yang udah nyempetin baca, mau menunggu, ngefollow, ngefavorite, dan ngereview ff ini. Kutunggu kritik dan saran readernimm sekalian di kolom review!

See you in the next chapter!

Love

~Buttermints~