"Ah... aku benar-benar tak sabar untuk bertemu dengannya." Gumam perempuan muda itu seraya membuka lockscreen layar ponselnya.
Senyumnya semakin mengembang ketika jarinya menekan foto seorang lelaki berlesung pipi di dalam gallerynya.
"Lai Guanlin."
.
.
.
Critical Beauty
Chapter 14
.
.
Produce 101/Wanna One Fanfiction
Romance, Humor, High School!AU, Yaoi
Main!Byeongari couple
(Karakter dan Couple lain menyusul di dalam cerita)
Rating: T (M for future Chapter)
.
.
Happy Reading! -Buttermints-
.
.
.
"Jadi kau tidak bisa membantuku di toko?"
"Ne tidak bisa hyung. Aku sudah ada janji untuk bertemu temanku." Seonho menggigit-gigit bibir bawahnya cemas.
"Aaa... ya sudah kalau begitu. Ngomong-ngomong kenapa nada bicaramu gugup begitu eh? Mencurigakan." Tanya orang di seberang.
"A- aku tidak apa-apa hyung. Ck, jangan berpikiran macam-macam eoh!"
Pria di seberang sana tertawa puas karena berhasil menggoda adiknya.
"Baiklah baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan, jika ada sesuatu segera hubungi aku, mengerti?"
"Ya ya." Jawab Seonho malas.
"Anak pintar. Ya sudah kututup dulu, annyeong~!"
PIP
Begitu sambungan terputus, Seonho bergegas meninggalkan lorong sekolah yang sudah mulai sepi. Maklum saja, bel pulang sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu, jadi tak heran jika semua bagian sekolah terlihat sepi dan kosong. Kalau bukan karena Mr. Kim yang meminta bantuannya untuk membereskan lab, dia pasti sudah berada di cafe Sun Able sekarang.
"Dia pasti sudah menungguku. Aish, kenapa cafenya jauh sekali sih?!" Gerutunya seraya terus berlari.
Sebenarnya jarak antara cafe Sun Able dan 101 International School hanya berjarak enam gedung, tapi entah kenapa Seonho seperti tak kunjung sampai ke tempat tujuannya itu, padahal dia sudah berlari cukup kencang.
"Ah itu dia." Senyumnya mengembang saat matanya melihat papan kayu bertuliskan Sun Able.
Seonho tak tahu apa yang membuatnya mendadak begitu senang, padahal semalam ia sempat merasa ragu ketika Guanlin mengajaknya untuk bertemu. Mungkinkah ini pertanda bahwa hubungan mereka akan membaik seperti sebelumnya?
Atau bahkan lebih dari itu?
Aish, kenapa aku jadi berpikiran yang aneh-aneh. Sadarlah Yoo Seonho, kau itu jangan-
BUGH!
"Akh!"
Tubuh Seonho mendadak terhempas dan jatuh ke trotoar karena menabrak orang lain di depannya.
"Seonho! Syukurlah aku bertemu denganmu di sini!" Seru orang itu.
Seonho sontak mendongak begitu mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
"Ongie? Apa yang kau lakukan di sini?"
Seongwoo buru-buru membantu Seonho bangun dan menariknya menjauh dari depan cafe. Mata Seonho tampak mengerjap bingung dengan tindakan Seongwoo yang tiba-tiba itu, dia hanya bisa pasrah ketika tangannya ditarik paksa oleh sahabatnya.
"Ongie sebenarnya ada ap-"
"Jangan temui Guanlin!"
Mata Seonho membelalak.
"K- kenapa?"
"Pokoknya jangan, sekarang lebih baik kita pulang saja. Ku ceritakan semuanya di rumah nanti." Jawab Seongwoo seraya menarik Seonho ke arah mobil milik Daniel yang terparkir tak jauh dari sana.
"Aish, Ongie lepas dulu!"
Seonho mencoba melepaskan tangannya yang dipegang kuat oleh Seongwoo. Ia sungguh bingung dengan sikap Seongwoo yang mendadak berubah. Pagi tadi dia masih mendukung keputusan Seonho untuk bertemu dengan Guanlin, tapi sekarang dia malah berbalik melarangnya dengan alasan yang tidak jelas.
"Yak! Ong Seongwoo!"
Teriakan itu membuat Seongwoo menghentikan langkahnya. Seonho segera melepaskan tangannya dari cengkeraman Seongwoo yang melonggar. Matanya menatap kesal pada Seongwoo yang kini tengah berdiri mematung dengan wajah kaget di hadapannya.
"Sebenarnya ada apa eoh? Tadi pagi kau begitu menggebu-gebu untuk menyuruhku bertemu dengannya, tapi sekarang kenapa kau malah melarangku?"
Seongwoo tampak menggigiti bibirnya gugup. Sejujurnya ia ingin menceritakan semuanya pada Seonho di sini, tapi ia takut sahabatnya itu menangis setelah mendengar semua ceritanya.
"Nanti, oke? Kuceritakan di rumah, aku janji. Yang penting sekarang kita pulang dulu, ayo."
"Aku tidak mau." Seonho melipat tangannya di depan dada.
"Oh ayolah, aku tidak mau membuatmu menyesal Seonho-ya." Ujar Seongwoo frustasi.
"Maaf ongie, aku tidak ingin rasa percaya diri yang sudah susah-susah ku bangun dari semalam sia-sia begitu saja karena laranganmu yang tidak berasalasan itu."
Seongwoo menggeram kesal. Kenapa sekarang sahabatnya ini lebih memilih percaya pada Guanlin daripada dirinya.
"Kau lupa sejak kapan kita ini berteman hah? Aku seperti ini karena ada alasan kuat Seonho-ya. Kenapa kau tidak percaya padaku?"
"Kalau kau punya alasan, katakan sekarang. Aku bukan tidak percaya padamu Ongie, tapi kadang kau suka berlebihan dalam menanggapi sesuatu, karena itu aku perlu tahu alasannya sekarang."
Seongwoo terdiam. Ia mencoba memikirkan cara yang tepat untuk membuat temannya ini paham dengan situasinya.
"Ongie?"
"Baiklah. Tapi kau harus janji untuk tidak menangis di sini karena aku tadi sudah mencoba untuk mengajakmu bicara di rumah." Ujar Seongwoo akhirnya.
Tubuh Seonho seketika menegang setelah mendengar ucapan Seongwoo. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
"Kau ingat kan jika tadi malam aku bilang akan memantau dirimu dan Guanlin?" Seonho mengangguk pelan. "Setelah bel pulang tadi, aku mengajak Daniel untuk pergi kemari lebih dulu. Setelah aku sampai di sini, ternyata Guanlin sudah ada di dalam cafe, jadi aku memutuskan untuk mulai memata-matainya dari dalam mobil sambil menunggumu datang. Karena kau lama sekali dan aku haus, akhirnya aku mengajak Daniel untuk membeli minuman di Sun Able."
Seongwoo berhenti sejenak ketika ia akan sampai di inti cerita. Matanya melirik ke arah Seonho yang sedang memandangnya penasaran.
"Lalu ketika aku selesai membeli minum dan akan keluar cafe, aku melihat Guanlin-" Seongwoo menggantung kalimatnya.
"K- kenapa dengannya?" Kejar Seonho.
"Aku melihat Guanlin sedang berpelukan dengan seorang perempuan yang terlihat seumuran dengan kita." Seongwoo menatap tak enak pada sahabatnya yang kini tengah membolakan mata karena terkejut.
"A- apa?"
.
.
~Buttermints~
.
.
Guanlin kembali memeriksa notifikasi di ponselnya, entah sudah yang keberapa kalinya dia melakukan hal itu. Rasa cemas mulai memenuhi kepalanya karena orang yang sejak tadi ditunggunya tak kunjung datang. Jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh lima, harusnya dia sudah datang sejak dua puluh lima menit yang lalu karena sekolah usai pada pukul tiga tepat.
Sejak tadi ia terus mencoba berpikiran positif, mungkin Seonho sedang ada kegiatan tambahan di sekolah atau sedang ada urusan dengan salah satu guru. Maka dari itu ia terus memeriksa notifikasi ponselnya untuk berjaga-jaga jika Seonho mengiriminya pesan, tapi nihil. Tak ada satupun pesan dari pemuda itu.
"Apa dia tidak jadi datang?" Gumam Guanlin seraya kembali membuka chatroom milik Seonho.
"Guanlin? Is that you?"
Guanlin sontak mendongak ketika namanya dipanggil, namun sayang yang memanggilnya bukanlah Seonho, melainkan seorang perempuan berkacamata yang berdiri tepat di sebelah mejanya.
Kenapa orang ini terlihat familiar.
"Maaf, kau siapa?"
"Ya tuhan, tega sekali kau Lai Guanlin." Ujar perempuan itu dengan nada sedih yang dibuat-buat. "Kau benar-benar lupa padaku?"
"Aku bahkan tidak tahu kau ini siapa." Jawab Guanlin.
"Aish, aku memang jarang menghubungimu selama empat tahun terakhir ini, tapi bukan berarti kau boleh lupa padaku anak durhaka." Ujarnya lagi seraya melepas sunglasses yang menutupi matanya.
Iris gelap Guanlin seketika melebar begitu perempuan itu melepas kacamatanya.
"J- jie jie?"
"Ya, ini aku kakakmu bodoh." Sungutnya.
Guanlin segera memeluk sang kakak yang sudah empat tahun tak ditemuinya itu. Pantas saja dia merasa familiar dengan perempuan ini, ternyata dia adalah kakaknya sendiri. Penampilan sang kakak yang berubah sedemikian rupa membuat Guanlin benar-benar tak mengenalinya sama sekali.
"Oh god, I miss you jie jie."
Perempuan yang lebih tua itu tampak menepuk-nepuk pelan punggung sang adik.
"Aku juga merindukanmu. Semalam aku menelpon tapi rupanya kau juga sudah lupa dengan suaraku yang merdu ini."
"Suara dan penampilanmu berubah, aku jadi tidak bisa mengenalimu." Guanlin tertawa pelan.
"Alasan. Kau harusnya bersyukur aku mau datang jauh-jauh dari Amerika untuk menemuimu di sini. Memangnya mommy tidak memberitahumu?"
Guanlin menggeleng. "Tidak sama sekali."
"Ck, pantas saja." Gumam perempuan itu. "Ya sudahlah yang penting kita sudah bertemu di sini. Jadi, boleh aku duduk?"
"Tentu, duduklah."
Guanlin kembali duduk di kursinya sementara sang kakak duduk di depannya.
"Kau sedang menunggu seseorang?"
"Begitulah."
"Siapa? Pacarmu?" Tanyanya lagi sambil menyesap Strawberry Lemonade miliknya.
Pemuda Cina itu tertawa pelan. Penampilannya memang benar berubah, tapi cara bicaranya yang blak-blakan tetap sama.
"Kami baru saja bertengkar karena salah paham dan hari ini aku berencana untuk berbaikan dengannya."
"Really? Kau benar punya pacar dan tidak memberitahu keluargamu?"
"Kami belum berpacaran jie jie." Guanlin tersenyum kecil. "Aku akan segera meresmikannya begitu masalah ini selesai."
"Jadi hari ini aku akan bertemu dengan calon adik iparku? Woah, what a good day." Timpalnya sambil tertawa.
"Doakan saja dia jadi datang. Aku akan-"
"Guanlin?"
Sepasang adik kakak itu kompak menoleh ke arah pemuda yang berdiri di sebelah pintu masuk. Berbeda dengan Guanlin yang tersenyum sumringah, wajah pemuda itu tampak muram tanpa senyuman sama sekali.
"Syukurlah kau datang, aku sudah- Seonho!"
Guanlin segera bangkit dari kursinya ketika Seonho berlari keluar dari cafe sambil menangis. Dia tak lagi mempedulikan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya, karena satu-satunya yang ada di pikirannya sekarang adalah Seonho.
"Seonho! Tunggu!"
Seonho menulikan pendengarannya. Dia benar-benar ingin pergi dari sana sekarang juga dan melupakan Guanlin untuk selama-lamanya. Cukup dua kali saja hatinya sakit karena Guanlin. Ia tak mau rasa sakit itu kembali datang untuk yang ketiga kali dan seterusnya.
Harusnya ia percaya kata-kata Seongwoo, harusnya ia tak usah menyusul Guanlin ke cafe dan ikut pulang saja dengan Seongwoo.
"Seonho!"
Guanlin berhasil menarik tangan Seonho, menghentikan gerakan pemuda itu dengan paksa.
"Lepas!" Seonho meronta sekuat tenaga, berharap agar cengkeraman kuat itu bisa terlepas.
"Tenang dulu Seonho-ah. Kumohon."
"Lepaskan! Untuk apa kau mengejarku?! Bukankah disana sudah ada orang lain yang ingin kau temui?!" Teriaknya sambil terisak.
"Apa maksudmu? Satu-satunya orang yang ingin kutemui adalah dirimu Seonho-ah."
Guanlin meremas lembut tangan Seonho. Ia benar-benar bingung sekarang, bingung karena Seonho yang tiba-tiba muncul dengan menangis dan maksud kalimat yang baru saja ia lontarkan.
"Kau benar-benar tidak perlu menghiburku- hiks. A- aku memang bukan seseorang yang menarik d- dan tidak pantas untuk menggantung harapan terlalu tinggi padamu. A- aku-"
"Apa maksudmu?"
Hati Guanlin serasa disayat ketika Seonho mendongak dan menatapnya dengan penuh rasa sedih bercampur kecewa.
"I- ini memang salahku. Harusnya a- aku tidak boleh membiarkan perasaanku mengambil alih s- semuanya. Harusnya aku juga sadar j- jika kau hanya menganggapku teman." Seonho tersenyum sedih.
"Seonho, aku benar-benar tidak-"
"Tak apa, kembalilah kesana." Seonho melepas genggaman tangan Guanlin. "Kembalilah kepada orang yang kau cintai."
Guanlin menghela napas pelan.
"Kemana aku harus kembali jika satu-satunya rumah yang aku inginkan adalah dirimu?"
Seonho membatalkan niatnya untuk kembali berlari, pandangannya kembali mengarah pada sosok tinggi yang berdiri di depannya.
"Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Hari ini aku berencana untuk menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi beberapa waktu lalu dan berharap kita bisa kembali dekat seperti sebelumnya, tapi kenapa semuanya jadi seperti ini." Ujar Guanlin frustasi. "Aku tidak tahu kenapa kau berteriak padaku, aku tidak tahu kenapa kau menangis, aku tidak tahu maksud kata-katamu itu, Seonho."
Tubuh Guanlin tampak bergetar karena menahan berbagai macam emosi yang saat menguasai otaknya.
"Aku hanya ingin minta maaf dan memperbaiki semuanya. Karena- karena aku menyukaimu."
Cukup.
"Hentikan Guanlin, jangan membuat satu kebohongan agar aku mau memaafkanmu." Ujar Seonho dengan suara bergetar.
"Please believe me, I like you since the first time we meet."
Guanlin meraih tangan Seonho yang langsung saja dilepaskan oleh pemuda berpipi tembam itu.
"Kau bohong." Seonho menggelengkan kepalanya.
"Aku benar-benar menyukaimu Seonho-ah, kenapa kau tidak-"
"Lalu siapa perempuan itu?! Kau punya kekasih kan?! Jangan mempermainkanku Guanlin, aku lelah terus kau sakiti seperti ini." Potong Seonho. Air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya.
"Perempuan yang mana? Aku bahkan tidak tahu siapa yang kau maksud." Ujar Guanlin semakin bingung.
"Perempuan yang kau peluk di cafe. Dia kekasihmu kan?"
"Huh? Maksudmu jie jie?"
Tunggu, jie jie katanya?
"J- jie jie? M- maksudmu dia kakakmu?"
Satu anggukan mantap dari Guanlin membuat Seonho ingin menjatuhkan diri ke jurang saat ini juga dan menghilang untuk selama-lamanya.
"Dia kakakku yang baru pulang dari Amerika. Kami tak sengaja bertemu di cafe tadi saat aku sedang menunggumu. Jie jie kemari untuk mengunjungiku." Jelas Guanlin.
Seonho menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia malu sekali, sungguh.
"M- maafkan aku."
GREP!
Seonho sama sekali tak bereaksi ketika Guanlin memeluknya. Ia malah menangis semakin kencang di dalam pelukan Guanlin, merasa bersalah karena sudah mengatakan hal yang tidak-tidak kepada pemuda yang disukainya itu.
"Hiks- maafkan aku, maaf."
"It's okay, jangan menangis seperti itu lagi Seonho-ah." Guanlin mengusap lembut surai hitam milik Seonho. "Aku juga minta maaf karena kemarin sudah bersikap dingin padamu."
"A- aku benar-benar minta maaf." Seonho terus terisak di dekapan Guanlin.
"Sudah, oke?" Guanlin mengangkat wajah Seonho lalu mengusap lembut pipi tembamnya.
"T- tapi-"
CUP-
Isakan Seonho seketika berhenti begitu sepasang benda kenyal menyentuh belah bibirnya. Iris gelapnya melebar begitu ia menyadari apa sebenarnya benda kenyal itu.
Guanlin menciumku?
"Lebih baik kita pulang sekarang, kita bicara lagi di rumah bersama jie jieku juga."
Guanlin tersenyum lembut seraya kembali mengusap pipi Seonho yang masih setia mematung di posisinya.
Ya tuhan, mimpi apa aku semalam.
.
.
.
TBC
.
.
.
Updateeeee!
Masih ada yang menunggukah? Ehehehe, terimakasih readernimm yang masih setia membaca dan menunggu ff ini, I love you all!
Kurasa dramanya udah cukup sampe chapter ini aja ya readernimm, chapter-chapter depan mungkin bakal nyeritain yang manis-manis tentang mereka berdua.
Sekali lagi terimakasih baanyak buat yang udah nyempetin mampir hehe, tunggu aku di chapter selanjutnya yaa!
