Chapter 3
"Dan saya, Asano Gakushuu, mahasiswa pindahan dari Jepang juga." Suara seseorang itu nampak terasa tak asing. Dan dirinya-sang pemuda tersebut- yang memperkenalkan namanya seperti sosok yang selalu Karma tunggu. Sejenak, Karma mengangkat wajahnya dan melihat. Ia penasaran dengan sosok pemuda tersebut. Manik merkuri nya bertemu dengan manik violet milik sang murid baru. Sejenak, keheningan melanda. Karma masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Begitu pun dengan Gakushuu.
"Baiklah, kalian boleh duduk di belakang Kirkland dan Akabane." Guru berkulit putih pucat itu menyuruh kedua Maba tersebut untuk duduk di tempat yang telah disediakan. Kedua manik berbeda warna itu kembali bertemu saat Gakushuu dan Ren melewati tempat di mana Karma duduk.
"Akhirnya kita bertemu, Karma," ucap Gakushuu lirih yang -untungnya- masih tertangkap indera pendengaran Karma.
"Haaahhh..." Karma membaringkan tubuhnya di atas kasur berukuran king size. Matanya menerawang. Beberapa kejadian tak terduga terjadi siang ini. Kenapa ia bisa berada di sini? Apakah mungkin... Karma bangkit dari posisi tidurnya menjadi terduduk di ranjangnya. Mengecek ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada. Sebuah notifikasi LINE masuk dari seseorang yang di kenalnya.
ArthurK
ArthurK
Karma~
Hari ini jadi kan?
Kapan? Dimana?
Jangan lupa kerja kelompoknya!
READ, 17.15
Aka_Kxrma
Iya, aku ingat
Di Kafe depan asrama saja
Jangan yang terlalu jauh
Temui aku di sana pukul 7 nanti
READ, 17.15
ArthurK
Oke.
Jangan terlalu memikirkannya.
READ, 17.16
Aka_Kxrma
Hn.
READ, 17.16
Karma melempar asal Handphone miliknya. Dirinya tak habis pikir. Bagaimana sosok Arthur Kirkland mengetahui bahwa dirinya tengah memikirkan Gakushuu, sang Maba baru di universitasnya-sekaligus seseorang yang selama ini ia tunggu-? Karma memutuskan untuk bangkit, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menemui teman-temannya.
"Gilbret, kau kerjakan bagian ini, sedangkan Rin, kau kerjakan bagian pembuka."
"Lalu, bagaimana denganku, Akabane-san?"
Karma mendesah lelah. Ia melupakan fakta bahwa Gakushuu merupakan bagian dari kelompoknya juga. Sebenarnya, Karma ingin saja membuat Gakushuu mengerjakan sesuatu, tapi ia abaikan. Entah kenapa, ia merasa perlu untuk bersikap sedikit dingin dengan Gakushuu.
"Kau anak baru, lebih baik kau pelajari saja dulu bagian ini. Jangan berbuat sesuatu sesukamu."
Bukan, bukan. Karma justru tak tega. Hanya saja, ia perlu untuk menyesuaikan diri kembali. Gakushuu pun sebaliknya. Pemuda bersurai jingga itu menatap nanar ke arah Karma. Ia tak habis pikir, bagaimana Karma-nya yang selama ini ia tunggu malah bersikap dingin padanya? Bahkan sekarang, pemuda bersurai merah itu tak menoleh sedikit pun padanya. Pemuda itu hanya sibuk dengan kertas-kertas yang ada di genggamannya. Ia menghela napas. Mungkin, Karma sedang lelah dengan tugasnya, ya setidaknya itulah yang dipikirkan Gakushuu. Yang dilakukannya hanyalah berdoa. Berharap agar Karma-nya tidak benar-benar bersikap dingin padanya.
"Karma, apa aku harus mengerjakan bagian ini?"
Karma menoleh. Arthur menunjukkan sebuah kertas. Raut wajahnya terlihat serius. Inilah sosok sahabatnya jika tengah konsentrasi. Karma sedikit menyukainya.
"Ya, kau bisa mengerjakannya. Oh, jangan lupa untuk menambahkan sedikit bagian."
Gakushuu jengkel. Apa yang ia lakukan hanyalah membaca? Apa ia tidak dapat membantu mengerjakan bagian lain? Sepertinya ia harus mendinginkan kepalanya sejenak, dengan berjalan-jalan di sekitar kafe –mungkin?
Setelah berdebat sejenak dengan pemikirannya, Gakushuu berdiri dan berniat berjalan meninggalkan teman satu kelompoknya –sebelum sebuah tangan memegang lengannya. Menahannya untuk tidak pergi dari area itu.
"Mau kemana kau, Gakushuu Asano?"
Gakushuu tersentak. Suara ini adalah ciri khas seorang Karma-nya ketika tengah marah. Dan Gakushuu tahu apa penyebabnya.
"Aku hanya ingin ke toilet. Tidak akan lama."
"Kau sungguh-sungguh? Aku tak yakin kau tidak akan lama. Nash, kau temani murid baru ini. Beritahu aku jika ia ternyata berbohong."
Manik violet Gakushuu membola. Ia menatap Karma tak percaya. Sedangkan yang bersangkutan hanya kembali duduk dengan santainya.
"OK!"
Pemuda bernama Nash itu bangkit dan berjalan berdekatan dengan Gakushuu. Mereka pergi meninggalkan teman-teman mereka.
Karma…|Maafkan aku, Shuu.
.
.
.
"Oi bocah, ada apa denganmu?"
"Hah? Apa? Apa ada yang salah denganku?"
"Ya. Sikapmu. Kau hanya berdiri di depan cermin dan membasuh wajahmu."
"Oh. Ayo kembali, aku sudah selesai membersihkan pikiranku. Dan, tolong sampaikan pada Akabane-san bahwa aku tidak enak badan, aku akan kembali ke asrama lebih dulu."
BLAMM
Pintu ditutup dengan kencang. Gakushuu pergi meninggalkan Nash yang masih diam tak bergeming di dalam sana. Gakushuu berniat mengambil tas beserta jaketnya, namun jika ia kembali, ia hanya akan bertemu dengan Karma dan berakhir dengan suasana canggung seperti tadi. Pada akhirnya, ia berbalik dan keluar melalui pintu belakang kafe.
"Mana anak itu?" tanya Karma ketika mendapati Nash kembali sendirian tanpa Gakushuu.
"Ia bilang sedang tidak enak badan. Dan sepertinya ia kembali ke asrama terlebih dahulu."
"Cih." Karma mendecih tak suka. Sebenarnya, ini salahnya juga. Kenapa ia tidak memperhatikan mimik wajah orang kesayangannya itu? Arghh!
"Kalian kerjakanlah dulu. Aku akan mengembalikan tas beserta jaket murid sialan itu. Jangan ada yang kembali ke asrama sebelum aku kembali ke sini!"
Karma mengambil tas berwarna putih beserta jaket oranye di sampingnya dan berlari keluar kafe. Menyusul pemuda bersurai Jingga kesayangannya.
Karma tidak bodoh untuk mengetahui letak kamar asrama –calon kekasihnya–. Mereka satu kamar. Asano dan Akabane. Karma dan Gakushuu. Mereka menempati satu kamar yang sama, yaitu kamar 251. Sayangnya, Karma terlalu bodoh untuk mengetahui kesehatan Gakushuu. Dengan terburu, Karma menapaki anak tangga dan berhenti di depan pintu.
"Shuu, aku ma-"
"Hiks…"
Karma terdiam. Ia mencoba meyakinkan indera pendengarannya. Apa Shuu menangis?
"Hiks… aku.. aku tak tahu kenapa. Apa kau mengatakan –hiks.. yang sebenarnya –hiks, Shiota?"
Penasaran, Karma mendekatkan telinganya untuk mendengar percakapan Gakushuu-nya di dalam.
"Aku sangat yakin, Asano-kun. Kemarin Karma-kun masih seceria biasanya, dan juga menanyakan kabarmu."
"Tapi ia –hiks.. bersikap dingin padaku –hiks.. padahal aku sudah berusaha mendapatkan beasiswa ini –hiks.."
Tubuh Karma membeku. Ia mendapatkan beasiswa itu demi bertemu denganku?
"Mungkin Karma-kun sedang banyak pikiran. Mungkin ia memiliki banyak tugas. Kau harus bersabar, Asano-kun."
"Hah… baiklah, aku akan beristirahat sejenak. Terima kasih atas saranmu, Shiota. Sampai nanti."
CEKLEK
Pintu kamar di buka. Karma masuk dengan bermacam emosi. Entahlah, ia sedih, marah, juga kecewa pada dirinya. Dan sekarang, ia dihadapkan dengan masalah baru yang lebih rumit.
"A-Akabane?"
Karma menoleh, lebih tepatnya memicing pada Gakushuu yang tengah duduk di tempat tidurnya.
"Kukembalikan," ucap Karma sambil melempar tas beserta jaket oranye milik pemuda Jingga itu.
"Ma-maaf, aku-"
"Istirahatlah. Aku yakin kau lelah. Sampai nanti."
Karma memutar balik, berjalan keluar. Sebelum…
"Karma…"
Suara ini. Suara yang sangat dirindukannya lima tahun belakangan. Karma berhenti. Tangan yang semula ingin memutar kenop pintu terdiam. Matanya perih, ingin rasanya ia menangis sekarang. Gakushuu-nya kembali. Sosok itu benar-benar kembali. Dan Karma melupakan sejenak sosok Gakushuu lain yang tadi memanggilnya Akabane. Jujur, Karma tidak suka mendengarnya. Dan akhirnya, suara yang ia rindukan kembali.
"Shuu…"
Gakushuu tersentak. Kepala yang sebelumnya menunduk itu kini menengadah. Memastikan jika ia benar-benar mendengar suara Karma-nya. Karma yang sejak dulu mengejeknya. Karma yang senang menggodanya. Karma-nya yang sangat ia cintai. Dan Karma-nya yang sangat ia rindukan. Dan ketika manik violetnya melihat getaran di tubuh Karma, ia yakin Karma-nya sudah kembali. Karma-nya, si mantan preman Kunugigaoka. Tanpa sadar, Gakushuu berjalan ke arah Karma dan memeluknya. Membuat pemuda bersurai crimson itu tersentak.
Karma berbalik. Menatap pemuda jingga dihadapannya yang tengah menangis. Menangis dengan sejuta rasa rindu. Tangannya ia gerakkan untuk mengelus surai jingga si pemuda –yang dulunya– arogan. Membawa pemuda itu kedalam dekapannya. Menghirup aroma jeruk kesukaannya dalam-dalam. Dan ikut menintikkan air matanya.
"Karmaa… -hiks…"
"Shh… aku di sini, Shuu. Maafkan aku, oke?"
Karma mengecup puncak kepala sang surai jingga. Menenangkan orang yang dirindukannya. Karma tahu ia egois, hanya saja, dirinya belum siap untuk mengutarakan perasaannya saat ini. Karma bahkan sudah mengetahui bahwa Gakushuu-nya, yang selama ini ia anggap sebagai sahabat sekaligus rival memilki perasaan khusus padanya. Dan ia menyadari itu semua sejak mereka mulai akrab di penghujung kelulusan kelas tiga sekolah menengah pertama. Tapi, jika Karma tidak melakukannya sekarang, mungkin saja ia tidak mendapatkan jawabannya.
"Shuu…"
Karma mengangkat dagu Gakushuu. Membuat pemuda itu menatap ke arahnya. Manik merkurinya menilik setiap inchi wajah Gakushuu. Mata sembab akibat menangis, hidung bangirnya yang memerah, dan bibir pink kemerahan yang sedikit membengkak akibat menangis. Karma merasa bersalah. Dan ia tak ingin hal seperti ini terjadi lagi.
"Ada yang ingin kusampaikan padamu."
Mata yang sembab itu mengerjap-ngerjap lucu. Dan Karma dengan gemasnya mencubit pipi sang surai jingga.
"Aww! Apa yang kau lakukan, Karma?!"
"Ehehe… gomen gomen, habisnya kau lucu. Aku jadi tak tahan untuk mencubitmu, Shuu. Hahaha."
"Hmph! Cepat beritahu saja apa yang ingin kau sampaikan!"
"Iya, iya. Tuan muda Asano."
"Jangan memanggilku seperti itu!"
"Ahahaha…."
Karma tertawa. Ia senang melihat raut kesal pemuda bersurai jingga tersebut. Sementara Gakushuu, ia tanpa sadar tersenyum melihat Karma-nya yang sudah kembali. Dan ikut tertawa bersama Karma.
"Hahaha… Oke, serius. Shuu, aku mencintaimu. Maaf aku telat mengatakannya, tapi aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi. Aku janji tidak akan membuatmu menangis lagi. Maafkan aku yang pergi meninggalkanmu selama lima tahun tanpa memberi kabar. Handphone ku hilang ketika aku baru keluar bandara. Dan dengan bodohnya, aku hanya hapal nomor Nagisa. Maafkan aku karena telah menghilangkan gantungan bonekamu, Shuu. Aku ceroboh."
Gakushuu terdiam. Ia mengerti kenapa Karma tidak pernah memberinya kabar. Dan ia merasa bodoh untuk pertama kalinya karena merasa cemburu.
"Asano Gakushuu? Kau mendengarku? Hei. Oi, Gakushuu!"
Gakushuu tersentak. Ia melamun.
"Eh, ah. Iya Karma, aku juga mencintaimu. Maafkan aku yang tidak bisa menyusulmu dengan cepat. Maafkan aku yang-"
CUP
Kalimat yang ingin diucapkan Gakushuu terpotong tatkala ia menyadari bibirnya bertebrukan dengan benda lunak lainnya. Otaknya yang sama jeniusnya dengan Karma mendadak blank. Baginya, waktu terasa berhenti sepersekian detik. Karma melepaskan pagutannya. Hanya sebuah kecupan ringan sebagai pengganti rasa rindu dan cintanya pada Gakushuu. Sebuah rona merah yang terlihat samar tertangkap oleh Karma. Karma menyeringai. Saatnya menggoda sang Tuan Muda yang arogan itu.
"Shuu…"
Karma mendekatkan wajahnya ke perpotongan leher Gakushuu. Menghirup aroma jeruk yang khas. Hal itu membuat Gakushuu menggeliat tak nyaman. Ia merasakan tanda bahaya dari Pangeran Iblis dihadapannya.
"Ngh… Karma!"
Gakushuu mendorong Karma sekuat tenaga, menyebabkan samg surai crimson hampir terjatuh.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Menggodamu, Tuan Muda Asano."
"Tidak lucu, Karma! Bagaimana dengan tugasnya?! Jangan bilang kau lupa!"
"Ahahaha… tentu saja, Shuu. Bagaimana aku bisa lupa dengan tugasku? Ralat, tugas kita. Baiklah, aku pergi dulu. Sampai nanti, Shuu! Beristirahatlah~"
Sosok Karma menghilang di balik pintu. Gakushuu berbalik. Tangannya memegang kaosnya erat. Ah, hatinya menghangat. Tidak sia-sia ia pergi ke London untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Ya, Karmanya. Sekarang ia resmi menjadi salah satu bagian dari hidup orang yang dicintainya itu.
.
.
.
Setidaknya saat ini.
TBC
Huaaaa… maafkan diriku yang lupa mempost fic ini (T-T) ini sebenarnya udah di bikin lama, tapi selalu lupa di post. Maaf bagi kalian yang menunggu fic ini. Aku sayang kalian /g
Maaf ya, yang berharap ini Asakaru m(_ _)m soalnya aku sama Kira lebih sreg sama Karushuu. Kadang suka lucu gitu, liat si mister arogan jadi uke yang imut, manis-manis gitu :v
Bagian percakapan di medsosnya emang rada aneh, karena di FFN ga ada opsi buat ngatur align ke arah kanan. jadi kuputuskan buat rata tengah :"
Oh iya, satu lagi. Kira, lu jangan murung terus, lanjutin karya lu yang lain. Yang lalu biarlah berlalu, lu harus bisa move on dan terus buat fic baru. Jangan nyerah! Gue ga kenal Kira yang murung, gue lebih kenal Kira yang ceria dan banyak omong tentang Yaoi. Ayolah, semangat! Terima kasih karena lu udah bantuin gue ngasih ide buat lanjutin fic gue, juga tentang laptop lu yang gue pinjem buat nulis nih fanfic, hehehe *peace
Kalau lu masih trauma di FFN, ya udah, lu lanjutin dulu yang di Wattpad, yang di FFN lu hiatusin dulu sampai lu tenang. Sekali lagi, jangan nyerah! Seenggaknya lu punya ide baru kan di laptop? Lu publish aja! Gak usah takut, gue di sini ngedorong elu biar terus berkarya. Oke? Lu boleh nabok gue kalo lu kepengen nangis. Tapi, lu ga boleh kelamaan berdiam diri jadi seonggok bangkai. Panther sama Tiger aja akhirnya bisa bersatu, masa elu sama masa depan ga bisa? Semangat, oke?
Ehhh… jadi kebawa suasana gini (-_-)" yaudahlah, intinya maafkan aku yang masih labil ini. Ideku kadang macet, dan akhirnya si Kira yang bantu lanjutin. Fic ini ga bakal hiatus, cuma aku rada lama apdetnya (walaupun menurut Kira katanya kecepetan)
Sampai jumpa chapter depan! Inti masalahnya ada di chapter depan :" (spoiler dikit bolelah ya…)
Bai bai~~
-Lenny & Kira
