We Were In Love (Reason)

(Two shoot)

Uozumi Han ©2018

Park Jimin

Min Yoongi

.

.

.


Chapter 2


Yoongi asyik memakan ayam madunya sambil bersandar pada Jimin. Di hadapannya, televisi sibuk memutar film tengah malam yang membosankan. Sedangkan Jimin sudah tenggelam bersama kaleng-kaleng beer dingin miliknya. Sesekali jemarinya usil mengusap rambut Yoongi yang halus. Kening Yoongi ditempeli plester kompres demam, dan bibirnya yang pucat sesekali mengeluarkan suara batuk serak yang membuat Jimin turut mengusap pelan dada pacarnya itu.

"Jangan nekat hujan-hujanan lagi, mengerti?" pipi Yoongi ditepuk pelan, mengundang gerungan sebal dari si manis. Jimin yang masih merasa bersalah lantas memberikan kecupan singkat di puncak kepala Yoongi sambil bergumam maaf.

"Kamu masih peduli padaku?" Yoongi melirik sangsi tanpa melepas atensinya pada ayam madu yang sibuk dihisapnya. Bibirnya belepotan saus manis dan pipinya menggembung lucu. Gemas sekali. Jimin rasanya ingin menggantikan posisi ayam madu sialan itu untuk mengecup habis mulut pacarnya. Akan ia lakukan seandainya saja tidak ingat kalau Yoongi masih memusuhinya.

"Kapan memangnya aku tidak peduli padamu?"

"Masih berani tanya?" Yoongi menyikut rusuknya karena kesal, matanya membulat—berniat mengintimidasi sang pacar, tapi malah berakhir menggemaskan, "Tadi! Seandainya kamu mengejarku aku tidak akan hujan-hujanan begini."

"Kamu sendiri yang berulah. Kamu kan tahu aku benar-benar tidak bisa absen kelas ini."

Yoongi meletakan potongan ayam di tangannya kembali ke dalam boks, berusaha melepaskan rangkulan Jimin di pinggangnya, dan memulai sesi ngambek keduanya.

"Dengar, sini." Jimin yang tidak berniat melepas rangkulannya malah makin menarik si manis ke dalam pelukannya.

"Kalau aku gagal lagi di kelas ini bisa-bisa aku telat menikahimu, mengerti?"

Wajah Yoongi yang pucat jadi tampak berwarna karena semu samar di pipinya. Ia memang sebenarnya tahu alasan mengapa Jimin belakangan ini tampak begitu sibuk dan mengabaikannya. Pacarnya itu sedang berusaha keras untuk mengejar ketertinggalannya di salah satu mata kuliahnya. Jika Jimin gagal lagi tahun ini, bisa dipastikan ia tidak akan mengikuti wisuda di tahun yang sama dengan Yoongi. Tidak bisa cepat-cepat mencari kerja, membeli rumah, dan menikahi Yoongi.

Ya. Rencananya Jimin memang ingin menikah muda dengan Yoongi. Membayangkan ada baby kecil yang mondar-mandir di lantai rumah mereka nanti saja sudah membuat perut Jimin dipenuhi kupu-kupu. Jadinya Jimin getol sekali menambah jam kuliahnya di semester ini (bersama satu mata kuliahnya yang tertinggal).

"Kamunya saja yang ngebet ingin punya baby kan?"

Jimin tertawa sambil mengusap sayang rambut Yoongi. Malu karena ketahuan habis memikirkan itu. Alhasil Jimin jadi mengusak wajahnya di perpotongan leher Yoongi yang kembali sibuk dengan paha ayamnya.

"Memangnya kamu tidak?"

"Bagaimana ya?" ditanya begitu sebenarnya Yoongi jadi gugup dan bersemu, ditambah Jimin yang malah menghisap-hisap lehernya seperti vampir.

"Kan lucu jadi ada Jimin kecil."

"Tidak lucu sama sekali kalau nanti sifatnya sama sepertimu." Yoongi berusaha menjauhkan wajah Jimin dari lehernya, menghasilkan dengus tidak rela dari pacarnya.

"Dia kan anakku. Mau sifatnya nanti seperti Namjoon hyung saja?"

"Kenapa jadi Namjoon? Dia kan anakmu."

"Ya habis." Jimin menangkup pipi Yoongi dengan sebelah tangannya, dan menekannya ke dalam hingga bibir Yoongi maju seperti bebek. Hobi sekali sepertinya. "Kalau sifatnya sepertimu nanti aku yang pusing."

"Jadi kamu mau bilang sebenarnya kamu pusing menghadapi sikapku, begitu?" kini Yoongi melakukan hal serupa di wajah Jimin. Mereka berbicara seperti sepasang bebek yang sedang bertengkar.

"Bukan begitu, sayangku."

"Tidak usah punya anak saja kalau begitu."

"Hey, bukan begitu aku bilang." Jimin menurunkan tangannya. Kelihatan syok sekali mendengar Yoongi bicara begitu, seolah-olah Yoongi baru saja menghancurkan harapan terbesarnya. Punggung Jimin tenggelam di sandaran sofa dengan bibir menekuk ke dalam. Ngambek ceritanya.

"Jelek ih!" Yoongi yang memerhatikan perubahan itu inginnya tertawa. Tetapi urung ia lakukan lantaran takut Jimin tambah merengut dan betulan marah.

"Jelek, jangan seperti itu!" katanya diselingi tawa karena tidak tahan dengan aksi Jimin. Akhirnya Yoongi memutuskan untuk merayu pacarnya dengan merangkak ke pangkuan Jimin dan duduk di sana. Menarik dagu Jimin agar mendongak menatapnya.

"Aku bercanda, ok?" ujarnya sembari memberikan kecupan singkat di bibir Jimin. Tapi Jimin masih merengut sebal, padahal telapak tangannya sudah bergerak mencengkeram pinggang Yoongi. Mendorong tubuh Yoongi agar menempel padanya.

"Jangan tertawa!" diperingati, malah tawa Yoongi jadi meledak. Jimin mendengus dan membuang wajah ke samping.

"Hey," Yoongi kembali menarik wajah Jimin agar menatap ke arahnya, "Ayo kita buat Jimin kecil yang banyak." Lalu berbisik tepat di depan bibir Jimin. Sial. Rayuannya maut. Batin Jimin tidak kuat.

"Sekarang?" wajahnya mendadak cerah. Brengseknya.

"Kenapa cepat sekali tanggap kalau hal-hal seperti itu." Yoongi memutar bola matanya malas, tapi tetap tidak menolak ketika Jimin bangkit dan menggendongnya seperti koala.

"Kalau sekarang tidak bisa ada Jimin kecilnya. Kamu harus tetap pakai pengaman!"

Dan Jimin buru-buru menutup pintu kamarnya, menendangnya menggunakan kaki.

.

.

.


Jiminnya sudah shirtless, Yoonginya sudah melenguh keenakan karena Jimin asyik menciumi dadanya, ketika ponsel Yoongi berdering dan menampilkan sebuah panggilan video dari ID bernama 'Ibu'.

"I-ibu." Jimin yang pertama kali melihat ponsel pacarnya di atas nakas, lalu memberikannya pada Yoongi. Perlahan ia turun dari tubuh Yoongi—dengan tidak rela, dan duduk sedikit menyingkir dari Yoongi.

"Jimin, penampilanku?" tanya Yoongi sembari mengancingi piyamanya.

"Tidak apa. Plesternya masih menempel, bilang saja kamu sedang sakit." Jawab Jimin sedikit kesal karena kegiatannya tertunda. Dilihatnya benda di antara selangkangannya yang menggembung menyedihkan.

"Iya, ibu."

"Omo, Yoongi-ya. Kamu sakit?" ibu Yoongi nyaris berteriak melihat keadaan anaknya yang kacau (rambutnya memang berantakan karena ulah Jimin), tapi akting Yoongi benar-benar seperti seorang profesional—walau sebenarnya Yoongi memang sedikit demam—dengan sedikit batuk diakhir jawabannya.

"Tidak apa ibu, aku cuma demam karena kehujanan."

"Kenapa bisa hujan-hujanan, dasar anak nakal. Di mana Jimin?"

Yoongi sedikit melirik keberadaan Jimin di pinggir tempat tidur sebelum menjawab, "Dia—sedang membuat bubur."

"Aigo, kamu itu jangan selalu merepotkan kekasihmu begitu. Kalau ibu ada di sana, sudah kutendang pantatmu itu."

"Ibu! Aku kan sedang sakit, kenapa ibu jahat sekali?"

"Ibu menitipkanmu pada Jimin bukan untuk jadi anak manja begini."

Jimin yang mencuri dengar percakapan ibu dan anak itu mau tak mau jadi tertawa-tawa kecil. Walau anunya masih meronta menyakitkan di dalam celana.

"Aku tidak manja. Tanya saja pada Jimin."

Ya, dia manja sekali, ibu mertua. Batin Jimin. Yoongi meliriknya dengan tajam, seolah ia dapat membaca apa yang dipikirkan kekasihnya. Hanya dibalas dengan senyum menyebalkan dan alis menukik oleh Jimin, seakan mengatakan, apa? Aku benar 'kan?.

"Ya sudah, istirahatlah! Ibu cuma mau melihat anak ibu sebentar. Jaga kesehatanmu sendiri karena tidak ada ibu di sana. Mengerti tidak?"

"Aku mengerti, ibu. Cerewet sekali."

"Cepat sembuh, pangsit rebusnya ibu. Salam pada Jimin."

"Ibuuuu."

"Haha."

Lalu panggilannya berakhir. Yoongi kembali meletakkan ponselnya di nakas. Wajahnya tertekuk kesal. Apalagi saat melihat Jimin yang tiba-tiba kembali merangkak menggerayangi tubuhnya.

"Kenapa ibuku menyebalkan sekali?" gerutuannya dibungkam dengan kecupan pelan dan dalam dari Jimin. Masih bernafsu rupanya.

"Iya, menyebalkan sekali." Tangan Jimin menyusup di antara piyama Yoongi yang kembali terpasang sempurna tadi. Yoongi tahu ucapan Jimin bermakna lain dengan miliknya, tapi tak dihiraukan, karena, meski moodnya jadi buruk, sejujurnya Yoongi juga masih ingin melanjutkan.

Ketika Jimin kembali mencium bibirnya, Yoongi meletakkan jemarinya tenggelam di surai kecoklatan kekasihnya. Menikmati bagaimana Jimin yang pandai sekali memainkan lidah di dalam mulutnya. Tubuh Jimin kembali berkeringat, menghantarkan getaran menyenangkan ketika Yoongi beralih mengusap punggungnya. Milik Jimin yang keras menggesek miliknya hingga Yoongi melenguh dengan jari-jari kaki yang menekuk. Oh, Jimin memang pandai sekali mengembalikan moodnya.

.

.

.


Pukul dua menjelang setengah tiga pagi, Jimin baru mau berhenti menggempurnya. Lupa diri kalau Yoongi sebenarnya masih demam dan menghabiskan beberapa ronde sampai kekasihnya nyaris tetidur karena kelelahan.

Tapi kemudian Yoongi terbangun pukul empat pagi karena tenggorokannya terasa kering dan itu amat menyiksanya. Dia butuh minum. Tapi Jimin tidak menyiapkannya di nakas, padahal dia tahu pasti kebiasaan Yoongi yang akan terbangun untuk minum setelah sibuk mendesah sepanjang malam. Dan bedebah sialan itu hanya mau enaknya saja. Mau berjalan sendiri ke pantri, tapi tubuhnya tidak mengizinkan. Sakit sekali, sial.

"Ya! Park Jimin, ambilkan aku minum."

Pacarnya itu tetap tidak bergerak meski Yoongi memukul wajahnya dengan telapak tangannya yang lebar.

"Jimin, aku sekarat dan butuh minum." Tak lama, Jimin menggerung dalam tidurnya. Ini karena Yoongi dengan tega menutup saluran nafas kekasihnya dengan jemarinya. Biar rasa, pikirnya.

"Tidurlah lagi, Min Yoongi. Ini masih gelap." Jimin meracau, yang langsung dihadiahi tamparan manis di mulutnya oleh Yoongi.

"Tidur kepalamu."

"Yoongi, itu sakit." Sungutnya.

"Makanya bangun! Ambilkan aku minum."

Jimin bangkit dari tidurnya dan menjatuhkan selimut sampai setengah tubuhnya. Yoongi yang melihat begitu banyak tanda cintanya di sepanjang perut berbentuk Jimin, juga di dada dan lehernya, jadi bersemu sendiri. Sialan, apakah seganas itu Min Yoongi jika bercinta?

Jimin yang matanya masih setengah tertutup memilih tak banyak bicara dan segera melaksanakan perintah kekasihnya. Menyibak selimut dan menunduk untuk memungut celana pendeknya yang menggantung di dekat kaki ranjang. Sedangkan Yoongi kembali membungkus tubuhnya dengan selimut sampai menutupi seluruh wajahnya. Malu. Padahal dia sudah melihat semuanya tadi malam. Dan hampir setiap malam. Tapi tetap saja gugup. Meski begitu, rasanya menyenangkan.

"Bangun, baginda Yoongi." Yoongi baru membuka selimutnya ketika mendengar suara Jimin. Lalu tertawa kecil mendengar julukan Jimin untuknya, segera mengambil alih gelas dari tangan Jimin yang terulur ke arahnya dan meminumnya.

Yoongi meneguknya hingga tandas, lalu memberikannya kembali pada kekasihnya. Wajahnya berseri-seri ketika menyaksikan Jimin yang patuh meletakan kembali gelasnya ke atas nakas.

"Jimin, kamu tampan." Pujinya saat Jimin hendak kembali masuk ke dalam selimut.

"Aku tahu." Katanya, "kamu ingin sesuatu lagi? Tumben memujiku."

"Hmm." Yoongi mengangguk dan merentangkan tangannya, "Aku ingin dipeluk."

Dengan itu Jimin langsung masuk ke dalam pelukan kekasihnya dan merengkuhnya teramat erat.

"Kamu manis sekali." Ujar Jimin seraya membawa kepala Yoongi untuk bersandar di atas dadanya.

"Jimin besok kita membolos saja ya?"

"Kenapa begitu? Apa sakit sekali?"

Yoongi memutar bola matanya, "Kalau itu jangan tanya." Lalu jari-jarinya memutar di atas dada kekasihnya. Gerakannya menggoda sekali.

"Aku ingin kencan denganmu seharian." Si manis itu mengusak manja di dada kekasihnya seperti kucing. Jimin kuat, meski yang di bawah tiba-tiba saja sudah bereaksi. Jadi apakah Yoongi yang memang pandai menggodanya ataukah dirinya yang gampang sekali horny karena Yoongi?

"Menggiurkan sih," kata Jimin, diciumnya puncak kepala Yoongi dengan sayang, "tapi aku harus menghadiri kelas Mr. Shim besok siang."

"Payah."

Lalu Jimin menarik Yoongi untuk dicium bibirnya, "Kamu istirahat saja. Aku akan pulang secepat yang aku bisa."

"Kamu juga bilang itu tadi. Dasar menyebalkan."

"Apa kita akan mulai berdebat lagi soal mata kuliahku?"

"Payah! Jimin payah!"

"Tidur. Atau aku akan mulai dengan mengikat tanganmu di atas ranjang."

"Aku mau pulang ke rumah ibu saja."


END


a.n : Adakah yang masih membaca di ffn? hehe

saya rindu :)