Banyak Typo...
Terkoejud aku eh?, karena dia ternyata suka ngupil tak kenal tempat dan waktu. #gosip dan curhat hahaha, abaikan
Sasuke memutar mutar gelas wine nya, dia duduk di lantai kamar nya yang dingin dengan sesekali dia membentur benturkan kepala belakang nya pada sisi ranjang. Satu botol wine hampir dia habis kan. Hah~ entah sudah berapa kali dia menghela nafas karena memikirkan Naruto kekasih yang akan menjadi mantan nya. Sasuke yakin Naruto pasti akan memutuskan hubungan mereka apalagi disini dia sudah keterlaluan, dan apakah anak nya selamat?.
"Papa? aku menjadi seorang papa?" ada rasa sakit di hati nya karena tidak mempercayai ucapan Naruto malahan yang dia lakukan mencaci hanya mencaci.
Tring!!!!!!. Ponsel Sasuke yang ada di atas kasur dekat dengan kepala nya berbunyi. Dengan malas Sasuke mengambil ponsel itu dan terlihat bila ada pesan masuk dari Sai dan kaasan nya?.
U.Sai...
Naruto sudah mengalami masa kritis nya, calon anak nya tidak bisa di selamat kan. Aku harap kau datang menengok Naruto yang sudah siuman yah meskipun kau tidak mencintai nya sih, dan ku harap kau merasa bersalah karena telah membunuh anak Naruto dengan begitu mudah nya seperti kau mempermainkan tubuh dan hati nya.
Pesan pemberitahuan dari Sai sepupu nya sekaligus menyindir tentang betapa buruknya Sasuke.
Sasuke.
Hn... Naruto ada di rumah sakit mana dan ruangan apa?
U.Sai...
Hospital O'kayāāma Kyoto. Ruangan VVIP La Lili... aku harap kau tidak mendapatkan kemarahan dari kaasan nya dan seperti nya kau harus cepat datang kemari, sebelum Naruto menjadi milik orang lain. Orang yang mampu menjaga dan membahagiakan nya dari pada mu, fufufufu...
Dia merasakan marah ketika mengetahui ada laki laki lain yang sedang mendekati Naruto nya. Sasuke segera melesat ke kamar mandi. Dia mencuci wajah nya dan menyikat gigi nya hingga bersih, setelah itu dia membuka lemari nya mengeluarkan pakaian dan celana. Dengan buru buru Sasuke memaki pakain dan celana nya membuat dia jatuh berkali kali dan mengumpat.
"Arghhhhhh dimana kunci mobil ku?!" Sasuke melempar selimut dan bantal ke sembarang arah.
"Ini dia," ternyata kunci mobil nya di atas nakas, mohon di maklumi bila orang sedang terburu buru pasti mata nya tidak fokus mungkin perlu di colok mata nya terlebih dahulu, namun itu hanya khusus untuk Sasuke.
Rumah Sakit.
Didalam ruang rawat Naruto sudah ada Sai, Sakura yang sedang memeluk Kushina yang tengah menangis pilu karena keadaan putra nya yang tak lebih seperti mayat hidup. Sedangkan orang yang bernama Pain, dia sedang duduk di samping ranjang bagian kanan Naruto dengan kursi yang telah di sediakan. Pain menggenggam telapak tangan Naruto yang lemas dan sedikit dingin sedangkan sang surai pirang dia sedang duduk menyenderkan punggung nya pada tumpukan bantal. Mata Naruto memandang kosong langit siang lewat jendela kamar rawat nya. Wajah nya datar bahkan sejak tadi dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun lebih tepat nya ketika dia mengetahui bila anak pertama nya yang bahkan belum lahir sudah meninggal. Air mata nya jatuh begitu saja bahkan isak tangis enggan keluar dari bibir pucat itu, entah apa yang sedang dia lamunkan dan pikir kan yang pasti itu bukan hal tentang kebahagiaan. Dia baru menjadi seorang ibu selama satu bulan, meskipun dia seorang lelaki tetapi dia tetap seorang ibu yang pernah mengandung calon anak yang sama sekali tidak di inginkan oleh anak nya.
"Naruto?" panggil Pain yang sudah kesekian kali nya namun tetap tidak ada jawaban.
"Bibi sebaik nya kita cari makan siang terlebih dahulu, bibi jangan telat makan nanti kalau bibi sakit bagaimana?" Sakura sangat tidak tega melihat ibu dari orang yang dia sayangi terus menangis seperti ini.
"Tidak nak, bibi tidak mau meninggalkan Naruto sendirian hiks,"
"Hanya sebentar bi, nanti kalau bibi sakit bibi tidak bisa di samping Naruto yang saat ini dia sedang membutuhkan sosok bibi," mendengar perkataan Sakura yang ada benar nya juga membuat Kushina berfikir dan akhir nya dia mau mengikuti apa yang Sakura katakan.
"Baiklah tapi jangan terlalu lama ne makan siang nya,"
"Tidak akan lama bi," Sakura membantu Kushina berdiri.
Sebelum dua wanita ini pergi, mereka mendatangi Naruto. Kushina mengusap surai halus Naruto dan mengucapkan beberapa kata untuk nya namun tidak mendapatkan respon dari Naruto.
"Nii san, apa nii san mau menitip sesuatu?" tanya Sakura pada Pain.
"Tidak ada Saku chan," jawab Pain dengan senyum di akhir nya.
"Baiklah... kalau Sai bagaimana?" sakura menatap Sai yang sejak tadi berdiri tanpa lelah di dekat pintu.
"Aku hanya ingin kamu cepat kembali saja," gombal Sai yang membuat Sakura tersipu malu dan mendapatkan delikan maut dari Pain.
"Ne Saku, nii san beritahu. Hati hati pada lelaki yang suka menggombal, katanya tipe laki laki seperti itu suka memberi harapan palsu,"
"Saku cepatlah pergi, bibi Kushina harus segera makan lihat wajah nya sudah pucat," sebelum Sakura menjawab perkataan Pain, Sai terlebih dahulu mengalihkan pembicaraan nya.
"Ah benar. Ayo bi,"
"Hm ayo nak," kata Kushina dengan senyum hangat nya.
Ketika mereka baru saja keluar dari ruang rawat Naruto, mereka dikejutkan oleh kehadiran Sasuke yang baru saja datang dengan nafas memburu. Melihat Sasuke membuat amarah mereka berdua naik begitu saya. Kedua nya memandang benci pada Sasuke, gara gara lelaki ini Kushina kehilangan cucu nya.
"Kushina san hosh hos,"
"Pergi kau! jangan menemui putera ku lagi, gara gara diri mu putera harus kehilangan anak nya!" usir Kushina pada Sasuke.
"Izin kan aku menemuinya Kushina san," pinta Sasuke pada Kushina dengan nada memohon nya.
"Cih belum cukup kamu membuat Naruto ku seperti ini?... kau tahu Uchiha san, padahal aku sudah melarang nya untuk tidak berhubungan dengan mu hiks tetapi dia tidak mau mendengarkan ku. Dia selalu mengatakan 'aku akan memperjuangkan cinta ini dan hubungan ini meskipun hanya aku yang berjuang'. Dia, anak keras kepala itu selalu saja memiliki jawaban di setiap aku menasihati nya hiks, satu tahun kau menjalin hubungan dengan putera ku dan satu tahun pula aku sebagai seorang ibu selalu ingin melihat mu menyapa ku dan menemui ku, berkunjung ke rumah kami meskipun rumah kami hanya gubuk yang tak sebanding dengan rumah mu yang bagaikan istana. Hiks huhuhu, selama itu pun aku tidak pernah melihat mu turun dari mobil di saat kau mengantar kan anak itu dan itu melukai ku yang notabene adalah orang yang melahirkan nya, aku merasa bila anak ku hanya pelacur mu hiks, kau melukai nya Uchiha san huhuhu kau melukai ku hati seorang ibu hiks, anak ku bukan budak sex mu! anak ku adalah putera ku anak ku adalah kekasih mu huhuhu," Kushina mengeluarkan kekesalan yang selama ini dia pendam.
"Bibi sudah lah," Sakura mengusap punggung Kushina dan dia ikut sedih karena dia mengingat Naruto yang selama ini tidak pernah merasakan kebahagiaan.
"Maafkan aku, aku mohon maaf kan aku," Sasuke menggenggam erat tangan Kushina, dia tidak berani menatap mata ibu kekasih nya ini. Hati nya tertohok ketika Kushina berkata seperti itu.
Kushina melepaskan tangan nya dari genggaman Sasuke, "Aku mohon pergilah, jangan temui putera ku lagi Uchiha san, biarkan dia bahagia biarkan putera ku bahagia hiks,"
"Tidak Khusina san, saya tidak akan pergi dan tidak akan menjauhi Naruto. Saya mencintai nya," mata kelam yang penuh akan keyakinan itu memandang mata sembab Kushina.
"Jika kau memang mencintai nya, lalu kemana saja diri mu selama ini!? dimana kamu ketika putera ku menangis karena diri mu seorang maniak sex!?, dimana diri mu ketika Naruto berjuang mempertahankan hubungan kalian?, hiks dan jika kau mencintai putera ku, seharusnya kau melindungi dia dan calon anak kalian hiks. Bukan hanya mau enak nya saja, menjamah tubuh nya dan setalah itu membuang nya!?. Kau binatang bukan manusia!"
Sasuke tidak marah dengan cacian yang di lontarkan oleh Kushina dia malah merasa malu sendiri. Yah dia pantas mendapat kan itu semua, tetapi sungguh saat ini dia ingin menemui Naruto dia ingin mengetahui bila Naruto baik baik saja.
"Saya mohon Kushina san, biarkan saya melihat nya,"
Sakura dapat melihat keseriusan pada mata kelam Sasuke. "Bibi semuanya tidak akan selesai kalau kita sama sama egois. Kita biarkan Sasuke menjenguk Naruto, agar dia tahu seberapa dalam dia menyakiti Naruto, berharap saja dia dapat sadar dan setelah itu dengan suka rela dia mau pergi,"
Kushina tampak bingung disini, apa tidak apa apa membiarkan Sasuke menjenguk Naruto?.
"Tenang bi, dia tidak akan bisa menyakiti Naruto karena di dalam ada nii san dan Sai," kata Sakura lagi ketika tahu apa yang Kushina khawatirkan.
Kushina menghela nafas nya. "Baiklah, masuk lah," setelah mengatakan itu Kushina dan Sakura meninggalkan Sasuke.
Sasuke tanpa permisi dia membuka pintu ruang rawat Naruto dan masuk ke dalam membuat Sai dan Pain memandang ke arah Sasuke. Sasuke tidak peduli dengan pandangan Pain dan Sai, saat ini hati nya sedang terluka dan tubuh nya membeku di tempat. Di saat mata kelam nya melihat bagaimana kondisi Naruto yang tidak baik baik saja, dia seperti mayat hidup, mata bundar cantik itu kini diisikan oleh kekosongan yang menyakitkan.
Pain sebenarnya tidak suka dengan kehadiran Sasuke, dia tahu siapa lelaki yang baru masuk ini. Tetapi bagaimana pun semuanya harus di perbaiki, di bicarakan empat mata. Pain berdiri dari duduk nya dia berjalan menuju pintu keluar. Ketika dia tepat di samping Sasuke, dia berucap.
"Kau tidak pantas untuk malaikat ku, lepaskan Naruto karena sekarang aku yang akan menjaga dan melindungi nya. Kau tidak becus," Pain pergi begitu saja meninggal Sasuke yang saat ini sedang menahan amarah.
Sai menghampiri Sasuke membuat Sasuke menghadap Sai.
"Aku tidak menyangka kau serendah ini, aku pikir sepupu ku ini adalah orang yang terhormat yah memang kau lahir di keluarga terhormat sih tapi sayangnya perilaku mu tidak mencerminkan kau seorang yang terhormat," cemooh Sai ketika dia tepat di hadapan Sasuke.
"Cacilah aku sesuka mu, aku tidak akan marah," Sasuke memandang datar Sai tanp minat.
"Ya memang kau pantas di caci, aku pun tak peduli bila kau marah. Mau adu jotos?, jangan lupa aku juga seorang Uchiha yang pandai melayangkan tinju,"
"Aku akan memperbaiki semuanya dan memulai nya dari awal bersama Naruto," Sasuke tidak menjawab ucapan Sai, dia berkata seperti itu sambil menatap Naruto yang seperti tidak merasa terganggu.
"Kaca yang sudah pecah tidak akan bisa kembali seperti semula, sama seperti Naruto. Aku yakin dia tidak akan mau kembali pada mu lagi,"
Setelah ucapan Sai, tidak ada lagi kata kata yang keluar dari bibir Sasuke. Dia memejamkan mata nya mengingat kembali ketika perlakuan buruk nya pada Naruto yang sudah tak terhitung jumlah nya dia menyakiti Naruto. Dia menyesal, hati nya tiba tiba saja sesak ketika dia mengetahui diri nya telah menjadi papa di usia muda nya. Papa?, hati nya seperti ditusuk tusuk berkali kali oleh pisau namun tak berdarah, ketika mengingat Naruto pendarahan.
"Apa anak ku sungguh telah tiada Sai?"
Sai menatap Sasuke yang sedang memejamkan mata nya. Sai tahu bila Sasuke keterlaluan tetapi dia juga tidak bisa egois untuk menghakimi sepupu nya karena jika dia melakukan itu, dia tidak jauh beda dengan Sasuke. Sai tahu bila Sasuke merasa menyesal sekarang.
"Dia bukan anak mu tetapi dia anak nya Naruto," sanggah Sai.
Mendengar perkataan Sai, Sasuke segera membuka matanya dan menatap Sai tajam.
"Aku papa nya asal kau tahu!"
"Jika kau papa nya, kau akan menjaga bayi Naruto, bayi yang telah kau hakkimi padahal dia tidak bersalah dan bahkan, dia belum melihat bagaimana wajah kaasan dan tou san nya," lirih Sai.
Sasuke tidak bisa menjawab perkataan Sai karena yang dikatakan nya memang benar apa ada nya.
"Apa Naruto akan memaafkan ku ?"
"Aku tak tahu," jawab ketus Sai sambil berjalan pergi keluar dari ruangan Naruto menyisakan dua orang yang dengan pikiran yang sedang memikirkan hal lain.
Ruangan rawat Naruto sunyi tidak ada suara dari sang penghuni. Bahkan kesunyian itu terasa berat untuk Sasuke padahal biasa nya dia nyaman dengan kesunyian. Sekarang dia malah ingin mendengar suara cempreng dan berisik dari Naruto. Sasuke berjalan perlahan ke arah Naruto yang masih terdiam. Sasuke memeluk tubuh berpakaian rumah sakit itu dari samping.
Deg, jantung Naruto berdetak sangat kencang, tubuh nya seketika menegang dan mata nya membola ketika dia tahu siapa seseorang yang dengan lancang memeluk tubuh nya. Wangi harum ini dan pelukan hangat ini membuat air mata Naruto yang tadi sudah berhenti kini keluar kembali.
"Hiks hiks," isak kan yang tadi enggan keluar kini keluar begitu saja.
"Jangan menangis, maafkan aku sayang," lirih Sasuke, dia mencium bahu sempit Naruto.
Naruto menjawab dengan gelengan kepala dan kedua tangan nya yang mencengangkan erat lengan Sasuke.
"Naru," suara Sasuke bagaikan lullabi bila selembut ini dan Naruto tidak dapat mengelak bila dia telah lama merindukan nya.
Tangan Sasuke yang berada di belakang pinggang Naruto kini mengusap perut Naruto yang dapat dia rasakan ada kasa yng melilit di area perut Naruto.
"Apa sangat sakit?" satu tetes airmata Sasuke keluar mengingat diri nya gagal menjadi seorang ayah.
"Hiks pergi," suara parau Naruto mengalun pada telinga Sasuke.
Sasuke menggeleng kan kepalanya, "Tidak, jangan menyuruh ku pergi sayang. Aku menyesal, sungguh,"
"Hiks sudah terlambat Uchiha san hiks," tangan Sasuke basah karena air mata Naruto.
"Naru lihat aku sayang," Sasuke mengarahkan wajah pilu Naruto menghadap wajah nya.
Mata mereka saling bertemu namun ada yang berbeda. Terdapat kebencian yang di tahan pada mata biru cerah Naruto. Sasuke mencium lama kening Naruto setelah itu dia mempertemukan kening nya dengan kening Naruto.
"Aku salah dan aku menyesal. Aku ingin memperbaiki semuanya, mari kita mulai dari awal dan aku berjanji, aku akan berubah untuk mu,"
"Apa dengan kamu memperbaiki semuanya dari awal bisa mengembalikan anak ku?" tanya Naruto dengan wajah datar nya.
"Memang tidak, tapi aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi,"
"Tidak ada yang nama nya kesempatan kedua Uchiha san. Jika ada kesempatan kedua untuk mu berati kesalahan yang telah terjadi akan terjadi kembali," Naruto berusaha mendorong tubuh Sasuke.
"Jangan seperti ini Naruto,"
"Jangan lagi hiks jangan buat aku berharap Uchiha san, aku lelah," Naruto berusaha agar tidak luluh.
"Aku akan menikahi mu setelah lulus, kita bisa buat bayi yang kau inginkan,"
Plakk!!! satu tamparan dari Naruto yang meninggal kan bekas di pipi kiri nya.
" Pergi kamu! hiks aku tidak mau lagi melihat mu! kau pembunuh! kau membunuh anak ku huhuhu," Naruto memukul mukul tubuh depan Sasuke.
"Kau pembunuh! dan aku tidak mau berhubungan lagi dengan seorang pembunuh! apalagi sampai menikah hiks,"
Sasuke memeluk erat tubuh Naruto, meskipun itu membuat tubuh nya sakit akibat Naruto yang memberontak didalam pelukan nya.
"Maafkan aku Naru maaf,"
Naruto kalah, Naruto terlalu baik, Naruto memeluk erat tubuh hangat Sasuke yang membawa kenyamanan untuk nya. Naruto menumpahkan semua perasaan lelah, sedih, marah dan kecewa dalam pelukan Sasuke. Pelukan untuk terakhir kali nya yang dapat dia rasakan.
'Sekali saja dan ini yang terakhir kali nya Suke hiks, aroma tubuh mu dan kehangatan mu akan aku lupakan. Aku tidak ingin melihat mu lagi, aku tidak ingin jatuh untuk kedua kali nya. Aku membenci mu tapi rasa cinta ku lebih besar untuk mu Suke hiks, bukan kah ini tidak adil untuk ku?' batin Naruto.
"Izin kan aku Naru, biarkan aku yang sekarang berjuang di sini. Biarkan aku yang memperbaiki semuanya, aku salah dan aku menyesal. Aku mencintai mu," gumam Sasuke.
"Hiks huhuhu Suke huhuhu,"
'Selamat tinggal' Naruto akan pergi jauh dengan sang kaasan setelah kondisi nya telah membaik. Pergi jauh dari jangkauan Sasuke dan memulai kembali semuanya, menata hidup nya yang baru bersama sang kaasan. Meninggal kan kenangan disini.
Tbcccccccccccccccc.
