Sepanjang Jalan Kenangan

Chapter 3

By Schia Kepanasan

Disclaimer : Udah dibilang suru liad di pembukaan Persona3...

Oh iya...warning eh, warning!! Bakal ada sedikit (or not that little) shonen-ai di siniii!!Skali lagi gue peringatin yang homophobia cepat ambil langkah seribu!

A/N : hehe...bwad yg request more shinjiaki...ehehehe...as you wish... XD

--

"Ternyata benar, lo Pharos", kata Minato sambil memeluk Ryoji. Wajah cantiknya basah oleh air mata.

"Minato-kun?", Ryoji bertanya cemas. Entah kenapa ia merasa jantungnya berdetak cepat dan wajahnya memerah, "Lo gapapa?"

Minato pun melepas pelukannya dan mengusap air matanya. Jantung Ryoji berdegup kencang melihat wajah Minato yang cantik luar biasa.

'Astaga...Minato-kun kalo nangis ternyata jadi lebih cantik.', Ryoji menggeleng, 'hush!Mikir apa gue ini??'

Minato lalu tersenyum dan berkata pelan, "Rasanya...Gue tau masa lalu lo"

Ryoji mengedipkan mata.Sekali.Dua kali.Dan membuka mulutnya, "Eh?!Yang bener?!"

Minato mengangguk. Ia lalu memegang locket emas di tangan Ryoji dan menatap foto di dalamnya. Fotonya dan Pharos 10 tahun lalu. "Locket ini...Punya lo kan?"

"Gue ga gitu ngerti...Tapi waktu gue sadar di rumah sakit, itu locket udah ada. Kata dokter sih, waktu gue kecelakaan locket itu emang gue pake."

"Kecelakaan itu kapan terjadinya?", tanya Minato.

Ryoji tampak berpikir, "Kalo engga salah sih bulan Juni ya..."

'3 bulan setelah gue pergi dari kota ini...', batin Minato. Ia lalu menatap Ryoji lembut, "Mau gue ceritain tentang masa lalu lo?"

Ryoji terdiam. Semestinya dia ga bisa langsung percaya omongan orang yang baru dia kenal 1 hari yang lalu. Apalagi ini tentang masa lalunya. Tapi entah kenapa Ryoji merasa percaya pada Minato dan merasakan sesuatu yang nostalgic dari pria manis itu.Ia pun mengangguk, "Boleh."

Minato memejamkan matanya, "Dulu...10 tahun yang lalu, gue juga tinggal di kota ini bersama kedua orangtua gue.", Ia menyentuh fotonya sendiri di locket Ryoji, "Anak laki-laki yang ini adalah gue 10 tahun yang lalu. Dan yang di sebelahnya. Itu lo, Pharos. Maksud gue, Ryoji."

Ryoji mengangguk. Pantas saja ia merasa kalau anak berambut biru itu mirip Minato. "Minato-kun. Dari tadi lo manggil gue dengan nama Pharos. Jangan2 itu..."

Minato mengangguk juga, "Ya, itu nama asli lo. Waktu kecil kita berteman dekat. Tapi, bulan April 10 tahun yg lalu, gw terpaksa pindah keluar kota bareng orang tua gue.", ia lalu menggenggam locket emas itu, "Locket ini...Hadiah dari gue buat lo waktu gue pindah."

"Gitu...", kata Ryoji pelan, "Orang tua gue...Mereka kaya apa?"

Minato tersenyum. "Mereka orang yang baek koq. Hampir tiap hari gue maen ke rumah lo, tapi mereka selalu nerima gue dengan tangan terbuka. Lo juga dulu sangat disayang sama mereka."

Ryoji tersenyum. "Begitu...", Ia lalu menatap Minato, "Lo punya fotonya?"

Minato diam dan termenung sejenak, "Kayaknya ada...Di album foto gue yang lama."

--

Dormitory, 7 pm...

Minato dan Ryoji membuka pintu asrama. Betapa kagetnya Ryoji ketika melihat pemandangan yang tidak biasa –buat Ryoji- di atas sofa ruang tamu.

"Mi-Mi-Mi-Minato-kun!", bisik Ryoji sambil memegang lengan Minato. Tangannya menunjuk ke arah sofa.

"Hm?", Tanya Minato pelan. Matanya menyusuri arah jari Ryoji menunjuk. Dan jengjeeng...Dilihatnya Akihiko sama Shinjiro lagi duduk di atas sofa sambil berfrench-kiss ria. Saking sibuknya, mereka ga sadar kalo Minato & Ryoji dateng.

Ryoji mulutnya mangap. Minato mukanya memerah, walau dia mencoba untuk teteup stay cool. Sementara suara2 (A/N : er you know lah suara macem apa yg gw maksud) Akihiko masih tetap terdengar.

Minato, dengan gaya sok dicool2in berkata, "Udah cuekin aja mereka. Mereka emang pasangan umbar kemesraan."

"Ta...Tapi kan..."

"Wajar sih kalo lo kaget. Tapi lama2 juga lo biasa koq.", Minato melengos pergi, meninggalkan Ryoji yang masih sendirian.

"Tapi kan..."

"Udah ga ada tapi2an ah! Ayo buruan!"

--

Di kamar Minato

Ryoji duduk di atas kasur sambil menunggu Minato mencari album foto lamanya. Ia melihat sekeliling. Kamar Minato begitu sepi. Cuma ada kasur, lemari baju, wastafel, sama meja belajar. Ga ada poster dan barang2 lain yang biasa ditemuin di kamar cowok. Tiba2 mata Ryoji menangkap sesuatu. Ia melihat sebuah figura foto di atas meja Minato.

'Itu kan...', Ryoji mendekati meja dan mengambil figura itu. Ia melihat fotonya waktu kecil dengan Minato. Wajah mereka begitu bahagia. "Minato-kun...ini..."

Minato langsung berhenti mencari. Wajahnya memerah seketika waktu melihat Ryoji memegang foto masa kecil mereka. "Eh...itu...anu..."

Ryoji tersenyum kecil dan meletakkan foto itu, "Dulu kita dekat sekali ya?"

"Eh...I...Iya...Gitu deh...", kata Minato salting, "Waktu gue baru pindah ke situ. Lo temen pertama gue, Pharos."

Ryoji tersenyum, "Gitu...", ia lalu melihat ke arah Minato dengan pandangan sedih, "Sori ya...Gue enggak inget sama lo."

Melihatnya, Minato menjadi gugup. Wajahnya makin merah dan ia jadi merasa bersalah, "Eh, eng...enggak koq!Ini semua kan bukan salah lo."

"Makasih. Minato-kun.", Ryoji memberi Minato senyum terindahnya. Secara logika, ia tidak seharusnya percaya pada cerita Minato sepenuhnya. Tapi sekali lagi, entah ada dorongan darimana yang membuat Ryoji percaya pada Minato.Ia lalu menghampiri Minato. "Anu...Minato-kun..."

"I...Iya?", kata Minato, masih dengan muka merah yang manis (khas uke sekaliii).

"Boleh minta satu hal?", tanya Ryoji

"?"

"Bisa tolong...panggil gue Ryoji?", katanya pelan dengan wajah sedih.

Minato terkejut. 'Iya ya. Gue dengan seenaknya manggil dia Pharos. Padahal dia belum tentu percaya sama gue.', "So...Sori. Gue lancang.", katanya pelan, "Ryoji-san..."

Melihat Minato yang mukanya langsung sedih gitu, Ryoji memegang pundak Minato dan berkata dengan lembut. "Sori. Bukannya gue ga percaya sama lo. Gue –entah gimana- percaya koq sama omongan lo. Dan gue pingin inget masa lalu gue lagi.", Ryoji berhenti sebentar, "Tapi...Gue yang sekarang adalah Ryoji Mochizuki. Mungkin dulu gue emang Pharos...Tapi, gue ngerasa lebih nyaman kalo lo manggil gue dengan nama Ryoji. Ok? Minato-kun?", tanya Ryoji sambil tersenyum.

Minato mengangguk pelan sambil tersenyum, "Ok. Ryoji-sa..."

"Dan ga usah pake –san!", kata Ryoji tegas sambil tertawa pelan.

"Ok. Ryoji-kun."

"Nah gitu dong...Kan enak didengernya.", Ryoji tertawa kecil sambil duduk lagi di atas kasur memperhatikan Minato yang melanjutkan pencarian album lamanya. Entah bagaimana juga, ia merasa deg2an, sekaligus nyaman di dekat Minato dan tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.

Yang Ryoji tidak tahu adalah bahwa saat ini jantung Minato juga berdetak secepat jantungnya. Pipinya yang kemerahan ia coba tutupi dengan rambut emo nya itu.

--

"Ketemu!", kata Minato senang setelah beberapa menit berkutat mencari album lama itu.

"He?Ketemu juga akhirnya?", tanya Ryoji lega.

Minato lalu duduk di samping Ryoji. Ia membawa sebuah album tua dan membukanya perlahan. Terlihat banyak sekali foto Ryoji dan Minato dan anak-anak lain yang seusia mereka. Akhirnya, mereka menemukan foto Minato, Ryoji, dan 4 orang dewasa. Minato lalu tersenyum pahit.

"Lo liat dua orang di belakang lo itu?", Ia menunjuk foto Ryoji kecil, "mereka orang tua lo."

Ryoji tertegun sesaat. Ia melihat seorang pria berambut hitam dan terlihat tegas. Di sebelahnya terlihat seorang wanita berambut hitam dan bermata biru yang terlihat lembut. Ia memperhatikan perpaduan wajah mereka berdua sangat mirip dengannya. Ryoji terus memperhatikan foto kedua orang tuanya. Perlahan, air mata jatuh ke atas foto itu.

"Ryoji-kun...", kata Minato simpatik.

Ryoji segera mengelap air matanya dan tertawa pelan, "Ma, maaf. Albumnya jadi basah deh.Haha."

Minato memandang Ryoji lembut, "Ayahmu bernama Takahiro Ijima dan ibumu bernama Minami Ijima" (A/N : eh iya, mereka berdua OC koq)

"Begitu...", kata Ryoji, "Ini pertama kalinya gue ngeliat foto mereka. Ga tau deh gue mesti senang ato sedih."

Minato menghirup nafas dalam2. "Kalo mo nangis, nangis aja.", ia melihat foto kedua orang tuanya sendiri dengan mata berkaca-kaca, "Gue juga sering koq nangis waktu ngeliat foto orang tua gue."

Ga lama kemudian, air mata kembali membasahi pipi Minato. "Eh, aduh! Gue gimana sih?! Koq malah gue yang nangis? Aduh, sori...!"

Melihat Minato, datang suatu dorongan dalam hati Ryoji. Ia spontan memeluk pria mungil berambut biru itu.

"Ryo-Ryoji-kun?!", teriak Minato saat Ryoji memeluknya. Wajahnya merah padam.

"Kalo mo nangis, nangis aja.", kata Ryoji pelan sambil mengutip kata2 Minato tadi. Mendengar kata2 Ryoji tadi, spontan air mata mengalir deras dari pipinya. Ryoji menepuk pelan punggung Minato sambil menenangkannya dan perlahan Ryoji kembali menitikkan air mata.

--

"Minato-kun...", kata Ryouji pelan. Minato masih terisak pelan dalam pelukannya. "Terima kasih."

"Eh?", Minato mendongak untuk memandang wajah Ryoji.

"Terima kasih udah berusaha ngingetin gue ke masa lalu.", katanya sambil tersenyum menatap Minato.

Minato menggeleng pelan, "Bukan apa2 koq."

Ryoji lalu melepas pelukannya sambil tetap memandang Minato, "Mungkin...", katanya pelan, "Mungkin pertemuan kita ini takdir ya...?"

"Eh?", jantung Minato kembali berdetak kencang mendengar perkataan Ryoji. Ia diam terpaku dengan wajah memerah. Melihatnya, Ryoji ikut2an memerah.

"Aduh. Sori...Aduh...Kata2 gue malu2in. Lu...Lupain aja.", kata Ryoji terbata2 sambil menutupi wajahnya.

Minato, yang telah tersadar kembali, menutup matanya, "Tidak koq.", ia berkata pelan, "Mungkin ini memang takdir."

Mereka lalu saling bertatapan lama dengan wajah memerah. Tiba2, Ryoji tersadar.

"Oh, iya! Udah jam segini! Kan masih ada PR Kimia! Aduh gue belom ngerjain lagi!", Ryoji langsung berlari menuju pintu. Berhenti sebentar dan menengok ke arah Minato, "Lain kali...lo mau cerita tentang masa lalu gue lebih banyak ga?", katanya malu2.

Minato dengan wajah ceria mengangguk. "Kalo perlu, gue bakal bawa lo ke tempat2 kenangan. Siapa tau bisa membantu". Ia begitu gembira karena Ryoji percaya dengan ceritanya.

Ryoji tersenyum dan membuka pintu, "Oyasumi", dan pintu pun tertutup.

"Oyasumi", kata Minato.

Minato terdiam sebentar. Pandangannya menerawang. Semua kejadian hari ini bagaikan mimpi. Ia memang tidak mengharapkan Ryoji percaya sepenuhnya padanya. Tetapi yang pasti dia bahagia karena Pharos, teman masa kecilnya yang sangat ia sayangi kembali di hadapannya. Walaupun telah lupa padanya, paling tidak Ryoji mau mengingat kembali apa yang dulu terjadi. Jantung Minato berdegup kencang.

'Aduh...gue kenapa ya?Koq deg2an begini?', tiba2, wajah Ryoji langsung terngiang di kepalanya, 'Tapi...Pharos sekarang...jadi ganteng ya...', Minato menggeleng, 'Heh! Mikir apa sih gue?! Hayo pikiran yang aneh2, cepat pergi!! Dia kan Cuma temen gue ajaaa!!'

Tiba2, seakan2 disambar petir, Minato berdiri dan teringat akan sesuatu.

'Mampus gue, PR Kimia gue!!', ia melihat jam. 9 p.m., 'Tau gini gue nyontek punyanya Kenji aja yah...'

To be continued...

A/N : Iyeeeiiii!! Akhirnyaaaa...RyojixMinato fluff...!!ehehehe...sesuai janji gue, chapter berikutnya bakal ada sedikit komedi koq...tunggu tanggal maennya...ehe.Btw, kalian semua tau arti locket yg gw maksud di sini kan??Cuma tambahan buat yg barangkali ga ngerti. Locket yg gw maksud itu semacem bandul yg bisa dibuka tutup n buat nyimpen foto. Review onegaiii...Dengan begitu, gw jadi punya keyakinan buat nerusin ffic ini...ehe XD.